Category Archives: Paulo Coelho

Scene on Three (118)

SceneOnThree

Dia tak pernah tertipu oleh penampilan luar, dan dia tetap berdiam diri ketika orang-orang berusaha membuatnya terkesan. Dan dia menggunakan kesempatan ini untuk memperbaiki kesalahan-kesalahannya, sebab orang-orang lain telah menjadi cermin yang sangat baik baginya.
Seorang kesatria memanfaatkan setiap kesempatan untuk mengajari dirinya sendiri.
(p.21)

Scene di atas dari Kitab Suci Kesatria Cahaya karya Paulo Coelho. Entah mengapa saya menunda membaca buku ini begitu lama. Setelah saya merasa ‘butuh inspirasi’ beberapa waktu lalu, barulah saya memilih buku Coelho untuk dibaca. Buku ini, seperti judulnya, memang semacam manual untuk menjalani hidup yang maksimal.

Kalau kata orang, pengalaman adalah guru yang paling berharga. Namun saya percaya untuk beberapa hal, lebih baik kita tidak mengalaminya sendiri. Karena itulah saya banyak mendengar dan mengamati kehidupan orang lain, termasuk melalui membaca. Karena itu juga, saya selalu menilai penting bahwa suatu buku harus realistis dan logis, termasuk fiksi, termasuk fantasi. Saya tidak menganut paham bahwa alur yang tidak logis boleh dimaafkan karena itu “hanya fiksi”.

Omong-omong, hari ini bertepatan dengan tiga tahun usia SoT. Jadi, saya ingin sedikit memberi hadiah kejutan untuk teman-teman yang rutin membaca post SoT meskipun tidak ikut memasukkan link. Semacam ingin tahu juga, seberapa banyak sih sebenarnya silent reader di sini. Caranya cukup meninggalkan alamat email/akun twitter/akun instagram yang aktif di kolom komentar di bawah, untuk nantinya saya hubungi.

Sementara itu, saya masih menunggu scene-mu hari ini, dan hari-hari berunsur tiga sebulan ke depan, caranya:

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya dari buku pilihan kalian ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

Link 13 Juli 2016

Link 23 Juli 2016

Link 30-31 Juli 2016

Link 3 Agustus 2016

Scene on Three (90)

SceneOnThree

Hari ini 23 Juni! Jadi mengingatkan saya pada lagu Spancill Hill yang diremake oleh The Corrs 10 tahun yang lalu. Kebetulan tanggal hari ini disebutkan di sana. Baiklah, back to business, SoT hari ini saya ambil dari Adultery by Paulo Coelho. Tidak berhubungan dengan lagu maupun tanggal sebenarnya, tetapi mungkin pesan terbaik untuk hari ini (dan seterusnya).

Pilihlah informasi yang kaudengarkan. Letakkan penyaring di mata dan telingamu dan hanya izinkan masuk hal-hal yang tidak akan membuatmu terpukul, karena kita memiliki kehidupan sehari-hari kita untuk melakukannya. Apakah kaupikir aku tidak dihakimi dan dikritik di tempat kerjaku? Yah, aku dihakimi dan dikritik—sering, malah! Tapi aku sudah memutuskan untuk mendengarkan hanya hal-hal yang mendorongku untuk maju, hal-hal yang membantuku membetulkan kesalahan-kesalahanku. Kalau tidak, aku hanya berpura-pura tidak dapat mendengar hal-hal lainnya dan memblokirnya. (p.68)

Sepertinya tidak perlu saya jelaskan lagi ya. Satu kalimat saja, tetap semangat!

Bagikan scene-mu hari ini:

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya dari buku pilihan kalian ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

Inspirations – Paulo Coelho

inspirationsTitle : Inspirations: Selections from Classic Literature
Selected by : Paulo Coelho (2010)
Publisher : Penguin Classics
Editions : First paperback edition, 2011
Format : Paperback, xvi + 340 pages

An anthology is not only a collection of texts or poems, but a gift, something we arrange, according to our sensitivities, to give to others. (p.xiii)

Mengumpulkan karya-karya klasik dalam satu buku adalah sebuah seni mengenai bagaimana merangkainya menjadi satu kesatuan yang utuh, bukan bagian-bagian yang terpaksa disatukan, atau sekadar diurutkan tanpa makna. Atas dasar inilah Paulo Coelho merangkai berbagai cerita pendek atau potongan novel klasik dengan mengklasifikasikannya menurut unsur dasar semesta: air (water), tanah (earth), udara (air) dan api (fire). Keempat elemen dasar ini dipercaya mewakili simbol-simbol segala dimensi di alam raya ini.

Meskipun sering mendengar mengenai empat elemen dasar, saya sendiri belum yakin dengan pengertian yang sesungguhnya. Beberapa sumber yang saya baca pun menunjukkan bahwa keempat elemen ini dapat ditafsirkan secara berbeda dan bervariasi. Namun demikian, pasti ada sebuah konsep universal yang diwakili oleh sifat-sifat utama elemen tersebut. Dalam buku ini, sebelum memulai rangkaian kisahnya, Coelho mendefinisikannya secara singkat.

Air sebagai sumber kehidupan, tempat segalanya mungkin, dihubungkan dengan temperamen ‘lymphatic’. Air dalam menyimpan banyak hal tak terduga, mimpi dan imajinasi, tenang tapi menyimpan potensi. Rangkaian air ini diwakili oleh kisah The Ugly Duckling (Hans Christian Andersen), The Tale of King Shahriyar and his Brother Shahzaman (Tales from the Thousand and One Nights), The Prince (Niccolò Machiavelli), Through the Looking-Glass (Lewis Carroll), dan The Art of War (Sun-Tzu).

Tanah tempat kehidupan terlahir dihubungkan dengan temperamen melankolis. Tempat yang menyimpan berbagai potensi dalam gelap dan dingin, kemudian menghidupkan harapan akan cinta, keamanan, dan kebahagiaan. Dalam rangkaian ini terlihat evolusi tersebut dari kisah ke kisah; pengkhianatan dalam De Profundis (Oscar Wilde), kegelapan jiwa manusia di Dracula (Bram Stoker), juga Eichmann and the Holocaust (Hannah Arendt), harapan akan cinta pada Selected Poems of W. B. Yeats, hingga gairah di Lady Chatterley’s Lover (D. H. Lawrence).

Udara bersifat tidak stabil dan tidak dapat dikendalikan. Seperti pikiran dan jiwa, tidak tersentuh tapi dapat dirasakan. Udara dapat membisikkan ketenangan, tetapi juga dapat menghembuskan kemarahan. Elemen udara digambarkan oleh No Easy Walk to Freedom (Nelson Mandela), One Hundred Years of Solitude (Gabriel García Márquez), The Strange Case of Dr Jekyll and Mr Hyde (Robert Louis Stevenson), Nineteen Eighty-Four (George Orwell), serta The Library of Babel (from Fictions by Jorge Luis Borges).

Api yang besar dapat berbahaya dan menghancurkan, tetapi api juga memberi kehidupan dan kekuatan. Api yang membara juga merupakan simbol cinta yang tertinggi. Rangkaian ini didominasi oleh kisah-kisah yang menyangkut spiritual; Hymns to Agni, God of the Sacrifice (Rig Veda), Sayings of the Early Christian Monks (The Desert Fathers), Bhagavad Gita, Dead Sea Scrolls, Venus in Furs (Leopold Sacher-Masoch), The Prophet (Kahlil Gibran), Spiritual Verses (Rumi), Selected Poems by Rabindranath Tagore, dan Frankenstein (Mary Shelley).

Luasnya spektrum karya klasik yang dipilih membuat buku ini terlihat kaya dan beraneka rasa. Cuplikan berbagai buku tersebut dapat membantu memberi bayangan akan keseluruhan isi buku tersebut, lebih daripada sinopsis dan review yang biasanya kita cari, karena kita paling tidak sebuah bab terpilih benar-benar kita nikmati dan rasakan sendiri. Rasa penasaran saya akan The Prince dan The Art of War terjawab, keinginan saya membaca De Profundis dan puisi W. B. Yeats muncul, serta timbul bayangan yang lebih jelas akan karya Gibran dan Rumi. Beberapa karya yang sudah saya baca seperti Through the Looking-Glass, Nineteen Eighty-Four, dan Frankenstein pun menyuguhkan ‘rasa’ yang berbeda karena kita diarahkan kepada sebuah penafsiran khusus yang mungkin berbeda dengan cara kita membaca pada mulanya.

The great things of life are what they seem to be, and for that reason, strange as it may sound to you, are often difficult to interpret. But the little things of life are symbols. We receive our bitter lessons most easily through them. Your seemingly casual choice of a feigned name was, and will remain, symbolic. It reveals you. (Oscar Wilde, De Profundis, p.67)

Bagaimanapun juga, pasti ada kesan yang kurang dan pemahaman yang tertinggal dari cuplikan-cuplikan semacam ini. Meski dipilih dengan penuh pertimbangan, koleksi ini memang bukan bertujuan menunjukkan keseluruhan isi berbagai judul buku klasik tersebut. Buku ini berbicara sendiri, dengan cara dan bahasanya sendiri. 2.5/5 bintang untuk buket buku klasik a la Coelho.

As soon as you wish to be natural you become common. (Leopold Sacher-Masoch, Venus in Furs, p.196)

Review #24 for Lucky No.15 Reading Challenge category Something Borrowed

Adultery – Paulo Coelho

adulteryTitle : Selingkuh (Adultério)
Author : Paulo Coelho (2014)
Translator : Rosi L. Simamora
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan pertama, 2014
Format : Paperback, 320 pages

Banyak orang mengatakan waktu menyembuhkan semua luka, tetapi itu tidak benar.
Tampaknya, waktu hanya menyembuhkan hal-hal baik yang ingin kita genggam selamanya. Waktu memberitahu kita, “Jangan konyol, ini kenyataan.” Itulah sebabnya semua yang kubaca demi mengangkat semangatku tidak pernah bertahan lama. Ada lubang di dalam jiwaku yang mengisap semua energi positif di dalam diriku, dan hanya meninggalkan kekosongan. Aku sangat mengenal lubang itu—aku telah hidup bersamanya berbulan-bulan—tetapi aku tidak tahu bagaimana melepaskan diri dari cengkeramannya.

Semua yang kita cari dengan penuh antusiasme sebelum kita mencapai masa dewasa—cinta, pekerjaan, iman—berubah menjadi beban yang terlalu berat untuk ditanggung.
Hanya ada satu cara untuk melepaskan diri dari hal ini: cinta. Mencintai berarti mengubah perbudakan menjadi kebebasan.
Tetapi sekarang ini, aku tidak bisa mencintai. Aku hanya merasakan benci.
Dan meskipun kedengarannya tidak masuk akal, itu memberi makna pada hari-hariku.
(p.155-156)

Linda memiliki segala yang diimpikan seorang wanita berusia tiga puluhan tahun; suami yang hebat, anak-anak yang luar biasa, pekerjaan yang mapan, rumah tangga yang bahagia, tetapi ada yang salah di dalam dirinya. Ada sebuah kekosongan yang tak terjelaskan dalam jiwanya. Dia bahagia tetapi tidak merasa bahagia. Dia sudah mencoba mencari bantuan profesional, tetapi tak ada yang bisa menghilangkan kegusarannya. Sampai saat pekerjaan mempertemukannya kembali dengan mantan kekasihnya, dia terlibat dalam hubungan terlarang yang membangkitkan kembali apa yang terkubur dalam jiwanya.

Saya rasa, ada Linda dalam setiap diri kita, pada suatu episode hidup kita. Ada kalanya kita merasa tak pantas untuk mengeluh, menilik apa yang sudah kita miliki dan kita capai, tetapi jauh di kedalaman jiwa kita, ada lubang yang tak bisa kita abaikan begitu saja. Lubang yang kalaupun kita abaikan, pada akhirnya akan memakan jiwa kita perlahan. Ada sesuatu hal yang tidak bisa kita bagikan kepada orang lain, karena rasanya tak ada yang mengerti. Seperti Linda, dia berselingkuh bukan karena rumah tangganya bermasalah, bukan karena suaminya memiliki kekurangan, bukan karena pria lain lebih menarik, bukan karena prasangka apa pun yang bisa dipikirkan oleh orang lain.

Kau tidak memilih hidupmu, hiduplah yang memilih dirimu. Tidak ada gunanya bertanya mengapa kehidupan menahan suatu kebahagiaan atau kesedihan, kau hanya bisa menerimanya dan melanjutkan hidupmu.
Kita tidak dapat memilih hidup kita, tetapi kita dapat memutuskan apa yang akan kita lakukan dengan kebahagiaan atau kesedihan yang kita dapatkan.
(p.103)

Bisa dikatakan, kita menghabiskan sebagian besar hidup kita untuk menyenangkan orang lain, hidup dengan standar yang ditentukan oleh masyarakat, menjaga citra diri kita agar sesuai dengan apa yang secara umum dianggap baik. Seringkali kita lupa untuk menanyakan pada diri kita, apa yang sebenarnya kita inginkan, apa yang kita butuhkan untuk ‘hidup’.

Mungkin mereka tidak memiliki kebutuhan untuk membuat orang lain terkesan. Aku memiliki kebutuhan itu, dan aku tidak dapat menolaknya, karena itu merupakan pengaruh baik dalam hidupku, terus mendorongku. Selama aku tidak mengambil risiko yang tidak perlu, tentu saja. Selama aku dapat menjaga duniaku tepat seperti sekarang ini. (p.83)

“Kita bukan orang yang semula kita inginkan. Kita adalah yang dituntut masyarakat. Kita adalah apa yang dipilih orangtua kita. Kita tidak ingin mengecewakan siapa pun; kita memiliki kebutuhan yang besar untuk dicintai. Jadi kita menutupi sisi terbaik diri kita. Perlahan-lahan, cahaya impian kita berubah menjadi monster dalam mimpi-mimpi buruk. Mereka menjadi hal-hal yang tidak dilakukan, kemungkinan-kemungkinan yang tidak kita jalankan.” (p.165)

Saya pribadi sebenarnya tidak merasakan keterikatan dengan karakter Linda dan konfliknya. Saya tidak suka dengan pandangan hidup Linda serta bagaimana dia mengambil pilihan. Banyak ide-ide penulis yang tidak saya sepakati. Meski begitu, penulis berhasil menyampaikan ide-ide universal mengenai hidup melalui kehidupan Linda. Melalui Linda, saya sadar bahwa terkadang kita merasa mengerti sesuatu yang belum pernah kita alami, padahal sesungguhnya tidak. Melalui kegagalannya dalam menemukan bantuan profesional menunjukkan bahwa mengecilkan masalah orang lain tidak akan memberikan penghiburan bagi mereka. Melalui pencarian dan penemuannya, saya belajar bahwa untuk merayakan hidup, sekali-sekali kita perlu juga untuk terpuruk.

Ketika kita memberikan segalanya, kita tidak dapat kehilangan apa-apa lagi. (p.311)

Setting dalam Buku

Juni : Setting dalam Buku

Juni : Setting dalam Buku

Linda adalah orang Swiss asli, dan buku ini mengambil setting di Jenewa. Penulis tak hanya menggunakan setting tempat ini sebagai sematan, tetapi dia juga menggambarkannya dengan cukup detail. Selain tempat, penulis menyinggung kebiasaan, gaya hidup, sampai kebudayaan orang Swiss yang kemungkinan hanya bisa dipahami oleh orang yang tinggal di Swiss. Bahkan karakter Linda ditunjukkan dengan kebanggaan yang alami sebagai warga Swiss.

Biarkan mereka percaya bahwa kami hanya memproduksi keju, cokelat, sapi, dan jam kukuk. Biarkan mereka percaya ada bank di setiap sudut jalan di Jenewa. Kami tidak berniat mengubah citra itu. Kami bahagia tanpa gerombolan orang-orang Barbar itu. Kami semua dipersenjatai dengan sangat lengkap (mengingat dinas militer merupakan kewajiban, setiap laki-laki Swiss menyimpan senjata di rumahnya), tetapi kau jarang mendengar seseorang menembak orang lain. (p.20)

Buku ini menggunakan sudut pandang orang pertama, sehingga narator yang sekaligus karakter utama—Linda, sangat mengetahui apa yang dideskripsikannya. Jalanan kota, pergantian musim, cerita rakyat, sikap para warga negaranya, dan lain sebagainya, menjelma sebagai bagian yang utuh dari setting cerita ini. Saya pribadi tidak tahu pasti mengenai tingkat akurasinya, tetapi dari segi sinambungnya di dalam buku ini, saya rasa penulis telah melakukan riset dengan cukup baik.

4/5 bintang untuk jiwa yang (tak) tenang.

Review #23 for Lucky No.15 Reading Challenge category One Word Only!

Scene on Three (83)

SceneOnThree

Pada zaman es, banyak hewan mati karena udara dingin, jadi landak-landak memutuskan untuk berkumpul untuk saling menghangatkan tubuh dan untuk perlindungan. Tetapi duri mereka menusuk teman-teman di sekitar mereka, tepatnya teman yang paling memberi kehangatan. Karenanya mereka berpencar lagi.
Dan sekali lagi banyak dari mereka mati kedinginan.
Mereka harus membuat pilihan: entah mereka punah ataukah menerima duri sesama teman mereka.
(p.122)

Scene dari buku Adultery karya Paulo Coelho ini adalah sebuah dongeng yang dibacakan oleh karakter utama kepada anak-anaknya. Ada satu paragraf terakhir dongeng tersebut yang sengaja tidak saya tuliskan di sini karena merupakan inti dari kisah itu.

Sebuah hal sederhana, tetapi kadang kita lupakan. Menerima ‘duri’ sesama demi tetap bertahan hidup. Kesakitan dan masalah kecil ada untuk sesuatu yang lebih besar. Namun entah mengapa, rasanya lebih mudah untuk mengeluhkan duri itu, mungkin karena dia hanya sekadar duri.

Bagikan scene kalian hari ini:

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya dari buku pilihan kalian ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).