Category Archives: Robert Galbraith

Lethal White – Robert Galbraith

Lethal White (Cormoran Strike, #4)Title : Lethal White (Cormoran Strike #4)
Author : Robert Galbraith (2018)
Publisher : Mulholland Books / Little, Brown and Company
Edition : First edition, September 2018
Format : Large paperback, 650 pages

Setelah kasus Shacklewell Ripper yang diceritakan di buku ketiga, kantor detektif Cormoran Strike kebanjiran pekerjaan. Hal ini membantu Cormoran dan Robin menjaga keberlangsungan neraca yang seimbang agar bisa bekerja dengan tenang, tapi di sisi lain, pemberitaan media menyulitkan pekerjaan mereka yang seringkali harus menyamar dan bersembunyi dari sasaran mereka. Kedua partner ini harus selektif memilih klien yang sesuai dengan visi dan misi mereka, sembari tetap memperhatikan bayaran yang prospektif. Karena alasan-alasan ini, mereka perlu dan mampu mempekerjakan mitra detektif lain, yang bisa membantu terutama dalam masalah penyamaran.

Suatu hari, Cormoran kedatangan seorang dengan gangguan jiwa bernama Billy, yang mengungkit sesuatu mengenai pembunuhan di masa kecilnya. Kunjungan singkat ini mengganggu pikiran Cormoran, sehingga dia memutuskan menggali lebih lanjut, meski petunjuk yang ditinggalkan sangat minim. Penelusuran Strike membawanya ke Jimmy Knight, seorang aktivis kiri. Secara kebetulan (atau bukan kebetulan) di waktu yang berdekatan, dia diminta Jasper Chiswell—Menteri Kebudayaan—untuk menangani pemerasan yang dialaminya. Kasus ini berhubungan dengan Jimmy Knight dan suami dari Menteri Olahraga. Di samping bayaran yang tinggi, kasus ini juga membawanya ke kasus Billy.

“One cannot be held accountable for unintended consequences.” (p.102)

Kali ini Robin mendapat porsi besar dalam pekerjaan ini. Dia ditugaskan menyamar ke Istana Westminster sebagai pegawai magang di kantor Chiswell. Sesuai dengan janji Cormoran sebelumnya, bahwa Robin akan diposisikan sebagai partner, bukan hanya sekretaris. Meski mengandung risiko, pekerjaan semacam ini memang selalu diimpikan Robin. Bahkan walau saat ini kondisi mentalnya masih kurang baik, akibat trauma yang dialaminya pada kasus Shacklewell Ripper.

Perlahan tapi pasti, tim detektif Strike mengupas kasus yang rumit ini, yang berujung, berpangkal, dan berjalin dengan banyak kejadian di masa lalu, orang-orang yang pernah mereka kenal sebelumnya (termasuk Charlotte), rahasia-rahasia yang tak ingin diungkapkan, dan kasus pembunuhan yang baru. Dengan ketegangan, tantangan, bahaya, kejutan, seperti umumnya cerita detektif (yang bagi Cormoran termasuk beberapa kali gangguan di kakinya).

“The client doesn’t get to tell me what I can and can’t investigate. Unless you want the whole truth, I’m not your man.”
“You are, I know you’re the best, that’s why Papa hired you, and that’s why I want you.”
“Then you’ll need to answer questions when I ask them, instead of telling me what does and doesn’t matter.”
(p.313)

Saya tidak menyangkal bahwa salah satu daya tarik dari serial ini adalah bunga-bunga hubungan Cormoran dan Robin. Hubungan semacam ini mungkin cukup klise di buku roman, tetapi penulis berhasil meramunya menjadi sesuatu yang sangat diinginkan pembaca. Chemistry kedua partner ini begitu kuat, sehingga tidak bisa tidak saya merestui hubungan ini. Beberapa bagian cukup membuat gemas, tetapi karena status Robin sudah menjadi istri Matthew, tentunya kita perlu bersabar untuk mencapai ke tingkat yang lebih.

Hubungan Robin dan Matthew sejak pembukaan buku ini sudah tak harmonis lagi—agak terlambat karena kejadiannya di hari pernikahan mereka, tepat saat itu kebenaran tentang Matthew terbuka di hadapan Robin. Kejadian di hari pernikahan itu buat saya sudah menjadi sebuah kisah tersendiri, karena begitu banyak emosi yang terlibat dan kemungkinan yang bisa mengubah kehidupan mereka—meski akhirnya tak terjadi. Bagian prolog ini saja, sukses membuat saya terhenyak dan meninggalkan beragam perasaan.

“Pretending you’re OK when you aren’t isn’t strength.” (p.548)

Bagian lain yang menjadi favorit saya adalah saat Cormoran merasakan bahwa dirinya memiliki dan merupakan bagian dari sebuah keluarga, keluarga yang benar-benar memiliki hubungan darah dengannya. Di bagian ini, sisi manusia Strike yang selama ini terbalut dalam kemasan profesional, luruh menampakkan emosi yang mendalam.

Masalah keluarga juga hadir pada kasus Chiswell yang ditanganinya, yang sedikit banyak membuatnya menghubung-hubungkan dengan dirinya sendiri. Terlebih hubungan kekerabatan di keluarga Chiswell cukup rumit, dengan adanya affair, pernikahan kembali, dan kematian.

Selain itu, urusan keluarga ternyata cukup membebani tugas para detektif yang dituntut bekerja di luar jam kerja normal. Setahu saya, kebanyakan karakter detektif fiksi memang jarang yang memiliki hubungan serius ke orang lain, selain partner kerjanya. Hal ini cukup disorot, tentang hubungan asmara Cormoran yang tidak berlangsung baik, hambatan karena mitra-mitranya sudah berkeluarga.

(…) perhaps the only difference between the two of them was that Strike’s mother had live long enough, and loved him well enough, to stop him breaking when life threw terrible things at him. (p.505)

Kelebihan dari penulis yang satu ini adalah caranya meramu sebuah kisah yang mengandung paket lengkap. Kita tidak hanya mendapatkan kisah detektif yang rumit, di buku ini kita juga mendapatkan kisah cinta, kisah skandal di pemerintahan, kehidupan kaum kiri dan anarkis, beberapa sudut pandang mengenai kesehatan jiwa, pelecehan seksual, isu politik dan sosial, diskriminasi ras, dan hubungan yang tidak sehat. Hal-hal ini muncul dalam kehidupan pribadi detektif kita, maupun kasus yang ditanganinya. Isu-isu terkait perempuan juga masih kuat disuarakan.

“…. Ultimate responsibility always lies with the woman, who should have stopped it, who should have acted, who must have known. Your failings are really our failings, aren’t they? Because the proper role of the woman is carer, and there’s nothing lower in this whole world than a bad mother.” (p.479)

Di buku sebelumnya, penulis menggunakan lagu-lagu sebuah band untuk menandai babnya, kali ini dia menggunakan kutipan drama Rosmersholm karya Henrik Ibsen. Dengan latar waktu di sekitar saat Olimpiade London 2012, kita juga mendapat gambaran persiapan Olimpiade tersebut, baik dari dalam kementerian, maupun terkait antusiasme warga Inggris secara umum. Trivia lain yang bisa didapat adalah seputar kuda—yang berhubungan dengan hobi istri Chiswell, yang juga menjadi bagian penting dan petunjuk dari misteri yang disimpan. Termasuk menjadi judul buku ini.

Lethal white syndrome. (…). Pure white foal, seems healthy when it’s born, but defective bowel. Can’t pass feces. (…). They can’t survive, lethal whites. (p.355)

Secara keseluruhan, perjalanan yang ditawarkan buku ini seperti roller coaster, suatu saat kita naik perlahan, lalu ada ketegangan dan emosi, luapan kegembiraan di saat yang lain, dan berakhir dengan kehausan akan petualangan berikutnya. Meski begitu, bagi saya kesan yang ditimbulkan buku ini tak sekuat buku ketiganya—yang merupakan favorit saya. Mungkin karena porsinya cukup besar, begitu banyak hal yang terjadi, sehingga fokus saya pun harus dibagi-bagi.

It was a glorious thing, to be given hope, when all had seemed lost. (p.236)

Advertisements

Career of Evil – Robert Galbraith

career-of-evilTitle : Career of Evil
Author : Robert Galbraith (2015)
Publisher : Sphere (imprint of Little, Brown Book Group)
Edition : Paperback edition, 2016
Format : Paperback, 584 pages

…the writings done in blood. –Blue Ӧyster Cult, ‘O.D.’d on Life Itself’ (p.82)

Suatu Senin pagi, Robin Ellacott menjalani rutinitasnya menuju kantor detektif Cormoran Strike. Di depan kantor, seorang kurir sudah menunggu dengan bungkusan yang diharapkan berisi pesanannya. Namun, setelah dibuka, ternyata paket itu berisi potongan tungkai kanan seorang wanita muda beserta pesan yang berisi lirik lagu Blue Ӧyster Cult. Seorang pembunuh gila sedang mengincarnya hanya karena dia asisten Cormoran.

Dari pengamatan awal atas motif dan metode pelaku, Cormoran mencatat empat orang yang sangat dendam kepadanya yang mungkin melakukannya; Terence “Digger” Malleys yang pernah punya riwayat kejahatan mutilasi, Donald Laing yang punya riwayat kekerasan terhadap wanita, Noel Brockback yang punya kecenderungan pada perempuan muda, dan Jeff Whittaker yang pernah menikahi dan membunuh Leda Strike—ibu kandung Cormoran. Keempat orang itu, yang punya catatan kejahatan seksual, kekerasan maupun obat-obatan terlarang, punya alasan yang sangat kuat untuk membenci Cormoran. Hampir bisa dipastikan keempatnya rela melakukan apa saja asal bisa membuatnya menderita, seperti penderitaan yang mereka dapatkan karena campur tangan detektif itu. Oleh karena penjahat ini sudah mengancam orang lain, yaitu Robin, Cormoran merasakan dorongan untuk segera menyelesaikannya dengan efektif. Hubungannya dengan polisi beberapa waktu belakangan sedang kurang baik karena kasus Lula Landry dan Owen Quine, maka dari itu dia menghubungi Eric Wardle yang tidak bermasalah dengannya untuk menangani kasus ini secara resmi. Menyingkirkan Robin dari kasus sudah bukan sebuah pilihan karena asistennya berkeras untuk tidak ‘lari’ dari apa yang sudah seharusnya menjadi pekerjaannya juga. Lagipula, bukankah ini yang selama ini diinginkannya, bekerja di kantor detektif, apapun risikonya. Keduanya harus berkolaborasi untuk menyelesaikannya dengan cepat, meski harus menghadapi bahaya.

Penulis pernah mengatakan bahwa dari ketiga buku Cormoran Strike, dia paling menikmati proses menulis buku ini. Salah satunya karena dia mengeksplorasi lirik lagu Blue Ӧyster Cult di hampir setiap babnya. Alih-alih memberi judul atau angka pada pergantian bab, dia menuliskan sebaris dua baris lirik, atau judul lagu band itu, yang sekiranya mewakili isi bab tersebut. Menurut saya itu sebuah tantangan yang menarik, sekaligus membuat saya penasaran pada band tersebut karena ternyata banyak lirik yang ‘menantang’ serta judul-judul ‘menggelitik’ di sana. Alasan lain adalah penulis mengeksplorasi Britania Raya dengan sangat terperinci. Dalam penyelidikannya, Cormoran harus melakukan perjalanan ke beberapa tempat di belahan utara negaranya. Di sini, penulis tidak sekadar meminjam tempat, dia menggambarkan dengan rinci geografi wilayah tersebut, gaya bangunannya, masyarakatnya, sejarahnya, hingga ke bahasa atau dialek daerah itu.

Is it any wonder that my mind’s on fire? –Blue Ӧyster Cult, ‘Flaming Telepaths’ (p.35)

Sebagaimana dua buku sebelumnya, saya sangat menikmati interaksi personal antara Cormoran dan Robin, juga bagaimana kehidupan mereka dikupas satu per satu. Termasuk hubungan mengharukan antara Cormoran dengan Shanker, pria yang dulu diselamatkan Leda dan hingga kini kerap membantu penyelidikan Cormoran melalui jalur ‘tidak resmi’. Penyelidikan terhadap penjahat di masa lalunya mau tak mau membuka kembali masa lalu Cormoran yang belum diperlihatkan di buku sebelumnya. Apalagi penjahatnya kali ini menggunakan tungkai kanan sebagai ancaman, tungkai yang hilang dari Cormoran. Masalah tungkai ini nantinya mempertemukan mereka dengan orang dengan kelainan ingin memutilasi diri sendiri, gangguan yang sangat sensitif bagi orang yang terpaksa harus diamputasi.

Kali ini, jarak antara Robin dengan bosnya semakin mengecil akibat ancaman yang selain membuatnya harus selalu dalam pengawasan, juga mengalami ketegangan hubungan dengan Matthew—tunangannya, seiring makin dekatnya hari pernikahan mereka. Saya tak menyangka di balik sosok Robin yang efisien itu terdapat masa lalu yang kelam, yang membuat saya semakin kagum padanya. Teror yang diterima Robin mau tak mau menguji keteguhan hatinya, apakah dia mampu mempertahankan kepercayaan diri yang dibangunnya dengan susah payah pasca trauma masa lalu.

It had happened all over again. A man had come at her out of the darkness and had ripped her not only her sense of safety, but her status. (p.504)

Secara umum, buku ini menggambarkan dengan sangat apik bagaimana pekerjaan dan kehidupan pribadi dapat berjalan beriringan. Bagaimana pada umumnya orang mengatasi gesekan antara kedua aspek tersebut; saat masalah pribadi membuat kita tidak fokus terhadap pekerjaan, atau justru pekerjaan membuat kita lupa pada masalah pribadi hingga menggunakannya sebagai pelarian—disadari atau tidak.

Berbicara tentang karakter, saya rasa tak perlu diragukan lagi dari karakter-karakter yang telah saya sebutkan semuanya memiliki kekuatan dan ciri unik yang menjadikan mereka tergambar utuh dalam benak pembaca. Bahkan hingga karakter-karakter minor, tidak menjadikan mereka digambarkan secara samar. Ada seorang karakter yang muncul hanya sebentar tetapi dialognya sangat terasa menjengkelkan, begitu nyata hingga saat membaca kalimat-kalimatnya, saya bisa merasakan emosi yang sama dengan yang dirasakan oleh Cormoran sekaligus kekhawatiran Robin bahwa orang tersebut akan menimbulkan masalah. Sehubungan dengan kasus, karakter para tersangka yang diselidiki juga menjadi salah satu petunjuk kuat yang membuat saya bisa menebak orangnya, meski saya masih ragu karena satu sandungan yang disimpan oleh penulis sebagai jebakan.

Singkatnya, saya suka sekali dengan segala sisi dalam buku yang kaya dengan berbagai aspek penceritaan ini. Penulis berhasil membangun rasa penasaran, ketegangan, humor, simpati, hingga ketidaksabaran dalam sebuah buku. 5/5 bintang untuk kehidupan yang keras sekaligus indah.

Baca juga kontemplasi saya tentang feminisme dalam serial ini di sini.

You could find beauty nearly anywhere if you stopped to look for it, but the battle to get through the days made it easy to forget that this totally cost-free luxury existed. (p.198)

Galbraith, Rowling, Cormoran Strike, dan Perempuan

Cormoran Strike adalah detektif swasta rekaan Robert Galbraith, yang sebenarnya adalah penulis rekaan dari J.K.Rowling, sang legenda. Tiga buku seri Cormoran Strike sudah diterbitkan atas nama Galbraith meski identitasnya sudah bocor jauh saat buku pertama masih dalam tahap promosi. Setelah membaca ketiga serinya pun saya tak hentinya menghubung-hubungkan semua itu, mengapa Rowling harus menggunakan pseudonym.

Kembali ke dua dekade lalu saat Harry Potter baru dilahirkan, Rowling sengaja menyingkat nama depannya supaya pembaca/editor tidak menyangka dirinya seorang perempuan. Tiga tahun lalu pun dia mengulang ini, dengan menggunakan nama yang jelas laki-laki, tidak ambigu sama sekali. Saya tidak perlu bicara panjang lebar tentang ini, kita bisa langsung menuju kesimpulan bahwa perempuan hari ini masih dianggap sebuah gender yang inferior bagi banyak orang.

Cormoran Strike bukan sosok detektif klasik yang misterius, yang hadir dengan reputasi dan penampilan seorang detektif ‘sejati’ (apapun maksudnya itu). Strike lahir dari bawah, bawah sekali, dari comberan para pecandu narkotik dan kriminal. Dia menghabiskan masa kecilnya di lingkungan yang seperti itu, tapi dia mengangkat dirinya sendiri, masuk ke dalam militer, hingga kecacatan fisik memaksanya untuk menjadi detektif swasta. Latar belakang serta gambaran fisiknya sendiri cukup membuat pembaca menghapus bayang-bayang akan karakter pria yang jamak ada di novel populer; yang selalu bisa membuat wanita mabuk kepayang. Meski Strike digambarkan sebagai sosok yang mudah memikat wanita, dia membangunnya dengan cara yang sangat berbeda.

Melihat latar belakangnya yang seperti itu, termasuk kalangan dia masih bergaul hingga saat ini, tentu bukunya bukan sebuah karya yang ‘anggun’. Seri Cormoran Strike adalah buku dengan uraian kekerasan khas kriminal, dengan taburan kata-kata kasar dan makian yang tak canggung karena sesuai pada tempatnya. Lingkungan Strike bekerja bukan lingkungan yang elit di mana seorang pria harus menjaga mulutnya di depan rekan ‘wanita baik-baik’nya. Strike terjun dalam dunia yang keras dan kotor.

Galbraith tidak melulu menyorot kameranya pada Strike, dia punya karakter perempuan tangguh bernama Robin Ellacott yang menjadi rekan kerja detektif kita. Dalam sejarah literatur abad-abad terakhir, karakter wanita tangguh kerap dimunculkan. Wanita-wanita ini menjadi semacam angin feminisme di tengah masyarakat yang masih kuat budaya patriarkinya. Namun Ellacott bukan Irene Adler yang ‘mengalahkan’ Sherlock Holmes dengan kecerdasannya, dan bisa tetap menjaga ‘keanggunan’nya sebagai seorang wanita. Bukan juga karakter ‘pendobrak’ seperti Jo March atau Scarlett O’Hara. Ellacott adalah perempuan masa kini yang menikmati kehidupan mapan, pernikahan, dan gaya, tetapi juga haus akan petualangan dan kebebasan yang ditawarkan kantor detektif yang tidak sengaja dimasukinya. Dia juga tidak ditampakkan tangguh begitu saja, ada proses yang membuat pembaca dapat melihat sisi-sisi kehidupannya. Di buku ketiga, kita diperlihatkan sisi lemah Ellacott yang sekaligus menunjukkan bahwa dia punya kekuatan yang luar biasa.

Selain Robin Ellacott, Galbraith menceritakan banyak perempuan, anak-anak, dan masyarakat yang dianggap bermasalah dari sudut pandang orang ketiga, yang (semestinya) tidak bias dengan pemikiran karakter utama pria. Bagaimana pemerkosaan, predator anak, victim blaming, merupakan masalah yang kerap muncul dan dilupakan, di buku-bukunya, Galbraith mengajak kita ‘mendengar’ suara mereka.

He was a six-foot-three ex-boxer. He would never know what it was like to feel yourself small, weak, and powerless. He would never understand what rape did to your feelings about your own body: to find yourself reduced to a thing, an object, a piece of fuckable meat. (Career of Evil, p.505)

Leda, Lula, dan Rochelle bukanlah wanita-wanita seperti Lucy atau Bibi Joan; mereka tidak melakukan tindakan pencegahan yang perlu dilakukan terhadap kekerasan maupun kesempatan; mereka tidak melabuhkan diri pada kehidupan yang diisi cicilan rumah dan kerja sukarela, suami yang aman dan anak-anak yang berwajah bersih. Karenanya, kematian mereka tidak dikategorikan sebagai “tragedi”, tidak seperti bila hal yang sama terjadi pada para ibu rumah tangga yang lurus dan terhormat itu. (The Cuckoo’s Calling, p.433)

Di sinilah poinnya, Galbraith menuliskannya dalam kerangka laki-laki, yang punya kacamata untuk melihat langsung dari sudut perempuan. Seandainya identitasnya masih tertutup, seri Cormoran Strike ditulis oleh laki-laki, dan dia punya ‘suara’ laki-laki yang cukup kuat di bukunya. Dengan kata kotor, seks, prostitusi, kekerasan, yang dituliskan secara telanjang, sekali waktu pembaca diajak melihat cara berpikir laki-laki. Lalu di situ, saat Galbraith berhasil membuat para pria merasa bahwa ini ‘wilayah’nya, dia memasukkan sudut pandang perempuan.

Galbraith memberi porsi yang relevan untuk menyampaikan penghormatan kepada perempuan-perempuan terpinggirkan ini. Dia tidak memberikan pembelaan atas pilihan hidup mereka yang bisa jadi salah, dan dia tidak perlu menghakimi karena pembaca dapat menilai sendiri. Atau, pembaca akan berhenti menghakimi karena kita tahu sisi-sisi yang selama ini kita abaikan, yang tak semua buruk, yang punya nilai lebih, terlepas dari masa lalu yang disandangnya. Ada satu dialog yang cukup dalam soal ini, berikut kutipannya, dengan bagian yang saya sensor karena akan menjadi spoiler jika saya buka.

‘Your mother,’ he said, in a deep xxx accent, ‘was a fucking whore.’
Strike laughed.’Maybe so,’ he said, bleeding and smoking in the darkness as the sirens grew louder, ‘but she loves me, xxx. I heard yours didn’t give a shit about you, little xxx’s bastard that you were.’
(Career of Evil, p.563)

Yang saya tahu dari akun twitternya, Rowling adalah seorang aktivis. Dia tidak hanya berbagi tentang dirinya yang seorang penulis, tetapi juga peduli dengan masalah politik, sosial, dan ekonomi negerinya, bahkan berkampanye tentang apa yang diyakininya benar. Jangan tanya tekanan apa yang diperolehnya dari kubu yang berseberangan. Mulai dari konfrontasi wajar hingga celaan yang tidak rasional, bahkan bully yang (coba tebak) membawa-bawa gender dan status sosial. Jadi begitulah, dia tahu betapa riskannya menjadi perempuan, hingga di abad ke-21 sekalipun.

Saya jadi berandai-andai, bagaimana kalau identitas Galbraith tidak bocor. Bagaimana jika semua hal yang dituliskannya yang menyiratkan keberpihakannya pada perempuan dianggap ditulis oleh seorang laki-laki, akankah orang memandangnya dengan berbeda?

The Silkworm – Robert Galbraith

silkwormTitle : The Silkworm (Ulat Sutra)
Author : Robert Galbraith (2014)
Translator : Siska Yuanita, M. Aan Mansyur (quotes)
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan pertama, 2014
Format : Paperback, 536 pages

Ha-ha-ha, kau terjerat jaring-jaringmu sendiri
seperti ulat sutra.
John Webster, The White Devil
(p.502)

Di tengah kejenuhannya dengan kasus-kasus ‘mahal’ tetapi membosankan, Cormoran Strike memutuskan untuk mengambil kasus Leonora Quine yang kemungkinan besar tak bisa membayarnya. Leonora memintanya menemukan suaminya, Owen Quine. Owen terbiasa menghilang untuk mencari sensasi—yang tampaknya tak pernah didapatkannya—tetapi belum pernah sampai selama ini. Bukan kasihan atau semangat yang membuat Cormoran menerima kasusnya, ada suatu alasan yang dia sendiri tak yakin, pada mulanya.

Kasus Quine berkembang ke arah yang tak disangka-sangka. Penulis yang tak terlalu terkenal ini baru saja melahirkan sebuah karya yang menyinggung banyak pihak. Bombyx Mori, yang berarti ulat sutra, menampilkan kisah orang-orang di sekitar Quine, dengan nama-nama samaran yang vulgar serta karakterisasi yang sangat mirip. Hampir semua orang yang dikenalnya menjadi sasaran pengungkapan aib mengerikan melalui simbol-simbol dan peristiwa yang menjijikkan. Kemudian, mayat Quine ditemukan. Cara kematiannya yang spesifik menyempitkan daftar tersangka, sekaligus menyulitkan pihak berwenang menemukan bukti. Siapakah yang sebegitu tersinggungnya dengan Quine, atau merasa posisinya dalam bahaya, jika karya Quine diterbitkan? Siapa yang tega melakukan sesuatu yang keji dan menjijikkan hanya karena goresan pena seorang penulis tak ternama? Siapakah di antara pembaca draft awal yang mungkin menjadi pembunuhnya?

Sama seperti buku pertamanya, kali ini Cormoran Strike masih bekerja dengan cara-caranya yang unik. Perpaduan antara gaya militer yang merupakan latar belakangnya, dan intuisi yang dimilikinya sebagai detektif investigasi selama bertahun-tahun. Intuisi inilah yang seringkali menjadi latar belakang segala tindakannya, yang berakar dari pengalaman dan imajinasi. Mulai dari alasannya menerima kasus Quine yang tidak menjanjikan—baik uang maupun popularitas, hingga kenyataan bahwa semakin jauh dia masuk ke dalam kasus ini, semakin menarik dan jelas fakta-fakta yang didapatkannya.

Dengan masuk ke dalam kasus Quine, secara otomatis Strike masuk ke dunia Quine. Pembaca pun dibawa untuk menelusuri hiruk-pikuk dunia penulisan dan penerbitan. Pertimbangan apa yang menjadikan sebuah buku diterbitkan, meskipun isinya ‘sampah’—menurut istilah karakter dalam buku ini—semacam karya Quine. Bagaimana orang-orang di masa sekarang memanfaatkan blog, menerbitkan ebook, dan sarana lain sebagai caranya untuk mengaktualisasikan dirinya sebagai penulis. Pun bagaimana banyak orang merasa bahwa perwujudan tertinggi dari eksistensinya adalah melalui sebuah buku.

Strike merasakan kelelahan yang tiba-tiba menguasainya. Demam macam apakah ini, kenapa orang ingin sekali unjuk diri dalam bentuk tertulis? (p.388)

Dengan memahami ini, Strike mulai membentuk hipotesis, satu demi satu, mencari motif, metode, dan kesempatan, termasuk bukti yang dalam kasus ini sangat sulit dicari. Strike mendengarkan semua orang, mengingat perkataan mereka—penting atau tidak penting, menganalisis manusia, sehingga seluruh tersangka maupun pihak yang terkait dengan buku ini dapat kita kenal dengan baik. Mulai dari penulis pemula kekasih gelap Owen, editornya yang baik hati tetapi menyimpan sesuatu, manajer penerbitan, agennya, sampai penulis ternama yang bermusuhan dengan Owen. Penulis mengajak pembaca mencari pembunuhnya bersama dengan Strike, meski tak sepenuhnya berhasil.

Jadi, apa yang harus dia lakukan berikutnya? Bila tidak ada jejak yang menjauh dari kejahatan, pikir Strike, dia harus memburu jejak yang menuju kejahatan itu. Bila buntut kematian Quine dengan gaib tidak menyajikan petunjuk apa pun, sudah tiba waktunya meneliti hari-hari terakhir hidup Quine. (p.330)

Selain kasus pembunuhannya sendiri, salah satu aspek yang tergambarkan secara kuat di sini adalah hubungan Strike dengan asistennya, Robin Ellacott. Robin yang selalu bermimpi untuk bekerja sebagai detektif sungguhan, harus berhadapan dengan tunangannya, Matthew, yang tak suka dengan pekerjaan maupun bos Robin. Strike memahami ketidaksukaan Matthew, tetapi harus dihadapkan pada Robin yang sangat berharap untuk dilibatkan lebih jauh, untuk diberi pelatihan, untuk memainkan peran lebih besar dalam pekerjaan Strike. Interaksi ini menurut saya bukan hanya sebagai bumbu terhadap kasus pembunuhan, tetapi merupakan sarana untuk masuk dan mengenal detektif kita lebih dalam.

Hal menarik lain dalam buku ini adalah kutipan dari berbagai buku pada tiap awal bab. Kutipan-kutipan ini bukan sekadar penghias atau asal tempel saja, tetapi seringkali menjadi kunci dari bab yang bersangkutan. Penulis juga bermain-main dengan bahasa Latin yang semakin menunjukkan kepiawaiannya berbahasa dan bermetafora. Dan tak lupa selipan humor ringan di sana-sini yang mengendurkan saraf kita yang tegang oleh misteri dan kejahatan yang sadis.

Buku kedua ini mungkin dimaksudkan agar bisa dibaca terpisah oleh yang belum membaca buku pertamanya. Banyak hal-hal penting di buku pertama yang diulang penjelasannya, terutama tentang Charlotte–mantan tunangan Strike, serta latar belakang keluarga sang detektif. Beberapa hal terasa tidak penting dan membosankan bagi yang sudah membaca buku pertama, tetapi menjadi pengantar yang mulus bagi yang belum membacanya.

Strike selalu heran bagaimana publik selalu menganggap kaum selebritas suci, bahkan bila surat kabar mencaci, memburu, dan merubung mereka. Tak peduli berapa banyak orang terkenal yang dihukum karena pemerkosaan atau pembunuhan, keyakinan itu tak berubah, bahkan cenderung fanatik: bukan dia. Tidak mungkin dia. Dia kan terkenal. (p.194)

5/5 bintang untuk perkembangan seru sang detektif dan asistennya.

The Cuckoo’s Calling – Robert Galbraith

18802299Title : The Cuckoo’s Calling (Dekut Burung Kukuk)
Author : Robert Galbraith (2013)
Translator : Siska Yuanita
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan pertama, 2014
Format : Paperback, 520 pages

Cormoran Strike adalah seorang detektif partikelir yang bisa dikatakan ‘berantakan’. Dia adalah veteran angkatan darat yang kehilangan setengah tungkainya, dengan pekerjaan yang belum bisa menghidupinya secara layak, baru saja memutuskan hubungan tak sehat selama bertahun-tahun dengan kekasihnya, Charlotte—yang berarti pula dia harus angkat kaki dari apartemen Charlotte yang selama ini ditinggalinya. Jadi, saat Robin Ellacott yang merupakan sekretaris yang dikirim oleh Temporary Solutions tiba, Strike dalam kondisi keuangan yang tidak memungkinkannya menggaji Robin, juga tidak memiliki tempat tinggal sehingga harus bermalam di kantornya. Beruntungnya, Robin adalah gadis yang cerdas dan efisien. Dia sangat bersemangat begitu mengetahui bahwa tempat kerja sementaranya adalah kantor seorang detektif—impiannya sejak kecil, pun suasana hatinya sedang baik karena dia baru saja dilamar oleh kekasihnya, Matthew.

Keberuntungan tampaknya tak jauh-jauh dari Robin, karena di hari pertama kedatangannya, Strike mendapatkan seorang klien yang sanggup membayar mahal, yang memberinya harapan untuk bisa melunasi hutang dan menggaji Robin secara layak. Strike sangat puas dengan cara kerja Robin yang sangat membantunya dalam banyak hal pada penyelidikannya. Robin juga sangat profesional dengan berusaha tak mencampuri area pribadi Strike; berpura-pura tak tahu kalau Strike bermalam di kantor, kondisi keuangannya yang menyedihkan, juga kenyataan bahwa Strike adalah putra tak sah seorang musisi terkenal dengan ibu seorang grupies yang meninggal karena overdosis.

Klien Strike adalah John Bristow yang memintanya menyelidiki kematian adiknya, seorang supermodel bernama Lula Landry, beberapa bulan sebelumnya. Pengadilan memutuskan kasus Lula sebagai bunuh diri, tetapi Bristow tidak puas, dia yakin Lula dibunuh dan berkeras dengan bukti rekaman CCTV dua orang pelari yang muncul sesaat setelah Lula jatuh dari balkon apartemennya.

Penyelidikan yang mulanya berupa wawancara dengan pihak-pihak yang berhubungan, mencari alibi dan motif, serta mengulik bukti dan modus, menjadi jauh lebih dalam lagi. Strike mau tidak mau berhubungan dengan orang-orang di sekitar Lula, dengan berbagai karakteristiknya. Strike terseret dalam kehidupan Lula Landry, yang jauh berbeda dari kehidupan yang dijalaninya, sekaligus sama bermasalahnya dengan kehidupannya sendiri.

Buku ini merupakan perpaduan yang apik antara kisah detektif dan kisah kehidupan. Sebagai detektif, Strike sebenarnya sangat tahu apa yang dia lakukan. Di balik kehidupannya sendiri yang kacau, dia bisa mengendalikan diri dan tetap profesional dalam bekerja. Kita disuguhkan wawancara-wawancara yang unik, dengan orang-orang yang mungkin berbohong, yang mengalihkan pembicaraan ke kehidupan pribadi Strike, yang mengatakan kebenaran dengan ragu-ragu, yang memberi informasi tak jelas, tetapi ternyata Strike dapat menyaring semuanya dengan baik.

“Kebohongan tidak akan masuk akal, kecuali kebenaran mengandung bahaya yang setara.” (p.186)

Tak hanya mengumpulkan fakta, Strike juga dihadapkan pada emosi orang-orang di sekitar korban maupun keluarganya. Ada yang marah dan tak suka dengan penyelidikannya, ada yang berharap dengan muluk, ada juga yang berusaha mengarahkan penyelidikan ke arah yang sesuai dengan kepentingannya.

“Orang-orang yang berdekatan dengan peristiwa bunuh diri sering kali merasa bersalah. Mereka merasa, kadang-kadang tanpa alasan yang masuk akal, bahwa seharusnya mereka bisa lebih membantu. Putusan pembunuhan akan membebaskan keluarga dari rasa bersalah itu, bukan” (p.230)

Kemudian, tiba-tiba tanpa saya sadari, Strike sudah tiba pada suatu titik dimana informasi yang didapatkan sudah cukup. Dan bukan hanya mengetahui siapa pembunuh Lula Landry, Strike pun seperti telah mengenal dekat supermodel itu, berkat informasi-informasi yang didapatkannya dari orang-orang terdekat Lula.

Yang mati hanya bisa berbicara melalui mulut orang-orang yang ditinggalkan, dan melalui tanda-tanda yang terserak di belakang mereka. Strike telah merasakan seorang perempuan yang hidup di balik kata-kata yang dia tulis untuk teman-temannya; dia telah mendengar suara gadis itu di telepon yang menempel di telinga; namun sekarang, ketika menatap hal terakhir yang dilihat Lula dalam keadaan hidup, Strike merasa sangat dekat dengannya. Kebenaran berangsur-angsur muncul dari banyaknya detail yang tidak saling terkait. Yang tidak dia miliki hanyalah bukti. (p.325)

Awalnya saya agak terganggu dengan bahasa terjemahannya. Terutama deskripsi ruang yang panjang dan rinci, malah membuat kepala saya semakin berputar, tak membantu saya untuk membayangkannya. Apalagi saat saya menemukan kata ‘talek’ di halaman 248 yang paling mengganggu. Mengapa tidak menggunakan kata ‘talk’ saja? Apakah itu hanya kesalahan ketik? Namun lambat laun, saya semakin bisa menangkap keindahan sekaligus ‘ke-apa-adanya-an’ terjemahannya. Bahasa kasar tetaplah kasar, tetapi saya masih bisa menemukan keindahan deskripsi yang diterjemahkan dengan cukup indah pula. Meskipun saya masih tidak bisa menerima penggunaan kata ‘talek’, sejauh ini terjemahannya tidak seburuk sangkaan awal saya.

Sebenarnya saya ingin sekali memberi buku ini lima bintang, tetapi dorongan itu semata-mata karena saya tahu siapa penulisnya. Dengan terpaksa, untuk saat ini, jika hanya melihat bukunya saja, saya hanya bisa memberinya 4/5 bintang. Artinya, saya sangat menyukai buku ini, tetapi tidak ada hal yang ‘menonjok’ ataupun mencengangkan saya. Tetapi mungkin di situlah kehebatan buku ini, dia bisa menyajikan sesuatu yang tampak ‘biasa’ menjadi ratusan halaman yang tidak membosankan untuk dibaca. Buku ini tidak diam setelah saya menutupnya, buku ini memberi banyak perenungan; tentang karakter manusia, lingkungan di luar kita, dan secara khusus, bagaimana penulis dengan jeniusnya menghubungkan Cormoran Strike dengan Lula Landry, sebegitu eratnya, padahal sekali pun mereka tidak pernah bertemu.

Leda, Lula, dan Rochelle bukanlah wanita-wanita seperti Lucy atau Bibi Joan; mereka tidak melakukan tindakan pencegahan yang perlu dilakukan terhadap kekerasan maupun kesempatan; mereka tidak melabuhkan diri pada kehidupan yang diisi cicilan rumah dan kerja sukarela, suami yang aman dan anak-anak yang berwajah bersih. Karenanya, kematian mereka tidak dikategorikan sebagai “tragedi”, tidak seperti bila hal yang sama terjadi pada para ibu rumah tangga yang lurus dan terhormat itu. (p.433)

Review #4 for Read Big!

Review #4 for Lucky No.14 Reading Challenge  category Chunky Brick