Category Archives: Sapardi Djoko Damono

Pingkan Melipat Jarak – Sapardi Djoko Damono

34501430Judul : Pingkan Melipat Jarak (Trilogi Hujan Bulan Juni #2)
Penulis : Sapardi Djoko Damono (2017)
Penyelia naskah : Mirna Yulistianti
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Format : Paperback, vi+121 halaman

Ia beriman pada takdir, yang tidak mengenal seandainya. (hal. 13)

Setelah kisah cinta yang ragu-ragu di novel Hujan Bulan Juni antara Sarwono dan Pingkan terpisahkan jarak akibat studi dan pekerjaan, kini keduanya diuji kembali dengan sakit yang diderita Sarwono. Penyakit itu menyebabkannya harus mendapat perawatan intensif di rumah sakit dan tidak boleh dijenguk oleh siapapun, termasuk Pingkan, terutama Pingkan. Dengan Katsuo, kawan Jepang yang juga menaruh rasa padanya, menemaninya di Solo, keraguan dan kekhawatiran yang dirasakannya semakin tak terjawab.

Di buku kedua ini, kisah terutama berpusat pada Pingkan. Mengenai perasaan Pingkan pada Sarwono yang dianggap tak pernah berubah dan semakin mantap, tetapi kembali samar saat ada badai yang datang. Kilas balik kisah keduanya, kenangan-kenangan dan jejak Sarwono memberi kesempatan bagi Pingkan untuk melihat kembali ke dalam dirinya, dan apa yang sungguh diinginkannya.

Katsuo, Bu Pelenkahu, dan cicak. Dan Pingkan memilih cicak. Dan karena sejak di kamar Sarwono cicak menyindirnya akan meninggalkan Sarwono, Pingkan teguh pada niatnya untuk tidak meninggalkan kekasihnya itu di Solo. Katsuo pasti tidak pernah mendengarkan cicak, Sarwono pasti pernah, pasti sering sebab selalu ada di balik jam dinding di kamarnya. Cicak tahu benar perangai pemuda itu, dan karenanya mencintainya. (hal. 49)

Jika dalam buku pertama trilogi ini saya menyebutnya sebagai ‘pertunjukan sastra’ karena menyajikan sederet ragam narasi, maka di novel kedua ini kita diajak masuk ke dalam labirin imajinasi, alam bawah sadar, mimpi, dan khayalan para karakternya. Batasan realitas begitu tipis, kita bisa memastikan mana yang nyata mana yang bukan, disandingkan dengan suasana sendu yang kental dengan aroma kematian, membuat buku ini terbuka untuk berbagai kemungkinan penafsiran.

Penulis masih menyajikan sederetan legenda kisah cinta yang dihubungkan dengan pasangan beda latar belakang ini. Tak hanya itu, budaya lain seperti mitos, kepercayaan, musik dan film juga melebur ke dalam labirin-labirin yang membawa pembaca ke tujuan yang sulit diprediksi.

Selalu ada yang terjadi tidak untuk bisa dipahami, tampaknya. (hal. 106)

Selain Pingkan, perasaan dan latar belakang Katsuo juga mulai terbuka. Bagaimana hubungannya sendiri dengan Pingkan sebenarnya tak hanya terhalang oleh pria Jawa yang dicintai Pingkan, tetapi juga keluarga dan masa lalu di Jepang yang masih menantinya.

Dalam beberapa bagian, tersirat kenyataan hubungan Katsuo dengan Pingkan yang mungkin lebih jauh dari yang ditampakkan sebelumnya. Kebersamaan mereka di Jepang sepertinya tidak disia-siakan begitu saja oleh Katsuo. Meski Pingkan tak pernah memberi tanda positif, ada kalanya keraguan mengubah cinta segitiga menjadi hubungan cinta yang lebih rumit.

Tanpa rasa sakit, jiwa kita kosong belaka. (hal. 74)

Alih-alih menjawab pertanyaan, buku ini justru memunculkan lebih banyak pertanyaan untuk dijawab di buku selanjutnya. Seperti Hujan Bulan Juni, yang membiarkan yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu. Termasuk jalan apa yang dipilih Pingkan untuk dilipat jaraknya.

“Kenangan itu fosil, bukan abu, Toar. Tidak bisa diubah menjadi abu.” (hal. 115)

Advertisements

Hujan Bulan Juni – Sapardi Djoko Damono [Novel]

Judul : Hujan Bulan Juni (Novel)
Penulis : Sapardi Djoko Damono (2015)
Editor : Mirna Yulistianti
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Edisi : Cetakan pertama, Juni 2015
Format : Paperback, vi + 135 halaman

Sarwono adalah salah satu dosen muda di Prodi Antropologi FISIP-UI yang giat ‘mencari nafkah’ dengan menulis laporan penelitian tentang berbagai wilayah di Indonesia. Laporan hasil tulisannya memang disukai, mungkin karena pada dasarnya dia suka menulis, meski yang lebih sering ditulisnya adalah puisi. Sejak SMA dia dekat dengan adik kawannya, Pingkan Pelenkahu yang campuran Minahasa-Jawa, yang kini mengajar di Prodi Jepang, sama-sama FISIP-UI. Namun, seperti ada batas yang menahan hubungan keduanya ke arah yang lebih jauh, meski keduanya sama-sama memberi sinyal positif.

–semuanya cengeng kalau diukur berdasarkan ketidakpahaman akan hakikat puisi, (hal.93)

Bersama di fakultas, menghabiskan waktu beberapa minggu tugas di Sulawesi, hingga terpaksa terpisah sementara saat Pingkan belajar di Kyoto mencatat jejak hubungan keduanya. Ada keluarga yang harus disatukan, dan ada prinsip yang perlu diluluhkan. Pingkan selalu mengatakan bahwa Sarwono cengeng dan zadul, tetapi diam-diam mengharapkannya menjadi Matindas-nya. Sedangkan Sarwono yang tidak dapat melihat ‘keJawaan’ Pingkan pun jiwa Pingkan tak juga Minahasa masih merasa bahwa dirinya adalah wong sabrang yang harus menceritakan kisahnya sendiri.

“Dongeng adalah jawaban bagi pertanyaan yang diajukan suatu kaum tentang banyak hal yang menyangkut keberadaannya,” (hal.52)

Inti dari cerita Sarwono dan Pingkan ini sebenarnya sederhana saja, kekuatan novella ini bagi saya justru ada di narasinya. Di sini, penulis seolah hendak ‘pamer’ tentang bentuk-bentuk narasi, serta menunjukkan kepiawaiannya menjalin bentuk-bentuk yang berbeda itu ke dalam sebuah novel yang pendek. Saat membaca, saya dapat terhanyut dalam narasi yang indah, atau lugas, atau dalam dialog, atau dalam arus pikiran, tanpa peduli pada akhirnya saya akan dibawa ke mana dalam urusan percintaan kedua karakter tersebut. Saya merasa dibawa ke dalam sebuah perjalanan di mana saya cukup menikmati potongan-potongan pemandangan yang indah, tanpa perlu dijelaskan mengenai sejarah pembentukannya, juga tak penting untuk mereka-reka apa peran si pemandangan dalam dunia yang luas ini. Pemandangan-pemandangan itu cukup untuk membentuk sepotong kisah.

Selain itu, seperti beberapa karyanya yang lain, penulis juga memasukkan adaptasi cerita rakyat ke dalam kisahnya. Kisah Pingkan dan Matindas adalah cerita rakyat Minahasa yang diwujudkan secara modern dalam diri Pingkan Pelenkahu dan Sarwono. Cerita rakyat ini secara apik berhasil menyatu dalam kisah, tidak terkesan dibuat-buat, pun dia menyusup dalam karakter seolah legenda tersebut hidup kembali—atau karakter kita yang mundur ke masa lalu, mewujud kisah yang telah berlalu.

Ditatapnya mata Sarwono, dalam-dalam, semakin dalam, dan semakin dalam lagi. Langit itu bersih tanpa awan hanya ada dua ekor burung jantan dan betina menyeberang cakrawala lalu muncul dari arah sebaliknya dengan sangat rapi bersama-sama mengepakkan-ngepakkan sayap-sayap mereka lalu melesat ke atas hanya beberapa detik terus menukik kembali menceburkan diri di laut yang menyimpan warna langit. (hal.86)

Tidak hanya cerita rakyat Minahasa, beberapa legenda daerah yang bersinggungan dengan karakter juga dileburkan dalam narasi, meski tak dominan, termasuk budaya dan legenda Jepang yang menjadi tempat singgah Pingkan saat belajar. Penulis memasukkan unsur-unsur kekinian yang menegaskan zaman kisah ini terjadi, baik secara teknologi, situasi ekonomi, politik, sosial, dan lain sebagainya.

… ia sering berpikir mengapa semuanya harus seragam, mulai dari baju sekolah sampai cara berpikir yang dikendalikan kurikulum yang seragam, yang harus ditafsirkan secara seragam juga. Tadi pun, mereka seragam tertawa seragam. Bangsa ini tampaknya akan menghasilkan anak-anak yang seragam. Ketika memikirkan ibu-bapaknya, Sarwono malah jadi khawatir kalau-kalau mereka nanti tidak berpikir seragam menerima laporannya tentang …. (hal.88)

Singkatnya, buku ini adalah ‘pertunjukan’ sastra yang sangat kaya. 4.5/5 bintang untuk cinta yang ragu-ragu.

Bahwa kasih sayang beriman pada senyap. (hal.45)

Scene on Three (89)

SceneOnThree

Bulan Juni sudah masuk pertengahan. Rasanya sekarang puisi Hujan Bulan Juni pak Sapardi sudah menjadi mainstream, jadi, sepertinya belum lengkap kalau SoT Juni ini tidak mengutip salah satu puisi di sana. Kebetulan saya sudah memiliki edisi cover cantik yang saya idam-idamkan waktu itu, jadi sekalian baca ulang, dan menemukan puisi yang entah saya lupakan, entah memang tambahan:

BOLA LAMPU

Sebuah bola lampu menyala tergantung dalam kamar. Lelaki itu menyusun jari-jarinya dan bayang-bayangnya nampak bergerak di dinding; “Itu kijang,” katanya. “Hore!” teriak anak-anaknya, “sekarang harimau!
“Itu harimau.” Hore! “Itu gajah, itu babi hutan, itu kera …”

Sebuah bola lampu ingin memejamkan dirinya. Ia merasa berada di tengah hutan. Ia bising mendengar hingar-bingar kawanan binatang buas itu. Ia tiba-tiba merasa asing dan tak diperhatikan.

(1973)

(hal.74)

Pernahkah kalian di suatu titik merasa hanya ‘dimanfaatkan’? Hanya terlihat sebagai sebuah fungsi, tetapi tak pernah dipandang sebagaimana diri kita yang sesungguhnya. Ah, saya suka sekali personifikasi bola lampu ini.

Saya jadi bertanya-tanya, jika suatu saat saya ‘memejam’, siapa saja yang akan merasa kehilangan ya 🙂

Ada scene apa di bulan Juni ini?

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya dari buku pilihan kalian ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

Trilogi Soekram – Sapardi Djoko Damono

soekramJudul : Trilogi Soekram
Penulis : Sapardi Djoko Damono
Editor : Mirna Yulistianti
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Edisi : Cetakan pertama, Maret 2015
Tebal : 273 halaman

Membaca sebuah kisah fiksi seringkali memberi pengalaman tersendiri bagi pembacanya. Mungkin si pembaca merasa akrab dengan salah satu karakter dalam kisah tersebut, bisa jadi pembaca merasakan keterikatan pada konflik yang dialami oleh si karakter, atau mungkin latar kisah itu membangkitkan kenangan tersendiri bagi si pembaca. Namun, apa jadinya jika karakter sebuah novel benar-benar hidup, benar-benar muncul di hadapan kita?

Itulah yang terjadi pada sahabat salah seorang penulis yang baru saja meninggal dunia. Penulis itu meninggalkan cerita yang belum selesai ditulis, sehingga Soekram—karakter utama cerita tersebut—meminta sahabat penulis itu untuk melanjutkan ceritanya. Kisah Soekram pun ditulis ulang. Pada bagian pertama, Soekram menjalani kisah cinta yang rumit dengan beberapa wanita, berhubungan dengan studi dan pekerjaannya, dengan latar belakang peristiwa Mei 1998. Ternyata buku itu tidak memuaskan Soekram sehingga dia kembali untuk meminta kisahnya dirombak lagi. Pada bagian selanjutnya, latar berpindah ke masa yang lebih lampau. Masih berhubungan dengan kisah cinta Soekram, tetapi kali ini ada bagian yang ditulisnya sendiri, sesuai dengan kehendak sang tokoh.

Bisa dikatakan, ada dua unsur besar dalam buku ini. Yang pertama adalah ketiga kisah Soekram yang dibagi menjadi tiga bagian; Pengarang Telah Mati, Pengarang Belum Mati, dan Pengarang Tak Pernah Mati. Ketiga kisah ini sebenarnya adalah novela yang pernah diterbitkan secara terpisah. Namun di buku ini, ketiga kisah itu dijalin dengan unsur kedua buku ini, yaitu konflik antara Soekram, sahabat penulis, dan penulis itu sendiri.

Karakter Soekram sendiri tampaknya adalah sebuah potret mengenai manusia dan hasrat-hasratnya. Soekram seperti mengumpulkan sifat-sifat dasar manusia, mulai dari keinginan dasar untuk bertahan hidup, hingga hasrat untuk mengaktualisasi diri.

Rupanya Soekram tahu bahwa jika file-file itu tidak dibuka, ia belum menjadi tokoh—tokoh fiksi baru menjadi ada jika dibaca, jika sudah masuk ke benak manusia. Jika semua yang pernah ditulis sahabatku itu lenyap begitu saja dan belum sempat dibaca, Soekram akan mengembara seperti roh yang gentayangan selamanya di alam ajaib—bukan alam nyata, bukan pula alam rekaan. (hal.60)

Dengan mengambil tiga masa sejarah perjuangan yang berbeda-beda, penulis menggelitik kita dengan menunjukkan sisi absurd dari ‘perjuangan’ Soekram. Soekram memang mengambil bagian dari perjuangan, bahkan di bagian ketiga napas patriotisme lebih terasa. Namun, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, ada hasrat pribadi yang digambarkan lebih dominan. Dengan kritik yang tersirat di sana-sini, humor yang diselipkan, termasuk upaya penulis mereka ulang kisah yang sudah ada, membuat buku ini terasa segar dan berbeda.

“Orang akan bekerja lebih baik kalau ada ancaman, kalau ada sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya mereka terima, kalau menghendaki adanya perubahan.” (hal.215)

Gaya penulis yang ‘mengobrak-abrik’ kisah yang sudah ada—dalam kasus buku ini, kisah klasik Nusantara—dan mengubahnya menjadi sesuatu yang baru sudah pernah dilakukannya di kumpulan cerpennya Pada Suatu Hari Nanti/Malam Wabah. Sedangkan cara penulis memasukkan tokoh fiksi ke dalam dunia si pengarang mengingatkan saya pada salah satu drama favorit saya—yang juga sangat filosofis—Six Characters in Search of An Author karya Luigi Pirandello. Sebagai seorang penyair, sentuhan penulis masih terasa dari pemilihan kata-kata dan beberapa kalimat indah yang terdapat di buku ini.

Tiga jam sesudah itu pesawatnya seperti sebuah kerikil yang dilontarkan ketapel yang ditarik oleh sepasang tangan yang sangat perkasa, menembus awan, melayang-layang di udara. (hal.12)

Bumi berguling seperti biasanya, mengelilingi matahari menjadi kelana di alam raya—siapa yang bisa menghalanginya? Siapa yang bisa menghalangi matahari menjaga kehidupan isi dunia? Siapa yang bisa menghalangi bumi berputar pada sumbernya? Siapa yang berani menghalangi awan bergantung di atas sana? (hal.236)

Saya rasa, masih banyak sekali celah pemahaman yang saya lewatkan dari membaca buku ini satu kali. Penulis memasukkan simbol-simbol dan ide-ide filosofis yang terkadang nyleneh. Bagi saya, buku ini sulit untuk dinikmati secara keseluruhan, tetapi potongan-potongan pembentuknya jelas sangat mengesankan. 3.5/5 bintang.

Review #22 for Lucky No.15 Reading Challenge category Something New

Scene on Three (87)

SceneOnThree

Langit memang suka aneh. Ia sayang pada penghujan, tetapi juga kepada kemarau. Dan bulan Mei ini langit rupanya ingin keduanya ada sehingga rasa sayangnya bisa ditumpahkan sepenuh-penuhnya. (hal.65)

Meski tidak ditulis tahun ini, penggambaran cantik di atas berasa juga di bulan Mei ini. Scene dari buku Trilogi Soekram karya Sapardi Djoko Damono ini cocok sekali dengan ‘kegusaran’ saya beberapa tahun belakangan, sebenarnya, apakah Indonesia sedang mengalami perubahan iklim?

Sepanjang yang saya ingat pada masa kecil saya, Musim kemarau dan penghujan memiliki batas yang pasti dalam kurun waktu yang pasti. Jadi seandainya Juni sudah masuk musim kemarau, maka sudah benar-benar tidak ada hujan lagi. Namun tahun-tahun belakangan, rasanya jarang sekali kita mengalami musim kemarau yang benar-benar kemarau. Yang ada justru cuaca ekstrem seperti bulan Mei ini, yang panas terasa panas sekali, saat diguyur hujan tiba-tiba terasa dingin selama beberapa malam. Atau ingatan saya salah?

Saya juga kadang berpikir, di belahan dunia lain, tempat yang memiliki empat musim, orang masih setia menggunakan kata summer atau fall dan sebagainya untuk menunjukkan waktu. Apakah di tempat-tempat tersebut tidak mengalami ‘pergeseran’ iklim seperti yang kita alami? Ataukah hanya masalah kebiasaan saja?

Yuk, bagikan scene menarik dari bacaanmu:

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya dari buku pilihan kalian ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).