Category Archives: Sapardi Djoko Damono

Scene on Three (87)

SceneOnThree

Langit memang suka aneh. Ia sayang pada penghujan, tetapi juga kepada kemarau. Dan bulan Mei ini langit rupanya ingin keduanya ada sehingga rasa sayangnya bisa ditumpahkan sepenuh-penuhnya. (hal.65)

Meski tidak ditulis tahun ini, penggambaran cantik di atas berasa juga di bulan Mei ini. Scene dari buku Trilogi Soekram karya Sapardi Djoko Damono ini cocok sekali dengan ‘kegusaran’ saya beberapa tahun belakangan, sebenarnya, apakah Indonesia sedang mengalami perubahan iklim?

Sepanjang yang saya ingat pada masa kecil saya, Musim kemarau dan penghujan memiliki batas yang pasti dalam kurun waktu yang pasti. Jadi seandainya Juni sudah masuk musim kemarau, maka sudah benar-benar tidak ada hujan lagi. Namun tahun-tahun belakangan, rasanya jarang sekali kita mengalami musim kemarau yang benar-benar kemarau. Yang ada justru cuaca ekstrem seperti bulan Mei ini, yang panas terasa panas sekali, saat diguyur hujan tiba-tiba terasa dingin selama beberapa malam. Atau ingatan saya salah?

Saya juga kadang berpikir, di belahan dunia lain, tempat yang memiliki empat musim, orang masih setia menggunakan kata summer atau fall dan sebagainya untuk menunjukkan waktu. Apakah di tempat-tempat tersebut tidak mengalami ‘pergeseran’ iklim seperti yang kita alami? Ataukah hanya masalah kebiasaan saja?

Yuk, bagikan scene menarik dari bacaanmu:

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya dari buku pilihan kalian ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

Bilang Begini, Maksudnya Begitu – Sapardi Djoko Damono

BBMB SDDJudul : Bilang Begini, Maksudnya Begitu
Penulis : Sapardi Djoko Damono
Penyelia naskah : Mirna Yulistianti
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Format : Paperback, vi + 138 halaman

Konon puisi adalah mahkota bahasa. Maksudnya, cara pemanfaatan bahasa yang setinggi-tingginya dicapai dalam puisi. Rasanya saya lebih suka mengatakan dengan lebih lugas bahwa puisi adalah hasil yang dicapai jika seseorang mampu bermain-main dengan bahasanya. (hal.133)

Puisi seringkali menjadi momok dalam apresiasi karya sastra bagi mereka yang belum memahaminya. Saya termasuk salah satu orang yang terintimidasi jika harus mengapresiasi puisi. Bagi saya, puisi adalah pelampiasan yang sangat pribadi, sebuah tingkatan yang lebih tinggi daripada prosa karena penggunaan bahasanya yang lebih efisien dan sarat akan ungkapan dan majas. Beberapa tahun belakangan, saya agak berani dalam mengapresiasi puisi, sebatas pengetahuan saya. Namun, setelah membaca buku ini, saya menjadi lebih berani karena buku ini dengan ringkas mengenalkan secara mendalam hakikat dari puisi yang sesungguhnya.

Penulis, melalui contoh-contoh puisi—baik karya asli maupun terjemahan, menunjukkan jenis-jenis alat kebahasaan yang dipergunakan oleh puisi untuk mencapai tujuannya. Apakah puisi sebagai sastra tulis yang bermain-main dengan visual, yaitu bagaimana cara penulisannya menjadikannya khas, ataukah puisi sebagai bunyi, karena bermula dari tradisi lisan, yang memanfaatkan aliterasi (rentetan bunyi huruf mati) dan asonansi (rentetan bunyi huruf hidup) sehingga mudah diingat. Bagaimana seseorang memaknai puisi sesuai dengan latar belakang dan pengetahuannya, yang diakibatkan karena pemilihan kata sang penyair yang ‘bilang begini, maksudnya begitu’. Puisi juga bisa berwujud transparan, yang hanya memiliki satu makna, bisa juga bersifat prismatik, yang bisa menguraikan ‘warna’ sehingga bisa ditafsirkan bermacam-macam.

Melalui pemahaman yang dibangun oleh penulis ini, apresiasi puisi menjadi lebih mudah karena kita tak harus terlampau kaku dalam mencari maknanya. Pemahaman yang berbeda tidaklah salah, tetapi justru memperkaya puisi itu sendiri. Hal lain yang seringkali menjebak pembaca puisi adalah amanat. Beberapa penyair memang menjadikan puisi sebagai alat edukasi dan dakwah. Penyair bisa berbicara ‘langsung’, atau menyembunyikan maknanya guna memberi kesempatan bagi pembaca untuk merenungkannya, sehingga tidak merasa seperti diceramahi. Akan tetapi, tak semua puisi harus kita cari-cari amanatnya.

Jadi, karena tanpa amanat, apakah dengan demikian pantun-pantun itu tidak berharga? Tentu saja berharga, sebab sebenarnya membaca puisi itu tidak selalu harus berburu amanat. (hal.88)

Dan sebenarnya, yang menarik dalam sajak itu adalah tontonan tersebut, bukan sekadar amanatnya. Dari tontonan itulah kita, pembaca, bisa mencarikan amanat yang disiratkannya. Pada umumnya demikianlah proses membaca puisi. Jika kita membaca puisi semata-mata karena amanatnya, atau dengan kata lain kita menjadi pemburu amanat, sebagian besar sajak yang pernah ditulis jelas akan mengecilkan hati kita karena tidak kunjung mendapatkan amanat yang jelas. (hal.90)

Puisi dapat saja hanya berupa tontonan—sebagaimana istilah penulis, tentang realitas kehidupan, tentang perasaan, maupun tentang pandangan hidup penyair atau masyarakat pada umumnya. Karenanya, puisi dapat menjadi cerminan kehidupan sang penyair. Meski begitu, dalam apresiasi puisi, latar belakang penyair bukan sesuatu yang mutlak untuk diketahui. Dengan membebaskan diri dari pengetahuan, bisa saja kita menemukan makna ‘prismatik’ dari sebuah puisi.

Kalau kebetulan kita mengetahui bahwa nama-nama itu ada kaitannya dengan kehidupan yang sebenarnya, tafsir kita bisa saja menjadi lebih mendekati ‘kenyataan’, tetapi bisa juga malah membatasi tafsir kita sebab puisi pada hakikatnya tidak berbicara tentang ‘kenyataan’ karena merupakan ciptaan yang lahir dari imajinasi penyair. Jika mampu melepaskan diri dari pengetahuan tentang nama yang kebetulan tercantum dalam puisi, kita tentu bisa lebih membebaskan imajinasi dan mencapai tafsir yang lebih dalam. (hal.115)

Buku ini juga menyinggung penggunaan dongeng yang dimodernkan sebagai salah satu cara memperkaya puisi itu sendiri, maupun sarana melestarikan tradisi.

Kalau kita katakan sekarang bahwa si penyair telah memanfaatkan wayang sedemikian rupa agar sesuai dengan situasi komunikasi modern yang telah menuntutnya untuk di sana-sini mengubahnya, dongeng yang diubahnya itu sebenarnya juga merupakan usaha pujangga-pujangga sebelumnya untuk melakukan hal serupa. Demikianlah maka dongeng, dalam masyarakat mana pun, menjadi tradisi karena senantiasa mengalami proses serupa itu. Tradisi adalah proses, bukan sesuatu yang berhenti dan menjadi fosil. (hal.124-125)

Kesemua itu tak lepas dari ciri karya sastra sebagai sesuatu yang ‘indah’. Maka seorang penyair harus tahu bagaimana mengolah bahasanya sendiri supaya menjadi sebuah karya puisi yang indah, terlepas dari sifatnya yang lugas atau prismatik, beramanat atau tidak. Dan sebagai pembaca, tentunya kita tidak perlu terintimidasi oleh puisi yang berbunga-bunga dan sulit dipahami, karena kita selalu bisa menilai dan menghargai sebuah puisi dari sisi mana pun yang kita mengerti.

Puisi sedapat mungkin menghindari klise, menjauh dari bahasa yang sudah lecek karena sudah begitu sering dipakai. Itulah hakikat puisi. (hal.135)

Buku ringkas ini sangat berguna bagi siapa pun yang ingin atau perlu mengapresiasi puisi. Pembahasannya relatif mudah dipahami, meski awam terhadap ilmu sastra. Buku ini dapat juga menjadi semacam panduan bagi para penyair pemula yang ingin mengembangkan teknik penulisan puisinya. 4/5 bintang untuk pengayaan ilmu sastra.

Review #15 for Lucky No.15 Reading Challenge category Something New

Scene on Three (82)

SceneOnThree

Happy World Book and Copyright Day! Bulan April ini terasa dipenuhi momen berharga bagi para kutu buku dan, terutama, member BBI ya. Hari ini, saya punya sebuah scene yang berhubungan dengan membaca. Scene ini saya ambil dari buku Trilogi Soekram karya Sapardi Djoko Damono.

“Kram, kamu rupanya tidak pernah baca buku.”
Soekram agak tersinggung mendengar tuduhan itu. Sudah berapa buku tentang perjuangan kaum proletar ia lahap selama ini, masih juga dikatakan tidak pernah baca buku. Ia jelaskan itu kepada Datuk, tetapi si tua itu malah tertawa. Namun, ia tidak boleh merasa sakit hati atau apa. Mungkin juga benar apa yang dikatakan Datuk bahwa ia tidak pernah membaca buku selain yang berkaitan dengan perjuangan kaum proletar. Itu tandanya ia kurang baca, begitu mungkin yang dikatakan Datuk yang tampaknya sudah mengetahui segala yang berkaitan dengan kehidupannya.
(hal.170-171)

Saya tidak ingin menjelaskan siapa yang disebut sebagai Datuk dan buku apa yang dimaksud. Dalam konteks di buku sudah tergambar jelas, tetapi saya tidak ingin membahasnya di sini karena akan mengurangi keseruan bagi yang belum membaca buku ini. Yang menjadi garis bawah saya adalah, bahwa ternyata ada hal-hal yang tidak bisa kita dapatkan dari membaca satu jenis buku saja. Seseorang tak bisa mengklaim diri mereka mengetahui segala sesuatu, betapa pun banyaknya buku yang dia baca, selama bacaannya masih seragam dan seputar itu-itu saja.

Oleh karena itulah, sejak dulu, tantangan baca bareng BBI selalu lintas genre dan bidang, karena dalam setiap genre ada sesuatu yang bisa kita dapatkan yang tidak ada dalam genre yang lain. Begitupun para akademisi akan kehilangan banyak unsur penting kehidupan jika hanya melulu membaca buku teks. Oleh karena itu pula, agak sulit bagi saya untuk membaca dan fokus pada satu genre saja, karena rasa keingintahuan saya masih sangat besar. Nafsu belajar saya masih tinggi, meskipun bukan dari bidang yang saya geluti saat ini.

Pada akhirnya, sebenarnya bukan masalah besar jika seseorang hanya berfokus pada satu genre atau bidang, selama dia sadar apa yang menjadi pilihannya. Sah-sah saja jika Soekram menganggap apa yang belum dia baca, yang memang tak ada hubungannya dengan perjuangan kaum proletar, itu tidak penting dan dia memang tidak perlu membacanya. Itu adalah pilihannya, prioritasnya, dan apa yang dianggapnya bermakna. Yang terpenting adalah, jangan pernah berhenti membaca.

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya dari buku pilihan kalian ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

Pada Suatu Hari Nanti / Malam Wabah – Sapardi Djoko Damono

Malam-Wabah-Pada-Suatu-Hari-NantiJudul : Pada Suatu Hari Nanti
Penulis : Sapardi Djoko Damono (2013)
Penyunting : Ika Yuliana Kurniasih
Perancang sampul & ilustrasi isi : Upiet
Penerbit : Bentang Pustaka
Edisi : Cetakan pertama, Juni 2013
Format : Paperback, x + 94 halaman

Apa gerangan beda antara nasib dan takdir? Kalau kita mengajukan pertanyaan itu kepada Rama dan Rahwana, tentu jawaban mereka berbeda. Apalagi kalau mengajukan pertanyaan tersebut kepada Laksmana atau Sita. Ada nasib buruk, ada nasib baik; tetapi adakah takdir buruk? Kalau jawabannya “tak ada”, maka semua takdir itu baik.
Siapa yang menentukan takdir, dan apa pula ukuran baik dan buruk? Kalau ada tokoh wayang yang ditakdirkan sebagai danawa, apakah itu buruk? Apakah semua kesatria takdirnya baik? Namun, kalau nasibnya buruk, apa tetap saja harus dikatakan bahwa takdirnya baik? …
(Dongeng Rama-Sita, hal.1)

Paragraf pembuka dalam cerita pertama buku ini sepertinya merupakan cara penulis untuk menggiring kita pada kisah yang akan diceritakannya, menurut versinya. Buku ini berisi sembilan buah cerita pendek, kumpulan ini dibuat dari dongeng atau legenda yang sudah lama ada di Indonesia. Bedanya, penulis memutarbalikkan karakter maupun kejadian sedemikian rupa sehingga keseluruhan kisah menjadi baru dan menarik.

Cerita yang paling saya favoritkan adalah yang menjadi judul dalam kumpulan ini, Pada Suatu Hari Nanti, mengisahkan Nawang yang menunggu surat. Yah, ada berapa Nawang dalam dongeng kita? Yang jelas kisah ini unik dan kocak karena sentuhan modernnya, merupakan salah satu cerita paling pendek namun sangat berkesan. Ada pula Dongeng Kancil, mengisahkan bagaimana kancil sudah tak punya mangsa lagi karena hewan-hewan lain sudah mengetahui rencana licik yang akan dilakukannya. Legenda Malin Kundang yang diceritakan penulis pun tak menunggu kalimat pertama untuk menjadi kocak, karena kisah ini diberi judul Sebenar-Benar Dongeng tentang Malin Kundang yang Berjuang Melawan Takdir Agar Luput dari Kutukan Sang Ibu. Epic!

Buku ini bisa saya katakan OVJ dengan rasa sastra. Penuturannya indah, dengan sentuhan humor yang ‘berkelas’. Setiap kisah dalam buku ini sukses membuat saya terkagum-kagum oleh diksi dan kalimatnya yang indah, sekaligus terpingkal-pingkal oleh selera humor penulis, juga sesekali menepuk dahi.

Tanpa ragu, 5/5 bintang untuk komedi sastra terbaik yang pernah saya baca.

Malam-WabahJudul : Malam Wabah
Penulis : Sapardi Djoko Damono (2013)
Penyunting : Ika Yuliana Kurniasih
Perancang sampul & ilustrasi isi : Upiet
Penerbit : Bentang Pustaka
Edisi : Cetakan pertama, Juni 2013
Format : Paperback, vi + 88 halaman

Sebenarnya, meski dicetak menjadi satu, buku ini adalah buku yang berbeda dengan Kumpulan Cerita Pada Suatu Hari Nanti. Buku ini disusun di sebaliknya, sehingga kita bisa membaca dari sisi mana pun kita mau. Kumpulan Cerita Malam Wabah berisi tiga belas cerita yang merupakan karya asli sang penulis.

Kreativitas dan imajinasi sang penulis sangat terlihat di sini. Beberapa kejadian dalam buku ini bisa dikatakan absurd, tragis, tapi nyata. Penulis seolah ‘menelanjangi’ kehidupan dengan cara yang unik. Tidak hanya menceritakan manusia-manusia dari sisi yang jarang disorot oleh kebanyakan orang, salah satu kisah bahkan menggunakan benda mati sebagai narator.

Saya tidak tahu Saudara siapa, tetapi saya sangat mengharapkan agar Saudara-lah yang nanti mengontrak saya. Saya suka kepada Saudara karena Saudara kadang-kadang membaca cerita pendek—oleh karena itu, tentunya melek huruf, sabar, cerdas, berpengetahuan luas, dan intelek, hanya saja tidak mampu membeli rumah. (Rumah-Rumah, hal.4-5)

Selain cerita Rumah-Rumah, salah satu yang paling berkesan untuk saya adalah Bingkisan Lebaran. Bukan karena saya suka ceritanya, namun bagaimana sebuah pesan untuk ‘jangan bergantung pada siapa pun’ bisa diartikan sedemikian luas sekaligus kaku oleh seorang anak. Bagaimana sebuah prinsip dapat menyebabkan masalah, dan bagaimana penyelesaiannya pun tak kalah mencengangkan. Kisah ini bagaikan sebuah paradoks yang menggelitik logika dan emosi saya.

Kumpulan ini sarat akan kritik sosial, dalam berbagai aspeknya. Secara keseluruhan, saya suka sekali dengan tema-tema yang diangkat oleh penulis. Universal dan sangat mengena dengan kondisi negara kita saat ini.

Nah, kita keluar dari jalan protokol sekarang. Tentu kau mencium bau sedap berbagai makanan. Ya, trotoar jalan ini sudah menjadi pasar, Nak. Pejalan kaki harus mengalah, harus berjalan di pinggir jalan agar tidak tertabrak mobil atau motor karena tak ada lagi trotoar. Ada sih, ada, tetapi mereka tak berhak lagi menggunakannya. (Membimbing Anak Buta, hal.80)

4/5 bintang untuk suara-suara yang tak terkatakan, juga suara-suara yang terabaikan.

Review #5 untuk Membaca Sastra Indonesia 2013 (Kontemporer #3)

*Posting bersama BBI Agustus (1) Sastra Indonesia atau buku yang ditulis penulis Indonesia.

Hujan Bulan Juni – Sapardi Djoko Damono

Hujan Bulan JuniJudul : Hujan Bulan Juni
Penulis : Sapardi Djoko Damono
(Kumpulan Puisi Pilihan dari 1964-1994, diterbitkan pertama kali oleh PT Grasindo)

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

(Hujan Bulan Juni, 1989)

Sejujurnya saya bukan penikmat puisi. Dulu, saya suka menulis puisi, tapi itu hanya sebagai wahana pelampiasan. Jika dihadapkan pada sebuah puisi, saya tak tahu bagaimana harus menilainya. Namun, beberapa waktu yang lalu saya sempat mencoba membaca sebuah buku puisi berbahasa Inggris, dan mencoba untuk menikmati serta menilai. Kebetulan, bulan Juni lalu BBI (Blogger Buku Indonesia) membuat sebuah proyek membaca buku puisi Hujan Bulan Juni. Ini salah satu kesempatan untuk belajar ‘membaca’ puisi kembali.

Ternyata, puisi Pak Sapardi ini sangat nikmat. Beliau tak harus menggunakan kata berbunga-bunga untuk membuatnya kuat secara makna. Bahkan beberapa kata singkat saja sudah dapat berbicara banyak. Puisi-puisinya mengambil banyak hal di sekitar kita, kemudian membolak-balikkan situasinya, menjadikannya absurd, unik, lucu, mengajak kita merenung, mengerutkan dahi, atau sekadar tersenyum.

Hujan, yang mengenakan mantel, sepatu panjang, dan
payung, berdiri di samping tiang listrik. Katanya
kepada lampu jalan, “Tutup matamu dan tidurlah. Biar
kujaga malam.”

“Kau hujan memang suka serba kelam serba gaib serba
suara desah; asalmu dari laut, langit, dan bumi;
kembalilah, jangan menggodaku tidur. Aku sahabat
manusia. Ia suka terang.”

(Percakapan Malam Hujan, 1973)

Sebagaimana judulnya, kumpulan puisi ini berisikan sajak-sajak tentang hujan, serta segala metafora yang mungkin melekat padanya; kesedihan, kesepian, penantian, nostalgia, hingga kematian. Tapi tidak, tidak hanya itu, puisi-puisi dapat dimaknai secara luas sekali. Pada dasarnya, menikmati puisi hampir sama dengan menikmati lagu, kita yang memilih kisah kita sendiri, untuk kita maknai sendiri.

Sebenarnya hampir lebih dari setengah isi buku ini menjadi favorit saya, dengan alasannya masing-masing. Mungkin Lirik Untuk Lagu Pop maupun Ketika Jari-Jari Bunga Terbuka tak sepopuler puisi Aku Ingin, tapi memberikan efek romantis yang sama. Dengan menggunakan alam sebagai metafora, saya merasa imajinasi saya termanjakan, menimbulkan gambaran yang damai dari bunga-bunga, angin, dan suara-suara murni yang bisa dibayangkan. Begitu pula puisi Di Beranda Waktu Hujan, yang menggambarkan kesepian dengan begitu manis. Sajak Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari terkesan sederhana, hanya satu bait, tapi membawa pesan kemanusiaan, menyindir egoisme manusia. Malam Itu Kami di Sana ‘hanya’ menggambarkan keadaan sebuah stasiun yang kosong, kemudian mengundang pertanyaan tentang keberadaan. Bahkan ada pula puisi semacam Kami Bertiga yang—sangat saya sekali–beraroma ‘gelap’, mengancam, dan mungkin kemarahan yang terpendam. Juga yang ini:

mata pisau itu tak berkerjap menatapmu;
kau yang baru saja mengasahnya
berpikir: ia tajam untuk mengiris apel
yang tersedia di atas meja
sehabis makan malam;
ia berkilat terbayang olehnya urat lehermu.
(Mata Pisau, 1971)

Rasanya membaca puisi yang sama untuk kedua, ketiga, keempat atau kelima kalinya akan memiliki rasa yang berbeda, terutama jika situasinya berbeda. Kita dapat memaknainya ‘apa adanya’, atau mencari makna di baliknya. 4/5 bintang.

HBJAkhir Juni 2013 lalu, Gramedia Pustaka Utama menerbitkan Hujan Bulan Juni ini dengan cover baru yang sangat cantik. Dan saya jadi ingin memilikinya, adakah peri buku yang mau berbaik hati membaginya? 😀

cermin tak pernah berteriak; ia pun tak pernah
meraung, tersedan, atau terisak,
meski apa pun jadi terbalik di dalamnya;
barangkali ia hanya bisa bertanya:
mengapa kau seperti kehabisan suara?
(Cermin 1, 1980)

Review #3 untuk Membaca Sastra Indonesia 2013 (Kontemporer #1)