Category Archives: Terry Pratchett

Mini Reviews : Children – Young Adult

22608982The Carpet People / Terry Pratchett (author & illustrator) (1971) / Houghton Mifflin Harcourt / First U.S. edition, 2013 / Paperback, 294 pages

Buku ini merupakan karya pertama Pratchett yang diterbitkan. Diawali dari cerita bersambung mingguan yang dikirim ke kalangan tertentu, kemudian dikembangkan menjadi novel, dan diterbitkan. Seiring dengan pendewasaan penulis, maka buku ini mengalami beberapa perbaikan dan penyesuaian, ditambah ilustrasi karya penulis sendiri. Pada edisi ini ada tambahan halaman ilustrasi berwarnanya, serta tambahan versi awal yang terbit setiap pekan. Buku ini berhasil meneguhkan bahwa penulis sangat lihai membangun sebuah dunia yang sama sekali baru, dengan aturannya sendiri, serta begitu solid, sehingga seringkali sulit dibayangkan.

I wrote that in the days when I thought fantasy was all battles and kings. Now I’m inclined to think that the real concerns of fantasy ought to be about not having battles, and doing without kings.

Dunia yang disebut Carpet ini ditinggali oleh suku bangsa yang berbeda-beda, di wilayah yang berbeda pula karakteristiknya. Sehingga seseorang bisa dengan mudah mengetahui bahwa dia sudah masuk ke wilayah bangsa lain ketika dilihatnya warna tanah dan langit berubah, bentuk dan kerapatan pohon (yang disebut sebagai Hair) berbeda. Karakter utama dalam buku ini berasal dari golongan Munrungs, yang harus meninggalkan tanahnya karena diserang oleh sesuatu yang menakutkan, yang saat itu belum bisa mereka identifikasi dengan benar. Dalam perjalanan, mereka masuk ke wilayah lain, bertemu dengan bangsa-bangsa lain, yang kemudian saling bersekutu untuk melawan musuh bersama.

“Nothing has to happen. History isn’t something you live. It is something you make. ….” (p.162)

You don’t have to accept it; you can change what’s going to happen. (p.252)

Suku bangsa yang berbeda ini memiliki sifat dan kebiasaan yang berbeda, yang menjadikan toleransi dan saling melengkapi menjadi salah satu nilai dari buku ini. Buku ini cukup potensial untuk dikupas lebih dalam lagi. Dan dengan humor yang apik di sana-sini, tampaknya tak akan membosankan untuk dikunjungi kembali.

“…. He said we didn’t need a lot of old books, we knew all we needed to know. I was just trying to make the point that a civilization needs books if there’s going to be a reasoned and well-informed exchange of views.” (p.206)

 

288676The Broken Bridge / Philip Pullman (1990) / First Dell Laurel-Leaf edition, September 2001, 7th printing / Mass market paperback, 220 pages

Ginny dilahirkan dari ayah kulit putih dan ibu yang berkulit gelap. Namun, dia hidup hanya dengan ayahnya saja, yang membuatnya semakin merasa terasing akibat perbedaan warna kulit. Ginny senang menggambar dan melukis, bakat yang menurut ayahnya didapatkan dari ibunya. Ginny semakin nyaman dengan ini, karena dia merasa tak asing lagi, karena dia sama dengan ibunya.

Di usia remajanya, Ginny berambisi untuk mencari keluarga dari pihak ibunya. Namun, berbagai hal terjadi silih berganti, mulai dari pekerja sosial yang bolak-balik menanyainya, yang membuka kebenaran yang selama ini tersembunyi. Ginny usia 16 tahun harus menghadapi kenyataan mendadak mengenai hidupnya yang ternyata dipenuhi kebohongan. Perlahan tapi pasti semuanya terkuak, dan semakin dia mencari, semakin dalam dia terjebak dalam kebohongan-kebohongan tersebut. Kemudian, titik terang muncul ketika dia mulai berpikir jernih dan menerima kenyataan, menerima apa adanya.

Cerita tentang pencarian diri, identitas, dan asal mula. Tidak hanya membahas mengenai keluarga, buku ini juga menceritakan gejolak remaja terkait pertemanan, seksualitas, serta isu terkait diskriminasi dan kriminalitas. Semakin masuk ke belakang, kisah terasa semakin dalam dan kuat, hingga sampai ke akhir yang sangat memuaskan. Sebuah kisah keluarga yang begitu pelik dan penuh emosi.

I can see in the dark. I can’t see so well in the daylight, can’t see the obvious thing …. I can understand mysteries. Like the broken bridge. (p.121)

 

Seesaw Girl / Linda Sue Park (1999) / Illustrated by Jean and Mou-sien Tseng / Sandpiper, an imprint of Houghton Mifflin Harcourt / Paperback, 90 pages

7153349Korea di abad ke-17 masih sangat tertutup dari dunia luar. Mereka hidup dengan cara mereka sendiri. Pada masa itu, wanita kelas atas tidak diperbolehkan keluar dari rumah, kecuali saat mereka menikah, kemudian mereka masuk ke rumah keluarga suami mereka, dan tidak diperbolehkan keluar kembali. Hidup mereka di dalam dinding berkisar seputar pekerjaan rumah tangga. Wanita bahkan tidak mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan.

Sebagai perempuan dari keluarga terpandang, Jade Blossom pun harus selalu berada di rumah untuk menjaga kehormatan diri dan keluarganya. Sejak pernikahan Graceful Willow—bibi yang usianya tak terpaut jauh dengannya, Jade merasa kesepian karena tak ada lagi teman perempuan yang sebayanya. Dia pun bertekad untuk mendatangi Willow di rumah suaminya, meski harus melanggar peraturan secara diam-diam. Rencana dijalankan, tetapi banyak hal mengenai dunia luar yang tak diantisipasi oleh Jade. Sekilas pandangan akan dunia luar membuat rasa keingintahuan Jade remaja tergelitik. Dia melakukan apa yang tidak boleh dilakukan, dan melihat apa yang tidak seharusnya dia lihat. Pemandangan itu semakin membuat Jade ingin tahu lebih dalam lagi, sehingga dia belajar dan melakukan hal yang tak wajar dilakukan oleh perempuan di masa itu.

The path to wisdom lies not in certainty, but in trying to understand. (p.66)

Buku ini kecil, tetapi membawa pesan yang sangat kuat. Karakter dalam buku ini tidak digambarkan sebagai tokoh revolusioner yang akan mengubah Korea, tetapi kesan akan adanya perubahan disampaikan melalui cara yang lain. Sebuah kisah sederhana yang terasa jauh dari kita yang sudah terbiasa hidup dalam kebebasan, tetapi begitu dekat karena deskripsi yang kuat dari penulis. Hal yang mengganjal bagi saya adalah nama-nama yang dipilih dalam buku ini bukan nama Korea, entah karena sasaran pembacanya atau apa, tetapi justru membuat suasana Koreanya sedikit terganggu. Apalagi menjadi tidak cocok karena saat itu Korea masih terisolasi dari dunia luar.

 

A Golden Web / Barbara Quick (2010) / Translated to Indonesian by Maria M. Lubis / Penerbit Atria / Cetakan I, Maret 2011 / Paperback, 272 pages

“Aku tidak mau dilupakan.”
“Kau tidak akan dilupakan, Alessandra Giliani!”
(p.260)

10588138Kisah ini terinspirasi dari ahli anatomi pertama yang pernah tinggal di Bologna, sekitar abad ke-14. Pada saat itu, tempat wanita adalah di rumah, saat waktunya tiba, mereka harus siap menjadi istri dan melahirkan anak, atau—pilihan lainnya adalah menjadi biarawati. Tidak ada pilihan untuk belajar maupun bekerja. Alessandra Giliani bisa dikatakan mendobrak aturan sosial pada saat itu. Hingga—mungkin—bukti dan dokumen tentangnya sempat dimusnahkan, dan tersisa sedikit sejarah tentangnya. Dari sedikit yang ada itu, penulis menyusun sebuah fiksi sejarah, dengan sebagian besar kisah keluarganya direka oleh penulis.

Sejak kecil, Alessandra hidup dikelilingi buku-buku, karena ayahnya bekerja menyalin buku-buku untuk dijual kembali (saat itu belum ada percetakan, semua dikerjakan secara manual). Alessandra yang punya rasa ingin tahu besar, ditambah cintanya pada ibunya yang meninggal saat melahirkan adik bungsunya, mulai tertarik pada ilmu manusia. Hal ini membawanya ke Bologna, menyamar menjadi laki-laki demi masuk ke sekolah kedokteran.

Semangat belajar dan tekad Alessandra yang sulit dipatahkan, serta dukungan dari orang-orang di sekitarnya begitu mengharukan. Suasana yang digambarkan penulis memberikan bayangan yang cukup mengenai kondisi sosial masyarakat pada zaman itu. Betapa menjadi perempuan yang cerdas adalah sebuah aib yang harus ditutupi. Dan betapa tidak beruntungnya, saat hidup mereka hanya dinilai sebatas peran sebagai penyetak bayi, tanpa hak untuk mendapatkan kehidupan yang mereka kehendaki, bahkan tanpa jaminan keselamatan dalam ‘tugas’ yang diembannya.

Menurut saya, alurnya agak terlalu lambat di awal dan terlalu cepat di akhir. Justru cerita tentang proses belajarnya lebih menarik untuk diperpanjang, hingga setara dengan latar belakang sosial masyarakat yang sudah digambarkan panjang di awal.

 

18060916Liesl & Po / Lauren Oliver (2011) / Illustrated by  Kei Acedera (2011) / Translated to Indonesian by Prisca Primasari / Penerbit Mizan / Cetakan I, April 2013 / Paperback, 319 pages

Saat sedang ketakutan, orang-orang tak selalu melakukan hal yang benar. Mereka berpaling. Menutup mata. (p.103)

Liesl dikurung di loteng oleh ibu tirinya, berbulan-bulan sejak ayahnya sakit hingga meninggal dunia. Liesl dengan sabar menerima perlakuan itu, meski dalam hati dia sangat merindukan ayahnya, serta pohon willow tempat mereka menguburkan ibunya, dekat tempat tinggal mereka yang dulu. Suatu malam, sesosok hantu bernama Po dengan anjing/kucing hantu bernama Bundle mengunjunginya dari Dunia Lain. Tak ada yang memahami kenapa Po bisa menembus hingga ke tempat Liesl. Dengan imbalan gambar Liesl, Po bersedia membantu gadis itu mencari ayahnya di Dunia Lain, meski normalnya hal tersebut mustahil.

Di sisi lain, ada Will, murid sang alkemis, yang mengagumi Liesl sejak pertama dia melihatnya melalui jendela loteng tempatnya dikurung. Will yang dipaksa bekerja keras oleh sang alkemis tanpa imbalan yang setimpal, melakukan sebuah kesalahan yang membuatnya mendapat masalah besar, dia pun lari sejauh-jauhnya.

Itulah masalah lain orang hidup: Mereka terpisah, selalu terpisah. Mereka tak pernah benar-benar membaur. Mereka tak tahu bagaimana menjadi seseorang selain diri mereka sendiri; kadang mereka bahkan tak tahu bagaimana caranya menjadi diri sendiri. (p.99)

Berbagai kejadian dan rencana secara tak terduga mempertemukan semua karakter dalam buku ini. Karakter baik dan jahat, masing-masing memiliki kisahnya sendiri, yang berhubungan satu sama lain, membentuk jalinan cerita yang bermuara pada cinta—cinta antar anggota keluarga, teman, dunia, dan sesama manusia, juga sesama makhluk hidup. Walau menyimpan banyak kejutan, kisah ini menyimpan banyak sekali kebetulan dan penyelesaian yang mudah, terlalu mudah bahkan. Meski demikian, setiap karakter menampakkan peran yang kuat.

Dan sungguh, inilah inti dari segalanya, karena jika kau tak percaya bahwa hati bisa mengembang secara tiba-tiba, dan cinta bisa merekah layaknya bunga bahkan di tempat yang paling keras, aku takut kau akan mendapati jalan yang panjang, gersang, dan tandus, dan kau akan kesulitan menemukan cahaya. (p.315)

Good Omens – Neil Gaiman & Terry Pratchett

7999784Title : Good Omens : The Nice and Accurate Prophecies of Agnes Nutter, Witch
Author : Neil Gaiman & Terry Pratchett (1990)
Translator : Lulu Wijaya
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : April 2010
Format : Paperback, 520 pages

“Kuberitahukan ini kepada engkau, dan kuperintahkan engkau dengan kata-kataku. Akan ada Empat pengendara kuda, dan Empat juga akan berkuda, dan Tiga akan berkuda dengan langit di antara mereka, dan Satu akan berkuda dalam kobaran api; dan takkan ada yang bisa menghentikan mereka: baik ikan, hujan, tombak, Iblis, maupun Malaikat. Dan engkau pun akan berada di sana, Anathema.” (p.51)

Buku ‘The Nice and Accurate Prophecies of Agnes Nutter, Witch” adalah buku ramalan paling tepat dan akurat, tetapi sayangnya tidak laku dijual pada masanya. Kini, buku tersebut hanya tersisa satu eksempar di tangan Anathema Device, cucu buyut Agnes. Semua yang diramalkan Agnes pasti terjadi, hingga Anathema menjadikannya sebagai buku panduan hidupnya. Catatan dalam buku itu berakhir Sabtu depan, saat terjadinya Kiamat.

Sebelas tahun yang lalu, Aziraphale dan Crowley, dua malaikat yang diturunkan ke bumi, yang masing-masing mewakili Surga dan Neraka, ditugaskan untuk mengawasi bayi Antikristus yang akan menjadi kunci terjadinya Armageddon. Setelah berabad-abad tinggal di bumi, keduanya menjadi sangat betah dan nyaman dengan keadaan dunia ini, di dalam hati, mereka tak menginginkan terjadinya Armageddon. Untuk apa? Pikir mereka, jika sudah dipastikan bahwa Kebaikan yang akan menang, mengapa harus mengorbankan manusia yang tak tahu apa-apa? Aziraphale dan Crowley pun memiliki rencana yang mereka simpan sendiri untuk mengupayakan masa dunia yang lebih panjang. Namun, di luar dugaan, kekacauan terjadi sehingga mereka kehilangan jejak bayi Antikristus yang asli.

Satu-satunya harapan Aziraphale adalah buku ramalan Agnes Nutter, jika dia menemukannya, dia akan tahu prediksi hari Kiamat secara tepat untuk menghentikannya tepat pada waktunya. Sementara itu, Shadwell, seorang Pemburu Penyihir dilibatkan untuk mencari cucu buyut Agnes—yang diduga menyimpan satu-satunya buku yang tersisa. Shadwell sendiri sebelumnya sudah menugaskan muridnya, Newton Pulsifer, ke Tadfield karena fenomena aneh yang terjadi di daerah tersebut. Tak heran, karena di Tadfield ada Anathema, dan Antikristus yang dididik seperti manusia biasa.

Apakah yang akan terjadi jika Antikristus tak dipersiapkan sejak awal untuk hari besar ini? Apakah Aziraphale dan Crowley dapat mengubah sesuatu sebelum waktu yang diramalkan? Apakah mereka bisa lolos dari masalah dengan atasan mereka setelah semuanya berakhir?

Konflik utama dalam buku ini, tentang hari Kiamat, memang sebaiknya tidak dipikirkan secara serius. Karena jika dipikirkan secara serius, pasti banyak terdapat kontradiksi di sana-sini. Yang saya tangkap dari tema yang diangkat Gaiman dan Pratchett ini lebih kepada kritik terhadap umat manusia. Kedua penulis ini tidak mengkritik Tuhan, Malaikat, Iblis, atau makhluk supranatural apa pun, tetapi manusia.

Oh, dia berusaha keras untuk membuat hidup mereka sengsara, karena memang itu tugasnya, tapi kejahatan apa pun yang bisa direncanakannya selalu kalah dengan kejahatan yang bisa direncanakan manusia sendiri. Sepertinya manusia punya bakat khusus untuk menyengsarakan hidup mereka sendiri. (p.54)

Dengan menyoroti dua karakter yang menjadi perwujudan ‘kebaikan’ dan ‘keburukan’ dalam wujud manusia, Aziraphale dan Crowley tampaknya sudah banyak ‘menyerap’ sifat manusia dalam berbagai variasinya. Jika Aziraphale dan Crowley sudah ‘tercetak’ untuk menjadi baik dan buruk, lain halnya dengan manusia yang bisa memilih untuk menjadi baik atau buruk, pun meski keduanya tak memiliki batas yang tegas.

Manusia tidak bisa benar-benar baik, begitu katanya, kalau mereka juga tidak memiliki peluang untuk menjadi benar-benar jahat. (p.55)

Buku ini, menurut saya, memiliki makna filosofi yang agak berat. Dalam kesimpulan akhir pun, kita masih dibuat berpikir tentang sebab-akibat, tentang pilihan, tentang apa yang kita pandang benar dan salah. Seringkali, ego dari dua kelompok untuk menunjukkan keunggulan masing-masing melibatkan orang-orang lain yang tidak bersalah, pun tidak secara langsung peduli terhadap urusan tersebut. Tentang waktu yang relatif, tentang segala sesuatu yang begitu panjang sekaligus begitu singkat. Tentang hidup dan segala misterinya.

Antikristus yang asli, Adam Young, beserta tiga kawannya yang menamakan diri sebagai Mereka, secara tidak langsung juga membawa pesan filosofis yang khas anak-anak. Imajinasi dan ekspektasi anak-anak yang polos adalah kritik terbaik untuk orang dewasa. Orang-orang dewasa yang seringkali melupakan hal-hal sederhana yang bermakna, mungkin tak menyangka bahwa anak-anak yang sering bermasalah seperti Mereka, akan membawa misi yang tak terbayangkan pada hari Sabtu depan.

“Tidak. Kurasa aku mulai mengerti sekarang. Menurutku, hal yang paling bijaksana adalah orang-orang harus tahu bahwa kalau mereka membunuh ikan paus, yang mereka dapat adalah ikan paus mati.” (p.478)

Di luar itu semua, imajinasi para penulis ini patut diacungi jempol. Dengan mengadaptasi karakter-karakter dan kejadian-kejadian dalam kitab suci, mereka menciptakan karakter dan konflik dalam sentuhan manusiawi. Beberapa detail unik seperti iblis yang mengumpat dengan kata-kata pujian, humor dan sarkasme yang khas, serta ketepatan dalam membuat analogi, membuat buku ini sangat bisa dinikmati.

4/5 bintang untuk ramalan Agnes Nutter Sabtu besok.

 

Akhir tahun 2014 lalu, sandiwara radio Good Omens yang diadaptasikan oleh Dirk Maggs disiarkan di BBC4. Terdiri atas 6 episode, masing-masing sekitar 30 menit, kecuali episode 6 yang diperpanjang menjadi 1 jam, sandiwara ini secara mengejutkan merepresentasikan bukunya dengan sangat baik. Adaptasi ini memuat konflik utama, humor dan sarkasme yang penting, serta detail-detail terbaik dalam buku, tanpa terkesan dipanjang-panjangkan ataupun terburu-buru. Bahkan pada salah satu bagian, saya mendapatkan pemahaman yang lebih baik setelah mendengarkan adaptasinya, oleh karena alurnya yang relatif lebih lurus ketimbang di buku. Salah satu bagian yang berkesan adalah pada episode 1 saat Gaiman dan Pratchett menjadi cameo. Selain itu, semua karakter menurut saya berhasil diinterpretasikan dengan baik oleh para pemerannya, termasuk peran anak-anaknya. Suara latarnya juga pas, membangun suasana dengan baik, tanpa mengganggu dialog-dialognya, bahkan saya yang bukan native English speaker.

Review #2 for Lucky No.15 Reading Challenge category Chunky Brick