Category Archives: Wiji Thukul

Scene on Three (132) [7th Anniversary]

Ya, tepat hari ini, tujuh tahun yang lalu, Scene on Three diluncurkan pertama kali. Biarlah blog ini jarang posting, tapi hari spesial seperti ini seharusnya tetap dirayakan. Berhubung belakangan saya tidak banyak membaca buku yang SoT-able, dan masih dalam semangat cinta negeriku yang sedang lucu-lucunya ini, marilah kita kutip salah satu puisi Wiji Thukul.

ucapkan kata-katamu

jika kau tak sanggup lagi bertanya
kau akan ditenggelamkan keputusan-keputusan
jika kautahan kata-katamu
mulutmu tak bisa mengucapkan
apa maumu terampas
kau akan diperlakukan seperti batu
dibuang, dipungut
atau dicabut seperti rumput
atau menganga
diisi apa saja menerima
tak bisa ambil bagian
jika kau tak berani lagi bertanya
kita akan jadi korban keputusan-keputusan
jangan kaupenjarakan ucapanmu
jika kau menghampa pada ketakutan
kita akan memperpanjang barisan perbudakan
(hal.27)

Jika mengikuti media sosialku (terutama Twitter) beberapa bulan belakangan, pasti tahu ada satu isu yang cukup sering dan keras kubicarakan. Isu yang menurutku penting dan patut, bahkan harus kuperjuangkan, sebagai bagian dari sistem besarnya. Yah, mungkin seperti yang disebut dalam puisi ini, saya tidak mau ditenggelamkan keputusan-keputusan, dicabut seperti rumput, dan menghampa pada ketakutan. Kalaupun itu harus terjadi, setidaknya saya sudah ikut dalam perjuangan, meski hanya dengan hal sesepele kata-kata.

Nyanyian Akar Rumput – Wiji Thukul

20870506Judul : Nyanyian Akar Rumput
Penulis : Wiji Thukul
Penyunting : Arman Dhani Bustomi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Edisi : Cetakan keempat, November 2019
Format : Paperback, 243 halaman

nyanyian akar rumput

jalan raya dilebarkan
kami terusir
mendirikan kampung
digusur
kami pindah-pindah
menempel di tembok-tembok
dicabut
terbuang
kami rumput
butuh tanah
dengar!
ayo gabung ke kami
biar jadi mimpi buruk presiden!
(hal.25)

Puisi yang dijadikan judul untuk kumpulan puisi ini rasanya cocok menggambarkan keseluruhan buku ini. Tentang suara-suara akar rumput yang tersingkirkan di negerinya sendiri, kemiskinan, kapitalisme, kritik terhadap penguasa, perlawanan, keberanian, dan tentang hidup itu sendiri. Bahasa yang digunakan lugas, terus terang, dan yang paling penting, menyentuh langsung permasalahan yang ada.

Membaca buku ini, di masa sekarang, 22 tahun setelah tumbangnya penguasa yang dikritik habis-habisan dalam buku ini, rasanya masih sangat relevan. Terlebih orang-orang yang ada di atas saat ini tak jauh-jauh dari orang-orang yang berpengaruh di zaman itu.

tong potong roti

tong potong roti
roti campur mentega
belanda sudah pergi
kini datang gantinya

tong potong roti
roti campur mentega
belanda sudah pergi
bagi-bagi tanahnya

tong potong roti
roti campur mentega
belanda sudah pergi
siapa beli gunungnya

tong potong roti
roti campur mentega
belanda sudah pergi
kini indonesia

tong potong roti
roti campur mentega
belanda sudah pergi
kini siapa yang punya
(hal.58)

Agak menyedihkan juga bahwa setelah beberapa dekade, beberapa kali berganti presiden, beberapa kali merevisi undang-undang, kita masih berkutat pada masalah yang sama. Saya tak akan mengatakan sejarah berulang, karena kenyataannya banyak hal bukannya berulang, tetapi memang belum berubah sejak dulu.

biarkanlah jiwamu berlibur, hei penyair


bahasa kita adalah bahasa indonesia benar
bukan bahasa yang gampang dibolak-balik artinya oleh penguasa
bbm adalah singkatan dari bahan bakar minyak
bukan bolak-balik mencekik
maka berbicara tentang nasib rakyat
tidak sama dengan pki atau malah dicap anti-pancasila
itu namanya manipulasi bahasa
kita harus berbahasa indonesia yang baik dan benar
kata siapa kepada siapa.
(hal.87-89)

Namun, tak semua tema puisinya seragam, ada juga puisi yang berbicara tentang alam, cinta, baik yang tampak seperti apa adanya, ataupun yang sebagai kiasan. Karena memang buku ini adalah kumpulan dari puisi-puisi yang ditulis dari berbagai masa dan situasi, maka tentu akan tampak nuansa yang berbeda-beda.

ada pelangi di langit sore

ada pelangi di langit sore
seusai siang badai
ada damai menjelang senja
lalu malam
selamat tidur…
sampai jumpa esok pagi
badai nanti lagi
seperti biasa
(hal.116)

Di antara kesemua tema puisi di buku ini, yang paling menyentuh hati adalah puisi-puisi yang dipersembahkan untuk anak dan istrinya, puisi-puisi yang ditulis pada masa pelarian. Puisi-puisi tersebut tampak seperti surat cinta dan surat perpisahan, yang tak mengizinkan kata putus asa dan kesedihan menetap di sana.

catatan

kalau kelak anak-anak bertanya mengapa
dan aku jarang pulang
katakan
ayahmu tak ingin jadi pahlawan
tapi dipaksa jadi penjahat
oleh penguasa
yang sewenang-wenang

kalau mereka bertanya
“apa yang dicari”
jawab dan katakan
dia pergi untuk merampok
haknya
yang dirampas dan dicuri
(hal.164-165)

Rasanya buku ini sangat penting untuk dibaca oleh semua orang. Yang senasib akan merasa tidak sendirian dalam perlawanan, yang lebih beruntung akan merasakan empati terhadap sesamanya. Jika hati nurani masih ada. Lalu bersama-sama melawan, apa pun bentuknya, sesederhana apa pun.

sajak

sajakku
adalah kebisuan
yang sudah kuhancurkan
sehingga aku bisa mengucapkan
dan engkau mendengarkan

sajakku melawan kebisuan
(hal.210)

Rasanya banyak sekali puisi yang ingin saya kutip di sini, karena kutipan-kutipan itu akan jauh lebih bisa berbicara ketimbang review yang saya buat ini. Akan tetapi daripada begitu, lebih baik kalian beli/pinjam dan baca sendiri saja bukunya. Sebagai penutup, ada sebuah puisi pendek yang tajam sekali.

busuk

derita sudah matang, bung
bahkan busuk
tetap ditelan?
(hal.163)