Category Archives: William Shakespeare

#Shakespeare400 : Some About The Bard

william_shakespeare_1609

Hari ini, 23 April 2016 menandai 400 tahun kematian seorang penulis drama, puisi, dan aktor ternama, William Shakespeare. Karena dunia merayakan Shakespeare Week secara besar-besaran, maka saya, sebagai pembaca Shakespeare, rasanya kurang afdol kalau tidak membuat sesuatu. Biasanya, saya akan membuat satu review saja, tapi berhubung saya belum sempat membaca salah satu karyanya lagi, maka saya akan membuat post tentang beberapa fakta mengenai beliau. Sebenarnya, saya belum banyak membaca tentang Bard, pun karyanya yang saya baca baru beberapa saja. Saat membaca plays-nya, saya kebanyakan tidak terlalu memperhatikan detail karena gaya bahasanya yang cukup sulit untuk masa ini. Namun, saya selalu diliputi oleh rasa penasaran tentang penulis yang satu ini, karena satu dan lain hal, dan saya sudah ‘kepo’ dengan karya-karyanya di post ini.

Empat hal tentang Shakespeare yang mungkin sudah banyak yang tahu:

  1. Shakespeare ‘menciptakan’ ribuan kata dan ungkapan bahasa Inggris

Banyak sekali kata dan ungkapan bahasa Inggris yang pertama kali terlacak dari karya Shakespeare. Dia seringkali membendakan kata kerja dan membuat kata kerja dari kata benda, juga menyusun banyak ungkapan yang populer hingga hari ini. Beberapa di antaranya mungkin terjemahan dari bahasa asing lain, atau mungkin digunakan dalam bahasa lisan, atau kata-kata yang biasa dipergunakan dengan cara yang berbeda.

Kata-kata seperti accused, addiction, gossip, bedroom adalah beberapa di antara kata yang diciptakannya (source), sedangkan ungkapan full circle, heart of gold, love is blind, bahkan lelucon klasik Knock knock! Who’s there? dipopulerkan pertama kali olehnya (source). Belum termasuk karya-karya modern maupun klasik yang sengaja menggunakan referensi dari Bard.

2. First Folio yang asli belum mengalami penyuntingan

Sesulit-sulitnya membaca karya Shakespeare hari ini, masih jauh lebih sulit membaca First Folio yang asli. Dalam cetakan yang lebih modern, karya Shakespeare disunting dan diinterpretasikan oleh beberapa editor, meski gaya bahasa dan pilihan katanya tetap dipertahankan. Penyuntingan diperlukan untuk kesalahan ketik (typo), huruf kapital yang tidak pada tempatnya, juga tanda baca yang tidak sesuai (mungkin karena awalnya dibuat untuk kebutuhan pentas). (source)

Satu fakta yang menarik, tapi tidak spesifik untuk Shakespeare, adalah fakta bahwa pada masa itu (Medieval/Elizabethan) huruf u dan v dianggap sama. Jadi saat dicetak pun, kedua huruf tersebut dapat saling menggantikan. Setting mesin cetak saat itu adalah melengkung untuk huruf kecil, dan lancip untuk huruf kapital. Jadi ‘have’ akan tercetak menjadi ‘haue’ dan ‘Upon’ tercetak menjadi ‘Vpon’. (source here and there)

3. Kalimat termasyhur yang kerap dikutip

Saya bukan peneliti ataupun orang yang sangat mendalami karya-karya Shakespeare, jadi saya tidak dalam posisi menganalisis kalimat-kalimat dalam karyanya. Namun ada satu hal yang seringkali menggelitik saya jika melihat orang mengutip kalimat ‘Apalah arti sebuah nama’, dan memprotes bahwa, tentu saja nama itu penting (beberapa kali saya temukan orang Indonesia yang memprotes, kalau orang Barat sepertinya tidak, karena beda budaya dan pendidikan [mereka belajar Shakespeare di sekolah]). Karena nama adalah doa, jadi kita harus membuat nama yang terbaik. Namun, Juliet sedang berbicara tentang hal yang berbeda. Ini kutipan aslinya:

‘Tis but thy name that is my enemy.
Thou art thyself, though not a Montague.
What’s Montague? It is nor hand, nor foot,
Nor arm, nor face, nor any other part
Belonging to a man. O, be some other name!

What’s in a name? that which we call a rose
By any other name would smell as sweet;
So Romeo would, were he not Romeo call’d,
Retain that dear perfection which he owes
Without that title. Romeo, doff thy name,
And for that name which is no part of thee
Take all myself.
(Romeo and Juliet, Act II Scene II)

Romeo menjadi terlarang bagi Juliet karena dia menyandang nama Montague, musuh keluarganya, jadi dia meminta Romeo untuk melepaskan namanya dan dengan nama yang baru pun, Romeo tetaplah sempurna bagi Juliet, layaknya mawar yang tetap harum meskipun disebut dengan nama lain. Jadi bukan masalah mempersoalkan arti kata sebuah nama, tetapi lebih kepada konsekuensi yang akan disandang oleh sebuah nama. Hal ini juga bisa dianggap menyentil beberapa orang yang begitu bangga dengan nama keluarganya, padahal jika dirinya tidak memiliki kualitas yang disandang oleh nama itu, maka tetaplah dia tidak berhak membanggakan dirinya.

Ada sebuah lagu lawas yang kemungkinan besar juga menggunakan kalimat Shakespeare, yaitu “All the world’s a stage” dari As You Like It. Ada yang ingat lirik “dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah, ….”?

4. Beberapa kontroversi

Banyak hal yang tidak tercatat mengenai kehidupan pribadi Bard, seperti tanggal kelahirannya dan detail tentang masa remajanya. Beberapa analisis mengatakan bahwa tanggal lahirnya sama dengan tanggal kematiannya, yaitu 23 April, jadi bisa dikatakan hari ini 452 tahun yang lalu adalah hari lahirnya (happy birthday!). Bahkan ejaan namanya yang asli masih dipertanyakan (kemungkinan bukan yang kita pakai sekarang), tanda tangan yang ditemukan ada beberapa versi. Dengan reputasinya, agak mengejutkan bahwa ternyata kebanyakan keluarga Shakespeare buta huruf (termasuk orang tua, istri dan anaknya). Anak-anaknya meninggal tanpa memiliki keturunan, hingga bisa dikatakan bahwa hari ini tidak ada lagi keturunan langsung Shakespeare. Karya-karyanya sendiri juga menuai kontroversi karena beberapa ahli menganggapnya tidak original.

320px-shakespearemonument_cropped

Shakespeare’s funerary monument in Stratford-upon-Avon

Itulah sedikit mengenai Shakespeare, yang meski sudah meninggal 400 tahun yang lalu, tetapi tetap hidup hingga hari ini berkat karya-karyanya. Bagi yang penasaran dengan tulisan asli Shakespeare tetapi terintimidasi dengan bahasanya, bisa membacanya secara online di No Fear Shakespeare. Saya juga sering menjadikannya referensi jika merasa perlu memastikan sesuatu. Di website itu, kalimat asli disusun paralel dengan kalimat modernnya, jadi nyaman sekali untuk belajar ataupun sekadar membaca untuk hiburan.

Advertisements

Scene on Three (73)

SceneOnThree

True, I talk of dreams,
Which are the children of an idle brain,
Begot of nothing but vain fantasy,
Which is as thin of substance as the air
And more inconstant than the wind, who wooes
Even now the frozen bosom of the north,
And, being anger’d, puffs away from thence,
Turning his face to the dew-dropping south.
(Mercutio, Act I Scene IV)

Scene pertama di bulan Februari ini saya ambil dari Romeo and Juliet by William Shakespeare. Scene ini saya tampilkan bukan karena setuju, melainkan sebaliknya, merupakan pendapat umum orang-orang di sekitar kita yang kadang tidak benar juga.

Mimpi yang dibicarakan Mercutio di sini adalah mimpi dalam tidur. Dia mengkritisi Romeo yang mengatakan bahwa malam sebelumnya dia bermimpi buruk tentang apa yang akan mereka lakukan; menyelinap di pesta keluarga Capulet. Mercutio menganggap bahwa mimpi itu tak berarti apa-apa.

Menurut saya, mimpi tidur, justru ada apa-apanya. Mimpi bisa berasal dari hasrat terdalam kita, pikiran yang tak kita sadari, atau, lebih hebat lagi, sebuah firasat atau ilham. Saya selalu merenungkan beberapa mimpi absurd yang saya alami, meski sebagian besar akan terlupakan kemudian. Saya percaya bahwa pasti ada sesuatu, pasti ada apa-apanya dalam sebuah mimpi, hanya kita saja yang tidak selalu tahu, atau baru mengetahuinya kemudian. Sama seperti Romeo yang baru akan mengetahui arti dari mimpinya di akhir, setelah dia bertemu Juliet dan berada di ambang akhir yang tragis. Dan saat itu pun, Romeo mungkin sudah lupa pernah memimpikannya.

Apa scene pilihanmu hari ini?

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya dari buku pilihan kalian ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

King Richard III – William Shakespeare

18416265Title : King Richard III
Author : William Shakespeare (1593)
Publisher : Project Gutenberg
Edition : November, 1997 [Etext #1103]
Format : ebook

When clouds are seen, wise men put on their cloaks;
When great leaves fall, then winter is at hand;
When the sun sets, who doth not look for night?
Untimely storms make men expect a dearth.
All may be well; but, if God sort it so,
‘Tis more than we deserve or I expect.
(Act II, Scene 3)

Drama Shakespeare ini termasuk dalam kategori sejarah. Nama-nama dan kejadiannya memang berdasarkan sejarah, tetapi sejarah bergantung dari mana kita memandangnya. Jadi kisah King Richard III ini dapat saya katakan merupakan sejarah yang terekam pada masa drama ini ditulis.

Di permulaan drama ini, Richard adalah Duke of Gloucester. Inggris berada di bawah kekuasaan Edward IV—yang adalah kakak Richard—dari House of York. Pada masa itu, Inggris terbagi dua, York dan Lancaster. Oleh karena tidak puas dengan keadaan, Richard berambisi untuk menjadi raja. Ambisinya itu diwujudkan dengan cara-cara yang frontal dan nekat. Dia tak ragu-ragu menjebak dan membunuh orang-orang yang dianggapnya sebagai penghalang memperoleh mahkota kerajaan. Orang-orang terdekatnya, keluarga, teman, dan orang kepercayaannya pun tak luput dari kekejamannya.

Anehnya, segala kebencian yang muncul terhadap Richard atas kekejamannya tersebut pada suatu kali dapat berubah. Seperti saat dia melamar Lady Anne, yang suaminya terbunuh oleh tangannya, meski Anne jelas-jelas menolak dan sangat membencinya, pada akhirnya mulut manis Richard berhasil menjadikan Lady Anne sebagai istrinya. Kharisma Richard juga membuat beberapa orang loyal kepadanya, meski harus mengeksekusi orang-orang yang dianggap berkhianat terhadap raja mereka.

Dalam drama ini, kekejaman dan tirani Richard sangat dominan digambarkan. Namun, apakah yang menyebabkannya menjadi seorang raja berdarah dingin dan bertangan besi? Pada awal drama ini, monolog Richard menceritakan keadaannya, yang mungkin membentuk karakternya menjadi seperti yang diceritakan. Penampilannya yang tidak menarik, kelainan bentuk tubuh, dan kelemahannya mungkin pada mulanya menimbulkan rasa minder, tetapi tampaknya lambat laun menimbulkan suatu ambisi untuk menutupi kekurangan tersebut.

But I-that am not shap’d for sportive tricks,
Nor made to court an amorous looking-glass-
I-that am rudely stamp’d, and want love’s majesty
To strut before a wanton ambling nymph-
I-that am curtail’d of this fair proportion,
Cheated of feature by dissembling nature,
Deform’d, unfinish’d, sent before my time
Into this breathing world scarce half made up,
And that so lamely and unfashionable
(Act I, Scene 1)

Bahkan ibunya sendiri, Duchess of York, juga mengakui bahwa sejak kecil, Richard selalu bermasalah. Apakah ada diskriminasi yang diterima Richard saat kecil? Atau mungkin dia kekurangan perhatian yang semestinya atau diharapkannya didapat? Tampaknya menarik jika ada catatan sejarah yang menganalisis masa kecil Richard III ini.

Thou cam’st on earth to make the earth my hell.
A grievous burden was thy birth to me;
Tetchy and wayward was thy infancy;
Thy school-days frightful, desp’rate, wild, and furious;
Thy prime of manhood daring, bold, and venturous;
Thy age confirm’d, proud, subtle, sly, and bloody,
More mild, but yet more harmful-kind in hatred.
(Act IV, Scene 4)

Late 16th century portrait, housed in the National Portrait Gallery, London.

Seperti sudah saya singgung di atas, ada sisi positif Richard III yang tersirat drama ini, sisi yang menyebabkannya memiliki pengikut yang setia. Namun sayangnya, menurut saya, porsinya tak sebesar sisi negatifnya sebagai seorang raja bertangan besi. Meski begitu, pada beberapa bagian dapat terlihat bagaimana kekuatan kata-kata Richard untuk mempengaruhi orang lain.

Drama ini merupakan salah satu drama Shakespeare yang memiliki konflik yang sangat intens. Fokus utamanya tetap pada Richard dan bagaimana dia mencapai dan mempertahankan kekuasaannya, kemudian bagaimana orang-orang di sekitarnya—kawan, lawan, dan rakyat—memandangnya, menilainya dan menghakiminya. Act V scene 3 adalah salah satu scene favorit saya, karena pada scene tersebut kita ditunjukkan dua kubu yang akan berperang, Richard (mewakili York), dan Richmond (mewakili Lancaster). Di scene tersebut, saya bayangkan lampu-lampu panggung yang bergantian menyorot masing-masing kubu, karena meski dalam satu scene, tempat kejadiannya jauh dan keduanya belum saling bertemu.

4/5 bintang, God save the Queen.

Bad is the world; and all will come to nought,
When such ill dealing must be seen in thought.
(Act III, Scene 6)

November #2 : Angka dalam Judul Buku

 

Romeo and Juliet – William Shakespeare

Romeo & JulietTitle : Romeo and Juliet
Author : William Shakespeare (1597)
Publisher : FeedBooks
Format : ebook

Love is a smoke raised with the fume of sighs;
Being purged, a fire sparkling in lovers’ eyes;
Being vex’d a sea nourish’d with lovers’ tears:
(Romeo, Act I Scene I)

Permusuhan keluarga Montague dan Capulet sudah mendarah daging. Maka ketika Romeo Montague yang baru saja patah hati disarankan untuk datang ke pesta keluarga Capulet, bisa dipastikan akan ada masalah. Sepupunya yang beranggapan bahwa Romeo bisa menemukan wanita baru di sana tidak menyangka bahwa yang mencuri hati Romeo adalah wanita yang terlarang untuknya, Juliet Capulet.

Romeo dan Juliet pun segera memutuskan untuk menikah secara diam-diam, demi kesucian cinta mereka. Namun belum sehari-semalam berlalu, Romeo terlibat masalah pembunuhan dan dendam nyawa Montague-Capulet. Dia akan diadili, dan terancam mendapatkan hukuman pengasingan. Seolah tak cukup masalah, perjodohan Juliet dipercepat, padahal dia sudah menikah dengan musuh keluarganya.

Saya rasa hampir semua sudah mengetahui plot kisah ini, juga bagaimana akhirnya. Namun mungkin tidak semuanya membaca dari versi asli yang ditulis oleh Shakespeare. Saya tidak memperhatikan variasi kisah pada berbagai adaptasi, yang jelas dalam versi Shakespeare, saya menangkap keindahan dalam tutur Romeo yang sangat kentara. Hal yang tak bisa kita lihat sepenuhnya dalam versi adaptasi.

Tak bisa dipungkiri, dalam drama Shakespeare pasti ada lubang di sana-sini, mungkin karena formatnya yang mengharuskan kisah kehidupan yang panjang agar selesai ditampilkan dalam beberapa jam. Semacam cinta instan antara Romeo dan Juliet, pun pernikahan mereka. Namun saya tidak merasa terlalu terganggu dengan itu.

ROMEO O, teach me how I should forget to think.
BENVOLIO By giving liberty unto thine eyes; Examine other beauties.
(Act I Scene I)

So soon forsaken? young men’s love then lies
Not truly in their hearts, but in their eyes.
(Friar Laurence, Act II Scene III)

Di balik itu semua, drama ini memang menekankan pada cinta yang terbentur oleh latar belakang keluarga. Bahwa permusuhan yang dibawa secara turun-temurun atas nama kehormatan keluarga, hingga bahkan sudah tak jelas asal-mulanya, hanya membawa penderitaan bagi anak-keturunannya. Kekuatan cinta yang akan melakukan apa saja, bijak atau bodoh, yang rela mengorbankan segala hal, termasuk nama dan masa lalu. Sebagaimana kata-kata Juliet yang termasyhur:

What’s in a name? that which we call a rose
By any other name would smell as sweet;
So Romeo would, were he not Romeo call’d,
Retain that dear perfection which he owes
Without that title. Romeo, doff thy name,
And for that name which is no part of thee
Take all myself.
(Juliet, Act II Scene II)

Selain itu, hal terpenting adalah jangan bertindak gegabah. Mungkin benar bahwa cinta itu buta, membutakan mata dan pikiran, karena terkadang tragedi itu terjadi karena kesalahpahaman, karena informasi yang terlambat diperoleh, karena tindakan terburu-buru yang dilakukan atas nama cinta.

4/5 bintang untuk tragedi cinta (yang tidak perlu).

Come, gentle night, come, loving, black-brow’d night,
Give me my Romeo; and, when he shall die,
Take him and cut him out in little stars,
And he will make the face of heaven so fine
That all the world will be in love with night
And pay no worship to the garish sun.
(Juliet, Act III Scene II)

Review #19 of Classics Club Project

Scene on Three (18)

SceneOnThree

Queen. O Hamlet, thou hast cleft my heart in twain.
Ham. O, throw away the worser part of it, And live the purer with the other half.
(Act III Scene IV)

Dalam kisah Hamlet karya William Shakespeare ini, hubungan antara Hamlet dan ibunya memang kurang baik karena Hamlet tidak menyukai keputusan ibunya menikahi pamannya, pasca meninggalnya ayahnya. Menurut Hamlet, tindakan ibunya tersebut bagai pengkhianatan terhadap mendiang ayahnya, apalagi pamannya–yang saat ini menjadi Raja–diduga sebagai pembunuh ayahnya.

Hamlet masih menyayangi dan menghormati ibunya, namun demi mendiang ayahnya, dia harus berkonfrontasi dengan kedudukan ibunya sebagai Ratu yang sekarang. Kalimat Hamlet di atas ‘membuang separuh hati yang busuk dan hidup dengan setengah hati yang suci’ agak terdengar sarkastik, namun di balik itu tersimpan kepedulian Hamlet terhadap ibundanya.

Mari berbagi scene yang menarik.

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya dari buku pilihan kalian ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).