Category Archives: Yudhi Herwibowo

Mini Reviews: Indonesian Plays

Buku yang dibicarakan:

Orkes Madun karya Arifin C. Noer (1999)
Pustaka Firdaus, Cetakan Pertama, Maret 2000, 436 halaman

Topeng Kayu karya Kuntowijoyo
Yayasan Bentang Budaya, Cetakan Pertama, Maret 2001, 258 halaman

Hakim Sarmin Presiden Kita karya Agus Noor
Basabasi, Cetakan Pertama, Maret 2017, 260 halaman

Laki-Laki Bersayap Patah karya Yudhi Herwibowo
BukuKatta, Cetakan Pertama, September 2017, 140 halaman

Ada masanya saya pertama kali membaca karya-karya Shakespeare, naskah drama Oscar Wilde, dan beberapa penulis Eropa yang lain. Dari situ saya memiliki gambaran mengenai play (naskah drama) dari beberapa masa dan gaya. Namun, sebagai orang Indonesia, tentunya tak lengkap jika saya tidak mencicip juga naskah drama karya penulis lokal. Oleh karenanya sejak beberapa tahun lalu, saya pelan-pelan mencari dan membaca naskah drama lokal yang sekiranya bisa memperkaya pengalaman membaca karya jenis ini.

Pada dasarnya, sebuah naskah drama ditulis untuk dipentaskan. Jadi, ketika membaca tulisan-tulisan tersebut, saya memainkan peran-peran di kepala saya. Persamaan dari jenis karya ini, termasuk karya penulis luar negeri, adalah ketiadaan bangunan latar belakang dan karakter yang utuh. Tentunya tidak semua, seperti Vera (Oscar Wilde) yang saya yang rasa cukup kuat karakternya, atau An Ideal Husband yang memiliki konflik yang utuh dan kompleks, ataupun A Doll’s House (Henrik Ibsen) yang menggambarkan setting tempat yang cukup familiar. Namun, tetap kita tidak bisa membandingkannya dengan novel yang memiliki unsur-unsur jelas.

Keempat judul yang saya sebutkan di atas memiliki gaya penulisan dan titik berat yang berbeda, persamaannya adalah, jangan membacanya secara serius, tidak perlu mencari-cari makna di setiap kalimat yang tertulis (atau terucap). Karena seperti yang disebutkan Kuntowijoyo dalam pengantarnya:

Demikianlah jangan mencoba mencari makna satu per satu dalam drama ini nanti Anda bisa tersesat, tapi cari pesannya. Anggap saja kata-kata itu hanya celoteh yang boleh bermakna boleh tidak. Sebab, seperti kredo puisi Sutardji Calzoum Bachri, kata-kata telah bebas dari makna. Tapi, ada bedanya. Puisi Sutardji Calzoum Bachri memakai mantra sebagai model; jadi yang perlu bukan kata tapi bunyi. Mantra adalah sihir bunyi. Akan tetapi, drama ini lebih dari itu; modelnya ialah dolanan bocah. Dalam dolanan bocah, kata, kalimat, dan bahkan bait semuanya kehilangan makna. Bunyi juga tidak diperlukan. (Topeng Kayu, hal.vi)

Meski begitu, ketiga buku yang lain tidak sekental Kuntowijoyo membangun ‘sihir suasana’ seperti dolanan bocah yang diistilahkannya. Orkes Madun sesekali membangun suasana dengan permainan kata tersebut, tetapi dialog antar karakter yang membangun sebuah konflik jauh lebih banyak. Sedangkan Agus Noor lebih mudah ditangkap karena hampir setiap dialognya memiliki makna. Berbeda lagi dengan Yudhi Herwibowo yang banyak menampilkan monolog karakternya, sehingga rasanya kalimat-kalimat di sini menjadi lebih penting dari sekadar pembangun suasana.

Saya tak hendak mengunggulkan karya yang satu dengan yang lainnya, karena memang bukan ahlinya. Namun, dari kacamata sebagai pembaca, saya lebih mudah menikmati Hakim Sarmin Presiden Kita. Buku ini sebenarnya terdiri dari dua buah drama, yaitu Hakim Sarmin dan Presiden Kita Tercinta. Keduanya bisa berdiri sendiri meski sebagian karakternya sama, dan kisahnya berhubungan. Drama ini mengangkat tema mengenai intrik politik, kekuasaan, dan penegakan hukum. Suasana yang digambarkan adalah situasi terkini, penuh dengan sindiran serta referensi politik dan sejarah, dan tentu saja humor yang jamak menjadi bungkus yang relatif aman bagi kritikan terhadap penguasa, sekaligus menghibur pembaca (atau penonton).

Sebab hakim yang gila hanya mungkin dilahirkan oleh masyarakat yang gila. Hukum itu cermin masyarakat, kalau hakimnya gila, pasti masyarakatnya lebih gila. (Hakim Sarmin, hal.52)

Kita memang hidup di zaman yang telah dipenuhi kegilaan. Keadilan dan kegilaan sulit dibedakan. (Hakim Sarmin, hal.122)

Revolusi selalu dimulai oleh mereka yang gila… (Hakim Sarmin, hal.128)

Hakim Sarmin sendiri menitikberatkan pada pergerakan revolusi hukum dan kekuasaan, dengan plot twist yang bertebaran di mana-mana. Sedangkan Presiden Kita Tercinta menceritakan tirani dan kudeta dari sudut pandang pemilik kekuasaan. Dari bayangan saya, untuk mementaskan lakon ini cukup mudah, karena disertai panduan dari penulisnya sendiri, dan propertinya tidak terlalu rumit. Namun, oleh karena situasinya sangat terkini, dengan bahasa dan istilah kekinian tersebar dalam kalimat-kalimatnya, rasanya jika suatu saat buku ini menjadi klasik, akan memerlukan catatan kaki untuk menjelaskan kata dan istilah tersebut.

Menawi Diparani,
….

Demokrasi hanyalah jalan. Dan kita tahu, banyak jalan menuju Roma.
Paringan,
Jangan lupa pake Wise atau GPS… biar tak tersesat…

Pak Kunjaran,
Setuju!

(Hakim Sarmin, hal.117-118)

Orkes Madun dimaksudkan menjadi sebuah pentalogi, tapi lakon kelima, Magma, belum sempat ditulis. Namun, karena penulis sudah bercerita ke mana-mana mengenai Magma, anak-anak Sekolah Perancis di Jakarta yang juga mendengar kisahnya membuatnya menjadi komik dan dimuat dalam buku ini. Keempat lakon yang telah ditulis dan dipentaskan di Teater Kecil berturut-turut; I. Madekur dan Tarkeni, IIa. Umang-Umang, IIb. Sandek, Pemuda Pekerja, dan IV. Ozone.

Tema yang diusung dalam keempat lakon ini cukup luas, dan ada keterkaitan satu sama lain. Tentang kemiskinan, kekuasaan, gender, nafsu manusia, yang disampaikan seolah tanpa beban. Bahkan ada beberapa detail sains yang sangat relevan meski disebutkan sambil lalu. Banyak di antara kalimat-kalimat karakternya yang spontan dan acuh, terselip sindiran, kebijaksanaan, maupun celetukan yang cukup filosofis.

…kapitalis tetap akan memegang tampuk pemerintahan di mana-mana. Barangkali dan bukan tidak mungkin kapitalis akan meminjam nama lain, bahkan bukan mustahil ia akan tampil sebagai seorang komunis atau seorang sosialis. (Sandek, hal.254)

BOROK                 : Hukuman apa yang paling hebat di dunia selain hukuman mati? Saya rela dipancung. Saya sudi ditembak berkali-kali. Saya mau dicincang-cincang lalu dicampur dengan adonan semen. Saya mau mati.
RANGGONG      : Justru sebaliknya. Hukuman yang paling berat ternyata adalah menanggung kehidupan dan hidup lebih dari kemampuan kita. Hukuman hidup!
(Ozone, hal.321)

Laki-Laki Bersayap Patah juga merupakan kumpulan drama, yaitu Aku, Aku; Laki-Laki Bersayap Patah; Terkutuk; dan Pendekar Sesat, Pendekar Ular. Jika dibandingkan dengan drama lain yang disebutkan di sini, dialog serta konflik dalam buku ini lebih ‘serius’. Hampir setiap kalimatnya bermakna, tidak didominasi dengan kata-kata ‘sihir suasana’. Drama yang diangkat lebih menitikberatkan pada konfliknya, sehingga plot yang disuguhkan menyimpan kejutan penyelesaian di akhirnya yang menanti memberi kejutan. Temanya pun menarik, yang cukup terasa adalah konflik psikologis dan drama keluarga yang cukup gelap.

Ada aroma surealisme yang kental dalam drama-drama di buku ini, yang membuat saya seolah membaca cerpen. Ternyata memang ada lakon yang diubah bentuk dari cerpen penulisnya sendiri. Dengan membaca dalam bentuk drama (atau menontonnya), rasanya mungkin akan lebih mudah dibayangkan. Begitu pula karakternya, masing-masing memiliki pembeda yang menonjol, sehingga akan lebih membutuhkan pendalaman bagi para pemeran untuk menampilkannya. Apalagi di sini banyak sekali monolog, baik itu percakapan batin, maupun penjelasan situasi yang disampaikan secara panjang lebar. Di satu sisi kita mengetahui lebih dalam mengenai konflik dan karakternya, tetapi di sisi lain monolog ini semacam kurang memaksimalkan interaksi antar karakter yang seharusnya membangun sebuah drama.

Dalam Topeng Kayu, Kuntowijoyo hendak mengkritisi kekuasaan, semua kekuasaan selain kekuasaan Tuhan (hal ini disampaikannya dalam pengantar). Rasanya memang pengantar ini menjadi sangat penting bagi pembaca awam seperti saya, yang hanya bisa menangkap sedikit-sedikit dari sihir suasana yang dibangun begitu kokoh.

Tanpa impian kenyataan tak terasa. Tanpa larangan kebolehan tak terasa. Tanpa ikatan kemerdekaan tak terasa. Tanpa kejahatan kebaikan tak terasa. Tanpa hitam putih tak terasa. Ternyata kita tersesat! (Topeng Kayu, hal.120)

Wah, itulah kesalahan umum. Disangka segalanya berhubungan. Tidak selalu harus. Perbuatan tidak selalu harus berhubungan dengan hasilnya. Pohon tidak selalu berhubungan dengan buahnya. Itu mesin. Itu nalar. Itu pikiran. Kekuasaan yang sempurna di luar semua itu. (hal.219)

Dari keempat buku yang saya baca ini, rasanya masih penasaran dengan karya yang lain, dan utamanya, masih ingin melihat karya-karya ini dipentaskan. Apakah bisa semakin menjelaskan maksudnya, atau justru menimbulkan kesan yang baru?

Advertisements

Cameo Revenge – Yudhi Herwibowo & Ary Yulistiana

cameo revengeJudul : Cameo Revenge
Penulis : Yudhi Herwibowo & Ary Yulistiana (2015)
Penerbit : Gramedia Widiasarana (Grasindo)
Edisi : Cetakan pertama, Oktober 2015
Format : Paperback, iv + 236 halaman

Ada waktunya seseorang menaklukkan,
namun ada waktunya pula ia hancur berantakan

Musik terkadang menyimpan sebuah keajaiban di dalamnya, dia bisa mengubah hidup seseorang, atau bahkan sekadar mengubah suasana hati. Namun, July Lullaby lebih dari itu, lagu itu adalah fenomena, bagi para penikmatnya, penciptanya, dan penyajinya. July Lullaby adalah lagu yang membawa grup band Cameo memenangkan July Challenge—festival musik tahunan di kota Cahaya—berhadiah 100 juta rupiah dan kontrak rekaman satu album.

Cameo sendiri adalah sebuah grup dadakan yang terlahir untuk kepentingan festival tersebut. Beranggotakan Angin Malam sang gitaris yang sejak kecil begitu mencintai musik, hingga sulit baginya menemukan rekan yang sepadan, Aui penggebuk drum yang memiliki passion serupa, Q di bass, dan Jarra yang mengisi vokal. Keempat orang ini dipertemukan secara tidak langsung dalam sebuah kafe bernuansa musik, dan langsung menemukan kecocokan di antara mereka. Bakat-bakat dan intuisi bermusik mereka saling mengisi, membentuk sebuah chemistry tersendiri.

Namun, segala sesuatu yang instan akan mengalami ujiannya sendiri. Satu per satu masa lalu menghantui personel Cameo, mengancam eksistensi band seumur jagung ini.

Di sisi lain, runner up July Challenge tahun ini adalah sebuah band yang sudah solid, Revenge. Berawal dari Eriq dan Daksa yang membuka audisi untuk band mereka, terpilihlah Saira, Samuel, dan Garda untuk melengkapinya. Selama lima tahun mereka bermusik dan sudah memiliki nama besar di kota Cahaya. Kontrak rekaman di major label adalah salah satu langkah menuju jenjang karir berikutnya, sayangnya mereka harus puas dengan rekaman single saja karena kekalahan mereka dari Cameo.

Akan tetapi, satu personel yang tidak puas bisa mengubah semua. Kekompakan band ini pun diuji, karena ada pihak yang memanfaatkan mimpi salah satu dari mereka, menjadikannya senjata yang akan mengurai apa yang selama ini tersembunyi.

Saat mimpi berubah menjadi ambisi,
saat itulah kau harus berhati-hati….

Kisah Cameo dan Revenge disajikan dalam dua kisah yang terpisah, oleh dua penulis yang berbeda. Di antaranya terjalin benang merah yang sama, yang perlahan-lahan masuk dan menguji para musisi itu dengan kelemahannya masing-masing. Meski terulur dengan rapi, karakter yang menjadi kunci masalah ini menurut saya terlalu dua dimensi, dan tak memiliki motif yang jelas.

Keempat karakter dalam Cameo dan kelima karakter Revenge memiliki suaranya sendiri dalam bab-bab terpisah. Masing-masing menyimpan misteri dan keunikannya masing-masing, sehingga saya bisa merasakan membaca sembilan kisah manusia yang berbeda-beda. Kata kuncinya ada satu, bertahan hidup. Ada yang bertahan dengan lari, ada yang bertahan dengan cara yang tidak wajar, dan ada yang mencari jalan pintas. Ternyata meski memiliki kecintaan yang sama, manusia tetaplah unik. Dalam buku ini, musik juga memiliki tempat tersendiri yang bukan hanya sekadar ‘tempelan’.

Yang agak mengejutkan dalam buku ini adalah warna tulisan yang serupa dari kedua penulis ini. Entah memang gaya mereka sama, atau mereka sudah melakukan sinkronisasi untuk proyek ini, atau mungkin hanya perasaan saya saja. Apa pun itu, yang jelas saya sudah disuguhkan sebuah dua buah kisah misteri ringan berbalutkan musik, dipadu dengan hubungan antarmanusia yang menarik. Terima kasih.

Halaman Terakhir – Yudhi Herwibowo

halaman terakhirJudul : Halaman Terakhir : Sebuah novel tentang Jenderal Polisi Hoegeng
Penulis : Yudhi Herwibowo (2015)
Penyunting : Miranda Harlan
Penerbit : Noura Books
Edisi : Cetakan I, Februari 2015
Format : Paperback, viii + 440 halaman

Yogyakarta di dekade ketiga pasca kemerdekaan menjadi saksi bisu atas kasus pemerkosaan yang dialami oleh Sumaryah, si penjual telur yang baru berusia 16 tahun. Jalanan di Jakarta tahun 1970an ikut menjadi saksi bisu atas mobil-mobil mewah yang tiba-tiba memenuhinya. Dan Mabak Polri (Markas Besar Kepolisian) saat itu, punya kisahnya sendiri.

Kasus Sumaryah terjadi pada suatu senja yang sepi. Saat sedang berjalan sendirian, gadis lugu itu dipaksa masuk ke dalam sebuah mobil, dibius, dan digilir oleh tiga laki-laki di dalam mobil tersebut. Tidak ada saksi mata, hanya kelebatan ingatan Sumaryah saat sekali waktu dia tersadar, atau mungkin saat sedikit kesadarannya masih ada. Mulanya, kasus ini semacam kejahatan biasa, tetapi sejak Djaba Kresna, jurnalis harian Pelopor, mengangkat kasus ini dalam tulisan-tulisannya, serta menerbitkan dugaan-dugaan berikut investigasi amatirnya, kasus ini semakin ramai, hingga terdengar di Jakarta. Kesimpulan Kresna mengarah pada sebuah keluarga yang cukup berada, mengingat jenis mobil yang cukup mewah, serta deskripsi yang cocok dengan yang dikatakan oleh Sumaryah. Namun, kepolisian daerah dan pengadilan semacam mencari-cari celah tidak logis, serta menempatkan Sumaryah—yang notabene adalah korban—seperti penjahat itu sendiri. Hal ini semakin menguatkan adanya ‘permainan’ yang dilakukan untuk melindungi pihak-pihak tertentu. Oleh karena rumitnya kasus ini, Hoegeng sampai-sampai mengirim tim investigasi khusus dari Jakarta untuk membantu.

Dalam waktu yang hampir bersamaan, Polri sedang meyelidiki kasus penyelundupan mobil-mobil mewah. Rangkaian penyelidikan panjang, penyamaran, hingga pengejaran sudah dilakukan dengan hasil yang cukup memuaskan. Akan tetapi, ternyata kejahatan beromset puluhan juta rupiah ini teramat kuat untuk ditangani sendirian. Banyak pihak yang sudah terlanjur terlibat, dari dalam maupun luar negeri, dari petugas rendahan hingga pejabat. Pihak-pihak inilah; pihak-pihak yang ingin melindungi dirinya, pihak-pihak yang tak ingin kehilangan pendapatan tambahan yang sangat besar, yang sulit untuk dihentikan karena proses hukum yang berjalan belum bisa menghentikan mereka. Tantangan ini tak bisa dihadapi dengan cara-cara yang biasa.

Dua kasus tersebut dipilih oleh penulis sebagai sarana untuk menceritakan kisah hidup Jenderal Polisi Hoegeng yang pada saat itu menjabat sebagai Kapolri. Hoegeng yang dikenal dengan kejujuran dan ketegasannya cukup tercermin dari caranya menangani kasus-kasus ini. Tak sebatas itu saja, penulis juga dengan lihai menyusun sekilas potret-potret penting dari perjalanan hidup Hoegeng, mulai dari masa kanak-kanaknya, perjalanan pendidikan dan karirnya, kehidupan pribadi, serta—yang utama—peranannya dalam kepolisian yang mengantarkannya menuju kursi Kapolri.

Cara penulisan buku ini cukup mudah diikuti, dengan bab-bab pendek, bahasa yang mengalir, ritme yang teratur, hingga tak memerlukan waktu lama bagi saya untuk menyelesaikannya. Walaupun bukan jenis buku yang kisahnya akan mengejutkan kita, sesekali terselip juga adegan-adegan seru seperti pengejaran yang digambarkan dengan detail, termasuk bagaimana cara penulis mengakhiri kisah ini cukup membuat saya ingin segera menyelesaikan membacanya, apalagi bagian sejarah ini cukup asing untuk saya. Ini bukan kali pertama saya membaca fiksi sejarah karya penulis, tetapi perasaan bahwa fakta-fakta sejarah ditampilkan dengan terlalu kaku masih ada, meskipun tak sebanyak yang sebelumnya.

Realita Sosial di Indonesia

Mei : Realita Sosial

Mei : Realita Sosial

Sudah bukan rahasia lagi bahwa Orde Baru menyimpan kisah-kisah kebobrokan moral dan sosial di kalangan para pejabat. Buku ini menegaskan beberapa di antaranya; budaya suap-menyuap, KKN, sampai pada pembungkaman pers. Hoegeng sebagai karakter yang jujur termasuk sosok yang langka. Prinsipnya untuk menolak pemberian yang berpotensi sebagai suap, juga kehati-hatiannya dalam mengambil keputusan pribadi yang berpotensi sebagai penyalahgunaan jabatan, memaksa keluarganya untuk hidup sederhana.

“Menerima pemberian pertama itu seperti menaruh kuman di lengan. Akan terasa sedikit gatal, lantas kita akan menggaruknya pelan-pelan dengan rasa nikmat luar biasa. Makin sering dan makin banyak diterima, gatal itu akan semakin intens, menggaruknya pun harus semakin keras, hingga bernanah. Karena itu, jauhi kuman dan upayakan untuk jangan sampai menempel pada bagian tubuh kita. Uang akan membuat tubuh kita selalu gatal bagai luka korengan.” (hal.131)

Namun, keberadaan sosok semacam Hoegeng adalah duri dalam daging bagi pihak lain yang terlibat dalam ‘permainan kotor’ bisnis dan politik. Pencopotan Hoegeng sebagai Kapolri pada akhirnya tak lepas dari unsur tersebut. Realitas yang sampai saat ini tidak langka di negara kita, kejujuran seringkali dikalahkan oleh kewenangan dan kebiasaan, meskipun itu salah. Hukum yang tumpul ke atas dan tajam ke bawah, mentalitas menghalalkan segala cara demi mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, dan budaya yang mengagungkan hedonisme di atas harga diri.

Buku ini bisa jadi salah satu dari sekian buku yang merekam Indonesia di masa Orde Baru. Buku yang menunjukkan sekelumit alasan mengapa kekuasaan yang berlangsung selama 32 tahun menghasilkan masalah yang masih dialami sampai sekarang. Meski tidak secara terang-terangan mengkritik pemerintahan Presiden Soeharto pada masa itu, buku ini memberi petunjuk-petunjuk kecil tentang apa yang mungkin luput dari pengetahuan masyarakat kala itu. Apalagi sebagian besar masalah itu sudah berakar sejak zaman penjajahan, dan dipupuk sampai sekarang.

4/5 bintang untuk Jenderal Polisi yang layak dijadikan panutan dan sepaket kritik sosial yang halus.

Review #19 for Lucky No.15 Reading Challenge category Freebies Time

logo reading challenge-jpg

Enigma – Yudhi Herwibowo

EnigmaJudul : Enigma
Penulis : Yudhi Herwibowo (2013)
Editor : Anin Patrajuangga
Penerbit : Grasindo
Format : Paperback, 224 halaman

Aku tahu bagian tubuh kita tak hanya terdiri dari tulang-tulang dan daging, darah serta air. Ada juga yang mungkin tak terdeteksi. Itu adalah: kenangan. (Chang, hal.91)

Hasha sedang mempersiapkan pernikahannya. Isara sedang menata hidupnya pasca perpisahannya dengan Patta. Goza masih menjadi bedebah yang bahkan lebih bedebah dari sebelumnya. Sedangkan Chang atau Indiray, kini hidup dengan keyakinan yang dipegangnya, menjadi orang yang berbeda. Mereka berlima yang dulunya sering mengisi siang hari seusai kuliah di meja panjang di bawah pohon besar di warung lotek, kini berselisih jalan, mengungkap rahasia demi rahasia, dan dipertemukan kembali dengan cara yang tak disangka-sangka sebelumnya.

Tapi waktu seperti berdatangan sejak perpisahan itu. Aku sendiri merasa heran, ke mana mereka selama ini? Sepertinya mereka sengaja bersembunyi enggan menemuiku? (Isara, hal.11)

Adalah Kurani, wanita yang sempat setahun bersama mereka berlima sebelum kemudian pindah kuliah, yang menjadi calon istri dari Hasha. Hasha yang pendiam dan mengisi hari-harinya dengan menulis. Kurani yang mempesona dan membuatnya nyaman. Sejak sebuah insiden yang menimpanya di Yogyakarta, yang berkaitan dengan pekerjaannya sebagai jurnalis, dia terpaksa kembali dan menyembunyikan diri di tanah kelahirannya di Solo. Pertemuan tak terduganya dengan Isara pun membangkitkan kenangan masa lalu yang hendak dikuburnya. Isara yang penuh rahasia, Isara yang dihantui oleh rahasia masa lalu, kini mencoba berdamai dan melepaskan bebannya.

Patta yang masih sulit menerima bahwa dirinya kini berpisah dengan Isara, menenggelamkan diri dalam pekerjaan yang berbahaya. Yang pada suatu titik akan menemukan Goza yang dulu sangat dibencinya. Goza yang kerap mempermainkan wanita, menganggap mereka hanyalah sarana pelampiasan nafsu, di sela-sela pekerjaannya sebagai pembunuh bayaran. Dia menemukan dirinya harus kembali ke Yogyakarta dan, mau tak mau, menelusuri kembali perjalanan masa lalunya. Chang yang hidup damai dalam sebuah persaudaraan mendapatkan tugas yang mengharuskannya pindah ke Yogyakarta.

Di Yogyakarta mereka pertama kali bertemu dan berteman, setelah sekian lama berpisah, di Yogyakarta pula mereka dipertemukan kembali dalam suasana yang aneh. Misterius, penuh pertanyaan yang satu per satu terjawab dengan meninggalkan pertanyaan baru.

Buku ini ditulis dengan sudut pandang yang berganti-ganti di antara kelima orang tersebut. Pergantian sudut pandang tersebut kadang terjadi begitu cepat. Begitu pula setting waktu yang dapat berubah tanpa peringatan, sehingga terkadang saya baru menyadari di pertengahan bab bahwa sang karakter sedang mengenang masa lalunya. Meski begitu, alur dalam buku ini terasa sangat lambat. Terkadang satu bab akan menceritakan satu episode yang singkat, namun dengan bahasa berbunga-bunga khas penulis, terasa sangat lama.

Bagian yang mengganggu saya adalah fakta yang diceritakan berulang-ulang. Untuk hal tertentu yang membutuhkan penjelasan dari sudut pandang berbeda, pengulangan masih bisa diterima. Namun fakta yang sudah jelas, seperti Kurani yang hanya bersama-sama mereka selama satu tahun, rasanya tidak perlu disebutkan oleh setiap karakter, karena toh tidak mengubah apa pun dan tidak semua karakter terlibat secara emosional dengan fakta tersebut.

Hal tersebut mungkin mengurangi kenikmatan membaca buku ini, namun tidak mengubah fakta bahwa saya suka dengan bahasa yang dipergunakan oleh penulis. Bahasa Indonesia yang baku tanpa kesan kaku, puitis dan diksi yang indah.

Aku ingat, ada sebuah sudut di rumah itu yang selalu membuatku merasa begitu tenang. Sebuah sudut dengan bau dupa yang samar dengan keheningan yang begitu beku. Hingga napas pun dapat terasa bergema di sana. Dan itu bukan sudut yang ada di ruang doa, tapi sudut yang ada dalam perpustakaan. (Chang, hal.57)

Kesan misterius buku ini pun terasa meningkat seiring berkembangnya kisah dan terkuaknya kebenaran. Semakin ke belakang, semakin kita terbawa dengan gaya penceritaan penulis dan semakin penasaran dengan akhirnya.

3/5 bintang untuk kisah cinta yang menegangkan.

Review #6 untuk Membaca Sastra Indonesia 2013 (Kontemporer #4)

Miracle Journey – Yudhi Herwibowo

miracle journeyJudul : Miracle Journey; Kisah Perjalanan Penuh Keajaiban Kitta Kafadaru
Penulis : Yudhi Herwibowo
Penerbit : Elex Media Komputindo
Edisi : Cetakan pertama, 2013
Format : Paperback, 174 halaman

Bagaimana kisah itu bermula?
Mungkin… semua berawal dari hujan debu yang begitu panjang….

Kofa adalah sebuah desa di Nusa Tenggara Timur yang begitu hijau, jika dibandingkan dengan desa sekitarnya yang gersang. Hujan sering sekali turun, dan ada empat mata air yang terus mengalir di keempat penjuru desa. Keajaiban Kofa ini dimulai saat hujan debu beberapa waktu berselang, yang mengubah Kofa menjadi seperti sekarang.

Kitta Kafadaru tinggal di Kofa seumur hidupnya. Hari kelahirannya ditandai dengan hujan debu yang membuat Kofa menjadi indah. Bentuk tubuhnya tidak sempurna—ada punuk di punggungnya, namun dia memiliki keistimewaan. Tangannya memiliki kekuatan penyembuhan. Kitta Kafadaru tak pernah memilih untuk dilahirkan dengan keistimewaan, maupun kekurangan itu. Dia hanya menginginkan hidup ‘normal’ seperti orang lain. Sampai suatu hari, kekecewaan mendorongnya untuk melakukan perjalanan, keluar dari Kofa yang tak pernah ditinggalkannya sejak dia lahir.

Dalam perjalanan itu, Kitta Kafadaru mengalami berbagai kejadian aneh. Namun ada satu hal yang selalu diingatnya dalam perjalanannya itu, yaitu cerita Ame Tua tentang seorang penabur pasir yang bisa menurunkan hujan. Penabur pasir itu sama seperti dirinya, berkelana untuk merasakan hidup ‘normal’, seperti orang biasa. Maka dia hanya menggunakan keistimewaannya tersebut tiga kali saja, untuk hal-hal yang sangat dibutuhkan. Kitta Kafadaru pun berusaha mengikuti jejak sang pemanggil hujan tersebut.

“Ini memang sudah jalan hidupku. Seberapa kuat aku menghindarinya, atau mencoba menepisnya, aku akan tetap kembali ke jalan ini….” (hal.157)

Berkali-kali Kitta Kafadaru mengalami keadaan dimana dia harus menggunakan tangan penyembuhnya. Karena yang dihadapinya adalah orang-orang tak berdosa, orang-orang yang tersakiti, orang-orang yang kesembuhannya dapat mengubah banyak hal, mengubah keadaannya dan manusia di sekitarnya. Hati kecil Kitta Kafadaru mendorongnya untuk melakukannya. Tiga kali saja.

Kemudian bagaimana dengan orang keempat? Akankah Kitta Kafadaru tega meninggalkannya begitu saja, demi tekadnya untuk menjadi manusia biasa, sebagaimana sang pemanggil hujan?

“Namun yang pasti, aku selalu ingat dengan ucapan ayahku, Papae Toda dulu, kalau semua manusia selalu diciptakan dengan segenggam kebaikan, dan setitik ketidakbaikan.” (hal.123)

Sebagaimana subjudul buku ini, kita disuguhkan pada perjalanan yang penuh keajaiban. Baik itu keajaiban yang ditemui oleh Kitta Kafadaru, maupun keajaiban yang selalu dibawanya kemanapun dia pergi. Namun tidak hanya itu, ada yang jauh lebih penting daripada keajaiban, yaitu rasa kemanusiaan kita. Bagaimana kita menghargai kekurangan dan kelebihan diri sendiri, memilih jalan hidup yang kita yakini benar, dan berhenti menghakimi orang lain dari apa yang kita lihat dari luar.

Saya suka cara kisah ini ditulis, meski sulit bagi saya menyelesaikan buku tipis ini dalam dua-tiga kali duduk. Setiap menyelesaikan satu kisah, saya merasa harus berhenti sejenak. Rasanya seperti mengikuti perjalanan Kitta Kafadaru, dan setiap pemberhentian membutuhkan jeda untuk sekadar menarik napas. Sejujurnya, sejak awal membaca sinopsis buku ini, hingga pertengahan buku, saya sudah memiliki asumsi tentang apa yang akan saya temukan di akhir. Akan tetapi ternyata saya salah menebak, dan saya puas karena saya salah. Saya lega dengan apa yang terjadi pada akhir perjalanan Kitta Kafadaru, bahwa hidup itu tak selalu harus sama dengan harapan kita. Bahwa terkadang, apa yang kita yakini benar itu belum tentu benar-benar benar.

4/5 bintang untuk perjalanan penuh cahaya.

Lalu apa yang bisa engkau ceritakan tentang jejak-jejak yang terlihat di jalan setapak, dan pelan-pelan hilang tersapu angin? Sebagai pengingat kita untuk tak lagi melihat ke belakang? (hal.127)

*Novel ini diangkat dari enam buah cerpen oleh penulis. Salah satunya berjudul Kofa, yang pernah saya baca di kumpulan cerpen Mata Air Air Mata Kumari yang telah saya review juga di sini.