Category Archives: Giveaway

Scene on Three (125) + 5th Anniversary Giveaway

Mungkin kita cuma butuh liburan. Ya, liburan, sesuatu yang memberi ilusi bahwa kita terbebaskan, dan setelah itu kita akan kembali pada kerja, kerja, entah untuk apa. Kita akan mabuk di dalam dunia yang terbalik, lalu setelah itu dunia kembali normal dan kita bergotong-royong mengukuhkan tatanan. Tapi semua orang butuh impian tengah musim. Kau setuju. (hal.479)

Kutipan di atas diambil dari Gentayangan karya Intan Paramaditha yang sedang saya baca beberapa minggu ini. Kalau membicarakan soal liburan ini rasanya agak sensitif, tapi mungkin ada benarnya juga pernyataan itu. Walaupun, ya, ada banyak hal yang bisa diperdebatkan.

Baiklah, karena hari ini adalah hari spesial ulang tahun Scene on Three, seperti yang sudah saya janjikan sebelumnya, ada giveaway khusus hari ini. Caranya mudah, cukup mengisi formulir di bawah ini, yang berisi pertanyaan seputar bacaan saya (jawaban bisa dicari di blog ini maupun di Goodreads saya), lalu ada data diri, kontak, dan beberapa persyaratan tidak wajib, seperti share info dan membuat Scene on Three di blog kalian. Syarat tidak wajib ini akan dipertimbangkan jika jawaban benar yang terbanyak ada lebih dari satu.

Hadiahnya adalah buku senilai maksimal 175k IDR untuk satu orang pemenang, yang stoknya tersedia di toko online ya. Jika peserta cukup banyak, akan saya pertimbangkan untuk menambah jumlah pemenang.

Sila diisi ya, formulir ini sudah saya setting untuk hanya bisa diisi satu kali oleh satu akun Google. Jadi, yakinkan jawaban kalian sudah maksimal sebelum submit. Jawaban yang dinilai adalah yang masuk di tanggal 13 Juli 2018 saja, berdasarkan time stamp yang ada di Google.

Semoga beruntung!

—–

UPDATE 17 JULI 2018

Setelah saya cek jawaban yang masuk, ternyata hanya satu peserta yang menjawab benar paling banyak, yaitu

*drumroll*

Wening

Menjawab benar 10 dari 13 pertanyaan. Selamat ya. Nanti akan saya hubungi.

Terima kasih atas semua apresiasi terhadap blog ini dan keikutsertaannya dalam giveaway maupun Scene on Three. Semoga mendapat rezeki dari tempat lain.

Untuk google form di atas akan saya ganti pengaturannya, sehingga bisa diisi berkali-kali, dan bisa langsung mengetahui jawaban benarnya. Siapa tahu penasaran 😉

#BBIHUT6 Giveaway Hop

77471-bbi2bhut2b6-01

Hari ulang tahun tak lengkap tanpa giveaway yaa, pasti sebagian orang sudah menunggu momen untuk berburu hadiah di ulang tahun BBI yang keenam ini. Setelah dari sini, kalian bisa berburu lebih banyak di sini ya, di bagian paling bawah.

Untuk kali ini Bacaan B.Zee akan memberi hadiah buku pilihan kalian sendiri, sebutkan saja judul dan penulisnya, kalau bisa disertai tautan ke Goodreads. Syaratnya:

  1. Sebutkan satu buku wishlist yang ingin kalian pilih sebagai hadiah, beserta alasannya di kolom komentar. Buku yang dipilih bebas, tidak ada batasan harga, asal bukan boxset. Buku harus dibaca dan direview (minimal review singkat 1-2 kalimat di Goodreads atau di media sosial) sebelum ulang tahun BBI yang ketujuh. Boleh ditambah alasan kenapa review kalian akan menarik untuk saya.
  2. Follow akun BBI di salah satu atau semua media sosialnya, sebutkan juga di kolom komentar.
  3. Tambahkan juga saran untuk BBI ke depan agar lebih maju, boleh usul kegiatan di dalam atau di luar anggota, atau usulan yang lain (asal jangan usul BBI melonggarkan aturan syarat blog ya, saya di barisan yang menentang keras hal itu, haha).
  4. Giveaway ini terbuka untuk siapa saja yang memiliki alamat kirim di Indonesia, tidak harus anggota BBI.
  5. Giveaway dibuka hari ini dan ditutup tanggal 30 April 2017, jadi jika time stamp di komentar sudah bulan Mei tidak terhitung lagi.
  6. Pemenang akan diambil dari yang jawaban no.1 nya paling saya suka, kalau saya bingung, akan saya lakukan undian. Keputusan pemenangnya memang subjektif jadinya, tapi tetap tidak bisa diganggu gugat ya.
  7. Pemenang terpilih diberi waktu menanggapi hingga 2×24 jam setelah diumumkan (akan saya hubungi lewat kontak yang tercantum di komentar), jika tidak ada tanggapan akan dipilih pemenang baru.

Gampang kan, cuma tinggal mengarang indah saja. Semoga beruntung!

UPDATE 3 MEI 2017

Berhubung jawabannya cukup personal dan tidak seperti yang saya harapkan (yang salah harapan saya sih, bukan jawabannya, hehe). Jadi akhirnya pemenang tetap diundi ya. Selamat untuk Bety Kusumawardhani yang sudah terpilih dari random, akan saya hubungi secepatnya.

Terima kasih untuk yang sudah ikut. Tunggu giveaway selanjutnya ya, semoga akan ada lagi dalam waktu dekat.

Pemenang Giveaway “Dijual: Keajaiban”

received_10208040676604997.jpeg

Terima kasih kepada para partisipan blog tour kumcer “Dijual: Keajaiban” dari DIVA Press. Untuk minggu terakhir, karena setiap orang memiliki defisini sendiri mengenai keajaiban, dan cerita-cerita yang dibagi banyak yang menarik, maka saya mengundi para partisipan. Yang beruntung mendapatkan buku dari DIVA Press adalah:

David Arifka

Selamat untuk David, silakan mengirimkan alamat lengkap dan nomor telepon yang bisa dihubungi guna mengirimkan hadiahnya ke busy_mail125@yahoo.com ya. Bagi yang belum beruntung, mungkin waktunya untuk membeli bukunya, hehe…

photogrid_1452448914095.jpg

Dijual: Keajaiban (+GIVEAWAY)

dijual keajaibanTitle : Dijual: Keajaiban
Author : Gao Xingjian, Khairiyah Ibrahim as-Saqqaf, Naguib Mahfouz, Orhan Pamuk, R.K.Narayan, Salman Rushdie, Taufiq el-Hakim, Yukio Mishima, Yusuf Idris
Translator : Tia Setiadi
Editor : Ainini
Publisher : DIVA Press
Edition : Cetakan Pertama, Desember 2015
Format : Paperback, 228 pages

Saya mesti mengatakan bahwa justru dalam periode ini manakala sastra menjadi muskil sama sekali saya mengerti mengapa sastra begitu berharga: ia membiarkan seorang manusia melindungi kesadarannya. (Xingjian, Perihal Sastra, p.205)

Contents:

  1. Di Sebuah Taman / In the Park (Gao Xingjian, 2007)
  2. Pembunuhan Cahaya di Alir Sungai / The Assasination of Light at the River’s Flow (Khayriyah Ibrahim as-Saqqaf, 1998)
  3. Qismati dan Nasibi / Qismati and Nasibi (Naguib Mahfouz, 2008)
  4. Memandang ke Luar Jendela / To Look Out the Window (Orhan Pamuk, 2007)
  5. Anjing Buta / The Blind Dog (R.K. Narayan, 1947)
  6. Di Selatan Dua Lelaki Tua India / In the South (Salman Rushdie, 2009)
  7. Dijual: Keajaiban / Miracles for Sale (Taufiq el-Hakim, 1998)
  8. Tujuh Jembatan / The Seven Bridges (Yukio Mishima, 1966)
  9. Nampan dari Surga / A Tray from Heaven (Yusuf Idris, 2008)
  10. Perihal Sastra / In Case of Literature (Pidato Nobel Gao Xingjian, 2000)

Buku ini terdiri atas sembilan cerita pendek dari penulis besar Asia, ditambah naskah pidato penerimaan Nobel Sastra Gao Xingjian. Sebagian besar kisah telah dibahas di sini, sana, dan situ, sehingga di sini saya akan lebih membahas mengenai kesan saya terhadap gaya penulisan para penulis tersebut. Keuntungan dari sebuah antologi adalah kita bisa mengenal gaya penulisan beberapa penulis dari sebuah buku saja, dalam hal ini khususnya cerita pendek, karena seringkali tulisan-tulisan yang lebih panjang memiliki kesan yang berbeda.

Di Sebuah Taman menunjukkan kepiawaian Xingjian dalam menyusun dialog menjadi sebuah cerita yang utuh. Gaya yang jarang sekali saya jumpai, tetapi mungkin menarik jika saya bisa membacanya bersamaan dengan kisah-kisah penulis yang lainnya sehingga akan lebih mudah untuk saya pahami. As-Saqqaf dalam cerpennya menyuguhkan narasi cantik yang dipenuhi dengan metafora dan simbol.

Namun, sesuatu yang misterius berbisik dalam diriku, degup jantung waktu yang akrab dan mengganggu, degup ketakutan, peringatan, harapan, kesedihan, kebahagiaan, tawa, kecemasan, dan kepuasan, semua datang seketika. Hari berhenti, jam menggelisahkan, menit mengingatkan…—tentang apa? (as-Saqqaf, Pembunuhan Cahaya di Alir Sungai, p.32)

Judulnya saja sudah mengandung sesuatu, pembunuhan cahaya yang mungkin menghasilkan kegelapan; sebuah kritik sosial yang disampaikan dengan cukup lugas melalui diksi yang puitis. Tulisan Mahfouz, meski memiliki konflik yang tidak lazim, merupakan kisah ‘biasa’ yang menghadirkan cerita mengenai dua buah jiwa. Dari segi kisah, yang paling berkesan bagi saya adalah karya Pamuk dan Rushdie. Pamuk dengan kisah keluarga, tetapi mengandung keaktualan yang sangat universal, seolah menggambarkan dunia yang luas ini dengan perantaraan dua orang bocah dan permainan kartunya. Sedangkan Rushdie mengajak kita merenung mengenai kehidupan kita.

Akan tetapi cinta telah mulai mengganggunya, seperti yang lain-lainnya. Dia adalah keluarga nyamuk, demikian pikir Senior, kerumunan yang berdengung, dan cinta adalah gigitan mereka yang bikin gatal. (Rushdie, Di Selatan Dua Lelaki Tua India, p.124)

Di usia yang semakin tua, maka cara pandang kita terhadap hidup akan berubah. Begitu pula kedua lelaki tua yang disebut Senior dan Junior di sini, yang sebenarnya hanya berselisih usia 17 hari. Mereka berbagi nama yang sama, tetapi kehidupan mereka jauh berbeda. Akan tetapi perbedaan-perbedaan yang jauh tersebut tak dapat memisahkan mereka di hari tua yang semakin sepi. Pada akhirnya, konsep dan kenyataan mengenai kematian lah yang menghantui hari-hari tua, dan menghantui kita sebagai pembaca.

Kematian dan kehidupan hanyalah dua beranda yang berbatasan. Senior berdiri di salah satu sisi dari beranda itu sebagaimana yang biasa dia lakukan, dan di beranda lainnya, melanjutkan kebiasaan mereka selama bertahun-tahun, berdiri Junior, bayangannya, nama panggilannya, siap berdebat dengannya. (Rushdie, Di Selatan Dua Lelaki Tua India, p.142)

Dari segi narasi, setidaknya dalam edisi terjemahan yang saya baca ini, kisah yang paling mengalir dan enak dibaca adalah milik Narayan dan Mishima. Sedangkan el-Hakim dan Idris lebih kuat dalam membuat konflik yang membuat kita penasaran mengenai kelanjutannya, masing-masing memberi hal tak terduga dan sentuhan humor dalam kisahnya. Secara keseluruhan, saya lebih merasa ‘dekat’ dengan tulisan Rushdie dan Mishima, mungkin karena saya lebih familiar dengan sastra Asia Timur dan Selatan ketimbang Asia Barat yang jarang saya ‘kunjungi’.

Seorang penulis adalah orang biasa, mungkin dia lebih peka tapi seorang yang terlalu peka acap kali juga lebih rapuh. Penulis tak berbicara sebagai juru bicara masyarakat atau sebagai penjelmaan kebenaran. Suaranya mungkin lemah, tapi justru suara individual inilah yang lebih autentik.
Apa yang ingin saya kemukakan di sini adalah bahwa sastra hanya bisa menjadi suara individual dan selalu begitu. Sekali sastra dibuat sebagai himne sebuah bangsa, bendera ras, corong partai politik, atau suara kelas atau kelompok, ia berlaku hanya sekadar sebagai alat propaganda. Sastra semacam itu kehilangan apa yang melekat dalam sastra, berhenti sebagai sastra, dan menjadi pengganti bagi kekuasaan dan keuntungan.
(Xingjian, Perihal Sastra, p.202-203)

Sebagai penutup, saya suka sekali dengan pidato Xingjian mengenai sastra ini. Menurutnya, sastra (seharusnya) tidak berbicara untuk siapa-siapa, tidak perlu memiliki pesan apa-apa, karena ia adalah kebutuhan penulis untuk melampiaskan apa-apa yang ingin ditulisnya. Sastra sejati lahir dari hati terdalam, yang tidak menuntut apa-apa kecuali bahwa dia dituliskan untuk menjaga sang penulis tetap ‘waras’, tanpa peduli apakah dia akan dibaca atau tidak.

Estetika yang berpijak dari emosi-emosi manusia tak akan aus bahkan jikalau terjadi perubahan terus-menerus dalam sastra dan seni. Namun evaluasi-evaluasi literer yang berubah-ubah seperti mode bersandar pada mode terakhir: yakni apa pun yang baru itu bagus. Ini adalah mekanisme dalam pergerakan-pergerakan pasar umumnya dan pasar buku tak terbebas darinya, tapi bilamana penilaian estetis penulis mengikuti pergerakan-pergerakan pasar ini akan berarti bunuh diri sastra. Terutama dalam apa yang disebut masyarakat konsumer dewasa ini, saya kira seorang mesti bernaung dalam sastra sejati. (Xingjian, Perihal Sastra, p.209)

Pidatonya ini menjelaskan banyak hal mengenai sastra; menjelaskan mengapa sastra tidak selalu mudah dipahami, karena dia tak selalu perlu dipahami; menjawab tantangan bahwa sastra pasti memiliki nilai moral tertentu, yaitu dengan menjadi jujur, meski ia harus menabrak nilai moral tersebut; dan menegaskan bahwa sastra tidak akan menjadi sesuatu yang populer, karena dia adalah pekerjaan sepi.

“Kenyataannya, hubungan pengarang dan pembaca selalu merupakan hubungan komunikasi spiritual dan tak perlu mereka bersua atau berinteraksi secara sosial, itu adalah komunikasi yang semata melalui karya. Sastra masih menjadi bentuk yang sangat diperlukan dari aktivitas manusia yang di dalamnya baik pembaca maupun penulis terlibat atas kemauan mereka sendiri. Dengan demikian, sastra tak punya tugas terhadap massa.” (Xingjian, Perihal Sastra, p.210)

received_10208040676604997.jpeg

Buku yang sangat ‘kaya’ ini bisa kalian miliki, PLUS sebuah buku terbaru terbitan DIVA Press, simak syarat dan ketentuannya ya:

  1. Peserta memiliki alamat kirim di Indonesia
  2. Follow blog ini dan twitter @divapress01
  3. Bagikan info giveaway ini di media sosial
  4. Jawab pertanyaan ini di kolom komentar, dengan menyertakan nama, alamat email, dan link share di media sosial

Ceritakan pengalaman membaca yang membawa keajaiban bagi kalian. Tidak harus sastra, mungkin ada buku yang membuat hidup kalian berubah, atau mengubah cara pandang kalian, atau apapun definisi ‘keajaiban’ menurut kalian.

  1. Batas giveaway ini adalah 25-31 Januari 2016, dan akan dipilih satu orang pemenang

Semoga beruntung mendapatkan kumpulan sepuluh ‘keajaiban’ ini.

Tantangan Spesial Joglosemar : Honourable Mentions

photogrid_1452448066070.jpg

Setelah mengumumkan para pemenang Tantangan Spesial Joglosemar di sini dan di situ, rasanya tidak afdhol kalau tidak saya ‘beritakan’ kabar teman-teman yang lain. Seperti janji saya, saya kan memantau mereka 😉

Ternyata, ada seorang lagi yang berhasil menyelesaikan membaca dan mereview buku tantangan saya, meski melewati tenggat waktu (dengan insiden penantangnya yang lupa). Mbak Lila akhirnya berhasil menaklukkan buku bantal yang tadinya (mungkin) agak malas dibacanya.

Saya ikut senang karena ternyata mbak Lila menikmati bukunya, soalnya dalam review A Tree Grows in Brooklyn di My Book Corner, beliau memberi rating 5/5 untuk buku ini. Review mbak Lila sangat lengkap, membuat saya jadi ingin ikut mengeluarkannya dari timbunan *dorong lagi ke rak terdalam*. Ditambah ada analisis karakter yang cukup menarik. Selamat ya, mbak Lila, walaupun tidak dapat hadiah dari saya, setidaknya satu buku bantal keluar dari timbunan.

photogrid_1452448361638.jpg

Untuk keenam orang yang lain, tampaknya belum selesai membaca, hingga post ini dibuat. Beberapa punya alasan yang sudah disampaikan kepada saya, dan kebanyakan bukan karena buku pilihan saya, tetapi hal-hal di luar dugaan yang menghalangi mereka dari membacanya. Ada pula yang memang tidak kuasa ‘memaksa diri’ membaca buku tantangan saya, tetapi sebagian besar ternyata masih mau melanjutkan.

Saya sempat ngobrol-ngobrol cantik dengan Ika, dan ini penilaiannya tentang Germinal yang belum selesai dibacanya:

Dari segi bahasa, enak dibaca sebenernya, bertaburan kalimat-kalimat yang lumayan indah. Tapi deskripsinya panjaaaang, sangat detail. Itu yang bikin aku ngantuk kalo baca XD
Jadi serasa harus dalam kondisi fresh melek baru bisa konsen baca itu.
Tokoh-tokohnya banyaaaaak banget, nama-nama Perancis juga asing buatku, jadi kadang aku masih sering bingung si ini siapa, si itu yg mana.
Kalo ditanya masih pengen nyelesein ngga? Jawabnya Masih! Masih banget! Udah terlanjur penasaran sama nasibnya si Etienne dan keluarganya Maheude. Tapi mungkin agak lama, soalnya aku bacanya dikit-dikit banget. Kayak sehari cuma 2 bab gitu soalnya, heheheeee.

Yeay, semangat, Ika!

Nah, kalau pengakuan Ika seperti itu, mbak Ina yang sedang baca Hard Times sepertinya mengalami masa-masa sulit juga nih *eh*, ini sedikit obrolan saya dengan beliau:

Masih belum nemu bagian menariknya sih, bahasanya juga susah, nggak simple XD
Masih pingin ngelanjutin ga?
Masiiih. Ya karena belum nemu yg menarik. Dan aku nggak biasa berhenti baca buku sih, bagus atau jelek tetep terus. Kalau lama nyelesaiin sih sering 😀

Semoga nanti ketemu ya, mbak Ina, bagian menariknya 😉

Mbak Ririn juga termasuk yang ingin melanjutkan. Kebetulan beliau sedang dapat rezeki pekerjaan, jadi ya alhamdulillah, semoga nanti setelah selesai pekerjaan, buku ‘ex-tantangan’ itu bisa jadi hiburan.

Dina, mbak Esti, dan mas Dion bagaimana? Ah, biar rumput yang bergoyang yang menyampaikan kabarnya pada saya.

Sekali lagi, terima kasih untuk semuanya.

photogrid_1452448914095.jpg

Dengan ini, Tantangan Spesial Joglosemar resmi saya tutup. Tapi masih ada waktu untuk mengikuti giveaway di page Facebook Bacaan B.Zee. Jangan lewatkan yaa.. sampai 18 Januari saja.