Category Archives: Giveaway

#BBIHUT6 Giveaway Hop

77471-bbi2bhut2b6-01

Hari ulang tahun tak lengkap tanpa giveaway yaa, pasti sebagian orang sudah menunggu momen untuk berburu hadiah di ulang tahun BBI yang keenam ini. Setelah dari sini, kalian bisa berburu lebih banyak di sini ya, di bagian paling bawah.

Untuk kali ini Bacaan B.Zee akan memberi hadiah buku pilihan kalian sendiri, sebutkan saja judul dan penulisnya, kalau bisa disertai tautan ke Goodreads. Syaratnya:

  1. Sebutkan satu buku wishlist yang ingin kalian pilih sebagai hadiah, beserta alasannya di kolom komentar. Buku yang dipilih bebas, tidak ada batasan harga, asal bukan boxset. Buku harus dibaca dan direview (minimal review singkat 1-2 kalimat di Goodreads atau di media sosial) sebelum ulang tahun BBI yang ketujuh. Boleh ditambah alasan kenapa review kalian akan menarik untuk saya.
  2. Follow akun BBI di salah satu atau semua media sosialnya, sebutkan juga di kolom komentar.
  3. Tambahkan juga saran untuk BBI ke depan agar lebih maju, boleh usul kegiatan di dalam atau di luar anggota, atau usulan yang lain (asal jangan usul BBI melonggarkan aturan syarat blog ya, saya di barisan yang menentang keras hal itu, haha).
  4. Giveaway ini terbuka untuk siapa saja yang memiliki alamat kirim di Indonesia, tidak harus anggota BBI.
  5. Giveaway dibuka hari ini dan ditutup tanggal 30 April 2017, jadi jika time stamp di komentar sudah bulan Mei tidak terhitung lagi.
  6. Pemenang akan diambil dari yang jawaban no.1 nya paling saya suka, kalau saya bingung, akan saya lakukan undian. Keputusan pemenangnya memang subjektif jadinya, tapi tetap tidak bisa diganggu gugat ya.
  7. Pemenang terpilih diberi waktu menanggapi hingga 2×24 jam setelah diumumkan (akan saya hubungi lewat kontak yang tercantum di komentar), jika tidak ada tanggapan akan dipilih pemenang baru.

Gampang kan, cuma tinggal mengarang indah saja. Semoga beruntung!

UPDATE 3 MEI 2017

Berhubung jawabannya cukup personal dan tidak seperti yang saya harapkan (yang salah harapan saya sih, bukan jawabannya, hehe). Jadi akhirnya pemenang tetap diundi ya. Selamat untuk Bety Kusumawardhani yang sudah terpilih dari random, akan saya hubungi secepatnya.

Terima kasih untuk yang sudah ikut. Tunggu giveaway selanjutnya ya, semoga akan ada lagi dalam waktu dekat.

Advertisements

Pemenang Giveaway “Dijual: Keajaiban”

received_10208040676604997.jpeg

Terima kasih kepada para partisipan blog tour kumcer “Dijual: Keajaiban” dari DIVA Press. Untuk minggu terakhir, karena setiap orang memiliki defisini sendiri mengenai keajaiban, dan cerita-cerita yang dibagi banyak yang menarik, maka saya mengundi para partisipan. Yang beruntung mendapatkan buku dari DIVA Press adalah:

David Arifka

Selamat untuk David, silakan mengirimkan alamat lengkap dan nomor telepon yang bisa dihubungi guna mengirimkan hadiahnya ke busy_mail125@yahoo.com ya. Bagi yang belum beruntung, mungkin waktunya untuk membeli bukunya, hehe…

photogrid_1452448914095.jpg

Dijual: Keajaiban (+GIVEAWAY)

dijual keajaibanTitle : Dijual: Keajaiban
Author : Gao Xingjian, Khairiyah Ibrahim as-Saqqaf, Naguib Mahfouz, Orhan Pamuk, R.K.Narayan, Salman Rushdie, Taufiq el-Hakim, Yukio Mishima, Yusuf Idris
Translator : Tia Setiadi
Editor : Ainini
Publisher : DIVA Press
Edition : Cetakan Pertama, Desember 2015
Format : Paperback, 228 pages

Saya mesti mengatakan bahwa justru dalam periode ini manakala sastra menjadi muskil sama sekali saya mengerti mengapa sastra begitu berharga: ia membiarkan seorang manusia melindungi kesadarannya. (Xingjian, Perihal Sastra, p.205)

Contents:

  1. Di Sebuah Taman / In the Park (Gao Xingjian, 2007)
  2. Pembunuhan Cahaya di Alir Sungai / The Assasination of Light at the River’s Flow (Khayriyah Ibrahim as-Saqqaf, 1998)
  3. Qismati dan Nasibi / Qismati and Nasibi (Naguib Mahfouz, 2008)
  4. Memandang ke Luar Jendela / To Look Out the Window (Orhan Pamuk, 2007)
  5. Anjing Buta / The Blind Dog (R.K. Narayan, 1947)
  6. Di Selatan Dua Lelaki Tua India / In the South (Salman Rushdie, 2009)
  7. Dijual: Keajaiban / Miracles for Sale (Taufiq el-Hakim, 1998)
  8. Tujuh Jembatan / The Seven Bridges (Yukio Mishima, 1966)
  9. Nampan dari Surga / A Tray from Heaven (Yusuf Idris, 2008)
  10. Perihal Sastra / In Case of Literature (Pidato Nobel Gao Xingjian, 2000)

Buku ini terdiri atas sembilan cerita pendek dari penulis besar Asia, ditambah naskah pidato penerimaan Nobel Sastra Gao Xingjian. Sebagian besar kisah telah dibahas di sini, sana, dan situ, sehingga di sini saya akan lebih membahas mengenai kesan saya terhadap gaya penulisan para penulis tersebut. Keuntungan dari sebuah antologi adalah kita bisa mengenal gaya penulisan beberapa penulis dari sebuah buku saja, dalam hal ini khususnya cerita pendek, karena seringkali tulisan-tulisan yang lebih panjang memiliki kesan yang berbeda.

Di Sebuah Taman menunjukkan kepiawaian Xingjian dalam menyusun dialog menjadi sebuah cerita yang utuh. Gaya yang jarang sekali saya jumpai, tetapi mungkin menarik jika saya bisa membacanya bersamaan dengan kisah-kisah penulis yang lainnya sehingga akan lebih mudah untuk saya pahami. As-Saqqaf dalam cerpennya menyuguhkan narasi cantik yang dipenuhi dengan metafora dan simbol.

Namun, sesuatu yang misterius berbisik dalam diriku, degup jantung waktu yang akrab dan mengganggu, degup ketakutan, peringatan, harapan, kesedihan, kebahagiaan, tawa, kecemasan, dan kepuasan, semua datang seketika. Hari berhenti, jam menggelisahkan, menit mengingatkan…—tentang apa? (as-Saqqaf, Pembunuhan Cahaya di Alir Sungai, p.32)

Judulnya saja sudah mengandung sesuatu, pembunuhan cahaya yang mungkin menghasilkan kegelapan; sebuah kritik sosial yang disampaikan dengan cukup lugas melalui diksi yang puitis. Tulisan Mahfouz, meski memiliki konflik yang tidak lazim, merupakan kisah ‘biasa’ yang menghadirkan cerita mengenai dua buah jiwa. Dari segi kisah, yang paling berkesan bagi saya adalah karya Pamuk dan Rushdie. Pamuk dengan kisah keluarga, tetapi mengandung keaktualan yang sangat universal, seolah menggambarkan dunia yang luas ini dengan perantaraan dua orang bocah dan permainan kartunya. Sedangkan Rushdie mengajak kita merenung mengenai kehidupan kita.

Akan tetapi cinta telah mulai mengganggunya, seperti yang lain-lainnya. Dia adalah keluarga nyamuk, demikian pikir Senior, kerumunan yang berdengung, dan cinta adalah gigitan mereka yang bikin gatal. (Rushdie, Di Selatan Dua Lelaki Tua India, p.124)

Di usia yang semakin tua, maka cara pandang kita terhadap hidup akan berubah. Begitu pula kedua lelaki tua yang disebut Senior dan Junior di sini, yang sebenarnya hanya berselisih usia 17 hari. Mereka berbagi nama yang sama, tetapi kehidupan mereka jauh berbeda. Akan tetapi perbedaan-perbedaan yang jauh tersebut tak dapat memisahkan mereka di hari tua yang semakin sepi. Pada akhirnya, konsep dan kenyataan mengenai kematian lah yang menghantui hari-hari tua, dan menghantui kita sebagai pembaca.

Kematian dan kehidupan hanyalah dua beranda yang berbatasan. Senior berdiri di salah satu sisi dari beranda itu sebagaimana yang biasa dia lakukan, dan di beranda lainnya, melanjutkan kebiasaan mereka selama bertahun-tahun, berdiri Junior, bayangannya, nama panggilannya, siap berdebat dengannya. (Rushdie, Di Selatan Dua Lelaki Tua India, p.142)

Dari segi narasi, setidaknya dalam edisi terjemahan yang saya baca ini, kisah yang paling mengalir dan enak dibaca adalah milik Narayan dan Mishima. Sedangkan el-Hakim dan Idris lebih kuat dalam membuat konflik yang membuat kita penasaran mengenai kelanjutannya, masing-masing memberi hal tak terduga dan sentuhan humor dalam kisahnya. Secara keseluruhan, saya lebih merasa ‘dekat’ dengan tulisan Rushdie dan Mishima, mungkin karena saya lebih familiar dengan sastra Asia Timur dan Selatan ketimbang Asia Barat yang jarang saya ‘kunjungi’.

Seorang penulis adalah orang biasa, mungkin dia lebih peka tapi seorang yang terlalu peka acap kali juga lebih rapuh. Penulis tak berbicara sebagai juru bicara masyarakat atau sebagai penjelmaan kebenaran. Suaranya mungkin lemah, tapi justru suara individual inilah yang lebih autentik.
Apa yang ingin saya kemukakan di sini adalah bahwa sastra hanya bisa menjadi suara individual dan selalu begitu. Sekali sastra dibuat sebagai himne sebuah bangsa, bendera ras, corong partai politik, atau suara kelas atau kelompok, ia berlaku hanya sekadar sebagai alat propaganda. Sastra semacam itu kehilangan apa yang melekat dalam sastra, berhenti sebagai sastra, dan menjadi pengganti bagi kekuasaan dan keuntungan.
(Xingjian, Perihal Sastra, p.202-203)

Sebagai penutup, saya suka sekali dengan pidato Xingjian mengenai sastra ini. Menurutnya, sastra (seharusnya) tidak berbicara untuk siapa-siapa, tidak perlu memiliki pesan apa-apa, karena ia adalah kebutuhan penulis untuk melampiaskan apa-apa yang ingin ditulisnya. Sastra sejati lahir dari hati terdalam, yang tidak menuntut apa-apa kecuali bahwa dia dituliskan untuk menjaga sang penulis tetap ‘waras’, tanpa peduli apakah dia akan dibaca atau tidak.

Estetika yang berpijak dari emosi-emosi manusia tak akan aus bahkan jikalau terjadi perubahan terus-menerus dalam sastra dan seni. Namun evaluasi-evaluasi literer yang berubah-ubah seperti mode bersandar pada mode terakhir: yakni apa pun yang baru itu bagus. Ini adalah mekanisme dalam pergerakan-pergerakan pasar umumnya dan pasar buku tak terbebas darinya, tapi bilamana penilaian estetis penulis mengikuti pergerakan-pergerakan pasar ini akan berarti bunuh diri sastra. Terutama dalam apa yang disebut masyarakat konsumer dewasa ini, saya kira seorang mesti bernaung dalam sastra sejati. (Xingjian, Perihal Sastra, p.209)

Pidatonya ini menjelaskan banyak hal mengenai sastra; menjelaskan mengapa sastra tidak selalu mudah dipahami, karena dia tak selalu perlu dipahami; menjawab tantangan bahwa sastra pasti memiliki nilai moral tertentu, yaitu dengan menjadi jujur, meski ia harus menabrak nilai moral tersebut; dan menegaskan bahwa sastra tidak akan menjadi sesuatu yang populer, karena dia adalah pekerjaan sepi.

“Kenyataannya, hubungan pengarang dan pembaca selalu merupakan hubungan komunikasi spiritual dan tak perlu mereka bersua atau berinteraksi secara sosial, itu adalah komunikasi yang semata melalui karya. Sastra masih menjadi bentuk yang sangat diperlukan dari aktivitas manusia yang di dalamnya baik pembaca maupun penulis terlibat atas kemauan mereka sendiri. Dengan demikian, sastra tak punya tugas terhadap massa.” (Xingjian, Perihal Sastra, p.210)

received_10208040676604997.jpeg

Buku yang sangat ‘kaya’ ini bisa kalian miliki, PLUS sebuah buku terbaru terbitan DIVA Press, simak syarat dan ketentuannya ya:

  1. Peserta memiliki alamat kirim di Indonesia
  2. Follow blog ini dan twitter @divapress01
  3. Bagikan info giveaway ini di media sosial
  4. Jawab pertanyaan ini di kolom komentar, dengan menyertakan nama, alamat email, dan link share di media sosial

Ceritakan pengalaman membaca yang membawa keajaiban bagi kalian. Tidak harus sastra, mungkin ada buku yang membuat hidup kalian berubah, atau mengubah cara pandang kalian, atau apapun definisi ‘keajaiban’ menurut kalian.

  1. Batas giveaway ini adalah 25-31 Januari 2016, dan akan dipilih satu orang pemenang

Semoga beruntung mendapatkan kumpulan sepuluh ‘keajaiban’ ini.

Tantangan Spesial Joglosemar : Honourable Mentions

photogrid_1452448066070.jpg

Setelah mengumumkan para pemenang Tantangan Spesial Joglosemar di sini dan di situ, rasanya tidak afdhol kalau tidak saya ‘beritakan’ kabar teman-teman yang lain. Seperti janji saya, saya kan memantau mereka 😉

Ternyata, ada seorang lagi yang berhasil menyelesaikan membaca dan mereview buku tantangan saya, meski melewati tenggat waktu (dengan insiden penantangnya yang lupa). Mbak Lila akhirnya berhasil menaklukkan buku bantal yang tadinya (mungkin) agak malas dibacanya.

Saya ikut senang karena ternyata mbak Lila menikmati bukunya, soalnya dalam review A Tree Grows in Brooklyn di My Book Corner, beliau memberi rating 5/5 untuk buku ini. Review mbak Lila sangat lengkap, membuat saya jadi ingin ikut mengeluarkannya dari timbunan *dorong lagi ke rak terdalam*. Ditambah ada analisis karakter yang cukup menarik. Selamat ya, mbak Lila, walaupun tidak dapat hadiah dari saya, setidaknya satu buku bantal keluar dari timbunan.

photogrid_1452448361638.jpg

Untuk keenam orang yang lain, tampaknya belum selesai membaca, hingga post ini dibuat. Beberapa punya alasan yang sudah disampaikan kepada saya, dan kebanyakan bukan karena buku pilihan saya, tetapi hal-hal di luar dugaan yang menghalangi mereka dari membacanya. Ada pula yang memang tidak kuasa ‘memaksa diri’ membaca buku tantangan saya, tetapi sebagian besar ternyata masih mau melanjutkan.

Saya sempat ngobrol-ngobrol cantik dengan Ika, dan ini penilaiannya tentang Germinal yang belum selesai dibacanya:

Dari segi bahasa, enak dibaca sebenernya, bertaburan kalimat-kalimat yang lumayan indah. Tapi deskripsinya panjaaaang, sangat detail. Itu yang bikin aku ngantuk kalo baca XD
Jadi serasa harus dalam kondisi fresh melek baru bisa konsen baca itu.
Tokoh-tokohnya banyaaaaak banget, nama-nama Perancis juga asing buatku, jadi kadang aku masih sering bingung si ini siapa, si itu yg mana.
Kalo ditanya masih pengen nyelesein ngga? Jawabnya Masih! Masih banget! Udah terlanjur penasaran sama nasibnya si Etienne dan keluarganya Maheude. Tapi mungkin agak lama, soalnya aku bacanya dikit-dikit banget. Kayak sehari cuma 2 bab gitu soalnya, heheheeee.

Yeay, semangat, Ika!

Nah, kalau pengakuan Ika seperti itu, mbak Ina yang sedang baca Hard Times sepertinya mengalami masa-masa sulit juga nih *eh*, ini sedikit obrolan saya dengan beliau:

Masih belum nemu bagian menariknya sih, bahasanya juga susah, nggak simple XD
Masih pingin ngelanjutin ga?
Masiiih. Ya karena belum nemu yg menarik. Dan aku nggak biasa berhenti baca buku sih, bagus atau jelek tetep terus. Kalau lama nyelesaiin sih sering 😀

Semoga nanti ketemu ya, mbak Ina, bagian menariknya 😉

Mbak Ririn juga termasuk yang ingin melanjutkan. Kebetulan beliau sedang dapat rezeki pekerjaan, jadi ya alhamdulillah, semoga nanti setelah selesai pekerjaan, buku ‘ex-tantangan’ itu bisa jadi hiburan.

Dina, mbak Esti, dan mas Dion bagaimana? Ah, biar rumput yang bergoyang yang menyampaikan kabarnya pada saya.

Sekali lagi, terima kasih untuk semuanya.

photogrid_1452448914095.jpg

Dengan ini, Tantangan Spesial Joglosemar resmi saya tutup. Tapi masih ada waktu untuk mengikuti giveaway di page Facebook Bacaan B.Zee. Jangan lewatkan yaa.. sampai 18 Januari saja.

Tantangan Spesial Joglosemar : Second Winners

Sebagai kelanjutan post pemenang sebelumnya, sesuai janji saya, hari ini saya akan mengumumkan sisa pemenangnya.

photogrid_1452448139362.jpg

Langsung saja, review keempat adalah milik Wardah yang diterbitkan pada 17 Desember 2015. Sebenarnya saya agak kesulitan juga memilihkan buku untuk Wardah, karena rak bukunya di goodreads semacam kurang merepresentasikan bacaannya, begitu pula bacaan-bacaannya belakangan sepertinya terlalu banyak pesanan. Akhirnya saya mewawancarainya secara langsung dan memilihkan buku klasik yang tidak terlalu tebal, karena katanya, dia tidak pernah menamatkan buku klasik tebal. Setelah mencari-cari, sebetulnya kebetulan saja saya pilihkan R. L. Stevenson, tetapi bukan kebetulan saya memilihkan The Black Arrow. Alasannya karena buku itu ada di reading list Classics Club saya, juga karena saya menangkap ada War of Roses di sinopsisnya. Sejak menamatkan Richard III nya Shakespeare, saya sudah tertarik dengan War of Roses, tetapi terlalu malas untuk membaca sejarahnya. Karena itu saya berharap Wardah menyebutkan sedikit tentang itu di reviewnya.

Inilah kesan yang didapatkan Wardah yang dituliskannya dalam review The Black Arrow di Melukis Bianglala. Katanya sih dia menikmati proses membacanya walaupun banyak kata-kata yang ‘asing’ karena perbedaan gaya bahasa klasik. Saya ikut senang jika Wardah merasa terkesan, semoga masih tetap semangat menyelesaikan buku klasik yang masih DNF ya :). Ini sedikit ringkasan ‘korek-korek’ saya ke Wardah:

  1. Apakah ini pertama kalinya Wardah menyelesaikan membaca klasik dalam bahasa aslinya (Inggris)? Kalo ga, ceritakan dong pengalaman sebelumnya.
    Dr. Jeckyll and Mr. Hyde. Itu aku baca sekali duduk, bahasanya juga lebih gampang, ga ada bunga-bunganya, haha. Aku baca karena temenku ngerekom dan kebetulan temenku yang lain ternyata punya bukunya, ya udah deh aku pinjem. Aku pribadi suka sih sama cerita ini, dalem maknanya, serasa diingetin soal kehidupan (?). Pengen baca lagi jadinya. Tapi pas dulu baca itu aku masih cukup muda, ya ngga terlalu mikirin kayak kalo baca sekarang.
  1. Menurutmu, lebih enak baca dalam bahasa/gaya aslinya, terjemahan bahasa Indonesia, atau tetap dalam bahasa aslinya tapi gaya bahasanya dimodifikasi jadi lebih modern? Alasannya?
    Aku fleksibel sih orangnya. Ngga terlalu masalah pun diterjemahin, kayak baca terjemahannya masdi. Asal enak terjemahannya, ya bakal seru-seru aja. Tapi, tetep aja sih ada “feel” yang cuma bisa ditangkap kalo baca versi asli. Susah sih bahasanya emang, apalagi pas percakapan (buat kasus The Black Arrow), ada bunga-bunganya tiap ngomong XD, tapi seruuu. Sebaiknya sih ga perlu dimodif, biar tetep orisinil, tapi bisa aja dikasih catatan kaki buat kalimat/kata yg jarang diketahui pembaca, biar sekalian belajar *berasa buku pelajaran, haha*
    Atau mungkin emang kudu biasa baca biar ngerasa baik-baik aja ya. (Iyaaa, hahaha)
  1. Selama ini kan sering baca klasik berbahasa Inggris tapi ga selesai, kendalanya apa sih?
    Kendalanya……………. kalo mulai suka malah nonton (filmnya), jd udah selesai duluan, terus jadi males lanjut baca, hehe. (Yaah, ga seru dong kalo nonton duluan XD). Sama paling aku ga baca buku fisik sih kalo klasik, jadi sering lupa kalo lagi baca itu.

Terima kasih, Wardah, atas ‘perjuangan’nya menyelesaikan buku tantangan dalam waktu singkat. Kamu berhak menyandang pemenang keempat, semoga suka dengan hadiah yang akan datang.

photogrid_1452448361638.jpg

Review kelima sebenarnya datang dari mbak Dani pada 30 Desember 2015, tapi sayangnya beliau lupa tidak langsung konfirmasi, sehingga secara resmi, reviewnya saya terima yang keenam. Mbak Dani ini juga termasuk yang sulit memilihkan bukunya. Beliau memang super sibuk, dan seringkali waktu rehat dari kesibukan tersebut benar-benar dimaksimalkan untuk istirahat. Namun, kalau beliau sudah berniat, kecepatan bacanya bisa mencengangkan. Jadi, saya harus memilihkan buku bantal, dan karena di timbunannya ada buku favorit saya ini, jadilah.

Sebenarnya ini saya yang jadi bernostalgia saat membaca review American Gods di Melihat Kembali. Yah, intinya, hampir semua yang keren di buku ini sudah disebutkan oleh mbak Dani. Sejujurnya, saya sempat bingung mau berkomentar apa, karena seperti saya bilang, mbak Dani hanya tinggal menyempatkan waktu saja. Dan akhirnya saya cari bocoran rahasia waktu bacanya mbak Dani.

  1. Apa ekspektasi mbak Dani saat membeli buku ini, dan bagaimana kemudian realitasnya setelah selesai membaca?
    Jujur, aku penasaran dengan karya Neil Gaiman selain Coraline yang kupinjam baca dari adikku sekian tahun yang lalu. Apalagi judulnya Dewa-Dewa Amerika, memangnya di sana ada dewa ya? Perasaan mereka tidak pernah punya dewa seperti Yunani dan Romawi yang sangat populer sehingga sering menjadi sumber inspirasi fantasi para penulis dan pembuat film. So, awalnya aku pikir ini cerita tentang para penguasa/pimpinan di Amerika sana yang bertindak selaku ‘Dewa’. Namun aku salah karena ternyata ceritanya memang benar tentang para dewa yang ‘tinggal’ di Amerika, he3.
    Salut dengan ide perseteruan para dewa baru dan lama yang sangat ‘manusiawi’, dalam artian di manapun sesuatu yang baru pasti akan muncul menggantikan yang lama. Tinggal bagaimana yang lama tersebut bisa survive di kehidupan yang terus berubah *aku ngomong apa sih ini?*
    Ya intinya, aku puas baca American Gods, walaupun sejak awal aku sudah curiga tentang identitas Shadow yang sebenarnya *kebanyakan nonton film, ㅋㅋㅋ. Beberapa detail terkait koin yang berpengaruh terhadap jalan cerita, that’s brilliant and I like some surprises like this. Jadi semakin penasaran dengan isi kepala Mr. Gaiman yang sepertinya penuh ide liar yang berfantasi tanpa batas itu, ho3. (Yeay, tambah teman)
  1. Apakah dengan tantangan membuat mbak Dani ‘punya waktu’ untuk membabat buku bantalnya? XP
    Well, tantangan baca buku bantal a.k.a buban dengan limited time ini membuatku jadi tambah semangat untuk menghabiskan timbunan buban lainnya. Beda dengan Read Big RC-nya Vina *dadah2 ke Vina* yang waktunya setahun dan malah kadang membuatku lupa membuat review, tantangan ultah Bzee kali ini entah kenapa bisa memancingku keluar dari zona nyaman dan ‘dipaksa’ membuat review secepatnya (*Siapin tantangan berikutnya*). Walaupun sempat pusing tujuh keliling memikirkan bagaimana membuat reviewnya tanpa mengobral spoiler, tapi akhirnya aku sukses menuliskannya, yeay!
    Memang butuh komitmen besar untuk ‘setia’ membaca buban karena tidak jarang rasa bosan melanda di tengah-tengah atau pas lagi seru-serunya baca harus masuk kerja dan beraktivitas sosial lainnya. Padahal sudah pewe di kasur untuk baca buban sepanjang hari, hiks2. So, ebook pun berjaya untuk menjaga intensitas progres baca saat buban tidak mungkin dibawa kemana-mana.
    Terima kasih, Bzee, kini aku belajar arti komitmen yang sebenarnya dalam membaca buban … *halah* Waah, super sekali *tepuk tangan*
  1. Jadi setelah ini, sudah tahu caranya bikin komitmen sendiri baca buban, atau mesti masih ditantang? :p
    Bwakakaka, sepertinya aku butuh ditantang makanya kemarin bikin resolusi isinya kebanyakan buban semua, karena sedang semangat pasca American Gods. Ini baca Game of Thrones yg akan segera dilanjut Clash of Kings…buban kabeh kuwi, Bzee XD

photogrid_1452449107639.jpg

Selanjutnya, ada mas Tezar yang menerbitkan reviewnya juga pada 30 Desember 2015. Mas Tezar ini tidak jauh beda dengan semua orang yang saya tantang atau bahkan semua orang di dunia ini kecuali saya (mulai menyadari, haha), adalah pembaca cepat. Mas Tezar juga pelahap semua genre, jadi buku apapun yang saya berikan, rasanya bukan tantangan. Hanya satu yang tampaknya belum pernah dibacanya, buku berbahasa asing. Jadilah saya menantang beliau membaca buku berbahasa Inggris yang cukup tebal, tetapi untuk pembaca muda.

Awalnya mas Tezar sempat skeptis dengan dirinya sendiri, tetapi akhirnya selesai juga sebelum tenggat waktu yang saya tentukan. Dalam review The Book Thief di Membaca Buku bisa dilihat bagaimana rasa penasaran mas Tezar (yang entah berapa lama dipendamnya) akhirnya terjawab. Sedikit kepo tanya-tanya saya dengan mas Tezar perihal membaca dalam bahasa Inggris untuk pertama kalinya:

  1. Apa ini pertama kalinya mas Tezar menyelesaikan buku berbahasa Inggris?
    Iya. Jadi ini benar-benar yang pertama. Dulu kalau baca buku berbahasa Inggris hanya buku-buku kuliah, dan itu pun tidak satu buku #keliatanbangetmalasnya #takutmaketebelannya dan alhasil materi pelajaran di sekolah pun sudah mulai berhilangan. (Yah, kalau ngomong textbook, bahasa Indonesia juga aku ga baca semua, haha)
  1. Apakah setelah tantangan ini, akan lebih ‘berani’ untuk membaca buku dalam versi bahasa aslinya (Inggris)?
    Ada sih beberapa buku berbahasa Inggris di rak. Beberapa malah buku klasik unabridged (seperti War and Peacenya Tolstoy). So, saya pingin untuk menuntaskannya, walau masih belum tahu kapan. Tapi semoga kesampaian.
  1. Mas Tezar kan punya beberapa buku berbahasa Inggris di raknya, berarti sebenarnya sudah ada niat untuk baca. Kendala terbesar untuk memulai apa? Dan kira-kira bagaimana cara paling efektif untuk mengatasinya?
    Sebenarnya karena memang bahasa Inggrisku yang jelek #tutupmuka
    Yang pasti karena pilihannya masih banyak yang dibaca, dipilih yang bahasa Indonesia dulu.
    (Cara mengatasinya) Mungkin ditantang seperti blogoversarynya kak Bzee yah. kalau nggak ditantang mungkin tidak terbaca 😦
    Mastez ngerasain ga beda ‘rasa’ kalo baca asli sama terjemahan, semacam sesuatu yg ga bisa ditemukan kalau suatu buku sudah diterjemahkan?
    Sementara ini sih belum. tapi memang pingin nyoba suatu saat membandingkan buku bahasa asing dengan bahasa aslinya. Kelemahanku di vocab kayaknya. Oh ya, aku masih sering gagal menangkap kalimat ungkapan sih.

Terima kasih untuk mbak Dani dan mas Tezar yang sudah menantang dirinya dan berhasil, yeay! Semoga bisa terus berlanjut ya niat baiknya 🙂

Jadi, mana yang saya pilih sebagai pemenang kelima, alias yang terakhir? Sayangnya saya tidak bisa memilih, karena tinggal mereka berdua yang selesai membaca dan mereview sesuai waktu yang saya tetapkan, apalagi waktunya hampir bersamaan, maka saya rasa cukup adil untuk menjadikan keduanya sebagai pemenang kelima. Ditunggu ya bingkisannya 🙂

photogrid_1452448914095.jpg

Ternyata menyenangkan ya ‘memaksa’ orang untuk membaca kemudian mereka (katanya) puas. Sekali lagi, selamat untuk kalian semua, dan terima kasih juga untuk ketiga sponsor, Alvina (Mari Ngomongin Buku), Asri (Peek a Book), dan Steven (Blog Buku Haremi).

Belum selesai.

Saya kan menantang 13 orang. Bagaimana ya kabar 7 yang lain? Tunggu post saya lusa ya, 17 Januari 2016.

Sementara itu, masih berjalan kuis berhadiah di  di Page Facebook saya. Silakan mampir.