Category Archives: Offline Event

Nongkrong Gaul Sambil Membaca

Sabtu malam lalu, tepatnya tanggal 20 Mei 2017, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional dan pertama kalinya pemerintah memberlakukan pengiriman paket buku gratis melalui PT Pos Indonesia, Najwa Shihab selaku Duta Baca Indonesia meluncurkan sebuah program yang dinamakannya Pojok Baca. Pertama kalinya Pojok Baca ini dibuka di kota Solo, tepatnya di Markobar, gerai martabak (atau terang bulan) yang ternama di seantero negeri karena inovasinya, dan pemiliknya kebetulan merupakan putra sulung Presiden Indonesia saat ini. Saat datang sekitar pukul tujuh kurang, saya agak beruntung karena mendapatkan tempat strategis (atau sebenarnya tempat itu sudah ditandai tapi saya tidak tahu, haha). Meski undangan pukul tujuh, baru sekitar setengah jam setelahnya, tamu yang ditunggu-tunggu datang.

Sebelumnya saya masih agak samar dengan program ini. Saya datang karena tergerak dengan konsep yang sepertinya menarik. Setelah mendengar penjelasan dari mbak Tamu dan mas Tuan Rumah, barulah jelas bahwa mbak Nana sebagai Duta Baca memiliki ide untuk membangun sebuah ruang membaca di tempat-tempat strategis, guna menebarkan kesukaan membaca. Program ini dimulai dari Markobar dengan proses yang cukup mudah, melalui satu percakapan WhatsApp saja, mas Gibran sudah menerima tawaran untuk merelakan sebagian ruang gerainya diduduki oleh buku-buku. Selanjutnya, Pojok Baca ini akan terus ditambah, baik di cabang Markobar lain, ataupun di tempat-tempat umum, di antara yang sudah direncanakan adalah di stasiun, bandara, bahkan kantor polisi.

Di tempat ini disediakan kotak donasi bagi siapapun pengunjung yang ingin menyumbangkan bukunya, sehingga nantinya buku-buku bisa disebarkan di Pojok-Pojok Baca di seluruh negeri. Mbak Nana menegaskan juga bahwa program ini adalah swadaya, dari kita untuk kita, jadi bukan merupakan ide atau program pemerintah. Untuk saat ini, buku-buku yang sudah ada merupakan sumbangan dari penerbit Literati dan IKAPI, tetapi nantinya Duta Baca Indonesia ini menginginkan adanya sumbangan dari masyarakat dan program kerjasama dengan IKAPI yang berupa diskon khusus, agar terjadi pertumbuhan penerbitan Indonesia yang sehat.

Pojok Baca di Markobar Solo

Selain membahas mengenai Pojok Baca, mbak Nana dan mas Gibran juga membicarakan banyak hal seputar membaca, mulai dari pengalaman membaca buku saat kecil, bagaimana kecintaan terhadap buku dimulai, sampai dengan kondisi perbukuan Indonesia saat ini. Pada acara ini, diundang pula beberapa perwakilan dari Taman Baca Masyarakat di berbagai daerah, baik dari Solo sendiri, Yogyakarta, sampai di Kalimantan dan Sulawesi, yang menceritakan suka duka mereka mengelola taman baca serta pengamatan mengenai minat baca di Indonesia.

Salah satu penekanan dalam diskusi ini adalah minat baca di Indonesia sesungguhnya tidak sekecil yang ada di data UNESCO, setidaknya begitulah menurut mereka yang melihat sendiri bagaimana masyarakat (terutama anak-anak) begitu bersemangat saat diberi akses buku. Saya pribadi sudah lama percaya bahwa pada dasarnya anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar terhadap buku, yang sebagian besar terkikis saat dewasa jika lingkungan mereka tidak mendukung. Mungkin hal ini bisa menjadi pembicaraan cukup panjang atau bahan penelitian baru, tetapi itu masalah lain.

Pengunjung dalam acara itu cukup ramai hingga tumpah ke luar gerai. Menjelang akhir acara, pengunjung diberi kesempatan bertanya, dan beruntung saya sempat bertanya. Walaupun kalimat saya cukup belepotan, intinya sih saya agak sedikit narsis mengenalkan BBI, dan mengusulkan mbak Nana supaya punya setidaknya 30 menit seminggu acara televisi yang isinya semacam review buku. Ide ini sebenarnya sudah lama terbersit (bahkan sempat saya emailkan ke Mata Najwa dan MetroTV, entah terbaca atau tidak), karena berdasar pengalaman sebagai blogger buku, kadang rasa tertarik seseorang untuk membaca itu timbul karena konten dalam buku itu sendiri, jadi bagian dari kampanye yang tidak seabstrak ‘ayo baca buku’ saja.

Mba Nana yang asli cukup berbeda dari saat membawakan acaranya sendiri, bersama mas Gibran yang sangat irit bicara.

Kembali ke Pojok Buku, sebenarnya ide ini memang tidak benar-benar baru di Indonesia, tetapi sebagian memang tidak berjalan dengan baik. Di Solo saja, setidaknya pernah ada dua atau tiga tempat serupa yang saat ini sudah tutup, karena pada mulanya mereka memang menjual suasana tempat nongkrong sekaligus tempat baca, sedangkan anak muda nongkrong umumnya ya ngobrol-ngobrol atau seru-seruan bersama. Saat acara ini, barulah saya terbersit bahwa mungkin memang cara seperti ini lebih efektif. Pertama, tempat yang dipilih adalah tempat yang sudah mapan, yang sudah memiliki pengunjung tetap, yang sudah menjadi tempat nongrong gaul. Kedua, dengan sedikit pengaruh dari Duta Baca dan mungkin beberapa orang yang sudah memiliki penggemar, setidaknya anak muda akan bisa mulai percaya diri bahwa membaca tidak kontradiktif dengan gaul.

Sejak tahun lalu, di Yogyakarta, teman mbak Ina (Nurina yang juga anggota BBI) membuka Kafe Noice yang dibuka dengan konsep kafe buku. Mbak Ina, saya, dan beberapa teman mencoba meletakkan beberapa buku kami di sana, dan kata mbak Ina, responnya cukup baik sehingga saya sempat menambah beberapa buku lagi di sana. Saya sendiri tidak tahu respon baik yang dimaksud yang seperti apa, tetapi setidaknya ada harapan positif untuk Pojok Buku. Tentunya tantangan pasti ada dan harus siap dihadapi. Seperti saat teman-teman Goodreads Semarang membuat semacam rumah buku yang diletakkan di taman untuk dibaca sambil bersantai di bawah pohon, tetapi tidak lama sampai buku-buku beserta rumahnya dicuri. Semoga dengan adanya faktor-faktor baik pendukung Pojok Baca yang saya sebutkan di atas tadi, mentalitas bangsa kita juga ikut menjadi lebih baik.

Salam literasi!

Sapardi X Jokpin (Oleh-Oleh ALF 2016 Part 4/4)

Tibalah kita di ‘laporan’ terakhir kehadiran saya di ASEAN Literary Festival (ALF) 2016 yang cukup terlambat ini. Acara terakhir yang akan saya tuliskan bisa dibilang salah satu ‘gong’ dari ALF secara keseluruhan. Bagaimana tidak, perbincangan yang berbayar lima puluh ribu rupiah di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki pada 6 Mei malam ini disesaki penonton hingga ke tribun atas bahkan hingga ada dua deret kursi ekstra di depan. Tampaknya kehadiran dua penyair kondang, Sapardi Djoko Damono dan Joko Pinurbo, ditambah pemandu yang tak kalah kondang, Najwa Shihab, menjadi pemicunya. Tak salah acara ini diberi tajuk ‘A Rare Conversation: Sapardi X Jokpin’. Menurut istilah teman saya, fandom galore.

img-20160405-wa0015.jpg

Acara dibuka oleh duo Ari-Reda yang membawakan musikalisasi puisi pak Sapardi (yang sudah dibuat album) dan Jokpin (yang baru pertama ditampilkan untuk acara ini). Kemunculan Najwa memberi nuansa tersendiri dalam ALF yang dipenuhi oleh para sastrawan. Hingga saat kedua penyair dipanggil, dia memberi pertanyaan trivial kepada keduanya: apa yang orang-orang tidak ketahui tentang keduanya. Pak Sapardi mengatakan bahwa sesungguhnya dirinya punya hobi keluyuran di mall, ‘kakek mall’ istilahnya, karena istilah ‘anak mall’ terkesan terlalu muda untuknya. Hal ini sebenarnya adalah  bentuk olahraga yang bisa dilakukannya, berkeliling mall yang sejuk di dekat rumahnya, alih-alih di jalanan yang mungkin kurang bersahabat untuk usianya. Sedangkan pak Jokpin mengatakan bahwa dirinya adalah penyuka kopi, sebagaimana tercantum dalam namanya, Joko Pinurbo, yang menemani malam-malam kreatifnya.

Selanjutnya, masuk ke dalam obrolan yang lebih serius, tetapi tetap berlangsung cair, Jokpin menyatakan bahwa YB Mangunwijaya mengajarkan supaya anak-anak diajari pemikiran yang menyimpang. Pemikiran inilah yang akan menjadi kunci proses kreatif. Dia juga mengakui bahwa buku puisi yang pertama dibacanya dan menginspirasinya untuk menjadi penyair adalah buku Sapardi yang berjudul DukaMu Abadi. Beliau mengagumi gaya dan kedalaman puisi Sapardi, semacam mencintai dengan sederhana yang sesungguhnya justru paling tidak sederhana. Sapardi pun bercerita mengenai perjuangan penerbitan buku pertamanya tersebut pada 1969. Jauh sebelumnya, beliau memiliki janji bersama sahabatnya yang seorang pelukis, bahwa siapapun yang sukses terlebih dahulu, akan membantu sahabatnya. Kawannya inilah yang membantu penerbitan DukaMu Abadi hingga bisa dibawakan di Teater Ismail Marzuki pada masa itu, di hadapan penyair dan sastrawan senior, yang diistilahkannya sebagai ‘harimau-harimau di TIM’.

img_20160506_193458.jpg

ki-ka : Najwa Shihab, Joko Pinurbo, Sapardi Djoko Damono

Jokpin bercerita tentang perjalanan kepenyairannya yang tumbuh setelah berhadapan dengan karya-karya besar. Dia merasa tidak mungkin bisa menyaingi karya-karya besar tersebut, sehingga untuk menghadapinya dia harus ‘belok kiri’, mengambil tema-tema yang tidak biasa seperti celana, kamar mandi, dan sarung. Dari hal-hal yang tampak sepele inilah dia menghasilkan karya yang berbeda. Jokpin juga sempat membocorkan buku yang sedang digarapnya, yang akan bermain-main dengan keunikan bahasa Indonesia. Dia membacakan salah satunya, pada intinya menggunakan kata ramah-marah, Tuhan-hantu, dan lain sebagainya, lalu di antaranya ada bait yang paling mengundang tawa seluruh hadirin, baris yang menjadi semacam titik ‘sialan’ kalau kata saya (dalam artian positif):

Pemurung tidak pernah merasa gembira
Pemulung tidak pelnah melasa gembila

Sapardi pun menanggapi positif puisi Jokpin ini. Menurutnya, puisi tersebut sangat sesuai dengan teori bahwa puisi adalah bunyi. Puisi sesungguhnya harus dinyanyikan.

Mengenai proses kreatif, Sapardi menyatakan jangan pernah menulis saat emosi. Berkebalikan dengan anggapan orang bahwa karya yang ditulis dengan emosi cenderung lebih emosional, menurutnya karya yang ditulis saat emosi akan terkesan cengeng. Kita harus membuat jarak terlebih dahulu dengan sesuatu yang akan kita tulis, diistilahkannya sebagai jarak estetika, supaya karya kita lebih objektif dan tidak cengeng. Dia berkelakar bahwa lebih baik berdemo saja saat emosi sedang meluap-luap. Ditanya mengenai makna puisinya, dia menyatakan bahwa puisi-puisinya kebanyakan hanya gambar, interpretasi diserahkan kepada pembaca. Dia berujar bahwa puisi itu hidup dari interpretasi yang bermacam-macam. Ditambahkannya bagi para penulis/penyair muda, bahwa inspirasi sesungguhnya tidak perlu dicari, yang terpenting adalah adanya niat menulis, sedangkan bahan cukup berlimpah dari pengalaman sehari-hari.

Proses kreatif Jokpin lebih banyak didapatkan lewat tengah malam hingga pukul tiga pagi, meski secara umum dia dapat menulis kapan saja. Biasanya sajak-sajaknya yang berhasil justru ditulis dengan cepat. Dia juga merasa lebih produktif pada bulan-bulan berakhiran –ber (September, Oktober, November, Desember).

Saya sering harus menafsirkan puisi saya sendiri. –Joko Pinurbo

Dibandingkannya dengan DukaMu Abadi yang sangat liris dan sesuai dengan situasi pasca tragedi 1965. Dia merasakan trauma dan kengerian yang berjarak dengan tragedi tersebut, sehingga efek yang ditimbulkan bukan rasa takut, tetapi mencekam.

Mendengar ini, Sapardi pun berkata bahwa penafsiran pembaca seringkali jauh daripada yang diketahui penyair tentang puisinya. Dikatakannya bahwa DukaMu Abadi ditulis saat dia berusia 27-28 tahun yang menurut suatu teori merupakan usia seseorang menyadari bahwa dirinya akan mati. Puisi tersebut lahir setelah Sapardi berjarak dengan ketakutan akan kematian.

Jangan percaya mulut Sapardi. –Sapardi Djoko Damono

Sebagai orang yang selalu bersentuhan dengan politik, Najwa pun tak luput menanyakan mengenai tema politik dalam puisi. Jokpin sendiri tertarik dengan tema itu, tetapi dia merasa aneh jika menuliskan tema itu, mengingat tema-tema puisinya selama ini. Meski demikian, sesungguhnya banyak candaan politik dalam puisi-puisinya. Sapardi sendiri merasa tema politik terlalu menarik untuk hanya dituliskan dalam puisi, sehingga dia lebih tertarik menuliskan novel untuk itu. Di antaranya karya yang sudah lahir adalah Trilogi Soekram. Bocoran lagi bahwa tahun ini akan ada dua novel bertema politik dari Sapardi.

img_20160506_173332.jpg

Iklim saat ini, menurut Jokpin, sangat mendukung kelahiran penyair muda. Mentalitas dan etos kerja mereka akan menentukan berapa lama penyair akan bertahan. Puisi dikatakan bagus tergantung dari caranya menunjukkan penghayatan. Sapardi berujar bahwa yang terpenting dalam sastra adalah cara menyampaikannya. Anak muda sekarang memiliki akses yang mudah untuk belajar, terutama melalui media digital. Dulu dirinya hanya belajar dari Rendra karena menurutnya karya Rendra lebih mudah dipahami di antara puisi-puisi tahun 1950an yang cenderung gelap. Orang bisa menulis karena membaca, karena membaca dia akan terpengaruh, sehingga Sapardi menekankan bahwa dalam sastra kita harus terpengaruh dan mencuri (ilmu) dari orang lain. Jangan pinjam, lanjutnya, karena proses itu tidak boleh diketahui orang sehingga tidak menjadi plagiasi.

Sapardi mengatakan bahwa dirinya tahu teknologi kelas tinggi, sehingga menerbitkan buku sendiri tanpa asisten bukan menjadi masalah baginya. Malahan, sebelum diterbitkan penerbit besar, dia bisa menikmati seluruh keuntungan penjualan untuk dirinya sendiri.

Jokpin bercerita tentang pencapaiannya pada awal tahun 2000an saat dia menulis tentang telepon genggam yang semacam meramalkan era digital hari ini. Juga cita-citanya untuk menulis buku puisi dari twitter yang sudah tercapai.

Mengenai buku favorit, Jokpin lagi-lagi menyebutkan DukaMu Abadi sebagai buku yang paling menginspirasi. Dia bahkan sempat menunjukkan buku miliknya dalam edisi yang sudah jarang sekali ditemukan. Sedangkan buku favorit Sapardi adalah Balada Orang-Orang Tercinta (W.S. Rendra) dan Murder in Cathedral (T.S. Elliot). Menurutnya Elliot sebagai modernis Eropa menuliskan puisi-puisi yang tidak bisa ditangkap sepenuhnya, sehingga membuatnya semakin penasaran.

Di ujung perbincangan, Sapardi berpesan bahwa penulis harus menguasai kata-kata. Penulis juga bertugas menciptakan bahasa baru, mengembangkan bahasa klise menjadi segar, sehingga dapat menjadi bahasa hidup/sehari-hari, bukan hanya bahasa buku. Sebelumnya, Jokpin juga sempat menyinggung kita yang semakin lama semakin sensitif terhadap label. Kita bukannya menguasai kata-kata tetapi malah dipermainkan oleh kata-kata. Misalnya kata kiri yang selalu dianggap negatif, padahal kata tersebut tidak punya salah apa-apa. Ini menunjukkan bagaimana orang dikuasai oleh konotasi kata-kata.

img_20160506_192319.jpg

Duo Ari-Reda

Meski diwarnai dengan canda, obrolan ini nyatanya memang sangat berisi. Pengalaman memang tidak bisa berbohong. Setelah sambutan akhir yang sangat meriah hingga mengguncang teater kecil, acara ini kembali ditutup dengan penampilan yang keren dari Ari-Reda.

Demikian laporan terakhir saya tentang ALF yang saya hadiri Mei yang lalu, semoga bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya. Tengok juga bagian sebelumnya di Part 1, Part 2, dan Part 3. Terima kasih.

On Translating (Oleh-Oleh ALF 2016 Part 3/4)

Di hari terakhir saya di Jakarta pada 7 Mei 2016, saya masih menyempatkan mengikuti satu sesi ASEAN Literary Festival (ALF) 2016 lagi. Pagi itu sekitar pukul 10.00 WIB, Teater Kecil Taman Ismail Marzuki masih cukup sepi, padahal moderator dan para pembicara panel diskusi ‘On Translating’ sudah siap; Sanaz Fotouhi sebagai moderator, Kristian Sendon Cordero seorang penerjemah, penulis, sekaligus penyair dari Filipina, Dini Pandia editor Gramedia Pustaka Utama (GPU), dan John McGlynn pendiri Lontar Foundation. Acara pun sempat menunggu 15 menit sebelum kursi-kursi mulai terisi, dan semakin ramai pada pertengahan acara.

img_20160529_221423.jpg

Moderator memulai dengan menanyakan, apa pentingnya penerjemahan. Cordero mengatakan bahwa penerjemahan dapat menjangkau orang-orang yang berbicara dengan bahasa ibunya untuk ikut membaca karya sastra yang bagus. Karena Filipina merupakan negara multi bahasa, dan bahasa merupakan wujud ‘memiliki’ dalam masyarakat. Ditambahkannya bahwa karya terjemahan seharusnya menjadi bagian dari sejarah kesusastraan, karena terjemahan juga termasuk dalam sejarah perkembangan bangsa dan budaya. Mbak Dini mengatakan bahwa orang Indonesia jarang terpapar bahasa asing sehingga penerjemahan diperlukan, termasuk untuk mengenalkan budaya-budaya asing. Sedangkan McGlynn sebagai penerjemah bahasa Indonesia ke Inggris, berkebalikan dengan kedua pembicara yang lain, mengatakan bahwa penerjemahan adalah satu-satunya cara bagi penulis untuk ‘keluar’. ‘If you don’t write in English, you don’t exist.’ Maksudnya adalah eksistensi secara global, karena karya-karya penulis yang tidak diterjemahkan tidak bisa menjangkau pembaca di luar negaranya.

Berbicara mengenai sensor, mbak Dini menyebutkan bahwa di Indonesia, terutama GPU, harus cukup berhati-hati dengan konten seksual dan tema LGBTQ. Sedangkan di Filipina dikatakan bahwa pemerintah tidak membaca, sehingga bisa dikatakan tidak ada penyensoran, terkecuali karya-karya Jose Rizal yang merupakan bagian dari sejarah penting Filipina. McGlynn menyatakan bahwa di Indonesia pada masa Orde Baru banyak sensor dilakukan tetapi berdasarkan pada siapa penulisnya bukan karena isi tulisannya. Sebagai contoh Pramoedya Ananta Toer yang karya-karyanya menunjukkan semangat nasionalisme dilarang semata-mata karena posisi politik sang penulis. Dia juga menambahkan adanya horizontal censorship yang dilakukan oleh organisasi masyarakat, pemuka agama, tokoh tertentu, termasuk sesama penulis.

img_20160507_101845.jpg

left-right : Sanaz Fotouhi, Kristian Sendon Cordero, Dini Pandia, John McGlynn

Adanya penerjemahan karya tentu tak lepas dari permintaan pasar. Di Filipina, terjemahan yang cukup populer di antaranya The Little Prince dan The Metamorphosis (Kafka) yang diminati kalangan muda. Kebetulan Cordero sendiri yang menerjemahkan Kafka ini, dan dia menggunakan dua bahasa nasional untuk mewakili bahasa manusia dan bahasa serangga (Gregor Samsa sebelum dan setelah menjadi serangga). Ini adalah salah satu cara untuk menarik pembaca yang lebih luas. Sedangkan karya-karya Kahlil Gibran saat ini lebih sulit dijual ketimbang dulu. Penerbit GPU masih melihat buku romance dengan konten seksual sebagai terjemahan yang paling laku dijual. Sedangkan Lontar memiliki strategi khusus untuk menjual terjemahan sastra Indonesia ke luar negeri, yaitu dengan melabeli buku/penulis agar lebih menarik. Misalnya Eka Kurniawan, sebagus apa pun tulisannya, dia hanyalah satu di antara penulis asing yang jarang sekali diminati oleh warga Amerika yang menjual jauh lebih banyak karya penulis lokalnya. Namun dengan memberi label ‘young, beautiful, and talented author’, membuat Eka memiliki daya tarik tersendiri hingga pembaca Amerika mau mencoba membacanya.

Untuk menjangkau pembaca yang lebih luas, penerjemahan juga dilakukan ke dalam bahasa selain Inggris. Sayangnya di Indonesia masih sedikit penerjemah untuk bahasa asing non-Inggris. Ketiga narasumber sepakat bahwa terjemahan tidak semata-mata mengubah dari satu bahasa ke bahasa yang lain. Terjemahan bukan hanya mengadopsi karya sastra, tetapi juga apa yang dikandung di dalamnya. Terjemahan seharusnya dianggap sebagai karya tersendiri, karena menerjemahkan membutuhkan pemahaman akan akan teks, nilai, budaya, dan lain sebagainya. Apalagi sastra yang seringkali memiliki makna berlapis, belum tentu terjemahan yang apa adanya dapat menyampaikan maksud penulis dengan tepat. Itulah mengapa menerjemahkan karya penulis yang masih hidup relatif lebih mudah ketimbang penulis yang sudah meninggal. Pada penulis hidup, penerjemah dapat membuat perubahan agar maksudnya tetap sama dengan aslinya, meskipun itu harus mengubah teks, karena teks yang sama belum tentu memberi efek yang sama dalam budaya bahasa yang berbeda. Lain halnya dengan karya penulis yang sudah meninggal, karya ini mau tidak mau harus diterjemahkan apa adanya.

Menurut McGlynn, bahasa Indonesia adalah bahasa verbal dan mudah sekali membentuk rima, sehingga setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, sastra Indonesia perlu dibaca keras-keras untuk mempertahankan efek itu. Akan tetapi, hasil terjemahan yang menyasar pembaca berbahasa Inggris harus tetap terasa seperti buku berbahasa Inggris. Di Filipina, Cordero membaca buku yang akan diterjemahkan dengan pemikiran lokal sehingga bisa menyentuh pembaca lokal. Ditambahkannya bahwa terjemahan yang indah biasanya tidak ‘jujur’, karena terjemahan yang jujur alias apa adanya tidak akan tampak indah.

Masih mengenai merangkul pembaca yang lebih banyak, beberapa penulis memilih menulis dalam bahasa Inggris untuk memotong proses penerjemahan, meski itu bukan bahasa ibunya. Di Filipina, penulis semacam ini belum pernah berhasil. Menurut McGlynn, nilai para penulis Indonesia adalah karena mereka menulis dan berbicara dalam bahasa Indonesia. Dengan menulis dalam bahasa Inggris, penulis Indonesia menjadi ‘biasa saja’, menjadi satu di antara sejuta. Menurutnya tidak ada jalan pintas dalam industri perbukuan. Seorang penulis harus populer di negaranya sendiri jika dia menginginkan pembaca dari luar negeri. Penerjemahan secara tandem bisa menjadi jalan cepatnya, baik secara langsung atau menggunakan bahasa Inggris sebagai ‘jembatan’. Menulis dalam bahasa asing dengan menerjemahkan buku ke bahasa asing adalah dua hal yang berbeda.

Mengenai pemilihan buku yang akan diterjemahkan, Cordero lebih berdasarkan ketertarikan personal, sehingga dia bisa menyebarkan kecintaan terhadap suatu karya kepada orang-orang yang tidak memiliki akses atau pendidikan di kelasnya (dia juga seorang pengajar sastra). Hampir serupa, GPU juga mempertimbangkan selera pribadi yang disesuaikan dengan pasar, dan tidak lupa memilih penerjemah yang tertarik dengan genre tersebut sehingga hasil terjemahan akan relatif lebih memuaskan. Sedangkan Lontar biasanya menerjemahkan buku yang dinilai baik oleh para kritikus sastra, dan/atau yang menarik bagi penerjemahnya.

Pada akhirnya, sebagaimana selalu disinggung sebelumnya, buku terjemahan mau tidak mau berhubungan dengan pasar. Tanpa adanya pembeli/pembaca, penerjemah tidak bisa hidup, karena sebagian besar waktu harus mereka curahkan untuk menerjemahkan. Seberapa besar penerbit dapat membayar penerjemah? Idealnya tarif penerjemah full-timer adalah sesuai dengan biaya hidup yang mereka perlukan selama mereka mengerjakan terjemahan, tetapi pada praktiknya tarif itu jauh di bawah yang seharusnya. Inilah salah satu kendala dalam industri perbukuan, terutama Lontar yang menerbitkan buku-buku yang ‘sulit dijual’. Oleh karena itu mereka tidak menjual dengan cara tradisional dengan distribusi ke toko buku yang memakan biaya banyak, tetapi cenderung menggunakan metode print on demand. Cordero dan mbak Dini sepakat bahwa cover buku adalah salah satu investasi untuk ‘menjual’ suatu buku. Termasuk jika buku tersebut difilmkan, GPU menggunakan momen tersebut untuk meraih pasar. Bicara tentang cover, mbak Dini sempat memberi bocoran bahwa tahun depan akan ada terbitan ulang Harry Potter dengan cover karya ilustrator lokal.

Meski diawali dengan ‘tenang-tenang saja’, diskusi ini pun akhirnya diwarnai dengan tanya-jawab maupun sharing yang cukup seru dari para audience. Tema yang sangat menarik dan membuka wawasan, yang sedikit banyak menunjukkan juga ‘mahalnya’ sebuah idealisme. Dan sekali lagi mengingatkan betapa besarnya jasa penerjemahan terhadap wawasan perbukuan kita. Saya jadi ingat post yang bagus dari Listra di sini. Sebagai pembaca, semakin lama saya juga semakin sadar ‘mahalnya’ sebuah buku yang diterjemahkan secara ‘ideal’.

Lihat juga Oleh-Oleh Part 1/4 & Oleh-Oleh Part 2/4.

Old World, New Narrative (Oleh-Oleh ALF 2016 Part 2/4)

Melanjutkan post sebelumnya (link to Part 1) mengenai kunjungan saya ke ASEAN Literary Festival (ALF) 2016, jika sebelumnya saya menuliskan tentang diskusi mengenai membaca secara umum, maka kali ini akan membahas penulisan literature atau karya sastra dalam panel bertajuk ‘Old World, New Narrative’ yang menghadirkan Budi Darma (BD) dan Triyanto Triwikromo (TT), serta dipandu oleh Pringadi Abdi Surya dan Guntur Alam, bertempat di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki.

img_20160529_222210.jpg

Kedua narasumber berbicara tentang kecenderungan sastra masa kini dibandingkan dengan masa lalu. Menurut TT, mengikuti perkembangan teknologi saat ini yang serba cepat, maka bentuk sastra pun menjadi lebih bergegas, instan, menekankan pada dunia virtual, berfokus pada bentuk, tapi tanpa kedalaman. Sebenarnya, teknologi seharusnya bisa menjadi salah satu sarana, dengan memanfaatkan dunia virtual tersebut, memadukan teks, bunyi dan warna, kemudian menggunakannya untuk pendalaman subjek dan masalah.

BD menambahkan bahwa para penulis masa lalu menulis berdasarkan penghayatan, artinya pengalaman hidup dan pemikiran mendalam menjadi dasar untuk menghasilkan karya yang memiliki kedalaman. Saat ini, banyak penulis menulis berdasarkan penelitian, kemudian mengolah imajinasi dan realitas menjadi suatu karya yang dapat dipertanggungjawabkan. Namun, ketiadaan penghayatan akan menghasilkan karya yang kurang secara substansi, meskipun gaya bahasanya indah. BD juga mengutip ucapan Subagio Sastrowardoyo tentang cerpen pada tahun 1950an dengan cerpen-cerpen setelah terbitnya majalah Horizon. Pada tahun itu, anak-anak muda asuhan H.B. Jassin menulis cerpen mengenai pengalaman pribadi. Menulis bagi mereka adalah bakat alami, sehingga mereka hanya perlu mengolah hal sehari-hari menjadi kisah yang apik. Namun, kelemahan dari metode itu adalah saat semua pengalaman habis ditulis, sulit melanjutkan menulis, karena tidak ada eksplorasi. Setelah itulah muncul yang dinamakan golongan intelektualisme, yaitu menulis dengan melalui proses eksplorasi dan penghayatan.

Cukup banyak isu yang diangkat oleh moderator untuk dikaji mendalam oleh para penulis senior tersebut. Di antaranya adalah kecenderungan beberapa penulis masa kini yang menerbitkan beberapa buku dalam setahun. Apakah waktu menulis yang singkat akan mempengaruhi penghayatan dan kedalaman tulisan? BD mengatakan bahwa ‘kejar tayang’ dalam menulis tidak semuanya buruk. Sebagai contoh, Lan Fang yang sangat produktif karena menyadari bahwa usianya tidak akan lama lagi, dan tetap menghasilkan karya-karya yang baik. Kualitas dan kuantitas tidak selalu memiliki hubungan. TT mengatakan bahwa meski seorang penulis mengeluarkan beberapa buku dalam setahun, prosesnya mungkin sudah bertahun-tahun sebelumnya. Seperti tahun ini dia akan menerbitkan empat novel, sesungguhnya proses menulisnya sudah belasan hingga puluhan tahun yang lalu. Dicontohkan pula Remy Silado yang memiliki beberapa mesin ketik untuk menuliskan karya yang berbeda dalam waktu bersamaan, sehingga hasilnya bisa jadi hampir bersamaan. Jadi, waktu penerbitan tidak menunjukkan kualitas, pendalaman dan riset akan terlihat melalui karya, “Karya tidak bisa berbohong,” ujarnya.

Sedikit bocoran, TT sedang menulis novel berjudul Kafka-Kafka yang akan bercerita tentang Franz Kafka yang berubah menjadi sapi, dan bertemu dengan Gregor Samsa, tokoh rekaannya dalam The Metamorphosis.
img_20160506_130546.jpg

ki-ka : Pringadi Abdi Surya, Triyanto Triwikromo, Budi Darma, Guntur Alam

Berbicara mengenai pembaca, ada anggapan bahwa sastra Indonesia cenderung terlalu berat, sehingga pembaca Indonesia kebanyakan lebih suka dengan karya-karya pop. TT mengatakan bahwa ada tiga kategori pembaca: 1. Pembaca takabur, yaitu pembaca yang berpusat pada dirinya sendiri, dia hanya membaca sesuai kapasitasnya dan tidak mau membuka diri untuk bentuk yang lain, 2. Pembaca tabah, yaitu pembaca yang dengan sabar membaca berulang-ulang demi mendapatkan pemahaman atas suatu karya, dan ditambahkannya dengan nada bercanda, 3. Pembaca pembunuh, yaitu yang memberi asumsi atas suatu karya sesuai dirinya sendiri, tanpa memberi kesempatan bagi karya tersebut untuk menunjukkan dirinya. Dia berpesan agar jangan membatasi para penulis, untuk membiarkan penulis ‘berakrobat dengan kata hingga mencapai titik hening’. Pada titik hening inilah dia akan menemukan kesempurnaan. Sejatinya, penulis juga ingin bisa berbahasa sederhana tapi tetap substansial. Penulis pun boleh mengikuti tuntutan pembaca, tapi dia memberi penekanan agar ‘masukilah dunia populer, tapi jangan melacur di dalam budaya tersebut’.

BD menekankan bahwa minoritas tidak identik dengan ketidakberdayaan. Menurutnya, karya-karya sastra yang dikatakan ‘berat’ dan sedikit pembacanya justru masih bertahan dan terus dibaca dari masa ke masa, sedangkan novel pop hanya hidup pada masa tertentu, selebihnya hilang. Memang diakuinya bahwa dengan semakin cepatnya komunikasi dan informasi, bahasa ikut berubah semakin cepat, sehingga bahasa-bahasa lama akan sulit dipahami generasi berikutnya. Di sinilah mungkin diperlukan adanya kompromi, salah satunya adalah dengan menyederhanakan karya sastra lama untuk dibaca generasi muda (semacam abridged untuk karya klasik dunia mungkin). TT menambahkan bahwa lawan terbesar kita saat ini adalah kecepatan dan kecerdasan, dengan sosial media, kita menjadi terlalu cepat mengomentari suatu kejadian/masalah. Hal ini bisa dilawan dengan melalui teks yang cepat, melalui karya yang terbuka, sehingga memungkinkan orang lain untuk masuk dan melanjutkan karya tersebut, sehingga lebih bisa mengikuti tuntutan zaman. Namun, teks cepat tetap harus memiliki substansi, karena tulisan yang cepat tanpa substansi akan tenggelam dalam zaman, karena kita tidak menulis untuk apa-apa.

Kemudian, bagaimana cara kita menemukan tema yang bagus dan substansial tersebut? Menurut BD, masalah di dunia ini sangat banyak, penulis yang tidak cakap menangkapnya akan seperti ‘anak ayam mati di lumbung padi’, karena pilihan yang sangat banyak hingga sulit memilih. Penulis hanya perlu menemukan satu masalah yang dapat digali lebih dalam. ‘Masalah’ dapat juga diartikan sebagai musuh untuk dilawan. Jika karya sastra di masa lampau berpusat pada Belanda atau priyayi (hasil rekayasa Belanda) sebagai musuh utama, maka musuh utama di masa kini adalah diri sendiri.

TT mengatakan bahwa karya sastra yang ideal adalah yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Sastra yang ideal harus menjadi cermin zaman, suara zaman, sekaligus menemukan bentuk zaman tersebut. Sastra adalah ketegangan dua dunia, mendobrak, membaharu. Namun, agar mengetahui benar kita telah melakukan pembaharuan dan menemukan orisinalitas, sangat penting untuk mengenali karya sastra masa lalu, untuk menjadi diri kita saat ini. “Sejarah jangan dianggap sebagai lorong masa lalu yang melelahkan, tapi anggap sebagai lorong masa depan”.

Saya sangat mengagumi cara BD berbicara dan menjawab pertanyaan. Diberikannya analogi, anekdot, atau kutipan dari orang lain, untuk kemudian menutupnya dengan singkat tapi langsung tepat sasaran. Sesekali saat moderator mengarahkan pertanyaan dengan sentimen tertentu, BD berhasil menjawab dengan bijaksana tanpa memperuncing sentimen tersebut. Begitupun TT yang walau kebijaksanaannya tak sefasih BD, tetapi tetap menunjukkan sikap netral dan bijak dalam mengarahkan sentimennya. Salah satu yang disentilnya adalah masalah pasar, penerbit, dan honor. Baginya, tak masalah apakah bukunya diterbitkan penerbit besar (yang honornya kecil tapi distribusinya merata) ataupun penerbit kecil (yang honornya lebih besar tapi penjualannya terbatas). Karya menjadi besar atau kecil tergantung kebutuhan pembaca. Sebagaimana karya pop mungkin dibutuhkan oleh orang tertentu, hingga terlepas dari kekurangannya, sah-sah saja orang mau menulis novel populer.

“Penempatan besar atau kecilnya karya sastra ditentukan oleh pembaca.” –Triyanto Triwikromo

Pun sebuah karya yang baik idealnya ditemukan oleh orang lain yang punya otoritas untuk menentukan kelayakannya, misal editor. Penulis yang baik tidak memuji dirinya sendiri, TT memberi istilah sastra selfie atau narsistik. Tugas penulis adalah menemukan substansi agar tidak kehilangan kemanusiaan.

Sebelumnya, BD menyinggung bahwa agar tidak kehilangan arah, kita harus melihat karya-karya di atasnya (“ibu bapak”). Sebagai contoh, Austria seabad lalu sangat menyukai kisah tentang laut karena negara tersebut tidak memiliki laut, tetapi kini berubah karena teknologi dan informasi makin maju. Rudyard Kipling terkenal pada masanya karena memberi gambaran tentang eksotisme India yang masih ‘asing’ untuk Eropa masa itu, tetapi kini karya Kipling lebih dinikmati karena ide imperialismenya. John Steinbeck menulis tentang Amerika pada masa resesi, hingga pada beberapa tahun lalu karyanya dicari kembali akibat kemunduran ekonomi yang dialami kembali di Amerika. “Ibu bapak” inilah yang tidak ditemukan pada karya populer, dia berdiri sendiri, hingga tidak punya arah.

Imajinasi penulis tidak selalu berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Itulah pentingnya membaca dan menghayati kehidupan. Bagi penulis muda, sangat dianjurkan untuk membaca sastra canon, yaitu sastra yang melahirkan berbagai karya lain sesudahnya. Sebagaimana yang disinggung TT di awal mengenai menemukan orisinalitas.

“Karya yang penting dibaca oleh penulis adalah yang memberi inspirasi.” –Budi Darma

Jika boleh saya ringkas, untuk membuat sebuah karya yang substansial dan tak lekang oleh masa, langkah-langkahnya adalah: membaca karya-karya canon—mencari ‘asal mula’ kita di masa lampau, menghayati subjek dan masalah, menemukan orisinalitas dengan terus menulis, dan hayatilah segala proses tersebut. Panel yang sangat menarik dan bermanfaat bagi para (calon) penulis untuk merenungkan kembali karyanya, dan bagi pembaca untuk menemukan ‘diri’ melalui sastra.

img_20160506_173213.jpg

A Nation that Doesn’t Read (Oleh-Oleh ALF 2016 Part 1/4)

Awal Mei ini, saya menyempatkan diri terbang ke Jakarta untuk menjalani sebuah ‘literary vacation’. Saya sebut saja begitu, karena memang rangkaian acara yang saya jalani, bahkan orang-orang yang saya temui, berhubungan dengan buku seluruhnya. Salah satu acara yang saya hadiri adalah ASEAN Literary Festival (ALF), yang sejak jauh-jauh hari sudah saya jadwalkan untuk mengikuti tiga acara pada tanggal 6 Mei 2016. Pada akhirnya ada satu acara ekstra yang saya hadiri pada tanggal 7 Mei. Awalnya saya berniat menulisnya berurutan sesuai waktu, tetapi kemudian saya berubah pikiran karena ada prioritas-prioritas tertentu dalam setiap acara.

nation doesn't read

Diskusi ‘A Nation That Doesn’t Read’ yang bertempat di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki ini mengangkat sebuah penelitian yang ramai belum lama berselang, oleh Central Connecticut State University (CCSU) bahwa Indonesia menempati peringkat 60 dari 61 negara yang termasuk dalam World’s Most Literate Nations (WMLN) (source). Oleh karena pembahasan ini lebih bersifat umum, dan tentu saja—mengingat peringkat kita—sangat penting untuk dikaji dan disimak oleh seluruh warga negara Indonesia, saya membuat laporannya pertama kali (walaupun jadinya terlambat sekali). Panel diskusi ini terdiri atas Päivi Hiltunen-Toivio—duta besar Finlandia untuk Indonesia, seorang dosen dari Bandung asal Korea Selatan—Youngduk Shin, John McGlynn—pendiri Lontar Foundation, serta Endy Bayuni—chief editor The Jakarta Post, yang dipandu oleh Mary Farrow sebagai moderator.

Sebagai peringkat pertama WMLN, dubes Finlandia diberi kesempatan untuk menyampaikan apa yang sekiranya membuat Finlandia bisa menduduki peringkat tersebut. Ms. Päivi menyebutkan bahwa “Finland is a country of reading.”, negaranya memiliki jumlah perpustakaan hampir setengah dari jumlah penduduk, koran dan komputer merupakan hal yang umum berada di rumah-rumah Finlandia, serta masyarakat di sana sangat mendukung kegiatan membaca, meskipun dalam hal menulis mereka masih kurang. Sistem pendidikan mereka—yang juga merupakan yang terbaik di dunia—menjamin adanya kesempatan yang sama untuk semua warga negara, sekolah gratis, tidak ada sekolah elit/swasta, kualitas sekolah sama sehingga anak-anak memasuki sekolah yang dekat dengan rumah mereka. Anak-anak masuk sekolah pada usia 8 tahun, tetapi sebelumnya anak-anak sudah mengerti bagaimana cara membaca dari rumah. Membaca di sini bukan sebatas membaca huruf, kata, kalimat, tetapi membaca dalam arti yang lebih luas, yaitu memahami konteks melalui buku. Literature atau kesusastraan merupakan bagian penting dalam pendidikan, membaca dan mendengarkan dongeng adalah salah satu permulaannya. Kualitas para guru bisa diandalkan karena bahkan guru TK pun adalah lulusan universitas. Di samping itu, mereka menjamin adanya dukungan fasilitas untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus. Meski begitu, Finlandia akhir-akhir ini mendapatkan tantangan karena minat baca anak-anak mudanya mulai menurun.

Sumber dari Korea mengatakan bahwa di Korea, populasi pembaca meningkat pada tahun 1970-1980an dikarenakan pada tahun tersebut kualitas novel Korea meningkat. Pada saat itu, novel membahas isu-isu sosial. Masalah-masalah sosial kala itu dianggap cukup penting, sehingga kehadirannya dalam sebuah novel mampu menarik pembaca. Namun pada era tahun 1990an, tema-tema dalam novel berubah, kualitasnya menurun, yang berakibat pula pada menurunnya populasi pembaca di Korea. Dosen ini menyimpulkan bahwa jumlah populasi pembaca berbanding lurus dengan kualitas novel.

Mr.John yang asli Amerika tetapi menghabiskan 40 tahun di Indonesia melihat masalah ini dalam kacamata yang cukup jernih menurut saya, dikarenakan ada pembanding yang juga dipahaminya. Dia mengatakan bahwa masalah literasi di Indonesia bermula dari orang tua yang tidak membaca untuk anaknya. Promoting literacy is promoting literature. Literature tidak diajarkan di sekolah, padahal memahami karya sastra itu bukan bakat, dia harus diajarkan. Perkembangan ekonomi yang mendorong keluarga memiliki pembantu rumah tangga menyebabkan anak diasuh oleh pembantu yang bahkan tidak bisa membaca. Di sisi lain, banyak pembaca lebih memilih membaca karya dari luar ketimbang karyanya sendiri. Menurutnya, orang Indonesia kurang percaya diri, padahal bahasa Indonesia adalah bahasa yang sangat kaya. Kita kurang menggali kesusastraan milik kita sehingga kita kehilangan identitas, sebab “You know who you are by knowing who you were”.

Pak Endy menambahkan bahwa karya-karya sastra Indonesia masih sulit menembus pasar global sebelum Frankfurt Book Fair 2015 yang mengundang Indonesia menjadi tamu kehormatan. Menurutnya, penelitian CCSU ini semacam menyadarkan kita, karena pada umumnya angka literasi diukur berdasar kemampuan baca tulis, dan menurut UNESCO angka literasi Indonesia mencapai 94%. Akan tetapi CCSU memasukkan kriteria akses perpustakaan, komputer, koran, dan sistem pendidikan sehingga Indonesia masuk dalam peringkat bawah. Dia juga sedikit menyinggung tentang data di artikel ini. Dia mengatakan bahwa setiap generasi pemerintah tahu bahwa Indonesia memiliki masalah dalam pendidikannya, tetapi tidak bisa mengatasinya. Menurutnya, beberapa masalah tersebut antara lain: terbatasnya akses terhadap buku bacaan, industri buku yang lebih berdasarkan profit, kurangnya perhatian dan penghargaan terhadap para penulis, kurangnya kemampuan berpikir kritis sehingga kita rentan terhadap manipulasi pendapat, kemiskinan, kurangnya rasa bersaing terhadap masyarakat dunia, serta kurangnya kemampuan menyaring informasi yang terdapat di internet.

left-right : Mary Farrow, Päivi Hiltunen-Toivio, Youngduk Shin, Korean translator, John McGlynn, Endy Bayuni

Saya mencatat banyak hal selama acara karena menurut saya semua yang disampaikan panel memang sangat penting, dan saya mengaminkan sebagian besar perkataan mereka. Salah satu poin mengenai peran keluarga dalam literasi yang saya garis bawahi adalah bahasa ibu. Hampir semua narasumber sepakat bahwa anak harus menguasai bahasa ibu sebelum mempelajari bahasa lain. Bukan berarti anak tidak boleh belajar bahasa asing, tetapi bahasa ibu, juga bahasa lokal, sangat penting peranannya dalam literature. Bahasa bukan sekadar kata-kata, dia adalah identitas yang menunjukkan jati diri seseorang. Bahkan menurut John McGlynn, dengan adanya berbagai bahasa daerah di Indonesia, dapat menjadi sumber tak terbatas untuk karya sastra kita. Pun demikian, kita hanya perlu mempelajari satu bahasa nasional untuk mengkomunikasikannya. Dia juga menyinggung orang tua masa kini yang mengajarkan anak mereka bahasa Inggris padahal itu bukan bahasa ibu para orang tua tersebut, akibatnya, anak-anak terbiasa berbicara dengan ‘broken English’. Endy Bayuni menambahkan pentingnya belajar, menghargai, dan menggunakan suatu bahasa dengan baik dan benar. Panel juga sempat menyinggung soal karya terjemahan dan peranannya dalam literasi dan kemampuan berbahasa.

Kembali ke permasalahan yang disinggung sebelumnya soal penghargaan terhadap para penulis, McGlynn menyoroti bahwa di Indonesia, nama jalan hampir semua nama pahlawan, tidak ada nama sastrawan di sana. Yang mengejutkan saya dari ide itu adalah bahwa ternyata di Finlandia, mereka punya nama-nama jalan berdasar para sastrawan mereka! Kemudian membahas tentang perpustakaan, dengan kemajuan teknologi saat ini, perpustakaan tak harus berwujud fisik—termasuk penyebaran buku—dapat secara digital untuk menekan biaya. Perpustakaan keliling juga masih relevan, dan yang mengejutkan saya sekali lagi, Finlandia yang jumlah perpustakaan umumnya sudah sangat banyak masih memiliki perpustakaan keliling.

Sesi tanya-jawab berlangsung cukup meriah juga dengan ide-ide dan pengalaman mengagumkan yang mereka bagi. Salah satu yang menarik (yang juga saya sadari belakangan ini) ada seorang arsitek (kalau tidak salah) yang menceritakan perjalanannya membaca fiksi. Awalnya, dia—sebagaimana orang Indonesia pada umumnya—meninggalkan buku fiksi setelah dewasa dan menjadi ‘serius’ dengan membaca buku pengetahuan/nonfiksi yang sesuai dengan bidang masing-masing, atau hal-hal praktis semacam ‘how to’ atau buku motivasi. Tanpa disadari, kita menjadi pragmatis dan hanya memahami ‘bahasa’ kita masing-masing. Si penanya ini pun menceritakan saat dia kembali ke fiksi, dia menemukan bahwa karya fiksi menumbuhkan empati kita, karena kita ‘masuk’ ke dalam kehidupan orang lain, ke dalam bidang-bidang yang tidak kita kuasai. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kurangnya empati bangsa kita salah satunya adalah karena kita tidak membaca.

Pekerjaan rumah kita masih banyak sekali, tetapi bukan berarti kita tidak bisa maju. Panel diskusi ini memberi sebuah harapan bahwa masih banyak orang yang peduli, dan ternyata banyak orang yang bergerak demi kemajuan bangsa Indonesia melalui literasi, walaupun yang terlihat di luar sana adalah sebaliknya.

(Baca juga LPM Essy di sini)