Category Archives: Read Along

The BFG – Roald Dahl

bfgTitle : The BFG (Raksasa Besar yang Baik)
Author : Roald Dahl (1982)
Translator : Poppy Damayanti Chusfani
Editor : Dini Pandia
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan kedua, Agustus 2010
Format : Paperback, 200 pages

“Jika ada yang MELIHAT raksasa, dia harus dibawa bratbret segera.” (p.30)

Sophie tidak bisa tidur malam itu. Bulan bersinar cerah, dan dia tergoda untuk turun dari tempat tidur dan melihat melalui jendela. Apa yang dilihatnya sungguh tidak masuk akal. Raksasa?! Raksasa itu melihat Sophie melihatnya. Dia harus dibawa ke Negeri Raksasa.

Raksasa adalah pemakan manusia. Jumlah mereka tidak banyak karena mereka tidak berkembang biak, tetapi umur mereka panjang, dan setiap malam mereka akan berpencar ke penjuru negeri untuk berburu ras manusia favorit mereka masing-masing. Menurut mereka, setiap manusia dari setiap negara memiliki rasa khasnya masing-masing. Para raksasa itu, The Fleshlumpeater (Si Pemakan Bongkahan Daging), The Bonecruncher (Si Peremuk Tulang), The Childchewer (Si Pengunyah Anak Kecil), The Bloodbottler (Si Peminum Darah), dan kelima kawan mereka yang lain tidak akan membiarkan Sophie hidup, tetapi beruntung dia bertemu The BFG—Big Friendly Giant—yang melindunginya karena dia satu-satunya raksasa yang tidak makan manusia.

Petualangan Sophie dan BFG dimulai saat keduanya sepakat melakukan sesuatu untuk menghentikan kawan-kawan raksasa yang tidak hanya membuat kekacauan bagi umat manusia, tetapi juga suka mengganggu BFG karena tubuhnya yang kecil. Rencana mereka melibatkan kecerdikan Sophie, serta keahlian BFG dalam sesuatu yang dilakukannya setiap siang dan malam hari, juga keberanian keduanya untuk mengambil risiko.

Hal menarik yang tersebar dalam buku ini adalah dialog antara Sophie dan BFG. Selain lucu dan dipenuhi oleh kata-kata ‘ajaib’, karena BFG sering salah mengeja kata dan susunan kalimatnya aneh, terdapat banyak sindiran terhadap umat manusia secara umum. Sebagai raksasa dengan norma kehidupan yang berbeda dari manusia, tentunya raksasa melihat ada banyak hal yang aneh dari manusia, yang ironisnya memang benar.

“Tomat manusia satu-satunya binatang yang membunuh sesama.” (p.78)

Saya rasa, dalam bahasa aslinya, buku ini pasti sudah cukup ajaib dengan permainan katanya. Untungnya, versi terjemahan ini merepresentasikannya dengan sangat apik. Penerjemah favorit saya berhasil menyusun kalimat-kalimat ajaib tersebut menjadi cukup ajaib dalam bahasa Indonesia dan ungkapan-ungkapan umum bahasa Indonesia, sehingga terasa sebagai sebuah karya yang ‘utuh’. Seperti ‘human bean’ yang diterjemahkan menjadi ‘tomat manusia’ karena lebih cocok untuk terjemahan yang benar dari ‘human being’, yaitu ‘umat manusia’.

Banyak yang berpendapat buku ini memuat tema-tema sensitif seperti ras dan suku bangsa, yang mungkin masih relevan di masa terbitnya buku itu pertama kali, tetapi tidak hari ini. Saya sendiri setuju dan tidak setuju. Saya setuju bahwa ada hal yang mungkin bisa menyinggung, di sisi lain saya melihat itu dapat menjadi media untuk anak mengenal berbagai macam suku bangsa. Saya pribadi sebenarnya tidak terlalu terpengaruh karena penulis tidak menyinggung bangsa Indonesia, hehe.

Buku ini cukup menyenangkan untuk dinikmati, seperti buku anak-anak yang baik pada umumnya, dia memberi hiburan sekaligus hal-hal tersembunyi untuk digali. Dia memberi petualangan yang menegangkan, dan detail yang menakjubkan; baik tempat, karakter, maupun ‘keajaiban’ dan ‘bakat’ yang ada pada karakter-karakter tersebut. 4/5 bintang untuk imajinasi yang menggelitik kemanusiaan manusia.

Sophie terdiam. Raksasa luar biasa ini mengacaukan keyakinannya. Ia seperti menyeret Sophie ke dalam misteri yang berada di luar jangkauan pikirannya. (p.101)

Review #39 of Children’s Literature Reading Project

Little Women – Louisa May Alcott

Review in Indonesian and English.Little Women

Title : Little Women
Author : Louisa May Alcott (1868-1869)
Publisher : Penguin Classics
Edition : 42nd printing, © 1989
Format : Paperback, xxxvi + 508 pages

Little Women merupakan salah satu bildungsroman alias coming-of-age story yang populer pada masanya, bahkan hingga saat ini. Karya ini merupakan semi-autobiografi penulis, sehingga pada beberapa bagian, kita dapat menemukan persamaan dengan kehidupan pribadi penulis, meski sebagian lainnya tetap merupakan fiksi. Pada awalnya, buku ini terbit menjadi dua bagian; di mana bagian kedua diberi judul Good Wives oleh penerbit di Inggris. Edisi yang saya baca ini merupakan penyatuan dari dua bagian buku itu, dengan bagian kedua dimulai di halaman 236. Edisi ini juga diperkaya dengan pengantar dan catatan kaki yang menjelaskan kata-kata dan referensi yang mungkin kurang umum pada masa sekarang. Menilik catatan itu, saya melihat bahwa Alcott relatif banyak menggunakan referensi karya-karya Charles Dickens dalam bukunya.

Buku ini berkisah tentang tahun-tahun anak-anak March menjadi dewasa. Pasangan March memiliki empat orang anak gadis dengan karakteristik yang berbeda-beda; Meg yang paling dewasa dan paling kehilangan masa-masa kejayaan Mr. March yang sekarang telah bangkrut, Jo yang tomboy dan bebas, Beth yang kalem dan pemalu, serta Amy si bungsu yang manja. Mr. March termasuk sebagai salah seorang yang bertugas pada Perang Sipil di Amerika saat itu, sehingga keempat anak tersebut—yang saat itu berusia 12-16 tahun—tinggal bersama Mrs. March (Marmee) dan Hannah, pembantu mereka sejak kecil.

Mrs. March tak hanya membesarkan mereka, tetapi juga mendidik keempat putrinya dengan caranya sendiri. Dalam kondisi keluarga yang sedang prihatin, mereka dididik untuk tetap bersemangat menjalankan tugas-tugas mereka dengan penuh tanggung jawab. Meski Meg sebagai guru privat mendapatkan anak didik yang nakal, Jo harus berkutat di rumah Aunt March yang membosankan, keduanya mendapatkan teladan dari ibu mereka yang tak habis membuat keduanya kagum. Beth yang sangat minder hingga tak bisa bergaul di sekolah tetap mendapatkan pendidikan di rumah, sambil membantu pekerjaan rumah. Hanya Amy yang masih bersekolah.

Mrs. March knew that experience was an excellent teacher, and, when it was possible, she left her children to learn alone the lessons which she would gladly have made easier, if they had not objected to taking advice as much as they did salts and senna. (p.259)

Perubahan terjadi saat Jo berkenalan dengan tetangga mereka, Laurie, yang tinggal bersama kakeknya yang kaya raya, Mr. Laurence. Kesamaan sifat membuat Jo cepat akrab dengan Laurie, dan otomatis membuat Laurie dekat dengan keluarga March, bahkan termasuk Beth. Akan tetapi, kisah mereka tidak melulu dihiasi kebahagiaan. Setiap anggota keluarga mendapatkan ujiannya masing-masing, yang menguji kedewasaan dan membuat mereka lebih baik. Seperti Meg yang diuji dengan kemewahan yang sangat diidam-idamkannya, Jo dengan kesabarannya yang pendek, atau Amy dengan kebanggaannya.

“That is perfectly natural, and quite harmless, if the liking does not become a passion, and lead one to do foolish or unmaidenly things. Learn to know and value the praise which is worth having, and to excite the admiration of excellent people, by being modest as well as pretty, Meg.” (p.97)

Cobaan terbesar, yang juga merupakan klimaks dari kisah bagian pertama adalah saat Mr. March terluka hingga membutuhkan perawatan khusus, sedangkan Beth terkena scarlet fever saat Marmee sedang ke luar kota merawat ayahnya. Penyakit yang pada saat itu—sebelum era antibiotik—termasuk salah satu penyakit mematikan, merupakan ujian berat bagi keluarga March yang saling terikat secara emosional satu sama lain.

Title page: Little Women (1868), by Louisa May Alcott (1832-1888). Boston: Roberts Brothers, 1868. *AC85.Aℓ194L.1869, Houghton Library, Harvard University

Pada bagian kedua (yang sebenarnya sudah ditandai pada akhir bagian pertama), satu per satu putri-putri March bertambah dewasa, yang ditandai dengan pernikahan Meg. Bagi Jo yang berjiwa bebas, kehilangan kakak satu-satunya adalah hal yang berat. Pun bagi Meg yang mengalami berbagai masalah rumah tangga sebagaimana layaknya pasangan yang baru menikah. Pada bagian ini, pengejaran mimpi dan cita-cita mereka juga disorot dengan lebih dalam, terutama Jo dengan semangatnya di bidang menulis, dan Amy dengan bakat seninya.

“Never till I’m stiff and old, and have to use a crutch. Don’t try to make me grow up before my time, Meg; it’s hard enough to have you change all of a sudden; let me be a little girl as long as I can.” (p.153)

Hal yang menarik dari buku ini adalah ikatan antar anggota keluarga yang sangat kuat, persahabatan dengan keluarga Laurence yang sangat tulus, serta bumbu-bumbu kehidupan yang beraneka rasa. Penulis memotret bagian-bagian menarik dari kehidupan keluarga March ke dalam bab-bab yang relatif pendek. Mungkin ada beberapa bagian yang terasa membosankan, tetapi lebih banyak bagian yang seru, bagian yang menyenangkan (terutama kreativitas permainan masa kecil mereka), bagian yang kocak, sedih, hingga mengaduk-aduk emosi. Bagian paling mengharukan bagi saya adalah yang melibatkan Beth dan Mr. Laurence, sedang yang paling kocak adalah yang melibatkan Jo dan cinta. Dan bagian favorit saya, sekaligus paling berkesan dan selalu saya ingat ada di sebelum bab terakhir bagian kedua, Under the Umbrella.

And here let me premise, that if any of the elders think there is too much “lovering” in the story, as I fear they may (I’m not afraid the young folks will make that objection), I can only say with Mrs. March, “What can you expect when I have four gay girls in the house, and a dashing young neighbor over the way?” (p.236)

Di antara bab-bab dalam buku ini kadang disertai bab yang berisi korespondensi, terutama bagian yang terlalu panjang jika diceritakan dengan narasi, dan terasa lebih baik jika dipadatkan dalam bentuk surat-menyurat. Selain lebih ringkas, format penulisan surat secara tidak langsung menunjukkan kepribadian penulisnya dengan lebih kuat, serta suasana hati dengan lebih gamblang. 4/5 bintang untuk perjalanan panjang gadis-gadis March.

This is *only* my second read of Little Women, after I read the abridged version years ago. I read this along with Hamlette since March 2015, and my first experience of discussing chapter per chapter. From this reading, I got so many details that I may lose if I read it by myself, despite the introduction and notes included on my edition.

This book portrays the life of the Marches in its own way. It’s everyday life, with obvious morals here and there, it may seem a little bit preachy for some people, but not for me. Since, the author told the morals through Mrs. March, and it is natural for a mother to preach her children. I love the characterizations of the March girls. Each girl has her part in the story, together they make a heart-warming story of family, friendship, and love.

Frontispiece illustration from part 1 of Little Women by Louisa May Alcott (1832-1888), illustrated by her sister May Alcott. Boston: Roberts Brothers, 1868 *AC85.Aℓ194L.1869, Houghton Library, Harvard University

“… You are the gull, Jo, strong and wild, fond of the storm and the wind, flying far out to sea, and happy all alone. Meg is the turtle-dove, and Amy is like the lark she writes about, trying to get up among the clouds, but always dropping down into its nest again. Dear little girl! she’s so ambitious, but her heart is good and tender, and no matter how high she flies, she never will forget home. …” (p.375)

I think I ended up liking all the characters in this book. They improved quite much as the years went by, especially Amy, the little one. However, nothing could compare with the improvement of shy Beth when she and Mr. Laurence became friends on the earlier chapters. The scene, as most scene with Beth, drew my tears out. The progress of Jo’s love was smooth and lovely, and of course Meg with her happy little family was a precious journey.

This book is one of the great choice to revisit. Either chapter we decide to read could make a different effect in different situation, also a better understanding of the characters. Reading this book is a kind of reminder of how simplicity may change many things. It is the simple thing that often touches the heart. It is also the simple thing that shows sincere love.

Review #26 of Classics Club Project

Review #24 of Children’s Literature Reading Project

Review #25 for Lucky No.15 Reading Challenge category Freebies Time

Zoladdiction 2015

zoladdiction-2015-button

Gara-gara obrolan di grup menyinggung Zola, saya jadi merasa perlu menulis wrap up tentang event Zoladdiction 2015 ini. Tadinya, saya rasa kesimpulan tahun lalu sudah cukup, tapi ternyata masih ada sedikit lagi yang ingin saya sampaikan.

Dalam event Zoladdiction 2015 April ini, saya berhasil menyelesaikan dua karya Zola, sebuah novela (atau cerpen) The Flood, dan sebuah novel relatif pendek, The Dream. Saya sengaja memilih yang pendek, karena reading list saya masih bengkak. Dan ternyata keputusan ini malah memberi saya sudut pandang yang baru lagi tentang Zola.

Sebelumnya, saya sempat membaca beberapa cerpen Zola, dan mendapatkan gaya yang berbeda dari novel-novelnya. Salah satu cerpen Zola di situ sangat manis dibandingkan karya-karyanya yang sudah saya baca. Dua sisanya juga tidak se’pekat’ tulisan-tulisannya yang biasa. Sehingga saya mengambil kesimpulan bahwa semakin pendek tulisannya, semakin ‘ringan’ karyanya.

Kemudian saya membaca The Flood, yang mematahkan kesimpulan saya di atas. Tulisannya yang ini cukup pekat dan menyentak, hingga saya menduga-duga (atau berharap) bahwa ini hanyalah ‘bakal novel’, dan bukannya novela apalagi cerpen. Berkat The Flood juga, saya jadi tidak mau berhenti dengan membaca satu karyanya saja bulan lalu.

Saya melanjutkan dengan The Dream, yang secara mengejutkan menampakkan gaya manis sebagaimana dalam salah satu cerpennya yang saya singgung di atas. Dari sini, saya rasa saya harus berhenti memberi label pada karya Zola berdasarkan panjang pendeknya semata. Terkecuali bahwa karya pendeknya menyoroti masyarakat yang lebih sempit (seperti Therese Raquin dan The Dream, dibandingkan Germinal dan Nana), saya kira saya masih bisa berharap menemukan gaya-gaya Zola yang akan mengejutkan saya di bukunya yang lain. Yang pasti, entah itu panjang atau pendek, saya masih bisa menemukan kekuatan deskripsi dalam tulisan-tulisannya, yang membuat saya suka membaca karyanya.

Zoladdiction 2015 lebih jauh di sini.

The Dream – Émile Zola

Title : The Dream (Le Rêve)
Author : Émile Zola (1888)
Translator: Eliza E. Chase
Publisher : Project Gutenberg
Edition : April 27, 2006 [EBook #9499], Last Updated: November 10, 2012
Format : ebook

Everything is only a dream.

Angelique ditemukan oleh pasangan Hubert dan Hubertine pada usia 9 tahun, dalam keadaan kedinginan dan kelaparan. Hubert berasal dari keluarga penyulam untuk keperluan gereja dari generasi ke generasi. Kasihan melihat gadis yatim piatu itu, pasangan Hubert memutuskan untuk menjadikannya pekerja magang dan memberinya tempat di rumah yang berbatasan langsung dengan katedral itu. Angelique terbukti menjadi sangat berguna bagi pasangan yang belum dikaruniai keturunan tersebut, terlepas dari beberapa kelakuannya yang sulit dijelaskan. Dia tumbuh menjadi remaja yang terampil, pekerja keras, juga seorang pemimpi.

Angelique was a firm believer in miracles. In her ignorance she lived surrounded by wonders. The rising of the stars, or the opening of a violet; each fact was a surprise to her. It would have appeared to her simply ridiculous to have imagined the world so mechanical as to be governed by fixed laws.

Salah satu mimpinya yang mengganggu Hubertine adalah bahwa suatu saat dia akan menikah dengan seorang pangeran, yang akan membawanya ke istananya, meningkatkan derajatnya, dan memberinya harta yang berkelimpahan. Mimpi-mimpi Angelique ini dibangun dari buku yang menjadi favoritnya sejak kecil, The Golden Legend, yang ditemukannya di perpustakaan Hubert. Buku itu bercerita tentang para martir, orang-orang suci, dan sejarah serta legenda tentang mereka. Angelique sangat terinspirasi oleh mereka, dan menjadikan orang-orang suci itu panutan dalam menjalani hidup. Dia bahkan semacam bisa merasakan kehadiran mereka sebagai penuntun jalannya.

Namun, Hubertine tidak menyukai mimpi dan imajinasi yang disimpan oleh gadis yang sudah dianggap sebagai putrinya sendiri itu. Dia menganggapnya sebagai sebuah bentuk pemberontakan terhadap apa yang sudah diberikan oleh Tuhan, dan menjauhkannya dari kerasnya realitas kehidupan. Meski begitu, mimpi sudah menjadi bagian dari kehidupan Angelique, sesuatu yang tak akan bisa dihapuskannya, karena jauh di dalam lubuk hatinya, dia yakin orang-orang suci yang menuntunnya itu mengatakan hal yang sama.

The “Golden Legend” had taught her this: Was not it true that the miracle is really the common law, and follows the natural course of events? It exists, is active, works with an extreme facility on every occasion, multiplies itself, spreads itself out, overflows even uselessly, as if for the pleasure of contradicting the self-evident rules of Nature.

Mimpi Angelique seolah menjadi nyata saat pada usia 16 tahun, dia bertemu dengan seorang pelukis kaca yang sedang menggarap renovasi untuk katedral. Hatinya merasakan sebuah getaran yang berbeda saat melihat Felicien, pemuda berusia 20 tahun itu. Keduanya saling jatuh cinta, tetapi ternyata cinta saja tidak cukup. Status sosial dan latar belakang keluarga menghalangi mereka untuk bersatu.

“But alas! my dear child, happiness is only found in obedience and in humility. For one little hour of passion, or of pride, we sometimes are obliged to suffer all our lives. If you wish to be contented on this earth, be submissive, be ready to renounce and give up everything.”

Berbeda dari karya Zola yang pernah saya baca sebelumnya, buku ini diwarnai oleh hal-hal supranatural—yang merupakan perwujudan dari keyakinan, kisah romansa yang meski sulit tetap manis, dongeng, dan mimpi. Karakter Angelique yang pada mulanya samar-samar, berkembang menjadi nyaris sempurna. Kehidupan dan lingkungan yang ditinggalinya nyaris ideal karena didasari pada tradisi agama. Konflik yang dibangun juga tak menunjukkan kegelapan jiwa manusia, tetapi lebih kepada pengabdian dan penyerahan sepenuhnya kepada Tuhan, apa pun konsekuensinya, termasuk penderitaan dan kematian.

Konflik yang diangkat hanya seputar Angelique dengan mimpinya. Segala sesuatunya seperti berjalan sesuai dengan yang diharapkannya, bahkan tentang Felicien. Saya tidak begitu menikmati konflik batin para karakternya, segala hal tentang kegalauan cinta dan dinamika klisenya tidak menarik saya. Namun demikian, Zola masih menyuguhkan kekuatan deskripsinya dalam buku ini. Penggambarannya mengenai arsitektur kota, pemandangan musim semi, bahkan sampai pada teknik penyulaman pada masa itu sangat apik dan membuatnya mudah dibayangkan.

Akhir ceritanya sebenarnya mudah saja ditebak. Penulis tidak menutup-nutupi fakta apa yang akan terjadi sejak pembukaan bab terakhir. Namun, ternyata yang digambarkannya jauh lebih dahsyat dari tebakan saya. Penulis tidak membuat scene yang meletup-letup atau kejadian yang membuat emosi meledak-ledak. Mungkin bagi sebagian orang yang romantis akan menganggap scene terakhir itu indah, tetapi bagi saya, yang jauh lebih indah adalah kesederhanaan pengungkapan dan pemilihan kata-katanya yang memberikan efek tersendiri untuk sebuah scene setragis itu (walaupun akhirnya bahagia juga).

Was she herself only an illusion, and would she suddenly disappear some day and vanish into nothingness?

Hubungan saya dengan mimpi

April : Hubungan dengan Pembaca

April : Hubungan dengan Pembaca

Saya pribadi percaya dengan kekuatan mimpi, baik itu karena kekuatan yang akan ditimbulkan alam bawah sadar kita untuk mencapainya, pun termasuk Kekuatan Agung yang menentukan kejadiannya. Saya merasa terhubung dengan karakter Angelique dari sisi ini. Namun, di sisi lain, saya merasa jauh dari mengerti mengenai pengorbanan perasaan yang dilakukannya. Di luar masalah keimanan, saya tak bisa membuat diri saya menderita karena cinta seperti yang dilakukan oleh Angelique. Mungkin, karena memang belum ada sosok Felicien yang layak untuk diperjuangkan sebesar itu. Bagi saya pribadi, mimpi perlu diperjuangkan, dan bukan semata didapatkan dari sikap submisif dan penyerahan diri semata. Penyerahan diri baru dilakukan setelah segala usaha maksimal dilakukan dan juga melalui pengharapan yang sungguh-sungguh kepada Tuhan.

Pada bagian klimaks, ada sebuah pertentangan batin yang saya rasa sangat terhubung dengan pemimpi; godaan untuk mencapai mimpi dengan cara yang salah, atau melakukan sesuatu yang benar meski harus kehilangan satu kesempatan. Di titik ini, ada momen yang digambarkan Zola sebagai sebuah kontak metafisik, tetapi dapat juga saya artikan sebagai suara hati nurani—untuk lebih universalnya. Terkadang, kita mungkin sering mencari pembenaran atas tindakan kita dengan mencari kesalahan orang lain. Bagaimanapun, mungkin ada cara lain yang lebih baik, setidaknya itulah yang dialami oleh Angelique.

“The faults of others will not excuse our own.”

Jadi sebenarnya buku ini agak menimbulkan perasaan terbelah. Di satu sisi, saya sangat menyukai tema besarnya, yaitu mimpi. Di sisi lain, saya tidak merasa terhubung dengan hal-hal pembangun kisah ini. 3/5 bintang untuk dongeng a la Zola.

zoladdiction-2015-button

The Flood – Émile Zola

The FloodTitle : The Flood (L’Inondation)
Author : Émile Zola (1880)
Publisher : Project Gutenberg
Edition : November 10, 2012 [EBook #7011]

Our house seemed blessed, happiness reigned there. The sun was our brother, and I cannot recall a bad crop.

Hidup Louis Roubien, di usianya yang sudah 70 tahun, bisa dikatakan sempurna. Keluarganya berkumpul di rumahnya yang akan selalu dinaikkan (ditingkat) jika tiap anggotanya menikah, mereka bersama-sama mengolah pertanian yang seolah mendapat berkah, tidak pernah ada gagal panen meski musim sedang kurang baik, dan setiap anggota keluarga bahagia. Roubien dan kedua saudaranya, anak dan menantunya, tiga cucu perempuan, dua cicit dari cucu pertama, dan cucu kedua yang segera akan menikah; membawa keceriaan yang seakan tidak pernah habis.

We often joked among ourselves of our past poverty. Jacques was right. I must have gained the friendship of some saint or of God himself, for all the luck in the country was for us. When it hailed the hail ceased on the border of our fields. If the vines of our neighbors fell sick, ours seemed to have a wall of protection around them. And in the end I grew to consider it only just. Never doing harm to any one, I thought that happiness was my due.

Suatu hari, hujan turun selama berjam-jam, meluapkan sungai Garonne yang jaraknya tak jauh dari rumah Roubien. Keluarga besar itu pun berlindung di rumah yang kokoh dan tinggi itu, sambil menunggu perahu pertolongan. Roubien sangat optimis, air tak akan menenggelamkan rumah mereka. Namun, ada kekuatan yang lebih besar, di luar kendali siapa pun: alam dan ketakutan. Akankah mereka lolos dari pemangsa dalam pikiran mereka sendiri?

I, too, began to laugh, infected with her madness. Terror had destroyed her mind; and it was a mercy, so charmed did she appear with the beauty of the morning.

Meski pendek, karya Zola yang satu ini cukup mencengangkan. Saya sudah membaca beberapa novel dan cerpen Zola, yang menurut saya jauh berbeda efeknya. Cerpen-cerpennya tak memberi efek sedahsyat novelnya. Dan novella ini memberi efek yang hampir sama dengan novel-novelnya. The Flood adalah gambaran gelap dan depresif dari kehidupan. Bagaimana segalanya bisa hilang dalam sekejap, bagaimana keputusasaan bisa menghancurkan. Dan tentu saja, dalam deskripsi khas yang menawan. Dengan menggunakan sudut pandang Louis Roubien sebagai orang pertama, kita diajak untuk ikut menjalani tur emosionalnya.

Entah mengapa saya merasa buku ini (semestinya) belum selesai ditulis, bahwa sang penulis hanya menuliskan garis besar ceritanya saja. Masih banyak celah dan potensi yang bisa dikembangkan dan dieksplorasi; latar belakang keluarga Roubien, lingkungan tempat tinggal mereka, kehidupan sehari-hari yang lebih detail, dan lain sebagainya. Seandainya lebih panjang, saya yakin pasti akan meninggalkan efek yang lebih dahsyat lagi.

Manusia memang tidak selamanya bisa ‘baik-baik’ saja. Pasti ada masa keterpurukan yang akan menguji, seberapa jauh mereka telah bertumbuh. Harapan, kekhawatiran, ketakutan, keputusasaan, pengorbanan, adalah sikap manusia yang biasa timbul dalam tekanan. Langkah apa yang dipilih dalam kondisi seperti itu, bergantung pada manusia itu sendiri. Selusin orang dalam keluarga Roubien pun mengalami kesemua hal itu.

Alam adalah kawan, tetapi ada kalanya alam menjadi ganas. Optimisme bisa dihancurkan oleh alam, tetapi pesimisme menghancurkan dirinya sendiri. 4/5 bintang untuk Garonne yang mengganas.

Then they all sank, the water closed over them beneath the drowsy light of the moon.

zoladdiction-2015-button