Category Archives: Adventure

Mini Reviews : Children – Young Adult

22608982The Carpet People / Terry Pratchett (author & illustrator) (1971) / Houghton Mifflin Harcourt / First U.S. edition, 2013 / Paperback, 294 pages

Buku ini merupakan karya pertama Pratchett yang diterbitkan. Diawali dari cerita bersambung mingguan yang dikirim ke kalangan tertentu, kemudian dikembangkan menjadi novel, dan diterbitkan. Seiring dengan pendewasaan penulis, maka buku ini mengalami beberapa perbaikan dan penyesuaian, ditambah ilustrasi karya penulis sendiri. Pada edisi ini ada tambahan halaman ilustrasi berwarnanya, serta tambahan versi awal yang terbit setiap pekan. Buku ini berhasil meneguhkan bahwa penulis sangat lihai membangun sebuah dunia yang sama sekali baru, dengan aturannya sendiri, serta begitu solid, sehingga seringkali sulit dibayangkan.

I wrote that in the days when I thought fantasy was all battles and kings. Now I’m inclined to think that the real concerns of fantasy ought to be about not having battles, and doing without kings.

Dunia yang disebut Carpet ini ditinggali oleh suku bangsa yang berbeda-beda, di wilayah yang berbeda pula karakteristiknya. Sehingga seseorang bisa dengan mudah mengetahui bahwa dia sudah masuk ke wilayah bangsa lain ketika dilihatnya warna tanah dan langit berubah, bentuk dan kerapatan pohon (yang disebut sebagai Hair) berbeda. Karakter utama dalam buku ini berasal dari golongan Munrungs, yang harus meninggalkan tanahnya karena diserang oleh sesuatu yang menakutkan, yang saat itu belum bisa mereka identifikasi dengan benar. Dalam perjalanan, mereka masuk ke wilayah lain, bertemu dengan bangsa-bangsa lain, yang kemudian saling bersekutu untuk melawan musuh bersama.

“Nothing has to happen. History isn’t something you live. It is something you make. ….” (p.162)

You don’t have to accept it; you can change what’s going to happen. (p.252)

Suku bangsa yang berbeda ini memiliki sifat dan kebiasaan yang berbeda, yang menjadikan toleransi dan saling melengkapi menjadi salah satu nilai dari buku ini. Buku ini cukup potensial untuk dikupas lebih dalam lagi. Dan dengan humor yang apik di sana-sini, tampaknya tak akan membosankan untuk dikunjungi kembali.

“…. He said we didn’t need a lot of old books, we knew all we needed to know. I was just trying to make the point that a civilization needs books if there’s going to be a reasoned and well-informed exchange of views.” (p.206)

 

288676The Broken Bridge / Philip Pullman (1990) / First Dell Laurel-Leaf edition, September 2001, 7th printing / Mass market paperback, 220 pages

Ginny dilahirkan dari ayah kulit putih dan ibu yang berkulit gelap. Namun, dia hidup hanya dengan ayahnya saja, yang membuatnya semakin merasa terasing akibat perbedaan warna kulit. Ginny senang menggambar dan melukis, bakat yang menurut ayahnya didapatkan dari ibunya. Ginny semakin nyaman dengan ini, karena dia merasa tak asing lagi, karena dia sama dengan ibunya.

Di usia remajanya, Ginny berambisi untuk mencari keluarga dari pihak ibunya. Namun, berbagai hal terjadi silih berganti, mulai dari pekerja sosial yang bolak-balik menanyainya, yang membuka kebenaran yang selama ini tersembunyi. Ginny usia 16 tahun harus menghadapi kenyataan mendadak mengenai hidupnya yang ternyata dipenuhi kebohongan. Perlahan tapi pasti semuanya terkuak, dan semakin dia mencari, semakin dalam dia terjebak dalam kebohongan-kebohongan tersebut. Kemudian, titik terang muncul ketika dia mulai berpikir jernih dan menerima kenyataan, menerima apa adanya.

Cerita tentang pencarian diri, identitas, dan asal mula. Tidak hanya membahas mengenai keluarga, buku ini juga menceritakan gejolak remaja terkait pertemanan, seksualitas, serta isu terkait diskriminasi dan kriminalitas. Semakin masuk ke belakang, kisah terasa semakin dalam dan kuat, hingga sampai ke akhir yang sangat memuaskan. Sebuah kisah keluarga yang begitu pelik dan penuh emosi.

I can see in the dark. I can’t see so well in the daylight, can’t see the obvious thing …. I can understand mysteries. Like the broken bridge. (p.121)

 

Seesaw Girl / Linda Sue Park (1999) / Illustrated by Jean and Mou-sien Tseng / Sandpiper, an imprint of Houghton Mifflin Harcourt / Paperback, 90 pages

7153349Korea di abad ke-17 masih sangat tertutup dari dunia luar. Mereka hidup dengan cara mereka sendiri. Pada masa itu, wanita kelas atas tidak diperbolehkan keluar dari rumah, kecuali saat mereka menikah, kemudian mereka masuk ke rumah keluarga suami mereka, dan tidak diperbolehkan keluar kembali. Hidup mereka di dalam dinding berkisar seputar pekerjaan rumah tangga. Wanita bahkan tidak mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan.

Sebagai perempuan dari keluarga terpandang, Jade Blossom pun harus selalu berada di rumah untuk menjaga kehormatan diri dan keluarganya. Sejak pernikahan Graceful Willow—bibi yang usianya tak terpaut jauh dengannya, Jade merasa kesepian karena tak ada lagi teman perempuan yang sebayanya. Dia pun bertekad untuk mendatangi Willow di rumah suaminya, meski harus melanggar peraturan secara diam-diam. Rencana dijalankan, tetapi banyak hal mengenai dunia luar yang tak diantisipasi oleh Jade. Sekilas pandangan akan dunia luar membuat rasa keingintahuan Jade remaja tergelitik. Dia melakukan apa yang tidak boleh dilakukan, dan melihat apa yang tidak seharusnya dia lihat. Pemandangan itu semakin membuat Jade ingin tahu lebih dalam lagi, sehingga dia belajar dan melakukan hal yang tak wajar dilakukan oleh perempuan di masa itu.

The path to wisdom lies not in certainty, but in trying to understand. (p.66)

Buku ini kecil, tetapi membawa pesan yang sangat kuat. Karakter dalam buku ini tidak digambarkan sebagai tokoh revolusioner yang akan mengubah Korea, tetapi kesan akan adanya perubahan disampaikan melalui cara yang lain. Sebuah kisah sederhana yang terasa jauh dari kita yang sudah terbiasa hidup dalam kebebasan, tetapi begitu dekat karena deskripsi yang kuat dari penulis. Hal yang mengganjal bagi saya adalah nama-nama yang dipilih dalam buku ini bukan nama Korea, entah karena sasaran pembacanya atau apa, tetapi justru membuat suasana Koreanya sedikit terganggu. Apalagi menjadi tidak cocok karena saat itu Korea masih terisolasi dari dunia luar.

 

A Golden Web / Barbara Quick (2010) / Translated to Indonesian by Maria M. Lubis / Penerbit Atria / Cetakan I, Maret 2011 / Paperback, 272 pages

“Aku tidak mau dilupakan.”
“Kau tidak akan dilupakan, Alessandra Giliani!”
(p.260)

10588138Kisah ini terinspirasi dari ahli anatomi pertama yang pernah tinggal di Bologna, sekitar abad ke-14. Pada saat itu, tempat wanita adalah di rumah, saat waktunya tiba, mereka harus siap menjadi istri dan melahirkan anak, atau—pilihan lainnya adalah menjadi biarawati. Tidak ada pilihan untuk belajar maupun bekerja. Alessandra Giliani bisa dikatakan mendobrak aturan sosial pada saat itu. Hingga—mungkin—bukti dan dokumen tentangnya sempat dimusnahkan, dan tersisa sedikit sejarah tentangnya. Dari sedikit yang ada itu, penulis menyusun sebuah fiksi sejarah, dengan sebagian besar kisah keluarganya direka oleh penulis.

Sejak kecil, Alessandra hidup dikelilingi buku-buku, karena ayahnya bekerja menyalin buku-buku untuk dijual kembali (saat itu belum ada percetakan, semua dikerjakan secara manual). Alessandra yang punya rasa ingin tahu besar, ditambah cintanya pada ibunya yang meninggal saat melahirkan adik bungsunya, mulai tertarik pada ilmu manusia. Hal ini membawanya ke Bologna, menyamar menjadi laki-laki demi masuk ke sekolah kedokteran.

Semangat belajar dan tekad Alessandra yang sulit dipatahkan, serta dukungan dari orang-orang di sekitarnya begitu mengharukan. Suasana yang digambarkan penulis memberikan bayangan yang cukup mengenai kondisi sosial masyarakat pada zaman itu. Betapa menjadi perempuan yang cerdas adalah sebuah aib yang harus ditutupi. Dan betapa tidak beruntungnya, saat hidup mereka hanya dinilai sebatas peran sebagai penyetak bayi, tanpa hak untuk mendapatkan kehidupan yang mereka kehendaki, bahkan tanpa jaminan keselamatan dalam ‘tugas’ yang diembannya.

Menurut saya, alurnya agak terlalu lambat di awal dan terlalu cepat di akhir. Justru cerita tentang proses belajarnya lebih menarik untuk diperpanjang, hingga setara dengan latar belakang sosial masyarakat yang sudah digambarkan panjang di awal.

 

18060916Liesl & Po / Lauren Oliver (2011) / Illustrated by  Kei Acedera (2011) / Translated to Indonesian by Prisca Primasari / Penerbit Mizan / Cetakan I, April 2013 / Paperback, 319 pages

Saat sedang ketakutan, orang-orang tak selalu melakukan hal yang benar. Mereka berpaling. Menutup mata. (p.103)

Liesl dikurung di loteng oleh ibu tirinya, berbulan-bulan sejak ayahnya sakit hingga meninggal dunia. Liesl dengan sabar menerima perlakuan itu, meski dalam hati dia sangat merindukan ayahnya, serta pohon willow tempat mereka menguburkan ibunya, dekat tempat tinggal mereka yang dulu. Suatu malam, sesosok hantu bernama Po dengan anjing/kucing hantu bernama Bundle mengunjunginya dari Dunia Lain. Tak ada yang memahami kenapa Po bisa menembus hingga ke tempat Liesl. Dengan imbalan gambar Liesl, Po bersedia membantu gadis itu mencari ayahnya di Dunia Lain, meski normalnya hal tersebut mustahil.

Di sisi lain, ada Will, murid sang alkemis, yang mengagumi Liesl sejak pertama dia melihatnya melalui jendela loteng tempatnya dikurung. Will yang dipaksa bekerja keras oleh sang alkemis tanpa imbalan yang setimpal, melakukan sebuah kesalahan yang membuatnya mendapat masalah besar, dia pun lari sejauh-jauhnya.

Itulah masalah lain orang hidup: Mereka terpisah, selalu terpisah. Mereka tak pernah benar-benar membaur. Mereka tak tahu bagaimana menjadi seseorang selain diri mereka sendiri; kadang mereka bahkan tak tahu bagaimana caranya menjadi diri sendiri. (p.99)

Berbagai kejadian dan rencana secara tak terduga mempertemukan semua karakter dalam buku ini. Karakter baik dan jahat, masing-masing memiliki kisahnya sendiri, yang berhubungan satu sama lain, membentuk jalinan cerita yang bermuara pada cinta—cinta antar anggota keluarga, teman, dunia, dan sesama manusia, juga sesama makhluk hidup. Walau menyimpan banyak kejutan, kisah ini menyimpan banyak sekali kebetulan dan penyelesaian yang mudah, terlalu mudah bahkan. Meski demikian, setiap karakter menampakkan peran yang kuat.

Dan sungguh, inilah inti dari segalanya, karena jika kau tak percaya bahwa hati bisa mengembang secara tiba-tiba, dan cinta bisa merekah layaknya bunga bahkan di tempat yang paling keras, aku takut kau akan mendapati jalan yang panjang, gersang, dan tandus, dan kau akan kesulitan menemukan cahaya. (p.315)

Advertisements

See You in the Cosmos – Jack Cheng

32048758

Title : See You in the Cosmos
Author : Jack Cheng (2017)
Publisher : Puffin Books
Format : Paperback, 314 pages
ISBN : 978-0-141-36560-2

Buku ini kubaca sekitar November tahun lalu. Saat itu saya sedang masa lepas dari reading slump, tetapi setelah menamatkan ini, saya justru mengalami book hangover yang parah hingga sulit membaca apa-apa. Buku ini menarik saya karena buku anak bertema antariksa, pun penulis debut biasanya bebas ekspektasi, harganya pun relatif murah. Awalnya saya urung, tapi entah mengapa terbayang-bayang terus dan kuputuskan tetap membelinya. Memang seringkali intuisi tidak boleh diabaikan, saya memang akhirnya suka sekali buku ini. Bahkan sampai selama ini, saya tetap merasa perlu menuliskan reviewnya—walau tak sesempurna yang saya harapkan.

Buku ini dituliskan dari rekaman iPod seorang anak 11 tahun bernama Alex Petroski. Alex terobsesi dengan roket dan ruang angkasa, penggemar berat Carl Sagan, yang bermimpi untuk menerbangkan roketnya sendiri. Rekaman yang terinspirasi dari Golden Record yang diluncurkan ke luar angkasa itu, akan dibawanya ke SHARF (Southwest High-Altitude Rocket Festival) yang ditemukannya via internet. Dia juga berkenalan dengan sesama nerd di Rocketforum, orang-orang yang baru mengetahui bahwa Alex adalah anak-anak setelah bertemu langsung dengannya.

He said if we can do something that big, something that’s never been done before in the history of humanity, then of course we can solve all the problems we have at home. (p.59)

Alex yang digambarkan lebih dewasa dari usianya ini bepergian sendiri—ayahnya sudah tak ada, ibunya digambarkan mengalami fase-fase aneh dan kesulitan merawat Alex maupun dirinya sendiri, sementara kakak lelakinya, Ronnie, bekerja jauh di luar kota. Awalnya kita hanya akan melihat kisah ini dari sudut pandang Alex melalui penuturannya di rekaman iPod. Namun, seiring dia menemui banyak orang, kita bisa mendengar suara-suara mereka, percakapan yang tak sengaja terekam, ataupun rekaman yang disengaja tanpa sepengetahuan Alex, sehingga menjelaskan banyak hal kepada pembaca hal-hal yang tak dipahami Alex. Bagaimana pun tanggung jawab besar yang ditanggungnya, Alex tetaplah anak-anak.

Alex yang belajar tentang roket secara autodidak, tidak pernah melakukan uji coba, harus bersiap untuk dikecewakan ekspektasinya yang sangat tinggi. Untunglah orang-orang yang ditemuinya juga baik, perhatian, dan simpatik. Sampai dia menemukan sebuah nama di internet yang akan mengubah hidupnya, orang-orang ini juga yang membawa Alex lebih jauh, menemui orang-orang lain yang di luar dugaan, membuka rahasia-rahasia, dan meluruskan masalah-masalah.

Buku yang sangat indah, tokoh utama yang manis, petualangan yang seru, penuh kejutan, dan meninggalkan begitu banyak kesan emosional. Karakter favorit saya di buku ini adalah Ronnie Petroski, yang mulanya dari deskripsi Alex tampak seperti kakak yang cuek dan ingin lari dari masalah. Kenyataannya justru sebaliknya, dia adalah sosok pengganti kepala keluarga yang penuh tanggung jawab dan rela berkorban demi keluarga. Saya tidak bisa tidak menyukainya.

Buku ini mungkin awalnya cenderung datar, tetapi lambat laun dengan hadirnya para karakter dan terbukanya misteri, terasa indah menyentuh hati, bahkan saya sempat menangis pada salah satu bagian.

These words we try to use to describe it, to describe that feeling, these words like love and bravery and truth, the reason they can’t describe it all the way, and the reason that sounds or music or pictures can’t describe it all the way either, is because THEY’RE all shadows too! WORDS ARE SHADOWS TOO! (p.298)

Sebagai penutup, akan saya kutipkan joke receh ala nerd yang menghiasi buku ini.

How does an astronaut cut his hair on the moon?

Eclipse it.

(p.91)

Why didn’t the Dog Star laugh at the comedy show?

Because it was too Sirius.

(p.149)

Gentayangan – Intan Paramaditha

35702080Judul : Gentayangan: pilih sendiri petualangan sepatu merahmu
Penulis : Intan Paramaditha (2017)
Penyelia naskah : Mirna Yulistianti
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Edisi : Cetakan pertama, Oktober 2017
Format : Paperback, 492 halaman

Cerita mengutukmu saat kau tahu tak ada apa pun yang bisa kau ubah setelah mendengarnya. (hal. 271)

Kau terikat perjanjian dengan Iblis Kekasih. Dia memberimu sepatu merah yang akan membawamu bertualang tanpa henti. Kau, seorang guru bahasa Inggris yang tak pernah pergi ke negara berbahasa Inggris. Kau yang merasa bosan setengah mati dengan hidup yang kaujalani lebih dari seperempat abad. Kau yang merasa belum mencapai apa pun dalam hidupmu. Kini, sepatu merah membebaskanmu sekaligus mengutukmu. Sepatu Iblis yang terkutuk, tapi kau selalu punya pilihan.

Pilihan adalah salah satu kekuatan buku ini. Jalan yang kau pilih akan menentukan bagaimana hidupmu selanjutnya, bagaimana akhir dari perjalananmu (jika ada akhirnya), dan apakah kau akan meraih kebahagiaan—atau apa pun yang kau inginkan—sebagai konsekuensi dari pilihan ini. Hal ini membuat buku ini terasa dekat dengan kehidupan. Dalam hidup, kita selalu berhadapan dengan pilihan dan segala konsekuensinya. Bedanya, dalam kehidupan tak ada jalan memutar.

Pilihan. Saat sepatu merahmu hilang sebelah, apa yang akan kaulakukan, kembali untuk mencarinya, atau meneruskan perjalananmu? Sepatu yang begitu berharga karena membawamu jalan-jalan, atau justru karena dia sepatu Iblis, kau yakin dia akan kembali sendiri. Saat kau bertemu seseorang yang membuatmu nyaman, apakah kau akan dengan rela hati meninggalkan hidup penuh petualangan yang sedang kaunikmati? Apakah kau rela berpisah dengan sepatu merahmu saat melihat ada orang lain yang memerlukan kebebasan, sebagaimana yang kaudapatkan beberapa saat sebelumnya? Apakah kau memilih jalan yang sudah pasti di depan matamu, atau kau akan merawat fantasi dan harapan semu akan sesuatu yang lain?

Penulis fiksi ternyata benar-benar iseng, kalau bukan keji. Mereka bekerja keras menciptakan labirin, mencari orang-orang patuh untuk disesatkan di dalamnya, menikmati penderitaan korban sambil minum kopi dan makan donat. (hal. 319)

Sebuah buku yang mengandung belasan atau puluhan kemungkinan ini, memberikan kita kesempatan menjalani hidup dengan berbagai peluang dan jalan kembali. Di sini, waktu bisa diputar. Jika kita menyesali pilihan yang kita ambil sebelumnya, kita bisa kembali dan mengambil jalan lain, lalu bertemu dengan akhir yang lebih baik. Jika akhir yang kita dapatkan sudah baik, tapi membosankan, kita bisa berandai-andai, bagaimana jika kita memilih jalan yang (mungkin) kurang baik, tapi lebih seru. Atau kembali untuk sekadar memuaskan rasa penasaran tentang “Bagaimana jika aku tadi memilih jalan yang lain?” Sebuah pertanyaan yang mustahil terjawab dalam kehidupan nyata.

Meski begitu, sebagaimana hidup, ada kalanya jalan yang kita lalui tak menyisakan pilihan. Kita dipaksa untuk maju terus, meski mendamba pilihan yang lain. Atau saat kita merasa sudah memilih jalan yang lebih baik, ternyata akhirnya sama saja, tetap di jalan yang sama dengan pilihan sebelumnya. Keputusan yang berbeda bisa saja membawa kita pada akhir yang sama. Kita bisa menyebutnya takdir, atau kau boleh juga mengatakan itu kutukan sepatu merah.

Maafkan kesewenang-wenangan cerita ini, tapi kau tahu bahwa terkadang hidup mencabut semua pilihan. Memilih adalah sebuah kemewahan. (hal. 286)

Buku ini juga berbicara mengenai budaya dan geografi dengan cukup fasih. Mulai dari Indonesia, terutama dari sudut pandang kau (sang karakter utama), yang digambarkan sebagai pemeluk agama mayoritas, tapi tak menjalankan nilai agama sepenuhnya, Amerika Serikat di mata para imigran, serta Belanda dan Jerman dengan sejarah-sejarahnya. Tak hanya itu, aroma fiksi ilmiah, dongeng, legenda, dan misteri akan muncul dalam beberapa pilihan yang kita ambil. Pengalaman penulis mengunjungi dan tinggal di berbagai negara menghasilkan deskripsi yang sangat detail, seolah kita benar-benar berada di tempat itu, merasakan sendiri perjalanan dengan semua indra terbuka. Kritik sosial mau tak mau akan timbul di sana-sini. Dengan kejujuran yang terkadang mengejutkan, penulis tak ragu mengangkat isu sensitif yang terjadi saat ini, maupun yang sudah berlalu, seperti tragedi 1998 dan 1965.

Salah satu hal yang menggelitik adalah bagaimana penulis membuat tafsirannya sendiri atas dongeng dan legenda yang sudah terkenal. Seperti Dorothy dalam The Wizard of Oz yang tak sepolos bayangan kita saat membaca/menonton cerita anak-anak tersebut, juga motif tak-terlalu-durhaka dari sikap Malin Kundang sebelum dikutuk menjadi batu. Perubahan ini membuatnya semakin dekat dengan sebagian besar dari kita, karena tak ada manusia biasa yang benar-benar suci, dan tak ada yang murni keji.

Kau lihat? Betapa sulitnya bicara tentang akar, tanah, dan ikrar setia bila nenek moyangmu seorang pelaut.
Ambillah sauh dan pilih sendiri pengkhianatanmu.
(hal. 28)

Membaca buku ini tentu tak akan menghasilkan pengalaman yang lengkap jika belum menelusuri semua pilihannya. Sehingga ada baiknya saat membaca, kita buat peta sederhana yang mudah diikuti sebagai pemandu jalan agar tidak tersesat saat ingin kembali. Saat membaca buku ini, awalnya saya memilih pilihan pertama dari setiap pilihan yang tersedia hingga tamat. Lalu saya kembali satu langkah, untuk memilih jalan berikutnya, begitu seterusnya. Karena kebetulan pilihan pertama memiliki cabang yang terbanyak, dan pada titik tertentu kita diajak menelusuri hal yang itu-itu saja, muncul rasa bosan. Pada titik jenuh itu, saya meninggalkan pilihan-pilihan yang (kelihatannya) tinggal sedikit, dan memutari jalan yang benar-benar berbeda. Sebenarnya ada untungnya juga mengambil jalan yang urut, karena kita tidak lupa dengan detail kejadian sebelumnya, terutama pada kisah yang panjang dan banyak jalan bercabangnya. Namun, ada kalanya juga jalan memutar yang kita rasa sudah jauh ternyata membawa kita ke peristiwa yang sama. Kalaupun menginginkan perjalanan spontan yang tak direncanakan, buku ini juga bisa dinikmati per satu jalur saja hingga menemukan kata tamat. Lalu lupakan semuanya, dan kembali ke awal lagi, menikmati perjalanan yang jauh berbeda, atau begitu mirip. Intinya, pilih sendiri petualanganmu!

Selain dinikmati sebagai beragam petualangan, secara umum, ada beberapa ide besar yang faktanya terserak di antara petualangan yang banyak itu. Awalnya detail tersebut bisa tampak sebagai pemanis cerita saja, tetapi, saat sudah menemukan tiga, lima, atau sepuluh petunjuk ke hal yang sama, rasanya tak sulit menarik satu benang merah yang menampilkan sebuah kisah sendiri. Terutama tentang asal-usul sepatu merah dan pemilik sebelumnya.

Kau menimang-nimang sepatu merah di pangkuanmu. Ia terlihat lelah namun haus perjalanan, sama sepertimu. Kau selalu mengira petualangan memaksamu menoleh ke belakang, tapi barangkali ia juga sebuah lingkaran—lingkaran setan, tepatnya—terus-menerus, tak putus; kau akan melewati jalan yang sama dan jatuh di lubang yang sama, seperti déjà vu konstan, tapi mungkin, sekali waktu, kau akan beruntung. (hal. 475)

Meski Iblis Kekasih mengatakan tak ada jalan pulang setelah sepatu merah ini, nyatanya buku ini menyuguhkan beberapa definisi untuk pulang. Saya rasa, dengan atau tanpa sepatu merah pun, perjalanan tak akan membawa kita ke ujung yang sama. Segala peristiwa dan kejadian akan mengubah kita, mengubah cara pandang kita akan sesuatu, mengubah cara pandang orang lain tentang kita, begitu pula semua orang di sekitar kita maupun yang kita tinggalkan akan berubah. Pulang tak akan pernah sama. Kau hanya perlu memilih, harga yang menurutmu sepadan.

Kini kau paham mengapa buat mereka yang pergi sekian lama, atau terlalu lama, pulang butuh keberanian. (hal. 428)

Cewek baik masuk surga, cewek bandel gentayangan.

The Last Siege – Jonathan Stroud

Title : The Last Siege / Pengepungan Terakhir
Author : Jonathan Stroud (2006)
Translator : Ribkah Sukito
Editor : Primadonna Angela
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan pertama, Oktober 2011
Format : Paperback, 288 pages

Tiga remaja dengan masalahnya masing-masing dipertemukan oleh sebuah insiden di depan bekas kastil yang lama tak berpenghuni. Emily dan Simon tak pernah berteman sebelumnya, tetapi saat terjepit oleh musuh yang sama, bersama dengan Marcus yang berasal dari bagian kota yang lain, tiba-tiba mereka masuk ke dalam petualangan yang digagas oleh anak asing itu.

“Kastil itu hidup karena kau dapat menafsirkannya sesukamu. Kastil itu bisa menjadi apa pun yang kaupikirkan. Kau bisa membayangkan bagaimana kastil itu dulunya, ketika belum hancur, ketika orang-orang tinggal di dalamnya. Dan setiap orang bebas untuk membayangkan hal yang berbeda.” (p.80)

Petualangan mereka semakin liar dan semakin bebas, masing-masing mereka kini punya peran dalam mewujudkan imajinasi mereka. Mulai dari permainan menaklukkan kastil,  penjelajahan dan menapak tilas sejarah, hingga pertahanan yang mulai tak tampak sebagai permainan lagi. Masalah menjadi serius ketika Marcus menceritakan masalah keluarganya kepada kedua kawannya. Masalah yang membutuhkan campur tangan pihak berwajib, tetapi, akankah orang dewasa mengerti ketakutan mereka?

Kisah persahabatan, keluarga, kehilangan, dinamika remaja, dan pengkhianatan. Sama seperti kisah Baron Hugh—penghuni kastil pada masa Raja John—yang diceritakan Marcus, mereka menghadapi ujian kesetiaan yang serupa.

Pada akhirnya, meski dibalut kisah petualangan yang menyenangkan, buku ini menyimpan kenyataan yang pahit tentang jurang antara anak-anak dan orang dewasa, serta secercah mengenai kesehatan mental. Mungkin karena ditujukan untuk pembaca muda, pesannya cukup samar untuk menyembunyikan kebrutalannya.

“Aku sedang berpikir—tentang apa yang dikatakan ibumu.”
“Iya.”
“Hanya… Apakah semuanya sudah baik-baik saja?”
“Tidak, tentu saja belum. ….”
(p.143)

Mini Reviews: Children’s Book

Oleh karena buku yang belum direview semakin menumpuk, sepertinya saya perlu menurunkan gengsi sedikit dengan membuat review yang cepat, singkat, dan padat. Dalam mini reviews, sebisa mungkin akan saya kumpulkan buku dengan tema atau genre yang seragam.

Stone Fox by John Reynolds Gardiner (1980)

Harpercollins, hardcover, 96 pages

Based on a Rocky Mountain legend, Stone Fox tells the story of Little Willy, who lives with his grandfather in Wyoming. When Grandfather falls ill, he is no longer able to work the farm, which is in danger of foreclosure. Little Willy is determined to win the National Dogsled Race—the prize money would save the farm and his grandfather. But he isn’t the only one who desperately wants to win. Willy and his brave dog Searchlight must face off against experienced racers, including a Native American man named Stone Fox, who has never lost a race. (source)

Kisah tentang seorang bocah sepuluh tahun yang harus berjuang sendiri saat kakeknya terbaring tak berdaya karena putus asa. Little Willy yang tak memiliki siapapun kecuali kakek dan Searchlight, anjingnya, berusaha menembus apa yang orang lain bilang tidak mungkin.

Awalnya saya kurang suka dengan buku ini karena karakter-karakter sampingannya kurang simpatik terhadap Willy, bahkan bisa saya katakan tak punya hati nurani, seluruhnya. Sepanjang cerita pun saya merasa bisa menebak akhirnya, mudah. Namun, saya salah. Buku ini berakhir dengan kejutan yang membuat saya tak tahu harus merasa bagaimana dengan keseluruhan isi buku ini. Yang jelas, akhirnya cukup menyentak, yang tak hanya mengubah suasana kisah menjadi sangat tragis, tetapi mungkin akan mengubah sikap semua orang yang tadinya tak simpatik itu.

In the Dinosaur’s Paw (The Kids of the Polk Street School #5) by Patricia Reilly Giff (1985) (Illustrated by Blanche Sims)

Yearling, January 1985, paperback, 72 pages

Richard Best membutuhkan penggaris di hari pertama sekolah usai libur Natal, untuk pelajaran tentang dinosaurus, tapi dia lupa di mana menyimpannya. Untungnya di sekolah dia menemukan penggaris di mejanya, yang menurut Matthew—kawannya—adalah penggaris milik dinosaurus karena inisial di atasnya. Setelah menemukan penggaris itu, Richard merasa segala keinginannya terkabul. Lambat laun perasaan gembira itu tergantikan oleh gelisah dan rasa bersalah karena dia merasa bertanggung jawab atas masalah yang dialami orang lain. Sayangnya saat dia berusaha memperbaikinya, penggaris itu hilang.

Karakter anak-anak dalam buku ini benar-benar amat sangat polos sekali, sesuai dengan usia mereka. Kenaifan dan keluguan bocah ini membuat beberapa hal dalam kisah terasa manis. Bahkan terhadap ‘musuh’ mereka bisa menjadi sangat pemaaf jika dihadapkan pada suatu masalah yang lebih besar, ketulusan hati yang pada dasarnya kita semua miliki jauh di dalam hati. Mungkin masalah-masalah anak terlihat sepele bagi kita orang dewasa, tapi seberapa jauh anak memikirkan masalah itu bisa jadi membuat kita malu karena mempermasalahkan hal yang seharusnya tidak perlu jadi masalah.

Sebenarnya buku ini lebih kepada kisah sehari-hari yang dibumbui dengan kisah ‘penggaris dinosaurus’ itu. Mungkin ada perkembangan karakter yang hendak digambarkan untuk keseluruhan serial besarnya. Jadi sepertinya membaca sesuai urutannya akan memberi pengalaman yang berbeda.

Sable by Karen Hesse (1994) (Illustrated by Marcia Sewall)

First Scholastic printing, September 2005, paperback, 85 pages

Ibu Tate tidak suka anjing, tetapi suatu hari seekor anjing muncul dalam kondisi menyedihkan, dan Tate langsung jatuh hati pada hewan malang itu. Kecintaan Tate bukan sekadar keinginan sesaat, dia benar-benar menyayangi anjing itu, yang dinamakannya Sable. Dia membuatkan tempat tinggal, memastikannya makan cukup, dan melatihnya untuk mandiri. Sayangnya, Sable punya kebiasaan buruk yang sulit diubah.

Beberapa kali Tate melatihnya, tetapi kebiasaan buruk itu memicu semakin banyak masalah hingga Sable terpaksa harus dikeluarkan dari rumah. Di sinilah menurut saya bagian terbaik dari buku ini, Tate sungguh-sungguh melakukan sesuatu agar Sable dapat kembali ke rumahnya, dan yang dilakukannya sungguh menyentuh, terlebih untuk anak seusianya.

Seringkali persahabatan dengan hewan menjadi sesuatu yang lebih mengena untuk diceritakan. Apalagi anjing yang terkenal sebagai hewan yang setia, dan saya selalu melihat persahabatan semacam ini justru melebihi ketulusan persahabatan antar manusia. Jika saya sedang usil sedikit dan mengandaikan Sable adalah manusia, kisah dalam buku ini rasanya akan punya banyak perumpamaan yang cukup mendekati sifat manusia (dewasa) juga. Namun biarlah keusilan itu saya simpan sendiri.

Kisah yang indah dalam kesederhanaan buku anak. Sesuatu yang besar bisa jadi muncul dari hal kecil yang tak pernah kita sangka sebelumnya.

Indigo (Water Tales #2) by Alice Hoffman (2002)

First Scholastic printing, January 2003, paperback, 86 pages

A real friend believes in you when you don’t believe in yourself, (p.11)

Tiga sahabat; Martha Glimmer, Trevor dan Eli McGill merasa Oak Grove bukan tempat mereka seharusnya berada. Martha punya mimpi untuk berada di kota-kota besar dan mengembangkan karir sebagai penari, sedangkan McGill bersaudara merindukan laut yang tak pernah mereka jumpai sejak hidup di Oak Grove yang tinggi dan kering.

You could easily tell who was who by whether or not they listened to you. (p.14)

Sometimes words spoken are the ones you’ve been afraid to think, but once they’re said aloud there’s no way to make them disappear. (p.27)

Oak Grove sendiri punya sejarah yang suram berhubungan dengan air. Banjir besar membuat mereka membuat dinding yang melindungi kota itu dari air. Namun saat ketiga sahabat itu memutuskan untuk pergi menggapai mimpi, mereka menemukan bahwa mimpi itu bisa diwujudkan dengan cara yang lebih baik. Penemuan yang dibayar dengan sebuah peristiwa traumatis bagi penduduk kota kering itu.

They were both thinking of people who’d disappeared and were never found again, and of how it was to leave behind the people you loved, even if the life you wanted wasn’t the one they could give you. (p.33)

Kisah persahabatan dan keluarga dalam sebuah buku tipis, dalam balutan magical realism dengan, mungkin, sedikit fantasi. Beberapa halaman buku ini dihiasi oleh semacam foto, alih-alih ilustrasi seperti umumnya buku anak. Saya menikmati kalimat-kalimat di buku ini, walaupun beberapa hal mudah ditebak. Hal tentang takdir dan mimpi itu lumayan terlalu instan menurut saya, tetapi, ya, kadang hidup memang seperti itu.

Lulu Walks the Dog (Lulu #2) by Judith Viorst (2012) (Illustrated by Lane Smith)

Atheneum Books for Young Readers (imprint of Simon & Schuster Children’s Publishing Division), First paperback edition, March 2014, 170 pages

Lulu is back with a brand-new refrain, and it’s time to earn some cash. How else can she buy the very special thing that she is ALWAYS and FOREVER going to want?
After some (maybe) failed attempts, Lulu decides on the perfect profitable job: dog walking. But Brutus, Pookie, and Cordelia are not interested in behaving, and the maddeningly helpful neighborhood goody-goody, Fleischman, has Lulu wanting to stomp his sneakers—and worse.
How will Lulu deal with three infuriating dogs and the even more infuriating Fleischman? And what is this SUPERSPECIAL thing that Lulu is so fiercely determined to buy? I really don’t feel like discussing that right now.
Once again, picture book legends Judith Viorst and Lane Smith bring us the loudest, rudest girl to ever shove her way into our hearts.
(synopsis from back cover)

Saya tidak bisa merasa simpatik ataupun suka pada karakter-karakter di dalamnya, entah Lulu yang keras kepala dan arogan—terlepas dari usianya yang sangat muda, maupun Fleischman yang suka menolong, pun orang dewasa di sekitarnya tak mengambil porsi lebih baik pada kisah anak ini. Saya juga kurang menikmati narasinya, terlebih saat penulis mengambil alih beberapa bagian dan memasukkan suaranya sendiri di sini.

91xjroxyyel

Hal terbaik dari buku ini adalah ilustrasinya. Saya suka sekali sapuan tinta sang ilustrator yang cantik, tak terlalu banyak detail tapi sangat ekspresif. Pun bentuk-bentuk geometrisnya tak menghilangkan keluwesan yang tercermin dalam gambar-gambarnya. Porsi gambarnya cukup banyak memenuhi keseluruhan isi buku, yang cukup menghibur di antara kisahnya yang berbalut humor ala penulis.