Category Archives: Comedy

Mini Reviews: Indonesian Plays

Buku yang dibicarakan:

Orkes Madun karya Arifin C. Noer (1999)
Pustaka Firdaus, Cetakan Pertama, Maret 2000, 436 halaman

Topeng Kayu karya Kuntowijoyo
Yayasan Bentang Budaya, Cetakan Pertama, Maret 2001, 258 halaman

Hakim Sarmin Presiden Kita karya Agus Noor
Basabasi, Cetakan Pertama, Maret 2017, 260 halaman

Laki-Laki Bersayap Patah karya Yudhi Herwibowo
BukuKatta, Cetakan Pertama, September 2017, 140 halaman

Ada masanya saya pertama kali membaca karya-karya Shakespeare, naskah drama Oscar Wilde, dan beberapa penulis Eropa yang lain. Dari situ saya memiliki gambaran mengenai play (naskah drama) dari beberapa masa dan gaya. Namun, sebagai orang Indonesia, tentunya tak lengkap jika saya tidak mencicip juga naskah drama karya penulis lokal. Oleh karenanya sejak beberapa tahun lalu, saya pelan-pelan mencari dan membaca naskah drama lokal yang sekiranya bisa memperkaya pengalaman membaca karya jenis ini.

Pada dasarnya, sebuah naskah drama ditulis untuk dipentaskan. Jadi, ketika membaca tulisan-tulisan tersebut, saya memainkan peran-peran di kepala saya. Persamaan dari jenis karya ini, termasuk karya penulis luar negeri, adalah ketiadaan bangunan latar belakang dan karakter yang utuh. Tentunya tidak semua, seperti Vera (Oscar Wilde) yang saya yang rasa cukup kuat karakternya, atau An Ideal Husband yang memiliki konflik yang utuh dan kompleks, ataupun A Doll’s House (Henrik Ibsen) yang menggambarkan setting tempat yang cukup familiar. Namun, tetap kita tidak bisa membandingkannya dengan novel yang memiliki unsur-unsur jelas.

Keempat judul yang saya sebutkan di atas memiliki gaya penulisan dan titik berat yang berbeda, persamaannya adalah, jangan membacanya secara serius, tidak perlu mencari-cari makna di setiap kalimat yang tertulis (atau terucap). Karena seperti yang disebutkan Kuntowijoyo dalam pengantarnya:

Demikianlah jangan mencoba mencari makna satu per satu dalam drama ini nanti Anda bisa tersesat, tapi cari pesannya. Anggap saja kata-kata itu hanya celoteh yang boleh bermakna boleh tidak. Sebab, seperti kredo puisi Sutardji Calzoum Bachri, kata-kata telah bebas dari makna. Tapi, ada bedanya. Puisi Sutardji Calzoum Bachri memakai mantra sebagai model; jadi yang perlu bukan kata tapi bunyi. Mantra adalah sihir bunyi. Akan tetapi, drama ini lebih dari itu; modelnya ialah dolanan bocah. Dalam dolanan bocah, kata, kalimat, dan bahkan bait semuanya kehilangan makna. Bunyi juga tidak diperlukan. (Topeng Kayu, hal.vi)

Meski begitu, ketiga buku yang lain tidak sekental Kuntowijoyo membangun ‘sihir suasana’ seperti dolanan bocah yang diistilahkannya. Orkes Madun sesekali membangun suasana dengan permainan kata tersebut, tetapi dialog antar karakter yang membangun sebuah konflik jauh lebih banyak. Sedangkan Agus Noor lebih mudah ditangkap karena hampir setiap dialognya memiliki makna. Berbeda lagi dengan Yudhi Herwibowo yang banyak menampilkan monolog karakternya, sehingga rasanya kalimat-kalimat di sini menjadi lebih penting dari sekadar pembangun suasana.

Saya tak hendak mengunggulkan karya yang satu dengan yang lainnya, karena memang bukan ahlinya. Namun, dari kacamata sebagai pembaca, saya lebih mudah menikmati Hakim Sarmin Presiden Kita. Buku ini sebenarnya terdiri dari dua buah drama, yaitu Hakim Sarmin dan Presiden Kita Tercinta. Keduanya bisa berdiri sendiri meski sebagian karakternya sama, dan kisahnya berhubungan. Drama ini mengangkat tema mengenai intrik politik, kekuasaan, dan penegakan hukum. Suasana yang digambarkan adalah situasi terkini, penuh dengan sindiran serta referensi politik dan sejarah, dan tentu saja humor yang jamak menjadi bungkus yang relatif aman bagi kritikan terhadap penguasa, sekaligus menghibur pembaca (atau penonton).

Sebab hakim yang gila hanya mungkin dilahirkan oleh masyarakat yang gila. Hukum itu cermin masyarakat, kalau hakimnya gila, pasti masyarakatnya lebih gila. (Hakim Sarmin, hal.52)

Kita memang hidup di zaman yang telah dipenuhi kegilaan. Keadilan dan kegilaan sulit dibedakan. (Hakim Sarmin, hal.122)

Revolusi selalu dimulai oleh mereka yang gila… (Hakim Sarmin, hal.128)

Hakim Sarmin sendiri menitikberatkan pada pergerakan revolusi hukum dan kekuasaan, dengan plot twist yang bertebaran di mana-mana. Sedangkan Presiden Kita Tercinta menceritakan tirani dan kudeta dari sudut pandang pemilik kekuasaan. Dari bayangan saya, untuk mementaskan lakon ini cukup mudah, karena disertai panduan dari penulisnya sendiri, dan propertinya tidak terlalu rumit. Namun, oleh karena situasinya sangat terkini, dengan bahasa dan istilah kekinian tersebar dalam kalimat-kalimatnya, rasanya jika suatu saat buku ini menjadi klasik, akan memerlukan catatan kaki untuk menjelaskan kata dan istilah tersebut.

Menawi Diparani,
….

Demokrasi hanyalah jalan. Dan kita tahu, banyak jalan menuju Roma.
Paringan,
Jangan lupa pake Wise atau GPS… biar tak tersesat…

Pak Kunjaran,
Setuju!

(Hakim Sarmin, hal.117-118)

Orkes Madun dimaksudkan menjadi sebuah pentalogi, tapi lakon kelima, Magma, belum sempat ditulis. Namun, karena penulis sudah bercerita ke mana-mana mengenai Magma, anak-anak Sekolah Perancis di Jakarta yang juga mendengar kisahnya membuatnya menjadi komik dan dimuat dalam buku ini. Keempat lakon yang telah ditulis dan dipentaskan di Teater Kecil berturut-turut; I. Madekur dan Tarkeni, IIa. Umang-Umang, IIb. Sandek, Pemuda Pekerja, dan IV. Ozone.

Tema yang diusung dalam keempat lakon ini cukup luas, dan ada keterkaitan satu sama lain. Tentang kemiskinan, kekuasaan, gender, nafsu manusia, yang disampaikan seolah tanpa beban. Bahkan ada beberapa detail sains yang sangat relevan meski disebutkan sambil lalu. Banyak di antara kalimat-kalimat karakternya yang spontan dan acuh, terselip sindiran, kebijaksanaan, maupun celetukan yang cukup filosofis.

…kapitalis tetap akan memegang tampuk pemerintahan di mana-mana. Barangkali dan bukan tidak mungkin kapitalis akan meminjam nama lain, bahkan bukan mustahil ia akan tampil sebagai seorang komunis atau seorang sosialis. (Sandek, hal.254)

BOROK                 : Hukuman apa yang paling hebat di dunia selain hukuman mati? Saya rela dipancung. Saya sudi ditembak berkali-kali. Saya mau dicincang-cincang lalu dicampur dengan adonan semen. Saya mau mati.
RANGGONG      : Justru sebaliknya. Hukuman yang paling berat ternyata adalah menanggung kehidupan dan hidup lebih dari kemampuan kita. Hukuman hidup!
(Ozone, hal.321)

Laki-Laki Bersayap Patah juga merupakan kumpulan drama, yaitu Aku, Aku; Laki-Laki Bersayap Patah; Terkutuk; dan Pendekar Sesat, Pendekar Ular. Jika dibandingkan dengan drama lain yang disebutkan di sini, dialog serta konflik dalam buku ini lebih ‘serius’. Hampir setiap kalimatnya bermakna, tidak didominasi dengan kata-kata ‘sihir suasana’. Drama yang diangkat lebih menitikberatkan pada konfliknya, sehingga plot yang disuguhkan menyimpan kejutan penyelesaian di akhirnya yang menanti memberi kejutan. Temanya pun menarik, yang cukup terasa adalah konflik psikologis dan drama keluarga yang cukup gelap.

Ada aroma surealisme yang kental dalam drama-drama di buku ini, yang membuat saya seolah membaca cerpen. Ternyata memang ada lakon yang diubah bentuk dari cerpen penulisnya sendiri. Dengan membaca dalam bentuk drama (atau menontonnya), rasanya mungkin akan lebih mudah dibayangkan. Begitu pula karakternya, masing-masing memiliki pembeda yang menonjol, sehingga akan lebih membutuhkan pendalaman bagi para pemeran untuk menampilkannya. Apalagi di sini banyak sekali monolog, baik itu percakapan batin, maupun penjelasan situasi yang disampaikan secara panjang lebar. Di satu sisi kita mengetahui lebih dalam mengenai konflik dan karakternya, tetapi di sisi lain monolog ini semacam kurang memaksimalkan interaksi antar karakter yang seharusnya membangun sebuah drama.

Dalam Topeng Kayu, Kuntowijoyo hendak mengkritisi kekuasaan, semua kekuasaan selain kekuasaan Tuhan (hal ini disampaikannya dalam pengantar). Rasanya memang pengantar ini menjadi sangat penting bagi pembaca awam seperti saya, yang hanya bisa menangkap sedikit-sedikit dari sihir suasana yang dibangun begitu kokoh.

Tanpa impian kenyataan tak terasa. Tanpa larangan kebolehan tak terasa. Tanpa ikatan kemerdekaan tak terasa. Tanpa kejahatan kebaikan tak terasa. Tanpa hitam putih tak terasa. Ternyata kita tersesat! (Topeng Kayu, hal.120)

Wah, itulah kesalahan umum. Disangka segalanya berhubungan. Tidak selalu harus. Perbuatan tidak selalu harus berhubungan dengan hasilnya. Pohon tidak selalu berhubungan dengan buahnya. Itu mesin. Itu nalar. Itu pikiran. Kekuasaan yang sempurna di luar semua itu. (hal.219)

Dari keempat buku yang saya baca ini, rasanya masih penasaran dengan karya yang lain, dan utamanya, masih ingin melihat karya-karya ini dipentaskan. Apakah bisa semakin menjelaskan maksudnya, atau justru menimbulkan kesan yang baru?

An Ideal Husband – Oscar Wilde

2444473Title : An Ideal Husband
Author : Oscar Wilde (1893)
Publisher : Project Gutenberg
Edition : Ebook #885, March 27, 2009
Format : ebook

Oh, I love London Society! I think it has immensely improved. It is entirely composed now of beautiful idiots and brilliant lunatics. Just what Society should be. (Mabel Chiltern, Act I)

Ini adalah play Oscar Wilde yang kedua kali saya baca setelah The Importance of Being Earnest (TioBE). Oleh karena jeda dalam membacanya tidak terlalu jauh, maka mau tak mau saya pun membandingkan keduanya. Menurut saya, kedua play ini sama-sama memiliki humor menyenangkan khas Wilde, namun An Ideal Husband (AIH) mengangkat konflik yang lebih ‘serius’. Di samping itu, dalam hal penulisan, setting panggung dan sosok karakter dalam AIH dijelaskan jauh lebih terperinci daripada TioBE.

Konflik utamanya bermula dari pertemuan Sir Robert Chiltern dengan Mrs. Cheveley, yang memiliki ‘bisnis gelap’ di masa lalu. Saat ini, Sir Robert memiliki reputasi yang baik dan posisi cukup penting di parlemen, sedangkan Mrs. Cheveley memiliki kepentingan untuk itu. Oleh karena tidak mendukung kepentingan wanita itu, Sir Robert diancam akan dibongkar masa lalunya yang gelap, jalan ‘salah’ yang ditempuhnya untuk mencapai posisinya yang sekarang.

Hati nurani Sir Robert pun terusik. Dia sadar akan kesalahannya di masa lalu, dan dia siap untuk menebusnya. Namun satu hal yang dia tidak siap adalah membayangkan reaksi istrinya. Dia takut Lady Chiltern, yang selalu memujanya dan menganggapnya sempurna serta ‘suami yang ideal’, akan meninggalkan dirinya jika mengetahui masa lalunya.

Di tengah kegalauannya, hanya Lord Goring yang dia percayai sebagai sahabat sekaligus penasihatnya. Gambaran mengenai alur kisah ini dapat dilihat lebih jelas di kutipan-kutipan yang sudah saya pilih di sini. Peran penting dan karakter Lord Goring juga telah saya bahas di sini.

We have married perfect husbands, and we are well punished for it. (Mrs. Marchmont, Act I)

Hal utama yang saya tangkap dari drama ini adalah bagaimana ‘suami yang ideal’ itu seharusnya. Apakah yang benar-benar sempurna tanpa cela? Apakah seharusnya Sir Robert Chiltern mengatakan kebenaran itu sejak awal, sebelum pernikahannya, bisakah dia dimaafkan jika baru mengatakannya saat ini? Apakah sebaiknya Lady Chiltern mengetahui kebenaran, atau biarkan saja dia melihat suaminya yang ‘ideal’ saat ini, tanpa perlu mengungkit masa lalunya?

I don’t think man has much capacity for development. He has got as far as he can, and that is not far, is it? (Lady Markby, Act II)

Selain konflik utama tersebut, ada pula konflik Lord Goring dengan ayahnya, yang menginginkan putranya segera menikah. Sementara Lord Goring sendiri tampaknya belum memiliki niat untuk itu, terkecuali ketertarikannya pada Mabel Chiltern—adik Sir Robert, sahabatnya—yang tak jelas keseriusannya. Konflik menjadi lebih keruh saat terungkap bahwa Lord Goring juga memiliki ‘rahasia’ dengan Mrs. Cheveley di masa lalu—hal yang bisa menyulitkan, atau memudahkan, usahanya membantu Sir Robert.

There is more to be said for stupidity than people imagine. Personally I have a great admiration for stupidity. It is a sort of fellow-feeling, I suppose. (Lord Goring, Act II)

Geniuses talk so much, don’t they? Such a bad habit! And they are always thinking about themselves, when I want them to be thinking about me. (Mabel Chiltern, Act II)

Meski sudah bersiap untuk tema yang serius, tampaknya AIH tetap menjadi drama komedi yang tak kalah lucu dengan TioBE. Berkali-kali humor dan celetukan kocak tercetus di antara pembicaraan yang menegangkan hingga saya dibuat terbahak beberapa kali. Dan yang tak kalah penting adalah kritik sosial yang tersebar di sana-sini, yang tetap menyatu dengan konflik—atau humornya.

If one could only teach the English how to talk, and the Irish how to listen, society here would be quite civilised. (Mrs. Cheveley, Act III)

5/5 bintang untuk kesan mendalam dalam tawa.

It is always worth while asking a question, though it is not always worth while answering one. (Lord Goring, Act II)

Review #7 of Let’s Read Plays

Review #22 for Books in English Reading Challenge 2013

Scene on Three (3)

Tanggal 30 dan 31, kemudian diikuti tanggal 3 dalam minggu yang sama, rasanya agak berlebihan kalau membuat Scene on Three satu per satu. Jadi untuk kali ini, saya membuat Scene on Three untuk edisi hari ini, 30 Juli, sekaligus besok tanggal 31 Juli 2013. Bagi yang ingin berpartisipasi, ada waktu dua hari untuk membuatnya.

SceneOnThree

Kali ini ada dua scene yang ingin saya bagi. Bukan karena waktunya dua hari, tapi karena kedua scene ini sejatinya mirip dan berasal dari buku yang sama. Alasan selanjutnya adalah saya kesulitan jika disuruh memilih salah satu. Keduanya saya ambil dari sebuah play dari Oscar Wilde yang berjudul The Importance of Being Earnest.

Cecily.  May I offer you some tea, Miss Fairfax?
Gwendolen.  [With elaborate politeness.]  Thank you.  [Aside.]  Detestable girl!  But I require tea!
Cecily.  [Sweetly.]  Sugar?
Gwendolen.  [Superciliously.]  No, thank you.  Sugar is not fashionable any more. [Cecily looks angrily at her, takes up the tongs and puts four lumps of sugar into the cup.]
Cecily.  [Severely.]  Cake or bread and butter?
Gwendolen.  [In a bored manner.]  Bread and butter, please.  Cake is rarely seen at the best houses nowadays.
Cecily.  [Cuts a very large slice of cake, and puts it on the tray.]  Hand that to Miss Fairfax.
[Merriman does so, and goes out with footman.  Gwendolen drinks the tea and makes a grimace.  Puts down cup at once, reaches out her hand to the bread and butter, looks at it, and finds it is cake.  Rises in indignation.]
Gwendolen.  You have filled my tea with lumps of sugar, and though I asked most distinctly for bread and butter, you have given me cake.  I am known for the gentleness of my disposition, and the extraordinary sweetness of my nature, but I warn you, Miss Cardew, you may go too far.
Cecily.  [Rising.]  To save my poor, innocent, trusting boy from the machinations of any other girl there are no lengths to which I would not go.

Dalam adegan ini, sedang terjadi kesalahpahaman antara Cecily dan Gwendolen tentang kekasih mereka yang (mengaku) bernama Ernest Worthing. Sebagai tuan rumah dan orang Inggris yang baik, rasanya kurang sopan jika melewatkan waktu minum teh. Pertengkaran pun bisa tetap dilakukan dengan cara yang ‘elegan’ :p.

Algernon.  If it was my business, I wouldn’t talk about it.  [Begins to eat muffins.]  It is very vulgar to talk about one’s business.  Only people like stock-brokers do that, and then merely at dinner parties.
Jack.  How can you sit there, calmly eating muffins when we are in this horrible trouble, I can’t make out.  You seem to me to be perfectly heartless.
Algernon.  Well, I can’t eat muffins in an agitated manner.  The butter would probably get on my cuffs.  One should always eat muffins quite calmly.  It is the only way to eat them.
Jack.  I say it’s perfectly heartless your eating muffins at all, under the circumstances.
Algernon.  When I am in trouble, eating is the only thing that consoles me.  Indeed, when I am in really great trouble, as any one who knows me intimately will tell you, I refuse everything except food and drink.  At the present moment I am eating muffins because I am unhappy.  Besides, I am particularly fond of muffins.  [Rising.]
Jack.  [Rising.]  Well, that is no reason why you should eat them all in that greedy way. [Takes muffins from Algernon.]
Algernon.  [Offering tea-cake.]  I wish you would have tea-cake instead.  I don’t like tea-cake.
Jack.  Good heavens!  I suppose a man may eat his own muffins in his own garden.
Algernon.  But you have just said it was perfectly heartless to eat muffins.
Jack.  I said it was perfectly heartless of you, under the circumstances.  That is a very different thing.
Algernon.  That may be.  But the muffins are the same.  [He seizes the muffin-dish from Jack.]
…..
…..
Jack.
  [Picking up the muffin-dish.]  Oh, that is nonsense; you are always talking nonsense.
Algernon.  Jack, you are at the muffins again!  I wish you wouldn’t.  There are only two left.  [Takes them.]  I told you I was particularly fond of muffins.
Jack.  But I hate tea-cake.
Algernon.  Why on earth then do you allow tea-cake to be served up for your guests?  What ideas you have of hospitality!
Jack.  Algernon!  I have already told you to go.  I don’t want you here.  Why don’t you go!
Algernon.  I haven’t quite finished my tea yet! and there is still one muffin left.  [Jack groans, and sinks into a chair.  Algernon still continues eating.]

Kedua sahabat ini, sekaligus sumber perselisihan kedua gadis tadi, menyusul ke setting tempat minum teh tersebut. Setelah mengetahui bahwa mereka terlibat masalah, dan kedua gadis itu telah beranjak, mereka berselisih paham, berdebat, sambil minum teh :).

Kedua scene ini merupakan contoh kekonyolan Wilde yang cerdas dan menarik. Namun, yang agak menarik perhatian di sini adalah keterlibatan makanan dalam humornya (yang bisa ditemukan bukan hanya dalam dua scene ini). Oleh karena ini adalah karya klasik, mudah saja mencari analisis tentang ‘makanan’ dalam karya Wilde, di antaranya:

Because the men fight over food the most (Algernon’s wolfing down of the cucumber sandwiches to Lady Bracknell’s distress, Jack’s settling for bread and butter, Algernon’s consumption of Jack’s wine and muffins), we suspect that food fights are their way of expressing their sexual frustration in the face of unusually domineering women. (source)

On one level, the jokes about food provide a sort of low comedy, the Wildean equivalent of the slammed door or the pratfall. On another level, food seems to be a stand-in for sex, as when Jack tucks into the bread and butter with too much gusto and Algernon accuses him of behaving as though he were already married to Gwendolen. Food and gluttony suggest and substitute for other appetites and indulgences. (source)

Apapun maksudnya, yang penting mari tertawa bersama Wilde. Dan, oh, tea-cake boleh juga kalau tidak ada yang berminat.

Sambil minum teh, boleh cari ide untuk Scene on Three :

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

The Importance of Being Earnest – Oscar Wilde

The Importance of Being Earnest by Oscar Wilde Online Summary Study GuideTitle : The Importance of Being Earnest ; A Trivial Comedy for Serious People
Author : Oscar Wilde (1895)
Publisher : Project Gutenberg
Edition : August 29, 2006  [eBook #844]
Format : ebook

The truth is rarely pure and never simple.  Modern life would be very tedious if it were either, and modern literature a complete impossibility! (Algernon, Act I)

Jack Worthing menjalani kehidupan ganda sebagai dirinya sendiri, sekaligus sebagai saudara ‘buatan’nya—Ernest Worthing, saat dia berada di kota. Saat sahabatnya, Algernon Moncrieff, mengetahui hal itu, Jack mengaku melakukannya agar memiliki alasan untuk lebih sering pergi ke kota, demi lebih dekat dengan saudara sepupu dari Algernon, Gwendolen. Ternyata, Algernon pun memiliki teman ‘buatan’ yang digunakannya sebagai alasan menghindari sesuatu, yang diberinya nama Bunbury. Algernon menamakan kegiatan berpura-puranya dengan Jack sebagai bunburying.

I’m sorry for that, for your sake.  I don’t play accurately–any one can play accurately–but I play with wonderful expression.  As far as the piano is concerned, sentiment is my forte.  I keep science for Life. (Algernon, Act I)

Celakanya, saat melamar Gwendolen, gadis itu mengakui sudah pasti menyukai Jack juga karena dia bernama Ernest. Gwendolen merasa terikat dengan nama Ernest dan tidak membayangkan memiliki suami yang tidak bernama Ernest. Jack pun membuat rencana untuk ‘membunuh’ saudaranya, Ernest, dan mengubah namanya menjadi Ernest.

Saat dia kembali ke rumahnya di daerah pedesaan, Manor House, ternyata Algernon telah tiba di sana dan mengaku menjadi Ernest Worthing, serta jatuh cinta pada Cecily, anak asuh Jack. Keadaan semakin absurd ketika Cecily menyatakan bahwa dia menerima Algernon karena dia bernama Ernest. Hal-hal absurd semakin banyak kita temui saat Gwendolen dan ibunya datang ke Manor House. Bunburying mereka terpaksa harus diakhiri, tapi apakah Jack dan Algernon akan tetap mendapatkan cinta mereka meskipun mereka tidak bernama Ernest?

I need hardly tell you that in families of high position strange coincidences are not supposed to occur.  They are hardly considered the thing. (Lady Bracknell, Act III)

Sebagaimana judul dalam drama ini, Wilde hendak menyampaikan bahwa kejujuran itu sangat penting. Sumber kekacauan dan kesalahpahaman dalam drama ini pun berawal dari ketidakjujuran. Namun tidak hanya itu, dengan gaya penyampaian Wilde yang humoris dan absurd, kita dapat melihat potret masyarakat pada masa itu (yang mungkin saja masih sama dengan masa kini).

I really don’t see anything romantic in proposing.  It is very romantic to be in love.  But there is nothing romantic about a definite proposal.  Why, one may be accepted.  One usually is, I believe.  Then the excitement is all over.  The very essence of romance is uncertainty. If ever I get married, I’ll certainly try to forget the fact. (Algernon, Act I)

Saat Jack secara resmi melamar Gwendolen di hadapan ibunya, Lady Bracknell mewawancarai Jack dengan pertanyaan-pertanyaan duniawi, yang tidak esensial, namun tak dapat dipungkiri seringkali menjadi penilaian mayoritas, meski tak secara eksplisit. Bahkan tak tanggung-tanggung, Wilde membuat gambaran pemikiran Lady Bracknell semakin tak masuk akal dan menyebalkan seiring dengan pertanyaan dan pernyataannya.

To lose one parent, Mr. Worthing, may be regarded as a misfortune; to lose both looks like carelessness.
….
I would strongly advise you, Mr. Worthing, to try and acquire some relations as soon as possible, and to make a definite effort to produce at any rate one parent, of either sex, before the season is quite over.
(Lady Bracknell, Act I)

Karakter wanita muda dalam karya Wilde yang ini tidak tampak terlalu mendominasi. Akan tetapi mereka berdua—Gwendolen dan Cecily—adalah gambaran dua karakter wanita dari kelas sosial mereka.

Cecily.  [To Gwendolen.]  That certainly seems a satisfactory explanation, does it not?
Gwendolen.  Yes, dear, if you can believe him.
Cecily.  I don’t.  But that does not affect the wonderful beauty of his answer.
(Act III)

How absurd to talk of the equality of the sexes!  Where questions of self-sacrifice are concerned, men are infinitely beyond us. (Gwendolen, Act III)

Sekilas, comedy ini tidak memiliki konflik yang terlalu kompleks. Akan tetapi banyak hal yang dapat digali mengenai kondisi sosial masyarakat, berdasarkan ide-ide yang tercetus oleh masing-masing karakter dalam percakapan mereka. Dan yang pasti play ini sangat menghibur.

4/5 bintang untuk hiburan ringan yang ‘penuh’.

Oh! it is absurd to have a hard and fast rule about what one should read and what one shouldn’t.  More than half of modern culture depends on what one shouldn’t read. (Algernon, Act I)

Review #5 of Let’s Read Plays

Review #15 for Books in English Reading Challenge 2013

Character Thursday (32) : Lord Goring in An Ideal Husband

new-character-thursday-buttonPada Kamis ini saya ingin membahas sedikit tentang salah satu karakter di play An Ideal Husband by Oscar Wilde, Lord Goring.

Pada awal penyebutan namanya, perkenalan tentang Lord Goring sudah bernada dan berkesan negatif.

LORD CAVERSHAM. Good evening, Lady Chiltern! Has my good-for-nothing young son been here?
LADY CHILTERN. [Smiling.] I don’t think Lord Goring has arrived yet.
MABEL CHILTERN. [Coming up to LORD CAVERSHAM.] Why do you call Lord Goring good-for-nothing?
LORD CAVERSHAM. Because he leads such an idle life.
MABEL CHILTERN . How can you say such a thing? Why, he rides in the Row at ten o’clock in the morning, goes to the Opera three times a week, changes his clothes at least five times a day, and dines out every night of the season. You don’t call that leading an idle life, do you?
LORD CAVERSHAM. [Looking at her with a kindly twinkle in his eyes.] You are a very charming young lady!
(Act I)

Lord Goring juga digambarkan sebagai penebar pesona di kalangan para wanita. Statusnya yang masih lajang juga mendukung perannya tersebut, membuat beberapa wanita merasa tersanjung saat didekati olehnya. Cara bicaranya apa adanya, terkadang lucu, konyol, dan menunjukkan cara hidupnya yang terkesan hanya untuk bersenang-senang saja.

LADY BASILDON . I delight in talking politics. I talk them all day long. But I can’t bear listening to them. I don’t know how the unfortunate men in the House stand these long debates.
LORD GORING. By never listening.
LADY BASILDON. Really?
LORD GORING . [In his most serious manner.] Of course. You see, it is a very dangerous thing to listen. If one listens one may be convinced; and a man who allows himself to be convinced by an argument is a thoroughly unreasonable person.
(Act I)

Namun siapa sangka pada babak kedua play ini, Lord Goring mulai menunjukkan kualitas diri yang sesungguhnya. Sebagai sahabat dari Sir Robert Chiltern—yang sedang berada dalam masalah—dia memberi masukan-masukan yang bijaksana. Dia juga mau memutar otaknya untuk itu, bukan hanya bermalas-malasan seperti yang dikesankan di awal oleh ayahnya. Dia menunjukkan kesetiaan dan kekuatan hati pada apa yang diperjuangkannya saat itu, persahabatan dan cinta.

Never mind what I say, Robert! I am always saying what I shouldn’t say. In fact, I usually say what I really think. A great mistake nowadays. It makes one so liable to be misunderstood. (Lord Goring, Act II)

Hubungan Lord Goring dan ayahnya—sebagaimana kondisi sosial saat itu—agak berjarak. Seringkali Lord Goring merasa tak berkenan dengan kunjungan atau pertemuan dengan ayahnya, terlebih karena Lord Caversham berusaha memburu-buru putranya tersebut untuk segera menikah.

During the Season, father, I only talk seriously on the first Tuesday in every month, from four to seven. (Lord Goring, Act III)

My dear father, when one pays a visit it is for the purpose of wasting other people’s time, not one’s own. (Lord Goring, Act IV)

My dear father, only people who look dull ever get into the House of Commons, and only people who are dull ever succeed there. (Lord Goring, Act IV)

Lord Goring confronts Mrs. Cheveley about a stolen bracelet. From a 1901 collected edition of Wilde’s work

Lord Goring pula lah yang nantinya akan memegang peranan penting dalam penyelesaian masalah Sir Robert Chiltern, juga menyadarkan Lady Chiltern akan arti ideal husband serta bagaimana seharusnya bersikap sebagai istri.

Singkatnya, dapat saya katakan bahwa celetukan-celetukan maupun nasihat-nasihat serius yang keluar dari mulut Lord Goring sebagian besar adalah ide yang dianut oleh Oscar Wilde sendiri. Kesimpulan yang saya ambil melihat bagaimana kata-kata Lord Goring seolah sebagai ‘final’ dari pembicaraan.

And self-sacrifice is a thing that should be put down by law. It is so demoralising to the people for whom one sacrifices oneself. They always go to the bad. (Lord Goring, Act III)

Intip tentang Character Thursday.