Category Archives: Crime

Lethal White – Robert Galbraith

Lethal White (Cormoran Strike, #4)Title : Lethal White (Cormoran Strike #4)
Author : Robert Galbraith (2018)
Publisher : Mulholland Books / Little, Brown and Company
Edition : First edition, September 2018
Format : Large paperback, 650 pages

Setelah kasus Shacklewell Ripper yang diceritakan di buku ketiga, kantor detektif Cormoran Strike kebanjiran pekerjaan. Hal ini membantu Cormoran dan Robin menjaga keberlangsungan neraca yang seimbang agar bisa bekerja dengan tenang, tapi di sisi lain, pemberitaan media menyulitkan pekerjaan mereka yang seringkali harus menyamar dan bersembunyi dari sasaran mereka. Kedua partner ini harus selektif memilih klien yang sesuai dengan visi dan misi mereka, sembari tetap memperhatikan bayaran yang prospektif. Karena alasan-alasan ini, mereka perlu dan mampu mempekerjakan mitra detektif lain, yang bisa membantu terutama dalam masalah penyamaran.

Suatu hari, Cormoran kedatangan seorang dengan gangguan jiwa bernama Billy, yang mengungkit sesuatu mengenai pembunuhan di masa kecilnya. Kunjungan singkat ini mengganggu pikiran Cormoran, sehingga dia memutuskan menggali lebih lanjut, meski petunjuk yang ditinggalkan sangat minim. Penelusuran Strike membawanya ke Jimmy Knight, seorang aktivis kiri. Secara kebetulan (atau bukan kebetulan) di waktu yang berdekatan, dia diminta Jasper Chiswell—Menteri Kebudayaan—untuk menangani pemerasan yang dialaminya. Kasus ini berhubungan dengan Jimmy Knight dan suami dari Menteri Olahraga. Di samping bayaran yang tinggi, kasus ini juga membawanya ke kasus Billy.

“One cannot be held accountable for unintended consequences.” (p.102)

Kali ini Robin mendapat porsi besar dalam pekerjaan ini. Dia ditugaskan menyamar ke Istana Westminster sebagai pegawai magang di kantor Chiswell. Sesuai dengan janji Cormoran sebelumnya, bahwa Robin akan diposisikan sebagai partner, bukan hanya sekretaris. Meski mengandung risiko, pekerjaan semacam ini memang selalu diimpikan Robin. Bahkan walau saat ini kondisi mentalnya masih kurang baik, akibat trauma yang dialaminya pada kasus Shacklewell Ripper.

Perlahan tapi pasti, tim detektif Strike mengupas kasus yang rumit ini, yang berujung, berpangkal, dan berjalin dengan banyak kejadian di masa lalu, orang-orang yang pernah mereka kenal sebelumnya (termasuk Charlotte), rahasia-rahasia yang tak ingin diungkapkan, dan kasus pembunuhan yang baru. Dengan ketegangan, tantangan, bahaya, kejutan, seperti umumnya cerita detektif (yang bagi Cormoran termasuk beberapa kali gangguan di kakinya).

“The client doesn’t get to tell me what I can and can’t investigate. Unless you want the whole truth, I’m not your man.”
“You are, I know you’re the best, that’s why Papa hired you, and that’s why I want you.”
“Then you’ll need to answer questions when I ask them, instead of telling me what does and doesn’t matter.”
(p.313)

Saya tidak menyangkal bahwa salah satu daya tarik dari serial ini adalah bunga-bunga hubungan Cormoran dan Robin. Hubungan semacam ini mungkin cukup klise di buku roman, tetapi penulis berhasil meramunya menjadi sesuatu yang sangat diinginkan pembaca. Chemistry kedua partner ini begitu kuat, sehingga tidak bisa tidak saya merestui hubungan ini. Beberapa bagian cukup membuat gemas, tetapi karena status Robin sudah menjadi istri Matthew, tentunya kita perlu bersabar untuk mencapai ke tingkat yang lebih.

Hubungan Robin dan Matthew sejak pembukaan buku ini sudah tak harmonis lagi—agak terlambat karena kejadiannya di hari pernikahan mereka, tepat saat itu kebenaran tentang Matthew terbuka di hadapan Robin. Kejadian di hari pernikahan itu buat saya sudah menjadi sebuah kisah tersendiri, karena begitu banyak emosi yang terlibat dan kemungkinan yang bisa mengubah kehidupan mereka—meski akhirnya tak terjadi. Bagian prolog ini saja, sukses membuat saya terhenyak dan meninggalkan beragam perasaan.

“Pretending you’re OK when you aren’t isn’t strength.” (p.548)

Bagian lain yang menjadi favorit saya adalah saat Cormoran merasakan bahwa dirinya memiliki dan merupakan bagian dari sebuah keluarga, keluarga yang benar-benar memiliki hubungan darah dengannya. Di bagian ini, sisi manusia Strike yang selama ini terbalut dalam kemasan profesional, luruh menampakkan emosi yang mendalam.

Masalah keluarga juga hadir pada kasus Chiswell yang ditanganinya, yang sedikit banyak membuatnya menghubung-hubungkan dengan dirinya sendiri. Terlebih hubungan kekerabatan di keluarga Chiswell cukup rumit, dengan adanya affair, pernikahan kembali, dan kematian.

Selain itu, urusan keluarga ternyata cukup membebani tugas para detektif yang dituntut bekerja di luar jam kerja normal. Setahu saya, kebanyakan karakter detektif fiksi memang jarang yang memiliki hubungan serius ke orang lain, selain partner kerjanya. Hal ini cukup disorot, tentang hubungan asmara Cormoran yang tidak berlangsung baik, hambatan karena mitra-mitranya sudah berkeluarga.

(…) perhaps the only difference between the two of them was that Strike’s mother had live long enough, and loved him well enough, to stop him breaking when life threw terrible things at him. (p.505)

Kelebihan dari penulis yang satu ini adalah caranya meramu sebuah kisah yang mengandung paket lengkap. Kita tidak hanya mendapatkan kisah detektif yang rumit, di buku ini kita juga mendapatkan kisah cinta, kisah skandal di pemerintahan, kehidupan kaum kiri dan anarkis, beberapa sudut pandang mengenai kesehatan jiwa, pelecehan seksual, isu politik dan sosial, diskriminasi ras, dan hubungan yang tidak sehat. Hal-hal ini muncul dalam kehidupan pribadi detektif kita, maupun kasus yang ditanganinya. Isu-isu terkait perempuan juga masih kuat disuarakan.

“…. Ultimate responsibility always lies with the woman, who should have stopped it, who should have acted, who must have known. Your failings are really our failings, aren’t they? Because the proper role of the woman is carer, and there’s nothing lower in this whole world than a bad mother.” (p.479)

Di buku sebelumnya, penulis menggunakan lagu-lagu sebuah band untuk menandai babnya, kali ini dia menggunakan kutipan drama Rosmersholm karya Henrik Ibsen. Dengan latar waktu di sekitar saat Olimpiade London 2012, kita juga mendapat gambaran persiapan Olimpiade tersebut, baik dari dalam kementerian, maupun terkait antusiasme warga Inggris secara umum. Trivia lain yang bisa didapat adalah seputar kuda—yang berhubungan dengan hobi istri Chiswell, yang juga menjadi bagian penting dan petunjuk dari misteri yang disimpan. Termasuk menjadi judul buku ini.

Lethal white syndrome. (…). Pure white foal, seems healthy when it’s born, but defective bowel. Can’t pass feces. (…). They can’t survive, lethal whites. (p.355)

Secara keseluruhan, perjalanan yang ditawarkan buku ini seperti roller coaster, suatu saat kita naik perlahan, lalu ada ketegangan dan emosi, luapan kegembiraan di saat yang lain, dan berakhir dengan kehausan akan petualangan berikutnya. Meski begitu, bagi saya kesan yang ditimbulkan buku ini tak sekuat buku ketiganya—yang merupakan favorit saya. Mungkin karena porsinya cukup besar, begitu banyak hal yang terjadi, sehingga fokus saya pun harus dibagi-bagi.

It was a glorious thing, to be given hope, when all had seemed lost. (p.236)

Advertisements

Career of Evil – Robert Galbraith

career-of-evilTitle : Career of Evil
Author : Robert Galbraith (2015)
Publisher : Sphere (imprint of Little, Brown Book Group)
Edition : Paperback edition, 2016
Format : Paperback, 584 pages

…the writings done in blood. –Blue Ӧyster Cult, ‘O.D.’d on Life Itself’ (p.82)

Suatu Senin pagi, Robin Ellacott menjalani rutinitasnya menuju kantor detektif Cormoran Strike. Di depan kantor, seorang kurir sudah menunggu dengan bungkusan yang diharapkan berisi pesanannya. Namun, setelah dibuka, ternyata paket itu berisi potongan tungkai kanan seorang wanita muda beserta pesan yang berisi lirik lagu Blue Ӧyster Cult. Seorang pembunuh gila sedang mengincarnya hanya karena dia asisten Cormoran.

Dari pengamatan awal atas motif dan metode pelaku, Cormoran mencatat empat orang yang sangat dendam kepadanya yang mungkin melakukannya; Terence “Digger” Malleys yang pernah punya riwayat kejahatan mutilasi, Donald Laing yang punya riwayat kekerasan terhadap wanita, Noel Brockback yang punya kecenderungan pada perempuan muda, dan Jeff Whittaker yang pernah menikahi dan membunuh Leda Strike—ibu kandung Cormoran. Keempat orang itu, yang punya catatan kejahatan seksual, kekerasan maupun obat-obatan terlarang, punya alasan yang sangat kuat untuk membenci Cormoran. Hampir bisa dipastikan keempatnya rela melakukan apa saja asal bisa membuatnya menderita, seperti penderitaan yang mereka dapatkan karena campur tangan detektif itu. Oleh karena penjahat ini sudah mengancam orang lain, yaitu Robin, Cormoran merasakan dorongan untuk segera menyelesaikannya dengan efektif. Hubungannya dengan polisi beberapa waktu belakangan sedang kurang baik karena kasus Lula Landry dan Owen Quine, maka dari itu dia menghubungi Eric Wardle yang tidak bermasalah dengannya untuk menangani kasus ini secara resmi. Menyingkirkan Robin dari kasus sudah bukan sebuah pilihan karena asistennya berkeras untuk tidak ‘lari’ dari apa yang sudah seharusnya menjadi pekerjaannya juga. Lagipula, bukankah ini yang selama ini diinginkannya, bekerja di kantor detektif, apapun risikonya. Keduanya harus berkolaborasi untuk menyelesaikannya dengan cepat, meski harus menghadapi bahaya.

Penulis pernah mengatakan bahwa dari ketiga buku Cormoran Strike, dia paling menikmati proses menulis buku ini. Salah satunya karena dia mengeksplorasi lirik lagu Blue Ӧyster Cult di hampir setiap babnya. Alih-alih memberi judul atau angka pada pergantian bab, dia menuliskan sebaris dua baris lirik, atau judul lagu band itu, yang sekiranya mewakili isi bab tersebut. Menurut saya itu sebuah tantangan yang menarik, sekaligus membuat saya penasaran pada band tersebut karena ternyata banyak lirik yang ‘menantang’ serta judul-judul ‘menggelitik’ di sana. Alasan lain adalah penulis mengeksplorasi Britania Raya dengan sangat terperinci. Dalam penyelidikannya, Cormoran harus melakukan perjalanan ke beberapa tempat di belahan utara negaranya. Di sini, penulis tidak sekadar meminjam tempat, dia menggambarkan dengan rinci geografi wilayah tersebut, gaya bangunannya, masyarakatnya, sejarahnya, hingga ke bahasa atau dialek daerah itu.

Is it any wonder that my mind’s on fire? –Blue Ӧyster Cult, ‘Flaming Telepaths’ (p.35)

Sebagaimana dua buku sebelumnya, saya sangat menikmati interaksi personal antara Cormoran dan Robin, juga bagaimana kehidupan mereka dikupas satu per satu. Termasuk hubungan mengharukan antara Cormoran dengan Shanker, pria yang dulu diselamatkan Leda dan hingga kini kerap membantu penyelidikan Cormoran melalui jalur ‘tidak resmi’. Penyelidikan terhadap penjahat di masa lalunya mau tak mau membuka kembali masa lalu Cormoran yang belum diperlihatkan di buku sebelumnya. Apalagi penjahatnya kali ini menggunakan tungkai kanan sebagai ancaman, tungkai yang hilang dari Cormoran. Masalah tungkai ini nantinya mempertemukan mereka dengan orang dengan kelainan ingin memutilasi diri sendiri, gangguan yang sangat sensitif bagi orang yang terpaksa harus diamputasi.

Kali ini, jarak antara Robin dengan bosnya semakin mengecil akibat ancaman yang selain membuatnya harus selalu dalam pengawasan, juga mengalami ketegangan hubungan dengan Matthew—tunangannya, seiring makin dekatnya hari pernikahan mereka. Saya tak menyangka di balik sosok Robin yang efisien itu terdapat masa lalu yang kelam, yang membuat saya semakin kagum padanya. Teror yang diterima Robin mau tak mau menguji keteguhan hatinya, apakah dia mampu mempertahankan kepercayaan diri yang dibangunnya dengan susah payah pasca trauma masa lalu.

It had happened all over again. A man had come at her out of the darkness and had ripped her not only her sense of safety, but her status. (p.504)

Secara umum, buku ini menggambarkan dengan sangat apik bagaimana pekerjaan dan kehidupan pribadi dapat berjalan beriringan. Bagaimana pada umumnya orang mengatasi gesekan antara kedua aspek tersebut; saat masalah pribadi membuat kita tidak fokus terhadap pekerjaan, atau justru pekerjaan membuat kita lupa pada masalah pribadi hingga menggunakannya sebagai pelarian—disadari atau tidak.

Berbicara tentang karakter, saya rasa tak perlu diragukan lagi dari karakter-karakter yang telah saya sebutkan semuanya memiliki kekuatan dan ciri unik yang menjadikan mereka tergambar utuh dalam benak pembaca. Bahkan hingga karakter-karakter minor, tidak menjadikan mereka digambarkan secara samar. Ada seorang karakter yang muncul hanya sebentar tetapi dialognya sangat terasa menjengkelkan, begitu nyata hingga saat membaca kalimat-kalimatnya, saya bisa merasakan emosi yang sama dengan yang dirasakan oleh Cormoran sekaligus kekhawatiran Robin bahwa orang tersebut akan menimbulkan masalah. Sehubungan dengan kasus, karakter para tersangka yang diselidiki juga menjadi salah satu petunjuk kuat yang membuat saya bisa menebak orangnya, meski saya masih ragu karena satu sandungan yang disimpan oleh penulis sebagai jebakan.

Singkatnya, saya suka sekali dengan segala sisi dalam buku yang kaya dengan berbagai aspek penceritaan ini. Penulis berhasil membangun rasa penasaran, ketegangan, humor, simpati, hingga ketidaksabaran dalam sebuah buku. 5/5 bintang untuk kehidupan yang keras sekaligus indah.

Baca juga kontemplasi saya tentang feminisme dalam serial ini di sini.

You could find beauty nearly anywhere if you stopped to look for it, but the battle to get through the days made it easy to forget that this totally cost-free luxury existed. (p.198)

The Murder at the Vicarage – Agatha Christie

15990314Title : The Murder at the Vicarage (Pembunuhan di Wisma Pendeta)
Author : Agatha Christie (1930)
Translator : Drs. Budijanto T. Pramono
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan keenam, Agustus 2012
Format : Paperback, 368 pages

Sering aku heran mengapa seluruh dunia cenderung mengambil kesimpulan secara umum. Kesimpulan-kesimpulan begitu jarang sekali atau tak pernah benar, dan biasanya sangat tidak cermat. (p.268)

Baru saja Pendeta Clement mengatakan bahwa kematian Kolonel Protheroe merupakan berkah bagi umat manusia, baru diketahui bahwa Mrs. Protheroe berselingkuh dengan seniman setempat dan hendak lari, baru saja ada ancaman untuk sang Kolonel, serta tak pernah menjadi rahasia bahwa tidak ada yang menyukai sang Kolonel, kemudian dia ditemukan meninggal dunia di wisma pendeta. Terlalu banyak tersangka tetapi terlalu sedikit bukti, terlalu banyak keterangan, dan terlalu banyak prasangka. Kematian Protheroe sebenarnya tak terlalu menjadi persoalan, tetapi segalanya menjadi serius karena orang-orang yang seharusnya tak bersalah berpotensi menjadi korban fitnah dan praduga. Oleh karenanya, pembunuhan tetaplah pembunuhan, yang bersalah harus ditemukan.

Melalui narasi sang pendeta, kita diajak berkenalan dengan salah satu detektif wanita rekaan penulis, Jane Marple. Wanita tua ini tampaknya mengetahui segala sesuatu, mulai dari apa yang terjadi, kapan waktunya, hingga gosip terhangat di desa. Jika ada suatu kejadian penting, entah mengapa Miss Marple mendapat dorongan untuk berkunjung. Saat ada sesuatu terjadi di dekat rumahnya, entah bagaimana Miss Marple bisa berada di posisi yang tepat, di dekat jendela atau di kebunnya. Sebenarnya itu salah satu misteri juga, tetapi kembali ke pembunuhan Protheroe, dari sekian banyak kesaksian dan keterangan, satu-satunya yang meyakinkan hanyalah informasi dari Miss Marple yang sangat tepat dan deduksinya yang masuk akal.

Itu namanya intuisi—sesuatu yang terlalu dibesar-besarkan orang. Intuisi itu seperti membaca sebuah kata tanpa perlu mengejanya. Seorang anak tak dapat melakukannya, karena pengalamannya sangat kurang. Tapi orang dewasa tahu kata itu karena dia telah sering melihatnya sebelumnya. (p.122)

Kehidupan di desa sekecil St. Mary Mead memungkinkan setiap orang untuk saling mengenal. Satu dua hal aneh bisa menjadi pergunjingan, satu dua gerakan mencurigakan bisa menjadi prasangka, dan dengan adanya kasus kriminal, semua orang menjadi saling curiga dan khawatir. Dimulailah drama yang membumbui penyelidikan ini, mulai dari beberapa pengakuan yang dramatis, wanita tua yang histeris karena ancaman melalui telepon, hingga rahasia-rahasia kecil yang tak sengaja terbongkar.

Sejujurnya, terlalu banyak detail dalam buku ini yang membuat bosan. Pada beberapa bagian, narasi Clement terasa datar-datar saja. Drama di St. Mary Mead cukup memberi bumbu, meskipun tidak terlalu merata. Namun sentuhan cerdas penulis tetap terasa dalam caranya mengarahkan pembaca—bahkan sang pendeta, ke petunjuk yang salah. Selain itu, saya juga menikmati kekayaan karakter manusia yang ditampilkan dalam buku ini; istri pendeta yang berjiwa muda, keponakannya yang meledak-ledak, dokter yang humanis dengan caranya, inspektur yang sulit bekerja sama, kawan yang penggugup, arkeolog dan sekretarisnya yang menjadi sasaran empuk penggosip, dan lain sebagainya.

Pada kenyataannya, kebanyakan orang itu aneh, jika Anda mengenalnya dengan baik. Dan orang-orang normal kadang-kadang melakukan hal-hal yang mengherankan, dan orang-orang abnormal kadang-kadang malahan bertindak waras dan lumrah. Ternyata, satu-satunya jalan adalah membandingkan orang yang satu dengan orang lain yang kita kenal atau yang kita temui. Anda akan heran jika tahu bahwa sebenarnya manusia itu hanya terbagi menjadi tipe-tipe yang sangat sedikit jumlahnya. (p.315-316)

3/5 untuk pembunuhan, manusia, dan segala dramanya.

Review #11 for 2014 TBRR Pile Reading Challenge (Mystery #2)

Review #18 for Lucky No.14 Reading Challenge category Once Upon a Time

Seven Dials Mystery – Agatha Christie

Seven Dials MysteryTitle : Seven Dials Mystery (Misteri Tujuh Lonceng)
Author : Agatha Christie (1929)
Translator : Mareta
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan keenam, September 2002
Format : Paperback, 328 pages

Chimneys merupakan sebuah rumah tua dan besar milik Lord Caterham, yang ditinggalinya bersama Lady Eileen Brent—atau biasa disapa Bundle Brent, putrinya. Namun pada saat itu, Chimneys sedang disewa oleh Sir Oswald Coote untuk dipergunakan sebagai rumah peristirahatan. Selain bersama istrinya, Lady Coote, dan sekretarisnya, Rupert Bateman alias Pongo, tinggal juga—saat itu—Jimmy Thesiger, Gerry Wade, Ronny Devereux, Bill Eversleigh, Helen, Nancy dan Socks.

Suatu pagi, para muda-mudi itu mengeluhkan sulitnya Gerry Wade untuk bangun tepat waktu. Mereka pun merencanakan keisengan untuk membangunkan Gerry dengan banyak sekali jam weker. Rencana dijalankan, tetapi Gerry tidak pernah bangun lagi. Dia meninggal di tempat tidurnya seolah-olah seperti bunuh diri. Namun teman-temannya, juga adik tirinya, Loraine Wade, yakin bahwa Gerry dibunuh.

Beberapa waktu kemudian, sebuah kecelakaan yang nyaris dialami Bundle Brent membawanya pada kematian Ronny Devereux. Kematian Ronny diduga karena kecelakaan, tetapi ada beberapa keanehan yang kemudian membawa Bundle pada Bill Eversleigh dan Jimmy Thesiger untuk menyelidikinya bersama-sama. Petunjuknya ada di Tujuh Lonceng, dan hal ini juga menyeret Bundle pada kasus kematian Gerry Wade di rumah ayahnya.

Di sini, kita lebih banyak disuguhkan sepak terjang Bundle yang nekat menantang bahaya, hingga pencariannya sampai pada sebuah organisasi rahasia. Apakah yang mereka incar sebenarnya? Akankah ada nyawa yang melayang lagi?

Sejak awal, buku ini banyak menampilkan kekonyolan karakter-karakternya, yang utamanya terdiri dari anak muda, yang cenderung berpembawaan luwes. Bahkan meski telah terjadi pembunuhan, tak terlihat aura kemuraman dan ketakutan dari karakter-karakter tersebut, pun orang-orang tuanya—seperti Lord Caterham—yang tampaknya memiliki hal lain untuk dikhawatirkan. Hal ini tampaknya karena memang sedikit sekali karakter yang memiliki kedekatan pribadi dengan korban. Kalaupun ada, mereka tidak ditampakkan secara langsung, dan perasaan-perasaan mereka tidak ditonjolkan.

Hanya  Inspektur Polisi Battle yang kelihatan cukup serius, meski sama misteriusnya dengan kasus ini sendiri. Dan tampaknya, di luar keunikan metodenya, dialah yang melihat kasus ini secara lebih terang. Oleh karena kita lebih banyak diajak melihat dari sisi Bundle Brent, mungkin kita akan mengira ada yang salah dengan Inspektur Battle.

“Anda menceritakan semua yang Anda ketahui, Inspektur”
“Semua yang saya tahu—ya, Sir Oswald. Apa yang saya pikir adalah soal lain. Barangkali saya memikirkan hal-hal yang mencurigakan. Tapi sebelum ada kepastian, tak ada gunanya membicarakan apa yang saya pikir.”
(p.200)

The Seven Dials Mystery First Edition Cover 1929.jpg

Dust-jacket illustration of the first UK edition

Secara keseluruhan, saya merasa buku ini menonjolkan semangat ‘anak muda’. Kekhawatiran dan teror memang muncul beberapa kali, tetapi penulis dengan mudah menutupinya dengan lelucon atau bahkan sedikit bumbu percintaan pada karakter tertentu, yang pada akhirnya, mungkin¸menjebak cara pandang pembaca.

4/5 bintang untuk tujuh jam weker yang ‘berisik’.

“… Mereka menamakan kita si Sulit Mati—tapi saya bangga dengan nama itu—sekali lagi, saya bangga! Memang ada hal-hal yang harus sulit mati—yaitu wibawa, keindahan, kesederhanaan, kesucian hidup keluarga, kasih sayang terhadap anak—siapa yang mati kalau hal-hal seperti itu hidup? Seperti saya katakan tadi Lady Eileen, saya iri dengan kesempatan-kesempatan yang kaupunyai karena masih muda seperti ini. …” (p.234)

Review #8 for Mystery Reading Challenge 2013

Review #4 for Agatha Christie Read Along

B is for Burglar – Sue Grafton

B is for BurglarTitle : B is for Burglar
Author : Sue Grafton (1985)
Translator : Putri Mayan Kalingi
Editor : Yudi Iswanto
Publisher : Dastan Books
Edition : Cetakan I, September 2009
Format : Paperback, 348 halaman

Kinsey Milhone, seorang penyelidik swasta, menerima pekerjaan dari klien barunya, Beverly Danzinger. Beverly memintanya untuk mencari Elaine Boldt, kakaknya yang raib entah kemana. Elaine memang sering bepergian, namun tak biasanya dia tak menghubungi siapa pun, surat-surat serta tagihannya pun tak tersentuh. Ketika penyelidikan Kinsey tiba pada tetangga sekaligus sahabat Elaine yang tewas tak lama sebelumnya, juga saat Kinsey meminta keterangan dari suami Beverly, tiba-tiba memutuskan agar penyelidikan dihentikan.

Namun, Kinsey tidak menyerah, penyelidikannya sudah mulai mendekati titik terang. Dia pun melanjutkan sendiri penyelidikannya, dengan dukungan dan bantuan dari salah seorang tetangga Elaine. Ternyata, ada banyak kepentingan di balik menghilangnya Elaine Boldt, cukup banyak orang yang memiliki motif, namun tak terlihat pada awalnya. Jauh sebelumnya, Kinsey telah yakin bahwa Elaine telah dibunuh, namun bagaimana caranya, dan dimana mayatnya berada? Pertanyaan yang akan berkembang dan saling berkaitan, kemudian terjawab di akhir kisah.

Ini adalah kali ketiga saya membaca serial Kinsey Milhone yang ditulis berurutan berdasarkan abjad. Detektif wanita yang satu ini memang tidak sespektakuler atau seeksentrik detektif-detektif klasik ala Conan Doyle atau Agatha Christie. Karakter Kinsey cukup unik, seorang janda muda tanpa anak yang hidup menyendiri, mantan polisi yang memutuskan untuk menjadi detektif swasta. Dia bekerja dengan cukup rapi, menetapkan tarif serta kesepakatan standar dengan kliennya sejak awal, karena pekerjaan yang dipilihnya ini juga sebagai mata pencahariannya. Dalam bekerja, dia menggunakan kartu-kartu berisi fakta yang diperolehnya, yang akan dirangkainya untuk membantu berpikir.

Salah satu yang mengganggu saya adalah subjudul terjemahannya, ‘Misteri Hilangnya Sang Adik’, padahal di dalam dikatakan berulang kali bahwa Elaine adalah kakak dari Beverly.

Detektif rekaan Sue Grafton ini cukup ‘manusiawi’, mungkin itulah yang membedakannya dengan karakter detektif yang lain. Kinsey memiliki sifat sama seperti ‘orang biasa’, dia punya emosi dan ego. Dan meski secara keseluruhan kisah ini tidak spesial, saya cukup menikmati membacanya. 3/5 bintang.

Review #3 for Mystery Reading Challenge 2013