Category Archives: Detective

Lethal White – Robert Galbraith

Lethal White (Cormoran Strike, #4)Title : Lethal White (Cormoran Strike #4)
Author : Robert Galbraith (2018)
Publisher : Mulholland Books / Little, Brown and Company
Edition : First edition, September 2018
Format : Large paperback, 650 pages

Setelah kasus Shacklewell Ripper yang diceritakan di buku ketiga, kantor detektif Cormoran Strike kebanjiran pekerjaan. Hal ini membantu Cormoran dan Robin menjaga keberlangsungan neraca yang seimbang agar bisa bekerja dengan tenang, tapi di sisi lain, pemberitaan media menyulitkan pekerjaan mereka yang seringkali harus menyamar dan bersembunyi dari sasaran mereka. Kedua partner ini harus selektif memilih klien yang sesuai dengan visi dan misi mereka, sembari tetap memperhatikan bayaran yang prospektif. Karena alasan-alasan ini, mereka perlu dan mampu mempekerjakan mitra detektif lain, yang bisa membantu terutama dalam masalah penyamaran.

Suatu hari, Cormoran kedatangan seorang dengan gangguan jiwa bernama Billy, yang mengungkit sesuatu mengenai pembunuhan di masa kecilnya. Kunjungan singkat ini mengganggu pikiran Cormoran, sehingga dia memutuskan menggali lebih lanjut, meski petunjuk yang ditinggalkan sangat minim. Penelusuran Strike membawanya ke Jimmy Knight, seorang aktivis kiri. Secara kebetulan (atau bukan kebetulan) di waktu yang berdekatan, dia diminta Jasper Chiswell—Menteri Kebudayaan—untuk menangani pemerasan yang dialaminya. Kasus ini berhubungan dengan Jimmy Knight dan suami dari Menteri Olahraga. Di samping bayaran yang tinggi, kasus ini juga membawanya ke kasus Billy.

“One cannot be held accountable for unintended consequences.” (p.102)

Kali ini Robin mendapat porsi besar dalam pekerjaan ini. Dia ditugaskan menyamar ke Istana Westminster sebagai pegawai magang di kantor Chiswell. Sesuai dengan janji Cormoran sebelumnya, bahwa Robin akan diposisikan sebagai partner, bukan hanya sekretaris. Meski mengandung risiko, pekerjaan semacam ini memang selalu diimpikan Robin. Bahkan walau saat ini kondisi mentalnya masih kurang baik, akibat trauma yang dialaminya pada kasus Shacklewell Ripper.

Perlahan tapi pasti, tim detektif Strike mengupas kasus yang rumit ini, yang berujung, berpangkal, dan berjalin dengan banyak kejadian di masa lalu, orang-orang yang pernah mereka kenal sebelumnya (termasuk Charlotte), rahasia-rahasia yang tak ingin diungkapkan, dan kasus pembunuhan yang baru. Dengan ketegangan, tantangan, bahaya, kejutan, seperti umumnya cerita detektif (yang bagi Cormoran termasuk beberapa kali gangguan di kakinya).

“The client doesn’t get to tell me what I can and can’t investigate. Unless you want the whole truth, I’m not your man.”
“You are, I know you’re the best, that’s why Papa hired you, and that’s why I want you.”
“Then you’ll need to answer questions when I ask them, instead of telling me what does and doesn’t matter.”
(p.313)

Saya tidak menyangkal bahwa salah satu daya tarik dari serial ini adalah bunga-bunga hubungan Cormoran dan Robin. Hubungan semacam ini mungkin cukup klise di buku roman, tetapi penulis berhasil meramunya menjadi sesuatu yang sangat diinginkan pembaca. Chemistry kedua partner ini begitu kuat, sehingga tidak bisa tidak saya merestui hubungan ini. Beberapa bagian cukup membuat gemas, tetapi karena status Robin sudah menjadi istri Matthew, tentunya kita perlu bersabar untuk mencapai ke tingkat yang lebih.

Hubungan Robin dan Matthew sejak pembukaan buku ini sudah tak harmonis lagi—agak terlambat karena kejadiannya di hari pernikahan mereka, tepat saat itu kebenaran tentang Matthew terbuka di hadapan Robin. Kejadian di hari pernikahan itu buat saya sudah menjadi sebuah kisah tersendiri, karena begitu banyak emosi yang terlibat dan kemungkinan yang bisa mengubah kehidupan mereka—meski akhirnya tak terjadi. Bagian prolog ini saja, sukses membuat saya terhenyak dan meninggalkan beragam perasaan.

“Pretending you’re OK when you aren’t isn’t strength.” (p.548)

Bagian lain yang menjadi favorit saya adalah saat Cormoran merasakan bahwa dirinya memiliki dan merupakan bagian dari sebuah keluarga, keluarga yang benar-benar memiliki hubungan darah dengannya. Di bagian ini, sisi manusia Strike yang selama ini terbalut dalam kemasan profesional, luruh menampakkan emosi yang mendalam.

Masalah keluarga juga hadir pada kasus Chiswell yang ditanganinya, yang sedikit banyak membuatnya menghubung-hubungkan dengan dirinya sendiri. Terlebih hubungan kekerabatan di keluarga Chiswell cukup rumit, dengan adanya affair, pernikahan kembali, dan kematian.

Selain itu, urusan keluarga ternyata cukup membebani tugas para detektif yang dituntut bekerja di luar jam kerja normal. Setahu saya, kebanyakan karakter detektif fiksi memang jarang yang memiliki hubungan serius ke orang lain, selain partner kerjanya. Hal ini cukup disorot, tentang hubungan asmara Cormoran yang tidak berlangsung baik, hambatan karena mitra-mitranya sudah berkeluarga.

(…) perhaps the only difference between the two of them was that Strike’s mother had live long enough, and loved him well enough, to stop him breaking when life threw terrible things at him. (p.505)

Kelebihan dari penulis yang satu ini adalah caranya meramu sebuah kisah yang mengandung paket lengkap. Kita tidak hanya mendapatkan kisah detektif yang rumit, di buku ini kita juga mendapatkan kisah cinta, kisah skandal di pemerintahan, kehidupan kaum kiri dan anarkis, beberapa sudut pandang mengenai kesehatan jiwa, pelecehan seksual, isu politik dan sosial, diskriminasi ras, dan hubungan yang tidak sehat. Hal-hal ini muncul dalam kehidupan pribadi detektif kita, maupun kasus yang ditanganinya. Isu-isu terkait perempuan juga masih kuat disuarakan.

“…. Ultimate responsibility always lies with the woman, who should have stopped it, who should have acted, who must have known. Your failings are really our failings, aren’t they? Because the proper role of the woman is carer, and there’s nothing lower in this whole world than a bad mother.” (p.479)

Di buku sebelumnya, penulis menggunakan lagu-lagu sebuah band untuk menandai babnya, kali ini dia menggunakan kutipan drama Rosmersholm karya Henrik Ibsen. Dengan latar waktu di sekitar saat Olimpiade London 2012, kita juga mendapat gambaran persiapan Olimpiade tersebut, baik dari dalam kementerian, maupun terkait antusiasme warga Inggris secara umum. Trivia lain yang bisa didapat adalah seputar kuda—yang berhubungan dengan hobi istri Chiswell, yang juga menjadi bagian penting dan petunjuk dari misteri yang disimpan. Termasuk menjadi judul buku ini.

Lethal white syndrome. (…). Pure white foal, seems healthy when it’s born, but defective bowel. Can’t pass feces. (…). They can’t survive, lethal whites. (p.355)

Secara keseluruhan, perjalanan yang ditawarkan buku ini seperti roller coaster, suatu saat kita naik perlahan, lalu ada ketegangan dan emosi, luapan kegembiraan di saat yang lain, dan berakhir dengan kehausan akan petualangan berikutnya. Meski begitu, bagi saya kesan yang ditimbulkan buku ini tak sekuat buku ketiganya—yang merupakan favorit saya. Mungkin karena porsinya cukup besar, begitu banyak hal yang terjadi, sehingga fokus saya pun harus dibagi-bagi.

It was a glorious thing, to be given hope, when all had seemed lost. (p.236)

Advertisements

The Devotion of Suspect X – Keigo Higashino

kesetiaan-mr-xTitle : Yōgisha X no Kenshin / Kesetiaan Mr. X (Detective Galileo #3)
Author : Keigo Higashino (2005)
Translator : Faira Ammadea
Editor : Dessy Harahap
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan pertama, 2016
Format : Paperback, 320 pages

“Mana yang paling sulit: menciptakan soal yang sulit atau memecahkannya? Hanya ada satu jawaban pasti. Bagaimana? Menarik, bukan?” (p.139)

Hari-hari Tetsuya ‘Daruma’ Ishigami teratur seperti jarum jam, pagi hari dari apartemennya dia akan melewati jalur yang sama menuju ke SMA tempatnya mengajar matematika. Namun, sebelumnya dia akan mampir ke kedai bento Benten-tei, tempat Yasuko Hanaoka bekerja. Apartemen Ishigami bersebelahan dengan Yasuko tetapi mereka jarang bertegur sapa, hanya di Benten-tei, alasan guru itu membeli bento setiap harinya.

Yasuko adalah seorang janda dengan seorang putri yang duduk di bangku SMP bernama Misato. Suatu sore, mantan suami yang selalu menerornya—Togashi, mendatangi wanita itu ke Benten-tei dan mengikutinya sampai ke apartemen. Keributan terjadi hingga dalam pembelaan diri, Togashi meninggal di tangan ibu dan anak tersebut. Kebetulan Ishigami mendengar keributan tersebut dan menawarkan bantuan untuk menutupi kejahatan tersebut, karena menyerahkan diri ke polisi mau tak mau harus melibatkan Misato.

Sebagai jenius matematika, Ishigami menggunakan kemampuan logikanya untuk membuat alibi dan menghilangkan bukti. Polisi dibuat kebingungan dengan penemuan-penemuan yang terkesan serampangan tetapi saat ditelusuri kejanggalan tersebut justru membawa mereka semakin jauh dari kebenaran. Satu-satunya tersangka kuat hanya sang mantan istri, tetapi tak ada bukti yang mendukung. Detektif Kusanagi yang menangani kasus ini berteman dengan Dr. Manabu Yukawa, Profesor Galileo yang ahli di bidang fisika, serta kerap membantu polisi tersebut. Namun kali ini posisinya berbeda karena ternyata Ishigami adalah teman kuliah Yukawa, sekaligus orang yang dikaguminya. Apakah kejeniusan Yukawa bisa mengalahkan Ishigami, dan apakah Yukawa tega menyingkap tindakan kawannya seandainya dirinya menemukan bukti?

“Menurutmu mana yang paling mudah saat mengerjakan soal matematika? Mencari jawaban sendiri? Memastikan jawaban dari orang lain benar atau salah? Atau malah kau ingin tahu seberapa tinggi tingkat kesulitannya?” (p.98-99)

Meski merupakan buku ketiga dari seri Detektif Galileo, membaca buku ini saja tidak membingungkan sama sekali. Terkecuali saya sempat salah mengira karakter utama karena begitu simpatiknya karakter Ishigami digambarkan, dan mungkin pandangan saya mengenai Yukawa akan berbeda seandainya bukan buku ini yang pertama saya baca. Cara penulis menghidupkan karakter Ishigami begitu manusiawi, dengan detail yang menjadikan pembaca begitu dekat, kemudian saat Yukawa masuk dan memberi sentuhan kehangatan kawan lama, saya bisa merasakan dilema antara kebenaran dan kemurahan hati. Ramuan logika dan kecerdasan kedua jenius tersebut lebur dengan pertemanan dan nostalgia, menjadikan buku ini bukan sekadar pemecahan misteri biasa. Apalagi ditambah selipan tentang prinsip dasar matematika dan fisika yang kemudian dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.

Satu persamaan di antara Ishigami dan Yukawa: mereka ingin membangun dunia ini berdasarkan teori. Namun metode pendekatan yang digunakan sama sekali berbeda. (p.92)

Suasana sendu semacam ini jamak pada sastra Jepang, sejauh yang pernah saya baca, tetap berpadu manis dengan kekerasan sadis yang tidak ditutup-tutupi pada genre misterinya. Buku ini tidak hanya berbicara tentang pembunuhan dan pemecahannya, tetapi mengupas juga seperti apa kehidupan seorang pembunuh. Dalam kasus Yasuko yang terpaksa melakukan kejahatan itu dan berusaha melanjutkan hidupnya, tidak mudah memiliki utang budi pada seseorang yang tadinya bukan siapa-siapa. Masalah baru timbul saat seorang pria dari masa lalu mendekatinya kembali dan membuat penolongnya cemburu.

Mana yang lebih mudah, merencanakan kejahatan atau menutupi kejahatan yang tak terencana? Jawaban yang disajikan akan sangat mengejutkan, karena petunjuknya ternyata sudah ada sejak halaman awal. Detail yang tampak tak penting akan menjadi kunci, karena, bukankah kita perlu menutupi sebuah kejahatan? 4/5 bintang untuk akhir kejahatan yang menyayat hati.

“Pertama-tama, kau harus mencari jawabannya sendiri, baru menyimak jawaban orang lain,” (p.245)

Career of Evil – Robert Galbraith

career-of-evilTitle : Career of Evil
Author : Robert Galbraith (2015)
Publisher : Sphere (imprint of Little, Brown Book Group)
Edition : Paperback edition, 2016
Format : Paperback, 584 pages

…the writings done in blood. –Blue Ӧyster Cult, ‘O.D.’d on Life Itself’ (p.82)

Suatu Senin pagi, Robin Ellacott menjalani rutinitasnya menuju kantor detektif Cormoran Strike. Di depan kantor, seorang kurir sudah menunggu dengan bungkusan yang diharapkan berisi pesanannya. Namun, setelah dibuka, ternyata paket itu berisi potongan tungkai kanan seorang wanita muda beserta pesan yang berisi lirik lagu Blue Ӧyster Cult. Seorang pembunuh gila sedang mengincarnya hanya karena dia asisten Cormoran.

Dari pengamatan awal atas motif dan metode pelaku, Cormoran mencatat empat orang yang sangat dendam kepadanya yang mungkin melakukannya; Terence “Digger” Malleys yang pernah punya riwayat kejahatan mutilasi, Donald Laing yang punya riwayat kekerasan terhadap wanita, Noel Brockback yang punya kecenderungan pada perempuan muda, dan Jeff Whittaker yang pernah menikahi dan membunuh Leda Strike—ibu kandung Cormoran. Keempat orang itu, yang punya catatan kejahatan seksual, kekerasan maupun obat-obatan terlarang, punya alasan yang sangat kuat untuk membenci Cormoran. Hampir bisa dipastikan keempatnya rela melakukan apa saja asal bisa membuatnya menderita, seperti penderitaan yang mereka dapatkan karena campur tangan detektif itu. Oleh karena penjahat ini sudah mengancam orang lain, yaitu Robin, Cormoran merasakan dorongan untuk segera menyelesaikannya dengan efektif. Hubungannya dengan polisi beberapa waktu belakangan sedang kurang baik karena kasus Lula Landry dan Owen Quine, maka dari itu dia menghubungi Eric Wardle yang tidak bermasalah dengannya untuk menangani kasus ini secara resmi. Menyingkirkan Robin dari kasus sudah bukan sebuah pilihan karena asistennya berkeras untuk tidak ‘lari’ dari apa yang sudah seharusnya menjadi pekerjaannya juga. Lagipula, bukankah ini yang selama ini diinginkannya, bekerja di kantor detektif, apapun risikonya. Keduanya harus berkolaborasi untuk menyelesaikannya dengan cepat, meski harus menghadapi bahaya.

Penulis pernah mengatakan bahwa dari ketiga buku Cormoran Strike, dia paling menikmati proses menulis buku ini. Salah satunya karena dia mengeksplorasi lirik lagu Blue Ӧyster Cult di hampir setiap babnya. Alih-alih memberi judul atau angka pada pergantian bab, dia menuliskan sebaris dua baris lirik, atau judul lagu band itu, yang sekiranya mewakili isi bab tersebut. Menurut saya itu sebuah tantangan yang menarik, sekaligus membuat saya penasaran pada band tersebut karena ternyata banyak lirik yang ‘menantang’ serta judul-judul ‘menggelitik’ di sana. Alasan lain adalah penulis mengeksplorasi Britania Raya dengan sangat terperinci. Dalam penyelidikannya, Cormoran harus melakukan perjalanan ke beberapa tempat di belahan utara negaranya. Di sini, penulis tidak sekadar meminjam tempat, dia menggambarkan dengan rinci geografi wilayah tersebut, gaya bangunannya, masyarakatnya, sejarahnya, hingga ke bahasa atau dialek daerah itu.

Is it any wonder that my mind’s on fire? –Blue Ӧyster Cult, ‘Flaming Telepaths’ (p.35)

Sebagaimana dua buku sebelumnya, saya sangat menikmati interaksi personal antara Cormoran dan Robin, juga bagaimana kehidupan mereka dikupas satu per satu. Termasuk hubungan mengharukan antara Cormoran dengan Shanker, pria yang dulu diselamatkan Leda dan hingga kini kerap membantu penyelidikan Cormoran melalui jalur ‘tidak resmi’. Penyelidikan terhadap penjahat di masa lalunya mau tak mau membuka kembali masa lalu Cormoran yang belum diperlihatkan di buku sebelumnya. Apalagi penjahatnya kali ini menggunakan tungkai kanan sebagai ancaman, tungkai yang hilang dari Cormoran. Masalah tungkai ini nantinya mempertemukan mereka dengan orang dengan kelainan ingin memutilasi diri sendiri, gangguan yang sangat sensitif bagi orang yang terpaksa harus diamputasi.

Kali ini, jarak antara Robin dengan bosnya semakin mengecil akibat ancaman yang selain membuatnya harus selalu dalam pengawasan, juga mengalami ketegangan hubungan dengan Matthew—tunangannya, seiring makin dekatnya hari pernikahan mereka. Saya tak menyangka di balik sosok Robin yang efisien itu terdapat masa lalu yang kelam, yang membuat saya semakin kagum padanya. Teror yang diterima Robin mau tak mau menguji keteguhan hatinya, apakah dia mampu mempertahankan kepercayaan diri yang dibangunnya dengan susah payah pasca trauma masa lalu.

It had happened all over again. A man had come at her out of the darkness and had ripped her not only her sense of safety, but her status. (p.504)

Secara umum, buku ini menggambarkan dengan sangat apik bagaimana pekerjaan dan kehidupan pribadi dapat berjalan beriringan. Bagaimana pada umumnya orang mengatasi gesekan antara kedua aspek tersebut; saat masalah pribadi membuat kita tidak fokus terhadap pekerjaan, atau justru pekerjaan membuat kita lupa pada masalah pribadi hingga menggunakannya sebagai pelarian—disadari atau tidak.

Berbicara tentang karakter, saya rasa tak perlu diragukan lagi dari karakter-karakter yang telah saya sebutkan semuanya memiliki kekuatan dan ciri unik yang menjadikan mereka tergambar utuh dalam benak pembaca. Bahkan hingga karakter-karakter minor, tidak menjadikan mereka digambarkan secara samar. Ada seorang karakter yang muncul hanya sebentar tetapi dialognya sangat terasa menjengkelkan, begitu nyata hingga saat membaca kalimat-kalimatnya, saya bisa merasakan emosi yang sama dengan yang dirasakan oleh Cormoran sekaligus kekhawatiran Robin bahwa orang tersebut akan menimbulkan masalah. Sehubungan dengan kasus, karakter para tersangka yang diselidiki juga menjadi salah satu petunjuk kuat yang membuat saya bisa menebak orangnya, meski saya masih ragu karena satu sandungan yang disimpan oleh penulis sebagai jebakan.

Singkatnya, saya suka sekali dengan segala sisi dalam buku yang kaya dengan berbagai aspek penceritaan ini. Penulis berhasil membangun rasa penasaran, ketegangan, humor, simpati, hingga ketidaksabaran dalam sebuah buku. 5/5 bintang untuk kehidupan yang keras sekaligus indah.

Baca juga kontemplasi saya tentang feminisme dalam serial ini di sini.

You could find beauty nearly anywhere if you stopped to look for it, but the battle to get through the days made it easy to forget that this totally cost-free luxury existed. (p.198)

The Murder of Roger Ackroyd – Agatha Christie

roger ackroydTitle : The Murder of Roger Ackroyd
Author : Agatha Christie (1926)
Publisher : Fontana Books
Edition : Fourteenth impression, March 1976
Format : Paperback, 221 pages

The truth, however ugly in itself, is always curious and beautiful to the seeker after it. (p.117)

Mrs. Ferrars meninggal karena overdosis obat tidur hari itu, menyusul suaminya yang sudah meninggal lebih dari setahun lalu karena—rumornya—keracunan, atau diracun. Dr. James Sheppard yang bertugas di desa tersebut, King’s Abbot, tidak sependapat, tetapi kakak yang tinggal bersamanya, Caroline, selalu punya teori sensasional atas segala kejadian di tempat itu. Caroline entah bagaimana caranya selalu bisa mendapatkan informasi tanpa harus keluar dari rumah, tak ada berita yang lolos darinya. Menurut teori Caroline Sheppard, Mrs. Ferrars meracuni suaminya, lalu setelah setahun hidup dengan rasa bersalah, dia memutuskan untuk bunuh diri dengan obat tidur. Masalahnya, tidak ada surat yang ditinggalkan seperti pada umumnya seorang yang akan mengakhiri hidupnya.

Teori Caroline yang lain berhubungan dengan Roger Ackroyd, seorang yang sangat kaya dan berpengaruh di King’s Abbot. Dengan berbagai spekulasi mengenai motif dan affair yang terjadi di keluarga tersebut. Mulai dari hubungan anak tirinya, Ralph Paton, dengan kemenakannya, Flora Ackroyd, sampai dengan orang ketiga, pelayan dan pengurus rumah. Masalah sedikit demi sedikit mulai terbuka dengan pengungkapan adanya pemerasan paska kematian Mr. Ferrars, dan surat terakhir Mrs. Ferrars yang dialamatkan pada Roger Ackroyd. Namun, Roger Ackroyd dibunuh setelah mendapatkan surat tersebut, sebelum sempat mengungkapkannya.

You should employ your little grey cells. (p.177)

Cerita ini disampaikan melalui narasi Dr. Sheppard sebagai orang pertama. Sebagai dokter, Sheppard tentunya mengenal dan bebas berhubungan dengan orang-orang di King’s Abbot. Apalagi dia termasuk orang kepercayaan Roger Ackroyd sendiri, dan dekat dengan keluarganya, sehingga pembaca dapat dengan leluasa melihat berbagai kisah orang-orang melalui pandangan Sheppard.

Dalam buku ini, Hercule Poirot diceritakan hendak menikmati masa pensiunnya dengan tenang tanpa publikasi. Kebetulan dia tinggal di sebelah rumah Sheppard. Kejadian pembunuhan itu memaksanya ‘bekerja’ kembali, atas permohonan Flora Ackroyd yang sudah mengenal Poirot sebelum mereka pindah ke King’s Abbot.

Seperti biasa, Agatha Christie selalu punya kejutan tak terduga dalam buku-bukunya. Pemilihan karakter, penggunaan narasi, dan runtutan kejadian ditulis dengan penuh perhitungan. Awalnya, saya merasa karakter Caroline ini sebagai ‘pemanis’ kisah, membuat ramai dengan berbagai teori dan gosip yang diembuskannya. Akan tetapi, ternyata ada maksud tertentu memunculkan karakter ini, mulai dari memperkaya informasi untuk narator kita, sampai dengan menunjukkan bahwa pembaca seperti saya ternyata tak jauh beda dengan dirinya.

Women observe subconsciously a thousand little details, without knowing that they are doing so. Their subconscious mind adds these little things together—and they call the result intuition. (p.119)

Salah satu hal yang menarik di sini adalah penekanan bahwa setiap orang memiliki rahasia. Sebagaimana umumnya, orang-orang yang berhubungan dengan korban pembunuhan selalu ditanya alibinya. Tetapi Poirot tahu, ada yang ditutup-tutupi oleh masing-masing mereka, dengan alasannya masing-masing. Meski terlihat tak berhubungan dengan kasus, Poirot berkeras ingin mengetahui kebenaran. Hal ini lalu membuka banyak fakta, mulai dari kisah percintaan yang sedih, keluarga yang tak diharapkan, hingga aib dan kesalahan yang boleh tetap menjadi rahasia.

It is the business of Hercule Poirot to know things. (p.180)

4/5 bintang untuk jebakan pembaca dan pembunuh yang (terlalu) merasa pintar tapi terjebak sendiri oleh detektif kita.

The Silkworm – Robert Galbraith

silkwormTitle : The Silkworm (Ulat Sutra)
Author : Robert Galbraith (2014)
Translator : Siska Yuanita, M. Aan Mansyur (quotes)
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan pertama, 2014
Format : Paperback, 536 pages

Ha-ha-ha, kau terjerat jaring-jaringmu sendiri
seperti ulat sutra.
John Webster, The White Devil
(p.502)

Di tengah kejenuhannya dengan kasus-kasus ‘mahal’ tetapi membosankan, Cormoran Strike memutuskan untuk mengambil kasus Leonora Quine yang kemungkinan besar tak bisa membayarnya. Leonora memintanya menemukan suaminya, Owen Quine. Owen terbiasa menghilang untuk mencari sensasi—yang tampaknya tak pernah didapatkannya—tetapi belum pernah sampai selama ini. Bukan kasihan atau semangat yang membuat Cormoran menerima kasusnya, ada suatu alasan yang dia sendiri tak yakin, pada mulanya.

Kasus Quine berkembang ke arah yang tak disangka-sangka. Penulis yang tak terlalu terkenal ini baru saja melahirkan sebuah karya yang menyinggung banyak pihak. Bombyx Mori, yang berarti ulat sutra, menampilkan kisah orang-orang di sekitar Quine, dengan nama-nama samaran yang vulgar serta karakterisasi yang sangat mirip. Hampir semua orang yang dikenalnya menjadi sasaran pengungkapan aib mengerikan melalui simbol-simbol dan peristiwa yang menjijikkan. Kemudian, mayat Quine ditemukan. Cara kematiannya yang spesifik menyempitkan daftar tersangka, sekaligus menyulitkan pihak berwenang menemukan bukti. Siapakah yang sebegitu tersinggungnya dengan Quine, atau merasa posisinya dalam bahaya, jika karya Quine diterbitkan? Siapa yang tega melakukan sesuatu yang keji dan menjijikkan hanya karena goresan pena seorang penulis tak ternama? Siapakah di antara pembaca draft awal yang mungkin menjadi pembunuhnya?

Sama seperti buku pertamanya, kali ini Cormoran Strike masih bekerja dengan cara-caranya yang unik. Perpaduan antara gaya militer yang merupakan latar belakangnya, dan intuisi yang dimilikinya sebagai detektif investigasi selama bertahun-tahun. Intuisi inilah yang seringkali menjadi latar belakang segala tindakannya, yang berakar dari pengalaman dan imajinasi. Mulai dari alasannya menerima kasus Quine yang tidak menjanjikan—baik uang maupun popularitas, hingga kenyataan bahwa semakin jauh dia masuk ke dalam kasus ini, semakin menarik dan jelas fakta-fakta yang didapatkannya.

Dengan masuk ke dalam kasus Quine, secara otomatis Strike masuk ke dunia Quine. Pembaca pun dibawa untuk menelusuri hiruk-pikuk dunia penulisan dan penerbitan. Pertimbangan apa yang menjadikan sebuah buku diterbitkan, meskipun isinya ‘sampah’—menurut istilah karakter dalam buku ini—semacam karya Quine. Bagaimana orang-orang di masa sekarang memanfaatkan blog, menerbitkan ebook, dan sarana lain sebagai caranya untuk mengaktualisasikan dirinya sebagai penulis. Pun bagaimana banyak orang merasa bahwa perwujudan tertinggi dari eksistensinya adalah melalui sebuah buku.

Strike merasakan kelelahan yang tiba-tiba menguasainya. Demam macam apakah ini, kenapa orang ingin sekali unjuk diri dalam bentuk tertulis? (p.388)

Dengan memahami ini, Strike mulai membentuk hipotesis, satu demi satu, mencari motif, metode, dan kesempatan, termasuk bukti yang dalam kasus ini sangat sulit dicari. Strike mendengarkan semua orang, mengingat perkataan mereka—penting atau tidak penting, menganalisis manusia, sehingga seluruh tersangka maupun pihak yang terkait dengan buku ini dapat kita kenal dengan baik. Mulai dari penulis pemula kekasih gelap Owen, editornya yang baik hati tetapi menyimpan sesuatu, manajer penerbitan, agennya, sampai penulis ternama yang bermusuhan dengan Owen. Penulis mengajak pembaca mencari pembunuhnya bersama dengan Strike, meski tak sepenuhnya berhasil.

Jadi, apa yang harus dia lakukan berikutnya? Bila tidak ada jejak yang menjauh dari kejahatan, pikir Strike, dia harus memburu jejak yang menuju kejahatan itu. Bila buntut kematian Quine dengan gaib tidak menyajikan petunjuk apa pun, sudah tiba waktunya meneliti hari-hari terakhir hidup Quine. (p.330)

Selain kasus pembunuhannya sendiri, salah satu aspek yang tergambarkan secara kuat di sini adalah hubungan Strike dengan asistennya, Robin Ellacott. Robin yang selalu bermimpi untuk bekerja sebagai detektif sungguhan, harus berhadapan dengan tunangannya, Matthew, yang tak suka dengan pekerjaan maupun bos Robin. Strike memahami ketidaksukaan Matthew, tetapi harus dihadapkan pada Robin yang sangat berharap untuk dilibatkan lebih jauh, untuk diberi pelatihan, untuk memainkan peran lebih besar dalam pekerjaan Strike. Interaksi ini menurut saya bukan hanya sebagai bumbu terhadap kasus pembunuhan, tetapi merupakan sarana untuk masuk dan mengenal detektif kita lebih dalam.

Hal menarik lain dalam buku ini adalah kutipan dari berbagai buku pada tiap awal bab. Kutipan-kutipan ini bukan sekadar penghias atau asal tempel saja, tetapi seringkali menjadi kunci dari bab yang bersangkutan. Penulis juga bermain-main dengan bahasa Latin yang semakin menunjukkan kepiawaiannya berbahasa dan bermetafora. Dan tak lupa selipan humor ringan di sana-sini yang mengendurkan saraf kita yang tegang oleh misteri dan kejahatan yang sadis.

Buku kedua ini mungkin dimaksudkan agar bisa dibaca terpisah oleh yang belum membaca buku pertamanya. Banyak hal-hal penting di buku pertama yang diulang penjelasannya, terutama tentang Charlotte–mantan tunangan Strike, serta latar belakang keluarga sang detektif. Beberapa hal terasa tidak penting dan membosankan bagi yang sudah membaca buku pertama, tetapi menjadi pengantar yang mulus bagi yang belum membacanya.

Strike selalu heran bagaimana publik selalu menganggap kaum selebritas suci, bahkan bila surat kabar mencaci, memburu, dan merubung mereka. Tak peduli berapa banyak orang terkenal yang dihukum karena pemerkosaan atau pembunuhan, keyakinan itu tak berubah, bahkan cenderung fanatik: bukan dia. Tidak mungkin dia. Dia kan terkenal. (p.194)

5/5 bintang untuk perkembangan seru sang detektif dan asistennya.