Category Archives: Essay

Bilang Begini, Maksudnya Begitu – Sapardi Djoko Damono

BBMB SDDJudul : Bilang Begini, Maksudnya Begitu
Penulis : Sapardi Djoko Damono
Penyelia naskah : Mirna Yulistianti
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Format : Paperback, vi + 138 halaman

Konon puisi adalah mahkota bahasa. Maksudnya, cara pemanfaatan bahasa yang setinggi-tingginya dicapai dalam puisi. Rasanya saya lebih suka mengatakan dengan lebih lugas bahwa puisi adalah hasil yang dicapai jika seseorang mampu bermain-main dengan bahasanya. (hal.133)

Puisi seringkali menjadi momok dalam apresiasi karya sastra bagi mereka yang belum memahaminya. Saya termasuk salah satu orang yang terintimidasi jika harus mengapresiasi puisi. Bagi saya, puisi adalah pelampiasan yang sangat pribadi, sebuah tingkatan yang lebih tinggi daripada prosa karena penggunaan bahasanya yang lebih efisien dan sarat akan ungkapan dan majas. Beberapa tahun belakangan, saya agak berani dalam mengapresiasi puisi, sebatas pengetahuan saya. Namun, setelah membaca buku ini, saya menjadi lebih berani karena buku ini dengan ringkas mengenalkan secara mendalam hakikat dari puisi yang sesungguhnya.

Penulis, melalui contoh-contoh puisi—baik karya asli maupun terjemahan, menunjukkan jenis-jenis alat kebahasaan yang dipergunakan oleh puisi untuk mencapai tujuannya. Apakah puisi sebagai sastra tulis yang bermain-main dengan visual, yaitu bagaimana cara penulisannya menjadikannya khas, ataukah puisi sebagai bunyi, karena bermula dari tradisi lisan, yang memanfaatkan aliterasi (rentetan bunyi huruf mati) dan asonansi (rentetan bunyi huruf hidup) sehingga mudah diingat. Bagaimana seseorang memaknai puisi sesuai dengan latar belakang dan pengetahuannya, yang diakibatkan karena pemilihan kata sang penyair yang ‘bilang begini, maksudnya begitu’. Puisi juga bisa berwujud transparan, yang hanya memiliki satu makna, bisa juga bersifat prismatik, yang bisa menguraikan ‘warna’ sehingga bisa ditafsirkan bermacam-macam.

Melalui pemahaman yang dibangun oleh penulis ini, apresiasi puisi menjadi lebih mudah karena kita tak harus terlampau kaku dalam mencari maknanya. Pemahaman yang berbeda tidaklah salah, tetapi justru memperkaya puisi itu sendiri. Hal lain yang seringkali menjebak pembaca puisi adalah amanat. Beberapa penyair memang menjadikan puisi sebagai alat edukasi dan dakwah. Penyair bisa berbicara ‘langsung’, atau menyembunyikan maknanya guna memberi kesempatan bagi pembaca untuk merenungkannya, sehingga tidak merasa seperti diceramahi. Akan tetapi, tak semua puisi harus kita cari-cari amanatnya.

Jadi, karena tanpa amanat, apakah dengan demikian pantun-pantun itu tidak berharga? Tentu saja berharga, sebab sebenarnya membaca puisi itu tidak selalu harus berburu amanat. (hal.88)

Dan sebenarnya, yang menarik dalam sajak itu adalah tontonan tersebut, bukan sekadar amanatnya. Dari tontonan itulah kita, pembaca, bisa mencarikan amanat yang disiratkannya. Pada umumnya demikianlah proses membaca puisi. Jika kita membaca puisi semata-mata karena amanatnya, atau dengan kata lain kita menjadi pemburu amanat, sebagian besar sajak yang pernah ditulis jelas akan mengecilkan hati kita karena tidak kunjung mendapatkan amanat yang jelas. (hal.90)

Puisi dapat saja hanya berupa tontonan—sebagaimana istilah penulis, tentang realitas kehidupan, tentang perasaan, maupun tentang pandangan hidup penyair atau masyarakat pada umumnya. Karenanya, puisi dapat menjadi cerminan kehidupan sang penyair. Meski begitu, dalam apresiasi puisi, latar belakang penyair bukan sesuatu yang mutlak untuk diketahui. Dengan membebaskan diri dari pengetahuan, bisa saja kita menemukan makna ‘prismatik’ dari sebuah puisi.

Kalau kebetulan kita mengetahui bahwa nama-nama itu ada kaitannya dengan kehidupan yang sebenarnya, tafsir kita bisa saja menjadi lebih mendekati ‘kenyataan’, tetapi bisa juga malah membatasi tafsir kita sebab puisi pada hakikatnya tidak berbicara tentang ‘kenyataan’ karena merupakan ciptaan yang lahir dari imajinasi penyair. Jika mampu melepaskan diri dari pengetahuan tentang nama yang kebetulan tercantum dalam puisi, kita tentu bisa lebih membebaskan imajinasi dan mencapai tafsir yang lebih dalam. (hal.115)

Buku ini juga menyinggung penggunaan dongeng yang dimodernkan sebagai salah satu cara memperkaya puisi itu sendiri, maupun sarana melestarikan tradisi.

Kalau kita katakan sekarang bahwa si penyair telah memanfaatkan wayang sedemikian rupa agar sesuai dengan situasi komunikasi modern yang telah menuntutnya untuk di sana-sini mengubahnya, dongeng yang diubahnya itu sebenarnya juga merupakan usaha pujangga-pujangga sebelumnya untuk melakukan hal serupa. Demikianlah maka dongeng, dalam masyarakat mana pun, menjadi tradisi karena senantiasa mengalami proses serupa itu. Tradisi adalah proses, bukan sesuatu yang berhenti dan menjadi fosil. (hal.124-125)

Kesemua itu tak lepas dari ciri karya sastra sebagai sesuatu yang ‘indah’. Maka seorang penyair harus tahu bagaimana mengolah bahasanya sendiri supaya menjadi sebuah karya puisi yang indah, terlepas dari sifatnya yang lugas atau prismatik, beramanat atau tidak. Dan sebagai pembaca, tentunya kita tidak perlu terintimidasi oleh puisi yang berbunga-bunga dan sulit dipahami, karena kita selalu bisa menilai dan menghargai sebuah puisi dari sisi mana pun yang kita mengerti.

Puisi sedapat mungkin menghindari klise, menjauh dari bahasa yang sudah lecek karena sudah begitu sering dipakai. Itulah hakikat puisi. (hal.135)

Buku ringkas ini sangat berguna bagi siapa pun yang ingin atau perlu mengapresiasi puisi. Pembahasannya relatif mudah dipahami, meski awam terhadap ilmu sastra. Buku ini dapat juga menjadi semacam panduan bagi para penyair pemula yang ingin mengembangkan teknik penulisan puisinya. 4/5 bintang untuk pengayaan ilmu sastra.

Review #15 for Lucky No.15 Reading Challenge category Something New

The Man Who Loved Books Too Much – Allison Hoover Bartlett

8064452Title : The Man Who Loved Books Too Much : The True Story of a Thief, a Detective, and a World of Literary Obsession
Author : Allison Hoover Bartlett (2009)
Translator : Lulu Fitri Rahman
Editor : Indradya Susanto Putra
Publisher : Pustaka Alvabet
Edition : Cetakan I, April 2010
Format : Paperback, xvi + 284 pages

Mungkin dia hanya sedikit lebih gila daripada mereka semua. (p.209)

Apa yang mendorong penulis untuk melakukan penelitian terhadap pencurian buku adalah pengalamannya sendiri yang terpaksa menyimpan satu buku langka, sebelum dirinya harus mengembalikan buku itu ke tempatnya. Penulis sendiri bukan seorang kolektor buku, meski dia membaca dan memiliki keterikatan pada buku-buku tertentu dari masa kecilnya. Dari penjelajahannya di internet, dia menemukan dua orang yang akan menjadi sumber utamanya dalam buku ini. Yang pertama adalah sang pencuri buku, John Gilkey, dan yang kedua adalah Ken Sanders, seorang agen buku langka yang pernah menjadi kepala asosiasi untuk melacak para pencuri buku langka.

Sepak terjang Gilkey sudah sangat termasyhur. Dengan kecerdikan dan kelicikannya, dia bisa mendapatkan puluhan nomor kartu kredit dan menggunakannya dengan hati-hati sehingga pembelian yang dilakukannya terlihat sah sampai saat pemilik kartu kredit menerima tagihannya. Dia juga kerap menggunakan cek kosong, melakukan transaksi melalui telpon umum, melakukan serah-terima di tempat umum, menggunakan identitas palsu, dan lain sebagainya. Keahlian yang lambat laun bisa terbaca oleh Sanders, beberapa kali memasukkannya ke dalam penjara, namun tak lebih dari beberapa bulan dan Gilkey tetap saja bisa lolos dan melakukan kejahatan yang sama.

Sebagaimana yang sering diucapkan kolektor, mengoleksi itu seperti dahaga, dan memiliki satu buku lagi tidak memuaskan dahaga untuk memiliki buku lainnya. (p.99)

Penulis pun menelusuri latar belakang keluarga dan masa lalu Gilkey, menemukan bahwa dia dibesarkan di lingkungan di mana mencuri adalah hal biasa, bahkan di rumahnya pun terjadi pencurian antar penghuninya. Gilkey memandang bahwa koleksi bukunya dapat menjadi alat untuk meningkatkan status sosialnya, dimulai dari satu pencurian, berlanjut ke pencurian berikutnya. Gilkey merasa bahwa jika dia berhasil mencuri satu buku dari satu penjual, maka itu adalah haknya. Dia memandang satu buku tak akan berarti banyak bagi penjual yang memiliki tumpukan buku berharga lainnya, toh dia sudah berusaha mendapatkannya, bagaimanapun caranya.

Bagaimanapun, Gilkey mencuri bukan karena uang, karena dia tidak menjual kembali buku curiannya, sebagaimana beberapa pencuri lain. Gilkey mencuri untuk dikoleksi, untuk dipajang di rak bukunya, untuk meningkatkan harga dirinya. Penulis menyimpulkan bahwa Gilkey mencuri karena kecintaannya kepada buku, salah satu pernyataan penulis yang tidak saya setujui. Apakah memiliki sesuatu demi kebanggaan dan gengsi belaka bisa disebut cinta? Gilkey bahkan tidak berniat membaca buku-bukunya, apakah dia bisa disebut pecinta buku? Menurut saya, kalau diberi kesempatan dan kemampuan untuk mencuri dan mengoleksi benda lain selain buku sejak awal, mungkin dia tetap akan bertindak sama, dan saat itu mungkin dia tidak akan berpikir mengoleksi buku.

Aku mulai merasa bahwa desakan untuk mengoleksi tidak datang tiba-tiba, tetapi mendapatkan momentum setelah, katakanlah, satu atau dua kali pembelian. (p.125)

Saya sangat memahami kebencian dan obsesi Sanders untuk mengejar Gilkey. Bagi saya, Sanders lah pecinta buku yang sejati. Dia mengoleksi buku, merawatnya, dan memperlakukannya sebagaimana seharusnya. Dia menghargai kepemilikan buku, memahami bahwa sebuah buku tidak hanya dinilai berdasarkan edisi dan harganya saja, dia tahu bahwa setiap buku memiliki kisah untuk diceritakan.

“… Aku menghabiskan semua uangku untuk membeli buku-buku pada hari itu. Sampai sekarang aku masih melakukannya. Aku semakin tua, semakin botak, semakin gendut, tetapi rupanya tidak semakin bijaksana.” (Ken Sanders, p.87)

Jika Wall Street memegang buku dan mengubahnya menjadi komoditas investasi berharga tinggi, maka waspadalah. Tak akan ada lagi yang sanggup membeli buku dan kegembiraan yang ada dalam mengoleksi buku akan lenyap. Mayoritas koleksi berada dalam kisaran antara beberapa ratus hingga beberapa ribu dolar. Jika kau mengoleksi apa yang kaucintai dan nikmati, dan selalu membeli yang terbaik sesuai kesanggupan, dan membeli buku dalam kondisi terbaiknya, buku-bukumu akan selalu terbukti menjadi investasi yang baik. (Ken Sanders, p. 115)

Hal lain yang menyebalkan dari Gilkey adalah bahwa dia menganggap penjara sebagai hukuman yang setimpal untuk pencuriannya, dan kemudian dia akan mengambil ‘bayaran’ dari waktunya di penjara dengan mencuri lebih banyak buku lagi. Sejujurnya, saya agak sulit memahami logika si pencuri ini, dia menganggap buku yang sudah berhasil dicurinya adalah haknya, sepenuhnya. Jika dia gagal mencuri, maka dia menyalahkan para penjual buku itu. Dia tidak memikirkan nasib pemilik kartu kredit yang dibajaknya, ataupun pemilik buku yang dicurinya.

Kemahirannya untuk membenarkan pencurian ini sama dengan keahliannya melakukan pencurian. (p.98)

“Aku harus berhati-hati dengan ucapanku karena beberapa agen buku berulang kali membuat pengaduan, berusaha membuatku dalam masalah.” (John Gilkey, p.170)

Banyak hal tak menyenangkan yang dituliskan dalam buku ini jika berhubungan dengan Gilkey, baik karena kelakuannya, maupun karena pendapat penulis yang terkadang tidak sesuai dengan pendapat saya pribadi. Akan tetapi, tak sedikit pula hal menarik yang terdapat dalam buku ini. Informasi mengenai sistem jual-beli buku langka, tipe-tipe kolektor dan penjual, bagaimana kisah buku-buku edisi pertama ditemukan—yang seringkali tidak disengaja ditemukan di gudang dengan harga murah, juga kisah penulis sendiri dengan buku-buku masa kecilnya—yang kini diwariskannya kepada anak-anaknya, memberi perasaan keterikatan yang sama dan tak asing.

Ada perbedaan antara orang yang sekadar mencintai buku dan orang yang mengoleksinya, dan agen berpengalaman bisa tahu mana yang kolektor secepat ketika dia ditanya tentang tempat menyimpan edisi pertama The Hobbit (tidak mungkin ditaruh begitu saja di rak terbuka). (p.86)

Terakhir, penulis kembali menekankan apa yang didapatkannya pada penyelidikannya tidak lain merupakan salah satu bentuk kekuatan yang dimiliki oleh sebuah buku. Sebuah buku membuat orang rela dipenjara. Buku juga membuat orang rela menghabiskan uang dan waktunya. Buku membuat orang-orang seperti Sanders menjadi detektif amatir yang tak dibayar demi menyelamatkan buku-buku dari tangan-tangan seperti Gilkey.

Dorongan menakutkan untuk menghancurkan atau menekan buku merupakan pengakuan terhadap kekuatannya, dan hal ini tidak hanya terjadi kepada naskah ilmu pengetahuan, politik, dan filsafat, tetapi juga buku puisi dan fiksi yang tenang, yang bagaimanapun memiliki kapasitas besar untuk mengubah kita. (p.256)

Kisah ini ditulis semacam esai, dengan alur yang tidak runtut sehingga terkadang saya kesulitan menentukan kapan terjadinya pencurian atau pencarian tersebut. Seringkali terjadi pula perpindahan waktu yang mencolok pada bab yang sama. Pembahasannya pun hanya berupa kumpulan informasi dan pendapat penulis serta beberapa ahli yang diwawancarainya. Meski demikian, pada akhirnya penulis memberi kesimpulan yang masuk akal tentang perilaku Gilkey, bukan secara kejiwaan atau psikologis, tetapi lebih kepada pengamatannya sebagai seorang reporter. Intinya, saya menikmati informasi yang diberikan oleh penulis, tetapi agak kurang puas dengan kedalamannya.

3/5 bintang untuk reportase kisah si pencuri.

Sebelum pameran, aku baru tahu bahwa definisi “langka” bisa sebanyak agen buku itu sendiri. Sebagian besar definisi cenderung main-main. Burt Auerback, seorang juru taksir Manhattan, dikutip telah mengatakan, “Buku langka adalah buku yang harganya jauh lebih mahal sekarang daripada ketika diterbitkan.” Kolektor Amerika yang sudah almarhum, Robert H. Taylor, berkata bahwa buku langka adalah “buku yang sangat kuinginkan dan tak bisa kutemukan.” Ketika orang-orang menjawab dengan serius, mereka semua sependapat bahwa “rare”—langka—adalah istilah yang sangat subjektif. (p.11)

Review #3 for Lucky No.14 Reading Challenge  category Freebies Time

Januari #2 : Buku Santa

Saatnya menguak siapa tersangka Secret Santa saya. Sebagaimana sudah saya tuliskan di postingan ini, Santa saya ini mengaku sebagai kawan seperjuangan Kartini. Pikiran saya saat itu terpecah menjadi dua, yaitu kawan Kartini yang sesungguhnya, yang mana saya sama sekali tidak punya ide siapa namanya, atau, kawan dalam arti sama-sama pejuang wanita. Meski begitu, hanya satu nama sebenarnya yang terbersit dalam pikiran saya sejak awal, yaitu Dewi Sartika, dan itu karena postingan ini (hey, ada komen saya di situ) dan ini (sayangnya karena suatu hal saya tidak jadi berpartisipasi). Jadi, semoga tebakan saya tidak salah, Santa saya adalah wanita cantik dari Sulawesi yang saat ini tinggal di Bandung, yang bernama lengkap Atria Dewi Sartika dan memiliki blog buku My Little Library.

Terima kasih ya, Santa, saya suka sekali bukunya. Walaupun ‘hanya’ tiga bintang, saya puas sudah membaca buku ini. Seandainya bukan dari kamu, mungkin saya tidak akan menyelesaikannya secepat ini. Terima kasih *ketjup*. Oiya, saya tidak tahu apakah kamu sudah tahu atau belum, tapi Hujan Bulan Juni sudah pernah saya review sebelumnya di sini, jadi buku bercover cantik darimu masuk ke dalam koleksi berhargaku yang akan kubaca ulang sewaktu-waktu *ketjuplagi*.

Jadi, benar kan, Santa, kalau namamu Atria?

Memoritmo

memoritmoJudul : Memoritmo
Penulis : Eross Chandra, Anto Arief, Mikael Johani, Rain Chudori, Maradilla Syachridar, Galih Wismoyo, Sarah Deshita, Cholil Mahmud, Kartika Jahja, Meng “Hotmaroni” Simamora, Hasief Hardiansyah, Ade Paloh, Valiant Budi, Sammaria Simandjuntak
Editor : Syafial Rustama
Proofreader : Resita Wahyu Febriati
Penerbit : Bukuné
Edisi : Cetakan pertama, September 2012
Format : Paperback, 180 halaman

You must respect your heart’s desire. Do what your heart tells you to. Anything less would be a  crime. (Hasief Hardiansyah, hal.137)

Empat belas orang berbagi tentang empat belas lagu kenangan masing-masing. Sebuah project yang dicetuskan oleh Maradilla Syachridar mengingat betapa lagu bersifat universal, dan beberapa lagu mungkin mengendap dan menguarkan kembali kenangannya ketika memori itu terusik.

Entah sejak kapan, saya terobsesi dengan segala buku (terutama fiksi) yang berkaitan, atau berbau, musik. Saya pun pernah memiliki project tersendiri (yang saat ini masih mandeg) menarasikan sebuah lagu dalam cerpen versi saya sendiri (beberapa saya tuliskan di sini). Karena itulah, sejak pertama kali melihat review kak Dewi tentang buku ini, saya ingin membacanya. Akan tetapi alasan terbesarnya tetap bahwa saya merasa terhubung dengan segala sesuatu, sampai saat ini, melalui musik.

Musik adalah sarana untuk melampiaskan perasaan. Saat ada suatu perasaan membuncah kemudian sebuah musik yang ‘pas’ tiba-tiba muncul, maka musik itu bisa menjadi obat, atau bahkan menjadi racun, bergantung pada dosis dan cara pemakaiannya. Musik yang ‘pas’ itu yang seperti apa memangnya?

See, that’s the great thing about music. A song can still resonate with you if you don’t know what it’s about, or even if it’s totally unrelated to your life. All you need is the right lyric, melody or chord sequence, and it becomes the soundtrack of your life. The song becomes what you need it to be. (Hasief Hardiansyah, hal.135)

Tepat seperti itu, tak perlu persis sama dengan kisah hidup kita. Mau satu kalimat saja yang sama, nuansa musiknya yang sesuai—tak peduli liriknya, atau bahkan satu kata yang tertancap begitu dalam, tak peduli apa makna sebenarnya dari lagu itu. Terkadang, seperti itulah musik bekerja. Dan saya selalu merasakan apa yang dikatakan oleh Eross Chandra.

Saya selalu bahagia dengan tafsir lagu menurut versi saya sendiri. Tidak peduli lagi apa maksud sebenarnya dari si penulis lagu dan itulah intinya sebuah art bagi saya. (Eross Chandra, hal.15)

Kita bisa mengatakan art itu hebat saat daya imajinasi kita berkembang baik dengan trigger si art itu sendiri. (Eross Chandra, hal.16)

Pada saat suatu lagu diperdengarkan ke telinga kita, maka yang bekerja bukan hanya logika, tapi emosi dan perasaan ikut menerjemahkannya, sesuai dengan diri kita, keadaan kita, kemauan kita. Musisi yang baik selalu bisa ‘masuk’ ke dalam cara yang berbeda-beda, menemukan pendengar dan penikmat yang berbeda-beda, juga bisa menerima sikap yang berbeda-beda.

Tapi buku ini bukan hanya tentang itu. Buku ini memuat berbagai macam cerita tentang musik. Ada yang menuliskan kenangannya, ada yang menuliskan pendapatnya, ada yang memfiksikan kisahnya, ada pula yang menarasikan puisi cintanya. Saya rasa tidak ada konsep yang pasti dalam tiap cerita kecuali musik itu sendiri. Buku ini merupakan himpunan memori dalam berbagai macam bentuknya.

Suatu saat, musik bisa menginspirasi…

Mungkin seharusnya seperti itulah hubungan yang sudah ditakdirkan gagal. Tidak perlu banyak merenung atau bahkan semakin terobsesi mengapa seseorang dapat membuat kita jatuh cinta atau dicintai. Biarkan saja semua itu berakhir. (Maradilla Syachridar, hal.63-64)

Sebahagia-bahagianya saya saat ini, saya masih sering sedih kalo inget yang dulu-dulu. I let go, I moved on. But what kind of heart doesn’t look back? Here I am, stronger than ever. Masa lalu saya yang membuat saya seperti sekarang ini. Dan saya suka saya yang sekarang. (Sarah Deshita, hal.91)

Suatu ketika, musik membuat kita lebih bijaksana…

… namun seni melupakan seseorang perlu dikembangkan dengan cara tidak melupakan, bahkan di setiap transisinya menuju keikhlasan, semua harus dikelola. (Maradilla Syachridar, hal.67)

Love is not about giving up what you have, own, or believe. Love is willingness to give it all up, for love needs no proof. The willingness to stay. To stick around when things get rough. (Sarah Deshita, hal.90)

Semuanya hanya masalah penafsiran. Karena itulah, musik itu universal.

Buku ini, tidak bisa saya kategorikan sebagai buku yang memuaskan. Beberapa sulit ditangkap oleh orang yang belum pernah mendengarkan lagu yang dimaksud. Beberapa berisikan sepenggal memoar sang penulis yang agak terlalu personal sehingga tidak berarti apa-apa bagi pembaca yang belum mengenalnya. Beberapa kalimat yang saya kutip mungkin bisa mencerminkan penulis mana saja yang memberikan sesuatu yang menarik bagi saya. Termasuk tulisan Kartika Jahja yang tampaknya merupakan fiksi tentang seorang wanita muda lewat lagu Bad Wisdom, juga kisah remaja Valiant Budi dalam Sahabat Gelap, yang cukup menarik meski penulisannya tak terlalu istimewa untuk saya.

Kemudian saya ingin melemparkan sebuah pertanyaan seusai membaca tulisan Ade Paloh yang berbunga-bunga. Benarkah sel memori, termasuk memori tentang musik, terletak di otak belakang?

Secara keseluruhan, saya suka idenya, meski tak terlalu menikmati buku ini. 3/5 bintang untuk musik dan memori.

Namun, kekuatan istimewa sebuah lagu ini punya satu konsekuensi buruk: sebuah lagu juga bisa memonopoli memori. Dan, bagaikan industri otomotif yang menghancurkan badan dan jiwa Jakarta lewat monopoli moda transportasi, beberapa lagu menjadikan monopoli memori mereka sebagai senjata untuk menjadi diktator ingatan kita. Sebuah lagu bisa tanpa ampun menyeret kita ke dalam masa lalu yang sebenarnya ingin kita lupakan saja. (Mikael Johani, hal.39)

*Posting bersama BBI Mei (2) Kumpulan cerpen

My Life as Video Music Director – Haqi Achmad

Judul buku : My Life As Video Music Director
Penulis : Haqi Ahmad
Penyunting : Gina S. Noer
Penerbit : Plotpoint Publishing (PT Bentang Pustaka), Mei 2012 (cetakan pertama)
Tebal buku : viii+180 halaman

“hidup itu bukan sebuah proses pencarian, tapi hidup itu sebuah proses penciptaan.” (p.155)

Setiap melihat video klip yang bagus dari sebuah lagu, apakah yang pertama kali kita pikirkan? Pernahkah kita membayangkan proses di baliknya, orang-orang yang berada di balik visualisasi musik tersebut? Dalam buku seri “My Life As” ini, penulis mengajak kita untuk menyimak pengalaman tiga sutradara video klip ternama di Indonesia; Angga Dwimas Sasongko, Renny Fernandez dan Sim F.

Alkisah, di saat sebuah label rekaman hendak membuat video klip untuk salah satu produknya, label akan mencari seorang sutradara. Si sutradara inilah yang akan membuat konsep dan mempersiapkan segala hal, sampai pada pelaksanaannya. Label hanya akan memberi anggaran untuk itu. Akan tetapi, prosesnya tidak sesederhana kalimat itu. Ada tawar-menawar dan perdebatan yang harus dilalui; sutradara yang seringkali kesulitan meyakinkan pihak label tentang konsepnya, label yang terkadang ‘pelit’ dalam masalah anggaran, dan lain sebagainya.

Meski tak ada bukti bahwa kesuksesan sebuah video klip menentukan penjualan album secara fisik, video klip tetap menjadi salah satu media promosi. Banyak lagu yang dikenal oleh masyarakat berawal dari video klip. Video klip sendiri tercatat dimulai tahun 1894, dengan dibuatnya slide foto untuk lagu berjudul The Little Lost Child oleh George Thomas. Setelahnya, teknologi mulai berkembang, dari Soundie (potongan-potongan sajian musical), musikal pendek, dan seterusnya. Munculnya MTV (Music Television) pada 1 Agustus 1981 berdampak besar pada promosi musik melalui video klip. Di Indonesia sendiri video klip diawali dari tampilnya para musisi di dalam film pada tahun 1960an.

Buku yang terbagi dalam sepuluh bab ini merangkum mulai dari apa video klip itu, bagaimana pembuatannya, proses yang harus dilalui seorang sutradara video klip, sampai tips untuk menjadi sutradara video klip. Buku ini semacam panduan untuk remaja yang masih memiliki berbagai macam cita-cita dan masih berkesempatan membuka banyak pintu untuk dilalui. Namun bukan berarti buku ini tidak bisa dibaca oleh orang dewasa tua, nilai inspirasi dan perjuangan yang tersirat dalam buku ini, serta berbagai informasi cukup menarik untuk dinikmati.

Penulis meramu pengalaman ketiga sutradara tersebut dan meleburnya ke dalam masing-masing bab dalam buku ini. Sehingga bisa dikatakan bahwa memang yang diutamakan dalam buku ini adalah proses dan kehidupan para sutradara, bukan hanya terbatas pada ketiga tokoh itu. Mereka adalah contoh dan narasumber yang melengkapi sekaligus memperkuat isi dari buku ini. Berikut saya rangkum sedikit hal penting tentang mereka bertiga.

Angga yang lulusan Broadcasting UI, memulai dari membuat film pendek. Dia terjun ke dunia perfilman terlebih dahulu. Video klip pertamanya adalah proyek coba-coba untuk Cozy Street Corner. Setelah itu, beberapa video klip independen masih digarapnya, berlanjut dengan tawaran iklan, dokumenter dan film layar lebar. Video klip dari label besar yang pertama disutradarainya adalah Tompi dengan Sedari Dulu. Video klip Angga selalu bermain dengan personifikasi dan simbol, yang seringkali berbeda dengan lirik lagu tersebut sebagai proses kreatifnya. Karyanya yang paling berkesan secara pribadi adalah Puritan oleh Molukka Hip-Hop. Video klip yang digarap dengan keterbatasan, namun dirasanya sangat kuat.

Renny tidak pernah mengenyam pendidikan formal yang berhubungan dengan directing. Dia belajar dari mengikuti kakaknya, Ria Warna, setiap syuting video klip. Keterlibatannya dimulai saat Sim F memperkenalkannya dengan Eugene Panji. Perlahan, mulai dari talent coordinator, asisten produser, produser, asisten sutradara, dan pada akhirnya dia menyutradarai video klip Harapan Jaya yang berjudul Presiden Rock-nroll yang cakupannya masih independen. Video klip komersil pertamanya adalah Kau Auraku dari Ada Band, yang sekaligus menjadi awal karir Renny sebagai sutradara video klip. Ciri khasnya adalah storytelling, yang dianggapnya lebih disukai masyarakat, sekaligus dapat melampiaskan hobi menulisnya. Video klip garapannya yang paling berkesan adalah Dan Lagi oleh Lyla, karena pertama kali dia menggunakan adegan di bawah air, padahal dia sendiri tak bisa berenang.

Sim memulai langkahnya saat dia membuat sebuah film pendek. Perjalanannya melalui account manager, video jockey, asisten sutradara. Video klip pertamanya untuk Seurieus, Gadisku, dibiayainya sendiri. Sim sebenarnya lebih sering menyutradarai iklan, karena sebagai sutradara video klip bisa dibilang dia adalah seorang yang idealis. Dikatakan bahwa karena idealismenya itu dia jarang dicari oleh label, namun ternyata karya berbicara, banyak penghargaan yang sudah didapatkannya. Di antaranya Best Video of The Year versi MTV Indonesia pada tahun 2005 lewat Jangan Ganggu (Project Pop) dan tahun 2009 pada Cinta Pertama dan Terakhir (Sherina). Sim juga mengantongi penghargaan dari Dahsyatnya Awards dan Klik Awards. Dalam video klip yang dibuatnya, Sim seringkali bermetafora dengan simbol.

Perjuangan ketiga sutradara tersebut bukannya selalu mulus. Ada halangan yang harus dilalui, mulai dari dukungan dan kepercayaan orang tua, atau jalan yang harus berbelok dulu sebelum tiba di tujuan. Akan tetapi pada akhirnya semuanya terbayar. Mereka mendapat kepuasan dari mengerjakan apa yang mereka sukai, dan mendapatkan uang darinya. Meski demikian, Sim mengaku bahwa uang bukan tujuannya, dia merasa cukup dengan kepuasan dan pengalaman yang didapatkan. Sedangkan kedua sutradara lain punya pengalaman menarik dengan kesempatan menyutradarai video klip idola mereka. Angga yang mengidolakan Padi dipercaya untuk membuatkan video klipnya, juga kesempatan untuk dekat dan bekerja bersama Gigi dan Netral. Renny yang sejak kecil memfavoritkan Sheila on 7, pada akhirnya diberi kesempatan untuk membuat video klip untuk lagu Yang Terlewatkan pada tahun 2008.

Di antara kisah manis pahit ketiga sutradara ini, tersebut dua sutradara hebat yang menjadi inspirasi mereka: Dimas Djay dan Rizal Mantovani, dilengkapi dengan riwayat singkat karir mereka. Begitu banyak informasi dan inspirasi yang diberikan oleh buku yang tebalnya tidak sampai 200 halaman ini. Dengan halaman-halaman penuh warna, ukuran tulisan yang nyaman dibaca, serta layout yang tidak membosankan. Dan rasanya tidak akan lengkap jika tidak membacanya sendiri.