Category Archives: Fantasy

Fantastic Beasts [The Original Screenplay] – J.K. Rowling

Title : Fantastic Beasts and Where to Find Them: The Original Screenplay
Author : J.K. Rowling (2016)
Illustrator : MinaLima
Publisher : Little, Brown
Format : Hardcover, 294 pages

Pengalaman membaca screenplay saya yang pertama kurang sukses, bukunya masih terbengkalai belum selesai. Saya rasa membaca screenplay lebih menantang daripada play biasa karena settingnya lebih realistis, bisa berada di mana saja dan bisa seperti apa saja, tidak dibatasi lokasi, waktu, properti panggung, serta perpindahannya bisa sangat cepat. Percobaan kedua saya adalah buku ini, yang tentu saja saya tahu akan lebih mudah karena; 1. Saya sudah menonton filmnya, 2. Ini J.K. Rowling, dan 3. Saya jatuh hati dengan Newt filmnya dan tidak keberatan mengulang-ulang pengalamannya. Jadi bisa dibilang, ini pengalaman cukup baru membaca screenplay hingga tuntas.

Memang awal membaca buku ini terasa cukup melelahkan karena cukup sering berpindah-pindah scene, tapi lama-lama, setelah masuk ke konflik dan klimaksnya, perpindahan scene jadi tak begitu terasa. Di samping menikmati naskah film sebagaimana menonton kembali filmnya, saya mendapat pengetahuan mengenai beberapa istilah dalam naskah film, seperti high wide, ext., int., off-screen, sotto voce, voice-over, yang menunjukkan bagaimana penonton akan melihat adegan-adegan tersebut, apakah dari kejauhan, dari dekat, apakah yang berbicara ditampakkan wajahnya di layar atau tidak. Sebelumnya saya kira hal-hal ini adalah tugas dari penyunting gambar, improvisasi aktor, atau arahan sutradara. Entah memang ternyata hal itu bagian dari tugas penulis naskah, atau karena ini J.K. Rowling yang memang ratu detail. Bahkan gambaran settingnya meski cukup singkat, terasa sangat hidup dan mengagumkan. Sehingga rasanya, mungkin, pembuat film jadi lebih mudah mewujudkan dalam visual yang tak jauh beda dari maksud penulis.

Saya memang belum tahu benar tentang hal-hal di balik layar film, jadi mari kita bicarakan isi naskahnya. Mengenai kejutan-kejutan serta misterinya rasanya tidak perlu dipertanyakan ya, saya sudah membahasnya sedikit di sini. Film dibuka dengan scene yang menampakkan Grindelwald dan pencariannya. Kisah dimulai saat Newt Scamander tiba di New York untuk suatu misi yang menyangkut hewan fantastisnya. Dia membawa sebuah koper yang berisi hewan-hewan itu, yang lengkap dengan pengaman untuk menyembunyikannya dari Muggle, sehingga ketika diset, yang tampak di dalamnya hanya koper biasa. Masalah muncul saat salah satu hewan itu kabur dan membuat masalah, ditambah seorang No-Maj (Muggle di Amerika)—Jacob Kowalski, dan petugas kementrian (MACUSA)—Tina Goldstein, menyaksikannya. Insiden demi insiden tak terduga yang terjadi dengan cepat menyebabkan Jacob tidak bisa di-Obliviate saat itu, dan harus mengikuti petualangan penyihir itu di kota New York.

Sementara itu, sebagaimana Muggle tak mengetahui adanya komunitas penyihir di Inggris, No-Maj juga tak mempercayai adanya sihir. Posisi para penyihir di sana semakin berat karena adanya kelompok New Salem yang menuntut adanya pengusutan komunitas penyihir di Amerika—hal yang sesungguhnya tak dipercayai oleh pejabat setempat. Namun, beberapa insiden terjadi, melibatkan adanya unsur sihir yang belakangan diketahui sebagai Obscurus atau Obscurial, yaitu kekuatan sihir yang tak terkendali akibat tekanan di sekitarnya. Malangnya, aktivitas Obscurus ini justru muncul di tengah-tengah kelompok New Salem, yang mungkin masuk akal, mengingat betapa bersalahnya seseorang jika menjadi penyihir.

Konflik yang muncul memang cukup gelap, tetapi sebagaimana Harry Potter yang pertama, penulis tidak membiarkan aura gelap mendominasi kisah yang pertama. Porsi yang lebih besar didapatkan oleh Newt dan kawan-kawannya; Jacob yang terpesona dengan sihir untuk yang pertama kalinya, Tina yang awalnya salah paham terhadap Newt—bahkan membawa mereka dalam bahaya di level MACUSA—tetapi akhirnya saling mendukung, dan Queenie Goldstein, saudari Tina yang jelita, seorang Legilimens, dan menjadi pelengkap yang manis sekaligus perkasa dalam kisah ini. Salah satu bagian favorit saya adalah saat Jacob menyaksikan betapa fantastisnya hewan yang dibawa Newt.

JACOB Newt . . . I don’t think I’m dreaming.
NEWT (vaguely amused) What gave it away?
JACOB I ain’t got the brains to make this up.
(p.109)

Narasi Rowling jelas memiliki pesonanya sendiri, tetapi di sini, dengan narasi yang sangat minimal, dia menuangkan kepiawaiannya menggunakan dialog yang bisa dinikmati dengan berbagai cara. Yang jelas, saya sudah menaruh hati kepada keempat sahabat baru ini, dan tidak sabar menunggu kelanjutan kisahnya. Selain nantinya ada hubungan antara Grindelwald dengan Dumbledore seperti pernah disinggung di Harry Potter, akan ada beberapa karakter yang kemungkinan tidak asing, yang berhubungan dengan orang-orang yang (pernah) ada di Hogwarts. 5/5 bintang untuk (semacam) nostalgia.

Advertisements

Mini Reviews: Children’s Book

Oleh karena buku yang belum direview semakin menumpuk, sepertinya saya perlu menurunkan gengsi sedikit dengan membuat review yang cepat, singkat, dan padat. Dalam mini reviews, sebisa mungkin akan saya kumpulkan buku dengan tema atau genre yang seragam.

Stone Fox by John Reynolds Gardiner (1980)

Harpercollins, hardcover, 96 pages

Based on a Rocky Mountain legend, Stone Fox tells the story of Little Willy, who lives with his grandfather in Wyoming. When Grandfather falls ill, he is no longer able to work the farm, which is in danger of foreclosure. Little Willy is determined to win the National Dogsled Race—the prize money would save the farm and his grandfather. But he isn’t the only one who desperately wants to win. Willy and his brave dog Searchlight must face off against experienced racers, including a Native American man named Stone Fox, who has never lost a race. (source)

Kisah tentang seorang bocah sepuluh tahun yang harus berjuang sendiri saat kakeknya terbaring tak berdaya karena putus asa. Little Willy yang tak memiliki siapapun kecuali kakek dan Searchlight, anjingnya, berusaha menembus apa yang orang lain bilang tidak mungkin.

Awalnya saya kurang suka dengan buku ini karena karakter-karakter sampingannya kurang simpatik terhadap Willy, bahkan bisa saya katakan tak punya hati nurani, seluruhnya. Sepanjang cerita pun saya merasa bisa menebak akhirnya, mudah. Namun, saya salah. Buku ini berakhir dengan kejutan yang membuat saya tak tahu harus merasa bagaimana dengan keseluruhan isi buku ini. Yang jelas, akhirnya cukup menyentak, yang tak hanya mengubah suasana kisah menjadi sangat tragis, tetapi mungkin akan mengubah sikap semua orang yang tadinya tak simpatik itu.

In the Dinosaur’s Paw (The Kids of the Polk Street School #5) by Patricia Reilly Giff (1985) (Illustrated by Blanche Sims)

Yearling, January 1985, paperback, 72 pages

Richard Best membutuhkan penggaris di hari pertama sekolah usai libur Natal, untuk pelajaran tentang dinosaurus, tapi dia lupa di mana menyimpannya. Untungnya di sekolah dia menemukan penggaris di mejanya, yang menurut Matthew—kawannya—adalah penggaris milik dinosaurus karena inisial di atasnya. Setelah menemukan penggaris itu, Richard merasa segala keinginannya terkabul. Lambat laun perasaan gembira itu tergantikan oleh gelisah dan rasa bersalah karena dia merasa bertanggung jawab atas masalah yang dialami orang lain. Sayangnya saat dia berusaha memperbaikinya, penggaris itu hilang.

Karakter anak-anak dalam buku ini benar-benar amat sangat polos sekali, sesuai dengan usia mereka. Kenaifan dan keluguan bocah ini membuat beberapa hal dalam kisah terasa manis. Bahkan terhadap ‘musuh’ mereka bisa menjadi sangat pemaaf jika dihadapkan pada suatu masalah yang lebih besar, ketulusan hati yang pada dasarnya kita semua miliki jauh di dalam hati. Mungkin masalah-masalah anak terlihat sepele bagi kita orang dewasa, tapi seberapa jauh anak memikirkan masalah itu bisa jadi membuat kita malu karena mempermasalahkan hal yang seharusnya tidak perlu jadi masalah.

Sebenarnya buku ini lebih kepada kisah sehari-hari yang dibumbui dengan kisah ‘penggaris dinosaurus’ itu. Mungkin ada perkembangan karakter yang hendak digambarkan untuk keseluruhan serial besarnya. Jadi sepertinya membaca sesuai urutannya akan memberi pengalaman yang berbeda.

Sable by Karen Hesse (1994) (Illustrated by Marcia Sewall)

First Scholastic printing, September 2005, paperback, 85 pages

Ibu Tate tidak suka anjing, tetapi suatu hari seekor anjing muncul dalam kondisi menyedihkan, dan Tate langsung jatuh hati pada hewan malang itu. Kecintaan Tate bukan sekadar keinginan sesaat, dia benar-benar menyayangi anjing itu, yang dinamakannya Sable. Dia membuatkan tempat tinggal, memastikannya makan cukup, dan melatihnya untuk mandiri. Sayangnya, Sable punya kebiasaan buruk yang sulit diubah.

Beberapa kali Tate melatihnya, tetapi kebiasaan buruk itu memicu semakin banyak masalah hingga Sable terpaksa harus dikeluarkan dari rumah. Di sinilah menurut saya bagian terbaik dari buku ini, Tate sungguh-sungguh melakukan sesuatu agar Sable dapat kembali ke rumahnya, dan yang dilakukannya sungguh menyentuh, terlebih untuk anak seusianya.

Seringkali persahabatan dengan hewan menjadi sesuatu yang lebih mengena untuk diceritakan. Apalagi anjing yang terkenal sebagai hewan yang setia, dan saya selalu melihat persahabatan semacam ini justru melebihi ketulusan persahabatan antar manusia. Jika saya sedang usil sedikit dan mengandaikan Sable adalah manusia, kisah dalam buku ini rasanya akan punya banyak perumpamaan yang cukup mendekati sifat manusia (dewasa) juga. Namun biarlah keusilan itu saya simpan sendiri.

Kisah yang indah dalam kesederhanaan buku anak. Sesuatu yang besar bisa jadi muncul dari hal kecil yang tak pernah kita sangka sebelumnya.

Indigo (Water Tales #2) by Alice Hoffman (2002)

First Scholastic printing, January 2003, paperback, 86 pages

A real friend believes in you when you don’t believe in yourself, (p.11)

Tiga sahabat; Martha Glimmer, Trevor dan Eli McGill merasa Oak Grove bukan tempat mereka seharusnya berada. Martha punya mimpi untuk berada di kota-kota besar dan mengembangkan karir sebagai penari, sedangkan McGill bersaudara merindukan laut yang tak pernah mereka jumpai sejak hidup di Oak Grove yang tinggi dan kering.

You could easily tell who was who by whether or not they listened to you. (p.14)

Sometimes words spoken are the ones you’ve been afraid to think, but once they’re said aloud there’s no way to make them disappear. (p.27)

Oak Grove sendiri punya sejarah yang suram berhubungan dengan air. Banjir besar membuat mereka membuat dinding yang melindungi kota itu dari air. Namun saat ketiga sahabat itu memutuskan untuk pergi menggapai mimpi, mereka menemukan bahwa mimpi itu bisa diwujudkan dengan cara yang lebih baik. Penemuan yang dibayar dengan sebuah peristiwa traumatis bagi penduduk kota kering itu.

They were both thinking of people who’d disappeared and were never found again, and of how it was to leave behind the people you loved, even if the life you wanted wasn’t the one they could give you. (p.33)

Kisah persahabatan dan keluarga dalam sebuah buku tipis, dalam balutan magical realism dengan, mungkin, sedikit fantasi. Beberapa halaman buku ini dihiasi oleh semacam foto, alih-alih ilustrasi seperti umumnya buku anak. Saya menikmati kalimat-kalimat di buku ini, walaupun beberapa hal mudah ditebak. Hal tentang takdir dan mimpi itu lumayan terlalu instan menurut saya, tetapi, ya, kadang hidup memang seperti itu.

Lulu Walks the Dog (Lulu #2) by Judith Viorst (2012) (Illustrated by Lane Smith)

Atheneum Books for Young Readers (imprint of Simon & Schuster Children’s Publishing Division), First paperback edition, March 2014, 170 pages

Lulu is back with a brand-new refrain, and it’s time to earn some cash. How else can she buy the very special thing that she is ALWAYS and FOREVER going to want?
After some (maybe) failed attempts, Lulu decides on the perfect profitable job: dog walking. But Brutus, Pookie, and Cordelia are not interested in behaving, and the maddeningly helpful neighborhood goody-goody, Fleischman, has Lulu wanting to stomp his sneakers—and worse.
How will Lulu deal with three infuriating dogs and the even more infuriating Fleischman? And what is this SUPERSPECIAL thing that Lulu is so fiercely determined to buy? I really don’t feel like discussing that right now.
Once again, picture book legends Judith Viorst and Lane Smith bring us the loudest, rudest girl to ever shove her way into our hearts.
(synopsis from back cover)

Saya tidak bisa merasa simpatik ataupun suka pada karakter-karakter di dalamnya, entah Lulu yang keras kepala dan arogan—terlepas dari usianya yang sangat muda, maupun Fleischman yang suka menolong, pun orang dewasa di sekitarnya tak mengambil porsi lebih baik pada kisah anak ini. Saya juga kurang menikmati narasinya, terlebih saat penulis mengambil alih beberapa bagian dan memasukkan suaranya sendiri di sini.

91xjroxyyel

Hal terbaik dari buku ini adalah ilustrasinya. Saya suka sekali sapuan tinta sang ilustrator yang cantik, tak terlalu banyak detail tapi sangat ekspresif. Pun bentuk-bentuk geometrisnya tak menghilangkan keluwesan yang tercermin dalam gambar-gambarnya. Porsi gambarnya cukup banyak memenuhi keseluruhan isi buku, yang cukup menghibur di antara kisahnya yang berbalut humor ala penulis.

The Wonderful Wizard of Oz – L. Frank Baum

oz1

Title : The Wonderful Wizard of Oz
Author : L. Frank Baum (1900)
Illustrator : W. W. Denslow
Publisher : Project Gutenberg
Edition : January 6, 2014 [EBook #43936]
Format : ebook

Dorothy tinggal di sebuah rumah kecil di tengah padang rumput kelabu yang kering di Kansas, bersama Uncle Henry dan Aunt Em, serta Toto, anjing kecilnya. Hari itu terlihat lebih kelabu, ada awan tebal menggantung, mengancam membawa badai topan bersamanya. Mereka sudah bersiap untuk berlindung di ruang bawah tanah. Namun, sebelum tiba di pintu, Dorothy yang memegang Toto sudah terbang bersama rumah yang terjebak topan.

A strange thing then happened.
The house whirled around two or three times and rose slowly through the air. Dorothy felt as if she were going up in a balloon.
The north and south winds met where the house stood, and made it the exact center of the cyclone. In the middle of a cyclone the air is generally still, but the great pressure of the wind on every side of the house raised it up higher and higher, until it was at the very top of the cyclone; and there it remained and was carried miles and miles away as easily as you could carry a feather.

Rumah kecil itu, bersama Dorothy dan Toto, mendarat dengan mulus di Negeri Oz. Negeri yang masih dikuasai oleh penyihir di empat penjuru negerinya, di mana terdapat penyihir jahat di Timur dan Barat, serta penyihir baik di Utara dan Selatan. Akan tetapi, tak ada penyihir yang bisa melampaui kekuatan sang Penyihir Hebat Oz yang tinggal di kota Emerald. Kota yang untuk menuju ke sana harus mengikuti jalan berbata kuning. Untuk bisa pulang ke Kansas, Dorothy harus menempuh jalur tersebut, dengan segala bahayanya, sendirian, dengan bekal hadiah dan perlindungan dari Penyihir Utara.

oz1-3Di perjalanannya, Dorothy bertemu dengan orang-orangan sawah yang sangat ingin memiliki otak, penebang kayu dari kaleng yang ingin memiliki hati, dan singa penakut yang ingin memiliki keberanian. Mereka menduga pastilah sang Penyihir Oz dapat memberi mereka semua itu. Berbagai rintangan, mulai dari menghadapi binatang buas, taman bunga yang mematikan, sampai bertemu dengan Oz ternyata juga membutuhkan pengorbanan tersendiri. Apakah mereka bisa meyakinkan Oz untuk membantu mereka? Apakah Oz yang menakjubkan bisa memberikan apa yang diinginkan keempatnya? Harga apa yang harus dibayarkan mereka demi memperolehnya?

“I cannot understand why you should wish to leave this beautiful country and go back to the dry, gray place you call Kansas.”

“That is because you have no brains,” answered the girl. “No matter how dreary and gray our homes are, we people of flesh and blood would rather live there than in any other country, be it ever so beautiful. There is no place like home.”
The Scarecrow sighed.
“Of course I cannot understand it,” he said. “If your heads were stuffed with straw, like mine, you would probably all live in the beautiful places, and then Kansas would have no people at all. It is fortunate for Kansas that you have brains.”

Pada pengantarnya, penulis mengatakan hendak mengubah kebiasaan dongeng anak klasik yang penuh dengan pesan moral dan kejadian-kejadian menakutkan. Penulis hendak menghadirkan keceriaan dan hiburan murni untuk anak-anak dengan kisahnya ini. Dan memang benar, buku ini adalah petualangan yang tidak mengajak anak untuk menjadi seperti ini atau seperti itu. Tantangan dapat terlalui dengan relatif mudah, dengan kecerdikan, keberanian, dan keberuntungan. Namun, di balik kesederhanaan plot ini, tersimpan pesan tersirat yang sangat dalam.

oz1-6

Bahwa apa yang kita cari hingga jauh, sebenarnya sudah ada dalam diri kita, sudah kita miliki, sudah diberikan kepada kita, bahkan mungkin sudah kita pergunakan selama ini. Hanya masalah waktu, kapan kita menyadarinya, kapan kita siap mempergunakannya, serta saat bagaimana kita bisa menghargainya. Dalam kisah singkat yang terkesan serba kebetulan ini, kita dapat melihat seberapa pentingnya proses terhadap kedewasaan dan kesiapan kita menerima sesuatu yang lebih besar.

oz1-5The Tin Woodman knew very well he had no heart, and therefore he took great care never to be cruel or unkind to anything.
“You people with hearts,” he said, “have something to guide you, and need never do wrong; but I have no heart, and so I must be very careful. When Oz gives me a heart of course I needn’t mind so much.”

Twist dalam kisah ini sebenarnya akan mengecewakan pembaca yang berharap banyak, tetapi justru di situlah kisah ini menjadi lebih bermakna. Peran utama bukan lagi dipegang Oz yang berada di judulnya, tetapi Dorothy beserta rombongan yang melalui petualangan yang menantang.

“…. Experience is the only thing that brings knowledge, and the longer you are on earth the more experience you are sure to get.”

4/5 bintang untuk dongeng klasik yang modern pada masanya.

“…. True courage is in facing danger when you are afraid, and that kind of courage you have in plenty.”

Review #34 of Classics Club Project

Review #41 of Children’s Literature Reading Project

oz1-1

MirrorMask – Neil Gaiman & Dave McKean

Title : MirrorMask
Author : Neil Gaiman (2005)
Illustrator : Dave McKean (2005)
Publisher : HarperCollins
Edition : First edition, first printing
Format : Hardcover, 80 pages

“Real life? Helena, you couldn’t handle real life,”

Helena Campbell adalah seorang remaja dari keluarga sirkus. Ayahnya pemilik sirkus itu, bersama keluarga dan stafnya mereka menjalankan sirkus hampir sepanjang hidup Helena. Dipicu gejolak remajanya, suatu ketika Helena berdebat cukup hebat dengan ibunya, mengeluarkan kata-kata cukup menyakitkan, hingga ibunya jatuh sakit. Gadis itu pun gelisah dalam rasa bersalahnya.

And suddenly I stopped being worried. If you’re in a dream, and you know it’s a dream, then nothing in the dream can hurt you. Right? Well, that’s what I thought at the time.

Malam itu dia terbangun dalam mimpi yang cukup aneh. Dia tahu dirinya sedang tidur selagi dia berada di dunia yang misterius dan dipenuhi oleh makhluk aneh. Namun dia terjebak dalam sebuah petualangan yang tidak diduganya, sementara Helena yang dilihatnya di kamarnya seperti bukan dirinya, membuat masalah semakin runyam. Dalam dunia imajinasi ini dia melihat perwujudan dirinya yang bukan dirinya, penggambaran dunianya yang bukan dunianya, serta orang-orang yang berhubungan dengannya tetapi bukan mereka. Bagaimanapun juga, dia harus pulang dan menyelesaikan masalahnya sendiri, yang dibutuhkannya adalah MirrorMask.

Dalam perjalanannya tersebut Helena juga bertemu dengan Valentine yang bertopeng aneh, yang akan menemani petualangannya mencari MirrorMask dan kembali ke dunianya. Orang misterius dan makhluk ajaib tentu tak akan terlewatkan dalam sebuah petualangan fantasi. Mulai dari perpustakaan, taman hiburan hingga ke istana, membawa tantangannya masing-masing.

But you can’t run away from home without destroying somebody’s world.

Buku ini adalah novella grafis yang berasal dari film oleh kreator yang sama. Ilustrasi McKean tidak asing lagi bagi saya karena dia adalah ilustrator dari beberapa karya Gaiman, pun saya sudah pernah menonton film MirrorMask ini. Dengan ilustrasi asli maupun foto dari film bertebaran di sepanjang buku, kita seolah mengikuti satu per satu scene film tersebut. Permainan tipografi pun sangat terasa dalam membangun suasana, penekanan, serta intonasi. Meski demikian, berbeda dari picture book, narasi dan dialog dalam buku ini cukup panjang untuk menjadi sebuah novella yang bisa berkisah sendiri meski tanpa ilustrasi.

img_20160618_120052.jpg

Saya merasa setiap halaman dalam buku ini begitu berharga. Setiap scene menyimpan metafora atau makna berlapis yang semacam tidak akan ada habisnya jika dikaji satu per satu. Berbalut kisah keluarga, persahabatan, percintaan remaja, buku ini memberi penggambaran yang luas tentang kepercayaan, penyesalan, dan memaafkan. Bahkan hal-hal yang paling kecil pun seperti menyentil beberapa aspek kehidupan walau tak berhubungan langsung dengan cerita. Metafora dan personifikasi bertaburan dalam dunia ajaib ini.

MY PAGES TASTE EXCELLENT BUT ARE STICKIER THAN TOFFEE AND VERY DIFFICULT TO CHEW.
Valentine looked disgusted. “What an appaling book. That’s the most useless thing it’s told us so far.”
“No,” I told him. “It’s a very brave thing to say.”

Dulu saat pertama menonton filmnya, saya sudah suka, lalu membaca bukunya kini memberi sebuah pengalaman membaca tersendiri. Mungkin untuk ukuran sebuah buku yang ditulis berdasar film, buku ini relatif terlalu singkat, tetapi dari sesuatu yang singkat ini justru merangsang kita untuk berpikir lebih dalam dan lebih luas. 5/5 bintang untuk kisah singkat yang dalam.

to sum up

to sum up

The BFG – Roald Dahl

bfgTitle : The BFG (Raksasa Besar yang Baik)
Author : Roald Dahl (1982)
Translator : Poppy Damayanti Chusfani
Editor : Dini Pandia
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan kedua, Agustus 2010
Format : Paperback, 200 pages

“Jika ada yang MELIHAT raksasa, dia harus dibawa bratbret segera.” (p.30)

Sophie tidak bisa tidur malam itu. Bulan bersinar cerah, dan dia tergoda untuk turun dari tempat tidur dan melihat melalui jendela. Apa yang dilihatnya sungguh tidak masuk akal. Raksasa?! Raksasa itu melihat Sophie melihatnya. Dia harus dibawa ke Negeri Raksasa.

Raksasa adalah pemakan manusia. Jumlah mereka tidak banyak karena mereka tidak berkembang biak, tetapi umur mereka panjang, dan setiap malam mereka akan berpencar ke penjuru negeri untuk berburu ras manusia favorit mereka masing-masing. Menurut mereka, setiap manusia dari setiap negara memiliki rasa khasnya masing-masing. Para raksasa itu, The Fleshlumpeater (Si Pemakan Bongkahan Daging), The Bonecruncher (Si Peremuk Tulang), The Childchewer (Si Pengunyah Anak Kecil), The Bloodbottler (Si Peminum Darah), dan kelima kawan mereka yang lain tidak akan membiarkan Sophie hidup, tetapi beruntung dia bertemu The BFG—Big Friendly Giant—yang melindunginya karena dia satu-satunya raksasa yang tidak makan manusia.

Petualangan Sophie dan BFG dimulai saat keduanya sepakat melakukan sesuatu untuk menghentikan kawan-kawan raksasa yang tidak hanya membuat kekacauan bagi umat manusia, tetapi juga suka mengganggu BFG karena tubuhnya yang kecil. Rencana mereka melibatkan kecerdikan Sophie, serta keahlian BFG dalam sesuatu yang dilakukannya setiap siang dan malam hari, juga keberanian keduanya untuk mengambil risiko.

Hal menarik yang tersebar dalam buku ini adalah dialog antara Sophie dan BFG. Selain lucu dan dipenuhi oleh kata-kata ‘ajaib’, karena BFG sering salah mengeja kata dan susunan kalimatnya aneh, terdapat banyak sindiran terhadap umat manusia secara umum. Sebagai raksasa dengan norma kehidupan yang berbeda dari manusia, tentunya raksasa melihat ada banyak hal yang aneh dari manusia, yang ironisnya memang benar.

“Tomat manusia satu-satunya binatang yang membunuh sesama.” (p.78)

Saya rasa, dalam bahasa aslinya, buku ini pasti sudah cukup ajaib dengan permainan katanya. Untungnya, versi terjemahan ini merepresentasikannya dengan sangat apik. Penerjemah favorit saya berhasil menyusun kalimat-kalimat ajaib tersebut menjadi cukup ajaib dalam bahasa Indonesia dan ungkapan-ungkapan umum bahasa Indonesia, sehingga terasa sebagai sebuah karya yang ‘utuh’. Seperti ‘human bean’ yang diterjemahkan menjadi ‘tomat manusia’ karena lebih cocok untuk terjemahan yang benar dari ‘human being’, yaitu ‘umat manusia’.

Banyak yang berpendapat buku ini memuat tema-tema sensitif seperti ras dan suku bangsa, yang mungkin masih relevan di masa terbitnya buku itu pertama kali, tetapi tidak hari ini. Saya sendiri setuju dan tidak setuju. Saya setuju bahwa ada hal yang mungkin bisa menyinggung, di sisi lain saya melihat itu dapat menjadi media untuk anak mengenal berbagai macam suku bangsa. Saya pribadi sebenarnya tidak terlalu terpengaruh karena penulis tidak menyinggung bangsa Indonesia, hehe.

Buku ini cukup menyenangkan untuk dinikmati, seperti buku anak-anak yang baik pada umumnya, dia memberi hiburan sekaligus hal-hal tersembunyi untuk digali. Dia memberi petualangan yang menegangkan, dan detail yang menakjubkan; baik tempat, karakter, maupun ‘keajaiban’ dan ‘bakat’ yang ada pada karakter-karakter tersebut. 4/5 bintang untuk imajinasi yang menggelitik kemanusiaan manusia.

Sophie terdiam. Raksasa luar biasa ini mengacaukan keyakinannya. Ia seperti menyeret Sophie ke dalam misteri yang berada di luar jangkauan pikirannya. (p.101)

Review #39 of Children’s Literature Reading Project