Category Archives: Folk Tale

Sepatu sang Raja dan Dongeng-Dongeng Indah Lainnya – Djokolelono

sepatu-sang-raja-dan-dongeng-dongeng-indah-lainnyaJudul : Sepatu sang Raja dan Dongeng-Dongeng Indah Lainnya
Penulis : Djokolelono (2015)
Ilustrator : Chandra Purnama, de Elite Team, Riwisoto (2015)
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Edisi : Cetakan pertama, 2015
Format : Paperback, 96 halaman

Daftar isi:
1. Sepatu sang Raja
2. Mawar yang Angkuh
3. Kamar Raffi
4. Si Utuk dan si Meri
5. Ibing, si Kecebong
6. Biri-Biri yang Cerdik

“Mendongeng merupakan pengalaman kreatif yang sangat menyenangkan bagi anak-anak. Jangan sekadar membacakan dongeng-dongeng ini, tapi ceritakan dengan kata-kata dan gaya sendiri.” (Djokolelono)

Kalimat di atas tercantum di bagian belakang sampul buku ini. Yang mengherankan adalah, mengapa saya perlu mengubah kata-kata dalam buku yang sudah disusun dengan indah?

Penulis menyusun dongeng-dongeng dalam kalimat-kalimat pendek berima serupa puisi naratif. Kalimatnya cukup sederhana, kosakata yang digunakan tidak terlalu muluk meski tak sedikit pula kata-kata yang agak puitis dan kompleks dicantumkan di sini, demi mendapatkan rimanya. Adanya ilustrasi yang berwarna-warni cerah mendominasi buku ini sehingga mudah dinikmati anak-anak sejak usia dini.

mawar

Jawabannya saya dapatkan saat saya membacakan buku ini untuk keponakan saya yang berumur 3 tahun. Keponakan saya, sebut saja R, tertarik saat melihat buku ini di kamar saya dan ingin melihat gambar-gambarnya. Dia membolak-balik halamannya dan membahas gambar-gambar yang ada di dalamnya, sampai saya menawarkan untuk menceritakannya, yang langsung disetujuinya. Awalnya, saya membaca tulisan di dalamnya apa adanya, tetapi setelah beberapa kalimat, saya menyadari bahwa untuk R, kalimat-kalimat itu masih terlalu rumit dan sulit dipahami untuk kemampuan berbahasanya yang masih sangat sederhana. Jadi, sebelum satu kisah berakhir, saya beralih menjadi pencerita, seperti saran penulis. Hasilnya? R sangat suka, dan bahkan meminta saya mengulangi kembali ceritanya sampai saya kelelahan.

“Tuanku, sering kita menyalahkan dunia,
dan ingin mengubahnya.
Padahal seharusnya,
kitalah yang harus mengubah diri untuk dunia.
….”
(hal.18-19)

Hal menyenangkan dari berimprovisasi adalah, kita akan menemukan hal yang tidak kita temukan pada penceritaan pertama. Setiap kali mengulang cerita yang sama, kalimat dan detail yang terlahir pasti berbeda. Gambar seringkali berbicara lebih banyak, sehingga dengan membacanya berulang kali, kita akan menemukan hal-hal baru yang bisa jadi mengembangkan cerita menjadi lebih menarik. Kalimat yang kita susun juga pasti berbeda, tak heran R tak bosan-bosannya minta didongengi.

Kisah dalam buku ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari anak, misalnya Raffi yang kamarnya berantakan, bisa saya hubungkan dengan R agar membereskan mainannya seusai digunakan, atau Ibing si Kecebong, yang meski pesannya tersirat sekali, menekankan bahwa ada tahap-tahap yang harus dilalui dalam melangkah ke pengalaman yang baru.

kecebong

Seperti sudah saya singgung sebelumnya, anak-anak sangat mudah tertarik pada gambar, karena itu proporsi gambar dalam buku ini saya katakan sangat pas untuk anak segala usia. Penggunaan karakter selain manusia, seperti hewan dan tumbuhan juga sangat berguna. R sudah mengenal berbagai macam hewan sehingga dalam kisah yang menggunakan karakter hewan, saya dapat memperkenalkan konsep simbiosis dan predator secara sederhana. Kebetulan, R tidak banyak mengenal jenis bunga, dan kisah Mawar yang Angkuh membantunya mengenal bahwa bunga bukan hanya sebatas bunga merah, kuning, biru, ungu, tetapi memiliki namanya masing-masing.

Ada seorang ilustrator di buku ini yang menggunakan sepasang kucing sebagai semacam signature, dan R memperhatikan hal itu, kucing yang tidak pada tempatnya (karena kebetulan dia suka kucing). Sebuah penanda yang unik, dan ternyata melatih kepekaan kita terhadap detail. Tidak hanya itu, perbedaan-perbedaan semacam warna bulu juga terlihat dalam beberapa kisah, dan salah satunya memang memberi pesan toleransi terhadap perbedaan.

“Semua makhluk di dunia ini,
punya keindahan sendiri-sendiri.”
(hal.28)

 

Review #34 of Children’s Literature Reading Project

Review #37 for Lucky No.15 Reading Challenge category Something New

Kumpulan Cerita Anak-Anak – S. Haryanto Arkoboesono

kcaa coverJudul : Kumpulan Cerita Anak-Anak
Penulis : S. Haryanto Arkoboesono (1981)
Ilustrator : B. L. Bambang Prasodjo
Penerbit : Balai Pustaka
Edisi : Cetakan kelima, 2007
Format : Paperback, 52 halaman

Buku ini berisi empat belas fabel, yang menurut saya tampak seperti Grimm versi Indonesia. Kisah-kisah dalam buku ini sangat gelap, dengan kekerasan yang agak vulgar. Formulanya hampir sama dengan fabel kebanyakan; kelicikan yang mendapatkan balasannya, kebodohan yang membawa kesialan, kecerdikan yang menyelamatkan, dan lain sebagainya. Dengan Serigala yang menjadi karakter ‘penjahat’ licik yang paling sering muncul, dan Kancil—seperti biasa—menjadi karakter yang cerdik. Namun tidak hanya itu, ada Katak, Burung, Domba, Beruang, Kucing, sampai Harimau yang memperkaya kisah ini.

kcaaKisah-kisah dalam buku ini dikemas untuk menyampaikan berbagai macam pesan moral, seperti kisah Katak Ingin Terbang menyampaikan betapa kita harus menyadari keterbatasan kita, atau Kata-Kata Manis yang menunjukkan betapa kelicikan sering terbalut kalimat-kalimat indah. Sayangnya, penulis membuat pesan moral dalam kisahnya hanya bermakna tunggal, padahal menurut saya kisah-kisahnya sangat potensial untuk dimaknai lebih luas. Penulis terkesan kaku dan memaksakan persepsinya dengan memberikan kesimpulan dalam satu paragraf terakhir. Seandainya satu paragraf akhir dari masing-masing kisah itu dihilangkan, menurut saya justru akan sangat bagus untuk imajinasi dan kreativitas anak-anak yang membacanya.

Sebagai buku yang diterbitkan pada tahun 1981, yaitu saat Ejaan Yang Disempurnakan telah diresmikan, buku ini termasuk kurang teliti dalam hal tersebut. Susunan kalimatnya terkadang membingungkan, dalam artian subyek, predikat dan obyek yang tidak jelas. Gaya penceritaannya juga kadang terlalu bertele-tele dan kurang efisien (banyak kalimat yang diulang). Pada edisi yang saya baca pun (cetakan 2007), tampaknya tidak dilakukan proses penyuntingan yang berarti.

Ditulis oleh seorang guru SD, saya rasa buku ini cukup lumayan untuk sebuah dongeng anak-anak. Apalagi ditambah ilustrasi sederhana yang menarik. Seperti saya katakan di atas, ‘rasa’ Grimm-nya cukup kentara. Namun, saya rasa buku ini masih perlu dipoles sedemikian rupa lagi supaya bisa menjadi ‘Grimm Indonesia’ yang benar-benar layak diturunkan dari generasi ke generasi.

Review #10 of Children’s Literature Reading Project

Review #25 for Lucky No.14 Reading Challenge category Bargain All The Way

Oktober #1 : Buku Balai Pustaka

Oktober #1 : Buku Balai Pustaka

Grimms’ Fairy Tales (Part 1) – The Brothers Grimm

Title : Grimms’ Fairy Tales (Grimms’ Kinder und Hausmarchen)
Author : The Brothers Grimm
Translator : Edgar Taylor and Marian Edwardes
Publisher : Project Gutenberg
Edition : December 14, 2008 [EBook #2591]

This review contains:

  1. The Golden Bird
  2. Hans in Luck
  3. Jorinda and Jorindel
  4. The Travelling Musicians
  5. Old Sultan
  6. The Straw, the Coal, and the Bean
  7. Briar Rose
  8. The Dog and the Sparrow
  9. The Twelve Dancing Princesses

Dongeng dari Grimms cukup banyak, dan masing-masing memiliki hal menarik yang bisa digali (meski tidak semuanya). Oleh karenanya, saya akan membuat review yang berseri, hingga sebisa mungkin saya bisa menyinggung satu per satu, meski singkat saja.

Kisah The Golden Bird menunjukkan orang-orang yang diuji dengan penampilan luar, apakah mereka akan menuruti nasihat untuk memilih sesuatu yang sederhana atas sesuatu yang indah, dan apa akibat yang muncul.

Hans in Luck adalah salah satu favorit saya, tentang cara kita memandang sebuah keberuntungan.

Some men are born to good luck: all they do or try to do comes right—all that falls to them is so much gain—all their geese are swans—all their cards are trumps—toss them which way you will, they will always, like poor puss, alight upon their legs, and only move on so much the faster. The world may very likely not always think of them as they think of themselves, but what care they for the world? what can it know about the matter?

Intinya, keberuntungan hanyalah masalah pola pikir. Jika kita puas dengan apa yang kita dapatkan, sekecil apapun, maka—seperti Hans—maka bolehlah menyebut diri beruntung.

‘How happy am I!’ cried he; ‘nobody was ever so lucky as I.’ Then up he got with a light heart, free from all his troubles, and walked on till he reached his mother’s house, and told her how very easy the road to good luck was.

Jorinda and Jorindel adalah sepasang kekasih yang dipisahkan oleh peri yang mengutuk sang gadis menjadi burung.

The Travelling Musicians menceritakan makhluk-makhluk tua dan lemah yang hendak disingkirkan oleh majikan/pemilik mereka, salah satu kisah yang nantinya berakhir lucu dan menyenangkan. Betapa imajinasi manusia dalam kegelapan bisa berlipat-lipat lebih buruk dari yang sebenarnya, jadi, jangan segan-segan untuk ‘menyalakan lampu’ 😉

Old Sultan adalah anjing tua yang hendak dibunuh oleh pemiliknya karena dianggap tidak berguna. Inilah kisah ‘penyelamatan’, sekaligus menunjukkan kesetiaan seekor anjing yang sangat besar, apapun yang terjadi.

The Straw, the Coal, and the Bean adalah salah satu kisah sederhana tentang jerami, arang, dan kacang yang lolos dari ‘maut’, untuk menuju ke bahaya maut berikutnya.

Briar Rose dapat dikatakan sebagai Sleeping Beauty versi Grimm, dengan akhir yang agak berbeda, lebih sederhana dari versi Perrault.

The Dog and the Sparrow mengisahkan pembalasan dendam seekor burung gereja untuk anjing kawannya.

Dalam The Twelve Dancing Princesses, sang Raja memerintahkan untuk mencari tahu rahasia sepatu kedua belas putrinya yang menjadi lusuh tiap malam. Ada satu hal kecil yang menarik perhatian saya di sini, yaitu adanya jubah yang bisa membuat orang yang memakainya tidak terlihat.

Grimms menuliskan kisahnya secara sederhana saja, pendek, singkat dan tidak ada konflik yang terlalu rumit. Yang salah mendapat hukuman, yang benar mendapat ganjaran, sebagaimana pakem fairy tales yang umum. Namun begitu, judul asli yang dapat diterjemahkan sebagai Grimms’ Children and Household ini tak sepenuhnya ‘aman’ untuk anak-anak. Ada adegan kekerasan yang terang-terangan di sini. Saya rasa dongeng Grimm ini memang kembali pada kodrat awalnya sebagai cerita yang didongengkan untuk anak sebelum tidur, sehingga anak bisa mendapatkan bimbingan dari orang tuanya.

Kesederhanaannya juga terkadang menyebabkan beberapa kisah sekadar ‘lewat’ tanpa kejelasan akan apa yang hendak disampaikan dalam kisah itu. Seperti The Straw, the Coal and the Bean yang sepertinya ‘hanya’ hendak menyampaikan asal-usul sang kacang. Mungkin juga sebagian kisah hendak menunjukkan kenyataan yang ada di sekitar kita. Namun, dari sembilan kisah itu tak sedikit juga yang memiliki sesuatu untuk digali dan dianalisis.

Selanjutnya, tunggu review bagian kedua saya 🙂

Juni #2 : Fairy Tales

The Tales of Mother Goose – Charles Perrault

Review in English and Bahasa Indonesia.

Mother GooseTitle : The Tales of Mother Goose
Author : Charles Perrault (1696)
Translator : Charles Welsh
Illustrator : D. J. Munro
Publisher : Project Gutenberg
Edition : December 3, 2005 [EBook #17208]

Contents:
– Cinderella, or the Little Glass Slipper
– The Sleeping Beauty in the Wood
– Little Thumb
– The Master Cat, or Puss in Boots
– Riquet with the Tuft
– Blue Beard
– The Fairy
– Little Red Riding-hood

Perrault’s fairy tales must have well-known among us, either from bed-time stories, disneys, or any adaptations—classics and moderns. This version I read claimed as the first collected by Charles Perrault contains eight stories. It was found first in French magazine in 1696-1697. The details of every tale, of course, have differences from any adaptation that I’ve read and watched. This original version provided indeed happily ever-after solutions, though, in some ways, also gave cruelty and not as sweet as many adaptations, such as disneys.

The Sleeping Beauty story that I remember ended after the Prince kissed the sleeping Princess and they live happily ever-after. While, in this book, the Princess was not even kissed, and also she must face her mother in law, which was an ogress. It is different for Little Red Riding-hood which wasn’t ended happily ever-after since it stopped after the wolf ate the girl.

"I am exact in keeping my word." p. 61.

“I am exact in keeping my word.” p. 61.

One of my favourite of the eight is Riquet with the Tuft, because of its depth. Riquet was not handsome, but he had a good sense. He met the Beauty that was sad because of her senseless. Riquet had a gift to make the one he loves become cleverer. While he had so to the Beauty, she rejected him by saying that his sense (now that she has it) wouldn’t accept their marriage.

But as he to whom I talk is the one man in the world who is master of the greatest sense and judgment, I am sure he will hear reason.

However, Beauty loved him so that she could make Riquet handsome with her gift. Although, some say that it was love that made him handsome. I don’t agree for its indication that appearance does matter for marriage, but I like the sensible dialogue between Riquet and Beauty, and the power of love that gave them good fortune.

I found some biases of some stories. Like in Blue Beard, which was a rich gentleman that had a deadly secret about his previous wives. His latest wife happened to know his secret, and nearly got punishment for her disloyalty to Blue Beard’s order. Blue Beard was indeed the villain, but, on the other hand, the wife should not break her promise to her husband. However, it seems that Blue Beard was intended to trap her.

Each of these eight stories portrayed reward and punishment as proper consequences for every action. The stories are also enjoyable for they’re serving imaginations, as well. The translator added that these stories were not written by Perrault himself, but by his little son (at 10 or 11)–which had a very sharp memory, to whom he told the stories.

Dongeng yang dikisahkan oleh Perrault ini kebanyakan sudah pernah kita dengar, akan tetapi, karena dongeng pada mulanya merupakan kisah yang diturunkan dari mulut ke mulut, banyak versi yang muncul. Dalam buku ini, ada delapan buah cerita, yang masing-masing akan saya ceritakan secara singkat:

Cerita Cinderella tidak jauh berbeda dari versi yang banyak dikisahkan ulang, hanya di sini saya menemukan sebuah fakta yang baru saya ketahui, yaitu asal kata Cinderella. Dikatakan bahwa setelah bekerja, Cinderella sering beristirahat di dekat perapian, di antara bekas bara (cinder), sehingga saudari tirinya memanggilnya Cinderwench (wench = gadis). Sedangkan saudarinya yang lain—yang agak ‘baik’—memilih memanggilnya Cinderella. Kisah Sleeping Beauty, sebagaimana yang kita ketahui, bermula dari kutukan peri tua yang lupa tidak diundang pada perayaan kelahiran sang puteri. Sang Puteri dikutuk akan meninggal pada usia enam belas tahun, karena tertusuk jarum pintal. Untuk meringankan kutukan tersebut, peri terakhir menganugerahkan tidur seratus tahun sebagai gantinya. Puteri Tidur yang terbangun dari tidur setelah kedatangan sang Pangeran (tanpa ciuman) pun masih harus menghadapi ibu mertuanya yang ternyata adalah keturunan raksasa.

Little Thumb merupakan bungsu dari tujuh bersaudara dari pasangan yang miskin, dimana sang ayah yang merasa tidak sanggup lagi memberi makan ketujuh anaknya, memutuskan untuk meninggalkan mereka bertujuh di hutan. Little Thumb yang bertubuh kecil, jarang berbicara, tetapi banyak mendengarkan dan memahami, berhasil menolong dirinya dan saudara-saudaranya untuk bertahan hidup, berkat kecerdikannya. The Master Cat merupakan warisan terakhir yang didapatkan oleh bungsu dari ketiga bersaudara, dimana kedua kakaknya masing-masing mendapatkan penggilingan dan keledai sebagai bagian mereka. Pada mulanya, si bungsu merasa merana karena hanya mendapatkan seekor kucing. Namun, kucing itu ternyata bukan kucing biasa. Berkat kecerdikannya, kucing tersebut dapat meningkatkan derajat majikannya.

Riquet with the Tuft mengisahkan seorang putra raja yang buruk rupa tetapi memiliki kebijaksanaan, dan dianugerahi kemampuan membuat orang yang dicintainya menjadi bijaksana. Berkebalikan dengan putri raja di negeri tetangganya yang cantik tapi bodoh. Namun ia memiliki kemampuan untuk membuat pria yang dicintainya menjadi tampan. Kisah ini adalah salah satu favorit saya, karena kedalaman maknanya. Si Cantik yang sedang bersedih karena kebodohannya tidak sengaja bertemu dengan Riquet, yang menjanjikan kebijaksanaan asalkan dia mau menikahinya. Si Cantik menyetujuinya, tetapi meminta waktu setahun untuk pernikahannya. Si Cantik yang kini telah menjadi pandai hampir melupakan janjinya, dan ketika Riquet menagih janjinya, dia berkilah bahwa saat menyetujui pernikahan, dia masih bodoh. Si Cantik meminta Riquet yang bijak untuk memakluminya, karena kebijaksanaannya, karena saat ini dia telah mempertimbangkan dengan yang lebih matang.

“If a man of no wit and sense,” replied Riquet with the Tuft, “would be well received, as you say, in reproaching you for breach of your word, why will you not let me, madam, have the same usage in a matter wherein all the happiness of my life is concerned? Is it reasonable that persons of wit and sense should be in a worse condition than those who have none? Can you pretend this, you who have so great a share, and desired so earnestly to have it? But let us come to the fact, if you please. Putting aside my ugliness and deformity, is there anything in me which displeased you? Are you dissatisfied with my birth, my wit, my humor, or my manners?”
“Not at all,” answered the Princess; “I love you and respect you in all that you mention.”

Dengan itu, maka si Cantik pun dapat menggunakan anugerah yang diberikan peri saat dia masih bayi.

"If you open it, there's Nothing you may not expect from my Anger." p. 67.

“If you open it, there’s nothing you may not expect from my anger.” p. 67.

Blue Beard adalah seorang pria kaya raya, tetapi jenggot birunya membuatnya dijauhi banyak orang. Dia telah beberapa kali menikah, namun istri-istrinya selalu menghilang secara misterius. Dan istrinya yang terakhir, yang dikisahkan dalam dongeng ini, mengungkapkan rahasianya. Saya pribadi melihat beberapa bias dalam kisah ini. Di antaranya adalah bahwa penderitaan sang istri sebenarnya diawali dari pengkhianatan terhadap kepercayaan yang diberikan oleh sang suami. Namun di sisi lain, Blue Beard tampaknya ‘memancing’ sang istri untuk masuk ke dalam perangkapnya.

The Fairy mengisahkan kakak beradik yang hidup bersama ibunya. Si bungsu yang kurang disayang ibunya bertemu dengan peri yang menyamar menjadi orang tua yang kehausan, dan dengan tulus memberinya minum yang dibawanya dari mata air yang jauh. Dia pun mendapatkan anugerah mengeluarkan permata pada tiap kata yang diucapkannya. Si sulung yang didorong ibunya untuk melakukan hal serupa pada akhirnya terkutuk karena ketidaktulusannya. Yang terakhir, kisah Little Red Riding-hood mungkin merupakan satu-satunya kisah yang tidak berakhir bahagia, karena pada kisah ini, si tudung merah pun akhirnya ditelan oleh sang serigala.

Detail kisah-kisah dalam buku ini mungkin tidak semanis dan seindah adaptasi-adaptasinya, namun bukan berarti kisah ini tidak cocok untuk anak-anak. Menurut saya, imajinasi anak-anak mampu menikmati kisah-kisah ini sebagaimana adanya. Untuk orang dewasa pun, terutama saya pribadi, kisah-kisahnya bisa sangat dinikmati. Meski beberapa bagian, seperti dalam kisah Blue Beard, ada hal-hal yang menimbulkan pertanyaan. Namun, apakah anak-anak berpikir sama seperti saya? Silakan dibaca dan diputuskan sendiri.

3/5 bintang untuk kenangan masa kanak-kanak.

Review #16 of Classics Club Project

The Little Red Hen

The Little Red Hen merupakan salah satu dongeng yang telah lama dikisahkan secara turun-temurun. Asal-usulnya sendiri sudah tidak jelas, kebanyakan sumber menyatakan dari Inggris, namun ada juga yang menyatakan berasal dari Rusia.

Dongeng ini merupakan fabel yang menceritakan seekor ayam, the Little Red Hen, yang menemukan bibit gandum, dan hendak menanamnya. Dia meminta bantuan pada teman-temannya; kucing, tikus, dan anjing (dalam versi lain disebutkan babi, kucing, dan bebek), akan tetapi ketiganya menolaknya dengan alasan yang bermacam-macam. Hingga tiba saat panen, sang ayam tak juga mendapatkan bantuan dari teman-temannya, pun saat dia hendak menggilingnya menjadi tepung, dan memasaknya menjadi roti, mereka semua menolak membantu.

Akhirnya, ketika roti sudah matang dan siap disantap, barulah teman-temannya datang untuk ikut menikmati roti yang merupakan hasil kerja keras the Little Red Hen sendirian.

Book CoverDongeng sederhana ini telah diadaptasi dalam berbagai macam buku bergambar (picture books), maupun diceritakan secara audiovisual.

Pada versi yang diceritakan kembali, serta diberi ilustrasi oleh Florence White Williams, yang diterbitkan oleh Project Gutenberg tahun 2006 [EBook #18735], dikatakan bahwa induk ayam ini meminta bantuan pada babi, kucing, dan tikus, karena kesibukannya mengurus anak-anak ayamnya. Dia melihat bahwa ketiga penghuni peternakan itu menganggur, sehingga berharap mendapatkan sedikit bantuan dari mereka. Namun ketika berulang kali ketiganya menolak, the Little Red Hen pun ternyata bisa turun tangan mengerjakannya sendiri, tanpa menelantarkan anak-anaknya.


“Reading is one of the joys of life, and once you begin you can’t stop, and you’ve got so many stories to look forward to.” –Benedict Cumberbatch (the narrator)


Adaptasi dari Speakaboos.

867650Salah satu adaptasi yang paling terkenal adalah yang diterbitkan oleh Little Golden Book (see detail).

Kesederhanaan kisah ini, pengulangan pola (meminta bantuan dan ditolak), membuat kisah ini mudah diingat oleh anak-anak, terutama jika dibacakan kepada anak balita. Dongeng ini memberi pemahaman betapa pentingnya tolong-menolong, serta apa keuntungan dan kerugian yang didapatkan darinya. Pemilihan ‘roti’ sebagai hasil akhir, yang sering ditemui dalam keseharian, juga memudahkan anak untuk menerima pesan moral dari kisah ini.


Video adaptasi dari Golden Book Video Classic

FYE button