Category Archives: Historical Fiction

Esperanza Rising – Pam Muñoz Ryan

esperanzaTitle : Esperanza Rising
Author : Pam Muñoz Ryan (2000)
Translator : Maria M. Lubis
Editor : Jia Effendie
Publisher : Penerbit Atria
Edition : Cetakan I, Maret 2011
Format : Paperback, 238 pages

“Jangan takut untuk memulai lagi dari awal.”

Esperanza Ortega kecil hidup bak ratu di El Rancho de las Rosas di Aguascalientes, Meksiko. Sebagai anak tunggal dari tuan tanah yang kaya, segala kebutuhan dan keinginannya mudah saja diwujudkan. Selama ini dia dikelilingi orang tua yang menyayanginya, baju bagus yang bersih, pelayan yang selalu siap melayaninya, orang-orang yang menghormatinya, rumah yang besar dan nyaman. Hingga suatu ketika, dia menyadari bahwa di bawah kemewahan yang dinikmatinya, ada orang-orang yang menderita, yang bekerja keras demi bisa hidup, yang tersingkir, dan yang memberontak.

Tepat menjelang ulang tahunnya yang ketiga belas, kehidupannya berubah total. Kepentingan orang-orang terhadap El Rancho de las Rosas mengorbankan keluarganya. Dengan terpaksa, Esperanza dan Mama harus ikut dengan keluarga pekerja yang akan pindah ke Amerika Serikat. Tempat semua orang dapat maju dengan usahanya sendiri, tempat yang tak mengenal status sosial; selama mereka mau bekerja, mereka bisa menaikkan derajat. Perjalanan yang sulit untuk Esperanza yang selama ini hidup dalam prioritas.

Amerika ternyata tak seindah yang mereka bayangkan. Orang-orang Meksiko, juga para imigran dari negara lain, tetap dianggap sebagai warga kelas dua di bawah orang-orang kulit putih; meski mereka lahir di Amerika, sudah memiliki kewarganegaraan, bahkan belum pernah menginjakkan kaki ke Meksiko. Kesempatan mereka terbatas, tetapi sebagian dari mereka percaya bahwa kerja keras mereka akan membuahkan hasil. Di sisi lain, ada para pekerja yang protes menuntut upah yang lebih layak.

Esperanza menatap kegelapan. Isabel tidak memiliki apa-apa, tetapi dia juga memiliki segalanya. Esperanza menginginkan milik Isabel. Dia menginginkan begitu sedikit kekhawatiran sehingga sesuatu yang sesederhana boneka benang bisa membuatnya gembira. (p.158)

Di sinilah Esperanza diuji. Dia harus menanggalkan kebiasaannya sebagai seorang ratu, dan harus turun tangan melakukan pekerjaan rumah bahkan pekerjaan kasar. Kerinduan dengan orang-orang tercinta melecutnya untuk bisa menghasilkan uang, untuk bertahan di pertanian California yang penuh persaingan. Di usianya yang belasan tahun, Esperanza belajar artinya kehilangan, kejatuhan, kematian, dan bagaimana harus bangkit, melepaskan, dan bertahan. Akankah segalanya menjadi lebih baik? Akankah keringat dan air matanya berbuah senyum dan kebahagiaan?

Dalam setiap kesulitan, manusia akan berubah, lebih dewasa atau terpuruk. Inilah yang dialami Esperanza, sebagaimana judulnya, Esperanza bangkit. Namun, perubahan yang dialaminya tidak drastis, wajar karena kekecewaan dan kesedihan masa lalu memang sulit dihapuskan dalam masa krisis. Romantisme masa lalu kadang menghambat proses penyesuaian hari ini, tetapi akan ada satu motivasi kuat yang pada akhirnya membuatnya sadar caranya bergerak naik; cinta.

Buku yang bersetting pada tahun 1930an ini menunjukkan Amerika yang masih melakukan diskriminasi berdasarkan ras dan kebangsaan, dari sudut pandang para imigran dan keturunan Meksiko. Bagaimana mereka harus bersaing tidak sehat dengan orang-orang Okkie (Oklahoma), dengan kompetensi di bawah mereka tetapi mendapatkan kesempatan lebih baik karena mereka rela dibayar murah.

Ada sesuatu yang terasa sangat salah karena mengusir orang-orang dari “negara bebas” mereka sendiri, karena mereka mengungkapkan pikiran mereka. (p.187)

Salah satu karakter menarik di buku ini adalah Miguel—anak pasangan pekerja di Aguascalientes yang mengajak mereka ke Amerika—yang hampir seusia dengan Esperanza. Miguel, yang kerap merasakan kebaikan hati Papa, memiliki tekad yang kuat untuk maju. Dia yang juga merasa berutang dengan keluarga Ortega selalu berada di samping Esperanza kala dibutuhkan.

Buku ini juga kaya dengan penggunaan simbol dan metafora yang halus. Seperti mawar yang dibawa dari Aguascalientes sebagai simbol keluarga, pola renda yang diajarkan Abuelita (ibu dari Mama) membentuk lembah dan gunung, serta yang paling saya suka adalah suara degup jantung bumi yang didengar di Meksiko dan di Amerika adalah sebuah pertanda sesuatu yang besar. Penggunaan bab-bab berdasarkan musim panen menambah keunikan buku ini.

Meski sempat bosan di awal karena kekeraskepalaan Esperanza, buku ini diakhiri dengan sangat manis dan hangat. 4/5 bintang untuk buah-buah anggur yang mengawali dan mengkhiri kisah ini.

Advertisements

Oeroeg – Hella S. Haasse

oeroegTitle : Oeroeg
Author : Hella S. Haasse (1948)
Translator : Indira Ismail
Editor : Dini Pandia
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan pertama, Oktober 2009
Format : Paperback, 144 pages

Oeroeg kawanku. Bila kukenang lagi masa kecil dan tahun-tahun remajaku, sosok Oeroeg langsung muncul dalam benakku bagai salah satu gambar ajaib yang biasa kami beli, tiga lembar seharga sepuluh sen: lembar-lembar kekuningan mengilap berlapis kertas yang harus digosok keras dengan pensil agar gambar tersembunyinya muncul. (p.5)

Saya jarang membaca fiksi sejarah Indonesia, apalagi yang ditulis dari sisi orang Belanda, jadi saya tidak berekspektasi apa-apa kala membaca buku ini. Sang narator (‘aku’) adalah teman sebaya Oeroeg di perkebunan Kebon Jati, Jawa Barat, pada masa pendudukan Belanda. Mereka lahir di lingkungan dan masa yang sama, ayah ‘aku’ adalah administateur, sedangkan ayah Oeroeg adalah mandornya. Keduanya selalu bersama-sama sejak kecil, karena di lingkungan itu tidak banyak penduduknya. Hingga masa sekolah, mereka masih bersama-sama, seolah tak ada batas sosial di antara keduanya.

Oeroeg memang diistimewakan karena keluarga ‘aku’ punya utang budi kepadanya. Akan tetapi, kedekatan mereka tetap menjadi masalah pada akhirnya. Sebagai seorang Belanda, tak semestinya ‘aku’ bermain di lumpur bersama seorang Pribumi, sebagai seorang Eropa, tak semestinya ‘aku’ lebih memilih bermain dengan seorang Pribumi ketimbang bergaul dengan sesama Eropa di sekolahnya. Namun, ‘aku’ sangat beruntung karena ayahnya mempekerjakan Gerard yang bijak menasihatinya perihal ini.

“Macan kumbang berbeda dari monyet,” kata Gerard setelah beberapa saat, “tapi apakah yang satu lebih rendah daripada yang lain? Bagimu ini pertanyaan bodoh, dan kau benar. Pertanyaan ini tetap sama bodohnya bila menyangkut manusia. Perbedaan itu biasa. Setiap orang berbeda. Aku juga berbeda darimu. Tetapi lebih tinggi atau lebih rendah karena warna kulit wajahmu atau karena siapa ayahmu—itu omong kosong. Oeroeg kawanmu, kan? Kalau memang ia kawanmu—bagaimana bisa ia lebih rendah dibanding kau atau yang lain?” (p.64)

Bagaimanapun juga, dalam kondisi Hindia saat itu, ada hal yang lebih penting untuk diperjuangkan ketimbang sentimen masa kecil. Beranjak dewasa, pergolakan politik dan sosial mau tak mau mempengaruhi hubungan persahabatan keduanya. Oeroeg mulai menjadi sulit dipahami oleh ‘aku’, sedangkan ‘aku’ sendiri mungkin tak menyadari bahwa pilihan hidupnya juga memperlebar jarak mereka.

Selain menceritakan hubungan sahabat berbeda bangsa ini, latar tempat serta sejarah yang digambarkan begitu nyata dan kuat. Narasinya indah dalam susunan kalimat yang sepertinya penuh perhitungan. Setiap episode yang ditampilkan memiliki makna tersendiri dalam kehidupan ‘aku’ selanjutnya; segala permainan, legenda, trauma, dan memori panca indera. Wajar karena kisah ini diceritakan sebagai kilas balik kehidupan ‘aku’. Kisah Oeroeg dan kawannya ini sangat berkesan meski pendek, atau, dia berkesan justru karena singkat, tapi padat.

Bila betul setiap orang memiliki alam jiwa, suasana tertentu, lingkungan yang membangkitkan getaran-getaran responsif di sudut tersembunyi jiwanya, alamku dahulu—dan kini—adalah lereng gunung Priangan: bau pahit tanaman teh, gemercik air jernih yang mengalir melalui bongkahan-bongkahan batu, bayang-bayang biru awan di dataran rendah. (p.122)

Buku ini memesona saya dari awal hingga akhir. Saya percaya akan kekuatan sebuah akhir cerita, akhir yang bagus akan menancapkan kekuatan buku itu ke dalam benak pembaca lebih lama. Karena akhir cerita inilah saya menyematkan 5/5 bintang untuk buku ini. Kenyataan memang seringkali pahit. Kenyataan bahwa ‘aku’ adalah seorang Eropa, dan Oeroeg kawan ’ku’ adalah seorang Pribumi.

Sebagaimana yang pernah kukatakan, Oeroeg pasif. Ia menerima jalan kehidupannya kini, seperti halnya ia dahulu menerima tinggal di Kebon Jati dan bergaul denganku. (p.98)

Tak perlu kukatakan lagi bahwa aku tidak memahami Oeroeg. Aku mengenalnya sama seperti mengenal Telaga Hideung—permukaan berkilau kawah gunung berapi. Tapi aku tidak pernah bisa menduga kedalamannya. (p.130-131)

Wonderstruck – Brian Selznick

Title : Wonderstuck
Author : Brian Selznick (2011)
Translator : Marcalais Fransisca
Editor : Dhewiberta
Publisher : Penerbit Bentang
Edition : Cetakan I, November 2013
Format : Paperback, 648 pages

Dan, jika meteorit sama dengan bintang jatuh, masih bisakah kau mengucapkan permintaan meskipun telah jatuh ke Bumi? (p.347)

Ben Wilson lahir dan tinggal di sebuah pedesaan di Gunflint Lake, Minnesota; yang konon terbentuk karena tumbukan sebuah meteor. Telinganya tuli sebelah, dia tidak tahu siapa ayahnya, dan ibunya baru saja meninggal. Meski masih memiliki paman, bibi, dan saudara sepupu yang tinggal tak jauh dari rumah ibunya, Ben merasa sendirian dan tidak aman. Suatu hari, saat hendak membereskan barang-barang peninggalan ibunya, dia menemukan sesuatu yang dirasanya sebagai petunjuk keberadaan ayahnya; toko buku Kincaid di New York City, dan sebuah buku berjudul Wonderstruck yang diterbitkan oleh American Museum of Natural History, New York. Berbekal informasi itu dan sebuah nama yang tertera dalam surat untuk ibunya, dia nekat pergi ke New York, berharap menemukan ayah yang tak pernah dikenalnya seumur hidup.

IMG_20151008_100307Dalam gambar, penulis juga menceritakan sebuah kisah yang terjadi lima puluh tahun sebelumnya di Hoboken, New Jersey. Seorang gadis kecil bernama Rose, yang terkurung di rumahnya dan membuat diorama segala macam bangunan, terutama dari seorang artis ternama yang menjadi obsesinya. Rose yang juga tuli-bisu ini pada akhirnya juga nekat kabur dari rumah, mencari sesosok yang dirindukannya selama ini.

Kisah yang terjadi pada tahun 1977 dan 1927 di dua tempat berbeda ini diceritakan secara paralel melalui narasi dan gambar. Pada mulanya, Ben diceritakan melalui narasi saja, sedangkan Rose melalui gambar saja. Hingga kemudian gambar dan narasi dipertemukan menjadi sebuah kisah yang indah dan mengharukan. Apakah keduanya pada akhirnya menemukan apa yang mereka cari di New York?

Ben menatap lukisan langit malam di tembok melengkung di belakang diorama. Tergambar di sana …. Beruang Besar. Dan di ujung Beruang Kecil, Ben dapat melihat Bintang Utara dengan jelas, tetapi ia tak pernah merasa setersesat ini. (p.395)

Ini kedua kalinya saya membaca karya penulis ini, dan seperti sebelumnya, penulis memasukkan misteri dan simbol yang sangat dalam melalui kisahnya. Mulai dari meteor yang membentuk Gunflint Lake, serigala yang konon tinggal di sana, museum, sampai diorama di dalamnya berjalin dan berpadu membentuk jawaban dari ‘ketersesatan’ seorang anak. Dalam buku ini, ibu Ben yang dulunya seorang pustakawan memiliki sebuah kutipan favorit yang menjadi penuntun bagi anaknya: We are all in the gutter but some of us are looking at the stars (Oscar Wilde). Selain itu, inspirasi lain berasal dari sebuah lagu yang sangat populer di era 70-an, Space Oddity oleh David Bowie.

“This is Major Tom to ground control;
I’m stepping thro’ the door,
And I’m floating in a most peculiar way
And the stars look very different today
For here am I sitting in a tin can far above world ….”
(p.72)

Kedua kutipan tersebut merupakan cerminan dari keseluruhan buku ini. Tentang Ben dan Rose yang memberanikan diri keluar dari zona amannya guna mencari sesuatu yang luar biasa, yang pada akhirnya akan mengubah hidup mereka. Sebagaimana pencarian pada umumnya, mereka dipertemukan oleh orang-orang yang secara tak terduga bisa menolong mereka, halangan baik dari luar maupun dari dalam diri mereka yang berwujud keputusasaan juga tak dipungkiri akan dihadapi, yang menentukan adalah seberapa keras niat mereka, usaha mereka, dan keberuntungan mungkin akan datang. Pencarian itu juga mungkin tak menuntun mereka pada apa yang mereka cari pada mulanya, tetapi pertanyaan-pertanyaan mereka akan terjawab walau dengan cara yang berbeda.

IMG_20151008_100629Selznick, saya akui, adalah ilustrator yang sangat brilian. Seluruh gambarnya berhasil berbicara dan bercerita dengan apik. Dia bisa membuat satu gambar yang bercerita banyak, dia juga lihai dalam menyusun gambar-gambar hingga pembaca merasa seperti sedang menonton sebuah film. Sayang, kekuatannya itu tidak saya rasakan ketika membaca narasinya. 4.5/5 bintang untuk Wonderstruck yang tersembunyi.

Review #33 of Children’s Literature Reading Project

Review #35 for Lucky No.15 Reading Challenge category First Initial

PS: Saya langsung jatuh cinta begitu mendengarkan lagu Space Oddity, old but gold

The Boy in the Striped Pyjamas – John Boyne

The boy in the striped pyjamasTitle : The Boy in the Striped Pyjamas (Anak Lelaki Berpiama Garis-Garis)
Author : John Boyne (2006)
Translator : Rosemary Kesauli
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan pertama, Juli 2007
Format : Paperback, 240 pages

Suatu hari di usianya yang baru sembilan tahun, Bruno terpaksa harus berpisah dari kenyamanan rumah dan sahabat-sahabatnya di Berlin, untuk pindah ke suatu tempat terpencil yang disebutnya Out-With. Kepindahan itu dikarenakan promosi yang didapatkan ayahnya karena berhasil menyenangkan The Fury, pemimpin bangsa Jerman saat itu. Ibu dan kakak perempuannya, Gretel, sebenarnya juga tidak menyukai kepindahan mereka, tetapi masing-masing mereka harus menyesuaikan diri demi karir sang ayah, yang sekarang dipanggil Komandan.

Rumah yang mereka tempati di Out-With berada di lingkungan yang sangat asing dan sepi. Dari jendela kamarnya, Bruno dapat melihat sebuah dataran berpasir dengan kamp-kamp, yang dipenuhi orang dan anak laki-laki yang berpakaian seragam, piama garis-garis. Bruno tak mengerti apa yang terjadi pada sekumpulan orang tersebut, kecuali bahwa sesekali mereka berbaris dan para serdadu yang sesekali berada di antara mereka. Hingga suatu hari, naluri penjelajah Bruno tergelitik untuk melanggar aturan orang tuanya agar tidak meninggalkan rumah. Dia berjalan menuju pagar kawat yang tinggi dan lebar yang membatasi wilayahnya dengan orang-orang berpiama garis-garis. Bruno bertemu Shmuel, anak yang tanggal lahirnya sama persis dengan dirinya (15 April 1934), tetapi bernasib sangat berbeda. Pertemuan itulah yang akan mengubah hidupnya.

Jauh sebelum membaca buku ini, saya sudah menonton film adaptasinya, sehingga tak banyak kejutan yang saya dapatkan. Meski pada edisi yang saya baca penerbit memutuskan untuk tidak memberikan sinopsis kisah ini, tidak banyak berpengaruh pada saya. Penerbit Indonesia ini juga tampaknya hendak ‘bermain aman’ dengan menegaskan bahwa buku ini bukan anak-anak, padahal edisi aslinya jelas memang ditulis untuk anak-anak. Gaya bahasanya pun cukup menunjukkan bahwa buku ini ditujukan untuk pembaca muda.

Sebenarnya, tidak banyak hal sensitif yang disebutkan secara tersurat dalam buku ini. Fakta sejarah yang melatarbelakangi kisah ini tidak disebutkan secara detail, kata-kata kotor yang ditujukan pada bangsa yang dianggap rendah pun disensor. Hal yang agak mengganggu saya justru karakter Bruno yang terlalu naif, untuk anak sembilan tahun sekalipun. Bukan hanya naif, Bruno juga sangat acuh tak acuh terhadap sekitarnya. Tampaknya, dia adalah produk dari orang tua yang sangat protektif, yang tidak memberikannya akses informasi yang penting diketahuinya, ditambah sifat abainya yang entah tumbuh dari mana. Bahkan dalam interaksinya dengan Shmuel, dia tidak menunjukkan empati sebagaimana mestinya, hanya berpusat pada pikiran dan perasaannya sendiri. Karakter yang menampakkan perubahan justru adalah Gretel, meski tidak dibahas secara mendetail.

Kesalahan pelafalan The Fury dan Out-With oleh Bruno juga agak janggal, karena Bruno berbicara dalam bahasa Jerman, bukan Inggris. Dalam satu adegan juga disebutkan bahwa dia membaca kata Out-With tersebut. Bagian saat Bruno menyebutkan sebuah buku dari Inggris hadiah dari ayahnya juga tidak sesuai dengan latar kebanggaan ayah Bruno terhadap bangsa Jerman, yang menganggap diri paling unggul, ditambah fakta bahwa Letnan Kotler—bawahan ayahnya—justru mencibir buku tersebut.

Di luar kejanggalan-kejanggalan yang sudah saya sebutkan, saya cukup menikmati membaca buku ini. Oleh karena sudah mengetahui latar sejarah yang berhubungan dengan buku ini, yaitu sekitar Perang Dunia II, saya tidak kesulitan membayangkan apa yang terjadi dari sudut pandang Bruno yang naif—karena buku ini menggunakan sudut pandang orang ketiga terbatas. Saya juga berhasil menangkap emosi yang hendak disampaikan oleh penulis melalui kisahnya, meski karakter utamanya tidak menunjukkan pemahaman yang sama dengan pembaca.

Secara keseluruhan, aura kepolosan dalam buku inilah hal yang paling saya suka. Layaknya buku anak-anak lain, isu-isu sosial yang berat dilebur dalam sebuah kisah mengenai keluarga dan persahabatan yang wajar kita temui sehari-hari. Sebuah keluarga dengan dinamikanya, perpisahan dengan lingkungan yang nyaman, persahabatan yang murni, dan ambisi yang justru menghancurkan kebahagiaan, adalah sebagian hal yang tersirat dalam kisah Bruno. Sebuah nilai plus dalam buku ini adalah penekanan mengenai persahabatan murni tersebut. Kenaifan dan kepolosan Bruno dan Shmuel membuat mereka memandang masing-masing persamaan mereka, alih-alih membesar-besarkan perbedaan seperti yang dilakukan oleh para orang dewasa. Mungkin inilah hal utama yang membuat saya menilai tinggi buku ini. 3.5/5 bintang untuk penjelajahan tak terduga.

Agustus : Perang Dunia

Agustus : Perang Dunia

Review #28 of Children’s Literature Reading Project

Review #29 for Lucky No.15 Reading Challenge category It’s Been There Forever

The Invention of Hugo Cabret – Brian Selznick

Hugo CabretTitle : The Invention of Hugo Cabret
Author & Illustrator : Brian Selznick (2007)
Translator : Marcalais Fransisca
Editor : Dhewiberta
Publisher : Penerbit Mizan Fantasi
Edition : Cetakan I, Januari 2012
Format : Paperback, 544 pages

“… Kamu tahu, tidak pernah ada bagian yang berlebih dalam sebuah mesin. Jumlah dan jenis setiap bagiannya tepat seperti yang mereka butuhkan. Jadi kupikir, jika seluruh dunia ini adalah sebuah mesin yang besar, aku pasti berada di sini untuk tujuan tertentu. Dan itu berarti, kamu berada di sini juga untuk tujuan tertentu.” (p.388)

Hugo Cabret adalah seorang anak yatim piatu yang tinggal di balik dinding stasiun kereta api. Pada mulanya dia tinggal bersama pamannya yang bertugas memutar jam-jam di stasiun, sampai pamannya yang pemabuk itu menghilang pada suatu hari. Hugo tak boleh membiarkan jam-jam itu berhenti, karena jika dia tertangkap tak memiliki wali, dia akan dibawa keluar dari stasiun itu.

Ada sebuah rahasia yang disimpan Hugo di balik dinding stasiun, sebuah automaton yang penting baginya karena berhubungan dengan kenangan akan ayahnya. Hugo hendak memperbaiki automaton itu dengan buku petunjuk yang ditinggalkan ayahnya, dan dengan onderdil curian. Namun misinya nyaris gagal karena dia tertangkap oleh pemilik kios mainan sumber onderdil curiannya, hingga bukunya disita. Dia pun berusaha mendapatkan kembali bukunya dengan bantuan Isabelle.

hugo books

Buku ini adalah kisah tentang mimpi, tentang tokoh sejarah George Méliès (yang akan muncul kemudian) dengan inovasinya di bidang film. Hugo dengan bakatnya akan mesin, dan usahanya mengungkap rahasia ayahnya melalui automaton yang berwujud manusia yang sedang menulis juga mewakili mimpi tersebut. Diwarnai persahabatan yang hangat dengan Isabelle, juga bantuan dari pihak-pihak yang memiliki mimpi serupa di bidang film, yang ikut membantu mengeluarkan Méliès dari masalahnya.

“Mungkin orang juga begitu,” Hugo melanjutkan. “Jika kau kehilangan tujuanmu … rasanya seperti mesin rusak.” (p.384)

Buku ini adalah novel sekaligus buku bergambar. Ilustrasi cantik dari sang penulis bukan hanya sebagai pelengkap atau penjelas, tetapi juga ikut bercerita. Gambar-gambar yang dihasilkan penulis bukan hanya potret bisu, tetapi merupakan adegan-adegan bergerak yang memiliki bahasa universalnya sendiri. Goresan-goresan dan arsiran-arsiran penuh detail ini berbicara lebih banyak dengan indah.

hugo film

4/5 bintang untuk kisah unik berwujud film dalam kertas.

Review #26 of Children’s Literature Reading Project