Category Archives: Historical Fiction

The Help – Kathryn Stockett

8171838Title : The Help
Author : Kathryn Stockett (2009)
Translator : Barokah Ruziati
Publisher : Penerbit Matahati
Edition : Cetakan pertama, Mei 2010
Format : Large paperback, 545 pages

Buku ini disusun dengan tiga sudut pandang orang pertama. Aibileen, pembantu kulit hitam di rumah Elizabeth Leefolt. Dia adalah salah satu yang dituakan dalam lingkungan kulit hitam, relatif fasih, terutama saat menulis doa-doanya. Aibileen, seperti umumnya pembantu kulit hitam saat itu, selain mengerjakan pekerjaan rumah tangga, juga mengasuh anak-anak kulit putih, sampai tiba saatnya mereka cukup besar untuk mandiri. Mae Mobley Leefolt tak berbeda dari anak-anak lain yang diasuhnya sebelumnya, kecuali bahwa Miss Leefolt hampir tak bisa mengurus anak. Mae Mobley adalah anak istimewa Aibileen, dan dia bertekad ‘menanamkan’ sesuatu pada anak itu selagi dia masih ‘buta warna’.

Pada masa itu, di tahun 1960an, segregasi warna kulit masih ada di beberapa wilayah Amerika Serikat, terutama di bagian selatan, dan yang paling parah (bahkan mungkin sampai sekarang) adalah di Mississippi—setting buku ini. Di kota Jackson ini, seorang kulit hitam bisa dipukuli hingga meninggal hanya karena salah masuk ke kamar mandi khusus kulit putih, dan tak ada yang membelanya.

Sudut pandang kedua adalah Minny, pembantu sahabat Aibileen yang ceplas-ceplos, dan sering mendapat masalah karena mulutnya, meski masakannya terkenal paling enak. Sebelumnya dia bekerja untuk Hilly Holbrook, tetapi karena suatu hal dia dipecat dan seluruh nyonya kulit putih di Jackson tak ada yang berani mempekerjakannya, karena pengaruh Hilly dan kedudukannya yang terpandang. Berkat Aibileen, Minny bisa bekerja untuk Celia Foote—orang kulit putih yang berasal dari daerah pedesaan, yang ‘berbeda’ dari nyonya kulit putih di sana. Selain itu, dia juga menikahi mantan kekasih Hilly, sehingga otomatis dia menjadi terkucilkan di kota kecil yang sangat segan kepada Hilly.

Sedangkan sudut pandang ketiga adalah Eugenia ‘Skeeter’ Phelan, sahabat Elizabeth dan Hilly, seorang kulit putih yang digambarkan tidak memenuhi standar kecantikan wanita pada masa itu. Dia juga tergolong memiliki pemikiran yang cukup maju, suka menulis, dan tidak seperti perempuan seusianya pada masa itu, dia belum menikah dan sulit dekat dengan laki-laki karena pola pikirnya yang berbeda. Skeeter adalah satu-satunya perempuan kulit putih yang secara terang-terangan berani  menentang Hilly—terlepas dari hubungan mereka yang dekat, dan tetap mendapatkan masalah karenanya. Salah satu hal yang ditentangnya adalah ide Hilly mempengaruhi semua keluarga di Jackson untuk memiliki kamar mandi khusus pembantu, sehingga para tamu kulit putih tak harus berbagi kamar mandi dengan para pembantu kulit hitam.

Berbagai hal yang terjadi menggelitik Skeeter untuk menulis mengenai kehidupan para pembantu kulit hitam, bagaimana para nyonya kulit putih memperlakukan mereka, dan bagaimana perasaan mereka yang sebenarnya. Untuk itu, dia memerlukan bantuan, dan melalui Aibileen, satu per satu rahasia dibagikan. Mereka menghadapi risiko yang sangat besar, dengan taruhan keamanan, bahkan nyawa.

Hubungan antar manusia dan kejadian saling terjalin dengan apik, menghasilkan sebuah buku yang kompleks tetapi mengalir dan tidak membosankan. Saya suka segala hal tentang buku ini; alurnya, ketegangannya, karakter-karakternya yang bulat utuh, serta riset yang dilakukan penulis akan kondisi pada masa itu. Buku ini juga menyuguhkan berbagai emosi; pahit, manis, kocak, sedih, bahagia, terharu, bangga, marah, kecewa, kasih. Buku yang sangat indah, dan salah satu yang wajib dibaca setiap orang, agar kita bisa lebih menghargai sesama manusia, terlepas dari warna kulit, latar belakang, dan keyakinannya.

Membaca buku ini tak hanya membuka tabir sejarah masa lalu, tetapi sedikit banyak juga mengingatkan akan kondisi saat ini. Baik itu di Amerika Serikat, maupun di Indonesia, bahkan mungkin di banyak tempat di seluruh dunia, praktik-praktik rasisme dan segregasi sosial masih banyak kita temukan. Memang sulit untuk melihat manusia sebagai manusia saja, tanpa embel-embel identitas, terlebih jika hal ini dilestarikan dari generasi ke generasi. Sebuah generasi yang rasis, akan menghasilkan keturunan yang rasis, begitu seterusnya. Butuh pengaruh yang sangat besar untuk mengubahnya. Entah sampai kapan kita bermimpi hidup dalam masyarakat inklusif, dan Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya menjadi slogan semata.

You is kind. You is smart. You is important.

Advertisements

Mini Reviews : Children – Young Adult

22608982The Carpet People / Terry Pratchett (author & illustrator) (1971) / Houghton Mifflin Harcourt / First U.S. edition, 2013 / Paperback, 294 pages

Buku ini merupakan karya pertama Pratchett yang diterbitkan. Diawali dari cerita bersambung mingguan yang dikirim ke kalangan tertentu, kemudian dikembangkan menjadi novel, dan diterbitkan. Seiring dengan pendewasaan penulis, maka buku ini mengalami beberapa perbaikan dan penyesuaian, ditambah ilustrasi karya penulis sendiri. Pada edisi ini ada tambahan halaman ilustrasi berwarnanya, serta tambahan versi awal yang terbit setiap pekan. Buku ini berhasil meneguhkan bahwa penulis sangat lihai membangun sebuah dunia yang sama sekali baru, dengan aturannya sendiri, serta begitu solid, sehingga seringkali sulit dibayangkan.

I wrote that in the days when I thought fantasy was all battles and kings. Now I’m inclined to think that the real concerns of fantasy ought to be about not having battles, and doing without kings.

Dunia yang disebut Carpet ini ditinggali oleh suku bangsa yang berbeda-beda, di wilayah yang berbeda pula karakteristiknya. Sehingga seseorang bisa dengan mudah mengetahui bahwa dia sudah masuk ke wilayah bangsa lain ketika dilihatnya warna tanah dan langit berubah, bentuk dan kerapatan pohon (yang disebut sebagai Hair) berbeda. Karakter utama dalam buku ini berasal dari golongan Munrungs, yang harus meninggalkan tanahnya karena diserang oleh sesuatu yang menakutkan, yang saat itu belum bisa mereka identifikasi dengan benar. Dalam perjalanan, mereka masuk ke wilayah lain, bertemu dengan bangsa-bangsa lain, yang kemudian saling bersekutu untuk melawan musuh bersama.

“Nothing has to happen. History isn’t something you live. It is something you make. ….” (p.162)

You don’t have to accept it; you can change what’s going to happen. (p.252)

Suku bangsa yang berbeda ini memiliki sifat dan kebiasaan yang berbeda, yang menjadikan toleransi dan saling melengkapi menjadi salah satu nilai dari buku ini. Buku ini cukup potensial untuk dikupas lebih dalam lagi. Dan dengan humor yang apik di sana-sini, tampaknya tak akan membosankan untuk dikunjungi kembali.

“…. He said we didn’t need a lot of old books, we knew all we needed to know. I was just trying to make the point that a civilization needs books if there’s going to be a reasoned and well-informed exchange of views.” (p.206)

 

288676The Broken Bridge / Philip Pullman (1990) / First Dell Laurel-Leaf edition, September 2001, 7th printing / Mass market paperback, 220 pages

Ginny dilahirkan dari ayah kulit putih dan ibu yang berkulit gelap. Namun, dia hidup hanya dengan ayahnya saja, yang membuatnya semakin merasa terasing akibat perbedaan warna kulit. Ginny senang menggambar dan melukis, bakat yang menurut ayahnya didapatkan dari ibunya. Ginny semakin nyaman dengan ini, karena dia merasa tak asing lagi, karena dia sama dengan ibunya.

Di usia remajanya, Ginny berambisi untuk mencari keluarga dari pihak ibunya. Namun, berbagai hal terjadi silih berganti, mulai dari pekerja sosial yang bolak-balik menanyainya, yang membuka kebenaran yang selama ini tersembunyi. Ginny usia 16 tahun harus menghadapi kenyataan mendadak mengenai hidupnya yang ternyata dipenuhi kebohongan. Perlahan tapi pasti semuanya terkuak, dan semakin dia mencari, semakin dalam dia terjebak dalam kebohongan-kebohongan tersebut. Kemudian, titik terang muncul ketika dia mulai berpikir jernih dan menerima kenyataan, menerima apa adanya.

Cerita tentang pencarian diri, identitas, dan asal mula. Tidak hanya membahas mengenai keluarga, buku ini juga menceritakan gejolak remaja terkait pertemanan, seksualitas, serta isu terkait diskriminasi dan kriminalitas. Semakin masuk ke belakang, kisah terasa semakin dalam dan kuat, hingga sampai ke akhir yang sangat memuaskan. Sebuah kisah keluarga yang begitu pelik dan penuh emosi.

I can see in the dark. I can’t see so well in the daylight, can’t see the obvious thing …. I can understand mysteries. Like the broken bridge. (p.121)

 

Seesaw Girl / Linda Sue Park (1999) / Illustrated by Jean and Mou-sien Tseng / Sandpiper, an imprint of Houghton Mifflin Harcourt / Paperback, 90 pages

7153349Korea di abad ke-17 masih sangat tertutup dari dunia luar. Mereka hidup dengan cara mereka sendiri. Pada masa itu, wanita kelas atas tidak diperbolehkan keluar dari rumah, kecuali saat mereka menikah, kemudian mereka masuk ke rumah keluarga suami mereka, dan tidak diperbolehkan keluar kembali. Hidup mereka di dalam dinding berkisar seputar pekerjaan rumah tangga. Wanita bahkan tidak mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan.

Sebagai perempuan dari keluarga terpandang, Jade Blossom pun harus selalu berada di rumah untuk menjaga kehormatan diri dan keluarganya. Sejak pernikahan Graceful Willow—bibi yang usianya tak terpaut jauh dengannya, Jade merasa kesepian karena tak ada lagi teman perempuan yang sebayanya. Dia pun bertekad untuk mendatangi Willow di rumah suaminya, meski harus melanggar peraturan secara diam-diam. Rencana dijalankan, tetapi banyak hal mengenai dunia luar yang tak diantisipasi oleh Jade. Sekilas pandangan akan dunia luar membuat rasa keingintahuan Jade remaja tergelitik. Dia melakukan apa yang tidak boleh dilakukan, dan melihat apa yang tidak seharusnya dia lihat. Pemandangan itu semakin membuat Jade ingin tahu lebih dalam lagi, sehingga dia belajar dan melakukan hal yang tak wajar dilakukan oleh perempuan di masa itu.

The path to wisdom lies not in certainty, but in trying to understand. (p.66)

Buku ini kecil, tetapi membawa pesan yang sangat kuat. Karakter dalam buku ini tidak digambarkan sebagai tokoh revolusioner yang akan mengubah Korea, tetapi kesan akan adanya perubahan disampaikan melalui cara yang lain. Sebuah kisah sederhana yang terasa jauh dari kita yang sudah terbiasa hidup dalam kebebasan, tetapi begitu dekat karena deskripsi yang kuat dari penulis. Hal yang mengganjal bagi saya adalah nama-nama yang dipilih dalam buku ini bukan nama Korea, entah karena sasaran pembacanya atau apa, tetapi justru membuat suasana Koreanya sedikit terganggu. Apalagi menjadi tidak cocok karena saat itu Korea masih terisolasi dari dunia luar.

 

A Golden Web / Barbara Quick (2010) / Translated to Indonesian by Maria M. Lubis / Penerbit Atria / Cetakan I, Maret 2011 / Paperback, 272 pages

“Aku tidak mau dilupakan.”
“Kau tidak akan dilupakan, Alessandra Giliani!”
(p.260)

10588138Kisah ini terinspirasi dari ahli anatomi pertama yang pernah tinggal di Bologna, sekitar abad ke-14. Pada saat itu, tempat wanita adalah di rumah, saat waktunya tiba, mereka harus siap menjadi istri dan melahirkan anak, atau—pilihan lainnya adalah menjadi biarawati. Tidak ada pilihan untuk belajar maupun bekerja. Alessandra Giliani bisa dikatakan mendobrak aturan sosial pada saat itu. Hingga—mungkin—bukti dan dokumen tentangnya sempat dimusnahkan, dan tersisa sedikit sejarah tentangnya. Dari sedikit yang ada itu, penulis menyusun sebuah fiksi sejarah, dengan sebagian besar kisah keluarganya direka oleh penulis.

Sejak kecil, Alessandra hidup dikelilingi buku-buku, karena ayahnya bekerja menyalin buku-buku untuk dijual kembali (saat itu belum ada percetakan, semua dikerjakan secara manual). Alessandra yang punya rasa ingin tahu besar, ditambah cintanya pada ibunya yang meninggal saat melahirkan adik bungsunya, mulai tertarik pada ilmu manusia. Hal ini membawanya ke Bologna, menyamar menjadi laki-laki demi masuk ke sekolah kedokteran.

Semangat belajar dan tekad Alessandra yang sulit dipatahkan, serta dukungan dari orang-orang di sekitarnya begitu mengharukan. Suasana yang digambarkan penulis memberikan bayangan yang cukup mengenai kondisi sosial masyarakat pada zaman itu. Betapa menjadi perempuan yang cerdas adalah sebuah aib yang harus ditutupi. Dan betapa tidak beruntungnya, saat hidup mereka hanya dinilai sebatas peran sebagai penyetak bayi, tanpa hak untuk mendapatkan kehidupan yang mereka kehendaki, bahkan tanpa jaminan keselamatan dalam ‘tugas’ yang diembannya.

Menurut saya, alurnya agak terlalu lambat di awal dan terlalu cepat di akhir. Justru cerita tentang proses belajarnya lebih menarik untuk diperpanjang, hingga setara dengan latar belakang sosial masyarakat yang sudah digambarkan panjang di awal.

 

18060916Liesl & Po / Lauren Oliver (2011) / Illustrated by  Kei Acedera (2011) / Translated to Indonesian by Prisca Primasari / Penerbit Mizan / Cetakan I, April 2013 / Paperback, 319 pages

Saat sedang ketakutan, orang-orang tak selalu melakukan hal yang benar. Mereka berpaling. Menutup mata. (p.103)

Liesl dikurung di loteng oleh ibu tirinya, berbulan-bulan sejak ayahnya sakit hingga meninggal dunia. Liesl dengan sabar menerima perlakuan itu, meski dalam hati dia sangat merindukan ayahnya, serta pohon willow tempat mereka menguburkan ibunya, dekat tempat tinggal mereka yang dulu. Suatu malam, sesosok hantu bernama Po dengan anjing/kucing hantu bernama Bundle mengunjunginya dari Dunia Lain. Tak ada yang memahami kenapa Po bisa menembus hingga ke tempat Liesl. Dengan imbalan gambar Liesl, Po bersedia membantu gadis itu mencari ayahnya di Dunia Lain, meski normalnya hal tersebut mustahil.

Di sisi lain, ada Will, murid sang alkemis, yang mengagumi Liesl sejak pertama dia melihatnya melalui jendela loteng tempatnya dikurung. Will yang dipaksa bekerja keras oleh sang alkemis tanpa imbalan yang setimpal, melakukan sebuah kesalahan yang membuatnya mendapat masalah besar, dia pun lari sejauh-jauhnya.

Itulah masalah lain orang hidup: Mereka terpisah, selalu terpisah. Mereka tak pernah benar-benar membaur. Mereka tak tahu bagaimana menjadi seseorang selain diri mereka sendiri; kadang mereka bahkan tak tahu bagaimana caranya menjadi diri sendiri. (p.99)

Berbagai kejadian dan rencana secara tak terduga mempertemukan semua karakter dalam buku ini. Karakter baik dan jahat, masing-masing memiliki kisahnya sendiri, yang berhubungan satu sama lain, membentuk jalinan cerita yang bermuara pada cinta—cinta antar anggota keluarga, teman, dunia, dan sesama manusia, juga sesama makhluk hidup. Walau menyimpan banyak kejutan, kisah ini menyimpan banyak sekali kebetulan dan penyelesaian yang mudah, terlalu mudah bahkan. Meski demikian, setiap karakter menampakkan peran yang kuat.

Dan sungguh, inilah inti dari segalanya, karena jika kau tak percaya bahwa hati bisa mengembang secara tiba-tiba, dan cinta bisa merekah layaknya bunga bahkan di tempat yang paling keras, aku takut kau akan mendapati jalan yang panjang, gersang, dan tandus, dan kau akan kesulitan menemukan cahaya. (p.315)

Laut Bercerita – Leila S. Chudori (+sedikit tentang Gramedia Digital)

Hari ini, 20 tahun yang lalu, terjadi sebuah peristiwa bersejarah di Indonesia. Pemerintahan yang dipimpin oleh seorang presiden selama 32 tahun akhirnya tumbang. Orde Baru berakhir, digantikan dengan Era Reformasi. Hari ini, setelah 20 tahun, apa yang kita dapat? Apakah cita-cita para pejuang reformasi sudah tercapai? Apakah pengorbanan mereka setimpal? Saya pribadi menjawab ya, dan tidak. Ya, karena banyak hal baik sudah tercapai hari ini; kebebasan pers, pembangunan yang berkeadilan, perang terhadap korupsi, dan perbaikan birokrasi. Tidak, karena banyak hal kelam di masa lalu yang belum mencapai titik terang. Salah satunya adalah hal yang diangkat dalam buku ini; nasib para aktivis yang dihilangkan saat itu.

36393774Kisah ini dimulai dengan penenggelaman beberapa aktivis mahasiswa yang ditangkap saat itu di Kepulauan Seribu. Latar kisah ini berasal dari rumor yang beredar di waktu tersebut akan adanya tong-tong berat yang dibuang ke laut, yang diduga berisi manusia. Memang sampai saat ini belum bisa dibuktikan, tetapi karena buku ini adalah fiksi, maka sang penulis bebas menulis dari mana saja dan dari sudut pandang mana. Dalam novel ini, penulis memilih untuk mengangkat kisah Biru Laut, yang bercerita dari dasar laut, tempatnya bersemayam terakhir kalinya. Pemilihan sudut pandang ini seolah hendak menjawab tanda tanya mereka yang ditinggalkan, memberi penghiburan dan kepastian bahwa segalanya harus berlanjut: hidup dan perjuangan.

Di tahun 1991, Biru Laut yang merupakan mahasiswa baru di Sastra Inggris UGM ditarik menjadi bagian dari kelompok yang memperjuangkan demokrasi yang sebenarnya. Di masa pemerintahan yang otoriter dan represif, perjuangan itu tidak mudah. Deraan dan siksaan lahir batin menemani langkah mereka, sekaligus mengukuhkan idealisme yang terpatri dalam jiwa mereka. Hingga puncaknya di tahun 1998, penderitaan dan siksaan bukan hanya menjadi milik mereka, tetapi juga keluarga dan orang terkasih. Mereka yang terbiasa bersembunyi dan menghilang, kini tak diketahui jejaknya. Tak ada tanda-tanda hidup ataupun matinya, sehingga harapan belum bisa dipadamkan seutuhnya. Harapan yang terkadang bisa membunuh pelan-pelan.

Bagian kedua buku ini diceritakan dari sudut pandang Asmara Jati, adik perempuan Biru Laut yang awalnya tak memiliki idealisme yang sama mengenai perjuangan, tetapi dipaksa memahami karena hidup yang terjungkirbalikkan kenyataan. Asmara menjadi sebuah suara yang berusaha mengembalikan rasionalitas, dan menghidupkan mereka yang hilang tanpa tangis dan kepedihan.

Buku yang begitu hidup dengan berbagai gambaran peristiwa yang tampak nyata di depan kita, mulai dari hal sepele semacam tips memasak mi instan yang enak, hingga kejar-kejaran yang menegangkan di ladang jagung antara mahasiswa dan aparat. Buku ini menceritakan keseharian para mahasiswa tersebut, dengan segala semangat kemudaan dan naluri mereka sebagai pemuda, idealis tapi manusiawi. Tak hanya perjuangan, di sini ada kisah cinta, kisah keluarga, dan perjuangan akademis. Ada kejadian yang lucu, mengharukan, hingga menyesakkan. Hanya ada satu kekurangan buku ini menurut saya, ada beberapa narasi yang terulang, yang mungkin hendak menekankan sesuatu, tetapi sebenarnya tidak perlu.

Sebuah buku yang penting. Tak mudah untuk menyelesaikan buku ini, karena kita tahu bahwa di balik tokoh rekaan ini ada manusia yang benar-benar nyata. Narasi yang kuat dan suasana yang kelam. Ada sejarah yang mesti diketahui dan dipahami. Saya rasa masih banyak orang tak sadar akan isu ini, bahwa ada sejarah kelam yang masih menggelayut di nusantara, yang menunggu di tempat gelap, sementara pelakunya mulai kembali ke bawah lampu sorot.

“Pada titik yang luar biasa menyakitkan karena setrum itu terasa mencapai ujung saraf, aku sempat bertanya, apa yang sebenarnya kita kejar?”

Kinan mengambil tanganku dan menggenggamnya, “Kekuatan, Laut. Keinginan yang jauh lebih besar untuk tetap bergerak. Ini semua menaikkan militansi kita, bukan memadamkannya.”

(hal.182)

Judul : Laut Bercerita
Penulis : Leila S. Chudori (2017)
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Format : ebook, 394 halaman

wp-1526917187277..jpgPada 27 Januari lalu, saya berkesempatan hadir pada diskusi novel ini yang juga dihadiri oleh penulisnya. Sebelum diskusi dimulai, ada pemutaran film pendek yang diadaptasi dari novel ini. Film yang diproduksi Cineria Films berkolaborasi dengan Dian Sastrowardoyo Foundation ini disutradarai oleh Pritagita Arianegara, dan dibintangi oleh Reza Rahadian (Biru Laut), Ayushita Nugraha (Asmara Jati), Dian Sastrowardoyo (Ratih Anjani—kekasih Laut), juga berderet nama besar lain. Film yang diputar terbatas ini cukup mewakili sinopsis bukunya. Bisa saya katakan bahwa film pendek itu merupakan trailer yang sangat apik dari bukunya.

Oleh karena mustahil mencakupkan seluruh novel dalam film pendek, yang disorot dalam film ini adalah keluarga. Bagaimana kehilangan orang terdekat tanpa tahu nasibnya bisa merusak sebuah keluarga. Memberi harapan yang kosong selama bertahun-tahun, berharap anak, kakak, atau kekasih mereka tiba-tiba kembali, muncul di depan pintu, dan segalanya kembali seperti semula. Membuat mereka hidup dalam angan, hingga lupa untuk hidup di hari ini. Seperti yang disampaikan oleh Asmara Jati di bagian kedua novelnya.

~~~

Buku ini merupakan novel pertama dari Gramedia Digital yang saya baca. Saya masih agak terganggu dengan formatnya. Berbeda dengan ebook dari platform lain yang lebih dulu ada, GD belum mendukung adanya fitur-fitur yang merupakan keunggulan dari ebook secara umum, di antaranya fitur highlight, font adjustment, kemudahan menyalin quotes, apalagi kamus yang built-in. Jadi ya, masih seperti membaca buku berformat pdf biasa, yang merupakan hasil pemindaian buku yang asli, jadi nomor halaman dari kutipan yang saya cantumkan di atas adalah nomor halaman dari buku cetaknya. Buku digital ini juga tampaknya belum memiliki ISBN tersendiri. Saya berharap akan ada perbaikan dari pihak Scoop sebagai pengembang, jadi ke depannya membaca ebook lokal akan sama nyamannya dengan membaca ebook impor.

Esperanza Rising – Pam Muñoz Ryan

esperanzaTitle : Esperanza Rising
Author : Pam Muñoz Ryan (2000)
Translator : Maria M. Lubis
Editor : Jia Effendie
Publisher : Penerbit Atria
Edition : Cetakan I, Maret 2011
Format : Paperback, 238 pages

“Jangan takut untuk memulai lagi dari awal.”

Esperanza Ortega kecil hidup bak ratu di El Rancho de las Rosas di Aguascalientes, Meksiko. Sebagai anak tunggal dari tuan tanah yang kaya, segala kebutuhan dan keinginannya mudah saja diwujudkan. Selama ini dia dikelilingi orang tua yang menyayanginya, baju bagus yang bersih, pelayan yang selalu siap melayaninya, orang-orang yang menghormatinya, rumah yang besar dan nyaman. Hingga suatu ketika, dia menyadari bahwa di bawah kemewahan yang dinikmatinya, ada orang-orang yang menderita, yang bekerja keras demi bisa hidup, yang tersingkir, dan yang memberontak.

Tepat menjelang ulang tahunnya yang ketiga belas, kehidupannya berubah total. Kepentingan orang-orang terhadap El Rancho de las Rosas mengorbankan keluarganya. Dengan terpaksa, Esperanza dan Mama harus ikut dengan keluarga pekerja yang akan pindah ke Amerika Serikat. Tempat semua orang dapat maju dengan usahanya sendiri, tempat yang tak mengenal status sosial; selama mereka mau bekerja, mereka bisa menaikkan derajat. Perjalanan yang sulit untuk Esperanza yang selama ini hidup dalam prioritas.

Amerika ternyata tak seindah yang mereka bayangkan. Orang-orang Meksiko, juga para imigran dari negara lain, tetap dianggap sebagai warga kelas dua di bawah orang-orang kulit putih; meski mereka lahir di Amerika, sudah memiliki kewarganegaraan, bahkan belum pernah menginjakkan kaki ke Meksiko. Kesempatan mereka terbatas, tetapi sebagian dari mereka percaya bahwa kerja keras mereka akan membuahkan hasil. Di sisi lain, ada para pekerja yang protes menuntut upah yang lebih layak.

Esperanza menatap kegelapan. Isabel tidak memiliki apa-apa, tetapi dia juga memiliki segalanya. Esperanza menginginkan milik Isabel. Dia menginginkan begitu sedikit kekhawatiran sehingga sesuatu yang sesederhana boneka benang bisa membuatnya gembira. (p.158)

Di sinilah Esperanza diuji. Dia harus menanggalkan kebiasaannya sebagai seorang ratu, dan harus turun tangan melakukan pekerjaan rumah bahkan pekerjaan kasar. Kerinduan dengan orang-orang tercinta melecutnya untuk bisa menghasilkan uang, untuk bertahan di pertanian California yang penuh persaingan. Di usianya yang belasan tahun, Esperanza belajar artinya kehilangan, kejatuhan, kematian, dan bagaimana harus bangkit, melepaskan, dan bertahan. Akankah segalanya menjadi lebih baik? Akankah keringat dan air matanya berbuah senyum dan kebahagiaan?

Dalam setiap kesulitan, manusia akan berubah, lebih dewasa atau terpuruk. Inilah yang dialami Esperanza, sebagaimana judulnya, Esperanza bangkit. Namun, perubahan yang dialaminya tidak drastis, wajar karena kekecewaan dan kesedihan masa lalu memang sulit dihapuskan dalam masa krisis. Romantisme masa lalu kadang menghambat proses penyesuaian hari ini, tetapi akan ada satu motivasi kuat yang pada akhirnya membuatnya sadar caranya bergerak naik; cinta.

Buku yang bersetting pada tahun 1930an ini menunjukkan Amerika yang masih melakukan diskriminasi berdasarkan ras dan kebangsaan, dari sudut pandang para imigran dan keturunan Meksiko. Bagaimana mereka harus bersaing tidak sehat dengan orang-orang Okkie (Oklahoma), dengan kompetensi di bawah mereka tetapi mendapatkan kesempatan lebih baik karena mereka rela dibayar murah.

Ada sesuatu yang terasa sangat salah karena mengusir orang-orang dari “negara bebas” mereka sendiri, karena mereka mengungkapkan pikiran mereka. (p.187)

Salah satu karakter menarik di buku ini adalah Miguel—anak pasangan pekerja di Aguascalientes yang mengajak mereka ke Amerika—yang hampir seusia dengan Esperanza. Miguel, yang kerap merasakan kebaikan hati Papa, memiliki tekad yang kuat untuk maju. Dia yang juga merasa berutang dengan keluarga Ortega selalu berada di samping Esperanza kala dibutuhkan.

Buku ini juga kaya dengan penggunaan simbol dan metafora yang halus. Seperti mawar yang dibawa dari Aguascalientes sebagai simbol keluarga, pola renda yang diajarkan Abuelita (ibu dari Mama) membentuk lembah dan gunung, serta yang paling saya suka adalah suara degup jantung bumi yang didengar di Meksiko dan di Amerika adalah sebuah pertanda sesuatu yang besar. Penggunaan bab-bab berdasarkan musim panen menambah keunikan buku ini.

Meski sempat bosan di awal karena kekeraskepalaan Esperanza, buku ini diakhiri dengan sangat manis dan hangat. 4/5 bintang untuk buah-buah anggur yang mengawali dan mengkhiri kisah ini.

Oeroeg – Hella S. Haasse

oeroegTitle : Oeroeg
Author : Hella S. Haasse (1948)
Translator : Indira Ismail
Editor : Dini Pandia
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan pertama, Oktober 2009
Format : Paperback, 144 pages

Oeroeg kawanku. Bila kukenang lagi masa kecil dan tahun-tahun remajaku, sosok Oeroeg langsung muncul dalam benakku bagai salah satu gambar ajaib yang biasa kami beli, tiga lembar seharga sepuluh sen: lembar-lembar kekuningan mengilap berlapis kertas yang harus digosok keras dengan pensil agar gambar tersembunyinya muncul. (p.5)

Saya jarang membaca fiksi sejarah Indonesia, apalagi yang ditulis dari sisi orang Belanda, jadi saya tidak berekspektasi apa-apa kala membaca buku ini. Sang narator (‘aku’) adalah teman sebaya Oeroeg di perkebunan Kebon Jati, Jawa Barat, pada masa pendudukan Belanda. Mereka lahir di lingkungan dan masa yang sama, ayah ‘aku’ adalah administateur, sedangkan ayah Oeroeg adalah mandornya. Keduanya selalu bersama-sama sejak kecil, karena di lingkungan itu tidak banyak penduduknya. Hingga masa sekolah, mereka masih bersama-sama, seolah tak ada batas sosial di antara keduanya.

Oeroeg memang diistimewakan karena keluarga ‘aku’ punya utang budi kepadanya. Akan tetapi, kedekatan mereka tetap menjadi masalah pada akhirnya. Sebagai seorang Belanda, tak semestinya ‘aku’ bermain di lumpur bersama seorang Pribumi, sebagai seorang Eropa, tak semestinya ‘aku’ lebih memilih bermain dengan seorang Pribumi ketimbang bergaul dengan sesama Eropa di sekolahnya. Namun, ‘aku’ sangat beruntung karena ayahnya mempekerjakan Gerard yang bijak menasihatinya perihal ini.

“Macan kumbang berbeda dari monyet,” kata Gerard setelah beberapa saat, “tapi apakah yang satu lebih rendah daripada yang lain? Bagimu ini pertanyaan bodoh, dan kau benar. Pertanyaan ini tetap sama bodohnya bila menyangkut manusia. Perbedaan itu biasa. Setiap orang berbeda. Aku juga berbeda darimu. Tetapi lebih tinggi atau lebih rendah karena warna kulit wajahmu atau karena siapa ayahmu—itu omong kosong. Oeroeg kawanmu, kan? Kalau memang ia kawanmu—bagaimana bisa ia lebih rendah dibanding kau atau yang lain?” (p.64)

Bagaimanapun juga, dalam kondisi Hindia saat itu, ada hal yang lebih penting untuk diperjuangkan ketimbang sentimen masa kecil. Beranjak dewasa, pergolakan politik dan sosial mau tak mau mempengaruhi hubungan persahabatan keduanya. Oeroeg mulai menjadi sulit dipahami oleh ‘aku’, sedangkan ‘aku’ sendiri mungkin tak menyadari bahwa pilihan hidupnya juga memperlebar jarak mereka.

Selain menceritakan hubungan sahabat berbeda bangsa ini, latar tempat serta sejarah yang digambarkan begitu nyata dan kuat. Narasinya indah dalam susunan kalimat yang sepertinya penuh perhitungan. Setiap episode yang ditampilkan memiliki makna tersendiri dalam kehidupan ‘aku’ selanjutnya; segala permainan, legenda, trauma, dan memori panca indera. Wajar karena kisah ini diceritakan sebagai kilas balik kehidupan ‘aku’. Kisah Oeroeg dan kawannya ini sangat berkesan meski pendek, atau, dia berkesan justru karena singkat, tapi padat.

Bila betul setiap orang memiliki alam jiwa, suasana tertentu, lingkungan yang membangkitkan getaran-getaran responsif di sudut tersembunyi jiwanya, alamku dahulu—dan kini—adalah lereng gunung Priangan: bau pahit tanaman teh, gemercik air jernih yang mengalir melalui bongkahan-bongkahan batu, bayang-bayang biru awan di dataran rendah. (p.122)

Buku ini memesona saya dari awal hingga akhir. Saya percaya akan kekuatan sebuah akhir cerita, akhir yang bagus akan menancapkan kekuatan buku itu ke dalam benak pembaca lebih lama. Karena akhir cerita inilah saya menyematkan 5/5 bintang untuk buku ini. Kenyataan memang seringkali pahit. Kenyataan bahwa ‘aku’ adalah seorang Eropa, dan Oeroeg kawan ’ku’ adalah seorang Pribumi.

Sebagaimana yang pernah kukatakan, Oeroeg pasif. Ia menerima jalan kehidupannya kini, seperti halnya ia dahulu menerima tinggal di Kebon Jati dan bergaul denganku. (p.98)

Tak perlu kukatakan lagi bahwa aku tidak memahami Oeroeg. Aku mengenalnya sama seperti mengenal Telaga Hideung—permukaan berkilau kawah gunung berapi. Tapi aku tidak pernah bisa menduga kedalamannya. (p.130-131)