Category Archives: History

Jasmerah – Wirianto Sumartono

43655793

Judul : Jasmerah: Pidato-Pidato Spektakuler Bung Karno Sepanjang Masa
Penyusun : Wirianto Sumartono
Penerbit : Laksana
Edisi : Cetakan pertama, 2018
Format : Paperback, 262 halaman

“Mari kita berjalan terus dengan sejarah itu, dan jangan berhenti, sebab siapa yang berhenti toh akan diseret oleh sejarah itu sendiri sama sekali.” (17 Agustus 1966, hal.205)

Pelarangan dan penyitaan buku bukan barang asing di negeri kita, pun di seluruh dunia. Namun, di era reformasi ini, terlebih setelah Mahkamah Konstitusi mencabut Undang-undang Nomor 4/PNPS/1963 tentang Pengamanan terhadap Barang-barang Cetakan yang Isinya Dapat Mengganggu Ketertiban Umum pada 13 Oktober 2010, maka penyitaan buku hanya dapat dilakukan setelah ada bukti cukup dan proses peradilan yang menyatakan buku tersebut memang layak dilarang (baca).

Namun, hal ini rupanya tak menghentikan beberapa pihak untuk melakukan razia yang sewenang-wenang. Yang teranyar adalah pada akhir 2018 dan awal 2019 lalu di toko buku lokal di Kediri dan Padang. Selain prosedur yang menyalahi peraturan yang ada, judul-judul buku yang disita pun cukup menggelitik. Karena dalam sekali lihat, meski beraroma merah, PKI, maupun 1965, buku-buku tersebut jelas-jelas ‘hanya’ merupakan buku sejarah (baca). Terlalu naif untuk menduga-duga adanya propaganda PKI atau komunis, tanpa secara gamblang menunjukkan bagian yang dimaksud.

Sebagai pembaca, saya pun akhirnya memutuskan untuk membuktikan sendiri benar tidaknya tuduhan yang dialamatkan pada buku-buku tersebut. Buku ini adalah salah satu dari buku yang disita. Secara umum buku ini adalah kumpulan pidato Ir. Soekarno, presiden pertama kita. Ada enam pidato yang dikumpulkan di sini, yaitu saat Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, saat ulang tahun proklamasi tahun 1949, 1959, 1966, saat lahirnya Pancasila 1 Juni 1945, serta di muka Sidang Umum ke-IV MPRS 22 Juni 1966.

Benang merah dari pidato-pidato beliau, dan hal yang sering diulang-ulang adalah perjuangan mempertahankan dan melanjutkan revolusi di jalan yang dicita-citakan beliau. Dari buku ini, saya menilai bahwa Bung Karno memiliki visi dan misi untuk Indonesia ke depan dengan sangat gamblang dan sangat idealis. Bagi beliau, kemerdekaan adalah mutlak dan tak bisa ditawar. Suara antiimperialisme, antikolonialisme, dan antiliberalisme terdengar keras dan tegas. Kemerdekaan bukan hanya di bidang politik, tetapi juga ekonomi, sosial, maupun budaya.

“Tujuan revolusi, yaitu masyarakat yang adil dan makmur, kini oleh orang-orang yang bukan putra revolusi diganti dengan politik liberal dan ekonomi liberal. Diganti dengan politik liberal, di mana suara rakyat banyak dieksploitir, dicatut, dikorup oleh berbagai golongan. Diganti dengan ekonomi liberal, di mana berbagai golongan menggaruk kekayaan hantam kromo, dengan mengorbankan kepentingan rakyat.” (17 Agustus 1959, hal.62-63)

Presiden Soekarno secara keras menolak penyimpangan-penyimpangan yang terjadi selama masa-masa awal kemerdekaan, mulai dari jalan kompromi yang mendukung negara serikat, aparatur negara yang tak menjalankan amanah rakyat dengan baik, hingga demokrasi yang tidak sesuai dengan jiwa revolusi. Demokrasi dalam cita-cita Soekarno adalah demokrasi terpimpin, bukan demokrasi liberal sebagaimana yang dianut oleh negara barat. Sikap keras beliau terlihat saat Konstituante menyusun Undang-Undang Dasar yang baru, yang dirasa terlalu banyak berkompromi dengan pihak asing, dan akhirnya menjauh dari tujuan revolusi. Beliau menyelesaikannya dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959, yang menyatakan kembali dipergunakannya Undang-Undang Dasar 1945. Masa yang disebut beliau sebagai the year of the rediscovery of the revolution.

“Tidak boleh lagi terjadi bahwa rakyat ditunggangi oleh pemimpin. Tidak boleh lagi terjadi bahwa rakyat menjadi alat demokrasi. Tetapi sebaliknya, demokrasi haruslah menjadi alat rakyat. Alat rakyat untuk mencapai tujuan rakyat.” (17 Agustus 1959, hal.93)

Dalam setiap pidatonya, Bung Karno seolah membakar semangat dan kepercayaan diri rakyat, bahwa revolusi berada di jalan yang benar, dan rakyat Indonesia mampu untuk menjalankan serta mempertahankan kemerdekaan yang ada. Optimisme dan penghargaan kepada perjuangan setiap rakyat, apa pun bentuknya, disampaikan dengan membesarkan hati, dengan menyatakan secara langsung bahwa dia percaya bahwa rakyat Indonesia tidak bodoh, bahwa rakyat sesungguhnya mampu, bahwa “Kita bukan bangsa tempe, kita adalah bangsa yang besar, dengan ambisi yang besar, cita-cita yang besar, daya kreatif yang besar, keuletan yang besar.” (hal.132) “bahwa yang mereka pimpin itu bukanlah satu rombongan kambing atau satu rombongan bebek atau satu rombongan tuyul, tetapi satu rakyat yang kesadaran sosialnya dan politiknya telah tinggi!” (hal.71). Bung Karno mengajak rakyat untuk tidak terus mengeluh dan terjebak di masa lampau, melainkan terus maju. Bayangkan dalam kondisi baru merdeka, dengan tingkat buta huruf yang masih sangat tinggi, inflasi yang menggila, daya beli rendah, pemimpinnya memberikan pernyataan seperti itu.

Bung Karno juga membantah bahwa untuk mencapai kemerdekaan, kita harus mencapai ini dan itu terlebih dahulu untuk membuktikan bahwa kita mampu mengelola negara sendiri. Jauh-jauh hari beliau sudah memikirkan bahwa rumusan dasar negara perlu dipikirkan sebagai persiapan kemerdekaan. Meski hal itu tidak menjadi patokan, setelah berapa lama persiapan, atau butuh berapa lama untuk mempersiapkan Indonesia agar siap merdeka. Dikatakannya bahwa merdeka adalah masalah berani atau tidak.

“Saudara-saudara, jika tiap-tiap orang Indonesia yang 70 miliun ini lebih dulu harus merdeka di dalam hatinya, sebelum kita dapat mencapai political independence, saya ulangi lagi, sampai lebur kiamat kita belum dapat Indonesia merdeka!” (1 Juni 1945, hal.143-144)

Berbicara mengenai dasar negara atau weltanschauung, Bung Karno belajar banyak dari negara-negara lain yang sudah lebih dulu merdeka. Beliau tidak mengambil mentah-mentah, entah itu paham nasional-sosialisme, komunisme, ataupun agama. Bung Karno mengajak tokoh-tokoh besar Indonesia, wakil dari semua golongan untuk bermusyawarah merumuskan dasar negara yang disetujui bersama-sama, bukan kompromis, tetapi mengakomodasi semua kepentingan. Bukan mengimpor, tetapi mengacu pada dasar-dasar yang universal. Pada pidato ini beliau juga menyampaikan bahwa jika dasar negara yang lima ini diperas sari-sarinya menjadi satu, maka intinya adalah gotong-royong. Menurutnya, gotong-royong adalah jiwa dan identitas bangsa Indonesia yang tak boleh hilang.

Sebagaimana sebuah pesan yang dituangkan dalam judulnya, jasmerah, jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah. Saya melihat banyak sejarah yang terulang, tantangan-tantangan hidup bernegara yang dulu dialami bisa saja terjadi kembali, atau masih menjadi masalah saat ini. Penyelewengan-penyelewengan yang dahulu ditentang keras oleh Bung Karno bisa dilakukan oleh para penyelenggara negara ini. Pesan-pesan dan peringatan Sang Proklamator bisa saja masih relevan.

Sebaliknya, beberapa hal bisa juga tidak bisa diaplikasikan mentah-mentah untuk masa kini. Tantangan zaman dan kondisi global sudah pasti berbeda. Kemajuan teknologi dan pengetahuan manusia seringkali membutuhkan penyesuaian. Namun, sejarah yang berulang ini tetap menjadi sebuah pelajaran, dan prinsip dari para pendiri negara ini perlu ditengok kembali, sebagai introspeksi bagi tujuan bernegara kita saat ini.
Terkait isu PKI dan komunisme, dalam buku ini sebenarnya hampir tidak ada penyebutan kata PKI sama sekali. Namun, pada 17 Agustus 1966, ada beberapa kalimat yang menyinggung masalah ini. Karena jangka waktu kejadiannya relatif lama, biasanya (sebagaimana pidato hari jadi kemerdekaan yang lain), Presiden Soekarno hanya menyinggung sedikit sebagai kilas balik dari kejadian tahun sebelumnya.

“Sudah terang, Gestok kita kutuk, dan saya, saya mengutuk pula! Dan, seperti yang sudah kukatakan berulang kali dengan jelas dan tandas, yang bersalah harus dihukum! Untuk itu, kubangunkan Mahmillub!” (hal. 200)

Beliau juga menyampaikan terkait kesalahpahaman terkait Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret):

“Surat Perintah 11 Maret itu mula-mula, dan memang sejurus waktu, membuat mereka bertampik sorak-sorai kesenangan. Dikiranya Surat Perintah 11 Maret adalah satu penyerahan pemerintahan! Dikiranya Surat Perintah 11 Maret itu satu transfer of authority. Padahal tidak! Surat Perintah 11 Maret adalah satu perintah pengamanan. Perintah pengamanan jalannya pemerintahan, pengamanan jalannya any pemerintahan, demikian kataku pada waktu melantik Kabinet. Kecuali, itu juga perintah pengamanan keselamatan pribadi Presiden. Perintah pengamanan wibawa Presiden. Perintah pengamanan ajaran Presiden. Perintah pengamanan beberapa hal. Jenderal Soeharto telah mengerjakan perintah itu dengan baik. Dan, saya mengucapkan terima kasih kepada Jenderal Soeharto akan hal itu.” (hal.182-183)

‘Mereka’ yang dimaksud di sini tidak disebutkan secara langsung siapa, hanya disebutkan musuh-musuh kita, dan secara tersirat dikatakan sebagai pihak asing.

Beliau juga menegaskan kembali pentingnya Pancasila sebagai dasar negara kita, serta arah revolusi Indonesia yang mencerminkan revolusi umat manusia.

“Saya berkata bahwa Nasakom atau Nasasos atau Nasa apa pun adalah unsur mutlak daripada pembangunan bangsa Indonesia. Nasionalisme, Ketuhanan, Sosialisme (dengan nama apa pun) adalah merupakan tuntutan daripada tiap jiwa manusia, tiap bangsa, tuntutan seluruh umat manusia. Oleh sebab itu, ini harus kita pertumbuhkan secara konsekuen, tanpa dipengaruhi oleh pikiran atau doktrin yang sudah lapuk, baik dari ekstrem kanan maupun dari ekstrem kiri.” (hal.202)

Buku ini merupakan bacaan yang bagus dan penting untuk seluruh rakyat Indonesia, guna memahami sejarah bangsanya sendiri. Pesan-pesan Bung Karno, meski banyak yang diulang-ulang, rasanya begitu tak lekang oleh waktu. Meski demikian, tentunya pidato-pidato ini tidak bisa berdiri sendiri menjadi saksi sejarah yang utuh. Diperlukan sumber dan sudut pandang lain, yang bisa didapatkan dari sumber sejarah dan buku-buku sejarah lain, untuk bisa memperoleh gambaran yang lebih objektif. Buku ini adalah salah satu perspektif, yang secara tidak langsung menunjukkan watak Bung Karno, serta apa-apa yang diperjuangkannya.

Masih banyak yang bisa dikupas dari buku ini, tetapi akan terlalu panjang jika saya masukkan semua. Oleh karena saat ini kita sedang dalam masa mendekati pemilihan umum, alangkah eloknya jika saya kutipkan pesan yang disampaikan Bung Karno lebih dari lima dekade yang lalu, yang masih relevan untuk direnungkan hari ini.

“Pertentangan yang tidak habis-habis antara pemerintah dan oposisi, pertentangan ideologi antara partai dengan partai, pertentangan antara golongan dengan golongan. Dan, dengan makin mendekatnya Pemilihan Umum 1955 dan 1956, maka masyarakat dan negara kita berubah menjadi arena pertarungan politik dan arena adu kekuatan. Nafsu individualisme dan nafsu egoisme bersimaharajalela, tubuh bangsa dan rakyat kita laksana merobek-robek dadanya sendiri, bangsa Indonesia menjadi a nation devided against itself. Nafsu hantam kromo, nafsu serang-menyerang dengan menonjolkan kebenaran sendiri, nafsu berontak-memberontak melawan pusat, nafsu z.g. demokrasi yang keblinger, yang membuat bangsa dan rakyat kita remuk-redam dalam semangat, kocar-kacir berantakan dalam jiwa. Sampai-sampai pada waktu itu aku berseru: rupanya orang mengira bahwa sesuatu perpecahan di muka Pemilihan Umum atau di dalam Pemilihan Umum selalu dapat diatasi nanti sesudah Pemilihan Umum. Hantam kromo saja memainkan sentimen. Tapi, orang lupa, ada perpecahan yang tidak dapat disembuhkan lagi! Ada perpecahan yang terus memakan, terus menggerantes, terus membaji dalam jiwa sesuatu rakyat, sehingga akhirnya memecahbelahkan keutuhan bangsa sama sekali. Celaka, celaka bangsa yang demikian itu! Bertahun-tahun, kadang-kadang berwindu-windu ia tidak mampu berdiri kembali. Bertahun-tahun, berwindu-windu ia laksana hendak doodbloeden, kehilangan darah yang ke luar dari luka-luka tubuhnya sendiri. Karena itu, segenap jiwa ragaku berseru kepada bangsaku Indonesia: terlepas dari perbedaan apa pun, jagalah persatuan, jagalah kesatuan, jagalah keutuhan! Kita sekalian adalah makhluk Allah! Dalam menginjak waktu yang akan datang, kita ini seolah-olah adalah buta.” (17 Agustus 1966, hal.187-188)

Baca dan review bersama mba Desty (Desty Baca Buku)

…the service of freedom is deathless service…. …. Badan manusia bisa hancur, badan manusia bisa dimasukkan di dalam kerangkeng, badan manusia bisa dimasukkan di dalam penjara, badan manusia bisa ditembak mati, badan manusia bisa dibuang ke tanah pengasingan yang jauh dari tempat kelahirannya, tetapi ia punya service of freedom tidak bisa ditembak mati, tidak bisa dikerangkeng, tidak bisa dibuang di tempat pengasingan, tidak bisa ditembak mati.” (22 Juni 1966, hal.255)

Advertisements

60 Tahun Konferensi Asia-Afrika – Tim Buku TEMPO

25692456Judul : 60 Tahun Konferensi Asia-Afrika
Penyusun : Tim Buku TEMPO
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Edisi : Cetakan Pertama, Juni 2015
Format : Paperback, viii+147 halaman

Sebuah kejadian langka terjadi saat saya mengambil buku ini dari toko buku dan membayarnya di kasir. Selain buku sejarah, kejadian ini juga termasuk bersejarah. Yang membuat saya tergerak untuk membeli dan membaca buku ini sebenarnya hal yang sederhana saja, pertama karena bukunya tidak terlalu tebal, yang kedua karena peristiwa bersejarah bagi dunia (atau minimal negara-negara Asia Afrika) ini terjadi pada masa saya. Jadi rasanya saya wajib memiliki rekam kejadian ini di antara koleksi-koleksi buku saya.

Buku ini ternyata memang sejarah dalam versi yang cukup ‘ringan’ bagi pembaca sejarah pemula seperti saya. Buku ini semacam napak tilas sejarah Konferensi Asia-Afrika (KAA) pertama 60 tahun silam, yang dikolaborasikan dengan persiapan KAA tahun 2015 ini. Dilengkapi dengan cukup banyak foto, baik dari 60 tahun lalu, maupun dari masa sekarang. Meski hitam-putih, kualitas cetak foto-foto ini cukup baik dan cukup jelas terlihat.

Konferensi Asia-Afrika merupakan tonggak bangkitnya negara-negara eks-kolonial untuk maju dan saling bekerja sama agar tidak kalah dari bangsa-bangsa Barat. Pergerakan yang dimotori oleh Indonesia, yang saat itu baru berusia sepuluh tahun, ternyata membuat negara kita disegani oleh bangsa-bangsa lain. Indonesia, khususnya Presiden Sukarno, dinilai berjasa dalam mempersatukan negara-negara ‘kulit berwarna’, dan memperjuangkan hak-hak mereka. Salah satu yang berhasil diperjuangkan dalam konferensi tersebut adalah kemerdekaan beberapa negara Afrika seperti Aljazair dan Sudan. Sama seperti saat ini—dan juga setiap KAA—isu kemerdekaan yang masih diperjuangkan adalah Palestina.

Terlaksananya KAA pertama bukan tanpa tantangan. Berkali-kali pihak Kementrian Indonesia harus meyakinkan negara-negara tetangga guna terwujudnya perhelatan besar ini. Berbagai ancaman tak luput didapatkan, termasuk bom di dalam pesawat delegasi Cina. Pun kini, di saat semangat KAA pertama mulai luntur, rasanya momen 60 tahun ini tepat untuk menyegarkan ingatan kembali. Karena hubungan negara-negara Asia-Afrika masih bisa dikembangkan dan dimaksimalkan lagi, guna terwujudnya kemajuan negara-negara berkembang.

Di luar itu semua, buku ini diwarnai juga dengan trivia-trivia menarik, seputar hotel tempat para delegasi menginap, rumah makan yang dikunjungi, suvenir yang dibagikan, pernyataan dari orang-orang yang terlibat dalam penyambutan, dan lain sebagainya. Termasuk persiapan KAA 2015 yang seolah hendak mengulangi sejarah, mengunjungi kembali tempat-tempat yang dulu pernah disinggahi.

Buku ini mungkin lebih tepat disebut sebagai kumpulan artikel. Konten dan gaya penulisannya pun khas media massa yang padat dan menarik. Bagi sejarah KAA sendiri, buku ini mungkin sekadar pengantar. Untuk mengenal dan memahami peristiwa-peristiwa tersebut lebih dalam, diperlukan referensi lain yang membahasnya secara lebih mendetail.

logo reading challenge-jpg

History Reading Challenge 2014 Wrap Up

 photo history-reading-challenge-2014_zps6c378035.jpg

Salah satu reading challenge yang saya ikuti di tahun 2014 adalah History Reading Challenge. Sedih sekaligus menyesal karena tidak menyelesaikan challenge ini. Sebenarnya kegagalan saya bermula dari kesulitan menemukan buku yang tepat. Saya memulai di pertengahan tahun dengan membaca A Short History of the World (Sejarah Dunia Singkat) karya H. G. Wells terbitan Penerbit Indoliterasi. Namun, saya hanya berhasil membaca sampai halaman 73 sebelum akhirnya saya tunda dan kemudian kehilangan mood untuk melanjutkan. Yah, saya memang sangat bermasalah dengan mood.

18248676Tentang A Short History of the World–sebagaimana judulnya–memang berisi catatan sejarah dunia yang cukup singkat. Bab-bab pendeknya menceritakan tiap masa dalam prasejarah hingga sejarah, atau sejarah bangsa-bangsa tertentu pada masa tertentu.

Sembilan bab pertama memaparkan masa-masa sebelum manusia ada. Mulai dari ruang kosong, sampai makhluk-makhluk hidup dalam berbagai tingkatan masanya, sesuai dengan penemuannya pada lempeng bebatuan tiap zaman. Mungkin karena cukup singkat, atau juga pengetahuan pada masa buku ini ditulis belum cukup dalam, saya kurang puas dengan penjelasannya yang lebih ke arah ‘kira-kira’. Bukti-bukti berupa fosil yang diterjemahkan menjadi sebuah populasi makhluk hidup tidak terlihat benang merahnya, maupun bukti/teori yang ilmiah.

Saya berhenti pada bab-bab yang membahas peradaban manusia pada tingkat awal; bangsa Sumeria, Mesir, Babilonia, Arya, dan sebagainya. Pembahasannya kurang menarik, mungkin–lagi-lagi–karena terlalu singkat. Ada kemungkinan saya melanjutkan buku ini, karena saya masih penasaran, terutama pada sejarah-sejarah yang tidak terlalu jauh di belakang. Saya juga berencana untuk membaca edisi bahasa Inggrisnya saja, bukan karena terjemahannya tidak bagus, hanya untuk mencoba kesan yang berbeda. Rasanya tetap perlu membaca sejarah klasik ini, meski tidak mungkin di tahun ini.

Saya masih ingin membaca sejarah–terutama dengan tema yang benar-benar saya sukai. Tetapi sekali lagi, proses membaca saya sangat bergantung pada mood, jadi mungkin tak perlu reading challenge, hanya menunggu waktu yang tepat. Seperti dua tahun lalu yang tiba-tiba bisa membaca ini. Sebenarnya saya juga pernah membaca The Professor and the Madman karya Simon Winchester, tetapi entah kenapa tak terpikir untuk membaca ulang untuk membuat reviewnya.

Jadi, History Reading Challenge 2014 terpaksa saya akhiri dengan membaca seperempat buku saja. Terima kasih pada kak Fanda yang sudah menggelitik saya untuk mempertimbangkan kembali membaca sejarah, maaf tidak bisa memenuhi target.

Guest Post : Menikmati Sejarah ala Atria

Dalam rangka ulang tahun BBI yang ketiga, selain giveaway hop yang sudah ditutup kemarin, acara seru lainnya adalah guest post. Di sini, kita saling bertamu ke blog member yang lain, seperti kali ini blog saya kedatangan seorang mahasiswi HI dari UNPAD. Namanya Atria Dewi Sartika, yang berkat nama pahlawan wanita yang disandangnya menjadi tertarik terhadap buku-buku sejarah. Tanpa berpanjang-panjang lagi, saya serahkan post ini kepada Atria.

Genre History?? Hm.. Nggak Deh

Ya, bacaan dengan genre Historical atau sejarah sekarang ini rasanya masih belum terlalu digemari terutama dikalangan remaja. Genre Romance masih tetap menjadi primadona di kalangan penikmat buku. Ini mungkin karena membaca digemari sebagai salah satu alternatif hiburan, sehingga bacaan yang ringan seperti fiksi romance dianggap mampu memberi selingan dan hiburan yang diharapkan.

Tapi apa iya, membaca benar-benar menjadi hiburan semata? Ada juga beberapa orang yang saya kenal yang memilih membaca sebagai media untuk mempelajari banyak hal baru. Dan sekarang dengan semakin banyaknya penerbit buku (terlepas ia major atau minor) keberagaman kebutuhan membaca pun bisa lebih terpenuhi.

Lantas, apa hubungannya pembahasan ini dengan sejarah? Ya, sekarang ini saya bergelut dengan sebuah komunitas yang di dalamnya terdapat anak-anak muda yang menggemari sejarah. Tidak semua dari mereka SUKA membaca, tapi mereka semua MAU membaca. Buku-buku sejarah yang dilahap di komunitas ini temanya macam-macam, ada tentang arsitektur, tentang teh, biografi atau pun cerita perjuangan kemerdekaan. Saya kemudian menyadari bahwa buku-buku sejarah ternyata tidak semenakutkan yang saya kira.

Sekarang ini, buku-buku sejarah mulai di-packing dengan lebih menarik, seperti menggabungkannya dengan fiksi. Atau bisa juga dengan mengkhususkannya dengan tema-tema tertentu atau tempat tertentu. Selain itu dari segi isi, dibuat agar kontennya bisa tetap menarik bahkan bagi mereka yang sebenarnya tidak begitu suka dengan sejarah.

Ok, ambillah contoh buku Braga: Jantung Parijs van Java karya Ridwan Hutagalung & Taufanny Nugraha yang diterbitkan oleh Komunitas Bambu. Buku ini sebenarnya mengangkat cerita sejarah khususnya tentang daerah Braga yang menjadi salah satu kawasan paling terkenal di kota Bandung. Dari buku ini kita juga bisa mengenal sepotong-potong cerita tentang Bandung tempo dulu. Menariknya, buku ini disusun sedemikian rupa agar bisa kita baca sambil menyusuri jalan Braga dan melihat sendiri gedung-gedung tua yang masih bertahan di kawasan itu.

Contoh lain, buku Semerbak Bunga di Bandung Raya karya Haryoto Kunto, sebuah buku tua yang kini sudah tergolong langka (pssst..harganya diberondol dari 500rb hingga jutaan rupiah) yang bercerita tentang Bandung tempo dulu. Membosankan? Sebagian besar yang membaca buku itu berkata, “Tidak”. Kenapa? Karena isinya seperti membaca sebuah dongeng yang dikisahkan oleh kakek-kakek kita dulu.

Untuk yang suka dengan arsitektur, kita bisa belajar tentang periodeisasi arsitektur dan beberapa sisipan menarik tentang sejarah dalam buku Zaman Baru Generasi Modernis: Sebuah Catatan Arsitektur karya Abidin Kusno. Buku ini cukup tipis dengan disisipi gambar.

Buku lain yang packing-an sejarahnya menarik adalah membuat novel tentang tokoh berdasarkan biografinya. Ada dua contoh buku yang saya miliki, kebetulan keduanya tentang tokoh pahlawan wanita yakni Raden Dewi Sartika dan Raden Ajeng Kartini. Buku Meniti Jembatan Emas karya Yan Daryono (sekarang sudah susah untuk menemukan buku ini di toko) menceritakan kehidupan R. Dewi Sartika dalam bentuk novel. Tapi menariknya buku ini sebenarnya saling melengkapi dengan karya beliau lainnya yang berjudul Sang Perintis: R. Dewi Sartika (yang lagi-lagi mulai langka dipasaran). Ini membuat buku Meniti Jembatan Emas meskipun dibuat seperti novel, ia bukanlah fiksi yang dikarang. Kronologi waktu, keadaan, dan detail tempat serta hubungan sosial masyarakat di dalam buku tersebut sebisa mungkin dituliskan mirip dengan kondisi aslinya di tahun 1900-an awal.

Hal yang sama pun berlaku dengan buku The Chronicle of Kartini karya Wiwid Prasetyo. Dari judulnya kita sudah bisa menebak buku ini tentang siapa. Label novel membuat kita tertarik membacanya karena disuguhkan dengan bercerita, tapi novel ini pun tentu harus melalui riset agar kronologinya tidak menyimpang dari cerita kehidupan Kartini yang sebenarnya. Dan melalui buku ini, kita bisa mengenal sosok Kartini tidak hanya sekedar “pahlawan perempuan”, “pejuang hak perempuan”, namun juga ikut mengenal pemikirannya, mengenal perjuangannya, dan hidupnya.

Jadi, sekarang saya rasa tidak ada salahnya kita mencoba mencicipi genre sejarah ini. Tinggal pintar-pintarnya kita memilih buku sejarah yang sesuai minat kita. (^_^)v

Setuju! Kebetulan saya juga sedang ingin belajar sejarah lebih banyak. Terima kasih Atria atas ilmu yang dibagikan tentang pengenalan berbagai buku sejarah, khususnya sejarah tentang Bandung dan sebagian pahlawan wanita kita. Tapi, kita juga mau nih, mengenal Atria lebih dekat lagi.

  1. Siapakah Atria itu?

Saya adalah perempuan perantau dari tanah Mandar (Sulawesi Barat) yang sedang hidup di kota Bandung. Entah takdir, entah kebetulan, di kota ini saya akhirnya menemukan makna nama saya “Atria Dewi Sartika” dengan berhasil menyusuri jejak “R. Dewi Sartika” di kota Bandung. Dan sejak itu, saya mengembangkan minat saya pada sejarah khususnya sejarah kota Bandung.

  1. Ceritakan sedikit dong hubungan Atria dengan buku itu seperti apa.

Buku itu cinta pertama saya, kekasih saya, dan teman tidur saya. Saya ini lebih bisa berteman dengan buku daripada dengan manusia..ha..ha.. Persahabatan saya dengan buku dimulai sejak saya SD. Saat itu saya sakit dan harus masuk rumah sakit selama sebulan di Makassar (8 jam dari tempat domisili saya, Palopo). Tidak ada teman yang datang menjenguk dan hanya ditemani mama. Akhirnya saya melahap habis majalah-majalah anak-anak dan majalah mama. Melihat hal itu, mama membelikan saya beberapa buku. Sejak itu, saya pun tidak bisa berhenti membaca buku.

  1. Buku apa saja yang pernah punya pengaruh besar pada kehidupan Atria?

Sekarang ini yang cukup mempengaruhi saya adalah buku biografi R. Dewi Sartika baik yang ditulis oleh Yan Daryono dan Rochiati Wiraatmadja. Ini karena saya cukup “tertampar” saat menyadari bahwa di usia 18 tahun (1902) Dewi Sartika sudah mendirikan sekolah untuk perempuan. Sedangkan saya di usia segitu masih asyik dengan masalah-masalah pribadi yang mungkin sebenarnya remeh. Ini mendorong saya untuk semakin produktif dalam hidup, semakin bermanfaat untuk masyarakat.
(Ah, saya juga jadi ikut tertampar.)

  1. Apa yang mendorong Atria membuat blog buku dan bergabung di BBI?

Saya membuat blog buku sebenarnya karena capek menjelaskan ke teman-teman yang suka bertanya tentang buku-buku yang recommended untuk dibaca. Akhirnya saya berpikir, sepertinya jauh lebih praktis kalau saya me-review dan tinggal sebutkan judulnya, mereka cari sendiri di blog itu. Akhirnya Januari 2013, bulatlah tekad membuat blog buku. Ha..ha..

Saya baru bergabung ke BBI itu sekitar bulan Juli. Sudah beberapa kali membaca blog buku anggota BBI dan saat baca kok rasanya seru ya jadi anggota BBI itu? Apalagi waktu baca postingan tentang Secret Santa. Aaaa.. mau juga dapat kado dari Santa. Ya, akhirnya Juli 2013 saya mendaftar jadi member. Alhamdulillah lulus uji kelayakan (heh?! Nggak ada ding..) dan akhirnya jadi member BBI deh. (^_^)v
(Dan menjadi santa saya, haha)

  1. Apa harapan/mimpi terbesar Atria dalam hal perbukuan/literasi?

Harapan saya, di Indonesia ini ada sebuah perpustakaan yang lengkap, yang mempunyai setiap buku yang terbit sejak 17 Agustus 1945 hingga sekarang, dan lengkap menyimpan salinan dokumen-dokumen dan naskah-naskah penting terkait sejarah Indonesia. Masa kalau kita mau meneliti lebih dalam tentang sejarah Indonesia harus ke Belanda. (>_<) Semoga terwujud. Amiiiinn..

Amiiinn! Seperti sebuah kata bijak, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Sebuah langkah awal untuk menghargai adalah mengenal dan mempelajarinya, bukan? Sekali lagi terima kasih kepada Atria yang sudah bertamu di blog saya, semoga pembaca blog saya bisa ikut terinspirasi untuk menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi bangsa dan negara. Bagi yang ingin mengenal Atria lebih dalam lagi, jangan lupa berkunjung di blog bukunya, My Little Library.

Atria Dewi Sartika 🙂

Kunjungi juga guest post yang lain:

Juga host untuk guest post saya di blog Phie.

Jalan Raya Pos, Jalan Daendels – Pramoedya Ananta Toer

Judul buku : Jalan Raya Pos, Jalan Daendels
Penulis : Pramoedya Ananta Toer (2005)
Penerbit : Lentera Dipantara, Februari 2010
(cetakan 8)
Tebal buku : 148 halaman

Di dalam setiap buku pelajaran sejarah penjajahan Belanda pasti akan ada nama Daendels, salah satu Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang terkenal paling kejam. Dia menerapkan sistem kerja paksa atau rodi untuk pembangunan jalan terpanjang dalam sejarah Hindia Belanda. Sepanjang lebih dari 1000 kilometer, dari Anyer sampai ke Panarukan, dari ujung barat pulau Jawa sampai pada Jawa paling timur.

Di dalam buku ini diceritakan tentang sejarah pembangunan jalan raya pos, sejarah kekejaman Daendels. Bagaimana dia memperlakukan para pribumi, berapa banyak nyawa yang ditelan oleh setiap ruas jalan yang dibangunnya. Memang yang dilakukannya adalah ‘prestasi’ tersendiri, manfaat yang dirasakan dari jalan yang telah selesai tersebut juga tidak sedikit, akan tetapi harga yang harus dibayar oleh bangsa Indonesia saat itu begitu mahal. Mengenai peranan Daendels sendiri sudah saya bahas di sini.

Buku ini ditulis dengan runtut berdasarkan kota-kota yang dilewati oleh Jalan Daendels ini. Diawali dari kota kelahiran penulis di Blora, dan sekitarnya, kemudian kita dibawa menuju ke titik awal di Anyer. Setibanya Daendels di sana, bagaimana perjalanan dan apa saja yang dilakukannya, terus ke arah timur hingga berakhir di Panarukan. Meski demikian, terkadang pembahasannya agak kurang terfokus. Banyak fakta maupun opini sejarah yang dipaparkan tidak relevan dengan tahun pembangunan jalan tersebut. Suatu ketika penulis memaparkan data sejarah atau pengakuan beberapa orang tentang kota tersebut di masa lampau, tetapi ada kalanya penulis hanya memaparkan kenangannya sendiri akan kota tersebut saat singgah di dalamnya.

Bagaimanapun juga, buku ini sarat akan pengetahuan. Banyak hal yang bisa kita dapatkan di sini yang tidak disinggung-singgung dalam pelajaran sejarah. Misalnya saja kenyataan bahwa bangsa kita justru mengadopsi ‘ejaan salah’ warisan Portugis untuk tempat-tempat seperti Sumatra (aslinya Samudra, dan Pasai), Brunai menjadi Borneo, dan Tanjung Bunga menjadi Flores. (p.29) Begitu pula ejaan Tangerang yang sebenarnya warisan Belanda, sebenarnya adalah Tanggeran. (p.40)

Penulis juga memaparkan fakta menarik bahwa ada satu kota di pulau Jawa yang membentengi diri dari kota-kota lain di sekitarnya. Kota ini pada mulanya sangat maju karena pelabuhannya menjadi salah satu lalu lintas perdagangan internasional. Kemajuan tersebut bukan hanya ekonomi, tetapi juga budaya yang hingga kini meluas ke kota-kota lain, pada mulanya masuk melalui kota ini. Ironisnya, kota ini dihancurkan oleh raja pedalaman, sungai yang melintasi kota ini diracun sehingga penduduknya menurun drastis, dan kemajuannya meredup.

“Ini adalah ironi sejarah Nusantara: Di ujung utara dunia Belanda mendirikan VOC pada 1602, yang membuat Belanda mampu membangun imperium dunia, di Nusantara pada 1625 negara kota termaju di Nusantara dihancurkan oleh raja pedalaman yang terbelakang.” (p.110)

Kota apakah itu? Sampai sekarang pun kota itu merupakan salah satu kota termaju di pulau Jawa, yang terletak di Jawa Timur. Tidak lain dan tidak bukan adalah kota Surabaya.

Ternyata banyak sekali sejarah bangsa yang tidak saya ketahui. Ada rasa bangga, haru dan kesal tiap melihat kenyataan-kenyataan tentang apa yang terjadi di masa lampau. Namun, sejarah tetaplah masa lalu, sampai kini pun bangsa kita belum mencapai kemajuan yang semestinya bisa dicapai. Saya pun seringkali merasa kesal dengan sejarah yang tengah kita ukir hari ini. Semoga sedikit demi sedikit, mulai dari diri kita sendiri, bangsa Indonesia akan mencapai kemajuan sehingga tidak akan diinjak-injak lagi oleh bangsa lain.

3/5 untuk buku tipis bermuatan sejarah yang berharga.

Review #2 untuk Sastra Indonesia Reading Challenge 2012