Category Archives: Literary Fiction

Pingkan Melipat Jarak – Sapardi Djoko Damono

34501430Judul : Pingkan Melipat Jarak (Trilogi Hujan Bulan Juni #2)
Penulis : Sapardi Djoko Damono (2017)
Penyelia naskah : Mirna Yulistianti
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Format : Paperback, vi+121 halaman

Ia beriman pada takdir, yang tidak mengenal seandainya. (hal. 13)

Setelah kisah cinta yang ragu-ragu di novel Hujan Bulan Juni antara Sarwono dan Pingkan terpisahkan jarak akibat studi dan pekerjaan, kini keduanya diuji kembali dengan sakit yang diderita Sarwono. Penyakit itu menyebabkannya harus mendapat perawatan intensif di rumah sakit dan tidak boleh dijenguk oleh siapapun, termasuk Pingkan, terutama Pingkan. Dengan Katsuo, kawan Jepang yang juga menaruh rasa padanya, menemaninya di Solo, keraguan dan kekhawatiran yang dirasakannya semakin tak terjawab.

Di buku kedua ini, kisah terutama berpusat pada Pingkan. Mengenai perasaan Pingkan pada Sarwono yang dianggap tak pernah berubah dan semakin mantap, tetapi kembali samar saat ada badai yang datang. Kilas balik kisah keduanya, kenangan-kenangan dan jejak Sarwono memberi kesempatan bagi Pingkan untuk melihat kembali ke dalam dirinya, dan apa yang sungguh diinginkannya.

Katsuo, Bu Pelenkahu, dan cicak. Dan Pingkan memilih cicak. Dan karena sejak di kamar Sarwono cicak menyindirnya akan meninggalkan Sarwono, Pingkan teguh pada niatnya untuk tidak meninggalkan kekasihnya itu di Solo. Katsuo pasti tidak pernah mendengarkan cicak, Sarwono pasti pernah, pasti sering sebab selalu ada di balik jam dinding di kamarnya. Cicak tahu benar perangai pemuda itu, dan karenanya mencintainya. (hal. 49)

Jika dalam buku pertama trilogi ini saya menyebutnya sebagai ‘pertunjukan sastra’ karena menyajikan sederet ragam narasi, maka di novel kedua ini kita diajak masuk ke dalam labirin imajinasi, alam bawah sadar, mimpi, dan khayalan para karakternya. Batasan realitas begitu tipis, kita bisa memastikan mana yang nyata mana yang bukan, disandingkan dengan suasana sendu yang kental dengan aroma kematian, membuat buku ini terbuka untuk berbagai kemungkinan penafsiran.

Penulis masih menyajikan sederetan legenda kisah cinta yang dihubungkan dengan pasangan beda latar belakang ini. Tak hanya itu, budaya lain seperti mitos, kepercayaan, musik dan film juga melebur ke dalam labirin-labirin yang membawa pembaca ke tujuan yang sulit diprediksi.

Selalu ada yang terjadi tidak untuk bisa dipahami, tampaknya. (hal. 106)

Selain Pingkan, perasaan dan latar belakang Katsuo juga mulai terbuka. Bagaimana hubungannya sendiri dengan Pingkan sebenarnya tak hanya terhalang oleh pria Jawa yang dicintai Pingkan, tetapi juga keluarga dan masa lalu di Jepang yang masih menantinya.

Dalam beberapa bagian, tersirat kenyataan hubungan Katsuo dengan Pingkan yang mungkin lebih jauh dari yang ditampakkan sebelumnya. Kebersamaan mereka di Jepang sepertinya tidak disia-siakan begitu saja oleh Katsuo. Meski Pingkan tak pernah memberi tanda positif, ada kalanya keraguan mengubah cinta segitiga menjadi hubungan cinta yang lebih rumit.

Tanpa rasa sakit, jiwa kita kosong belaka. (hal. 74)

Alih-alih menjawab pertanyaan, buku ini justru memunculkan lebih banyak pertanyaan untuk dijawab di buku selanjutnya. Seperti Hujan Bulan Juni, yang membiarkan yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu. Termasuk jalan apa yang dipilih Pingkan untuk dilipat jaraknya.

“Kenangan itu fosil, bukan abu, Toar. Tidak bisa diubah menjadi abu.” (hal. 115)

Mini Reviews: Non-English

Ada tiga buku terjemahan yang aslinya bukan berbahasa Inggris, dua di antaranya diterjemahkan dari bahasa aslinya, sedangkan yang satu melalui bahasa Inggris sebelum diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

The Ninth / A Kilendecik / Anak Kesembilan by Ferenc Barnás (2006)

Translated from English to Indonesian by Saphira Zoelfikar, Gramedia Pustaka Utama, cetakan pertama, Februari 2010, paperback, 296 pages

Set in a sleepy village north of Budapest in 1968, this touching, unsettling novel paints a richly wrought portrait of mid-twentieth-century Hungary. The narrator is the ninth child of a family distinguished by its size, poverty, faith, and abundance of physical and psychological disabilities. His confusion is exacerbated by the strict, secretive Catholic household his parents keep in the face of a Communist system. These dual oppressions propel him toward an inevitable realization of his guilt and desire that speaks to his struggle with a fateful, seamless beauty. (source)

Sebagai anak kesembilan dari sebelas bersaudara, posisi sang narator (yang namanya tidak disebutkan, hanya diketahui berinisial B [p.114]) cukup tidak signifikan di dalam keluarga. Dalam posisi itu, dia menjadi pengamat yang tak memiliki peran penting sebagaimana anak terbesar dalam keluarga yang ikut mencari nafkah, maupun anak yang lebih kecil yang lebih tergantung pada orang tua. Selain posisinya, B juga memiliki kepekaan yang berbeda dari saudara-saudarinya, baik caranya memandang masyarakat, juga kepekaan dalam arti yang sebenarnya mengenai kesulitannya untuk tidur dan mengabaikan bunyi-bunyian.

Aku tahu istilah akal sehat darinya; artinya ialah orang itu tidak manja. (p.187)

Menarik melihat dunia yang kejam melalui mata seorang anak. Dengan kepolosan yang terhapus sedikit demi sedikit, yang menjadikannya melakukan sesuatu di luar nilai yang ditanamkan keluarganya demi keluar dari ketidaknyamanan kehidupan. Di sini juga ada gambaran tentang politik yang tampak melalui mata seorang anak, jadi mungkin memiliki sedikit pengetahuan sejarah akan bermanfaat.

 

La casa de papel / Rumah Kertas by Carlos María Domínguez (2002)

Translated to Indonesian by Ronny Agustinus, Marjin Kiri, cetakan kedua, Oktober 2016, paperback, vi +76 pages

Buku mengubah takdir hidup orang-orang. (p.1)

Bluma Lennon, distinguished professor of Latin American literature at Cambridge, is hit by a car while crossing the street, immersed in a volume of Emily Dickinson’s poems. Several months after her untimely demise, a package arrives for her from Argentina-a copy of a Conrad novel, encrusted in cement and inscribed with a mysterious dedication. Bluma’s successor in the department (and a former lover) travels to Buenos Aires to track down the sender, one Carlos Brauer, who turns out to have disappeared. (source)

Jauh lebih sulit membuang buku ketimbang memperolehnya. (p.9)

Kegilaan dimulai saat kita diajak menapak tilas jejak dan pemikiran Brauer. Mulai dari kebiasaannya yang aneh dengan buku-buku, sampai kegilaan yang membuatnya melakukan sesuatu yang tidak masuk akal, yang membuat ‘rumah kertas’ menjadi sesuatu yang mengerikan.

Inilah proses kita merampungkan bibliografi: kita mulai dengan satu rujukan kepada buku yang tidak kita punya, lalu begitu kita memiliki buku tersebut, ada rujukan yang menuntun kita ke buku lainnya. (p.27)

“…. Brauer bersikeras bahwa buku-buku harus dikelompokkan berdasarkan kriteria yang berbeda dengan kriteria tematik yang vulgar itu.”
“…. Maksudku begini, Pedro Páramo dan Rayuela sama-sama karya sastrawan Amerika Latin, tapi yang pertama menuntun kita ke William Faulkner, dan yang satunya membawa kita ke Moebius. Atau dengan kata lain: Dostoievsky pada akhirnya lebih dekat dengan Roberto Arlt ketimbang dengan Tolstoy. Sebagai penegasan, Hegel, Victor Hugo, dan Samiento  layak dipasang berderetan ketimbang Paco Espínola, Benedetti, dan Felisberto Hernández.”
(p.38-39)

Buku ini memang bagaikan cermin bagi para pecinta buku. Segala hal yang dilakukan Brauer mungkin dekat dengan sebagian dari kebiasaan sebagian dari kita. Mulai dari yang biasa saja sampai yang ekstrem. Hingga di satu titik ada yang salah cara memaknai buku-buku, lalu apa yang bisa dilakukan?

“Orang-orang ini ada dua golongan, izinkan saya menjelaskan: pertama, kolektor, yang bertekad mengumpulkan edisi-edisi langka, …, sekalipun mereka tak pernah membuka-bukanya selain untuk melihat-lihat halamannya, seperti orang-orang mengagumi sebuah objek yang indah, barang langka. Lainnya, ada para kutu buku, pelahap bacaan yang rakus, ….” (p.17)

Sastra Amerika Latin ini, entah cerpen atau novella tepatnya, membawa kita ke dunia yang sangat dekat, tetapi begitu jauh. Bagaimana seseorang yang menggilai buku bisa melakukan hal yang gila dengan buku-bukunya.

Orang rupanya juga bisa mengubah takdir buku-buku. (p.57)

 

Kaas / Keju by Willem Elsschot (1969)

Translated to Indonesian by Jugiarie Soegiarto, Gramedia Pustaka Utama, cetakan pertama, Mei 2010, paperback, 176 pages

Dari karyawan hendak menjadi pengusaha, mengambil risiko terlalu besar karena iming-iming keuntungan berlipat, menjalankan bisnis tanpa pengetahuan yang memadai. Walau ditulis hampir setengah abad yang lalu, buku ini masih sangat dekat dengan keseharian kita, di mana orang berlomba-lomba menjadi pengusaha, lalu mengambil jalan yang sangat tidak aman. Bagi saya, mengambil risiko itu baik, tapi bukan tanpa perhitungan, karena orang bisa maju tidak hanya dengan modal nekat, tetapi juga harus mau belajar.

Hal inilah yang menjadi akar permasalahan Frans Laarmans. Gengsi menjadikannya nekat, mengambil risiko terlalu banyak untuk menjual keju yang sudah terlanjur dibelinya. Mulai dari mengambil barang terlalu banyak, menggunakan pekerja tanpa perhitungan, dan dikendalikan oleh gengsi menjadi seorang ‘pengusaha besar’. Meski singkat, buku ini menangkap karakter Laarmans dengan jelas, dengan segala kekurangan dan dinamikanya. Sehingga saya bisa merasakan jengkel akan keputusannya sampai empati dengan pilihannya.

Dalam seni tak ada percobaan. Janganlah coba memaki bila kau tak marah, jangan coba menangis bila jiwamu kering, jangan bersorak selama kau tak dipenuhi keriangan. (p.172)

Of Mice and Men – John Steinbeck

7401287Title : Of Mice and Men
Author : John Steinbeck (1937)
Translator : Isma B. Koesalamwardi
Editor : Huzeim
Publisher : Ufuk Press
Edition : Cetakan I, Desember 2009
Format : Paperback, 238 pages

George Milton dan Lennie Small mungkin sangat berbeda, baik dalam penampilan fisik maupun mental, George kecil tapi cerdik, sedangkan Lennie tinggi besar tetapi sangat polos. Namun, keduanya sangat terikat satu sama lain, entah dengan alasan apa. Lennie tak akan mungkin bertahan tanpa George, sedangkan George tak pernah tega meninggalkan Lennie, meski dia selalu menimbulkan masalah yang membuat keduanya harus kabur. Kali ini mereka berusaha bertahan di sebuah peternakan di Salinas.

Dunia ini keras, dengan berbagai macam orang dan karakter serta kepentingannya. Ada orang yang punya kekuasaan, atau merasa memiliki kekuasaan, lalu bertindak semaunya, hingga seorang rendahan yang waras harus tahu kapan harus mundur untuk menghindari masalah. Ada pula orang yang melakukan hal sesuai keinginannya tanpa peduli hal itu bisa membahayakan orang lain, ada yang begitu tersisih sehingga tahu diri untuk menjadi ‘tak-kasat-mata’, ada yang mencari kenyamanan diri tanpa harus mengusik orang lain. Setiap orang dewasa tahu bagaimana menghadapi orang-orang ini, tetapi tidak dengan Lennie. Kepolosannya kadang membuatnya masuk ke dalam masalah dan membuat orang lain terseret ke dalamnya, terutama George, sahabat setianya. Untuk itulah George berusaha keras membuat Lennie mengerti apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan, tetapi, dunia ini keras, dan masalah tidak pernah menunggu kita siap.

“Orang tidak perlu cerdas untuk menjadi orang baik. Bagiku, kadang-kadang semuanya berlaku terbalik. Seseorang yang benar-benar cerdas, jarang yang benar-benar baik hati.” (p.88)

Meski setiap orang yang sudah mengenalnya akan maklum dengan kepolosan Lennie, bahkan menganggapnya terbelakang, tetap ada batasan untuk suatu hal, ada kejadian yang tidak bisa dimaklumi untuk orang dengan tubuh besar. Saya melihat Lennie seperti anak kecil yang terperangkap dalam tubuh raksasa, dia tidak bisa mengontrol emosi dan kepanikannya. Namun, seorang anak kecil tidak akan membahayakan orang lain jika dia kehilangan kendali diri, tidak seperti Lennie yang dengan mudah bisa membuat seekor tikus mati dengan jarinya.

“Aku membelainya, dan tidak lama setelah itu menggigitku. Aku mencubit kepalanya sedikit, lalu dia mati—karena dia kecil sekali.” (p.24)

Serekat apapun sebuah persahabatan, apakah tidak ada batas untuk kesabaran? Apakah George akan terus lari demi Lennie, ataukah ada cara untuk menghentikannya?

Selama ini saya masih beranggapan bahwa sebuah novela yang diramu dengan baik bisa meninggalkan kesan yang lebih dalam ketimbang novel yang panjang. Hal ini dikarenakan novela memiliki ruang untuk pengembangan karakter yang cukup untuk membuat pembaca merasa dekat, tetapi kurang dalam untuk membuat pembaca mengetahui detail masa lalu mereka, serta alur yang cenderung datar, membuat pembaca ingin lebih banyak lagi cerita, lebih banyak lagi kejadian, lebih jelas lagi apa yang akan terjadi. Dan buku ini termasuk salah satu di antaranya. Saya bisa merasakan kedekatan George dan Lennie, dan ketika kisah ini diakhiri, saya merasakan getirnya pilihan yang memang harus diambil. Pertanyaan-pertanyaan yang timbul; mengapa, bagaimana bisa, bagaimana kalau, dan sebagainya hanya menambah intensitas buku ini di dalam benak saya sebagai pembaca, bahkan jauh setelah selesai membacanya. Intensitas inilah yang membuat sebuah buku menjadi berkesan, meski sulit dijelaskan untuk alasan apa.

Sebesar apa seseorang bisa berkorban untuk orang lain? Seberapa jauh seseorang bisa bertindak demi orang yang dikasihinya?

“Tetapi kita tidak seperti itu! Mengapa begitu. Karena… karena aku punya kau yang selalu menjagaku, dan kau punya aku yang juga selalu menjagamu, yah… itulah sebabnya.” (p.33)

Review #35 of Classics Club Project

The Virgin Suicides – Jeffrey Eugenides

Title : The Virgin Suicides
Author : Jeffrey Eugenides (1993)
Translator : Rien Chaerani
Editor : Sylfentri
Publisher : Dastan Books
Edition : Cetakan 5, Februari 2010
Format : Paperback, 352 pages

‘Kami’ tinggal di lingkungan yang sama dengan keluarga Lisbon. ‘Kami’ bahkan tahu gerak-gerik keluarga misterius itu, bagaimana keseharian pasangan Lisbon dan kelima anak gadisnya, rangkaian tragedi yang terjadi di rumah itu, hingga aib-aib yang ditutupi maupun yang terbuka. ‘Kami’ pemuda-pemuda biasa yang penuh rasa ingin tahu, tetapi terseret ke dalam misteri gadis-gadis Lisbon yang dikungkung oleh orang tua mereka yang sangat religius dan cara hidup mereka yang aneh. Therese, Mary, Bonnie, Lux, dan Cecilia Lisbon seperti hendak meminta pertolongan, atau sekadar perhatian dari ‘kami’.

Isyarat gadis-gadis itu datang kepada kami dan bukan orang lain, serupa siaran stasiun radio yang tersadap. (p.269)

Sejak awal bab buku ini sudah menyebutkan bahwa kelima gadis Lisbon ini akan melakukan bunuh diri, tetapi baru Cecilia si bungsu yang berhasil mengakhiri hidupnya, dan hingga menjelang akhir keempat saudarinya menyusul dengan cara yang mengejutkan meski isyaratnya sudah terbaca sebelumnya. Sepanjang buku kita diberi petunjuk tentang kehidupan dan tekanan yang dialami gadis-gadis Lisbon melalui sudut pandang ‘kami’, yang, sebenarnya, bisa saja memberi penafsiran yang salah. ‘Kami’ yang saat ini telah menjelma lelaki paruh baya kembali mengulik kenangan masa-masa itu, berperan seperti detektif yang membaca isyarat-isyarat, interaksi-interaksi yang sempat terjadi baik di rumah maupun sekolah, menganalisis barang-barang yang dicuri dari rumah Lisbon maupun yang ditinggalkan, serta saksi-saksi mata yang berhubungan dengan beberapa kejadian.

Namun, buku ini tidak akan menjawab secara tersurat mengapa gadis-gadis itu melakukan bunuh diri. Menurut saya, buku ini lebih memberi ruang kepada ‘kami’—yang bisa dibilang kawan, rekan, atau mungkin cinta monyet gadis Lisbon—untuk menjawab pertanyaan mereka sendiri. ‘Kami’ yang saat itu hanyalah remaja tanggung, berada di lingkungan yang juga tak ideal. Mungkin benar bahwa kematian, wajar maupun tidak, akan mempengaruhi orang yang ditinggalkan. Dalam kasus ini, ‘kami’ yang sudah terlanjur masuk terlalu dalam tentunya sangat terpengaruh oleh kasus bunuh diri yang menimpa tetangga mereka. Sedikit banyak, mereka pun terlibat di dalamnya, dan karena itulah mencari jawaban adalah salah satu ‘terapi’ untuk mereka. Apakah ada sesuatu yang seharusnya dapat mereka lakukan? Apakah ada yang terlewatkan saat itu? Ataukah ada jawaban yang bisa meringankan beban mereka di masa sekarang? Meski begitu, saya tidak melihat ada perubahan berarti dari ‘kami’ pasca tragedi itu. Apalagi kesimpulan yang ‘kami’ ambil pada akhirnya sangatlah subjektif dan tendensius, atau setidaknya begitu menurut saya, yang lebih mencerminkan rasa frustrasi remaja ketimbang kebijaksanaan sebuah pengalaman.

“Segala kearifan berakhir dalam paradoks,” (p.347)

Di luar itu semua, saya merasa bahwa keindahan dari buku ini adalah pada narasi dan gaya bahasanya. Sesekali saya bisa menangkap adanya metafora ataupun kiasan yang tidak biasa. Mungkin, mungkin sekali, saya akan lebih bisa menikmatinya jika membacanya dalam bahasa aslinya. Kebetulan saya baru pertama kali membaca karya penulis yang satu ini, jadi mungkin saya masih perlu membaca karyanya yang lain untuk menilai sang penulis. 3/5 bintang untuk tanda tanya masa remaja.

Paduan suara bernyanyi dengan suara emas, tangga nada menanjak lambat laun selaras, seperti manisan busa kenyal di telinga kami. (p.191)

Hujan Bulan Juni – Sapardi Djoko Damono [Novel]

Judul : Hujan Bulan Juni (Novel)
Penulis : Sapardi Djoko Damono (2015)
Editor : Mirna Yulistianti
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Edisi : Cetakan pertama, Juni 2015
Format : Paperback, vi + 135 halaman

Sarwono adalah salah satu dosen muda di Prodi Antropologi FISIP-UI yang giat ‘mencari nafkah’ dengan menulis laporan penelitian tentang berbagai wilayah di Indonesia. Laporan hasil tulisannya memang disukai, mungkin karena pada dasarnya dia suka menulis, meski yang lebih sering ditulisnya adalah puisi. Sejak SMA dia dekat dengan adik kawannya, Pingkan Pelenkahu yang campuran Minahasa-Jawa, yang kini mengajar di Prodi Jepang, sama-sama FISIP-UI. Namun, seperti ada batas yang menahan hubungan keduanya ke arah yang lebih jauh, meski keduanya sama-sama memberi sinyal positif.

–semuanya cengeng kalau diukur berdasarkan ketidakpahaman akan hakikat puisi, (hal.93)

Bersama di fakultas, menghabiskan waktu beberapa minggu tugas di Sulawesi, hingga terpaksa terpisah sementara saat Pingkan belajar di Kyoto mencatat jejak hubungan keduanya. Ada keluarga yang harus disatukan, dan ada prinsip yang perlu diluluhkan. Pingkan selalu mengatakan bahwa Sarwono cengeng dan zadul, tetapi diam-diam mengharapkannya menjadi Matindas-nya. Sedangkan Sarwono yang tidak dapat melihat ‘keJawaan’ Pingkan pun jiwa Pingkan tak juga Minahasa masih merasa bahwa dirinya adalah wong sabrang yang harus menceritakan kisahnya sendiri.

“Dongeng adalah jawaban bagi pertanyaan yang diajukan suatu kaum tentang banyak hal yang menyangkut keberadaannya,” (hal.52)

Inti dari cerita Sarwono dan Pingkan ini sebenarnya sederhana saja, kekuatan novella ini bagi saya justru ada di narasinya. Di sini, penulis seolah hendak ‘pamer’ tentang bentuk-bentuk narasi, serta menunjukkan kepiawaiannya menjalin bentuk-bentuk yang berbeda itu ke dalam sebuah novel yang pendek. Saat membaca, saya dapat terhanyut dalam narasi yang indah, atau lugas, atau dalam dialog, atau dalam arus pikiran, tanpa peduli pada akhirnya saya akan dibawa ke mana dalam urusan percintaan kedua karakter tersebut. Saya merasa dibawa ke dalam sebuah perjalanan di mana saya cukup menikmati potongan-potongan pemandangan yang indah, tanpa perlu dijelaskan mengenai sejarah pembentukannya, juga tak penting untuk mereka-reka apa peran si pemandangan dalam dunia yang luas ini. Pemandangan-pemandangan itu cukup untuk membentuk sepotong kisah.

Selain itu, seperti beberapa karyanya yang lain, penulis juga memasukkan adaptasi cerita rakyat ke dalam kisahnya. Kisah Pingkan dan Matindas adalah cerita rakyat Minahasa yang diwujudkan secara modern dalam diri Pingkan Pelenkahu dan Sarwono. Cerita rakyat ini secara apik berhasil menyatu dalam kisah, tidak terkesan dibuat-buat, pun dia menyusup dalam karakter seolah legenda tersebut hidup kembali—atau karakter kita yang mundur ke masa lalu, mewujud kisah yang telah berlalu.

Ditatapnya mata Sarwono, dalam-dalam, semakin dalam, dan semakin dalam lagi. Langit itu bersih tanpa awan hanya ada dua ekor burung jantan dan betina menyeberang cakrawala lalu muncul dari arah sebaliknya dengan sangat rapi bersama-sama mengepakkan-ngepakkan sayap-sayap mereka lalu melesat ke atas hanya beberapa detik terus menukik kembali menceburkan diri di laut yang menyimpan warna langit. (hal.86)

Tidak hanya cerita rakyat Minahasa, beberapa legenda daerah yang bersinggungan dengan karakter juga dileburkan dalam narasi, meski tak dominan, termasuk budaya dan legenda Jepang yang menjadi tempat singgah Pingkan saat belajar. Penulis memasukkan unsur-unsur kekinian yang menegaskan zaman kisah ini terjadi, baik secara teknologi, situasi ekonomi, politik, sosial, dan lain sebagainya.

… ia sering berpikir mengapa semuanya harus seragam, mulai dari baju sekolah sampai cara berpikir yang dikendalikan kurikulum yang seragam, yang harus ditafsirkan secara seragam juga. Tadi pun, mereka seragam tertawa seragam. Bangsa ini tampaknya akan menghasilkan anak-anak yang seragam. Ketika memikirkan ibu-bapaknya, Sarwono malah jadi khawatir kalau-kalau mereka nanti tidak berpikir seragam menerima laporannya tentang …. (hal.88)

Singkatnya, buku ini adalah ‘pertunjukan’ sastra yang sangat kaya. 4.5/5 bintang untuk cinta yang ragu-ragu.

Bahwa kasih sayang beriman pada senyap. (hal.45)