Category Archives: Literary Fiction

Uncommon Type – Tom Hanks

37901431. sy475 Title : Uncommon Type: some stories
Author : Tom Hanks (2017)
Publisher : Alfred A. Knopf
Edition : First edition, third printing, November 2017
Format : Paperback, viii+405 pages

Pada awal kemunculan buku ini, keramaian otomatis muncul karena nama Tom Hanks di situ. Terlebih dalam sebuah buku fiksi. Keramaian agak mulai semakin menarik saat ada banyak pujian, baik dari pembaca, maupun sesama penulis, juga para kritikus. Dan setelah mencoba membaca sendiri, ternyata memang penulisannya mengesankan dan sangat bisa saya nikmati. Yang baru saya ketahui dari bagian about author di belakang, dan mungkin juga tak banyak yang mengetahui, tulisan Tom Hanks pernah beberapa kali dimuat di The New York Times, Vanity Fair,dan The New Yorker.

Membaca buku ini, saya merasa dilempar-lempar dalam lompatan berbagai realitas dan masa. Terkadang batasnya sangat jelas, tetapi tak jarang juga saya kehilangan orientasi tempat dan waktu, sampai disebutkan penanda-penandanya, seperti landmarks tertentu, jenis gawai dan media sosial yang digunakan pada masa itu, atau kejadian sejarah. Namun, di antara hal-hal yang terlihat acak, ada beberapa benang merah yang dijahit dengan manis di antaranya.

Salah satu hal yang cukup menonjol adalah penggunaan mesin tik, yang konon menjadi media penulis untuk membuat buku ini. Selain dengan foto-foto berbagai jenis mesin tik koleksi Hanks di setiap awal cerita, yang diambil dengan berbagai pose yang cantik, mesin tik juga mendapatkan porsi dalam beberapa cerita. Ada saat mesin tik menjadi cameo, yang tidak sekadar ditempelkan, tetapi juga memberi kesan kuat. Dalam kisah These Are the Meditation of My Heart, mesin tik menjadi bagian utama, yang digambarkan dengan romantisme tersendiri. Dimulai dari seorang manusia modern yang tertarik dengan mesin tik murahan yang hampir tidak berfungsi, kemudian membawanya berkenalan dengan mesin-mesin tik lain, dengan berbagai jenis dan merek dari berbagai masa, yang digambarkan sebagai mahakarya dengan kelebihannya masing-masing. Your Evangelista, Esperanza yang ditulis dengan format surat kabar (Our Town Today with Hank Fiset) menceritakan seseorang yang melepaskan diri dari teknologi, dan hidup bahagia dengan mesin tik saja. Sebuah peranti klasik yang memberinya pengalaman yang tak kalah kaya dari gawai-gawai modern.

Empat orang sahabat yang membuka buku dengan kisah Three Exhausting Weeks, secara tak terduga muncul kembali di tengah dan akhir buku, dalam Alan Bean plus Four dan Steve Wong is Perfect. Kisah pertama tampak seperti romansa kontemporer biasa, tanpa ada hal yang menonjol mengenai settingnya. Hingga di kisah kedua, pembaca diajak ke dalam setting futuristik yang sangat kental, yang membuat kita jadi mempertanyakan di tahun berapa keempat sahabat tersebut hidup. Fiksi sains dengan imajinasi liar yang dibumbui dengan humor agak mengingatkan saya pada Hitchhiker’s Guide karya Douglas Adams yang belum lama saya baca. Kemudian di cerita ketiga, kita dikembalikan pada suasana Amerika yang tampaknya normal-normal saja, kali ini dengan karakter yang memiliki kemampuan menakjubkan.

Suasana historis yang mengharukan dari seorang veteran perang dihadirkan dalam Christmas Eve 1953, yang settingnya sudah terlihat dari judulnya. Dengan fokus pada hubungan keluarga, pertemanan, dan trauma. Kisah keluarga muncul juga di Welcome to Mars, A Month on Greene Street, dan A Special Weekend dengan berbagai dinamikanya, perceraian, hubungan orang tua-anak, anak dengan lingkungan, perselingkuhan, dan membuka hati kembali. Suasana masa lalu yang dilatarbelakangi time travel ada di The Past is Important to Us. Lalu latar belakang dunia hiburan, yang tentunya sangat dekat dengan penulis, tak luput diangkat dalam A Junket in the City of Light dan Who’s Who?.

Selain menceritakan orang-orang kulit putih, penulis juga memunculkan karakter-karakter imigran dan etnis lain di Amerika Serikat. Yang paling menonjol tentunya adalah empat orang sahabat yang saya sebut sebelumnya, di mana salah dua di antaranya adalah keturunan Asia dan Afrika. Go See Costas memberikan sudut pandang imigran ilegal dari masa yang lebih lampau (saat Amerika tak seketat sekarang), dari sisi manusiawinya. Beberapa kisah dengan napas ini (termasuk Who’s Who) menunjukkan bahwa Amerika pada umumnya, dan New York pada khususnya, pernah (dan mungkin masih) menjadi simbol pengharapan dan kehidupan yang lebih baik.

Ada sebuah cerita yang disampaikan dalam format drama, tentang industri, pembangunan, dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi bisnis lama yang penuh kisah dan romantika. Stay With Us pada akhirnya memberikan sebuah kesan yang menyejukkan, meski di awal kita diajak dalam perjalanan bersama dua orang yang sangat eksentrik. Our Town Today With Hank Fiset muncul beberapa kali, setelah tiga cerita. Terkadang ada kesan bahwa berita itu berhubungan dengan cerita sebelumnya, tetapi dengan karakter dan detail yang agak berbeda.

Sejujurnya, meski secara keseluruhan saya sangat suka dengan buku ini, beberapa bagian terasa agak berat untuk dibaca, entah karena terlalu banyak detail, alurnya lambat, atau untuk alasan yang saya tidak sadari. Namun, saya tak meragukan bahwa buku debut Tom Hanks cukup berhasil membuat saya memasukkan buku berikutnya (semoga ada) ke dalam daftar bacaan suatu hari nanti.

If I ever run into Al Bean again, I’ll ask him what life has been like for him since he twice crossed the equigravisphere. Does he suffer melancholia on a quiet afternoon, as the world spins on automatic? (p.153)

Empat Aku – Yudhi Herwibowo

46001914. sy475 Judul : Empat Aku: Sekumpulan Kisah
Penulis : Yudhi Herwibowo (2019)
Penerbit : Marjin Kiri
Edisi : Cetakan pertama, Mei 2019
Format : Paperback, vi+165 halaman

Waktu memang telah dipenuhi zat-zat untuk melupakan. Yang baik akan tergerus. Yang buruk akan menggerus. (Empat Aku, hal.31)

Sebuah kumpulan cerita pendek, 14 dari 15 kisah di buku ini pernah dipublikasikan di berbagai media, terutama sekitar tahun 2010-2017. Kebanyakan kisahnya bernuansa realisme magis yang cukup kuat, tetapi hampir kesemuanya adalah cermin dari kehidupan keseharian kita. Secara tema, cerita-cerita dalam buku ini rasanya tak jauh dari kumcer yang pernah kubaca sebelumnya, Mata Air Air Mata Kumari. Namun, sepertinya penulis tak kehabisan ide-ide yang lebih segar.

Dibuka dengan cerpen Kampung Rampok, yang, sebagaimana judulnya, menceritakan sebuah kampung yang dipenuhi dengan orang-orang dengan latar belakang ‘gelap’, sehingga kampung tersebut ditakuti orang-orang luar. Hingga suatu ketika, ada ketakutan lain yang lebih besar muncul. Kisah kedua, Jendela, merupakan salah satu yang paling berkesan. Tentang seorang pelukis di Belanda, yang kurang lebih bernasib sama dengan Vincent Van Gogh—dan mungkin saja penulis terinspirasi darinya. Empat Aku, cerpen yang menjadi judul kumcer ini ditempatkan dalam urutan ketiga. Setelah dimuat di media massa dan sebelum diterbitkan dalam buku ini, kisah ini pernah diceritakan ulang dalam bentuk drama dan diterbitkan dalam kumpulan Laki-Laki Bersayap Patah.

Kisah mengesankan yang lain adalah Malam Mengenang Sang Penyair. Cerita ini merupakan salah satu yang tidak memiliki unsur magis di dalamnya, kisah biasa tentang seluk-beluk kehidupan dan bisnis kepenyairan. Namun, dari kisah yang biasa ini penulis mampu menggambarkan dinamika hubungan dan perasaan manusia yang mungkin pada suatu saat pernah kita alami juga. Tema-tema yang diusung dalam buku ini kebanyakan berhubungan dengan kaum marjinal, dengan konflik yang dekat, sekaligus kerap diabaikan. Michelle, ma belle mengangkat tema kekerasan pada perempuan, Kota yang Ditinggalkan mengisahkan perubahan sosial masyarakat di generasi yang berbeda. Selain masalah sosial, beberapa kisah juga mengangkat isu lingkungan, di antaranya Kisah Kera-kera Besar yang Pergi Menuju Langit dan Jalan Air.

Sayangnya meski buku ini tak terlalu tebal, masih ada beberapa kesalahan ketik yang agak mengganggu. Saya juga menyadari penulis kerap menggunakan kata ‘tetapi’ atau ‘namun’ di tempat yang sebenarnya bisa saja dihapus. Secara keseluruhan, buku ini bisa dinikmati sesuap demi sesuap, atau jika sudah cukup tenggelam di dalamnya, tak menutup kemungkinan dihabiskan dalam sekali duduk. Kita akan dibawa ke berbagai dunia imajiner, sambil sesekali melirik ke dunia kita, mengikuti berbagai kejadian dan peristiwa ajaib maupun yang tak ajaib, lalu memikirkan kembali apa yang telah terjadi.

Tapi sudah menjadi naluri, berita kematian selalu memurukkan kita kepada perasaan sedih. Seakan itu tanda untuk menghapus segala kebencian. (Malam Mengenang Sang Penyair, hal.135)

Kenang-Kenangan Mengejutkan si Beruang Kutub – Claudio Orrego Vicuña

42901124

Title : Las sorprendentes memorias de Baltazar: cuento / Kenang-Kenangan Mengejutkan si Beruang Kutub
Author : Claudio Orrego Vicuña (1974)
Translator : Ronny Agustinus
Publisher : Marjin Kiri
Edition : Cetakan pertama, November 2018
Format : Paperback, x+68 pages

Bolehlah dibilang aku mampu menemukan sejenis kebahagiaan yang orisinil. Bukan kebahagiaan karena melakukan apa yang ingin kulakukan, melainkan yang lebih dalam, yang berasal dari kemampuan untuk memahami mengapa terjadi seperti ini. (p.54)

Apakah kebebasan itu? Bebas berkeliaran di dunia tanpa sekat, di luar jeruji kurungan? Namun, apakah seorang gadis kecil yang telantar, tak ada yang mengurus, tak ada yang memberi makan, bisa disebut bebas? Ataukah beruang kutub yang dicerabut dari alam bebasnya bisa menjadi bebas karena makan minum dan perawatan yang didapatkannya dalam kandang? Apakah manusia-manusia berwajah kelabu yang berlalu lalang di jalan, sibuk dengan pikiran entah apa bisa disebut bebas?

Hal-hal ini yang coba disampaikan Baltazar, beruang kutub yang ditangkap dari dunia serba putih yang dinamis sejak remajanya, tempat es-es arktik selalu berubah tiap hari. Tempat malam-malam panjang dan siang-siang yang membawa makhluk pemburu mereka. Baltazar dibawa menuju dunia penuh warna di sebuah kebun binatang. Di sana dia memandang warna-warni langit yang begitu cepat berubah, matahari yang terbit dan terbenam terasa sekejap saja, serta gunung dan lembah luas yang tak ditemukannya di tempat asalnya. Dia juga melihat manusia, anak-anak yang begitu mirip anak beruang kutub, tetapi kehilangan banyak hal saat dewasanya. Pancaran mata yang berbeda, ketulusan persahabatan yang ditampakkan dari makanan yang dileparkan padanya, maupun isyarat tak terkatakan dan dialog tanpa suara. Dari mata Baltazar, kita diajak melihat hakikat, perangai, dan tabiat manusia dari sudut pandang orang ketiga. Mungkin hal ini yang menjadikan buku kecil ini begitu istimewa, sudut pandang yang ditawarkan, yang tanpa tedeng aling-aling menelanjangi hal yang ragu kita akui.

Saat kita melihat sesuatu dengan sungguh-sungguh, yang mungkin kita lakukan dengan lebih baik saat menjalani hari yang kelihatannya monoton, justru kita menemukan bahwa segala sesuatunya dinamis. Dengan melihat lebih dekat, kita bisa mendeferensiasi dua sisi yang berbeda dari sesuatu yang kelihatannya sama. Kita bisa melihat jauh lebih dalam, dan itulah yang dialami Baltazar hingga dia meraih ‘kebebasannya’.

Tentu hidup ini selalu layak dijalani, terutama bila ia mencakup hak dan kebebasan untuk berpikir. (p.45)

Buku ini tipis saja, tetapi setiap kata dan kalimat di dalamnya memiliki kedalaman dan makna yang begitu penuh serta berlapis-lapis. Satu bagian atau satu kalimat bisa saja dimaknai apa saja, tergantung dari sudut pandang pembacanya. Meski berlatar belakang politik, penulis bisa membuat buku ini tak semata terlihat sebagai sindiran politis. Dengan jalinan kalimat-kalimat yang indah, keluasan kemungkinan interpretasi, buku ini rasanya bisa menjadi sumber Scene on Three yang tiada habisnya. Kredit juga untuk penerjemahnya yang menggubah kata-kata dalam bahasa Indonesia dengan sedemikian indahnya.

Dengan cara itulah aku mengerti bahwa hanya dengan menjadi bebas kau bisa melayani mereka yang tersisih oleh ketidakadilan dari sesama mereka sendiri. (p.22)

Dengan kepolosan mata yang baru terbuka, kemurnian hati yang siap menerima cinta, serta ketulusan belas kasih yang penuh pengertian, si beruang kutub memberikan sebuah kesaksian yang mungkin bertolak belakang dengan hal yang diyakini banyak orang (atau banyak beruang kutub). Ada hal-hal yang hanya bisa dipahami oleh pikiran yang terbuka, tanpa prasangka dan dendam. Seperti anak-anak lugu yang berhenti di depan kandang Baltazar, entah sekadar mengagumi atau memberanikan diri menyapa, melemparkan makanan yang mereka punya. Dengan mengetahui hal-hal yang tidak diketahui banyak orang, kita menjadi bebas. Jiwa tak bisa dikekang oleh kekuatan sebatas kulit luar yang mengurung raga.

Perjalanan bersama Baltazar ini begitu menyenangkan jiwa. Membaca buku ini serasa diajak berselancar dengan kata dan pengalaman yang menghangatkan sekaligus menyedihkan. Dan tentu saja, ada kenang-kenangan si beruang kutub yang akan mengejutkan pembaca.

Karena keheningan adalah suara kebaikan, tak diragukan lagi bahwa kebaikan berlangsung diam-diam di setiap sudut dunia manusia. (p.45)

Gentayangan – Intan Paramaditha

35702080Judul : Gentayangan: pilih sendiri petualangan sepatu merahmu
Penulis : Intan Paramaditha (2017)
Penyelia naskah : Mirna Yulistianti
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Edisi : Cetakan pertama, Oktober 2017
Format : Paperback, 492 halaman

Cerita mengutukmu saat kau tahu tak ada apa pun yang bisa kau ubah setelah mendengarnya. (hal. 271)

Kau terikat perjanjian dengan Iblis Kekasih. Dia memberimu sepatu merah yang akan membawamu bertualang tanpa henti. Kau, seorang guru bahasa Inggris yang tak pernah pergi ke negara berbahasa Inggris. Kau yang merasa bosan setengah mati dengan hidup yang kaujalani lebih dari seperempat abad. Kau yang merasa belum mencapai apa pun dalam hidupmu. Kini, sepatu merah membebaskanmu sekaligus mengutukmu. Sepatu Iblis yang terkutuk, tapi kau selalu punya pilihan.

Pilihan adalah salah satu kekuatan buku ini. Jalan yang kau pilih akan menentukan bagaimana hidupmu selanjutnya, bagaimana akhir dari perjalananmu (jika ada akhirnya), dan apakah kau akan meraih kebahagiaan—atau apa pun yang kau inginkan—sebagai konsekuensi dari pilihan ini. Hal ini membuat buku ini terasa dekat dengan kehidupan. Dalam hidup, kita selalu berhadapan dengan pilihan dan segala konsekuensinya. Bedanya, dalam kehidupan tak ada jalan memutar.

Pilihan. Saat sepatu merahmu hilang sebelah, apa yang akan kaulakukan, kembali untuk mencarinya, atau meneruskan perjalananmu? Sepatu yang begitu berharga karena membawamu jalan-jalan, atau justru karena dia sepatu Iblis, kau yakin dia akan kembali sendiri. Saat kau bertemu seseorang yang membuatmu nyaman, apakah kau akan dengan rela hati meninggalkan hidup penuh petualangan yang sedang kaunikmati? Apakah kau rela berpisah dengan sepatu merahmu saat melihat ada orang lain yang memerlukan kebebasan, sebagaimana yang kaudapatkan beberapa saat sebelumnya? Apakah kau memilih jalan yang sudah pasti di depan matamu, atau kau akan merawat fantasi dan harapan semu akan sesuatu yang lain?

Penulis fiksi ternyata benar-benar iseng, kalau bukan keji. Mereka bekerja keras menciptakan labirin, mencari orang-orang patuh untuk disesatkan di dalamnya, menikmati penderitaan korban sambil minum kopi dan makan donat. (hal. 319)

Sebuah buku yang mengandung belasan atau puluhan kemungkinan ini, memberikan kita kesempatan menjalani hidup dengan berbagai peluang dan jalan kembali. Di sini, waktu bisa diputar. Jika kita menyesali pilihan yang kita ambil sebelumnya, kita bisa kembali dan mengambil jalan lain, lalu bertemu dengan akhir yang lebih baik. Jika akhir yang kita dapatkan sudah baik, tapi membosankan, kita bisa berandai-andai, bagaimana jika kita memilih jalan yang (mungkin) kurang baik, tapi lebih seru. Atau kembali untuk sekadar memuaskan rasa penasaran tentang “Bagaimana jika aku tadi memilih jalan yang lain?” Sebuah pertanyaan yang mustahil terjawab dalam kehidupan nyata.

Meski begitu, sebagaimana hidup, ada kalanya jalan yang kita lalui tak menyisakan pilihan. Kita dipaksa untuk maju terus, meski mendamba pilihan yang lain. Atau saat kita merasa sudah memilih jalan yang lebih baik, ternyata akhirnya sama saja, tetap di jalan yang sama dengan pilihan sebelumnya. Keputusan yang berbeda bisa saja membawa kita pada akhir yang sama. Kita bisa menyebutnya takdir, atau kau boleh juga mengatakan itu kutukan sepatu merah.

Maafkan kesewenang-wenangan cerita ini, tapi kau tahu bahwa terkadang hidup mencabut semua pilihan. Memilih adalah sebuah kemewahan. (hal. 286)

Buku ini juga berbicara mengenai budaya dan geografi dengan cukup fasih. Mulai dari Indonesia, terutama dari sudut pandang kau (sang karakter utama), yang digambarkan sebagai pemeluk agama mayoritas, tapi tak menjalankan nilai agama sepenuhnya, Amerika Serikat di mata para imigran, serta Belanda dan Jerman dengan sejarah-sejarahnya. Tak hanya itu, aroma fiksi ilmiah, dongeng, legenda, dan misteri akan muncul dalam beberapa pilihan yang kita ambil. Pengalaman penulis mengunjungi dan tinggal di berbagai negara menghasilkan deskripsi yang sangat detail, seolah kita benar-benar berada di tempat itu, merasakan sendiri perjalanan dengan semua indra terbuka. Kritik sosial mau tak mau akan timbul di sana-sini. Dengan kejujuran yang terkadang mengejutkan, penulis tak ragu mengangkat isu sensitif yang terjadi saat ini, maupun yang sudah berlalu, seperti tragedi 1998 dan 1965.

Salah satu hal yang menggelitik adalah bagaimana penulis membuat tafsirannya sendiri atas dongeng dan legenda yang sudah terkenal. Seperti Dorothy dalam The Wizard of Oz yang tak sepolos bayangan kita saat membaca/menonton cerita anak-anak tersebut, juga motif tak-terlalu-durhaka dari sikap Malin Kundang sebelum dikutuk menjadi batu. Perubahan ini membuatnya semakin dekat dengan sebagian besar dari kita, karena tak ada manusia biasa yang benar-benar suci, dan tak ada yang murni keji.

Kau lihat? Betapa sulitnya bicara tentang akar, tanah, dan ikrar setia bila nenek moyangmu seorang pelaut.
Ambillah sauh dan pilih sendiri pengkhianatanmu.
(hal. 28)

Membaca buku ini tentu tak akan menghasilkan pengalaman yang lengkap jika belum menelusuri semua pilihannya. Sehingga ada baiknya saat membaca, kita buat peta sederhana yang mudah diikuti sebagai pemandu jalan agar tidak tersesat saat ingin kembali. Saat membaca buku ini, awalnya saya memilih pilihan pertama dari setiap pilihan yang tersedia hingga tamat. Lalu saya kembali satu langkah, untuk memilih jalan berikutnya, begitu seterusnya. Karena kebetulan pilihan pertama memiliki cabang yang terbanyak, dan pada titik tertentu kita diajak menelusuri hal yang itu-itu saja, muncul rasa bosan. Pada titik jenuh itu, saya meninggalkan pilihan-pilihan yang (kelihatannya) tinggal sedikit, dan memutari jalan yang benar-benar berbeda. Sebenarnya ada untungnya juga mengambil jalan yang urut, karena kita tidak lupa dengan detail kejadian sebelumnya, terutama pada kisah yang panjang dan banyak jalan bercabangnya. Namun, ada kalanya juga jalan memutar yang kita rasa sudah jauh ternyata membawa kita ke peristiwa yang sama. Kalaupun menginginkan perjalanan spontan yang tak direncanakan, buku ini juga bisa dinikmati per satu jalur saja hingga menemukan kata tamat. Lalu lupakan semuanya, dan kembali ke awal lagi, menikmati perjalanan yang jauh berbeda, atau begitu mirip. Intinya, pilih sendiri petualanganmu!

Selain dinikmati sebagai beragam petualangan, secara umum, ada beberapa ide besar yang faktanya terserak di antara petualangan yang banyak itu. Awalnya detail tersebut bisa tampak sebagai pemanis cerita saja, tetapi, saat sudah menemukan tiga, lima, atau sepuluh petunjuk ke hal yang sama, rasanya tak sulit menarik satu benang merah yang menampilkan sebuah kisah sendiri. Terutama tentang asal-usul sepatu merah dan pemilik sebelumnya.

Kau menimang-nimang sepatu merah di pangkuanmu. Ia terlihat lelah namun haus perjalanan, sama sepertimu. Kau selalu mengira petualangan memaksamu menoleh ke belakang, tapi barangkali ia juga sebuah lingkaran—lingkaran setan, tepatnya—terus-menerus, tak putus; kau akan melewati jalan yang sama dan jatuh di lubang yang sama, seperti déjà vu konstan, tapi mungkin, sekali waktu, kau akan beruntung. (hal. 475)

Meski Iblis Kekasih mengatakan tak ada jalan pulang setelah sepatu merah ini, nyatanya buku ini menyuguhkan beberapa definisi untuk pulang. Saya rasa, dengan atau tanpa sepatu merah pun, perjalanan tak akan membawa kita ke ujung yang sama. Segala peristiwa dan kejadian akan mengubah kita, mengubah cara pandang kita akan sesuatu, mengubah cara pandang orang lain tentang kita, begitu pula semua orang di sekitar kita maupun yang kita tinggalkan akan berubah. Pulang tak akan pernah sama. Kau hanya perlu memilih, harga yang menurutmu sepadan.

Kini kau paham mengapa buat mereka yang pergi sekian lama, atau terlalu lama, pulang butuh keberanian. (hal. 428)

Cewek baik masuk surga, cewek bandel gentayangan.

Yang Fana Adalah Waktu – Sapardi Djoko Damono

38802594Judul : Yang Fana Adalah Waktu (Trilogi Hujan Bulan Juni #3)
Penulis : Sapardi Djoko Damono
Penyelia naskah : Mirna Yulistianti
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Edisi : Cetakan pertama, Maret 2018
Format : Paperback, 146 halaman

Ketika sebuah kisah mendekati akhir, ada saja kisah baru yang muncul menggantikannya…. (hal.130)

Kelanjutan kisah Sarwono dan Pingkan masih menggantung seperti sejak awal di novel Hujan Bulan Juni, dan masih ada jarak Kyoto dan Solo/Jakarta terlepas setelah Pingkan Melipat Jarak sebelumnya. Sarwono yang sedang menjalani masa penyembuhan kembali saling bersurel dengan Pingkan yang melanjutkan studinya di Jepang, yang otomatis membawa Katsuo kembali di antara mereka. Cinta dua sejoli itu tak terganggu sama sekali, terlepas dari apa yang sudah terjadi, tapi jarak dan waktulah yang bermasalah. Sementara itu, pasangan Bapak dan Ibu Hadi beserta—yang selalu mereka sebut calon besan—Ibu Pelenkahu tampak masih berkasak-kusuk perihal hubungan kedua anak mereka.

Hubungan antara Pingkan dan Katsuo semakin asing ketika pria Jepang itu menyeret Pingkan ke Okinawa, kampung halamannya, untuk menemui Noriko, gadis yatim piatu yang dijodohkan ibu Katsuo untuk anaknya. Katsuo ingin meyakinkan gadis itu, bahwa tak ada hubungan spesial antara dirinya dengan Pingkan. Hal yang tampaknya agak diada-adakan, karena, tentu saja, Katsuo sejak mula tidak menganggapnya demikian. Tak disangka, perkenalan kedua perempuan dalam hidup Katsuo membawa arah baru dalam kehidupan dan jalinan hubungan mereka.

Sebermula adalah seutas benang seutas saja yang ujung dan pangkalnya jelas yang kelokan-kelokannya jelas yang warna putihnya jelas yang tegang lenturnya jelas yang terhubung dengan sosok yang jelas yang kemudian ya ya yang kemudian ya ya yang kemudian entah kenapa ketika ditarik agar ujung-ujungnya bersatu malah memanjang dan semakin panjang dan jadi lentur dan entah kenapa tersangkut…. (hal.111)

Di buku ketiga ini, ikatan Sarwono dan Pingkan semakin diperjelas melalui kisah orang-orang di sekitar mereka. Dua sejoli ini semakin rapat, terlepas dari angin yang menerpa mereka, yang membawa masa lalu melalui kisah-kisah mereka. Salah satunya adalah perihal keasingan, atau identitas sebagai liyan, yang pada zaman modern ini tak bisa lagi dihindari. Perkawinan antar suku, bahkan antar negara sudah menjadi hal biasa, sehingga adat yang kuno harus terkalahkan oleh cinta yang menggebu, di mana pun itu. Hadirnya Noriko di tengah-tengah mereka memperjelas bahwa keasingan bisa dilawan dengan cinta, karena cinta menimbulkan usaha untuk mendekatkan, untuk melipat jarak.

Ping, kita ini ternyata sekadar tokoh dongeng yang mengikuti pakem purba seperti yang berlaku dalam segala jenis dongeng dan tontonan Jawa. (hal.86)

Mereka sepenuhnya percaya bahwa dongeng diciptakan sebagai jawaban untuk pertanyaan yang tak akan ada habisnya…. (hal.139)

Membaca buku ketiga dalam trilogi ini pada waktu yang cukup jauh dari buku sebelumnya relatif sulit, karena ada beberapa detail yang berhubungan. Meski tidak utama, rasanya membaca ketiga buku ini kembali dalam waktu yang berturutan akan memberi sensasi yang berbeda. Terutama tarik-ulur hubungan Pingkan dengan Sarwono yang (mungkin) akan mencapai titik akhir di sini.

Sebagaimana kedua novel sebelumnya, dalam buku ini, penulis masih berakrobat dengan menampilkan narasi, epistolary, dan stream of consciousness secara bergantian. Ada satu titik saya merasa trilogi ini sesungguhnya tidak perlu menjadi trilogi, tetapi menjelang akhir saya memahami, bahwa sejak awal, buku ini bukan sekadar ingin menyampaikan kisahnya, ada hal yang lebih dalam di balik itu. Terlebih dengan adanya berbagai gurauan dan sindiran sosial dan filosofis, yang terselip dalam percakapan Pingkan dengan Sarwono, menjadikan lingkup kisah ini meluas, sehingga menjadi terhubung dengan kehidupan kita saat ini. Secara keseluruhan, membaca buku ini seperti membaca puisi, yang perlu kita reguk saripatinya dan mengabaikan beberapa kalimat yang tampak tak berarti, tapi berarti, tapi sulit dipahami seutuhnya.

Apakah aku boleh tidak paham, Ping?

Boleh, Sar, toh paham atau tidak paham tidak ada bedanya.

(hal.140)

Ada satu hal yang mengganjal dalam buku ini, disebutkan saat Pingkan yang masih SMP ditegur kakaknya agar berkirim WA atau surel saja dengan Sarwono, sedangkan saat ini dia telah menjadi dosen, twitter masih menampung hanya 140 karakter. Lubang waktu itu tak terlalu penting jika dilihat dalam lingkup Yang Fana Adalah Waktu ini, tapi cukup mengganggu. Di luar itu, penulis—yang bisa dikatakan berasal dari generasi lampau—berusaha betul-betul untuk memasukkan unsur kekinian dalam novelnya, bahkan jauh lebih tega dan lebih berani ketimbang penulis yang lebih muda dalam genre yang serupa. Saya rasa hal ini mengukuhkan sikap beliau terhadap unsur kebaruan dalam karya sastra.

Kisah ini pun akhirnya ditutup dengan manis dan apik, semanis gula-gula yang mewujud lapisan-lapisan awan. 4/5 bintang untuk babak akhir pertunjukan karya sastra ala Pak Sapardi.

Katamu kenangan itu fosil, gak bisa diapa-apakan.

Tapi yang ini bisa.

(hal.95)