Category Archives: Magical Realism

Empat Aku – Yudhi Herwibowo

46001914. sy475 Judul : Empat Aku: Sekumpulan Kisah
Penulis : Yudhi Herwibowo (2019)
Penerbit : Marjin Kiri
Edisi : Cetakan pertama, Mei 2019
Format : Paperback, vi+165 halaman

Waktu memang telah dipenuhi zat-zat untuk melupakan. Yang baik akan tergerus. Yang buruk akan menggerus. (Empat Aku, hal.31)

Sebuah kumpulan cerita pendek, 14 dari 15 kisah di buku ini pernah dipublikasikan di berbagai media, terutama sekitar tahun 2010-2017. Kebanyakan kisahnya bernuansa realisme magis yang cukup kuat, tetapi hampir kesemuanya adalah cermin dari kehidupan keseharian kita. Secara tema, cerita-cerita dalam buku ini rasanya tak jauh dari kumcer yang pernah kubaca sebelumnya, Mata Air Air Mata Kumari. Namun, sepertinya penulis tak kehabisan ide-ide yang lebih segar.

Dibuka dengan cerpen Kampung Rampok, yang, sebagaimana judulnya, menceritakan sebuah kampung yang dipenuhi dengan orang-orang dengan latar belakang ‘gelap’, sehingga kampung tersebut ditakuti orang-orang luar. Hingga suatu ketika, ada ketakutan lain yang lebih besar muncul. Kisah kedua, Jendela, merupakan salah satu yang paling berkesan. Tentang seorang pelukis di Belanda, yang kurang lebih bernasib sama dengan Vincent Van Gogh—dan mungkin saja penulis terinspirasi darinya. Empat Aku, cerpen yang menjadi judul kumcer ini ditempatkan dalam urutan ketiga. Setelah dimuat di media massa dan sebelum diterbitkan dalam buku ini, kisah ini pernah diceritakan ulang dalam bentuk drama dan diterbitkan dalam kumpulan Laki-Laki Bersayap Patah.

Kisah mengesankan yang lain adalah Malam Mengenang Sang Penyair. Cerita ini merupakan salah satu yang tidak memiliki unsur magis di dalamnya, kisah biasa tentang seluk-beluk kehidupan dan bisnis kepenyairan. Namun, dari kisah yang biasa ini penulis mampu menggambarkan dinamika hubungan dan perasaan manusia yang mungkin pada suatu saat pernah kita alami juga. Tema-tema yang diusung dalam buku ini kebanyakan berhubungan dengan kaum marjinal, dengan konflik yang dekat, sekaligus kerap diabaikan. Michelle, ma belle mengangkat tema kekerasan pada perempuan, Kota yang Ditinggalkan mengisahkan perubahan sosial masyarakat di generasi yang berbeda. Selain masalah sosial, beberapa kisah juga mengangkat isu lingkungan, di antaranya Kisah Kera-kera Besar yang Pergi Menuju Langit dan Jalan Air.

Sayangnya meski buku ini tak terlalu tebal, masih ada beberapa kesalahan ketik yang agak mengganggu. Saya juga menyadari penulis kerap menggunakan kata ‘tetapi’ atau ‘namun’ di tempat yang sebenarnya bisa saja dihapus. Secara keseluruhan, buku ini bisa dinikmati sesuap demi sesuap, atau jika sudah cukup tenggelam di dalamnya, tak menutup kemungkinan dihabiskan dalam sekali duduk. Kita akan dibawa ke berbagai dunia imajiner, sambil sesekali melirik ke dunia kita, mengikuti berbagai kejadian dan peristiwa ajaib maupun yang tak ajaib, lalu memikirkan kembali apa yang telah terjadi.

Tapi sudah menjadi naluri, berita kematian selalu memurukkan kita kepada perasaan sedih. Seakan itu tanda untuk menghapus segala kebencian. (Malam Mengenang Sang Penyair, hal.135)

Advertisements

Mini Reviews : Children – Young Adult

22608982The Carpet People / Terry Pratchett (author & illustrator) (1971) / Houghton Mifflin Harcourt / First U.S. edition, 2013 / Paperback, 294 pages

Buku ini merupakan karya pertama Pratchett yang diterbitkan. Diawali dari cerita bersambung mingguan yang dikirim ke kalangan tertentu, kemudian dikembangkan menjadi novel, dan diterbitkan. Seiring dengan pendewasaan penulis, maka buku ini mengalami beberapa perbaikan dan penyesuaian, ditambah ilustrasi karya penulis sendiri. Pada edisi ini ada tambahan halaman ilustrasi berwarnanya, serta tambahan versi awal yang terbit setiap pekan. Buku ini berhasil meneguhkan bahwa penulis sangat lihai membangun sebuah dunia yang sama sekali baru, dengan aturannya sendiri, serta begitu solid, sehingga seringkali sulit dibayangkan.

I wrote that in the days when I thought fantasy was all battles and kings. Now I’m inclined to think that the real concerns of fantasy ought to be about not having battles, and doing without kings.

Dunia yang disebut Carpet ini ditinggali oleh suku bangsa yang berbeda-beda, di wilayah yang berbeda pula karakteristiknya. Sehingga seseorang bisa dengan mudah mengetahui bahwa dia sudah masuk ke wilayah bangsa lain ketika dilihatnya warna tanah dan langit berubah, bentuk dan kerapatan pohon (yang disebut sebagai Hair) berbeda. Karakter utama dalam buku ini berasal dari golongan Munrungs, yang harus meninggalkan tanahnya karena diserang oleh sesuatu yang menakutkan, yang saat itu belum bisa mereka identifikasi dengan benar. Dalam perjalanan, mereka masuk ke wilayah lain, bertemu dengan bangsa-bangsa lain, yang kemudian saling bersekutu untuk melawan musuh bersama.

“Nothing has to happen. History isn’t something you live. It is something you make. ….” (p.162)

You don’t have to accept it; you can change what’s going to happen. (p.252)

Suku bangsa yang berbeda ini memiliki sifat dan kebiasaan yang berbeda, yang menjadikan toleransi dan saling melengkapi menjadi salah satu nilai dari buku ini. Buku ini cukup potensial untuk dikupas lebih dalam lagi. Dan dengan humor yang apik di sana-sini, tampaknya tak akan membosankan untuk dikunjungi kembali.

“…. He said we didn’t need a lot of old books, we knew all we needed to know. I was just trying to make the point that a civilization needs books if there’s going to be a reasoned and well-informed exchange of views.” (p.206)

 

288676The Broken Bridge / Philip Pullman (1990) / First Dell Laurel-Leaf edition, September 2001, 7th printing / Mass market paperback, 220 pages

Ginny dilahirkan dari ayah kulit putih dan ibu yang berkulit gelap. Namun, dia hidup hanya dengan ayahnya saja, yang membuatnya semakin merasa terasing akibat perbedaan warna kulit. Ginny senang menggambar dan melukis, bakat yang menurut ayahnya didapatkan dari ibunya. Ginny semakin nyaman dengan ini, karena dia merasa tak asing lagi, karena dia sama dengan ibunya.

Di usia remajanya, Ginny berambisi untuk mencari keluarga dari pihak ibunya. Namun, berbagai hal terjadi silih berganti, mulai dari pekerja sosial yang bolak-balik menanyainya, yang membuka kebenaran yang selama ini tersembunyi. Ginny usia 16 tahun harus menghadapi kenyataan mendadak mengenai hidupnya yang ternyata dipenuhi kebohongan. Perlahan tapi pasti semuanya terkuak, dan semakin dia mencari, semakin dalam dia terjebak dalam kebohongan-kebohongan tersebut. Kemudian, titik terang muncul ketika dia mulai berpikir jernih dan menerima kenyataan, menerima apa adanya.

Cerita tentang pencarian diri, identitas, dan asal mula. Tidak hanya membahas mengenai keluarga, buku ini juga menceritakan gejolak remaja terkait pertemanan, seksualitas, serta isu terkait diskriminasi dan kriminalitas. Semakin masuk ke belakang, kisah terasa semakin dalam dan kuat, hingga sampai ke akhir yang sangat memuaskan. Sebuah kisah keluarga yang begitu pelik dan penuh emosi.

I can see in the dark. I can’t see so well in the daylight, can’t see the obvious thing …. I can understand mysteries. Like the broken bridge. (p.121)

 

Seesaw Girl / Linda Sue Park (1999) / Illustrated by Jean and Mou-sien Tseng / Sandpiper, an imprint of Houghton Mifflin Harcourt / Paperback, 90 pages

7153349Korea di abad ke-17 masih sangat tertutup dari dunia luar. Mereka hidup dengan cara mereka sendiri. Pada masa itu, wanita kelas atas tidak diperbolehkan keluar dari rumah, kecuali saat mereka menikah, kemudian mereka masuk ke rumah keluarga suami mereka, dan tidak diperbolehkan keluar kembali. Hidup mereka di dalam dinding berkisar seputar pekerjaan rumah tangga. Wanita bahkan tidak mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan.

Sebagai perempuan dari keluarga terpandang, Jade Blossom pun harus selalu berada di rumah untuk menjaga kehormatan diri dan keluarganya. Sejak pernikahan Graceful Willow—bibi yang usianya tak terpaut jauh dengannya, Jade merasa kesepian karena tak ada lagi teman perempuan yang sebayanya. Dia pun bertekad untuk mendatangi Willow di rumah suaminya, meski harus melanggar peraturan secara diam-diam. Rencana dijalankan, tetapi banyak hal mengenai dunia luar yang tak diantisipasi oleh Jade. Sekilas pandangan akan dunia luar membuat rasa keingintahuan Jade remaja tergelitik. Dia melakukan apa yang tidak boleh dilakukan, dan melihat apa yang tidak seharusnya dia lihat. Pemandangan itu semakin membuat Jade ingin tahu lebih dalam lagi, sehingga dia belajar dan melakukan hal yang tak wajar dilakukan oleh perempuan di masa itu.

The path to wisdom lies not in certainty, but in trying to understand. (p.66)

Buku ini kecil, tetapi membawa pesan yang sangat kuat. Karakter dalam buku ini tidak digambarkan sebagai tokoh revolusioner yang akan mengubah Korea, tetapi kesan akan adanya perubahan disampaikan melalui cara yang lain. Sebuah kisah sederhana yang terasa jauh dari kita yang sudah terbiasa hidup dalam kebebasan, tetapi begitu dekat karena deskripsi yang kuat dari penulis. Hal yang mengganjal bagi saya adalah nama-nama yang dipilih dalam buku ini bukan nama Korea, entah karena sasaran pembacanya atau apa, tetapi justru membuat suasana Koreanya sedikit terganggu. Apalagi menjadi tidak cocok karena saat itu Korea masih terisolasi dari dunia luar.

 

A Golden Web / Barbara Quick (2010) / Translated to Indonesian by Maria M. Lubis / Penerbit Atria / Cetakan I, Maret 2011 / Paperback, 272 pages

“Aku tidak mau dilupakan.”
“Kau tidak akan dilupakan, Alessandra Giliani!”
(p.260)

10588138Kisah ini terinspirasi dari ahli anatomi pertama yang pernah tinggal di Bologna, sekitar abad ke-14. Pada saat itu, tempat wanita adalah di rumah, saat waktunya tiba, mereka harus siap menjadi istri dan melahirkan anak, atau—pilihan lainnya adalah menjadi biarawati. Tidak ada pilihan untuk belajar maupun bekerja. Alessandra Giliani bisa dikatakan mendobrak aturan sosial pada saat itu. Hingga—mungkin—bukti dan dokumen tentangnya sempat dimusnahkan, dan tersisa sedikit sejarah tentangnya. Dari sedikit yang ada itu, penulis menyusun sebuah fiksi sejarah, dengan sebagian besar kisah keluarganya direka oleh penulis.

Sejak kecil, Alessandra hidup dikelilingi buku-buku, karena ayahnya bekerja menyalin buku-buku untuk dijual kembali (saat itu belum ada percetakan, semua dikerjakan secara manual). Alessandra yang punya rasa ingin tahu besar, ditambah cintanya pada ibunya yang meninggal saat melahirkan adik bungsunya, mulai tertarik pada ilmu manusia. Hal ini membawanya ke Bologna, menyamar menjadi laki-laki demi masuk ke sekolah kedokteran.

Semangat belajar dan tekad Alessandra yang sulit dipatahkan, serta dukungan dari orang-orang di sekitarnya begitu mengharukan. Suasana yang digambarkan penulis memberikan bayangan yang cukup mengenai kondisi sosial masyarakat pada zaman itu. Betapa menjadi perempuan yang cerdas adalah sebuah aib yang harus ditutupi. Dan betapa tidak beruntungnya, saat hidup mereka hanya dinilai sebatas peran sebagai penyetak bayi, tanpa hak untuk mendapatkan kehidupan yang mereka kehendaki, bahkan tanpa jaminan keselamatan dalam ‘tugas’ yang diembannya.

Menurut saya, alurnya agak terlalu lambat di awal dan terlalu cepat di akhir. Justru cerita tentang proses belajarnya lebih menarik untuk diperpanjang, hingga setara dengan latar belakang sosial masyarakat yang sudah digambarkan panjang di awal.

 

18060916Liesl & Po / Lauren Oliver (2011) / Illustrated by  Kei Acedera (2011) / Translated to Indonesian by Prisca Primasari / Penerbit Mizan / Cetakan I, April 2013 / Paperback, 319 pages

Saat sedang ketakutan, orang-orang tak selalu melakukan hal yang benar. Mereka berpaling. Menutup mata. (p.103)

Liesl dikurung di loteng oleh ibu tirinya, berbulan-bulan sejak ayahnya sakit hingga meninggal dunia. Liesl dengan sabar menerima perlakuan itu, meski dalam hati dia sangat merindukan ayahnya, serta pohon willow tempat mereka menguburkan ibunya, dekat tempat tinggal mereka yang dulu. Suatu malam, sesosok hantu bernama Po dengan anjing/kucing hantu bernama Bundle mengunjunginya dari Dunia Lain. Tak ada yang memahami kenapa Po bisa menembus hingga ke tempat Liesl. Dengan imbalan gambar Liesl, Po bersedia membantu gadis itu mencari ayahnya di Dunia Lain, meski normalnya hal tersebut mustahil.

Di sisi lain, ada Will, murid sang alkemis, yang mengagumi Liesl sejak pertama dia melihatnya melalui jendela loteng tempatnya dikurung. Will yang dipaksa bekerja keras oleh sang alkemis tanpa imbalan yang setimpal, melakukan sebuah kesalahan yang membuatnya mendapat masalah besar, dia pun lari sejauh-jauhnya.

Itulah masalah lain orang hidup: Mereka terpisah, selalu terpisah. Mereka tak pernah benar-benar membaur. Mereka tak tahu bagaimana menjadi seseorang selain diri mereka sendiri; kadang mereka bahkan tak tahu bagaimana caranya menjadi diri sendiri. (p.99)

Berbagai kejadian dan rencana secara tak terduga mempertemukan semua karakter dalam buku ini. Karakter baik dan jahat, masing-masing memiliki kisahnya sendiri, yang berhubungan satu sama lain, membentuk jalinan cerita yang bermuara pada cinta—cinta antar anggota keluarga, teman, dunia, dan sesama manusia, juga sesama makhluk hidup. Walau menyimpan banyak kejutan, kisah ini menyimpan banyak sekali kebetulan dan penyelesaian yang mudah, terlalu mudah bahkan. Meski demikian, setiap karakter menampakkan peran yang kuat.

Dan sungguh, inilah inti dari segalanya, karena jika kau tak percaya bahwa hati bisa mengembang secara tiba-tiba, dan cinta bisa merekah layaknya bunga bahkan di tempat yang paling keras, aku takut kau akan mendapati jalan yang panjang, gersang, dan tandus, dan kau akan kesulitan menemukan cahaya. (p.315)

Gentayangan – Intan Paramaditha

35702080Judul : Gentayangan: pilih sendiri petualangan sepatu merahmu
Penulis : Intan Paramaditha (2017)
Penyelia naskah : Mirna Yulistianti
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Edisi : Cetakan pertama, Oktober 2017
Format : Paperback, 492 halaman

Cerita mengutukmu saat kau tahu tak ada apa pun yang bisa kau ubah setelah mendengarnya. (hal. 271)

Kau terikat perjanjian dengan Iblis Kekasih. Dia memberimu sepatu merah yang akan membawamu bertualang tanpa henti. Kau, seorang guru bahasa Inggris yang tak pernah pergi ke negara berbahasa Inggris. Kau yang merasa bosan setengah mati dengan hidup yang kaujalani lebih dari seperempat abad. Kau yang merasa belum mencapai apa pun dalam hidupmu. Kini, sepatu merah membebaskanmu sekaligus mengutukmu. Sepatu Iblis yang terkutuk, tapi kau selalu punya pilihan.

Pilihan adalah salah satu kekuatan buku ini. Jalan yang kau pilih akan menentukan bagaimana hidupmu selanjutnya, bagaimana akhir dari perjalananmu (jika ada akhirnya), dan apakah kau akan meraih kebahagiaan—atau apa pun yang kau inginkan—sebagai konsekuensi dari pilihan ini. Hal ini membuat buku ini terasa dekat dengan kehidupan. Dalam hidup, kita selalu berhadapan dengan pilihan dan segala konsekuensinya. Bedanya, dalam kehidupan tak ada jalan memutar.

Pilihan. Saat sepatu merahmu hilang sebelah, apa yang akan kaulakukan, kembali untuk mencarinya, atau meneruskan perjalananmu? Sepatu yang begitu berharga karena membawamu jalan-jalan, atau justru karena dia sepatu Iblis, kau yakin dia akan kembali sendiri. Saat kau bertemu seseorang yang membuatmu nyaman, apakah kau akan dengan rela hati meninggalkan hidup penuh petualangan yang sedang kaunikmati? Apakah kau rela berpisah dengan sepatu merahmu saat melihat ada orang lain yang memerlukan kebebasan, sebagaimana yang kaudapatkan beberapa saat sebelumnya? Apakah kau memilih jalan yang sudah pasti di depan matamu, atau kau akan merawat fantasi dan harapan semu akan sesuatu yang lain?

Penulis fiksi ternyata benar-benar iseng, kalau bukan keji. Mereka bekerja keras menciptakan labirin, mencari orang-orang patuh untuk disesatkan di dalamnya, menikmati penderitaan korban sambil minum kopi dan makan donat. (hal. 319)

Sebuah buku yang mengandung belasan atau puluhan kemungkinan ini, memberikan kita kesempatan menjalani hidup dengan berbagai peluang dan jalan kembali. Di sini, waktu bisa diputar. Jika kita menyesali pilihan yang kita ambil sebelumnya, kita bisa kembali dan mengambil jalan lain, lalu bertemu dengan akhir yang lebih baik. Jika akhir yang kita dapatkan sudah baik, tapi membosankan, kita bisa berandai-andai, bagaimana jika kita memilih jalan yang (mungkin) kurang baik, tapi lebih seru. Atau kembali untuk sekadar memuaskan rasa penasaran tentang “Bagaimana jika aku tadi memilih jalan yang lain?” Sebuah pertanyaan yang mustahil terjawab dalam kehidupan nyata.

Meski begitu, sebagaimana hidup, ada kalanya jalan yang kita lalui tak menyisakan pilihan. Kita dipaksa untuk maju terus, meski mendamba pilihan yang lain. Atau saat kita merasa sudah memilih jalan yang lebih baik, ternyata akhirnya sama saja, tetap di jalan yang sama dengan pilihan sebelumnya. Keputusan yang berbeda bisa saja membawa kita pada akhir yang sama. Kita bisa menyebutnya takdir, atau kau boleh juga mengatakan itu kutukan sepatu merah.

Maafkan kesewenang-wenangan cerita ini, tapi kau tahu bahwa terkadang hidup mencabut semua pilihan. Memilih adalah sebuah kemewahan. (hal. 286)

Buku ini juga berbicara mengenai budaya dan geografi dengan cukup fasih. Mulai dari Indonesia, terutama dari sudut pandang kau (sang karakter utama), yang digambarkan sebagai pemeluk agama mayoritas, tapi tak menjalankan nilai agama sepenuhnya, Amerika Serikat di mata para imigran, serta Belanda dan Jerman dengan sejarah-sejarahnya. Tak hanya itu, aroma fiksi ilmiah, dongeng, legenda, dan misteri akan muncul dalam beberapa pilihan yang kita ambil. Pengalaman penulis mengunjungi dan tinggal di berbagai negara menghasilkan deskripsi yang sangat detail, seolah kita benar-benar berada di tempat itu, merasakan sendiri perjalanan dengan semua indra terbuka. Kritik sosial mau tak mau akan timbul di sana-sini. Dengan kejujuran yang terkadang mengejutkan, penulis tak ragu mengangkat isu sensitif yang terjadi saat ini, maupun yang sudah berlalu, seperti tragedi 1998 dan 1965.

Salah satu hal yang menggelitik adalah bagaimana penulis membuat tafsirannya sendiri atas dongeng dan legenda yang sudah terkenal. Seperti Dorothy dalam The Wizard of Oz yang tak sepolos bayangan kita saat membaca/menonton cerita anak-anak tersebut, juga motif tak-terlalu-durhaka dari sikap Malin Kundang sebelum dikutuk menjadi batu. Perubahan ini membuatnya semakin dekat dengan sebagian besar dari kita, karena tak ada manusia biasa yang benar-benar suci, dan tak ada yang murni keji.

Kau lihat? Betapa sulitnya bicara tentang akar, tanah, dan ikrar setia bila nenek moyangmu seorang pelaut.
Ambillah sauh dan pilih sendiri pengkhianatanmu.
(hal. 28)

Membaca buku ini tentu tak akan menghasilkan pengalaman yang lengkap jika belum menelusuri semua pilihannya. Sehingga ada baiknya saat membaca, kita buat peta sederhana yang mudah diikuti sebagai pemandu jalan agar tidak tersesat saat ingin kembali. Saat membaca buku ini, awalnya saya memilih pilihan pertama dari setiap pilihan yang tersedia hingga tamat. Lalu saya kembali satu langkah, untuk memilih jalan berikutnya, begitu seterusnya. Karena kebetulan pilihan pertama memiliki cabang yang terbanyak, dan pada titik tertentu kita diajak menelusuri hal yang itu-itu saja, muncul rasa bosan. Pada titik jenuh itu, saya meninggalkan pilihan-pilihan yang (kelihatannya) tinggal sedikit, dan memutari jalan yang benar-benar berbeda. Sebenarnya ada untungnya juga mengambil jalan yang urut, karena kita tidak lupa dengan detail kejadian sebelumnya, terutama pada kisah yang panjang dan banyak jalan bercabangnya. Namun, ada kalanya juga jalan memutar yang kita rasa sudah jauh ternyata membawa kita ke peristiwa yang sama. Kalaupun menginginkan perjalanan spontan yang tak direncanakan, buku ini juga bisa dinikmati per satu jalur saja hingga menemukan kata tamat. Lalu lupakan semuanya, dan kembali ke awal lagi, menikmati perjalanan yang jauh berbeda, atau begitu mirip. Intinya, pilih sendiri petualanganmu!

Selain dinikmati sebagai beragam petualangan, secara umum, ada beberapa ide besar yang faktanya terserak di antara petualangan yang banyak itu. Awalnya detail tersebut bisa tampak sebagai pemanis cerita saja, tetapi, saat sudah menemukan tiga, lima, atau sepuluh petunjuk ke hal yang sama, rasanya tak sulit menarik satu benang merah yang menampilkan sebuah kisah sendiri. Terutama tentang asal-usul sepatu merah dan pemilik sebelumnya.

Kau menimang-nimang sepatu merah di pangkuanmu. Ia terlihat lelah namun haus perjalanan, sama sepertimu. Kau selalu mengira petualangan memaksamu menoleh ke belakang, tapi barangkali ia juga sebuah lingkaran—lingkaran setan, tepatnya—terus-menerus, tak putus; kau akan melewati jalan yang sama dan jatuh di lubang yang sama, seperti déjà vu konstan, tapi mungkin, sekali waktu, kau akan beruntung. (hal. 475)

Meski Iblis Kekasih mengatakan tak ada jalan pulang setelah sepatu merah ini, nyatanya buku ini menyuguhkan beberapa definisi untuk pulang. Saya rasa, dengan atau tanpa sepatu merah pun, perjalanan tak akan membawa kita ke ujung yang sama. Segala peristiwa dan kejadian akan mengubah kita, mengubah cara pandang kita akan sesuatu, mengubah cara pandang orang lain tentang kita, begitu pula semua orang di sekitar kita maupun yang kita tinggalkan akan berubah. Pulang tak akan pernah sama. Kau hanya perlu memilih, harga yang menurutmu sepadan.

Kini kau paham mengapa buat mereka yang pergi sekian lama, atau terlalu lama, pulang butuh keberanian. (hal. 428)

Cewek baik masuk surga, cewek bandel gentayangan.

Aroma Karsa – Dee Lestari

37830526Judul : Aroma Karsa
Penulis : Dee Lestari
Penyunting : Dhewiberta
Penerbit : Penerbit Bentang
Edisi : Cetakan Pertama, Maret 2018
Format : Paperback, xiv + 710 halaman

“Rampok itu perempuan ayu.” (hal.290)

Legenda Puspa Karsa sudah mendarah daging ke tiga generasi Prayagung; Janirah, Raras, dan Tanaya Suma. Bunga yang dipercaya bisa mengubah dunia sesuai keinginan pemiliknya ini menimbulkan obsesi mendalam pada Janirah, yang merupakan anak abdi dalem rendahan Keraton Yogyakarta. Dia merintis usaha produk kecantikan yang diberi nama Kemara, yang hampir ambruk saat dipegang anak lelakinya, tetapi berhasil bangkit dan mencapai kesuksesan lebih besar saat diambil alih cucunya, Raras. Raras pulalah yang mewarisi obsesi neneknya untuk menemukan Puspa Karsa. Bunga yang hanya akan membuka dirinya pada orang yang dipilihnya.

Setelah gerbang mengenai asal-usul Kemara dan Raras Prayagung dibuka, kisah ini melipir ke TPA Bantar Gerbang yang beraroma ragam sampah dan pembusukan. Jati Wesi, pemuda dua puluh enam tahun yang konon dibuang ke sana, tinggal bersama Nurdin Suroso yang busuk, menjalankan rupa-rupa pekerjaan yang pada akhirnya harus dikuras ke kantong ayah angkatnya tersebut. Salah satu pekerjaan yang paling dinikmatinya adalah bersama Khalil Batarfi, meracik parfum tiruan di toko Attarwalla. Jati memiliki bakat yang berbeda, dia sangat peka dan bisa mengidentifikasi bau. Pemuda itu bisa mendeskripsikan bau, menguarkan unsur-unsurnya, komposisinya, bahkan menyusun kembali tiruannya. Hingga suatu kejadian mendorong Jati masuk ke kerajaan Prayagung, dia terpaksa bekerja untuk Raras, dan berhadapan dengan Suma yang memiliki bakat yang sama dengannya, tetapi disikapi dengan berbeda.

Selanjutnya, pembaca diajak untuk mengenal lebih jauh dan lebih dalam mengenai karakter-karakter yang ada beserta interaksinya. Banyak karakter yang bermunculan akan menyempurnakan jalinan kisah ini, menjadi sebuah ramuan petualangan, kisah keluarga, cinta, dengan sentuhan realisme magis yang merupakan saripati kisah ini. Ada Arya Jayadi, pacar sekaligus sahabat Suma, yang sejak awal Suma masih merasakan permusuhan pada Jati, sudah memahami pentingnya peran pemuda berhidung tikus itu. Ada Anung yang linglung, tetapi menyimpan rahasia misteri yang menuntun Jati menemukan asal-usulnya. Bahkan karakter minor semacam Imas yang pernah dibantu Jati menemukan mayat suaminya, Sarip si sipir penjara, Wijah pelayan keluarga Prayagung, dan Fendi pengacara Raras, digambarkan secara bulat sehingga pembaca bisa menangkap benar peran dan sifat mereka. Kejadian demi kejadian tersusun apik, mulai dari perkenalan, masuknya Jati, perencanaan, sampai ekspedisi pencarian Puspa Karsa. Segenap indera kita, terutama melalui hidung Jati, diajak menjelajah gemerlap Kemara, wangi Grasse yang merupakan surga pembuat parfum, sakralnya olfaktorium, mengintip penggalian situs sejarah Majapahit, dan angkernya legenda gaib di Gunung Lawu.

Saya sendiri tidak asing dengan tulisan Dee, meski sebelumnya baru mencecap kumpulan cerita pendeknya. Praktis, buku ini merupakan novel pertama Dee yang saya baca. Melihat banyak respon positif dari pembaca versi digital, saya tak ragu untuk mereguk novel tebal ini, dengan keyakinan bahwa karya ini akan saya sukai. Keyakinan saya ternyata tak salah, dengan bab-bab pendek yang tak membuat kehabisan napas, untaian kalimat yang mengalir, serta balutan misteri yang mengundang penasaran, membuat buku ini sangat mudah terlahap dalam waktu relatif singkat. Satu masalah yang sering saya temui pada novel tebal adalah pengulangan pada beberapa detail yang mengganggu, tidak saya temukan di sini.

Sesungguhnya, banyak sekali unsur yang bisa dikupas di buku ini. Satu hal yang menarik saya adalah berupa-rupa karakter wanita yang ada, serta kekuatan yang disimpannya. Dari keluarga Prayagung sendiri sudah jelas menampilkan generasi perempuan yang ambisius dan cerdas, atau bisa dikatakan licik. Tanaya Suma yang, meski bukan darah daging Raras, juga menyimpan potensi kuat, yang ditekan oleh sesuatu, tetapi akhirnya berhasil dikuak oleh Jati. Inti dari kisah ini, Puspa Karsa sendiri, beserta kekuatan di sekitarnya pun akan memiliki kaitan erat dengan potensi perempuan secara umum.

Dari segi misteri, Aroma Karsa tidak menyimpan sendiri misteri-misterinya untuk dibuka sekaligus di akhir layaknya novel detektif pada umumnya. Misteri di novel ini ibarat sebuah rumah besar dengan ruangan yang berlapis-lapis. Saat penulis membukakan pintu, pembaca akan langsung mendapatkan beragam jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang menggantung di pintu yang tertutup sebelumnya, tanpa harus memberi penjelasan. Namun, pertanyaan belum semuanya terjawab, dan saat akan muncul pertanyaan baru, pintu kedua dibuka, menampilkan beberapa jawaban dan pertanyaan sekaligus. Banyak petunjuk diberikan secara terbuka sehingga pembaca bisa menebak lebih awal dari sang karakter, tetapi sama sekali tidak mengurangi unsur kejutan saat ada fakta baru yang dimunculkan. Sampai pada akhirnya kisah ini ditutup, Dee masih menyisakan sebuah misteri yang bisa memerlukan atau tidak memerlukan jawaban. Saya pribadi sangat puas dengan akhir dari buku ini yang sangat pas dan elegan. Tidak terlalu terbuka, tetapi juga tidak terlalu misterius. Dee sendiri mengatakan tidak menutup kemungkinan adanya kisah lain di semesta Aroma Karsa ini, kalaupun tidak ada, tidak akan ada masalah berarti, dan saya setuju.

Di tengah kesempurnaan kisah, susunan, sampul, dan tata letak buku, saya cukup terganggu dengan adanya beberapa kesalahan ketik. Untungnya, sudah ada daftar revisi yang akan dilakukan pada edisi berikutnya, termasuk penjelasan mengenai beberapa hal kecil yang belum ada. Revisi ini hadir berkat proses tak biasa dalam kehadiran novel ini, yaitu penyuguhan melalui dua penerbit dengan dua media yang berbeda, cetak dan digital. Lebih lengkapnya, bisa dibaca di sini.

5/5 bintang saya sematkan untuk segenap aroma yang memperkaya lembar demi lembar buku ini, riset yang sangat rapi, dan bangunan utuh kisah kehidupan yang menghanyutkan.