Category Archives: Memoir

Traveling Aja Dulu! – Olivia Dianina Purba

43672931Judul : Traveling Aja Dulu!
Penulis : Olivia Dianina Purba (2018)
Editor : Shera Raynardia
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Format : Paperback, xiv+242 halaman

Kalau kamu tidak percaya bahwa masih banyak orang baik di luar sana, cobalah sesekali untuk traveling sendirian. Niscaya kamu akan selalu dapat menemukan orang baik yang mau membantu tanpa mengharapkan balasan. (hal.8)

Buku ini adalah kisah perjalanan penulis, yang sejak lulus SMA sudah memiliki visi untuk dapat berkeliling dunia. Penulis yang katanya bukan dari keluarga kaya mencari jalannya sendiri, mulai dari memilih jurusan kuliah yang sekiranya mendukung, mencari celah di setiap beasiswa, membuka jalan dengan mengikuti berbagai kegiatan kampus, termasuk aktif di bidang akademik yang membawanya ke berbagai konferensi dan aktivitas pelajar/mahasiswa.

Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk anak-anak muda, para remaja yang mungkin masih bingung apa yang ingin dilakukannya di masa depan, maupun yang sudah tahu apa yang ingin dilakukannya. Setidaknya, pengalaman penulis bisa menjadi salah satu sudut pandang, atau bahkan inspirasi untuk melakukan hal yang sama. Menurut saya, apa yang dilakukan oleh penulis ini sangat menginspirasi, bisa jalan-jalan dengan hemat, sekaligus memotivasi untuk terus berprestasi demi mendapatkan kemudahan-kemudahan tersebut. Saya sangat menekankan kata muda, karena untuk generasi yang lebih tua (termasuk saya, lol), mungkin memerlukan banyak modifikasi, karena tak bisa dimungkiri, usia sangat menentukan banyak hal di sini.

Selain menginspirasi, mengikuti jejak perjalanan penulis cukup seru juga. Ada acara ketinggalan pesawat, singgah di tempat asing tanpa rencana sebelumnya, sampai hampir salah naik kereta, membuat saya ikut khawatir saat membaca. Bisa dibilang, penulis terkadang cukup impulsif, jadi kita sebagai pembaca ikut was-was kalau-kalau ada yang salah. Tapi toh, selalu ada jalan, dan mungkin seperti itulah hidup jika kita menjalaninya. Saya agak skeptis saat penulis berulang kali menyebutkan bahwa dia beruntung. Menurut saya, segala persiapan dan usaha, sekecil apa pun, akan membantu kita. Dan itulah yang didapatkan oleh penulis, bahwa jalan itu ada karena sebenarnya dia tidak nekat begitu saja tanpa persiapan, karena impulsif tidak sama dengan ceroboh.

Selain tentang perjalanannya sendiri, buku ini juga banyak menyinggung tentang persiapan, termasuk cara dan tips membuat paspor dan visa, aplikasi dan jejaring yang bisa membantu para travelers, sampai trik mendapatkan tiket murah. Di sepanjang cerita pada perjalanannya di negara tertentu, penulis juga menceritakan budaya, kebiasaan, juga aturan di negara tersebut yang penting diketahui sebelum menuju ke sana. Mulai dari pertama kali traveling ke Bali di tahun 2008, hingga sepuluh tahun kemudian, penulis sudah menjelajah lebih dari 37 negara di seluruh dunia. Tentunya, ada kerja keras dan pengorbanan, yang saya yakin, tidak semuanya diceritakan dalam buku ini.

Di luar penilaian saya terkait buku ini, saat membaca pengalaman penulis sebagai duta wakil negara di konferensi-konferensi mahasiswa, ada beberapa hal yang mengganjal. Banyak sekali dana dikucurkan dari seluruh dunia untuk kegiatan ini. Para pemuda diajak berpikir dan merumuskan masalah-masalah di dunia ini, tetapi berapa banyak hasilnya yang benar-benar dipakai untuk memperbaiki dunia? Sependek pengamatan saya, para pejabat negara ini kebanyakan berbicara bahwa pemuda adalah aset bangsa, lalu seolah-olah melatih mereka untuk menjadi pemimpin dan sebagainya, tetapi sesungguhnya mereka tidak memandang pemikiran muda ini sebagai solusi. Mereka lebih mengagungkan cara lama, memandang pengalaman mereka jauh lebih penting, dan anak-anak muda itu dianggap belum mengerti kehidupan. Justru sektor nonpemerintah yang mungkin lebih menghargai anak-anak muda, terutama yang memang diinisiasi oleh anak-anak muda, sehingga hasilnya lebih terlihat nyata dan signifikan. Mungkin saya salah, dan semoga ini hanyalah generalisasi saya saja.

Kembali ke bukunya, jika kalian ingin tahu sensasi tersesat di Nepal yang berakhir mengesankan, menetap di Canberra yang unik dengan beasiswa master, menggebu-gebu di Kolombia dan mengunjungi tempat-tempat indah, serta berenang di sungai tengah kota Zurich, menjelajahlah bersama buku ini. Siapa tahu, suatu saat nanti, kalian bisa benar-benar berada di sana. Intip juga tulisan-tulisan lainnya di www.travelingajadulu.com, atau di www.instagram.com/traveling.aja.dulu

traveling tidak harus bermodal banyak atau memiliki keluarga yang sangat baik secara finansial. Kamu hanya perlu semangat, keuletan, dan kerja keras untuk bisa melihat dan mempelajari keindahan alam dan keunikan budaya di luar sana. (hal.237)

The Tale of the Rose – Consuelo de Saint-Exupéry

the-tale-of-the-roseTitle : The Tale of the Rose (Mémoires de la rose)
Author : Consuelo de Saint-Exupéry (2000/posthumous)
Translator : Esther Allan
Publisher : Random House
Edition : First US edition, 2nd printing, 2001
Format : Paperback, xxii+309 pages

I knew there was something in this whole story that I had yet to decipher. I didn’t know if it was just me or if it was life in general that was making me listen so attentively to the rhythm of the new era that had come to meet me. (p.33)

Siapa yang tidak mengenal Antoine de Saint-Exupéry, penulis karya besar The Little Prince (Le Petit Prince) asal Prancis, yang juga berprofesi sebagai penerbang. Berbicara tentang The Little Prince ternyata tak bisa dipisahkan dari kisah hidupnya sendiri. Awalnya, saya menganggap penulis adalah sang penerbang yang ditemui sang Pangeran Kecil, tetapi ternyata dia adalah sang pangeran itu sendiri. Kemudian, seperti diisyaratkan oleh judul ini, bunga mawar yang manja dan pencemburu itu adalah representasi dari istrinya, Consuelo.

Pada kepergiannya yang terakhir, peperangan yang membuatnya hilang di angkasa selamanya, Antoine berpesan kepada istrinya agar menulis untuknya. Halaman per halaman, dan tak terasa, Consuelo akan selesai menuliskan kisah mereka. Namun, karena sang suami tak kembali, surat-surat ini disimpan di dalam peti. Sampai setelah kematian Consuelo, barulah surat-surat ini disunting menjadi sebuah buku.

Sebelum menjadi nyonya Saint-Exupéry, Consuelo adalah janda dari jurnalis, penulis, sekaligus diplomat ternama, Enrique Gómez Carillo. Pada sebuah kunjungan ke Argentina pada tahun 1930, Consuelo bertemu dengan Antoine, dan Buenos Aires menjadi saksi ketergilaan sang pilot pada Consuelo, serta kegalauan wanita muda itu akan cinta yang datang terlalu cepat. Perjalanan mereka untuk tiba di altar pernikahan pun tidak mudah. Jalan berkelok yang harus dilalui akibat status sosial dan latar belakang yang berbeda membuat wanita Spanyol itu hampir patah semangat setelah dirinya terlanjur merasakan cinta pada Tonio-nya.

He told me that his life was a flight and he wanted to sweep me off with him, that he found me light and delicate but believed that my youth could withstand the surprises he promised me: sleepless nights, last-minute changes of plan, never any luggage, nothing at all except my life, suspended from his. (p.35)

Setelah menikah, kehidupan berumah tangga tak pernah mudah bagi keduanya. Masalah datang silih berganti, mulai dari perpisahan akibat tugas, kecemburuan karena ketenaran sang pilot yang kini menjadi penulis, kehidupan sosial yang menjauhkan keduanya, sampai pada perselingkuhan yang rumit. Namun, semuanya tak pernah bisa membuat mereka bercerai. Antoine selalu berhasil meyakinkan Consuelo bahwa mereka ditakdirkan bersama, bahwa akan ada waktu untuk bahagia, bahwa Tonio tak bisa dikekang, jiwanya bebas, tetapi dia tak akan bisa melepaskan istrinya. Selalu Consuelo yang pada akhirnya harus menahan segala rasa sakit, bertekuk lutut lagi setiap Tonio kembali, berperan menjadi istri yang sabar dan kuat.

Mungkin kehidupan rumah tangga seperti itu tak masuk akal, tetapi mengikuti tulisan Consuelo, saya dibuat yakin bahwa ada sebuah kekuatan tak tampak yang mengikat keduanya begitu kuat. Ada ikatan tak terucap dari keduanya, yang pada akhirnya dimengerti Consuelo. Pada akhirnya, ini bukan masalah siapa mengkhianati siapa, tetapi tentang kehidupan dinamis yang bisa melakukan apa saja pada diri seseorang, kemudian ketika waktunya pulang, hanya ada satu tempat beristirahat.

 “You are my freedom,” he told me. “You are the land where I want to live for the rest of my life. We are the law.” (p.63)

But Tonio, no: he wanted to read, he wanted to write. And so I had to make myself very small and scarce, had to live inside his pockets. (p.101)

img_20170228_193555_099.jpg

I sensed that Tonio was suffering for all mankind, that in some way he wanted to make them better. He was a man who chose his own destiny, but he had to pay a high price for his freedom, and he knew it. (p.136)

Sebelum bertemu Consuelo, Antoine sudah menerbitkan Southern Mail, meski tak laku. Setelah menikah, Consuelo menyemangati Tonio untuk menulis lagi dan menjadi pembaca pertamanya, sehingga terbitlah Night Flight yang menjadi salah satu titik balik rumah tangga mereka. Kondisi keuangan yang sulit membuat Saint-Ex mengambil pekerjaan apapun asalkan mereka bisa membayar sewa dan hidup dengan tuntutan sosial yang tinggi. Akan tetapi, jalan Antoine adalah terbang dan menulis—apapun, jika buku tidak memungkinkan, dia akan mengisi kolom di koran. Sebelum menerbitkan Wind, Sand, and Stars, Saint-Ex sudah mengalami berbagai kecelakaan, tersesat, hilang, bahkan hingga di ambang maut.

He had been as if dead. He had passed through death itself. Now he knew it.
“It’s easy to die,” he told me. “To drown. Let me tell you. You have very little time to get used to the idea that you can no longer breathe oxygen. You have to breathe water into your lungs. You must not cough, the water must not go in through your nose. You are, as I was, relieved to breathe in the first mouthful of water. It’s cool, and everything is fine afterwards. …” (p.126)

Di balik tubuhnya yang mungil, Consuelo memiliki jiwa yang besar untuk bisa tetap menjadi istri seorang Saint-Ex. Bukan hanya perbedaan mencolok secara fisik—Consuelo terlihat semakin kecil di samping Antoine yang tinggi besar—tetapi juga perbedaan cara mereka menghadapi hidup, perbedaan cara berkomunikasi. Seringkali Consuelo gagal mengungkapkan perasaannya pada Antoine, karena Tonio lebih suka jika masalah tak diselesaikan dengan bicara, dia lebih mengutamakan perbuatan. Oleh karena kisah ini dituturkan dari sudut pandang sang istri, maka pembaca lebih bisa melihat perjuangan dan pengorbanan Consuelo. Dia dengan segala luka hatinya, tetapi tetap dengan harga diri yang tinggi, berusaha tak mengemis perhatian, maupun hidup bergantung pada sang suami yang tampak seperti sudah tak mencintainya lagi.

“…. Though I’d love to have been a composer, like him, to be able to say things without words, in that secret language that is given only to the elect, the initiates, to poets . . . …” (p.131)

My God, being the wife of a pilot is a whole career, but being the wife of a writer is a religous vocation! (p.256)

I had wisely resolved to work. Work is the only thing that will allow you to keep your balance and find your way out of the confusion of events. (p.280)

Autobiografi Consuelo de Saint-Exupéry, secara tidak langsung menjadi sebuah kepingan biografi Antoine de Saint-Exupéry. Namun, membaca buku ini tak lantas membuat kita mengenal Saint-Ex. Saya pribadi justru menjadi semakin penasaran untuk mencari biografi sang pilot dari sudut pandang yang lain. Sampai menjelang akhir, saya justru merasa tidak mengenalnya kembali, dan ketika di akhir sang istri memberi kesimpulan, ada sebuah pengertian baru tentang arti cinta dan makna perselingkuhan. Saint-Ex yang saya kenal sebagai pilot melalui karya-karyanya sendiri, ternyata memiliki sisi manusia yang tak kalah menarik untuk digali.

My only hope lay in our youth, which to me seemed eternal, and in our love, which was so pure that it had to have touched God. My hope lay in his strong hands, which knew how to throw all of his bodily weight, all of his energy and vitality, into the air currents flowing through an unknown sky. (p.142)

Buku ini ditulis dengan sangat indah. Dengan gaya bahasa yang mengingatkan saya pada karya-karya Saint-Ex, narasi yang lugas tapi cantik. Kumpulan surat cinta yang berhasil menyampaikan kegelisahan seorang istri tanpa terlihat cengeng ataupun berlebihan. Bagi penggemar Saint-Ex, mungkin perlu kesiapan untuk menerima kebenaran bahwa sosok penulis yang kita kagumi tak sesempurna karya-karyanya. Bahwa semua manusia memiliki kelemahan, dan kelemahan Antoine adalah dia tak bisa memperlakukan wanita sebaik dia memperlakukan mesin pesawat.

“But tears, you know, are not always murderous. Tears can purify as well, tears may be the path to grace, a way for women to become angels.” (p.187)

Di sisi lain, pengetahuan yang ada dalam buku ini tentang sosok Saint-Ex bisa menjadi salah satu jalan untuk memahami karya-karyanya. Tentang Rivière dan Fabien di Night Flight, tentang bunga mawar di The Little Prince, bahkan saya mulai menduga-duga sosok sang rubah, meski konfirmasinya tidak bisa didapat dari buku ini. Sebaliknya, buku-buku Saint-Ex yang berisi pengalaman terbangnya menjelaskan pandangan dan alasan tindakan-tindakan yang dilakukannya pada Consuelo, sekaligus melengkapi biografi Saint-Ex sendiri dari kejadian saat dia tidak sedang bersama Consuelo. Ada sedikit selipan foto mereka di dalam buku ini, yang mungkin ingin bercerita dengan cara yang berbeda.

Kisah cinta penuh drama mulai dari pertemuan hingga perpisahannya, dipenuhi oleh cinta dan penderitaan, menunjukkan betapa hati manusia memang adalah tempat yang misterius. Saya berikan buku ini 5/5 bintang untuk cara penyampaiannya yang memukau, meski kebenaran yang disampaikannya seringkali pahit.

The unknown is beautiful when you are going off to discover it. I’m going to war for my country. Don’t look at my eyes, for I’m weeping as much with joy at carrying out my duty as with pain over your tears. I could almost thank heaven for giving me a treasure to leave behind: my house, my books, my dog. You will keep them for me.” (p.302)

“Straighten my tie instead. Give me you handkerchief so I can write the next part of The Little Prince on it. At the end of the story, the Little Prince will give this handkerchief to the Princess. You’ll never again be a rose with thorns, you’ll be a dream princess who always waits for the Little Prince. I will dedicate that book to you. I can’t forgive myself for not having dedicated it to you. I’m sure that while I’m gone our friends will be kind to you. When I’m here they prefer my company, but that’s not particularly flattering to me. Those who love only the famous man in me make me sad. I will forget all those who don’t extend all of their favors to you. When I come back, my wife, the two of us will be with the true friends of our hearts. Only them.” (p.303)

My Brief History – Stephen Hawking

Title : My Brief History (Sejarah Singkat Saya)
Author : Stephen Hawking (2013)
Translator : Zia Anshor
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Edisi Pertama, 2014
Format : Paperback, viii + 152 pages

Ketika menghadapi kemungkinan mati muda, kita jadi sadar bahwa kehidupan itu layak dijalani dan ada banyak hal yang kita ingin lakukan. (p.45)

Stephen Hawking, salah seorang ilmuwan ternama abad ini, menuliskan kisahnya sendiri mulai dari masa kanak-kanak hingga saat buku ini ditulis. Autobiografi ini menyorot sisi pribadi sang penulis dengan cukup dominan, termasuk sejarah yang melatarbelakangi kehidupannya, dan sudut pandangnya atas banyak hal. Ditulis berdasarkan urutan waktu, meski singkat, perjalanan pribadi, keluarga, dan karirnya tertulis dengan cukup lengkap.

Secara personal, saya memang mengagumi Hawking dari keteguhan tekadnya menjalani hidup dan berkarya dalam kondisi fisik yang semakin melemah karena ALS yang dideritanya. Di tengah keterbatasannya, dia berkeras menggunakan satu-satunya organ tubuhnya yang tidak lumpuh, otak. Membaca kisah ini, kita diajak mendekat pada kondisi yang begitu dekat dengan kematian tetapi begitu jauh dari keputusasaan.

Buku ini tidak hanya menceritakan sisi pribadi, tetapi juga sarat dengan pemikiran Hawking, dalam artian ilmu dan teori yang dipelajarinya. Mulai dari teori steady-state yang dianut saat itu, hingga big bang dan black hole yang ditelitinya. Alih-alih menjabarkan teori tersebut dengan mendetail, Hawking lebih berfokus pada bagaimana dirinya memandang teori tersebut, bagaimana prosesnya memecahkan hal tersebut, sampai pengaruhnya terhadap dirinya serta dunia. Meski demikian, kita masih dapat menangkap inti dari teori tersebut dengan penjelasan singkat tersebut. Gagasan awal kelahiran A Brief History of Time, yang tanpa direncanakan Hawking masih bisa menulis beberapa buku setelahnya, kira-kira berawal dari ini.

Jika saya mesti menghabiskan waktu dan usaha untuk menulis satu buku, maka saya ingin buku itu dibaca sebanyak mungkin orang. (p.111)

Saya yakin hampir semua orang tertarik dengan cara kerja alam semesta, tapi kebanyakan orang tak bisa mengikuti persamaan-persamaan matematika. (p.115)

Ada banyak buku lain berjudul “brief history” ini dan itu sesudahnya, termasuk A Brief History of Thyme. Peniruan adalah bentuk pujian yang paling jujur. (p.118)

Buku ini dilengkapi dengan foto-foto hitam putih yang menunjukkan perkembangan Hawking, tempat-tempat yang pernah ditinggali atau disinggahinya, orang-orang di sekitarnya, dan lain sebagainya. Meski isinya cukup menarik, dari segi penulisan, menurut saya, Hawking terlalu rendah hati untuk menghasilkan memoar yang lebih gemilang. Tetap saja, intisari terpenting dalam buku ini tersampaikan, bahwa nilai kita dalam hidup bukan bergantung dari kondisi kita, tetapi dari bagaimana kita memandang hidup dan kehidupan yang kita miliki.

Saya telah menjalani hidup yang bernas dan memuaskan. Saya percaya bahwa orang-orang yang mengalami cacat fisik harus berkonsentrasi pada hal-hal yang bisa mereka lakukan tanpa terhalang cacat dan tidak menyesali apa yang tak bisa mereka lakukan. (p.145)

Kisah hidup Hawking pernah diangkat BBC dalam sebuah film pada tahun 2004, yang disutradarai oleh Philip Martin, ditulis oleh Peter Moffat, dan dibintangi oleh Benedict Cumberbatch sebagai Stephen Hawking, Lisa Dillon sebagai Jane Wilde, Peter Firth (Fred Hoyle, penganut steady-state), Tom Ward (Roger Penrose, rekan Hawking dalam beberapa teorinya). Alur filmnya kurang lebih sama dengan buku ini—meski bukunya terbit belakangan—termasuk peristiwa penting, perjalanan penyakit Hawking, hubungannya dengan Jane Hawking (née Wilde), serta proses studi, penelitian, dan pembuktian teori-teorinya. Di sisi lain, walau tidak ditunjukkan bertemu langsung dengan Hawking, ditampilkan juga penerima Hadiah Nobel tahun 1978, Arno Penzias (Michael Brandon) dan Robert Wilson (Tom Hodgkins) sehubungan penemuan mereka atas sisa radiasi dari ledakan besar. Meski demikian, kisah dalam film televisi berdurasi 90 menit ini tidak berlangsung sejauh buku ini, tetapi lebih terfokus pada sisi ilmiah dan emosi yang menyertainya.

Night – Elie Wiesel

nightTitle : Night (La Nuit)
Author : Elie Wiesel (1958)
Translator : Stella Rodway
Publisher : Bantam Books
Edition : 88th printing, 1982
Format : Paperback, xi + 111 pages

Night adalah sebuah memoar Eliezer saat dirinya baru hendak beranjak remaja dan diseret ke kamp konsentrasi. Lahir dan besar di Sighet, Transylvania, Elie adalah anak yahudi yang memiliki pemahaman yang unik mengenai kitab sucinya, serta tingkat keyakinan yang lebih daripada anak-anak seusianya, hingga menimbulkan kehausan untuk belajar lebih dan lebih lagi. Namun, segalanya berubah saat Gestapo memasuki kotanya dan mengungsikan para penghuninya entah ke mana.

Keluar dari Sighet adalah awal penderitaan. Mereka dipaksa meninggalkan rumah dan harta mereka, makan seadanya, kehausan, kepanasan, berjalan kaki jauh, berdiri berdesak-desakan dalam sebuah gerbong, dan dibawa entah ke mana. Setibanya di Birkenau, mereka dihadapkan pada bayangan kematian, bayangan akan dijadikan bahan bakar, dibakar hidup-hidup. Mereka yang lolos seleksi sebagian dibawa ke kamp konsentrasi Auschwitz, tempat mereka dipaksa bekerja demi sekadar menunjukkan bahwa hidup mereka masih bermanfaat. Di sinilah Elie dan ayahnya dibawa, terpisah dari ibu dan saudarinya.

Hari-hari penderitaan dan ketakutan dimulai, dan yang menjadi fokus Elie pada saat itu hanyalah bagaimana caranya bertahan hidup tanpa harus terpisah dari ayahnya. Makian, pukulan, siksaan, kelaparan, kurang tidur, adalah hal yang lumrah mereka hadapi. Untuk bertahan hidup, mereka harus mematikan segala rasa, demi mempertahankan kekuatan untuk sekadar tetap bernapas dan tetap bekerja, sebab berhenti bekerja berarti mati.

Bread, soup—these were my whole life. I was a body. Perhaps less than that even: a starved stomach. The stomach alone was aware of the passage of time. (p.50)

Seberapa lama manusia dapat bertahan dengan kondisi semacam itu? Belum lagi tambahan siksaan bekunya musim dingin, kelelahan fisik dan mental, membuat satu per satu dari mereka tumbang dengan sendirinya, atau ditumbangkan karena sudah terlalu lemah. Buku ini menggambarkan betapa buruknya seorang manusia dapat bertindak terhadap manusia lain, dengan berbagai macam alasan. Apakah bangsa yang berbudaya akan memperlakukan manusia lain seperti binatang, meski mereka berbeda? Apakah seorang manusia yang memiliki hati nurani, tega menyiksa manusia lain secara perlahan-lahan dan melihatnya mati perlahan-lahan?

All round me death was moving in, silently, without violence. It would seize upon some sleeping being, enter into him, and consume him bit by bit. (p.85)

Buku ini dituliskan dengan emosi yang sangat terasa. Masih terlihat bagaimana kemarahan, kesedihan, ketakutan, kepasrahan, keputusasaan, mewarnai paragraf demi paragraf pengalaman hidup penulis. Membaca buku ini, saya mendapatkan kesan perjuangan seorang Elie yang (berusaha untuk) kuat, Elie yang penuh kemarahan, dan kemudian diakhiri dengan sebuah kejujuran yang menyakitkan, tentang seberapa jauh seseorang—seorang remaja—mencapai batasnya, batas egonya, ego bertahan hidup.

Banyak kontroversi yang ditimbulkan dari tragedi holocaust ini. Sebagian menganggap ini hanyalah isu dan kisah fiktif yang disebarkan untuk meraih simpati dunia. Namun, ada sebuah pernyataan yang menurut saya patut direnungkan.

Having confronted the story, we would much prefer to disbelieve, treating it as the product of a diseased mind, perhaps. And there are those today who—feeding on that wish, and on the anti-Semitism that lurks near the surface of the lives of even cultured people—are trying to persuade the world that the story is not true, urging us to treat it as the product of diseased minds, indeed. They are committing the greatest indignity human beings can inflict on one another: telling people who have suffered excruciating pain and loss that their painand lost were illusions. (Robert McAfee Brown, Preface for the Twenty-fifth Anniversary Edition, p.v-vi)

Jadi, terlepas dari benar atau salahnya bagian sejarah yang ini, pembantaian terhadap rakyat sipil, terhadap orang-orang tak bersalah, terhadap wanita dan anak-anak, adalah hal yang tidak bisa dibenarkan, apapun alasannya. Hal ini termasuk pula pembantaian era modern yang masih terjadi saat ini; Israel terhadap Palestina, ISIS, Suriah, sampai yang terhangat, pembantaian Muslim Rohingya. Dalam Islam—agama yang saya pahami—pembunuhan hanya dibenarkan dalam rangka pembelaan diri. Tidak ada kebenaran dalam pembunuhan atas dasar perbedaan, invasi, ataupun hasrat duniawi lainnya. Tidak ada manusia yang lebih tinggi derajatnya daripada manusia lain berdasarkan suku bangsa, warna kulit, sejarah keturunan, kekayaan, ataupun kekuasaan, hingga dia berhak untuk melakukan teror dan pembunuhan.

Pada akhirnya, Eliezer menunjukkan dampak dari agresi dan ego manusia-manusia yang merasa paling tinggi derajatnya, terhadap seorang bocah yang belum mengerti dunia. Anak-anak seperti Eliezer belum mengerti bahwa kebencian bisa timbul tanpa alasan yang masuk akal, dengan cara-cara di luar keadilan yang mereka pahami. Seorang anak, seharusnya menikmati masa kecilnya, bukan menanggung penderitaan akibat keserakahan orang dewasa, bukan terpaksa menanggung beban kehidupan lebih awal, yang pada akhirnya memakan hati nurani mereka, mencabik-cabik perasaan dan kehidupan mereka sejak dini. 3/5 bintang untuk malam yang panjang bagi Elie.

Here or elsewhere—what difference did it make? To die today or tomorrow, or later? The night was long and never ending. (p.93)

Mei : Hak Asasi Manusia

Mei : Hak Asasi Manusia dan Kritik Sosial

Review #20 for Lucky No.15 Reading Challenge category One Word Only!

Girl with Nine Wigs – Sophie van der Stap

Title : Girl with Nine Wigs (Meisje Met Negen Pruiken)
Author : Sophie van der Stap (2006)
Translator : Rini Nurul Badariah
Editor : Tantrina Dwi Aprianita
Publisher : Penerbit Imania
Edition : Cetakan I, Juli 2011
Format : Paperback, 260 pages

Di usianya yang baru 21 tahun, Sophie didiagnosis menderita kanker yang sudah bermetastasis. Muda, dengan semangat hidup yang masih membara, tentunya hal ini menimbulkan tekanan padanya. Kanker jenis rhabdomyosarcoma ini disadarinya ketika sel-sel kanker sudah menyerang selaput pleura hingga merendam paru-parunya. Kemoterapi pun direncanakan, dan segala mimpi buruk Sophie dimulai.

Buku ini menceritakan perasaan-perasaannya, mulai dari penyangkalan atas penyakitnya, hingga bagaimana dia menghadapi dan menjalani hidup dengan kanker. Sophie punya caranya sendiri untuk bertahan. Dia menuliskan perjalanan hari-harinya dalam buku ini—yang memang berwujud layaknya buku harian. Dia juga menemukan cara untuk ‘melepaskan’ dirinya melalui rambut palsu yang dibelinya saat rambutnya mulai rontok. Sophie membeli berbagai macam warna dan jenis wig dan memberi kepribadian tersendiri pada setiap rambut yang dikenakannya. Melalui itu, dia bukan hanya menyenangkan dirinya, tetapi dia juga mampu melihat dirinya sendiri melalui sudut pandang yang berbeda.

Penyakit kronis, penyakit yang mengancam jiwa, atau penyakit apa pun itu, termasuk penyakit akut dan yang ringan, pastilah menimbulkan tekanan tersendiri bagi penderitanya. Penyakit dapat menghalangi seseorang melanjutkan hidupnya dengan normal, menuntut sedikit atau banyak waktunya untuk istirahat dan berobat. Namun, penyakit tak mesti menghentikan kehidupan seseorang saat itu juga. Sakit bisa juga menjadi sarana seseorang untuk memandang kehidupannya dari cara yang tak direncanakannya, hingga hidup bisa merencanakan sesuatu yang berbeda untuknya. Itulah yang ditunjukkan Sophie dan sembilan wignya, cara melanjutkan hidup, yang hanya bisa ditemukan oleh diri si sakit sendiri.

Meski menunjukkan emosi-emosinya, tulisan Sophie tidak cukup emosional untuk pembaca seperti saya. Saya justru merasakan suatu semangat kebebasan yang tinggi serta pemberontakan atas kehidupannya yang terpaksa melenceng dari rencananya semula, yang mungkin juga adalah cerminan dari kepribadian Sophie yang sesungguhnya. 3/5 bintang untuk napas hari ini.

Review #16 for Lucky No.15 Reading Challenge category Freebies Time