Category Archives: Mystery

Lethal White – Robert Galbraith

Lethal White (Cormoran Strike, #4)Title : Lethal White (Cormoran Strike #4)
Author : Robert Galbraith (2018)
Publisher : Mulholland Books / Little, Brown and Company
Edition : First edition, September 2018
Format : Large paperback, 650 pages

Setelah kasus Shacklewell Ripper yang diceritakan di buku ketiga, kantor detektif Cormoran Strike kebanjiran pekerjaan. Hal ini membantu Cormoran dan Robin menjaga keberlangsungan neraca yang seimbang agar bisa bekerja dengan tenang, tapi di sisi lain, pemberitaan media menyulitkan pekerjaan mereka yang seringkali harus menyamar dan bersembunyi dari sasaran mereka. Kedua partner ini harus selektif memilih klien yang sesuai dengan visi dan misi mereka, sembari tetap memperhatikan bayaran yang prospektif. Karena alasan-alasan ini, mereka perlu dan mampu mempekerjakan mitra detektif lain, yang bisa membantu terutama dalam masalah penyamaran.

Suatu hari, Cormoran kedatangan seorang dengan gangguan jiwa bernama Billy, yang mengungkit sesuatu mengenai pembunuhan di masa kecilnya. Kunjungan singkat ini mengganggu pikiran Cormoran, sehingga dia memutuskan menggali lebih lanjut, meski petunjuk yang ditinggalkan sangat minim. Penelusuran Strike membawanya ke Jimmy Knight, seorang aktivis kiri. Secara kebetulan (atau bukan kebetulan) di waktu yang berdekatan, dia diminta Jasper Chiswell—Menteri Kebudayaan—untuk menangani pemerasan yang dialaminya. Kasus ini berhubungan dengan Jimmy Knight dan suami dari Menteri Olahraga. Di samping bayaran yang tinggi, kasus ini juga membawanya ke kasus Billy.

“One cannot be held accountable for unintended consequences.” (p.102)

Kali ini Robin mendapat porsi besar dalam pekerjaan ini. Dia ditugaskan menyamar ke Istana Westminster sebagai pegawai magang di kantor Chiswell. Sesuai dengan janji Cormoran sebelumnya, bahwa Robin akan diposisikan sebagai partner, bukan hanya sekretaris. Meski mengandung risiko, pekerjaan semacam ini memang selalu diimpikan Robin. Bahkan walau saat ini kondisi mentalnya masih kurang baik, akibat trauma yang dialaminya pada kasus Shacklewell Ripper.

Perlahan tapi pasti, tim detektif Strike mengupas kasus yang rumit ini, yang berujung, berpangkal, dan berjalin dengan banyak kejadian di masa lalu, orang-orang yang pernah mereka kenal sebelumnya (termasuk Charlotte), rahasia-rahasia yang tak ingin diungkapkan, dan kasus pembunuhan yang baru. Dengan ketegangan, tantangan, bahaya, kejutan, seperti umumnya cerita detektif (yang bagi Cormoran termasuk beberapa kali gangguan di kakinya).

“The client doesn’t get to tell me what I can and can’t investigate. Unless you want the whole truth, I’m not your man.”
“You are, I know you’re the best, that’s why Papa hired you, and that’s why I want you.”
“Then you’ll need to answer questions when I ask them, instead of telling me what does and doesn’t matter.”
(p.313)

Saya tidak menyangkal bahwa salah satu daya tarik dari serial ini adalah bunga-bunga hubungan Cormoran dan Robin. Hubungan semacam ini mungkin cukup klise di buku roman, tetapi penulis berhasil meramunya menjadi sesuatu yang sangat diinginkan pembaca. Chemistry kedua partner ini begitu kuat, sehingga tidak bisa tidak saya merestui hubungan ini. Beberapa bagian cukup membuat gemas, tetapi karena status Robin sudah menjadi istri Matthew, tentunya kita perlu bersabar untuk mencapai ke tingkat yang lebih.

Hubungan Robin dan Matthew sejak pembukaan buku ini sudah tak harmonis lagi—agak terlambat karena kejadiannya di hari pernikahan mereka, tepat saat itu kebenaran tentang Matthew terbuka di hadapan Robin. Kejadian di hari pernikahan itu buat saya sudah menjadi sebuah kisah tersendiri, karena begitu banyak emosi yang terlibat dan kemungkinan yang bisa mengubah kehidupan mereka—meski akhirnya tak terjadi. Bagian prolog ini saja, sukses membuat saya terhenyak dan meninggalkan beragam perasaan.

“Pretending you’re OK when you aren’t isn’t strength.” (p.548)

Bagian lain yang menjadi favorit saya adalah saat Cormoran merasakan bahwa dirinya memiliki dan merupakan bagian dari sebuah keluarga, keluarga yang benar-benar memiliki hubungan darah dengannya. Di bagian ini, sisi manusia Strike yang selama ini terbalut dalam kemasan profesional, luruh menampakkan emosi yang mendalam.

Masalah keluarga juga hadir pada kasus Chiswell yang ditanganinya, yang sedikit banyak membuatnya menghubung-hubungkan dengan dirinya sendiri. Terlebih hubungan kekerabatan di keluarga Chiswell cukup rumit, dengan adanya affair, pernikahan kembali, dan kematian.

Selain itu, urusan keluarga ternyata cukup membebani tugas para detektif yang dituntut bekerja di luar jam kerja normal. Setahu saya, kebanyakan karakter detektif fiksi memang jarang yang memiliki hubungan serius ke orang lain, selain partner kerjanya. Hal ini cukup disorot, tentang hubungan asmara Cormoran yang tidak berlangsung baik, hambatan karena mitra-mitranya sudah berkeluarga.

(…) perhaps the only difference between the two of them was that Strike’s mother had live long enough, and loved him well enough, to stop him breaking when life threw terrible things at him. (p.505)

Kelebihan dari penulis yang satu ini adalah caranya meramu sebuah kisah yang mengandung paket lengkap. Kita tidak hanya mendapatkan kisah detektif yang rumit, di buku ini kita juga mendapatkan kisah cinta, kisah skandal di pemerintahan, kehidupan kaum kiri dan anarkis, beberapa sudut pandang mengenai kesehatan jiwa, pelecehan seksual, isu politik dan sosial, diskriminasi ras, dan hubungan yang tidak sehat. Hal-hal ini muncul dalam kehidupan pribadi detektif kita, maupun kasus yang ditanganinya. Isu-isu terkait perempuan juga masih kuat disuarakan.

“…. Ultimate responsibility always lies with the woman, who should have stopped it, who should have acted, who must have known. Your failings are really our failings, aren’t they? Because the proper role of the woman is carer, and there’s nothing lower in this whole world than a bad mother.” (p.479)

Di buku sebelumnya, penulis menggunakan lagu-lagu sebuah band untuk menandai babnya, kali ini dia menggunakan kutipan drama Rosmersholm karya Henrik Ibsen. Dengan latar waktu di sekitar saat Olimpiade London 2012, kita juga mendapat gambaran persiapan Olimpiade tersebut, baik dari dalam kementerian, maupun terkait antusiasme warga Inggris secara umum. Trivia lain yang bisa didapat adalah seputar kuda—yang berhubungan dengan hobi istri Chiswell, yang juga menjadi bagian penting dan petunjuk dari misteri yang disimpan. Termasuk menjadi judul buku ini.

Lethal white syndrome. (…). Pure white foal, seems healthy when it’s born, but defective bowel. Can’t pass feces. (…). They can’t survive, lethal whites. (p.355)

Secara keseluruhan, perjalanan yang ditawarkan buku ini seperti roller coaster, suatu saat kita naik perlahan, lalu ada ketegangan dan emosi, luapan kegembiraan di saat yang lain, dan berakhir dengan kehausan akan petualangan berikutnya. Meski begitu, bagi saya kesan yang ditimbulkan buku ini tak sekuat buku ketiganya—yang merupakan favorit saya. Mungkin karena porsinya cukup besar, begitu banyak hal yang terjadi, sehingga fokus saya pun harus dibagi-bagi.

It was a glorious thing, to be given hope, when all had seemed lost. (p.236)

Advertisements

The Devotion of Suspect X – Keigo Higashino

kesetiaan-mr-xTitle : Yōgisha X no Kenshin / Kesetiaan Mr. X (Detective Galileo #3)
Author : Keigo Higashino (2005)
Translator : Faira Ammadea
Editor : Dessy Harahap
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan pertama, 2016
Format : Paperback, 320 pages

“Mana yang paling sulit: menciptakan soal yang sulit atau memecahkannya? Hanya ada satu jawaban pasti. Bagaimana? Menarik, bukan?” (p.139)

Hari-hari Tetsuya ‘Daruma’ Ishigami teratur seperti jarum jam, pagi hari dari apartemennya dia akan melewati jalur yang sama menuju ke SMA tempatnya mengajar matematika. Namun, sebelumnya dia akan mampir ke kedai bento Benten-tei, tempat Yasuko Hanaoka bekerja. Apartemen Ishigami bersebelahan dengan Yasuko tetapi mereka jarang bertegur sapa, hanya di Benten-tei, alasan guru itu membeli bento setiap harinya.

Yasuko adalah seorang janda dengan seorang putri yang duduk di bangku SMP bernama Misato. Suatu sore, mantan suami yang selalu menerornya—Togashi, mendatangi wanita itu ke Benten-tei dan mengikutinya sampai ke apartemen. Keributan terjadi hingga dalam pembelaan diri, Togashi meninggal di tangan ibu dan anak tersebut. Kebetulan Ishigami mendengar keributan tersebut dan menawarkan bantuan untuk menutupi kejahatan tersebut, karena menyerahkan diri ke polisi mau tak mau harus melibatkan Misato.

Sebagai jenius matematika, Ishigami menggunakan kemampuan logikanya untuk membuat alibi dan menghilangkan bukti. Polisi dibuat kebingungan dengan penemuan-penemuan yang terkesan serampangan tetapi saat ditelusuri kejanggalan tersebut justru membawa mereka semakin jauh dari kebenaran. Satu-satunya tersangka kuat hanya sang mantan istri, tetapi tak ada bukti yang mendukung. Detektif Kusanagi yang menangani kasus ini berteman dengan Dr. Manabu Yukawa, Profesor Galileo yang ahli di bidang fisika, serta kerap membantu polisi tersebut. Namun kali ini posisinya berbeda karena ternyata Ishigami adalah teman kuliah Yukawa, sekaligus orang yang dikaguminya. Apakah kejeniusan Yukawa bisa mengalahkan Ishigami, dan apakah Yukawa tega menyingkap tindakan kawannya seandainya dirinya menemukan bukti?

“Menurutmu mana yang paling mudah saat mengerjakan soal matematika? Mencari jawaban sendiri? Memastikan jawaban dari orang lain benar atau salah? Atau malah kau ingin tahu seberapa tinggi tingkat kesulitannya?” (p.98-99)

Meski merupakan buku ketiga dari seri Detektif Galileo, membaca buku ini saja tidak membingungkan sama sekali. Terkecuali saya sempat salah mengira karakter utama karena begitu simpatiknya karakter Ishigami digambarkan, dan mungkin pandangan saya mengenai Yukawa akan berbeda seandainya bukan buku ini yang pertama saya baca. Cara penulis menghidupkan karakter Ishigami begitu manusiawi, dengan detail yang menjadikan pembaca begitu dekat, kemudian saat Yukawa masuk dan memberi sentuhan kehangatan kawan lama, saya bisa merasakan dilema antara kebenaran dan kemurahan hati. Ramuan logika dan kecerdasan kedua jenius tersebut lebur dengan pertemanan dan nostalgia, menjadikan buku ini bukan sekadar pemecahan misteri biasa. Apalagi ditambah selipan tentang prinsip dasar matematika dan fisika yang kemudian dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.

Satu persamaan di antara Ishigami dan Yukawa: mereka ingin membangun dunia ini berdasarkan teori. Namun metode pendekatan yang digunakan sama sekali berbeda. (p.92)

Suasana sendu semacam ini jamak pada sastra Jepang, sejauh yang pernah saya baca, tetap berpadu manis dengan kekerasan sadis yang tidak ditutup-tutupi pada genre misterinya. Buku ini tidak hanya berbicara tentang pembunuhan dan pemecahannya, tetapi mengupas juga seperti apa kehidupan seorang pembunuh. Dalam kasus Yasuko yang terpaksa melakukan kejahatan itu dan berusaha melanjutkan hidupnya, tidak mudah memiliki utang budi pada seseorang yang tadinya bukan siapa-siapa. Masalah baru timbul saat seorang pria dari masa lalu mendekatinya kembali dan membuat penolongnya cemburu.

Mana yang lebih mudah, merencanakan kejahatan atau menutupi kejahatan yang tak terencana? Jawaban yang disajikan akan sangat mengejutkan, karena petunjuknya ternyata sudah ada sejak halaman awal. Detail yang tampak tak penting akan menjadi kunci, karena, bukankah kita perlu menutupi sebuah kejahatan? 4/5 bintang untuk akhir kejahatan yang menyayat hati.

“Pertama-tama, kau harus mencari jawabannya sendiri, baru menyimak jawaban orang lain,” (p.245)

The Murder of Roger Ackroyd – Agatha Christie

roger ackroydTitle : The Murder of Roger Ackroyd
Author : Agatha Christie (1926)
Publisher : Fontana Books
Edition : Fourteenth impression, March 1976
Format : Paperback, 221 pages

The truth, however ugly in itself, is always curious and beautiful to the seeker after it. (p.117)

Mrs. Ferrars meninggal karena overdosis obat tidur hari itu, menyusul suaminya yang sudah meninggal lebih dari setahun lalu karena—rumornya—keracunan, atau diracun. Dr. James Sheppard yang bertugas di desa tersebut, King’s Abbot, tidak sependapat, tetapi kakak yang tinggal bersamanya, Caroline, selalu punya teori sensasional atas segala kejadian di tempat itu. Caroline entah bagaimana caranya selalu bisa mendapatkan informasi tanpa harus keluar dari rumah, tak ada berita yang lolos darinya. Menurut teori Caroline Sheppard, Mrs. Ferrars meracuni suaminya, lalu setelah setahun hidup dengan rasa bersalah, dia memutuskan untuk bunuh diri dengan obat tidur. Masalahnya, tidak ada surat yang ditinggalkan seperti pada umumnya seorang yang akan mengakhiri hidupnya.

Teori Caroline yang lain berhubungan dengan Roger Ackroyd, seorang yang sangat kaya dan berpengaruh di King’s Abbot. Dengan berbagai spekulasi mengenai motif dan affair yang terjadi di keluarga tersebut. Mulai dari hubungan anak tirinya, Ralph Paton, dengan kemenakannya, Flora Ackroyd, sampai dengan orang ketiga, pelayan dan pengurus rumah. Masalah sedikit demi sedikit mulai terbuka dengan pengungkapan adanya pemerasan paska kematian Mr. Ferrars, dan surat terakhir Mrs. Ferrars yang dialamatkan pada Roger Ackroyd. Namun, Roger Ackroyd dibunuh setelah mendapatkan surat tersebut, sebelum sempat mengungkapkannya.

You should employ your little grey cells. (p.177)

Cerita ini disampaikan melalui narasi Dr. Sheppard sebagai orang pertama. Sebagai dokter, Sheppard tentunya mengenal dan bebas berhubungan dengan orang-orang di King’s Abbot. Apalagi dia termasuk orang kepercayaan Roger Ackroyd sendiri, dan dekat dengan keluarganya, sehingga pembaca dapat dengan leluasa melihat berbagai kisah orang-orang melalui pandangan Sheppard.

Dalam buku ini, Hercule Poirot diceritakan hendak menikmati masa pensiunnya dengan tenang tanpa publikasi. Kebetulan dia tinggal di sebelah rumah Sheppard. Kejadian pembunuhan itu memaksanya ‘bekerja’ kembali, atas permohonan Flora Ackroyd yang sudah mengenal Poirot sebelum mereka pindah ke King’s Abbot.

Seperti biasa, Agatha Christie selalu punya kejutan tak terduga dalam buku-bukunya. Pemilihan karakter, penggunaan narasi, dan runtutan kejadian ditulis dengan penuh perhitungan. Awalnya, saya merasa karakter Caroline ini sebagai ‘pemanis’ kisah, membuat ramai dengan berbagai teori dan gosip yang diembuskannya. Akan tetapi, ternyata ada maksud tertentu memunculkan karakter ini, mulai dari memperkaya informasi untuk narator kita, sampai dengan menunjukkan bahwa pembaca seperti saya ternyata tak jauh beda dengan dirinya.

Women observe subconsciously a thousand little details, without knowing that they are doing so. Their subconscious mind adds these little things together—and they call the result intuition. (p.119)

Salah satu hal yang menarik di sini adalah penekanan bahwa setiap orang memiliki rahasia. Sebagaimana umumnya, orang-orang yang berhubungan dengan korban pembunuhan selalu ditanya alibinya. Tetapi Poirot tahu, ada yang ditutup-tutupi oleh masing-masing mereka, dengan alasannya masing-masing. Meski terlihat tak berhubungan dengan kasus, Poirot berkeras ingin mengetahui kebenaran. Hal ini lalu membuka banyak fakta, mulai dari kisah percintaan yang sedih, keluarga yang tak diharapkan, hingga aib dan kesalahan yang boleh tetap menjadi rahasia.

It is the business of Hercule Poirot to know things. (p.180)

4/5 bintang untuk jebakan pembaca dan pembunuh yang (terlalu) merasa pintar tapi terjebak sendiri oleh detektif kita.

And Then There Were None – Agatha Christie

attwnTitle : And Then There Were None (Lalu Semuanya Lenyap)
Author : Agatha Christie (1939)
Translator : Mareta
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan kesepuluh, Januari 2014
Format : Paperback, 296 pages

Sepuluh anak Negro makan malam;
Seorang tersedak, tinggal sembilan.
Sembilan anak Negro bergadang jauh malam;
Seorang ketiduran, tinggal delapan.
Delapan anak Negro berkeliling Devon;
Seorang tak mau pulang, tinggal tujuh.

Hakim Justice Wargrave mendapat undangan dari seorang kawan lama ke Pulau Negro, di seberang Pantai Devon. Kabarnya, pulau itu telah dibeli miliuner, atau bintang film, atau bangsawan, atau mungkin Angkatan Laut. Vera Claythorne yang kehilangan pekerjaannya sebagai pengasuh anak mendapat tawaran yang murah hati di Pulau Negro. Di tempat lain, Kapten Philip Lombard mendapat tawaran di tempat yang sama, untuk sesuatu yang mungkin berbahaya. Begitu pula Emily Brent, Jenderal Macarthur, Dokter Armstrong, Tony Marston, dan Mr. Blore mendapatkan undangan yang sama dengan tujuan masing-masing.

Kedelapan orang yang tak saling mengenal tersebut menyeberang ke Pulau Negro, dan menemukan mereka dijamu dengan mewah oleh sepasang pelayan. Meski begitu, tuan rumah mereka, U. N. Owen, tidak kunjung muncul, hingga setelah makan malam terjadi kehebohan akibat rekaman misterius yang membeberkan ‘dosa-dosa’ kesepuluh orang yang ada di dalam rumah tersebut—delapan tamu dan dua pelayan. Tidak ada yang merasa melakukan dosa-dosa tersebut.

Tujuh anak Negro mengapak kayu;
Seorang terkapak, tinggal enam.
Enam anak Negro bermain sarang lebah;
Seorang tersengat, tinggal lima.

Kematian misterius pun menghampiri satu per satu. Anehnya, cara kematian mereka sesuai dengan sajak Sepuluh Anak Negro yang merupakan sajak kanak-kanak lama, yang entah disengaja atau kebetulan, tergantung di setiap kamar. Sulit melacak jejak sang pembunuh, kalau memang ada, tetapi terlalu banyak kebetulan jika hendak dibilang kecelakaan. Sementara itu, tak ada jalan keluar dari pulau misterius itu. Mampukah mereka menyelamatkan diri, sampai baris mana sajak itu akan memakan korban, dan siapa yang membuat jebakan itu untuk mereka, serta apa kepentingannya?

Lima anak Negro ke pengadilan;
Seorang ke kedutaan, tinggal empat.
Empat anak Negro pergi ke laut;
Seorang dimakan ikan herring merah, tinggal tiga.

Buku ini adalah salah satu karya penulis yang paling terkenal. Meski tanpa detektif, unsur misteri dan suspense sangat kental di buku ini. Kita diajak ikut menebak-nebak siapa yang melakukan pembunuhan-pembunuhan tersebut, terlebih setiap tuduhan mengarah ke seseorang, tiba-tiba dia menjadi korban berikutnya. Kesepuluh karakter tersebut juga dieksplorasi dengan porsi yang cukup, terutama mengenai ‘dosa’ yang dituduhkan pada masing-masing mereka. Di sini kita melihat betapa keadilan dapat menjadi sesuatu yang subjektif, serta bagaimana manusia seringkali mencari pembenaran atas sikapnya, hingga pada titik di mana dia tidak lagi menganggap perbuatan itu salah.

Buku ini membuat saya mempertanyakan batas kemanusiaan kita. Apakah kita akan dengan senang hati mengorbankan orang lain demi keselamatan kita, seberapa murah hatinya kita untuk mengorbankan kepentingan kita demi seseorang yang kita rasa tak berhak untuk itu, seberapa jauh kita bisa berbuat untuk melindungi diri kita dari rasa bersalah. 4/5 bintang untuk ‘pengadilan’ yang misterius.

Tiga anak Negro pergi ke kebun binatang;
Seorang diterkam beruang, tinggal dua.
Dua anak Negro duduk berjemur;
Seorang hangus, tinggal satu.
Seorang anak Negro yang sendirian;
Menggantung diri, habislah sudah.

and_then_there_were_none_title_card

Buku ini pertama kali diterbitkan dengan judul Ten Little Niggers (sempat juga dipakai dalam terjemahan lama Gramedia—Sepuluh Anak Negro). Namun, karena kata nigger dianggap sangat kasar di Amerika, maka dibuatlah judul alternatif. Selain And Then There Were None, ada juga versi yang mengganti Niggers dengan Indians atau Soldiers. Walaupun sudah banyak diadaptasi ke dalam film maupun serial, saya baru menonton satu adaptasi dari BBC One yang ditayangkan perdana akhir 2015 lalu. (Sebenarnya buku ini sudah saya baca ulang sejak September 2015, tapi baru saya buat reviewnya sekarang). Dalam versi ini, kata Nigger sepenuhnya diganti menjadi Soldier, baik dalam puisi maupun nama pulaunya. Selain itu, beberapa perbedaan detail yang lazim kita temui dalam adaptasi saya rasa tidak terlalu mengganggu kecuali satu hal, adanya romansa yang terjalin pada salah dua karakter tersebut. Menurut saya, unsur tersebut malah menutupi unsur suspense yang ada di dalam buku, yang menjadi daya tariknya menurut saya. Namun bagi yang suka dengan drama, mungkin ini justru menjadi sebuah kelebihan.

7 Kisah Klasik – Edgar Allan Poe (+ GIVEAWAY)

7 Kisah Klasik Edgar Allan Poe [Diva] web2Title : 7 Kisah Klasik Edgar Allan Poe (taken from The Works of Edgar Allan Poe Vol. 1-5)
Author : Edgar Allan Poe
Translator : Diyan Yulianto dan Slamat P. Sinambela
Editor : Misni
Publisher : DIVA Press
Edition : Cetakan pertama, September 2015
Format : Paperback, 204 pages

Contents:
1. Kucing Hitam / The Black Cat (1843)
2. Jantung yang Berkisah / The Tell-Tale Heart (1843)
3. Kumbang Emas / The Gold Bug (1843)
4. William Wilson (1839)
5. Potret Oval Seorang Gadis / The Oval Portrait (1842)
6. Runtuhnya Kediaman Keluarga Usher / The Fall of the House of Usher (1839)
7. Obrolan Bersama Sesosok Mumi / Some Words with a Mummy (1845)

Puncaknya, kesadaran benda mati itu ada pada genangan air telaga yang hening tak tersentuh di pinggir rumah. (p.160, Runtuhnya Kediaman Keluarga Usher)

Ketujuh kisah dalam buku ini masing-masing memiliki keunikannya sendiri. Teror dan misteri yang ditampilkannya seolah menelusuri satu per satu ketakutan dan rasa penasaran manusia. Sebelumnya, kisah Kucing Hitam sudah dibahas sekilas di blog Baca Itu Beken beserta proses penerjemahan buku ini. Sedangkan kisah Kumbang Emas sudah dibahas secara mendetail di Mari Ngomongin Buku. Lima dari tujuh kisah tersebut memang bergenre horor, sedangkan Kumbang Emas merupakan petualangan, dan Obrolan Bersama Sesosok Mumi lebih ke arah satir, yang masih sangat relevan pada masa sekarang. Benang merahnya adalah pada hal-hal yang menantang akal sehat manusia.

Meski sebagian besar misteri itu tak terjelaskan secara nalar dan sulit dipercaya, saya justru merasa bahwa Poe memiliki naluri psikiatris yang peka. Seperti (apa yang tampaknya sebagai) halusinasi pendengaran dari seseorang yang (merasa) bersalah dalam kisah Jantung yang Berkisah, bukan sekadar horor mistis biasa. Sang narator menggunakan sudut pandang orang pertama, menceritakan bagaimana dirinya yang dihantui oleh kepekaan inderanya sendiri, terobsesi pada mata seorang pria tua yang digambarkan seperti mata burung pemakan bangkai—biru pucat yang dilapisi selaput tipis. Dari caranya berkisah, kita dibawa ke dalam ketakutannya yang ‘tidak sehat’ pada pria tua itu, yang mungkin juga memiliki misterinya sendiri.

Lain halnya dengan Runtuhnya Kediaman Keluarga Usher yang juga berimbas secara fisik, ‘gangguan’ ditampakkan pada kawan sang narator, yang tentu saja memberikan teror tersendiri bagi sang narator. Apa saja yang bisa dilakukan oleh seseorang yang ‘terganggu’ jiwanya, kita tak pernah tahu. Apakah itu ulah jiwa yang terganggu, atau ada sesuatu yang lain di baliknya, itulah misterinya. Uniknya, di sini penulis mengangkat bagaimana seorang yang terganggu jiwanya ternyata memiliki bakat yang luar biasa di bidang tertentu. Manusia dengan berbagai dinamika jiwanya selalu meninggalkan misteri bagi orang-orang di sekitarnya.

Saya pernah mengatakan bahwa kisah misteri akan tetap menjadi misteri jika kita tak tahu penjelasan logisnya, bahwa penjelasan justru akan menghilangkan kisah mistis dari kisah tersebut. Dan hal inilah mengapa lebih singkat berarti lebih mistis. Selaras dengan itu, Poe beranggapan bahwa kisah yang baik adalah kisah yang pendek, yang dapat dibaca dalam sekali duduk. Menurutnya, adanya jeda dalam membaca suatu cerita akan merusak kesan keseluruhan kisah tersebut. Oleh karena itulah, hampir semua karya yang dihasilkan Poe seumur hidupnya berupa cerita pendek atau puisi. Potret Oval Seorang Gadis membuktikan kelihaiannya membuat cerita yang benar-benar pendek, tapi menampilkan misteri yang tak kalah menegangkan.

“…. Tapi, mungkin juga, alasan yang sesungguhnya adalah karena usia kami yang sudah tidak muda, yang sudah terbiasa melihat berbagai hal tak masuk akal, dan kecenderungan kami untuk meyakini bahwa selalu ada penjelasan untuk setiap hal yang tidak masuk akal dan mustahil sekalipun. ….” (p.184, Obrolan Bersama Sesosok Mumi)

edgar allan

Sekarang, saatnya kuis. Silakan simak ketentuannya:

  1. Peserta kuis berdomisili atau memiliki alamat di Indonesia
  2. (Wajib) Follow Twitter@divapress01. atau like fanpage Facebook Penerbit DIVA Press.
  3. (Wajib) Membagikan post ini minimal satu kali di Twitter atau Facebook.
  4. Jawab pertanyaan ini di kolom komentar, cukup satu kali saja:

Menurut kalian, apa teror terbesar bagi jiwa manusia, atau, kondisi jiwa semacam apa yang menurut kalian paling menakutkan.

Jelaskan jawaban kalian dalam tidak lebih dari 7 kalimat.

  1. Format jawaban:

Nama:
Twitter/Facebook:
Email:
Link share:
Jawaban:

  1. Giveaway ini berlaku sampai hari Minggu, 25 Oktober 2015. Pengumuman pemenang pada hari Senin, 26 Oktober 2015.
  2. Pemenang akan saya pilih berdasarkan jawaban yang paling menarik, dan akan mendapatkan sebuah buku ini dan sebuah novel terbaru DIVA Press.

Semoga beruntung!