Category Archives: Philosophical

Inspirations – Paulo Coelho

inspirationsTitle : Inspirations: Selections from Classic Literature
Selected by : Paulo Coelho (2010)
Publisher : Penguin Classics
Editions : First paperback edition, 2011
Format : Paperback, xvi + 340 pages

An anthology is not only a collection of texts or poems, but a gift, something we arrange, according to our sensitivities, to give to others. (p.xiii)

Mengumpulkan karya-karya klasik dalam satu buku adalah sebuah seni mengenai bagaimana merangkainya menjadi satu kesatuan yang utuh, bukan bagian-bagian yang terpaksa disatukan, atau sekadar diurutkan tanpa makna. Atas dasar inilah Paulo Coelho merangkai berbagai cerita pendek atau potongan novel klasik dengan mengklasifikasikannya menurut unsur dasar semesta: air (water), tanah (earth), udara (air) dan api (fire). Keempat elemen dasar ini dipercaya mewakili simbol-simbol segala dimensi di alam raya ini.

Meskipun sering mendengar mengenai empat elemen dasar, saya sendiri belum yakin dengan pengertian yang sesungguhnya. Beberapa sumber yang saya baca pun menunjukkan bahwa keempat elemen ini dapat ditafsirkan secara berbeda dan bervariasi. Namun demikian, pasti ada sebuah konsep universal yang diwakili oleh sifat-sifat utama elemen tersebut. Dalam buku ini, sebelum memulai rangkaian kisahnya, Coelho mendefinisikannya secara singkat.

Air sebagai sumber kehidupan, tempat segalanya mungkin, dihubungkan dengan temperamen ‘lymphatic’. Air dalam menyimpan banyak hal tak terduga, mimpi dan imajinasi, tenang tapi menyimpan potensi. Rangkaian air ini diwakili oleh kisah The Ugly Duckling (Hans Christian Andersen), The Tale of King Shahriyar and his Brother Shahzaman (Tales from the Thousand and One Nights), The Prince (Niccolò Machiavelli), Through the Looking-Glass (Lewis Carroll), dan The Art of War (Sun-Tzu).

Tanah tempat kehidupan terlahir dihubungkan dengan temperamen melankolis. Tempat yang menyimpan berbagai potensi dalam gelap dan dingin, kemudian menghidupkan harapan akan cinta, keamanan, dan kebahagiaan. Dalam rangkaian ini terlihat evolusi tersebut dari kisah ke kisah; pengkhianatan dalam De Profundis (Oscar Wilde), kegelapan jiwa manusia di Dracula (Bram Stoker), juga Eichmann and the Holocaust (Hannah Arendt), harapan akan cinta pada Selected Poems of W. B. Yeats, hingga gairah di Lady Chatterley’s Lover (D. H. Lawrence).

Udara bersifat tidak stabil dan tidak dapat dikendalikan. Seperti pikiran dan jiwa, tidak tersentuh tapi dapat dirasakan. Udara dapat membisikkan ketenangan, tetapi juga dapat menghembuskan kemarahan. Elemen udara digambarkan oleh No Easy Walk to Freedom (Nelson Mandela), One Hundred Years of Solitude (Gabriel García Márquez), The Strange Case of Dr Jekyll and Mr Hyde (Robert Louis Stevenson), Nineteen Eighty-Four (George Orwell), serta The Library of Babel (from Fictions by Jorge Luis Borges).

Api yang besar dapat berbahaya dan menghancurkan, tetapi api juga memberi kehidupan dan kekuatan. Api yang membara juga merupakan simbol cinta yang tertinggi. Rangkaian ini didominasi oleh kisah-kisah yang menyangkut spiritual; Hymns to Agni, God of the Sacrifice (Rig Veda), Sayings of the Early Christian Monks (The Desert Fathers), Bhagavad Gita, Dead Sea Scrolls, Venus in Furs (Leopold Sacher-Masoch), The Prophet (Kahlil Gibran), Spiritual Verses (Rumi), Selected Poems by Rabindranath Tagore, dan Frankenstein (Mary Shelley).

Luasnya spektrum karya klasik yang dipilih membuat buku ini terlihat kaya dan beraneka rasa. Cuplikan berbagai buku tersebut dapat membantu memberi bayangan akan keseluruhan isi buku tersebut, lebih daripada sinopsis dan review yang biasanya kita cari, karena kita paling tidak sebuah bab terpilih benar-benar kita nikmati dan rasakan sendiri. Rasa penasaran saya akan The Prince dan The Art of War terjawab, keinginan saya membaca De Profundis dan puisi W. B. Yeats muncul, serta timbul bayangan yang lebih jelas akan karya Gibran dan Rumi. Beberapa karya yang sudah saya baca seperti Through the Looking-Glass, Nineteen Eighty-Four, dan Frankenstein pun menyuguhkan ‘rasa’ yang berbeda karena kita diarahkan kepada sebuah penafsiran khusus yang mungkin berbeda dengan cara kita membaca pada mulanya.

The great things of life are what they seem to be, and for that reason, strange as it may sound to you, are often difficult to interpret. But the little things of life are symbols. We receive our bitter lessons most easily through them. Your seemingly casual choice of a feigned name was, and will remain, symbolic. It reveals you. (Oscar Wilde, De Profundis, p.67)

Bagaimanapun juga, pasti ada kesan yang kurang dan pemahaman yang tertinggal dari cuplikan-cuplikan semacam ini. Meski dipilih dengan penuh pertimbangan, koleksi ini memang bukan bertujuan menunjukkan keseluruhan isi berbagai judul buku klasik tersebut. Buku ini berbicara sendiri, dengan cara dan bahasanya sendiri. 2.5/5 bintang untuk buket buku klasik a la Coelho.

As soon as you wish to be natural you become common. (Leopold Sacher-Masoch, Venus in Furs, p.196)

Review #24 for Lucky No.15 Reading Challenge category Something Borrowed

Adultery – Paulo Coelho

adulteryTitle : Selingkuh (Adultério)
Author : Paulo Coelho (2014)
Translator : Rosi L. Simamora
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan pertama, 2014
Format : Paperback, 320 pages

Banyak orang mengatakan waktu menyembuhkan semua luka, tetapi itu tidak benar.
Tampaknya, waktu hanya menyembuhkan hal-hal baik yang ingin kita genggam selamanya. Waktu memberitahu kita, “Jangan konyol, ini kenyataan.” Itulah sebabnya semua yang kubaca demi mengangkat semangatku tidak pernah bertahan lama. Ada lubang di dalam jiwaku yang mengisap semua energi positif di dalam diriku, dan hanya meninggalkan kekosongan. Aku sangat mengenal lubang itu—aku telah hidup bersamanya berbulan-bulan—tetapi aku tidak tahu bagaimana melepaskan diri dari cengkeramannya.

Semua yang kita cari dengan penuh antusiasme sebelum kita mencapai masa dewasa—cinta, pekerjaan, iman—berubah menjadi beban yang terlalu berat untuk ditanggung.
Hanya ada satu cara untuk melepaskan diri dari hal ini: cinta. Mencintai berarti mengubah perbudakan menjadi kebebasan.
Tetapi sekarang ini, aku tidak bisa mencintai. Aku hanya merasakan benci.
Dan meskipun kedengarannya tidak masuk akal, itu memberi makna pada hari-hariku.
(p.155-156)

Linda memiliki segala yang diimpikan seorang wanita berusia tiga puluhan tahun; suami yang hebat, anak-anak yang luar biasa, pekerjaan yang mapan, rumah tangga yang bahagia, tetapi ada yang salah di dalam dirinya. Ada sebuah kekosongan yang tak terjelaskan dalam jiwanya. Dia bahagia tetapi tidak merasa bahagia. Dia sudah mencoba mencari bantuan profesional, tetapi tak ada yang bisa menghilangkan kegusarannya. Sampai saat pekerjaan mempertemukannya kembali dengan mantan kekasihnya, dia terlibat dalam hubungan terlarang yang membangkitkan kembali apa yang terkubur dalam jiwanya.

Saya rasa, ada Linda dalam setiap diri kita, pada suatu episode hidup kita. Ada kalanya kita merasa tak pantas untuk mengeluh, menilik apa yang sudah kita miliki dan kita capai, tetapi jauh di kedalaman jiwa kita, ada lubang yang tak bisa kita abaikan begitu saja. Lubang yang kalaupun kita abaikan, pada akhirnya akan memakan jiwa kita perlahan. Ada sesuatu hal yang tidak bisa kita bagikan kepada orang lain, karena rasanya tak ada yang mengerti. Seperti Linda, dia berselingkuh bukan karena rumah tangganya bermasalah, bukan karena suaminya memiliki kekurangan, bukan karena pria lain lebih menarik, bukan karena prasangka apa pun yang bisa dipikirkan oleh orang lain.

Kau tidak memilih hidupmu, hiduplah yang memilih dirimu. Tidak ada gunanya bertanya mengapa kehidupan menahan suatu kebahagiaan atau kesedihan, kau hanya bisa menerimanya dan melanjutkan hidupmu.
Kita tidak dapat memilih hidup kita, tetapi kita dapat memutuskan apa yang akan kita lakukan dengan kebahagiaan atau kesedihan yang kita dapatkan.
(p.103)

Bisa dikatakan, kita menghabiskan sebagian besar hidup kita untuk menyenangkan orang lain, hidup dengan standar yang ditentukan oleh masyarakat, menjaga citra diri kita agar sesuai dengan apa yang secara umum dianggap baik. Seringkali kita lupa untuk menanyakan pada diri kita, apa yang sebenarnya kita inginkan, apa yang kita butuhkan untuk ‘hidup’.

Mungkin mereka tidak memiliki kebutuhan untuk membuat orang lain terkesan. Aku memiliki kebutuhan itu, dan aku tidak dapat menolaknya, karena itu merupakan pengaruh baik dalam hidupku, terus mendorongku. Selama aku tidak mengambil risiko yang tidak perlu, tentu saja. Selama aku dapat menjaga duniaku tepat seperti sekarang ini. (p.83)

“Kita bukan orang yang semula kita inginkan. Kita adalah yang dituntut masyarakat. Kita adalah apa yang dipilih orangtua kita. Kita tidak ingin mengecewakan siapa pun; kita memiliki kebutuhan yang besar untuk dicintai. Jadi kita menutupi sisi terbaik diri kita. Perlahan-lahan, cahaya impian kita berubah menjadi monster dalam mimpi-mimpi buruk. Mereka menjadi hal-hal yang tidak dilakukan, kemungkinan-kemungkinan yang tidak kita jalankan.” (p.165)

Saya pribadi sebenarnya tidak merasakan keterikatan dengan karakter Linda dan konfliknya. Saya tidak suka dengan pandangan hidup Linda serta bagaimana dia mengambil pilihan. Banyak ide-ide penulis yang tidak saya sepakati. Meski begitu, penulis berhasil menyampaikan ide-ide universal mengenai hidup melalui kehidupan Linda. Melalui Linda, saya sadar bahwa terkadang kita merasa mengerti sesuatu yang belum pernah kita alami, padahal sesungguhnya tidak. Melalui kegagalannya dalam menemukan bantuan profesional menunjukkan bahwa mengecilkan masalah orang lain tidak akan memberikan penghiburan bagi mereka. Melalui pencarian dan penemuannya, saya belajar bahwa untuk merayakan hidup, sekali-sekali kita perlu juga untuk terpuruk.

Ketika kita memberikan segalanya, kita tidak dapat kehilangan apa-apa lagi. (p.311)

Setting dalam Buku

Juni : Setting dalam Buku

Juni : Setting dalam Buku

Linda adalah orang Swiss asli, dan buku ini mengambil setting di Jenewa. Penulis tak hanya menggunakan setting tempat ini sebagai sematan, tetapi dia juga menggambarkannya dengan cukup detail. Selain tempat, penulis menyinggung kebiasaan, gaya hidup, sampai kebudayaan orang Swiss yang kemungkinan hanya bisa dipahami oleh orang yang tinggal di Swiss. Bahkan karakter Linda ditunjukkan dengan kebanggaan yang alami sebagai warga Swiss.

Biarkan mereka percaya bahwa kami hanya memproduksi keju, cokelat, sapi, dan jam kukuk. Biarkan mereka percaya ada bank di setiap sudut jalan di Jenewa. Kami tidak berniat mengubah citra itu. Kami bahagia tanpa gerombolan orang-orang Barbar itu. Kami semua dipersenjatai dengan sangat lengkap (mengingat dinas militer merupakan kewajiban, setiap laki-laki Swiss menyimpan senjata di rumahnya), tetapi kau jarang mendengar seseorang menembak orang lain. (p.20)

Buku ini menggunakan sudut pandang orang pertama, sehingga narator yang sekaligus karakter utama—Linda, sangat mengetahui apa yang dideskripsikannya. Jalanan kota, pergantian musim, cerita rakyat, sikap para warga negaranya, dan lain sebagainya, menjelma sebagai bagian yang utuh dari setting cerita ini. Saya pribadi tidak tahu pasti mengenai tingkat akurasinya, tetapi dari segi sinambungnya di dalam buku ini, saya rasa penulis telah melakukan riset dengan cukup baik.

4/5 bintang untuk jiwa yang (tak) tenang.

Review #23 for Lucky No.15 Reading Challenge category One Word Only!

The Ringmaster’s Daughter – Jostein Gaarder

3131683Title : The Ringmaster’s Daughter (Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng)
Author : Jostein Gaarder (2001)
Translator : A. Rahartati Bambang
Editor : Andityas Prabantoro
Publisher : Penerbit Mizan
Edition : Cetakan I, Februari 2006
Format : Paperback, 394 pages

Saya tidak pernah menemui kesulitan dalam membedakan antara imajinasi dan kenyataan. Masalahnya adalah membedakan antara kenangan mengenai khayalan atau kenangan mengenai kenyataan. Itu benar-benar masalah lain. (p.25)

Petter kecil dianggap bermasalah karena jarang membaur dengan anak-anak seusianya. Dia lebih sering menonton mereka, kemudian membayangkan seandainya begini dan begitu, merancang kisah-kisah dalam kepalanya. Petter yang cerdas pun memanfaatkan kepandaiannya dengan membisniskan pengerjaan PR teman sekelasnya. Petter juga memiliki selera yang berbeda, seperti musik klasik dan film yang biasa dinikmatinya bersama ibunya.

Saya senang melihat orang lain beraksi. Saya senang melihat mereka mengungkapkan diri mereka. (p.70)

Orang tua Petter bercerai, dia tinggal bersama ibunya, dan otomatis lebih dekat padanya. Hingga saat ibunya meninggal, saat usia Petter masih baru dewasa, dia tinggal sendirian di apartemennya. Petter tidak pernah menjalin hubungan serius dengan wanita, kecuali satu orang, Maria. Akan tetapi, Maria pun akhirnya memutuskan pergi, dengan membawa sebagian dari diri Petter.

Imajinasi Petter adalah hartanya yang paling berharga. Saat kesulitan uang, dia memutuskan untuk menjual ide-ide ceritanya kepada para novelis yang kehabisan ide. Gagasan dan imajinasinya sangat brilian, bahkan dia merasa ‘sesak’ dengan jalan pikirannya yang seolah tak berhenti memikirkan gagasan demi gagasan. Bisnis penjualan ide ini berjalan lancar, selama puluhan tahun. Bisnis yang diaturnya dengan rapi, tetapi manusia mana pun ternyata memiliki batas.

Mempertimbangkan kata itu penting jika kita mencari nafkah dalam sebuah lingkungan sosial. Kepercayaan adalah sesuatu yang harus dibangun secara terus-menerus. (p.261)

Buku ini ditulis dengan sudut pandang orang pertama, seolah Petter mengajak pembaca untuk menyelami pemikirannya yang berbeda dari kebanyakan orang. Di saat orang-orang sibuk mengaktualisasikan diri menulis novel, menjadi terkenal, memancing sorotan, dia memilih untuk berada di balik layar. Baginya, menjual ide sama halnya dengan menjual bahan mentah, hasil akhirnya akan bergantung pada para penulis yang mengolah ide tersebut. Asalkan dia mendapatkan bayaran untuknya melanjutkan hidup, dia tidak akan mengusik rahasia para pelanggannya. Dalam bisnis inilah dia menganyam jaringnya, berada di pusat bagaikan laba-laba menjaring mangsanya.

Saya akui, ide-ide Petter memang luar biasa. Gaya dan temanya sangat bervariasi, hingga saya sangat ingin membacanya dalam versi lengkap (jika ada). Biasanya, penulis akan menyebutkan secara umum ide-ide tulisan Petter, tetapi ada juga yang dituliskan secara lebih terperinci dalam ringkasan cerita. Salah satu yang paling berkesan bagi saya adalah kisah mengenai Penyakit Tanpa Jiwa (Konstanta Jiwa, p.198-207) saat penduduk bumi mencapai 12 milyar. Gaya seperti ini agak mengingatkan saya pada karya Italo Calvino ini, yang juga memiliki cerita di dalam cerita.

Saya tidak tahu dengan versi aslinya, di versi terjemahan bahasa Indonesia yang saya baca, saya agak merasa kurang nyaman dengan penggunaan logat Betawi (sudah saya cek ulang di KBBI), seperti ‘…orang-orang pada saling berbicara.’ (p.245) dan beberapa kali saya menemukan kata ‘cape’. Saya juga memerlukan sedikit pembiasaan dengan kata ‘saya’ dalam narasi, bukannya ‘aku’ seperti umumnya novel terjemahan.

Meski digambarkan dengan pendirian dan idealisme yang sangat kuat, saya merasakan kerapuhan tersembunyi dalam diri Petter. Kerapuhan ini akan terbuka di akhir kisah, yang menjelaskan keunikan Petter selama ini. Titik itu berhubungan dengan Maria, yang bisa dikatakan sebagai cinta pertama (dan terakhir?) Petter, juga sebuah kisah tentang Putri Sirkus bernama Panina Manina. Putri Sirkus yang menjadi judul bagi buku ini memang memiliki peran penting dalam keseluruhan kisah. Tampaknya, kisah Panina Manina adalah salah satu kisah yang akan diceritakan Petter kepada orang-orang yang menurutnya istimewa, tanpa disadarinya.

Secara keseluruhan, saya suka dengan segala hal tersembunyi yang disampaikan penulis melalui kisah-kisah Petter. Makna dan pesan-pesan tersebut mengajak kita untuk berpikir di luar cara berpikir Petter, dan menemukan sesuatu yang tidak ditemukannya. Melalui kisah Panina Manina, melalui Lelaki Semeter yang selalu mengikuti Petter, dan melalui masa lalunya sendiri.

3/5 bintang untuk sang penjual dongeng.

Review #11 for Lucky No.15 Reading Challenge category Favorite Color (purple)

Billions & Billions – Carl Sagan

61665Title : Billions & Billions: Thoughts on Life and Death at the Brink of the Millenium
Author : Carl Sagan (1997) (with Ann Druyan)
Publisher : Ballantine Books
Edition : First Ballantine Books Edition, June 1998, 4th printing
Format : Paperback, 296 pages

If you understand exponentials, the key to many of the secrets of the Universe is in your hand. (p.25)

Berapakah milyaran dan milyaran itu? Beberapa milyar? Banyak milyar? Apakah lebih banyak dari trilyunan? Saat seseorang melekatkan frasa ‘billions and billions’ padanya, penulis merasa harus meluruskan bahwa milyaran dan milyaran itu jauh lebih kecil jika dibandingkan 1063, misalnya. Kita hidup dikelilingi oleh jumlah, oleh angka. Jika dulunya manusia hanya ada 2, berkembang menjadi puluhan, ribuan, hingga kini mencapai 7 milyar. Jarak yang kita kenal hanya beberapa kilometer, dengan perkembangan sains kini kita bisa memprediksi jarak trilyunan tahun cahaya. Waktu penciptaan alam semesta, jumlah galaksi dan bintang-bintang, sangat banyak, tetapi kita bisa menghitungnya.

Ilmu pengetahuan manusia berkembang, kita semakin mengenal banyak hal, mengetahui banyak hal, dan menciptakan banyak hal. Namun ternyata, lebih banyak lagi hal yang tidak kita ketahui. Kita tidak tahu sebelumnya, bahwa penemuan-penemuan yang mempermudah hidup kita akan berdampak buruk bagi lingkungan. Pun ketika mengetahuinya, kita tidak serta-merta bisa meninggalkannya, karena satu dan banyak alasan. Kita tidak tahu bagaimana menyikapi kemajuan teknologi dengan bijak, sehingga terjadi pemanasan global akibat efek rumah kaca semakin parah, lahir perang nuklir yang menyebabkan pengeluaran yang tak perlu untuk hal-hal yang seharusnya bisa dihidari jika kita bisa lebih bijak.

Maybe the products of science are simply too powerful, too dangerous for us. Maybe we’re not grown-up enough to be given them. (p.87)

Melalui buku terakhirnya, penulis mengajak kita berpikir tentang bumi kita, dan alam semesta ini. Saat buku ini ditulis di akhir abad ke-20, banyak isu tentang lingkungan lokal dan global masih hangat untuk dibahas. Bahkan kini, setelah dua dekade, isu-isu yang diangkat penulis masih sangat relevan. Penulis menggelitik kita dengan luasnya alam semesta yang, sangat tidak menutup kemungkinan, menyembunyikan kehidupan yang mirip dengan bumi yang kita tinggali. Penulis menyadarkan bahwa terlepas dari warna kulit, bangsa, wilayah geografis, dan apa pun yang mengotak-ngotakkan kita, kita adalah ras manusia yang sama, yang menempati bumi kecil kita yang sama. Pencemaran dan pengrusakan lingkungan di satu negara, pasti akan menimbulkan efek di negara lain, di seluruh dunia. Seandainya suatu saat ada makhluk asing dari galaksi lain hendak mengintervensi bumi kita, mungkin kita baru menyadari hal itu.

No one nation or generation or industry got us into this mess, and no one nation or generation or industry can by itself get us out. If we are to prevent this climate danger from working its worst, we will simply all have to work together, for a long time. (p.139)

CO2 molecules, being brainless, are unable to understand the profound idea of national sovereignty. They’re just blown by the wind. If they’re produced in one place, they can wind up in any other place. The planet is a unit. Whatever the ideological and cultural differences, the nations of the world must work together; otherwise there will be no solution to greenhouse warning and the other global environmental problems. We are all in this greenhouse together. (p.161)

Penulis menjabarkan pemikiran-pemikirannya dengan sangat runtut. Kita dituntun menuju satu per satu fakta yang awalnya tampak sulit ditelusuri benang merahnya, tetapi lambat laun, gambaran besarnya tampak jelas. Saya sangat menikmati gaya bahasa penulis yang mudah diikuti, ilmiah tapi sederhana, rinci tapi tidak rumit, detail tapi tidak membosankan. Membaca buku ini ibarat dihempaskan pada kenyataan pahit dan getir, dilemparkan menuju lubang ego dan kelalaian manusia, sekaligus menghangatkan hati dan memanjakan pikiran atas kehausan akan ilmu pengetahuan dan hati nurani.

Buku yang ditulis di penghabisan umur sang penulis ini juga memuat hari-hari terakhir hidupnya. Penulis menceritakan perjuangannya melawan penyakitnya dengan bantuan sains, bagaimana pandangan pribadinya tentang kehidupan dan kematian, serta apa yang sedang dilakukan sains pada masa itu; mempersiapkan misi menyambut adanya makhluk asing di luar bumi. Meski penulis tak sempat benar-benar menutup buku ini, istrinya–Ann Druyan, melengkapi buku ini dengan mengharukan, menggambarkan perjuangan serta pencapaian salah satu astronom besar di masa itu.

4.5/5 bintang untuk trilyunan kepedulian pada bumi yang satu.

…in less than one century, our most fearful weapon has become a billion times more deadly. But we have not become a billion times wiser…. (p.233)

Review #4 for Lucky No.15 Reading Challenge category Something Borrowed

Weekend Quote (15)

…..kita selalu mencoba mengartikan segala sesuatu sesuai dengan apa yang kita inginkan dan bukan sebagaimana mereka sesungguhnya. (Aleph by Paulo Coelho, p.31 Indonesian edition)

Paulo Coelho is one of my favourite author. Although I didn’t really enjoy Aleph, there are so many good quotes inside it. Since I read the Indonesian translation, I don’t know the real text. Here’s the one I got from goodreads, that seems the english text of my quote above:

“We always try to interpret things in accordance with what we want and not as they are.”

How many times we had misunderstanding, miscommunication, misinterpretation, and other ‘misses’ that could happen in our interaction with human being? Sometimes, it happens not because there isn’t enough communication or discussion. It might happen when our ego shut our brain to receive alternative information and comprehension. The consequence is that ‘misses’ happen, no matter how hard people try to convince us, we will resist our desired interpretation.

Similarly when we’re faced with something that evoke speculation, we always think in accordance with our interest or hope. However, I’ve proven that seeing something as it is, could bring happiness and ease in life. Because we won’t expect too much, nor we dissapoint when our interpretation is proven wrong.

Weekend Quote is hosted by Half-Filled Attic. Feel free to join. You can:

  • Give the context of the quote
  • Give your opinion whether you agree or disagree with it
  • Share your experience related to the quote
  • Share similar quotes you remember
  • Or anything else. Just have fun with the quote.