Category Archives: Realistic Fiction

Mini Reviews: Newbery Medal Winners

105999Dear Mr. Henshaw (Leigh Botts #1) by Beverly Cleary (1983) (Illustrated by Paul O.Zelinsky)
First HarperTrophy edition, 2000, paperback, 147 pages

Buku berbentuk epistolary (kumpulan surat) ini—seperti judulnya—ditujukan kepada seorang penulis bernama Boyd Henshaw oleh seorang bocah bernama Leigh Botts. Leigh adalah penggemar buku-buku Mr.Henshaw.  Dia tinggal bersama ibunya yang sudah bercerai dari ayahnya. Surat-suratnya berisikan curahan hati mengenai kehidupannya, bagaimana ayahnya sering lupa meneleponnya, uang yang terlambat dikirim, bagian terbaik bekalnya yang dicuri, dan keinginannya menjadi seorang penulis.

A character in a story should solve a problem or change in some way. (p.91)

Seluruh bagian buku ini ditulis dari sudut pandang Leigh, dari surat yang ditulisnya—meski tak semua dikirimkan. Dari korespondensinya dengan Mr.Henshaw (yang beberapa kali memberi balasan singkat), interaksi dengan orang tuanya, dengan penjaga sekolah, dia mengalami perubahan; dari yang tak berteman menjadi lebih bersahabat, menjadi lebih percaya diri, mengalami kemajuan dalam hal menulis, serta yang tak kalah penting adalah kedewasaan untuk menerima kondisi diri dan keluarganya. Perubahan ini bisa terbaca dari surat-suratnya, apa yang difokuskannya, dan bagaimana dia memaknainya.

“ … You wrote like you, and you did not try to imitate someone else. This is one mark of a good writer. Keep it up.” (p.119-120)

 

7530724Shiloh (Shiloh #1) by Phyllis Reynolds Naylor (1991)
Translated to Indonesian by Ibnu Setiawan, Penerbit Kaifa, cetakan I, Juli 2003, paperback, 176 pages

Shiloh adalah seekor anjing yang menyedihkan saat Marty menemukannya. Jejak-jejak penyiksaan atasnya terlihat jelas. Sayangnya, Shiloh—yang merupakan nama yang diberikan oleh Marty, sesuai daerah tempatnya ditemukan—bukan anjing liar, dia memiliki pemilik, pemilik yang selalu memukul dan menyakitinya. Setelah bertemu Marty, Shiloh selalu kembali, mengikutinya, perasaan sayang yang timbul membuat Marty tak tega untuk melepaskannya, dan diam-diam memeliharanya, menentang larangan orang tuanya.

Bagaimana Marty bisa menyelamatkan Shiloh, bagaimana menghindarkan Shiloh dari Judd Travers—pemiliknya yang licik, dan bagaimana orang tua Marty bisa diyakinkan bahwa dia mampu untuk menjaga Shiloh? Kisah ini benar-benar menggambarkan hubungan yang manis antara manusia dengan hewan, khususnya bagi pencinta anjing. Penulis benar-benar menggambarkan dengan apik perasaan dan keterikatan seekor anjing dengan manusia. Dikatakan bahwa kisah ini terinspirasi dari kisah nyata penulis sendiri saat menemukan seekor anjing betina.

 

17670713Criss Cross by Lynne Rae Perkins (2005)
Translated to Indonesian by Esti Ayu Budihabsari, TransMedia Pustaka, Cetakan pertama, 2007, paperback, viii+338 pages

Kisah tentang remaja, seperti pada umumnya remaja, sekolah, bergaul, keluarga, jatuh cinta. Kisah yang dituturkan di buku ini porsinya cukup pas, tidak berlebihan pada satu aspek saja. Meski pada umumnya remaja memang cenderung menggalaukan hal tertentu, terutama cinta (monyet), tetapi di sini kisah sehari-harinya juga diceritakan sehingga konfliknya tidak itu-itu saja.

Kejadian sehari-hari pun ternyata bisa memberikan kesan tertentu jika diceritakan dengan cara tertentu, hal sesederhana berdandan, kehilangan kalung, mendengarkan radio, diam-diam menyetir tanpa SIM, nongkrong. Hal itu jugalah yang dialami oleh Debbie, bukan hal besar yang terjadi padanya yang penting, tetapi bagaimana dia memandangnya.

Advertisements

The Last Siege – Jonathan Stroud

Title : The Last Siege / Pengepungan Terakhir
Author : Jonathan Stroud (2006)
Translator : Ribkah Sukito
Editor : Primadonna Angela
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan pertama, Oktober 2011
Format : Paperback, 288 pages

Tiga remaja dengan masalahnya masing-masing dipertemukan oleh sebuah insiden di depan bekas kastil yang lama tak berpenghuni. Emily dan Simon tak pernah berteman sebelumnya, tetapi saat terjepit oleh musuh yang sama, bersama dengan Marcus yang berasal dari bagian kota yang lain, tiba-tiba mereka masuk ke dalam petualangan yang digagas oleh anak asing itu.

“Kastil itu hidup karena kau dapat menafsirkannya sesukamu. Kastil itu bisa menjadi apa pun yang kaupikirkan. Kau bisa membayangkan bagaimana kastil itu dulunya, ketika belum hancur, ketika orang-orang tinggal di dalamnya. Dan setiap orang bebas untuk membayangkan hal yang berbeda.” (p.80)

Petualangan mereka semakin liar dan semakin bebas, masing-masing mereka kini punya peran dalam mewujudkan imajinasi mereka. Mulai dari permainan menaklukkan kastil,  penjelajahan dan menapak tilas sejarah, hingga pertahanan yang mulai tak tampak sebagai permainan lagi. Masalah menjadi serius ketika Marcus menceritakan masalah keluarganya kepada kedua kawannya. Masalah yang membutuhkan campur tangan pihak berwajib, tetapi, akankah orang dewasa mengerti ketakutan mereka?

Kisah persahabatan, keluarga, kehilangan, dinamika remaja, dan pengkhianatan. Sama seperti kisah Baron Hugh—penghuni kastil pada masa Raja John—yang diceritakan Marcus, mereka menghadapi ujian kesetiaan yang serupa.

Pada akhirnya, meski dibalut kisah petualangan yang menyenangkan, buku ini menyimpan kenyataan yang pahit tentang jurang antara anak-anak dan orang dewasa, serta secercah mengenai kesehatan mental. Mungkin karena ditujukan untuk pembaca muda, pesannya cukup samar untuk menyembunyikan kebrutalannya.

“Aku sedang berpikir—tentang apa yang dikatakan ibumu.”
“Iya.”
“Hanya… Apakah semuanya sudah baik-baik saja?”
“Tidak, tentu saja belum. ….”
(p.143)

Mini Reviews: Children’s Book

Oleh karena buku yang belum direview semakin menumpuk, sepertinya saya perlu menurunkan gengsi sedikit dengan membuat review yang cepat, singkat, dan padat. Dalam mini reviews, sebisa mungkin akan saya kumpulkan buku dengan tema atau genre yang seragam.

Stone Fox by John Reynolds Gardiner (1980)

Harpercollins, hardcover, 96 pages

Based on a Rocky Mountain legend, Stone Fox tells the story of Little Willy, who lives with his grandfather in Wyoming. When Grandfather falls ill, he is no longer able to work the farm, which is in danger of foreclosure. Little Willy is determined to win the National Dogsled Race—the prize money would save the farm and his grandfather. But he isn’t the only one who desperately wants to win. Willy and his brave dog Searchlight must face off against experienced racers, including a Native American man named Stone Fox, who has never lost a race. (source)

Kisah tentang seorang bocah sepuluh tahun yang harus berjuang sendiri saat kakeknya terbaring tak berdaya karena putus asa. Little Willy yang tak memiliki siapapun kecuali kakek dan Searchlight, anjingnya, berusaha menembus apa yang orang lain bilang tidak mungkin.

Awalnya saya kurang suka dengan buku ini karena karakter-karakter sampingannya kurang simpatik terhadap Willy, bahkan bisa saya katakan tak punya hati nurani, seluruhnya. Sepanjang cerita pun saya merasa bisa menebak akhirnya, mudah. Namun, saya salah. Buku ini berakhir dengan kejutan yang membuat saya tak tahu harus merasa bagaimana dengan keseluruhan isi buku ini. Yang jelas, akhirnya cukup menyentak, yang tak hanya mengubah suasana kisah menjadi sangat tragis, tetapi mungkin akan mengubah sikap semua orang yang tadinya tak simpatik itu.

In the Dinosaur’s Paw (The Kids of the Polk Street School #5) by Patricia Reilly Giff (1985) (Illustrated by Blanche Sims)

Yearling, January 1985, paperback, 72 pages

Richard Best membutuhkan penggaris di hari pertama sekolah usai libur Natal, untuk pelajaran tentang dinosaurus, tapi dia lupa di mana menyimpannya. Untungnya di sekolah dia menemukan penggaris di mejanya, yang menurut Matthew—kawannya—adalah penggaris milik dinosaurus karena inisial di atasnya. Setelah menemukan penggaris itu, Richard merasa segala keinginannya terkabul. Lambat laun perasaan gembira itu tergantikan oleh gelisah dan rasa bersalah karena dia merasa bertanggung jawab atas masalah yang dialami orang lain. Sayangnya saat dia berusaha memperbaikinya, penggaris itu hilang.

Karakter anak-anak dalam buku ini benar-benar amat sangat polos sekali, sesuai dengan usia mereka. Kenaifan dan keluguan bocah ini membuat beberapa hal dalam kisah terasa manis. Bahkan terhadap ‘musuh’ mereka bisa menjadi sangat pemaaf jika dihadapkan pada suatu masalah yang lebih besar, ketulusan hati yang pada dasarnya kita semua miliki jauh di dalam hati. Mungkin masalah-masalah anak terlihat sepele bagi kita orang dewasa, tapi seberapa jauh anak memikirkan masalah itu bisa jadi membuat kita malu karena mempermasalahkan hal yang seharusnya tidak perlu jadi masalah.

Sebenarnya buku ini lebih kepada kisah sehari-hari yang dibumbui dengan kisah ‘penggaris dinosaurus’ itu. Mungkin ada perkembangan karakter yang hendak digambarkan untuk keseluruhan serial besarnya. Jadi sepertinya membaca sesuai urutannya akan memberi pengalaman yang berbeda.

Sable by Karen Hesse (1994) (Illustrated by Marcia Sewall)

First Scholastic printing, September 2005, paperback, 85 pages

Ibu Tate tidak suka anjing, tetapi suatu hari seekor anjing muncul dalam kondisi menyedihkan, dan Tate langsung jatuh hati pada hewan malang itu. Kecintaan Tate bukan sekadar keinginan sesaat, dia benar-benar menyayangi anjing itu, yang dinamakannya Sable. Dia membuatkan tempat tinggal, memastikannya makan cukup, dan melatihnya untuk mandiri. Sayangnya, Sable punya kebiasaan buruk yang sulit diubah.

Beberapa kali Tate melatihnya, tetapi kebiasaan buruk itu memicu semakin banyak masalah hingga Sable terpaksa harus dikeluarkan dari rumah. Di sinilah menurut saya bagian terbaik dari buku ini, Tate sungguh-sungguh melakukan sesuatu agar Sable dapat kembali ke rumahnya, dan yang dilakukannya sungguh menyentuh, terlebih untuk anak seusianya.

Seringkali persahabatan dengan hewan menjadi sesuatu yang lebih mengena untuk diceritakan. Apalagi anjing yang terkenal sebagai hewan yang setia, dan saya selalu melihat persahabatan semacam ini justru melebihi ketulusan persahabatan antar manusia. Jika saya sedang usil sedikit dan mengandaikan Sable adalah manusia, kisah dalam buku ini rasanya akan punya banyak perumpamaan yang cukup mendekati sifat manusia (dewasa) juga. Namun biarlah keusilan itu saya simpan sendiri.

Kisah yang indah dalam kesederhanaan buku anak. Sesuatu yang besar bisa jadi muncul dari hal kecil yang tak pernah kita sangka sebelumnya.

Indigo (Water Tales #2) by Alice Hoffman (2002)

First Scholastic printing, January 2003, paperback, 86 pages

A real friend believes in you when you don’t believe in yourself, (p.11)

Tiga sahabat; Martha Glimmer, Trevor dan Eli McGill merasa Oak Grove bukan tempat mereka seharusnya berada. Martha punya mimpi untuk berada di kota-kota besar dan mengembangkan karir sebagai penari, sedangkan McGill bersaudara merindukan laut yang tak pernah mereka jumpai sejak hidup di Oak Grove yang tinggi dan kering.

You could easily tell who was who by whether or not they listened to you. (p.14)

Sometimes words spoken are the ones you’ve been afraid to think, but once they’re said aloud there’s no way to make them disappear. (p.27)

Oak Grove sendiri punya sejarah yang suram berhubungan dengan air. Banjir besar membuat mereka membuat dinding yang melindungi kota itu dari air. Namun saat ketiga sahabat itu memutuskan untuk pergi menggapai mimpi, mereka menemukan bahwa mimpi itu bisa diwujudkan dengan cara yang lebih baik. Penemuan yang dibayar dengan sebuah peristiwa traumatis bagi penduduk kota kering itu.

They were both thinking of people who’d disappeared and were never found again, and of how it was to leave behind the people you loved, even if the life you wanted wasn’t the one they could give you. (p.33)

Kisah persahabatan dan keluarga dalam sebuah buku tipis, dalam balutan magical realism dengan, mungkin, sedikit fantasi. Beberapa halaman buku ini dihiasi oleh semacam foto, alih-alih ilustrasi seperti umumnya buku anak. Saya menikmati kalimat-kalimat di buku ini, walaupun beberapa hal mudah ditebak. Hal tentang takdir dan mimpi itu lumayan terlalu instan menurut saya, tetapi, ya, kadang hidup memang seperti itu.

Lulu Walks the Dog (Lulu #2) by Judith Viorst (2012) (Illustrated by Lane Smith)

Atheneum Books for Young Readers (imprint of Simon & Schuster Children’s Publishing Division), First paperback edition, March 2014, 170 pages

Lulu is back with a brand-new refrain, and it’s time to earn some cash. How else can she buy the very special thing that she is ALWAYS and FOREVER going to want?
After some (maybe) failed attempts, Lulu decides on the perfect profitable job: dog walking. But Brutus, Pookie, and Cordelia are not interested in behaving, and the maddeningly helpful neighborhood goody-goody, Fleischman, has Lulu wanting to stomp his sneakers—and worse.
How will Lulu deal with three infuriating dogs and the even more infuriating Fleischman? And what is this SUPERSPECIAL thing that Lulu is so fiercely determined to buy? I really don’t feel like discussing that right now.
Once again, picture book legends Judith Viorst and Lane Smith bring us the loudest, rudest girl to ever shove her way into our hearts.
(synopsis from back cover)

Saya tidak bisa merasa simpatik ataupun suka pada karakter-karakter di dalamnya, entah Lulu yang keras kepala dan arogan—terlepas dari usianya yang sangat muda, maupun Fleischman yang suka menolong, pun orang dewasa di sekitarnya tak mengambil porsi lebih baik pada kisah anak ini. Saya juga kurang menikmati narasinya, terlebih saat penulis mengambil alih beberapa bagian dan memasukkan suaranya sendiri di sini.

91xjroxyyel

Hal terbaik dari buku ini adalah ilustrasinya. Saya suka sekali sapuan tinta sang ilustrator yang cantik, tak terlalu banyak detail tapi sangat ekspresif. Pun bentuk-bentuk geometrisnya tak menghilangkan keluwesan yang tercermin dalam gambar-gambarnya. Porsi gambarnya cukup banyak memenuhi keseluruhan isi buku, yang cukup menghibur di antara kisahnya yang berbalut humor ala penulis.

Lotta – Astrid Lindgren

lottaTitle : Lotta: The Mischievous Martens & Lotta Leaves Home (Barnen På Bråkmakargatan & Lotta På Bråkmakargatan)
Author : Astrid Lindgren (1958 & 1961)
Illustrator : Ilon Wikland
Translator : Listiana Srisanti
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan Ketiga, September 2007
Format : Paperback, 184 halaman

Lotta adalah bungsu dari keluarga Nyman, usianya 3 tahun. Bersama kakak-kakaknya, Jonas dan Maria, anak-anak itu memiliki ulah macam-macam untuk meramaikan rumah mereka. Namun, Lotta yang menjadi pusat cerita punya ulah uniknya sendiri.

Di balik kepolosan tindakan dan perkataannya, Lotta kecil punya banyak akal untuk menjawab pertanyaan maupun larangan orang-orang yang lebih tua. Meski bisa dikatakan nakal, Lotta sebenarnya adalah bibit anak-anak cerdas jika bakatnya dikembangkan dengan baik. Buku ini menunjukkan betapa pemikiran anak-anak tak bisa kita anggap sepele, bahwa anak juga memiliki cara berpikirnya sendiri yang berbeda dari orang dewasa, bukan inferior, tetapi berbeda.

Terjemahan Indonesia Lotta sebenarnya merupakan gabungan cerita dari buku-buku The Children on Troublemaker Street dan Lotta on Troublemaker Street/Lotta Leaves Home. Pada bagian pertama, terjemahan ini diberi judul Keluarga Lotta yang Bahagia. Di sini, penulis bercerita dari sudut pandang Maria sebagai orang pertama, dan mengisahkan tentang ulah ketiga saudara ini, mulai dari Lotta yang selalu mendapatkan peran tak menyenangkan dalam permainan mereka, Jonas yang iseng hingga tercebur ke danau, hingga Lotta yang membuat dapur mereka kebanjiran.

Bamsie adalah mainan babi-babian dari kain merah muda yang selalu dibawa-bawa Lotta ke mana saja. Lotta mengira Bamsie itu beruang, jadi dia memanggilnya Bamsie Beruang.
“Dia babi. Dari dulu juga dia itu babi!” kata Jonas berkali-kali.
Biasanya Lotta lalu menangis dan berkata bahwa Bamsie adalah beruang.
“Beruang warnanya tidak merah muda,” Jonas menggoda. “Lagi pula, Lotta, dia itu beruang kutub atau beruang biasa?”
“Dia beruang babi,” kata Lotta.
(p.47)

Pada bagian kedua yang diberi judul Lotta Pindah Rumah, cerita menggunakan sudut pandang orang ketiga, karena cerita berpusat pada Lotta saja. Suatu pagi Lotta terbangun karena mimpi buruk, tetapi dia menganggap mimpinya itu nyata sehingga hari itu semuanya serba salah. Lotta pun memutuskan untuk pindah dan menyewa loteng di rumah Bu Berg, tetangganya.

Saya suka dengan cara Bu Berg memperlakukan Lotta, dia tidak menganggapnya sebagai anak kecil, tetapi sebagai apa Lotta memposisikan diri. Dengan begitu, Lotta kecil merasa dihargai dan bisa belajar tentang arti dari tanggung jawab. Akhir dari kisah ini juga adalah penutup yang cocok untuk buku ini karena menekankan pentingnya nilai sebuah keuarga.

“Aku masuk ke rumah kecilku—
Hari sudah malam
Dan gelap
Dan aku seorang diri
Kunyalakan lampu kecilku.
Kucingku menyambut, ‘Selamat datang.’”

“Tapi aku tak punya kucing,” kata Lotta sedih.

(p.156)

Buku ini dilengkapi dengan ilustrasi cantik untuk memperkaya cerita dan mewarnai imajinasi. Mulai dari gambar-gambar kecil yang menunjukkan suasana, hingga ilustrasi dua halaman penuh yang menunjukkan lingkungan keluarga Nyman. Buku yang merupakan potret kebahagiaan anak-anak, dan pengingat bagi orang dewasa tentang masa kanak-kanak yang perlu mendapatkan perhatian dan perlakuan yang sesuai. 4/5 bintang untuk ulah Lotta yang lucu dan menggemaskan.

Juli : Kenakalan Anak-Anak

Juli : Kenakalan Anak-Anak

Review #27 of Children’s Literature Reading Project

Review #28 for Lucky No.15 Reading Challenge category It’s Been There Forever

Little Women – Louisa May Alcott

Review in Indonesian and English.Little Women

Title : Little Women
Author : Louisa May Alcott (1868-1869)
Publisher : Penguin Classics
Edition : 42nd printing, © 1989
Format : Paperback, xxxvi + 508 pages

Little Women merupakan salah satu bildungsroman alias coming-of-age story yang populer pada masanya, bahkan hingga saat ini. Karya ini merupakan semi-autobiografi penulis, sehingga pada beberapa bagian, kita dapat menemukan persamaan dengan kehidupan pribadi penulis, meski sebagian lainnya tetap merupakan fiksi. Pada awalnya, buku ini terbit menjadi dua bagian; di mana bagian kedua diberi judul Good Wives oleh penerbit di Inggris. Edisi yang saya baca ini merupakan penyatuan dari dua bagian buku itu, dengan bagian kedua dimulai di halaman 236. Edisi ini juga diperkaya dengan pengantar dan catatan kaki yang menjelaskan kata-kata dan referensi yang mungkin kurang umum pada masa sekarang. Menilik catatan itu, saya melihat bahwa Alcott relatif banyak menggunakan referensi karya-karya Charles Dickens dalam bukunya.

Buku ini berkisah tentang tahun-tahun anak-anak March menjadi dewasa. Pasangan March memiliki empat orang anak gadis dengan karakteristik yang berbeda-beda; Meg yang paling dewasa dan paling kehilangan masa-masa kejayaan Mr. March yang sekarang telah bangkrut, Jo yang tomboy dan bebas, Beth yang kalem dan pemalu, serta Amy si bungsu yang manja. Mr. March termasuk sebagai salah seorang yang bertugas pada Perang Sipil di Amerika saat itu, sehingga keempat anak tersebut—yang saat itu berusia 12-16 tahun—tinggal bersama Mrs. March (Marmee) dan Hannah, pembantu mereka sejak kecil.

Mrs. March tak hanya membesarkan mereka, tetapi juga mendidik keempat putrinya dengan caranya sendiri. Dalam kondisi keluarga yang sedang prihatin, mereka dididik untuk tetap bersemangat menjalankan tugas-tugas mereka dengan penuh tanggung jawab. Meski Meg sebagai guru privat mendapatkan anak didik yang nakal, Jo harus berkutat di rumah Aunt March yang membosankan, keduanya mendapatkan teladan dari ibu mereka yang tak habis membuat keduanya kagum. Beth yang sangat minder hingga tak bisa bergaul di sekolah tetap mendapatkan pendidikan di rumah, sambil membantu pekerjaan rumah. Hanya Amy yang masih bersekolah.

Mrs. March knew that experience was an excellent teacher, and, when it was possible, she left her children to learn alone the lessons which she would gladly have made easier, if they had not objected to taking advice as much as they did salts and senna. (p.259)

Perubahan terjadi saat Jo berkenalan dengan tetangga mereka, Laurie, yang tinggal bersama kakeknya yang kaya raya, Mr. Laurence. Kesamaan sifat membuat Jo cepat akrab dengan Laurie, dan otomatis membuat Laurie dekat dengan keluarga March, bahkan termasuk Beth. Akan tetapi, kisah mereka tidak melulu dihiasi kebahagiaan. Setiap anggota keluarga mendapatkan ujiannya masing-masing, yang menguji kedewasaan dan membuat mereka lebih baik. Seperti Meg yang diuji dengan kemewahan yang sangat diidam-idamkannya, Jo dengan kesabarannya yang pendek, atau Amy dengan kebanggaannya.

“That is perfectly natural, and quite harmless, if the liking does not become a passion, and lead one to do foolish or unmaidenly things. Learn to know and value the praise which is worth having, and to excite the admiration of excellent people, by being modest as well as pretty, Meg.” (p.97)

Cobaan terbesar, yang juga merupakan klimaks dari kisah bagian pertama adalah saat Mr. March terluka hingga membutuhkan perawatan khusus, sedangkan Beth terkena scarlet fever saat Marmee sedang ke luar kota merawat ayahnya. Penyakit yang pada saat itu—sebelum era antibiotik—termasuk salah satu penyakit mematikan, merupakan ujian berat bagi keluarga March yang saling terikat secara emosional satu sama lain.

Title page: Little Women (1868), by Louisa May Alcott (1832-1888). Boston: Roberts Brothers, 1868. *AC85.Aℓ194L.1869, Houghton Library, Harvard University

Pada bagian kedua (yang sebenarnya sudah ditandai pada akhir bagian pertama), satu per satu putri-putri March bertambah dewasa, yang ditandai dengan pernikahan Meg. Bagi Jo yang berjiwa bebas, kehilangan kakak satu-satunya adalah hal yang berat. Pun bagi Meg yang mengalami berbagai masalah rumah tangga sebagaimana layaknya pasangan yang baru menikah. Pada bagian ini, pengejaran mimpi dan cita-cita mereka juga disorot dengan lebih dalam, terutama Jo dengan semangatnya di bidang menulis, dan Amy dengan bakat seninya.

“Never till I’m stiff and old, and have to use a crutch. Don’t try to make me grow up before my time, Meg; it’s hard enough to have you change all of a sudden; let me be a little girl as long as I can.” (p.153)

Hal yang menarik dari buku ini adalah ikatan antar anggota keluarga yang sangat kuat, persahabatan dengan keluarga Laurence yang sangat tulus, serta bumbu-bumbu kehidupan yang beraneka rasa. Penulis memotret bagian-bagian menarik dari kehidupan keluarga March ke dalam bab-bab yang relatif pendek. Mungkin ada beberapa bagian yang terasa membosankan, tetapi lebih banyak bagian yang seru, bagian yang menyenangkan (terutama kreativitas permainan masa kecil mereka), bagian yang kocak, sedih, hingga mengaduk-aduk emosi. Bagian paling mengharukan bagi saya adalah yang melibatkan Beth dan Mr. Laurence, sedang yang paling kocak adalah yang melibatkan Jo dan cinta. Dan bagian favorit saya, sekaligus paling berkesan dan selalu saya ingat ada di sebelum bab terakhir bagian kedua, Under the Umbrella.

And here let me premise, that if any of the elders think there is too much “lovering” in the story, as I fear they may (I’m not afraid the young folks will make that objection), I can only say with Mrs. March, “What can you expect when I have four gay girls in the house, and a dashing young neighbor over the way?” (p.236)

Di antara bab-bab dalam buku ini kadang disertai bab yang berisi korespondensi, terutama bagian yang terlalu panjang jika diceritakan dengan narasi, dan terasa lebih baik jika dipadatkan dalam bentuk surat-menyurat. Selain lebih ringkas, format penulisan surat secara tidak langsung menunjukkan kepribadian penulisnya dengan lebih kuat, serta suasana hati dengan lebih gamblang. 4/5 bintang untuk perjalanan panjang gadis-gadis March.

This is *only* my second read of Little Women, after I read the abridged version years ago. I read this along with Hamlette since March 2015, and my first experience of discussing chapter per chapter. From this reading, I got so many details that I may lose if I read it by myself, despite the introduction and notes included on my edition.

This book portrays the life of the Marches in its own way. It’s everyday life, with obvious morals here and there, it may seem a little bit preachy for some people, but not for me. Since, the author told the morals through Mrs. March, and it is natural for a mother to preach her children. I love the characterizations of the March girls. Each girl has her part in the story, together they make a heart-warming story of family, friendship, and love.

Frontispiece illustration from part 1 of Little Women by Louisa May Alcott (1832-1888), illustrated by her sister May Alcott. Boston: Roberts Brothers, 1868 *AC85.Aℓ194L.1869, Houghton Library, Harvard University

“… You are the gull, Jo, strong and wild, fond of the storm and the wind, flying far out to sea, and happy all alone. Meg is the turtle-dove, and Amy is like the lark she writes about, trying to get up among the clouds, but always dropping down into its nest again. Dear little girl! she’s so ambitious, but her heart is good and tender, and no matter how high she flies, she never will forget home. …” (p.375)

I think I ended up liking all the characters in this book. They improved quite much as the years went by, especially Amy, the little one. However, nothing could compare with the improvement of shy Beth when she and Mr. Laurence became friends on the earlier chapters. The scene, as most scene with Beth, drew my tears out. The progress of Jo’s love was smooth and lovely, and of course Meg with her happy little family was a precious journey.

This book is one of the great choice to revisit. Either chapter we decide to read could make a different effect in different situation, also a better understanding of the characters. Reading this book is a kind of reminder of how simplicity may change many things. It is the simple thing that often touches the heart. It is also the simple thing that shows sincere love.

Review #26 of Classics Club Project

Review #24 of Children’s Literature Reading Project

Review #25 for Lucky No.15 Reading Challenge category Freebies Time