Category Archives: Realistic Fiction

Uncommon Type – Tom Hanks

37901431. sy475 Title : Uncommon Type: some stories
Author : Tom Hanks (2017)
Publisher : Alfred A. Knopf
Edition : First edition, third printing, November 2017
Format : Paperback, viii+405 pages

Pada awal kemunculan buku ini, keramaian otomatis muncul karena nama Tom Hanks di situ. Terlebih dalam sebuah buku fiksi. Keramaian agak mulai semakin menarik saat ada banyak pujian, baik dari pembaca, maupun sesama penulis, juga para kritikus. Dan setelah mencoba membaca sendiri, ternyata memang penulisannya mengesankan dan sangat bisa saya nikmati. Yang baru saya ketahui dari bagian about author di belakang, dan mungkin juga tak banyak yang mengetahui, tulisan Tom Hanks pernah beberapa kali dimuat di The New York Times, Vanity Fair,dan The New Yorker.

Membaca buku ini, saya merasa dilempar-lempar dalam lompatan berbagai realitas dan masa. Terkadang batasnya sangat jelas, tetapi tak jarang juga saya kehilangan orientasi tempat dan waktu, sampai disebutkan penanda-penandanya, seperti landmarks tertentu, jenis gawai dan media sosial yang digunakan pada masa itu, atau kejadian sejarah. Namun, di antara hal-hal yang terlihat acak, ada beberapa benang merah yang dijahit dengan manis di antaranya.

Salah satu hal yang cukup menonjol adalah penggunaan mesin tik, yang konon menjadi media penulis untuk membuat buku ini. Selain dengan foto-foto berbagai jenis mesin tik koleksi Hanks di setiap awal cerita, yang diambil dengan berbagai pose yang cantik, mesin tik juga mendapatkan porsi dalam beberapa cerita. Ada saat mesin tik menjadi cameo, yang tidak sekadar ditempelkan, tetapi juga memberi kesan kuat. Dalam kisah These Are the Meditation of My Heart, mesin tik menjadi bagian utama, yang digambarkan dengan romantisme tersendiri. Dimulai dari seorang manusia modern yang tertarik dengan mesin tik murahan yang hampir tidak berfungsi, kemudian membawanya berkenalan dengan mesin-mesin tik lain, dengan berbagai jenis dan merek dari berbagai masa, yang digambarkan sebagai mahakarya dengan kelebihannya masing-masing. Your Evangelista, Esperanza yang ditulis dengan format surat kabar (Our Town Today with Hank Fiset) menceritakan seseorang yang melepaskan diri dari teknologi, dan hidup bahagia dengan mesin tik saja. Sebuah peranti klasik yang memberinya pengalaman yang tak kalah kaya dari gawai-gawai modern.

Empat orang sahabat yang membuka buku dengan kisah Three Exhausting Weeks, secara tak terduga muncul kembali di tengah dan akhir buku, dalam Alan Bean plus Four dan Steve Wong is Perfect. Kisah pertama tampak seperti romansa kontemporer biasa, tanpa ada hal yang menonjol mengenai settingnya. Hingga di kisah kedua, pembaca diajak ke dalam setting futuristik yang sangat kental, yang membuat kita jadi mempertanyakan di tahun berapa keempat sahabat tersebut hidup. Fiksi sains dengan imajinasi liar yang dibumbui dengan humor agak mengingatkan saya pada Hitchhiker’s Guide karya Douglas Adams yang belum lama saya baca. Kemudian di cerita ketiga, kita dikembalikan pada suasana Amerika yang tampaknya normal-normal saja, kali ini dengan karakter yang memiliki kemampuan menakjubkan.

Suasana historis yang mengharukan dari seorang veteran perang dihadirkan dalam Christmas Eve 1953, yang settingnya sudah terlihat dari judulnya. Dengan fokus pada hubungan keluarga, pertemanan, dan trauma. Kisah keluarga muncul juga di Welcome to Mars, A Month on Greene Street, dan A Special Weekend dengan berbagai dinamikanya, perceraian, hubungan orang tua-anak, anak dengan lingkungan, perselingkuhan, dan membuka hati kembali. Suasana masa lalu yang dilatarbelakangi time travel ada di The Past is Important to Us. Lalu latar belakang dunia hiburan, yang tentunya sangat dekat dengan penulis, tak luput diangkat dalam A Junket in the City of Light dan Who’s Who?.

Selain menceritakan orang-orang kulit putih, penulis juga memunculkan karakter-karakter imigran dan etnis lain di Amerika Serikat. Yang paling menonjol tentunya adalah empat orang sahabat yang saya sebut sebelumnya, di mana salah dua di antaranya adalah keturunan Asia dan Afrika. Go See Costas memberikan sudut pandang imigran ilegal dari masa yang lebih lampau (saat Amerika tak seketat sekarang), dari sisi manusiawinya. Beberapa kisah dengan napas ini (termasuk Who’s Who) menunjukkan bahwa Amerika pada umumnya, dan New York pada khususnya, pernah (dan mungkin masih) menjadi simbol pengharapan dan kehidupan yang lebih baik.

Ada sebuah cerita yang disampaikan dalam format drama, tentang industri, pembangunan, dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi bisnis lama yang penuh kisah dan romantika. Stay With Us pada akhirnya memberikan sebuah kesan yang menyejukkan, meski di awal kita diajak dalam perjalanan bersama dua orang yang sangat eksentrik. Our Town Today With Hank Fiset muncul beberapa kali, setelah tiga cerita. Terkadang ada kesan bahwa berita itu berhubungan dengan cerita sebelumnya, tetapi dengan karakter dan detail yang agak berbeda.

Sejujurnya, meski secara keseluruhan saya sangat suka dengan buku ini, beberapa bagian terasa agak berat untuk dibaca, entah karena terlalu banyak detail, alurnya lambat, atau untuk alasan yang saya tidak sadari. Namun, saya tak meragukan bahwa buku debut Tom Hanks cukup berhasil membuat saya memasukkan buku berikutnya (semoga ada) ke dalam daftar bacaan suatu hari nanti.

If I ever run into Al Bean again, I’ll ask him what life has been like for him since he twice crossed the equigravisphere. Does he suffer melancholia on a quiet afternoon, as the world spins on automatic? (p.153)

Advertisements

Mini Reviews : Children – Young Adult

22608982The Carpet People / Terry Pratchett (author & illustrator) (1971) / Houghton Mifflin Harcourt / First U.S. edition, 2013 / Paperback, 294 pages

Buku ini merupakan karya pertama Pratchett yang diterbitkan. Diawali dari cerita bersambung mingguan yang dikirim ke kalangan tertentu, kemudian dikembangkan menjadi novel, dan diterbitkan. Seiring dengan pendewasaan penulis, maka buku ini mengalami beberapa perbaikan dan penyesuaian, ditambah ilustrasi karya penulis sendiri. Pada edisi ini ada tambahan halaman ilustrasi berwarnanya, serta tambahan versi awal yang terbit setiap pekan. Buku ini berhasil meneguhkan bahwa penulis sangat lihai membangun sebuah dunia yang sama sekali baru, dengan aturannya sendiri, serta begitu solid, sehingga seringkali sulit dibayangkan.

I wrote that in the days when I thought fantasy was all battles and kings. Now I’m inclined to think that the real concerns of fantasy ought to be about not having battles, and doing without kings.

Dunia yang disebut Carpet ini ditinggali oleh suku bangsa yang berbeda-beda, di wilayah yang berbeda pula karakteristiknya. Sehingga seseorang bisa dengan mudah mengetahui bahwa dia sudah masuk ke wilayah bangsa lain ketika dilihatnya warna tanah dan langit berubah, bentuk dan kerapatan pohon (yang disebut sebagai Hair) berbeda. Karakter utama dalam buku ini berasal dari golongan Munrungs, yang harus meninggalkan tanahnya karena diserang oleh sesuatu yang menakutkan, yang saat itu belum bisa mereka identifikasi dengan benar. Dalam perjalanan, mereka masuk ke wilayah lain, bertemu dengan bangsa-bangsa lain, yang kemudian saling bersekutu untuk melawan musuh bersama.

“Nothing has to happen. History isn’t something you live. It is something you make. ….” (p.162)

You don’t have to accept it; you can change what’s going to happen. (p.252)

Suku bangsa yang berbeda ini memiliki sifat dan kebiasaan yang berbeda, yang menjadikan toleransi dan saling melengkapi menjadi salah satu nilai dari buku ini. Buku ini cukup potensial untuk dikupas lebih dalam lagi. Dan dengan humor yang apik di sana-sini, tampaknya tak akan membosankan untuk dikunjungi kembali.

“…. He said we didn’t need a lot of old books, we knew all we needed to know. I was just trying to make the point that a civilization needs books if there’s going to be a reasoned and well-informed exchange of views.” (p.206)

 

288676The Broken Bridge / Philip Pullman (1990) / First Dell Laurel-Leaf edition, September 2001, 7th printing / Mass market paperback, 220 pages

Ginny dilahirkan dari ayah kulit putih dan ibu yang berkulit gelap. Namun, dia hidup hanya dengan ayahnya saja, yang membuatnya semakin merasa terasing akibat perbedaan warna kulit. Ginny senang menggambar dan melukis, bakat yang menurut ayahnya didapatkan dari ibunya. Ginny semakin nyaman dengan ini, karena dia merasa tak asing lagi, karena dia sama dengan ibunya.

Di usia remajanya, Ginny berambisi untuk mencari keluarga dari pihak ibunya. Namun, berbagai hal terjadi silih berganti, mulai dari pekerja sosial yang bolak-balik menanyainya, yang membuka kebenaran yang selama ini tersembunyi. Ginny usia 16 tahun harus menghadapi kenyataan mendadak mengenai hidupnya yang ternyata dipenuhi kebohongan. Perlahan tapi pasti semuanya terkuak, dan semakin dia mencari, semakin dalam dia terjebak dalam kebohongan-kebohongan tersebut. Kemudian, titik terang muncul ketika dia mulai berpikir jernih dan menerima kenyataan, menerima apa adanya.

Cerita tentang pencarian diri, identitas, dan asal mula. Tidak hanya membahas mengenai keluarga, buku ini juga menceritakan gejolak remaja terkait pertemanan, seksualitas, serta isu terkait diskriminasi dan kriminalitas. Semakin masuk ke belakang, kisah terasa semakin dalam dan kuat, hingga sampai ke akhir yang sangat memuaskan. Sebuah kisah keluarga yang begitu pelik dan penuh emosi.

I can see in the dark. I can’t see so well in the daylight, can’t see the obvious thing …. I can understand mysteries. Like the broken bridge. (p.121)

 

Seesaw Girl / Linda Sue Park (1999) / Illustrated by Jean and Mou-sien Tseng / Sandpiper, an imprint of Houghton Mifflin Harcourt / Paperback, 90 pages

7153349Korea di abad ke-17 masih sangat tertutup dari dunia luar. Mereka hidup dengan cara mereka sendiri. Pada masa itu, wanita kelas atas tidak diperbolehkan keluar dari rumah, kecuali saat mereka menikah, kemudian mereka masuk ke rumah keluarga suami mereka, dan tidak diperbolehkan keluar kembali. Hidup mereka di dalam dinding berkisar seputar pekerjaan rumah tangga. Wanita bahkan tidak mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan.

Sebagai perempuan dari keluarga terpandang, Jade Blossom pun harus selalu berada di rumah untuk menjaga kehormatan diri dan keluarganya. Sejak pernikahan Graceful Willow—bibi yang usianya tak terpaut jauh dengannya, Jade merasa kesepian karena tak ada lagi teman perempuan yang sebayanya. Dia pun bertekad untuk mendatangi Willow di rumah suaminya, meski harus melanggar peraturan secara diam-diam. Rencana dijalankan, tetapi banyak hal mengenai dunia luar yang tak diantisipasi oleh Jade. Sekilas pandangan akan dunia luar membuat rasa keingintahuan Jade remaja tergelitik. Dia melakukan apa yang tidak boleh dilakukan, dan melihat apa yang tidak seharusnya dia lihat. Pemandangan itu semakin membuat Jade ingin tahu lebih dalam lagi, sehingga dia belajar dan melakukan hal yang tak wajar dilakukan oleh perempuan di masa itu.

The path to wisdom lies not in certainty, but in trying to understand. (p.66)

Buku ini kecil, tetapi membawa pesan yang sangat kuat. Karakter dalam buku ini tidak digambarkan sebagai tokoh revolusioner yang akan mengubah Korea, tetapi kesan akan adanya perubahan disampaikan melalui cara yang lain. Sebuah kisah sederhana yang terasa jauh dari kita yang sudah terbiasa hidup dalam kebebasan, tetapi begitu dekat karena deskripsi yang kuat dari penulis. Hal yang mengganjal bagi saya adalah nama-nama yang dipilih dalam buku ini bukan nama Korea, entah karena sasaran pembacanya atau apa, tetapi justru membuat suasana Koreanya sedikit terganggu. Apalagi menjadi tidak cocok karena saat itu Korea masih terisolasi dari dunia luar.

 

A Golden Web / Barbara Quick (2010) / Translated to Indonesian by Maria M. Lubis / Penerbit Atria / Cetakan I, Maret 2011 / Paperback, 272 pages

“Aku tidak mau dilupakan.”
“Kau tidak akan dilupakan, Alessandra Giliani!”
(p.260)

10588138Kisah ini terinspirasi dari ahli anatomi pertama yang pernah tinggal di Bologna, sekitar abad ke-14. Pada saat itu, tempat wanita adalah di rumah, saat waktunya tiba, mereka harus siap menjadi istri dan melahirkan anak, atau—pilihan lainnya adalah menjadi biarawati. Tidak ada pilihan untuk belajar maupun bekerja. Alessandra Giliani bisa dikatakan mendobrak aturan sosial pada saat itu. Hingga—mungkin—bukti dan dokumen tentangnya sempat dimusnahkan, dan tersisa sedikit sejarah tentangnya. Dari sedikit yang ada itu, penulis menyusun sebuah fiksi sejarah, dengan sebagian besar kisah keluarganya direka oleh penulis.

Sejak kecil, Alessandra hidup dikelilingi buku-buku, karena ayahnya bekerja menyalin buku-buku untuk dijual kembali (saat itu belum ada percetakan, semua dikerjakan secara manual). Alessandra yang punya rasa ingin tahu besar, ditambah cintanya pada ibunya yang meninggal saat melahirkan adik bungsunya, mulai tertarik pada ilmu manusia. Hal ini membawanya ke Bologna, menyamar menjadi laki-laki demi masuk ke sekolah kedokteran.

Semangat belajar dan tekad Alessandra yang sulit dipatahkan, serta dukungan dari orang-orang di sekitarnya begitu mengharukan. Suasana yang digambarkan penulis memberikan bayangan yang cukup mengenai kondisi sosial masyarakat pada zaman itu. Betapa menjadi perempuan yang cerdas adalah sebuah aib yang harus ditutupi. Dan betapa tidak beruntungnya, saat hidup mereka hanya dinilai sebatas peran sebagai penyetak bayi, tanpa hak untuk mendapatkan kehidupan yang mereka kehendaki, bahkan tanpa jaminan keselamatan dalam ‘tugas’ yang diembannya.

Menurut saya, alurnya agak terlalu lambat di awal dan terlalu cepat di akhir. Justru cerita tentang proses belajarnya lebih menarik untuk diperpanjang, hingga setara dengan latar belakang sosial masyarakat yang sudah digambarkan panjang di awal.

 

18060916Liesl & Po / Lauren Oliver (2011) / Illustrated by  Kei Acedera (2011) / Translated to Indonesian by Prisca Primasari / Penerbit Mizan / Cetakan I, April 2013 / Paperback, 319 pages

Saat sedang ketakutan, orang-orang tak selalu melakukan hal yang benar. Mereka berpaling. Menutup mata. (p.103)

Liesl dikurung di loteng oleh ibu tirinya, berbulan-bulan sejak ayahnya sakit hingga meninggal dunia. Liesl dengan sabar menerima perlakuan itu, meski dalam hati dia sangat merindukan ayahnya, serta pohon willow tempat mereka menguburkan ibunya, dekat tempat tinggal mereka yang dulu. Suatu malam, sesosok hantu bernama Po dengan anjing/kucing hantu bernama Bundle mengunjunginya dari Dunia Lain. Tak ada yang memahami kenapa Po bisa menembus hingga ke tempat Liesl. Dengan imbalan gambar Liesl, Po bersedia membantu gadis itu mencari ayahnya di Dunia Lain, meski normalnya hal tersebut mustahil.

Di sisi lain, ada Will, murid sang alkemis, yang mengagumi Liesl sejak pertama dia melihatnya melalui jendela loteng tempatnya dikurung. Will yang dipaksa bekerja keras oleh sang alkemis tanpa imbalan yang setimpal, melakukan sebuah kesalahan yang membuatnya mendapat masalah besar, dia pun lari sejauh-jauhnya.

Itulah masalah lain orang hidup: Mereka terpisah, selalu terpisah. Mereka tak pernah benar-benar membaur. Mereka tak tahu bagaimana menjadi seseorang selain diri mereka sendiri; kadang mereka bahkan tak tahu bagaimana caranya menjadi diri sendiri. (p.99)

Berbagai kejadian dan rencana secara tak terduga mempertemukan semua karakter dalam buku ini. Karakter baik dan jahat, masing-masing memiliki kisahnya sendiri, yang berhubungan satu sama lain, membentuk jalinan cerita yang bermuara pada cinta—cinta antar anggota keluarga, teman, dunia, dan sesama manusia, juga sesama makhluk hidup. Walau menyimpan banyak kejutan, kisah ini menyimpan banyak sekali kebetulan dan penyelesaian yang mudah, terlalu mudah bahkan. Meski demikian, setiap karakter menampakkan peran yang kuat.

Dan sungguh, inilah inti dari segalanya, karena jika kau tak percaya bahwa hati bisa mengembang secara tiba-tiba, dan cinta bisa merekah layaknya bunga bahkan di tempat yang paling keras, aku takut kau akan mendapati jalan yang panjang, gersang, dan tandus, dan kau akan kesulitan menemukan cahaya. (p.315)

See You in the Cosmos – Jack Cheng

32048758

Title : See You in the Cosmos
Author : Jack Cheng (2017)
Publisher : Puffin Books
Format : Paperback, 314 pages
ISBN : 978-0-141-36560-2

Buku ini kubaca sekitar November tahun lalu. Saat itu saya sedang masa lepas dari reading slump, tetapi setelah menamatkan ini, saya justru mengalami book hangover yang parah hingga sulit membaca apa-apa. Buku ini menarik saya karena buku anak bertema antariksa, pun penulis debut biasanya bebas ekspektasi, harganya pun relatif murah. Awalnya saya urung, tapi entah mengapa terbayang-bayang terus dan kuputuskan tetap membelinya. Memang seringkali intuisi tidak boleh diabaikan, saya memang akhirnya suka sekali buku ini. Bahkan sampai selama ini, saya tetap merasa perlu menuliskan reviewnya—walau tak sesempurna yang saya harapkan.

Buku ini dituliskan dari rekaman iPod seorang anak 11 tahun bernama Alex Petroski. Alex terobsesi dengan roket dan ruang angkasa, penggemar berat Carl Sagan, yang bermimpi untuk menerbangkan roketnya sendiri. Rekaman yang terinspirasi dari Golden Record yang diluncurkan ke luar angkasa itu, akan dibawanya ke SHARF (Southwest High-Altitude Rocket Festival) yang ditemukannya via internet. Dia juga berkenalan dengan sesama nerd di Rocketforum, orang-orang yang baru mengetahui bahwa Alex adalah anak-anak setelah bertemu langsung dengannya.

He said if we can do something that big, something that’s never been done before in the history of humanity, then of course we can solve all the problems we have at home. (p.59)

Alex yang digambarkan lebih dewasa dari usianya ini bepergian sendiri—ayahnya sudah tak ada, ibunya digambarkan mengalami fase-fase aneh dan kesulitan merawat Alex maupun dirinya sendiri, sementara kakak lelakinya, Ronnie, bekerja jauh di luar kota. Awalnya kita hanya akan melihat kisah ini dari sudut pandang Alex melalui penuturannya di rekaman iPod. Namun, seiring dia menemui banyak orang, kita bisa mendengar suara-suara mereka, percakapan yang tak sengaja terekam, ataupun rekaman yang disengaja tanpa sepengetahuan Alex, sehingga menjelaskan banyak hal kepada pembaca hal-hal yang tak dipahami Alex. Bagaimana pun tanggung jawab besar yang ditanggungnya, Alex tetaplah anak-anak.

Alex yang belajar tentang roket secara autodidak, tidak pernah melakukan uji coba, harus bersiap untuk dikecewakan ekspektasinya yang sangat tinggi. Untunglah orang-orang yang ditemuinya juga baik, perhatian, dan simpatik. Sampai dia menemukan sebuah nama di internet yang akan mengubah hidupnya, orang-orang ini juga yang membawa Alex lebih jauh, menemui orang-orang lain yang di luar dugaan, membuka rahasia-rahasia, dan meluruskan masalah-masalah.

Buku yang sangat indah, tokoh utama yang manis, petualangan yang seru, penuh kejutan, dan meninggalkan begitu banyak kesan emosional. Karakter favorit saya di buku ini adalah Ronnie Petroski, yang mulanya dari deskripsi Alex tampak seperti kakak yang cuek dan ingin lari dari masalah. Kenyataannya justru sebaliknya, dia adalah sosok pengganti kepala keluarga yang penuh tanggung jawab dan rela berkorban demi keluarga. Saya tidak bisa tidak menyukainya.

Buku ini mungkin awalnya cenderung datar, tetapi lambat laun dengan hadirnya para karakter dan terbukanya misteri, terasa indah menyentuh hati, bahkan saya sempat menangis pada salah satu bagian.

These words we try to use to describe it, to describe that feeling, these words like love and bravery and truth, the reason they can’t describe it all the way, and the reason that sounds or music or pictures can’t describe it all the way either, is because THEY’RE all shadows too! WORDS ARE SHADOWS TOO! (p.298)

Sebagai penutup, akan saya kutipkan joke receh ala nerd yang menghiasi buku ini.

How does an astronaut cut his hair on the moon?

Eclipse it.

(p.91)

Why didn’t the Dog Star laugh at the comedy show?

Because it was too Sirius.

(p.149)

Mini Reviews: Newbery Medal Winners

105999Dear Mr. Henshaw (Leigh Botts #1) by Beverly Cleary (1983) (Illustrated by Paul O.Zelinsky)
First HarperTrophy edition, 2000, paperback, 147 pages

Buku berbentuk epistolary (kumpulan surat) ini—seperti judulnya—ditujukan kepada seorang penulis bernama Boyd Henshaw oleh seorang bocah bernama Leigh Botts. Leigh adalah penggemar buku-buku Mr.Henshaw.  Dia tinggal bersama ibunya yang sudah bercerai dari ayahnya. Surat-suratnya berisikan curahan hati mengenai kehidupannya, bagaimana ayahnya sering lupa meneleponnya, uang yang terlambat dikirim, bagian terbaik bekalnya yang dicuri, dan keinginannya menjadi seorang penulis.

A character in a story should solve a problem or change in some way. (p.91)

Seluruh bagian buku ini ditulis dari sudut pandang Leigh, dari surat yang ditulisnya—meski tak semua dikirimkan. Dari korespondensinya dengan Mr.Henshaw (yang beberapa kali memberi balasan singkat), interaksi dengan orang tuanya, dengan penjaga sekolah, dia mengalami perubahan; dari yang tak berteman menjadi lebih bersahabat, menjadi lebih percaya diri, mengalami kemajuan dalam hal menulis, serta yang tak kalah penting adalah kedewasaan untuk menerima kondisi diri dan keluarganya. Perubahan ini bisa terbaca dari surat-suratnya, apa yang difokuskannya, dan bagaimana dia memaknainya.

“ … You wrote like you, and you did not try to imitate someone else. This is one mark of a good writer. Keep it up.” (p.119-120)

 

7530724Shiloh (Shiloh #1) by Phyllis Reynolds Naylor (1991)
Translated to Indonesian by Ibnu Setiawan, Penerbit Kaifa, cetakan I, Juli 2003, paperback, 176 pages

Shiloh adalah seekor anjing yang menyedihkan saat Marty menemukannya. Jejak-jejak penyiksaan atasnya terlihat jelas. Sayangnya, Shiloh—yang merupakan nama yang diberikan oleh Marty, sesuai daerah tempatnya ditemukan—bukan anjing liar, dia memiliki pemilik, pemilik yang selalu memukul dan menyakitinya. Setelah bertemu Marty, Shiloh selalu kembali, mengikutinya, perasaan sayang yang timbul membuat Marty tak tega untuk melepaskannya, dan diam-diam memeliharanya, menentang larangan orang tuanya.

Bagaimana Marty bisa menyelamatkan Shiloh, bagaimana menghindarkan Shiloh dari Judd Travers—pemiliknya yang licik, dan bagaimana orang tua Marty bisa diyakinkan bahwa dia mampu untuk menjaga Shiloh? Kisah ini benar-benar menggambarkan hubungan yang manis antara manusia dengan hewan, khususnya bagi pencinta anjing. Penulis benar-benar menggambarkan dengan apik perasaan dan keterikatan seekor anjing dengan manusia. Dikatakan bahwa kisah ini terinspirasi dari kisah nyata penulis sendiri saat menemukan seekor anjing betina.

 

17670713Criss Cross by Lynne Rae Perkins (2005)
Translated to Indonesian by Esti Ayu Budihabsari, TransMedia Pustaka, Cetakan pertama, 2007, paperback, viii+338 pages

Kisah tentang remaja, seperti pada umumnya remaja, sekolah, bergaul, keluarga, jatuh cinta. Kisah yang dituturkan di buku ini porsinya cukup pas, tidak berlebihan pada satu aspek saja. Meski pada umumnya remaja memang cenderung menggalaukan hal tertentu, terutama cinta (monyet), tetapi di sini kisah sehari-harinya juga diceritakan sehingga konfliknya tidak itu-itu saja.

Kejadian sehari-hari pun ternyata bisa memberikan kesan tertentu jika diceritakan dengan cara tertentu, hal sesederhana berdandan, kehilangan kalung, mendengarkan radio, diam-diam menyetir tanpa SIM, nongkrong. Hal itu jugalah yang dialami oleh Debbie, bukan hal besar yang terjadi padanya yang penting, tetapi bagaimana dia memandangnya.

The Last Siege – Jonathan Stroud

Title : The Last Siege / Pengepungan Terakhir
Author : Jonathan Stroud (2006)
Translator : Ribkah Sukito
Editor : Primadonna Angela
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan pertama, Oktober 2011
Format : Paperback, 288 pages

Tiga remaja dengan masalahnya masing-masing dipertemukan oleh sebuah insiden di depan bekas kastil yang lama tak berpenghuni. Emily dan Simon tak pernah berteman sebelumnya, tetapi saat terjepit oleh musuh yang sama, bersama dengan Marcus yang berasal dari bagian kota yang lain, tiba-tiba mereka masuk ke dalam petualangan yang digagas oleh anak asing itu.

“Kastil itu hidup karena kau dapat menafsirkannya sesukamu. Kastil itu bisa menjadi apa pun yang kaupikirkan. Kau bisa membayangkan bagaimana kastil itu dulunya, ketika belum hancur, ketika orang-orang tinggal di dalamnya. Dan setiap orang bebas untuk membayangkan hal yang berbeda.” (p.80)

Petualangan mereka semakin liar dan semakin bebas, masing-masing mereka kini punya peran dalam mewujudkan imajinasi mereka. Mulai dari permainan menaklukkan kastil,  penjelajahan dan menapak tilas sejarah, hingga pertahanan yang mulai tak tampak sebagai permainan lagi. Masalah menjadi serius ketika Marcus menceritakan masalah keluarganya kepada kedua kawannya. Masalah yang membutuhkan campur tangan pihak berwajib, tetapi, akankah orang dewasa mengerti ketakutan mereka?

Kisah persahabatan, keluarga, kehilangan, dinamika remaja, dan pengkhianatan. Sama seperti kisah Baron Hugh—penghuni kastil pada masa Raja John—yang diceritakan Marcus, mereka menghadapi ujian kesetiaan yang serupa.

Pada akhirnya, meski dibalut kisah petualangan yang menyenangkan, buku ini menyimpan kenyataan yang pahit tentang jurang antara anak-anak dan orang dewasa, serta secercah mengenai kesehatan mental. Mungkin karena ditujukan untuk pembaca muda, pesannya cukup samar untuk menyembunyikan kebrutalannya.

“Aku sedang berpikir—tentang apa yang dikatakan ibumu.”
“Iya.”
“Hanya… Apakah semuanya sudah baik-baik saja?”
“Tidak, tentu saja belum. ….”
(p.143)