Category Archives: Reference

Sherlock: The Casebook – Guy Adams

Casebook 1Title : Sherlock: The Casebook
Author : Guy Adams (2012)
Publisher : BBC Books (imprint of Ebury Publishing)
Format : Hardcover, 160 pages

Sebagai penggemar serial Sherlock BBC yang dimulai pada tahun 2010, buku ini adalah buku wajib untuk dimiliki. Terbit di tahun 2012, buku ini menjadi pelengkap dari serial yang baru mencapai season kedua pada saat itu. Meski merupakan adaptasi lepas dari buku-buku Sir Arthur Conan Doyle, serial ini masih setia pada pakem dan prinsip sang detektif yang sudah melekat di hati para penggemarnya. Buku ini diawali dengan ide, bagaimana awal dari serial Sherlock dilahirkan, oleh Steven Moffat dan Mark Gatiss.

Was there really a place for a modern-day Sherlock Holmes? Where would he fit in a TV landscape already littered with cop shows?
‘Exactly,’ says Steven. ‘Doyle effectively created the CSI, forensic procedural format with the character of Holmes. So what would make him stand out, now that his methods are more commonplace? In the end, it came down to a simple fact: he would still be the cleverest man in the room. He would still be a genius.’
(p.3)

Dengan memutuskan membawa kembali Sherlock Holmes ke setting modern, artinya ada beberapa unsur dalam buku yang tak bisa dimasukkan karena sudah lewat masanya. Namun, bukan berarti tidak bisa sama sekali. Dalam The Five Orange Pips, latar mengenai KKK tidak bisa lagi digunakan, tetapi menafsirkan ‘pips’ sebagai dering telepon di The Study in Pink, dan—yang belum disebutkan dalam buku ini—dalam Sherlock Special Season 3 Prequel, referensi cerita biji jeruk ini juga masih dipakai dalam bentuk yang berbeda.

‘We just love it so much,’ admits Steven, as if we could be in any doubt. ‘And sometimes those references are there as a joke, just for fun, or sometimes they’re there because the ideas are simply good and untouched, waiting for someone to use them. …’ (p.4)

Menurut Mark, pemilihan karakter Sherlock tidak terlalu rumit karena mereka hanya memiliki satu sosok yang dirasa cocok untuk memerankannya, yaitu Benedict Cumberbatch. Sedangkan untuk pemilihan karakter John Watson, diperlukan banyak pertimbangan, hingga akhirnya Martin Freeman tiba-tiba muncul dan mendapatkan ‘chemistry’ yang pas dengan Benedict.

‘To be a man that an incredibly perceptive genius chooses to trust, you must be pretty exceptional.’ (p.50)

Selebihnya, buku ini merupakan catatan John Watson mengenai kasus-kasus yang ditangani keduanya pada enam episode dalam dua season serial. Bagi yang sudah menonton, mungkin bagian ini biasa saja. Namun, tentu saja buku ini tidak berhenti di situ. Catatan-catatan John, yang dilengkapi foto dan ilustrasi yang berhubungan dengan episode tersebut diperkaya juga dengan komentar-komentar Sherlock (dan jawaban John) pada post-it. Komentar-komentar yang seringkali menimbulkan tawa, dalam gaya yang sangat Sherlock.

p.128-129: start small with Memory Bungalow :D

p.128-129: start small with Memory Bungalow 😀

Di antara pergantian episode, penulis memasukkan tambahan-tambahan informasi dan latar belakang yang dirasanya menjadi faktor pembangun serial ini. Mulai dari karakter-karakter penting, Moriarty dan Adler—yang masing-masing sudah memiliki citra sendiri dalam benak pembaca Sherlock Holmes, perbandingannya dengan karya asli, kisah di balik layar (behind the scene), biografi singkat Doyle, sampai pada sejarah berbagai adaptasi Sherlock Holmes dari masa ke masa—Basil Rathbone dalam film yang juga merupakan adaptasi lepas, Jeremy Brett yang sangat terobsesi pada Holmes, termasuk referensi Mycroft yang berbeda dengan yang dicitrakan oleh Doyle dalam buku. Sayangnya, pada bab episode terakhir, The Reichenbach Fall, tidak ada bab yang membahas mengenai perbandingan dengan buku. Mungkin penulis ingin memberikan efek akhir yang dramatis, atau ada sesuatu yang masih ingin disimpan, sehingga kesan ‘nanggung’nya tetap terasa.

p.108-109: fokus pada flat di 221B Baker Street. Detail tentang penyimpanan surat tidak tampak di TV, tapi ada dalam buku.

p.108-109: fokus pada flat di 221B Baker Street. Detail tentang penyimpanan surat tidak tampak di TV, tapi ada dalam buku.

Back Cover

Back Cover

Porsi tambahan yang menarik, terutama cerita di balik layar—di luar cerita yang bisa ditonton dan sejarah yang bisa didapatkan di sumber lain—menurut saya sangat kecil, padahal justru itu yang diharapkan dari buku ini. Tetapi dengan adanya foto-foto official yang sangat berlimpah, yang terkadang tidak ditampakkan atau tidak menjadi fokus dalam serialnya, membuat buku ini jauh lebih baik. 4/5 bintang untuk dokumentasi detektif modern kita.

Don’t make people into heroes, John. Heroes don’t exist, and if they did I wouldn’t be one of them. (p.62)

Review #13 for Lucky No.15 Reading Challenge category Cover Lust

Mudah Membuahkan 38 Jenis Tabulampot Paling Populer

mudah-membuat-38-jenis-tabulampit-paling-populerJudul : Mudah Membuahkan 38 Jenis Tabulampot Paling Populer
Penulis : Herfin Sasono & Nofiandi Riawan
Penyunting : Tintondp
Penerbit : PT AgroMedia Pustaka
Edisi : Cetakan pertama, 2014
Format : Paperback, vi+118 halaman

Di tengah perkotaan yang penuh dengan bangunan dan polusi, penghijauan adalah salah satu solusi. Selain taman-taman kota, rumah juga perlu dihijaukan. Namun, bagaimana menyiasati halaman rumah yang sempit di tengah-tengah kota? Tabulampot (tanaman buah dalam pot) adalah salah satunya. Selain menghijaukan, keunggulan tabulampot adalah kemampuannya untuk menghasilkan sesuatu yang bisa dikonsumsi.

Membuahkan tanaman buah dalam lahan yang luas sebenarnya tidak selalu mudah, apalagi tabulampot yang terbatas dalam ketersediaan zat hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhannya. Bagi para pemula, buku ini bisa menjadi jawaban. Di dalamnya dibahas secara lengkap dan ringkas, mulai dari pemilihan jenis tanaman buah, pembibitan, penanaman, penganganan media tanam, pupuk, pembasmian hama, teknik pembuahan, pemanenan, bahkan sampai mengolah buah yang sudah dipetik.

Pembibitan secara generatif (melalui biji) atau vegetatif (perbanyakan dari akar dan batang) ternyata perlu perhatian khusus untuk jenis-jenis tertentu. Teknik pembibitan tersebut juga dijelaskan dengan jelas melalui deskripsi dan gambar sehingga lebih mudah dipahami. Jenis-jenis pot beserta kelebihan dan kekurangannya, komposisi media tanam sesuai dengan jenis tabulampot, serta jenis-jenis pupuk dan pestisida—baik kimia maupun nabati, melengkapi pemahaman untuk mereka yang awam dalam berkebun.

Buku ini adalah jenis buku praktis yang akan lebih berguna dan mudah dipahami jika sambil dipraktikkan. Selain penjelasan secara umum, ada juga penjelasan secara spesifik mengenai perawatan ke-38 jenis tabulampot tersebut. Buah-buahan itu dikategorikan sebagai Tabulampot Sangat Mudah Berbuah (belimbing, beach cherry, dll), Mudah Berbuah (jambu air kancing, jambu biji mutiara, dll), Agak Sulit Berbuah (buah naga merah, delima, dll), dan Sulit Berbuah (anggur, durian, dll). Akan tetapi, jika melihat keterangan dan petunjuknya, yang sulit berbuah pun tampaknya masih bisa diusahakan meski butuh perawatan yang lebih lama dan lebih hati-hati. Dalam setiap jenis tabulampot, dijabarkan poin-poin penting yang secara khusus berbeda satu dengan yang lainnya, seperti komposisi pupuk yang pas, serta teknik pembuahannya.

Teknik pembuahan juga tidak terlalu sulit, ada jenis tabulampot yang memerlukan pemangkasan cabang/ranting, ada yang perlu dilakukan stres air, atau ZPT (zat pengatur tumbuh. Penjelasan tersebut dilengkapi dengan tips-tips untuk teknis pelaksanaannya. Kemudian, sebagai pelengkap, ada tanya jawab seputar masalah yang sering dialami mengenai tabulampot. Bagian yang terakhir ini menurut saya lebih enak jika dimasukkan dalam penjelasan di awal saja, karena pertanyaan dan jawabannya sendiri sudah spesifik sehingga bisa disisipkan. Kemudian penjelasan untuk manfaat buah-buahan secara spesifik juga tidak terlalu penting, karena sifatnya masih sangat umum dan tidak bisa dijadikan patokan untuk tujuan mengkonsumsi buah tersebut.

Untuk yang berminat membuat halaman mungil Anda dihiasi dengan buah-buahan yang menyegarkan mata dan menyehatkan jika dikonsumsi, buku ini bisa menjadi permulaan yang mudah. Tekniknya praktis dan tidak sekadar teori.

*Terima kasih untuk AgroMedia Pustaka atas bukunya.

Review #10 for Lucky No.15 Reading Challenge category Freebies Time

The Magical Worlds of Harry Potter – David Colbert

magical HPTitle : The Magical Worlds of Harry Potter: A Treasury of Myths, Legends, and Fascinating Facts
Author : David Colbert (2001)
Publisher : Berkley Books
Edition : Berkley trade paperback edition, June 2002, 7th printing
Format : Paperback, 210 pages

Bagi penggemar kisah fantasi, mitologi, maupun para ahli sejarah, bahasa dan arkeolog, membaca serial Harry Potter semacam menimbulkan memori akan sesuatu yang familier. Bukan rahasia lagi bahwa Rowling meramu bahan-bahan dari sesuatu yang sudah ada sebelumnya—selain yang diciptakannya sendiri, tentu saja—akan tetapi ada hal yang menjadikan kisah Harry Potter tidak biasa, kalau tidak saya katakan luar biasa.

Kesesuaian karakter fantasi, makhluk-makhluk ajaib ciptaan Rowling dengan apa yang ada dalam berbagai legenda dan mitologi menunjukkan betapa luasnya wawasan penulis wanita yang satu ini. Mulai dari konsep centaurs yang menjauh dari manusia, legenda yang mengatakan bahwa Chiron ditempatkan di rasi Sagittarius, hubungan centaurs dengan bintang-bintang yang sesuai dengan kebiasaan centaurs di Forbidden Forrest (Firenze, Ronan, Bane) meramal dengan bintang-bintang; Dark Mark milik pengikut Voldemort yang mirip dengan Devil’s Mark atau Witch’s Mark yang dijadikan dasar perburuan penyihir di abad pertengahan; coklat yang membuat perasaan lebih baik setelah berhadapan dengan Dementor memiliki penjelasan medis; deskripsi Fluffy yang sesuai dengan Cerberus pada legenda Yunani, termasuk cara menjinakkannya dengan musik; sampai makhluk Griffin yang menurut mitologi Yunani melambangkan keberanian, keberuntungan, dan kebanggaan diri.

Penulis buku ini juga menghubungkan arti kata serta simbol-simbol Durmstrang dengan Nazi Jerman, selain prioritasnya terhadap ‘kemurnian darah’. Berbeda dengan Hogwarts, meski Slytherin memiliki kesamaan sifat dengan Durmstrang mengenai hal-hal yang berhubugan dengan ‘darah’ dan ilmu hitam, Rowling tak menyatakan dan tak menunjukkan adanya penyihir yang murni ‘baik’ dan murni ‘jahat’ berdasarkan asramanya (selain rumor yang diyakini karakter-karakter dalam Harry Potter).

Within the walls of Hogwarts, Dumbledore’s leadership has created an appealing ideal. Evil is not pushed away fearfully; or simply met with courageous force. It is to be countered with compassion. More than once, Dumbledore has demonstrated a strong faith that fallen wizards can redeem themselves. (p.106)

Selain mengambil legenda yang sudah ada dengan cukup akurat, kreativitas dan ketelitian Rowling membuatnya menciptakan aturan baru atau tambahan dari legenda-legenda tersebut. Seperti Animagus yang memiliki aturan agak berbeda dari penyihir Merlin—misalnya, yang dapat mengubah diri menjadi beberapa makhluk atau benda, alih-alih satu wujud yang didaftarkan di Kementerian Sihir. Merpeople telah dikenal dalam berbagai mitologi, namun detail pedesaan merpeople yang digambarkan Rowling, yang memelihara Grindylows, adalah ciptaannya sendiri. Berbagai macam dongeng dan kepercayaan tentang cermin yang menjadikan The Mirror of Erised tetap unik. Bahkan naga dan unicorn yang berada pada begitu banyak literatur bisa menjadi sesuatu yang berbeda, sekaligus familier, di tangan Rowling.

Does any writer create names with more care or a greater sense of humor than J. K. Rowling? She uses foreign words, puns, and anagrams; makes references to history and myth; and often takes names from maps. Occasionally she makes them up out of thin air, in the case of Quidditch. One clever fan noticed that the letters in the game’s name related to the names of its balls: Quaffle, bludger, and snitch. Even if Rowling didn’t use the same reasoning, one can see why the name felt right to her.
She not only invents words, she invents fun histories of them. […]
Often names reveal something about the character’s personality. Sometimes the references are so obscure one has to imagine Rowling is just enjoying a private joke. […]
(p.133-134)

Menurut penulis buku ini, Hermione merupakan bentuk feminin dari Hermes, dewa Yunani yang fasih berbicara. Dalam karya Shakespeare, A Winter’s Tale, ada karakter bernama Hermione yang menjadi patung, mengingatkan sesuatu? Nama Cedric Diggory yang identik dengan Digory Kirke dalam The Chronicles of Narnia karya C. S. Lewis, yang juga favorit Rowling. Sang werewolf favorit kita, Remus Lupin, memiliki asal nama Lupus yang dalam bahasa Latin berarti serigala, juga legenda Roma yang memiliki anak yang disusui oleh serigala, bernama Romulus dan Remus. Hedwig merupakan nama santo dari Jerman yang aktif dalam pendidikan untuk anak yatim piatu.

Sebagai orang yang lumayan ‘akrab’ dengan bahasa Latin, saya tahu beberapa mantera dalam serial Harry Potter menggunakan bahasa tersebut. Dan buku ini ternyata menyebutkannya, dan mengatakan bahwa memang bahasa Latin adalah bahasa yang paling cocok untuk penyihir.

J. K. Rowling herself has said. “ I like to think that the wizards use this dead language as a living language.” (p.110)

Oleh karena buku ini ditulis saat serial Harry Potter baru mencapai empat seri—Harry Potter and the Goblet of Fire, juga companion yang baru muncul dua (Fantastic Beasts and Where to Find Them dan Quidditch Through the Ages), maka dalam beberapa hal, terdapat fakta yang belum lengkap. Misalnya, mengapa tidak Dumbledore saja yang mengalahkan Voldemort. Jawaban permulaan baru bisa kita temukan dalam buku keenam, dimana Voldemort memang belum bisa dikalahkan selama masih ada Horcrux, serta jawaban lengkap di buku ketujuh bahwa memang Harry yang memegang kuncinya—sebagai seseorang yang telah ditandai oleh Voldemort.

Sebagai sebuah buku referensi, terkadang saya merasa bahwa penulis buku ini terbawa oleh legenda yang diceritakannya, sehingga terkesan bahwa yang diceritakannya bukanlah mitos, tapi sejarah yang benar-benar terjadi—meski beberapa memang benar-benar sejarah. Selebihnya, buku ini merupakan bacaan yang menarik bagi penggemar serial Harry Potter—juga penggemar J. K. Rowling. Beberapa hal bukan hal baru lagi, tapi banyak hal mungkin mengejutkan. Penulis melakukan riset pada berbagai referensi yang menjadikan buku ini kaya akan fakta dan berhubungan secara masuk akal. Kadang, oleh karena detailnya kebenaran ini, saya jadi berpikir bahwa Rowling pun tak bermaksud seperti itu, segala kebenaran itu telah melekat padanya tanpa dia sadari.

3/5 bintang untuk keajaiban Harry Potter, dan penciptanya.

hotter-potter-logo-1As with other forests in literature, Rowling’s Forbidden Forest is also a dangerous place where one can lose one’s way or one’s sense of self. But forests can also offer refuge, and are home to spirits with a special knowledge of nature and healing. (p.78)

Review #9 for Hotter Potter

Review #18 for Books in English Reading Challenge 2013