Category Archives: Romance

Yang Fana Adalah Waktu – Sapardi Djoko Damono

38802594Judul : Yang Fana Adalah Waktu (Trilogi Hujan Bulan Juni #3)
Penulis : Sapardi Djoko Damono
Penyelia naskah : Mirna Yulistianti
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Edisi : Cetakan pertama, Maret 2018
Format : Paperback, 146 halaman

Ketika sebuah kisah mendekati akhir, ada saja kisah baru yang muncul menggantikannya…. (hal.130)

Kelanjutan kisah Sarwono dan Pingkan masih menggantung seperti sejak awal di novel Hujan Bulan Juni, dan masih ada jarak Kyoto dan Solo/Jakarta terlepas setelah Pingkan Melipat Jarak sebelumnya. Sarwono yang sedang menjalani masa penyembuhan kembali saling bersurel dengan Pingkan yang melanjutkan studinya di Jepang, yang otomatis membawa Katsuo kembali di antara mereka. Cinta dua sejoli itu tak terganggu sama sekali, terlepas dari apa yang sudah terjadi, tapi jarak dan waktulah yang bermasalah. Sementara itu, pasangan Bapak dan Ibu Hadi beserta—yang selalu mereka sebut calon besan—Ibu Pelenkahu tampak masih berkasak-kusuk perihal hubungan kedua anak mereka.

Hubungan antara Pingkan dan Katsuo semakin asing ketika pria Jepang itu menyeret Pingkan ke Okinawa, kampung halamannya, untuk menemui Noriko, gadis yatim piatu yang dijodohkan ibu Katsuo untuk anaknya. Katsuo ingin meyakinkan gadis itu, bahwa tak ada hubungan spesial antara dirinya dengan Pingkan. Hal yang tampaknya agak diada-adakan, karena, tentu saja, Katsuo sejak mula tidak menganggapnya demikian. Tak disangka, perkenalan kedua perempuan dalam hidup Katsuo membawa arah baru dalam kehidupan dan jalinan hubungan mereka.

Sebermula adalah seutas benang seutas saja yang ujung dan pangkalnya jelas yang kelokan-kelokannya jelas yang warna putihnya jelas yang tegang lenturnya jelas yang terhubung dengan sosok yang jelas yang kemudian ya ya yang kemudian ya ya yang kemudian entah kenapa ketika ditarik agar ujung-ujungnya bersatu malah memanjang dan semakin panjang dan jadi lentur dan entah kenapa tersangkut…. (hal.111)

Di buku ketiga ini, ikatan Sarwono dan Pingkan semakin diperjelas melalui kisah orang-orang di sekitar mereka. Dua sejoli ini semakin rapat, terlepas dari angin yang menerpa mereka, yang membawa masa lalu melalui kisah-kisah mereka. Salah satunya adalah perihal keasingan, atau identitas sebagai liyan, yang pada zaman modern ini tak bisa lagi dihindari. Perkawinan antar suku, bahkan antar negara sudah menjadi hal biasa, sehingga adat yang kuno harus terkalahkan oleh cinta yang menggebu, di mana pun itu. Hadirnya Noriko di tengah-tengah mereka memperjelas bahwa keasingan bisa dilawan dengan cinta, karena cinta menimbulkan usaha untuk mendekatkan, untuk melipat jarak.

Ping, kita ini ternyata sekadar tokoh dongeng yang mengikuti pakem purba seperti yang berlaku dalam segala jenis dongeng dan tontonan Jawa. (hal.86)

Mereka sepenuhnya percaya bahwa dongeng diciptakan sebagai jawaban untuk pertanyaan yang tak akan ada habisnya…. (hal.139)

Membaca buku ketiga dalam trilogi ini pada waktu yang cukup jauh dari buku sebelumnya relatif sulit, karena ada beberapa detail yang berhubungan. Meski tidak utama, rasanya membaca ketiga buku ini kembali dalam waktu yang berturutan akan memberi sensasi yang berbeda. Terutama tarik-ulur hubungan Pingkan dengan Sarwono yang (mungkin) akan mencapai titik akhir di sini.

Sebagaimana kedua novel sebelumnya, dalam buku ini, penulis masih berakrobat dengan menampilkan narasi, epistolary, dan stream of consciousness secara bergantian. Ada satu titik saya merasa trilogi ini sesungguhnya tidak perlu menjadi trilogi, tetapi menjelang akhir saya memahami, bahwa sejak awal, buku ini bukan sekadar ingin menyampaikan kisahnya, ada hal yang lebih dalam di balik itu. Terlebih dengan adanya berbagai gurauan dan sindiran sosial dan filosofis, yang terselip dalam percakapan Pingkan dengan Sarwono, menjadikan lingkup kisah ini meluas, sehingga menjadi terhubung dengan kehidupan kita saat ini. Secara keseluruhan, membaca buku ini seperti membaca puisi, yang perlu kita reguk saripatinya dan mengabaikan beberapa kalimat yang tampak tak berarti, tapi berarti, tapi sulit dipahami seutuhnya.

Apakah aku boleh tidak paham, Ping?

Boleh, Sar, toh paham atau tidak paham tidak ada bedanya.

(hal.140)

Ada satu hal yang mengganjal dalam buku ini, disebutkan saat Pingkan yang masih SMP ditegur kakaknya agar berkirim WA atau surel saja dengan Sarwono, sedangkan saat ini dia telah menjadi dosen, twitter masih menampung hanya 140 karakter. Lubang waktu itu tak terlalu penting jika dilihat dalam lingkup Yang Fana Adalah Waktu ini, tapi cukup mengganggu. Di luar itu, penulis—yang bisa dikatakan berasal dari generasi lampau—berusaha betul-betul untuk memasukkan unsur kekinian dalam novelnya, bahkan jauh lebih tega dan lebih berani ketimbang penulis yang lebih muda dalam genre yang serupa. Saya rasa hal ini mengukuhkan sikap beliau terhadap unsur kebaruan dalam karya sastra.

Kisah ini pun akhirnya ditutup dengan manis dan apik, semanis gula-gula yang mewujud lapisan-lapisan awan. 4/5 bintang untuk babak akhir pertunjukan karya sastra ala Pak Sapardi.

Katamu kenangan itu fosil, gak bisa diapa-apakan.

Tapi yang ini bisa.

(hal.95)

Advertisements

Miracle Girls – Nami Akimoto

Title : Miracle Girls (Manga Vol. 1-9)

Author : Nami Akimoto (1991-1994)

Translator : Irawati

Publisher : Elex Media Komputindo

Edition : Cetakan pertama, 2016

Manga ini adalah salah satu manga yang kubeli atas dasar romantika masa kecil. Dulu, anime adaptasi dari manga ini adalah salah satu yang saya ikuti semasa sekolah. Membaca manga ini saat dewasa, dengan ingatan samar-samar animenya yang sebagian besar ceritanya sudah terlupakan, memberikan kesan yang sangat berbeda. Dan hal ini pula yang membuat saya memiliki sudut pandang yang baru tentang manga. Spoiler alerts! Karena kurasa pesona manga ini bukan kejutannya, pun akhirnya sangat mudah ditebak.

Tomomi dan Mikage Matsunaga adalah kembar identik yang memiliki keajaiban. Keduanya bisa melakukan telepati dan teleportasi. Awalnya ini adalah rahasia mereka berdua, sampai pada saat mereka kelas 3 SMP, Mikage—yang berbeda sekolah dengan Tomomi—meminta tolong saudarinya untuk mewakilinya dalam lomba estafet. Meski kembar identik, sifat dan bakat keduanya sangat berbeda. Tomomi tak terlalu cemerlang dalam pelajaran, tetapi sangat jago olahraga. Kebalikan Mikage yang jenius dalam hal akademik tapi payah dalam olahraga. Penyamaran Tomomi ini menyebabkan seorang guru yang terobsesi pada fenomena ajaib mengejar mereka, Tomomi jatuh cinta pada musuh bebuyutan Mikage, dan kekacauan lain yang mengikutinya. Jadi kini sudah ada tiga orang yang akhirnya mengetahui rahasia keduanya; sang guru—Pak Kageura, Noda—teman sekelas yang dibenci Mikage, dan Kurashige—senior Noda di klub atletik yang disukai Mikage.

Buku ini terdiri dari tiga bagian yang diterbitkan menjadi sembilan volume. Setiap bagian menceritakan petualangan yang berbeda, dan setiap petualangan melibatkan lebih banyak orang yang akhirnya mengetahui rahasia keajaiban Matsunaga bersaudari. Pada bagian pertama diawali dengan kisah di atas, dan karena suatu hal Pak Kageura memendam ambisinya dan berbalik membantu si kembar ajaib. Di bagian kedua, mereka bertemu seseorang, yang ternyata juga seorang esper (memiliki kemampuan ajaib), mengejar mereka. Masaki Takamura, yang menjadi kaki tangan seseorang di sebuah organisasi yang hendak menguasai dunia (ambisi yang sangat umum di kartun 90-an, hahaha). Nanti di bagian ketiga akan muncul kembali Mister X yang masih mendendam pada si kembar. Dengan latar belakang Kerajaan Diamas—yang disebut-sebut tersembunyi di sekitar Inggris—yang memiliki legenda Ratu Kembar. Di sini Matsunaga bersaudari akan mendapatkan dan melihat keajaiban yang lain.

Saya sudah jarang sekali membaca manga, jadi mungkin saya lupa—atau tidak menyadari, bahwa logika manga sangat berbeda dengan logika novel. Kisah yang bertema fantasi ini tidak seperti novel yang memerlukan world-building yang mapan. Jika dipaksa dibandingkan, mungkin manga ini setara dengan imajinasi bebas tanpa aturan ala picture book atau buku anak pendek yang sasarannya di bawah delapan tahun, yang tidak mementingkan logika cerita, tetapi murni kesenangan dan pengalaman fantastis.

Faktor lainnya adalah sasaran pembaca. Manga ini ditujukan untuk pembaca remaja, karakternya dibuat sebagai remaja dengan segala dinamikanya, tetapi dengan peran dan tanggung jawab yang sedikit lebih besar. Anak usia SMP-SMA yang memiliki kekuatan tetapi bisa menyembunyikan dari orang tuanya, bahkan mempertaruhkan nyawa dalam misi ‘penyelamatan dunia’, dengan melibatkan sedikit sekali orang dewasa. Bahkan dalam bagian ekstra (curhatan) penulis menyatakan bahwa dia merasa terlalu banyak memasukkan tokoh dewasa.

Pada beberapa bagian, tampak chemistry antarkarakternya sangat kuat, terutama di volume 2 dan bagian 3. Baik itu antara saudara, teman, kekasih, keluarga. Di saat yang lain, kita juga disuguhkan petualangan yang gegabah, instingtif, tetapi dilandasi kepedulian dan empati, juga rasa ingin tahu yang besar.

Selain kisah Mikage dan Tomomi, dalam serial ini penulis juga menyisipkan beberapa kisah pendek yang tak kalah manisnya.

TAPI… TAMPAKNYA ADA HAL YANG TAK BISA DIKENDALIKAN OLEH KEKUATAN SAJA

ITU ADALAH HATI MANUSIA…

KEKUATAN DALAM MEMPERCAYAI SESEORANG

MEMBUAT KEAJAIBAN…

Mini Reviews: Newbery Medal Winners

105999Dear Mr. Henshaw (Leigh Botts #1) by Beverly Cleary (1983) (Illustrated by Paul O.Zelinsky)
First HarperTrophy edition, 2000, paperback, 147 pages

Buku berbentuk epistolary (kumpulan surat) ini—seperti judulnya—ditujukan kepada seorang penulis bernama Boyd Henshaw oleh seorang bocah bernama Leigh Botts. Leigh adalah penggemar buku-buku Mr.Henshaw.  Dia tinggal bersama ibunya yang sudah bercerai dari ayahnya. Surat-suratnya berisikan curahan hati mengenai kehidupannya, bagaimana ayahnya sering lupa meneleponnya, uang yang terlambat dikirim, bagian terbaik bekalnya yang dicuri, dan keinginannya menjadi seorang penulis.

A character in a story should solve a problem or change in some way. (p.91)

Seluruh bagian buku ini ditulis dari sudut pandang Leigh, dari surat yang ditulisnya—meski tak semua dikirimkan. Dari korespondensinya dengan Mr.Henshaw (yang beberapa kali memberi balasan singkat), interaksi dengan orang tuanya, dengan penjaga sekolah, dia mengalami perubahan; dari yang tak berteman menjadi lebih bersahabat, menjadi lebih percaya diri, mengalami kemajuan dalam hal menulis, serta yang tak kalah penting adalah kedewasaan untuk menerima kondisi diri dan keluarganya. Perubahan ini bisa terbaca dari surat-suratnya, apa yang difokuskannya, dan bagaimana dia memaknainya.

“ … You wrote like you, and you did not try to imitate someone else. This is one mark of a good writer. Keep it up.” (p.119-120)

 

7530724Shiloh (Shiloh #1) by Phyllis Reynolds Naylor (1991)
Translated to Indonesian by Ibnu Setiawan, Penerbit Kaifa, cetakan I, Juli 2003, paperback, 176 pages

Shiloh adalah seekor anjing yang menyedihkan saat Marty menemukannya. Jejak-jejak penyiksaan atasnya terlihat jelas. Sayangnya, Shiloh—yang merupakan nama yang diberikan oleh Marty, sesuai daerah tempatnya ditemukan—bukan anjing liar, dia memiliki pemilik, pemilik yang selalu memukul dan menyakitinya. Setelah bertemu Marty, Shiloh selalu kembali, mengikutinya, perasaan sayang yang timbul membuat Marty tak tega untuk melepaskannya, dan diam-diam memeliharanya, menentang larangan orang tuanya.

Bagaimana Marty bisa menyelamatkan Shiloh, bagaimana menghindarkan Shiloh dari Judd Travers—pemiliknya yang licik, dan bagaimana orang tua Marty bisa diyakinkan bahwa dia mampu untuk menjaga Shiloh? Kisah ini benar-benar menggambarkan hubungan yang manis antara manusia dengan hewan, khususnya bagi pencinta anjing. Penulis benar-benar menggambarkan dengan apik perasaan dan keterikatan seekor anjing dengan manusia. Dikatakan bahwa kisah ini terinspirasi dari kisah nyata penulis sendiri saat menemukan seekor anjing betina.

 

17670713Criss Cross by Lynne Rae Perkins (2005)
Translated to Indonesian by Esti Ayu Budihabsari, TransMedia Pustaka, Cetakan pertama, 2007, paperback, viii+338 pages

Kisah tentang remaja, seperti pada umumnya remaja, sekolah, bergaul, keluarga, jatuh cinta. Kisah yang dituturkan di buku ini porsinya cukup pas, tidak berlebihan pada satu aspek saja. Meski pada umumnya remaja memang cenderung menggalaukan hal tertentu, terutama cinta (monyet), tetapi di sini kisah sehari-harinya juga diceritakan sehingga konfliknya tidak itu-itu saja.

Kejadian sehari-hari pun ternyata bisa memberikan kesan tertentu jika diceritakan dengan cara tertentu, hal sesederhana berdandan, kehilangan kalung, mendengarkan radio, diam-diam menyetir tanpa SIM, nongkrong. Hal itu jugalah yang dialami oleh Debbie, bukan hal besar yang terjadi padanya yang penting, tetapi bagaimana dia memandangnya.

Pingkan Melipat Jarak – Sapardi Djoko Damono

34501430Judul : Pingkan Melipat Jarak (Trilogi Hujan Bulan Juni #2)
Penulis : Sapardi Djoko Damono (2017)
Penyelia naskah : Mirna Yulistianti
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Format : Paperback, vi+121 halaman

Ia beriman pada takdir, yang tidak mengenal seandainya. (hal. 13)

Setelah kisah cinta yang ragu-ragu di novel Hujan Bulan Juni antara Sarwono dan Pingkan terpisahkan jarak akibat studi dan pekerjaan, kini keduanya diuji kembali dengan sakit yang diderita Sarwono. Penyakit itu menyebabkannya harus mendapat perawatan intensif di rumah sakit dan tidak boleh dijenguk oleh siapapun, termasuk Pingkan, terutama Pingkan. Dengan Katsuo, kawan Jepang yang juga menaruh rasa padanya, menemaninya di Solo, keraguan dan kekhawatiran yang dirasakannya semakin tak terjawab.

Di buku kedua ini, kisah terutama berpusat pada Pingkan. Mengenai perasaan Pingkan pada Sarwono yang dianggap tak pernah berubah dan semakin mantap, tetapi kembali samar saat ada badai yang datang. Kilas balik kisah keduanya, kenangan-kenangan dan jejak Sarwono memberi kesempatan bagi Pingkan untuk melihat kembali ke dalam dirinya, dan apa yang sungguh diinginkannya.

Katsuo, Bu Pelenkahu, dan cicak. Dan Pingkan memilih cicak. Dan karena sejak di kamar Sarwono cicak menyindirnya akan meninggalkan Sarwono, Pingkan teguh pada niatnya untuk tidak meninggalkan kekasihnya itu di Solo. Katsuo pasti tidak pernah mendengarkan cicak, Sarwono pasti pernah, pasti sering sebab selalu ada di balik jam dinding di kamarnya. Cicak tahu benar perangai pemuda itu, dan karenanya mencintainya. (hal. 49)

Jika dalam buku pertama trilogi ini saya menyebutnya sebagai ‘pertunjukan sastra’ karena menyajikan sederet ragam narasi, maka di novel kedua ini kita diajak masuk ke dalam labirin imajinasi, alam bawah sadar, mimpi, dan khayalan para karakternya. Batasan realitas begitu tipis, kita bisa memastikan mana yang nyata mana yang bukan, disandingkan dengan suasana sendu yang kental dengan aroma kematian, membuat buku ini terbuka untuk berbagai kemungkinan penafsiran.

Penulis masih menyajikan sederetan legenda kisah cinta yang dihubungkan dengan pasangan beda latar belakang ini. Tak hanya itu, budaya lain seperti mitos, kepercayaan, musik dan film juga melebur ke dalam labirin-labirin yang membawa pembaca ke tujuan yang sulit diprediksi.

Selalu ada yang terjadi tidak untuk bisa dipahami, tampaknya. (hal. 106)

Selain Pingkan, perasaan dan latar belakang Katsuo juga mulai terbuka. Bagaimana hubungannya sendiri dengan Pingkan sebenarnya tak hanya terhalang oleh pria Jawa yang dicintai Pingkan, tetapi juga keluarga dan masa lalu di Jepang yang masih menantinya.

Dalam beberapa bagian, tersirat kenyataan hubungan Katsuo dengan Pingkan yang mungkin lebih jauh dari yang ditampakkan sebelumnya. Kebersamaan mereka di Jepang sepertinya tidak disia-siakan begitu saja oleh Katsuo. Meski Pingkan tak pernah memberi tanda positif, ada kalanya keraguan mengubah cinta segitiga menjadi hubungan cinta yang lebih rumit.

Tanpa rasa sakit, jiwa kita kosong belaka. (hal. 74)

Alih-alih menjawab pertanyaan, buku ini justru memunculkan lebih banyak pertanyaan untuk dijawab di buku selanjutnya. Seperti Hujan Bulan Juni, yang membiarkan yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu. Termasuk jalan apa yang dipilih Pingkan untuk dilipat jaraknya.

“Kenangan itu fosil, bukan abu, Toar. Tidak bisa diubah menjadi abu.” (hal. 115)

Hujan Bulan Juni – Sapardi Djoko Damono [Novel]

Judul : Hujan Bulan Juni (Novel)
Penulis : Sapardi Djoko Damono (2015)
Editor : Mirna Yulistianti
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Edisi : Cetakan pertama, Juni 2015
Format : Paperback, vi + 135 halaman

Sarwono adalah salah satu dosen muda di Prodi Antropologi FISIP-UI yang giat ‘mencari nafkah’ dengan menulis laporan penelitian tentang berbagai wilayah di Indonesia. Laporan hasil tulisannya memang disukai, mungkin karena pada dasarnya dia suka menulis, meski yang lebih sering ditulisnya adalah puisi. Sejak SMA dia dekat dengan adik kawannya, Pingkan Pelenkahu yang campuran Minahasa-Jawa, yang kini mengajar di Prodi Jepang, sama-sama FISIP-UI. Namun, seperti ada batas yang menahan hubungan keduanya ke arah yang lebih jauh, meski keduanya sama-sama memberi sinyal positif.

–semuanya cengeng kalau diukur berdasarkan ketidakpahaman akan hakikat puisi, (hal.93)

Bersama di fakultas, menghabiskan waktu beberapa minggu tugas di Sulawesi, hingga terpaksa terpisah sementara saat Pingkan belajar di Kyoto mencatat jejak hubungan keduanya. Ada keluarga yang harus disatukan, dan ada prinsip yang perlu diluluhkan. Pingkan selalu mengatakan bahwa Sarwono cengeng dan zadul, tetapi diam-diam mengharapkannya menjadi Matindas-nya. Sedangkan Sarwono yang tidak dapat melihat ‘keJawaan’ Pingkan pun jiwa Pingkan tak juga Minahasa masih merasa bahwa dirinya adalah wong sabrang yang harus menceritakan kisahnya sendiri.

“Dongeng adalah jawaban bagi pertanyaan yang diajukan suatu kaum tentang banyak hal yang menyangkut keberadaannya,” (hal.52)

Inti dari cerita Sarwono dan Pingkan ini sebenarnya sederhana saja, kekuatan novella ini bagi saya justru ada di narasinya. Di sini, penulis seolah hendak ‘pamer’ tentang bentuk-bentuk narasi, serta menunjukkan kepiawaiannya menjalin bentuk-bentuk yang berbeda itu ke dalam sebuah novel yang pendek. Saat membaca, saya dapat terhanyut dalam narasi yang indah, atau lugas, atau dalam dialog, atau dalam arus pikiran, tanpa peduli pada akhirnya saya akan dibawa ke mana dalam urusan percintaan kedua karakter tersebut. Saya merasa dibawa ke dalam sebuah perjalanan di mana saya cukup menikmati potongan-potongan pemandangan yang indah, tanpa perlu dijelaskan mengenai sejarah pembentukannya, juga tak penting untuk mereka-reka apa peran si pemandangan dalam dunia yang luas ini. Pemandangan-pemandangan itu cukup untuk membentuk sepotong kisah.

Selain itu, seperti beberapa karyanya yang lain, penulis juga memasukkan adaptasi cerita rakyat ke dalam kisahnya. Kisah Pingkan dan Matindas adalah cerita rakyat Minahasa yang diwujudkan secara modern dalam diri Pingkan Pelenkahu dan Sarwono. Cerita rakyat ini secara apik berhasil menyatu dalam kisah, tidak terkesan dibuat-buat, pun dia menyusup dalam karakter seolah legenda tersebut hidup kembali—atau karakter kita yang mundur ke masa lalu, mewujud kisah yang telah berlalu.

Ditatapnya mata Sarwono, dalam-dalam, semakin dalam, dan semakin dalam lagi. Langit itu bersih tanpa awan hanya ada dua ekor burung jantan dan betina menyeberang cakrawala lalu muncul dari arah sebaliknya dengan sangat rapi bersama-sama mengepakkan-ngepakkan sayap-sayap mereka lalu melesat ke atas hanya beberapa detik terus menukik kembali menceburkan diri di laut yang menyimpan warna langit. (hal.86)

Tidak hanya cerita rakyat Minahasa, beberapa legenda daerah yang bersinggungan dengan karakter juga dileburkan dalam narasi, meski tak dominan, termasuk budaya dan legenda Jepang yang menjadi tempat singgah Pingkan saat belajar. Penulis memasukkan unsur-unsur kekinian yang menegaskan zaman kisah ini terjadi, baik secara teknologi, situasi ekonomi, politik, sosial, dan lain sebagainya.

… ia sering berpikir mengapa semuanya harus seragam, mulai dari baju sekolah sampai cara berpikir yang dikendalikan kurikulum yang seragam, yang harus ditafsirkan secara seragam juga. Tadi pun, mereka seragam tertawa seragam. Bangsa ini tampaknya akan menghasilkan anak-anak yang seragam. Ketika memikirkan ibu-bapaknya, Sarwono malah jadi khawatir kalau-kalau mereka nanti tidak berpikir seragam menerima laporannya tentang …. (hal.88)

Singkatnya, buku ini adalah ‘pertunjukan’ sastra yang sangat kaya. 4.5/5 bintang untuk cinta yang ragu-ragu.

Bahwa kasih sayang beriman pada senyap. (hal.45)