Category Archives: Romance

Pingkan Melipat Jarak – Sapardi Djoko Damono

34501430Judul : Pingkan Melipat Jarak (Trilogi Hujan Bulan Juni #2)
Penulis : Sapardi Djoko Damono (2017)
Penyelia naskah : Mirna Yulistianti
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Format : Paperback, vi+121 halaman

Ia beriman pada takdir, yang tidak mengenal seandainya. (hal. 13)

Setelah kisah cinta yang ragu-ragu di novel Hujan Bulan Juni antara Sarwono dan Pingkan terpisahkan jarak akibat studi dan pekerjaan, kini keduanya diuji kembali dengan sakit yang diderita Sarwono. Penyakit itu menyebabkannya harus mendapat perawatan intensif di rumah sakit dan tidak boleh dijenguk oleh siapapun, termasuk Pingkan, terutama Pingkan. Dengan Katsuo, kawan Jepang yang juga menaruh rasa padanya, menemaninya di Solo, keraguan dan kekhawatiran yang dirasakannya semakin tak terjawab.

Di buku kedua ini, kisah terutama berpusat pada Pingkan. Mengenai perasaan Pingkan pada Sarwono yang dianggap tak pernah berubah dan semakin mantap, tetapi kembali samar saat ada badai yang datang. Kilas balik kisah keduanya, kenangan-kenangan dan jejak Sarwono memberi kesempatan bagi Pingkan untuk melihat kembali ke dalam dirinya, dan apa yang sungguh diinginkannya.

Katsuo, Bu Pelenkahu, dan cicak. Dan Pingkan memilih cicak. Dan karena sejak di kamar Sarwono cicak menyindirnya akan meninggalkan Sarwono, Pingkan teguh pada niatnya untuk tidak meninggalkan kekasihnya itu di Solo. Katsuo pasti tidak pernah mendengarkan cicak, Sarwono pasti pernah, pasti sering sebab selalu ada di balik jam dinding di kamarnya. Cicak tahu benar perangai pemuda itu, dan karenanya mencintainya. (hal. 49)

Jika dalam buku pertama trilogi ini saya menyebutnya sebagai ‘pertunjukan sastra’ karena menyajikan sederet ragam narasi, maka di novel kedua ini kita diajak masuk ke dalam labirin imajinasi, alam bawah sadar, mimpi, dan khayalan para karakternya. Batasan realitas begitu tipis, kita bisa memastikan mana yang nyata mana yang bukan, disandingkan dengan suasana sendu yang kental dengan aroma kematian, membuat buku ini terbuka untuk berbagai kemungkinan penafsiran.

Penulis masih menyajikan sederetan legenda kisah cinta yang dihubungkan dengan pasangan beda latar belakang ini. Tak hanya itu, budaya lain seperti mitos, kepercayaan, musik dan film juga melebur ke dalam labirin-labirin yang membawa pembaca ke tujuan yang sulit diprediksi.

Selalu ada yang terjadi tidak untuk bisa dipahami, tampaknya. (hal. 106)

Selain Pingkan, perasaan dan latar belakang Katsuo juga mulai terbuka. Bagaimana hubungannya sendiri dengan Pingkan sebenarnya tak hanya terhalang oleh pria Jawa yang dicintai Pingkan, tetapi juga keluarga dan masa lalu di Jepang yang masih menantinya.

Dalam beberapa bagian, tersirat kenyataan hubungan Katsuo dengan Pingkan yang mungkin lebih jauh dari yang ditampakkan sebelumnya. Kebersamaan mereka di Jepang sepertinya tidak disia-siakan begitu saja oleh Katsuo. Meski Pingkan tak pernah memberi tanda positif, ada kalanya keraguan mengubah cinta segitiga menjadi hubungan cinta yang lebih rumit.

Tanpa rasa sakit, jiwa kita kosong belaka. (hal. 74)

Alih-alih menjawab pertanyaan, buku ini justru memunculkan lebih banyak pertanyaan untuk dijawab di buku selanjutnya. Seperti Hujan Bulan Juni, yang membiarkan yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu. Termasuk jalan apa yang dipilih Pingkan untuk dilipat jaraknya.

“Kenangan itu fosil, bukan abu, Toar. Tidak bisa diubah menjadi abu.” (hal. 115)

Hujan Bulan Juni – Sapardi Djoko Damono [Novel]

Judul : Hujan Bulan Juni (Novel)
Penulis : Sapardi Djoko Damono (2015)
Editor : Mirna Yulistianti
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Edisi : Cetakan pertama, Juni 2015
Format : Paperback, vi + 135 halaman

Sarwono adalah salah satu dosen muda di Prodi Antropologi FISIP-UI yang giat ‘mencari nafkah’ dengan menulis laporan penelitian tentang berbagai wilayah di Indonesia. Laporan hasil tulisannya memang disukai, mungkin karena pada dasarnya dia suka menulis, meski yang lebih sering ditulisnya adalah puisi. Sejak SMA dia dekat dengan adik kawannya, Pingkan Pelenkahu yang campuran Minahasa-Jawa, yang kini mengajar di Prodi Jepang, sama-sama FISIP-UI. Namun, seperti ada batas yang menahan hubungan keduanya ke arah yang lebih jauh, meski keduanya sama-sama memberi sinyal positif.

–semuanya cengeng kalau diukur berdasarkan ketidakpahaman akan hakikat puisi, (hal.93)

Bersama di fakultas, menghabiskan waktu beberapa minggu tugas di Sulawesi, hingga terpaksa terpisah sementara saat Pingkan belajar di Kyoto mencatat jejak hubungan keduanya. Ada keluarga yang harus disatukan, dan ada prinsip yang perlu diluluhkan. Pingkan selalu mengatakan bahwa Sarwono cengeng dan zadul, tetapi diam-diam mengharapkannya menjadi Matindas-nya. Sedangkan Sarwono yang tidak dapat melihat ‘keJawaan’ Pingkan pun jiwa Pingkan tak juga Minahasa masih merasa bahwa dirinya adalah wong sabrang yang harus menceritakan kisahnya sendiri.

“Dongeng adalah jawaban bagi pertanyaan yang diajukan suatu kaum tentang banyak hal yang menyangkut keberadaannya,” (hal.52)

Inti dari cerita Sarwono dan Pingkan ini sebenarnya sederhana saja, kekuatan novella ini bagi saya justru ada di narasinya. Di sini, penulis seolah hendak ‘pamer’ tentang bentuk-bentuk narasi, serta menunjukkan kepiawaiannya menjalin bentuk-bentuk yang berbeda itu ke dalam sebuah novel yang pendek. Saat membaca, saya dapat terhanyut dalam narasi yang indah, atau lugas, atau dalam dialog, atau dalam arus pikiran, tanpa peduli pada akhirnya saya akan dibawa ke mana dalam urusan percintaan kedua karakter tersebut. Saya merasa dibawa ke dalam sebuah perjalanan di mana saya cukup menikmati potongan-potongan pemandangan yang indah, tanpa perlu dijelaskan mengenai sejarah pembentukannya, juga tak penting untuk mereka-reka apa peran si pemandangan dalam dunia yang luas ini. Pemandangan-pemandangan itu cukup untuk membentuk sepotong kisah.

Selain itu, seperti beberapa karyanya yang lain, penulis juga memasukkan adaptasi cerita rakyat ke dalam kisahnya. Kisah Pingkan dan Matindas adalah cerita rakyat Minahasa yang diwujudkan secara modern dalam diri Pingkan Pelenkahu dan Sarwono. Cerita rakyat ini secara apik berhasil menyatu dalam kisah, tidak terkesan dibuat-buat, pun dia menyusup dalam karakter seolah legenda tersebut hidup kembali—atau karakter kita yang mundur ke masa lalu, mewujud kisah yang telah berlalu.

Ditatapnya mata Sarwono, dalam-dalam, semakin dalam, dan semakin dalam lagi. Langit itu bersih tanpa awan hanya ada dua ekor burung jantan dan betina menyeberang cakrawala lalu muncul dari arah sebaliknya dengan sangat rapi bersama-sama mengepakkan-ngepakkan sayap-sayap mereka lalu melesat ke atas hanya beberapa detik terus menukik kembali menceburkan diri di laut yang menyimpan warna langit. (hal.86)

Tidak hanya cerita rakyat Minahasa, beberapa legenda daerah yang bersinggungan dengan karakter juga dileburkan dalam narasi, meski tak dominan, termasuk budaya dan legenda Jepang yang menjadi tempat singgah Pingkan saat belajar. Penulis memasukkan unsur-unsur kekinian yang menegaskan zaman kisah ini terjadi, baik secara teknologi, situasi ekonomi, politik, sosial, dan lain sebagainya.

… ia sering berpikir mengapa semuanya harus seragam, mulai dari baju sekolah sampai cara berpikir yang dikendalikan kurikulum yang seragam, yang harus ditafsirkan secara seragam juga. Tadi pun, mereka seragam tertawa seragam. Bangsa ini tampaknya akan menghasilkan anak-anak yang seragam. Ketika memikirkan ibu-bapaknya, Sarwono malah jadi khawatir kalau-kalau mereka nanti tidak berpikir seragam menerima laporannya tentang …. (hal.88)

Singkatnya, buku ini adalah ‘pertunjukan’ sastra yang sangat kaya. 4.5/5 bintang untuk cinta yang ragu-ragu.

Bahwa kasih sayang beriman pada senyap. (hal.45)

Mimpi Bayang Jingga – Sanie B. Kuncoro

6471541Judul : Mimpi Bayang Jingga
Penulis : Sanie B. Kuncoro
Penyunting : Imam Risdiyanto
Penerbit : Bentang Pustaka
Edisi : Cetakan pertama, April 2009
Format : Paperback, vi + 214 halaman

Mimpi Bayang Jingga adalah kumpulan tiga kisah tentang cinta, mimpi, ego, perpisahan, dan kehilangan. Kisah pertama, The Desert Dreams berkisah tentang perselingkuhan seorang suami yang merasakan kedataran dalam rumah tangganya. Namun, cinta itu egois, cinta itu ingin memiliki, dan cinta tak ingin dibagi. Jingga berkisah tentang seorang wanita yang menemukan ‘jalan pintas’ untuk mimpi-mimpinya, cinta yang memiliki segalanya, kecuali satu yang dianggap paling penting bagi seorang wanita, komitmen. Mimpi Bayang memilih gaya unik untuk kisahnya, agak supranatural, dan menunjukkan bahwa ego dan cinta sulit untuk dipersatukan. Pada akhirnya, mungkin seseorang perlu menilik kembali, cinta seperti apa yang dimilikinya, dan apakah itu sesuai dengan yang seharusnya, ataukah mesti ada jalan lain yang dipilih untuk cinta.

Ada nyeri meremang pada sudut benakku. Dengan sakit kutemukan kenyataan betapa aku telah kehilangan sebuah perasaan yang pernah kumiliki terhadapnya. Sebuah kehilangan yang kemudian memampukanku untuk ‘melihat’nya. (hal.55)

Ketiga cerita ini tidak saling berhubungan, tetapi memiliki benang merah tema yang serupa. Daya tarik dari karya penulis adalah kalimat-kalimat indah yang tersusun dalam paragraf-paragrafnya. Gaya penulisan ini lebih kentara pada The Desert Dreams karena penulis menggunakan metafora-metafora untuk menyembunyikan kejadian yang sesungguhnya, untuk memberikan efek kejutan bagi pembaca. Sedangkan pada Jingga dan Mimpi Bayang, penulis banyak menggunakan dialog yang menegaskan karakter dan pola berpikir tokoh-tokohnya.

Kisahnya sendiri sebenarnya menarik, terlepas dari kisah cintanya, saya menikmati plot dan alur ceritanya, terutama Mimpi Bayang yang diramu dengan apik dan menarik. Saya tidak bisa menebak ke mana arah kisah-kisah ini. Saya agak terganggu dengan ending Jingga yang terkesan sedikit ‘maksa’, atau mungkin hanya terburu-buru.

Selain romansa, penulis juga menyisipkan berbagai isu sosial, politik, ekonomi, dan sebagainya, yang memperkaya kisahnya hingga tak melulu soal cinta. Juga nilai persahabatan yang membuat saya berpikir ulang tentang beberapa sikap saya dan orang-orang di sekitar saya selama ini. Agak sulit untuk setuju dengan beberapa ide penulis di sini, tetapi dalam konteks kisah, memang sulit dibantah.

Tapi begitulah, mahasiswa dengan segala kemudaannya. Merasa telah melakukan hal-hal besar justru karena ketidaksadaran bahwa begitu jauh yang masih harus dipahami di dasar kehidupan nun jauh di sana. Tanpa menyadari bahwa permukaan kehidupan sama sekali bukanlah representasi yang ada di dalamnya, justru lebih merupakan kamuflase serupa telaga yang menyimpan kedalaman tak terduga. (hal.36-37)

3/5 bintang untuk 3 cara mengisahkan cinta segitiga.

Review #39 for Lucky No.15 Reading Challenge category It’s Been There Forever

Pride and Prejudice – Jane Austen

PnPTitle : Pride and Prejudice
Author : Jane Austen (1797)
Publisher : Wordsworth Classics
Format : Paperback, 329 pages

Pasangan Bennet memiliki lima anak perempuan yang sedang beranjak dewasa. Oleh karena tidak memiliki anak laki-laki, seluruh kekayaan Mr.Bennet akan jatuh pada seorang sepupu jauh jika dia meninggal dunia. Hal ini membuat Mrs.Bennet begitu berambisi menikahkan putri-putrinya, dan kalau bisa, dengan pria yang mapan.

Kelima Bennet bersaudari memiliki karakter yang berbeda-beda. Jane si sulung yang cantik dan merupakan cermin wanita ideal masa itu, Elizabeth/Lizzy yang cerdas dan merupakan favorit ayahnya, Mary si kutu buku, serta Catherine/Kitty dan Lidya yang bebas. Kisah dibuka dengan kedatangan seorang pria kaya di Netherfield, tak jauh dari kediaman Bennet di Longbourn. Pria itu, Mr.Bingley, kabarnya sedang mencari istri, dan secara otomatis, Mrs.Bennet mengharapkan salah seorang putrinya yang terpilih. Tidak mengejutkan jika kemudian Jane menarik perhatian pria itu, begitupun sebaliknya. Di samping itu, Bingley memiliki seorang teman yang juga kaya, tapi kaku dalam pergaulan hingga tampak sombong, Mr.Darcy. Sejak awal terlihat ada gesekan antara Darcy dengan Lizzy, tetapi tampaknya rasa sebal Lizzy pada Darcy tidak berlangsung dua arah.

Hubungan ini berjalan cukup rumit, Lizzy mau tidak mau harus sering berhubungan dengan Darcy karena kawannya diharapkan menjadi calon iparnya, ditambah saudari-saudari Bingley yang nantinya akan mengganggu hubungan saudara mereka dengan Jane. Pada suatu kesempatan, dia juga akan berkenalan dengan Wickham yang akan memberinya sudut pandang yang berbeda tentang Darcy. Singkatnya, Lizzy yang sangat ingin tidak berhubungan dengan Darcy yang memiliki citra negatif di matanya, selalu berkesempatan untuk mengalami sebaliknya, dan disadari atau tidak, dia justru menjadi penasaran tentang kisah hidup orang yang dibencinya itu.

‘Perhaps,’ said Darcy, ‘I should have judged better, had I sought an introduction, but I am ill-qualified to recommend myself to strangers.’
‘Shall we ask your cousin the reason of this?’ said Elizabeth, still addressing Colonel Fitzwilliam. ‘Shall we ask him why a man of sense and education, and who has lived in the world, is ill qualified to recommend himself to strangers?’
‘I can answer your question,’ said Fitzwilliam, ‘without applying to him. It is because he will not give himself the trouble.’
‘I certainly have not the talent which some people possess,’ said Darcy, ‘of conversing easily with those I have never seen before. I cannot catch their tone of conversation, or appear interested in their concerns, as I often see done.’
‘My fingers,’ said Elizabeth, ‘do not move over this instrument in the masterly manner which I see so many women’s do. They have not the same force or rapidity, and do not produce the same expression. But then I have always supposed it to be my own fault—because I will not take the trouble of practising. It is not that I do not believe my fingers as capable as any other woman’s of superior execution.’
Darcy smiled and said, ‘You are perfectly right. You have employed your time much better. No one admitted to the privilege of hearing you, can think anything wanting. We neither of us perform to strangers.’
(p.150-151)

Dinamika sosial pada masa itu digambarkan dalam obsesi Mrs.Bennet. Bagaimana dia dan orang-orang dalam lingkarannya memandang pria dan wanita, bagaimana para wanita berlomba-lomba menarik perhatian para pria, dan bagaimana para pria bersikap dalam posisinya yang ditentukan oleh kekayaan. Tidak terlalu banyak konflik yang berarti selain hubungan-hubungan itu dan pandangan masyarakat terhadapnya. Karakter para putri Bennet yang disorot hanya Jane dan Lizzy, serta Lydia yang nantinya akan mengguncang keluarga itu. Jane yang serba sempurna dan Lizzy yang mandiri saling mengisi dan melengkapi, baik dalam kisah maupun dalam penggambaran satu sama yang lainnya. Kemunculan dan hubungan keduanya memperjelas perbedaan dan pandangan hidup masing-masing.

‘Oh! you are a great deal too apt you know, to like people in general. You never see a fault in anybody. All the world are good and agreeable in your eyes. I never heard you speak ill of a human being in my life.’ (p.15)

Buku ini banyak memotret kejadian dan dialog sehingga, bagi saya, agak membosankan. Terkecuali beberapa momen kecil yang bisa membuat saya tertawa atau kagum, keseluruhan buku ini memiliki konflik yang itu-itu saja dan penyelesaian yang bisa ditebak. Perkembangan karakter tidak terlalu tampak, hanya perubahan drastis dari sudut pandang satu sama lain dikarenakan kesalahpahaman atau ketidaktahuan. Karya ini dipuji-puji karena merupakan potret akurat dari kondisi sosial masa itu, serta karakter Lizzy yang mendobrak stigma tentang perempuan. 2.5/5 bintang untuk perkenalan saya dengan Austen.

‘I wish I could say anything to comfort you,’ replied Elizabeth; ‘but it is wholly out of my power. You must feel it; and the usual satisfaction of preaching patience to a sufferer is denied me, because you have always so much.’ (p.276)

September : Sastra Eropa

September : Sastra Eropa

Review #29 of Classics Club Project

Review #34 for Lucky No.15 Reading Challenge category Bargain All The Way

Adultery – Paulo Coelho

adulteryTitle : Selingkuh (Adultério)
Author : Paulo Coelho (2014)
Translator : Rosi L. Simamora
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan pertama, 2014
Format : Paperback, 320 pages

Banyak orang mengatakan waktu menyembuhkan semua luka, tetapi itu tidak benar.
Tampaknya, waktu hanya menyembuhkan hal-hal baik yang ingin kita genggam selamanya. Waktu memberitahu kita, “Jangan konyol, ini kenyataan.” Itulah sebabnya semua yang kubaca demi mengangkat semangatku tidak pernah bertahan lama. Ada lubang di dalam jiwaku yang mengisap semua energi positif di dalam diriku, dan hanya meninggalkan kekosongan. Aku sangat mengenal lubang itu—aku telah hidup bersamanya berbulan-bulan—tetapi aku tidak tahu bagaimana melepaskan diri dari cengkeramannya.

Semua yang kita cari dengan penuh antusiasme sebelum kita mencapai masa dewasa—cinta, pekerjaan, iman—berubah menjadi beban yang terlalu berat untuk ditanggung.
Hanya ada satu cara untuk melepaskan diri dari hal ini: cinta. Mencintai berarti mengubah perbudakan menjadi kebebasan.
Tetapi sekarang ini, aku tidak bisa mencintai. Aku hanya merasakan benci.
Dan meskipun kedengarannya tidak masuk akal, itu memberi makna pada hari-hariku.
(p.155-156)

Linda memiliki segala yang diimpikan seorang wanita berusia tiga puluhan tahun; suami yang hebat, anak-anak yang luar biasa, pekerjaan yang mapan, rumah tangga yang bahagia, tetapi ada yang salah di dalam dirinya. Ada sebuah kekosongan yang tak terjelaskan dalam jiwanya. Dia bahagia tetapi tidak merasa bahagia. Dia sudah mencoba mencari bantuan profesional, tetapi tak ada yang bisa menghilangkan kegusarannya. Sampai saat pekerjaan mempertemukannya kembali dengan mantan kekasihnya, dia terlibat dalam hubungan terlarang yang membangkitkan kembali apa yang terkubur dalam jiwanya.

Saya rasa, ada Linda dalam setiap diri kita, pada suatu episode hidup kita. Ada kalanya kita merasa tak pantas untuk mengeluh, menilik apa yang sudah kita miliki dan kita capai, tetapi jauh di kedalaman jiwa kita, ada lubang yang tak bisa kita abaikan begitu saja. Lubang yang kalaupun kita abaikan, pada akhirnya akan memakan jiwa kita perlahan. Ada sesuatu hal yang tidak bisa kita bagikan kepada orang lain, karena rasanya tak ada yang mengerti. Seperti Linda, dia berselingkuh bukan karena rumah tangganya bermasalah, bukan karena suaminya memiliki kekurangan, bukan karena pria lain lebih menarik, bukan karena prasangka apa pun yang bisa dipikirkan oleh orang lain.

Kau tidak memilih hidupmu, hiduplah yang memilih dirimu. Tidak ada gunanya bertanya mengapa kehidupan menahan suatu kebahagiaan atau kesedihan, kau hanya bisa menerimanya dan melanjutkan hidupmu.
Kita tidak dapat memilih hidup kita, tetapi kita dapat memutuskan apa yang akan kita lakukan dengan kebahagiaan atau kesedihan yang kita dapatkan.
(p.103)

Bisa dikatakan, kita menghabiskan sebagian besar hidup kita untuk menyenangkan orang lain, hidup dengan standar yang ditentukan oleh masyarakat, menjaga citra diri kita agar sesuai dengan apa yang secara umum dianggap baik. Seringkali kita lupa untuk menanyakan pada diri kita, apa yang sebenarnya kita inginkan, apa yang kita butuhkan untuk ‘hidup’.

Mungkin mereka tidak memiliki kebutuhan untuk membuat orang lain terkesan. Aku memiliki kebutuhan itu, dan aku tidak dapat menolaknya, karena itu merupakan pengaruh baik dalam hidupku, terus mendorongku. Selama aku tidak mengambil risiko yang tidak perlu, tentu saja. Selama aku dapat menjaga duniaku tepat seperti sekarang ini. (p.83)

“Kita bukan orang yang semula kita inginkan. Kita adalah yang dituntut masyarakat. Kita adalah apa yang dipilih orangtua kita. Kita tidak ingin mengecewakan siapa pun; kita memiliki kebutuhan yang besar untuk dicintai. Jadi kita menutupi sisi terbaik diri kita. Perlahan-lahan, cahaya impian kita berubah menjadi monster dalam mimpi-mimpi buruk. Mereka menjadi hal-hal yang tidak dilakukan, kemungkinan-kemungkinan yang tidak kita jalankan.” (p.165)

Saya pribadi sebenarnya tidak merasakan keterikatan dengan karakter Linda dan konfliknya. Saya tidak suka dengan pandangan hidup Linda serta bagaimana dia mengambil pilihan. Banyak ide-ide penulis yang tidak saya sepakati. Meski begitu, penulis berhasil menyampaikan ide-ide universal mengenai hidup melalui kehidupan Linda. Melalui Linda, saya sadar bahwa terkadang kita merasa mengerti sesuatu yang belum pernah kita alami, padahal sesungguhnya tidak. Melalui kegagalannya dalam menemukan bantuan profesional menunjukkan bahwa mengecilkan masalah orang lain tidak akan memberikan penghiburan bagi mereka. Melalui pencarian dan penemuannya, saya belajar bahwa untuk merayakan hidup, sekali-sekali kita perlu juga untuk terpuruk.

Ketika kita memberikan segalanya, kita tidak dapat kehilangan apa-apa lagi. (p.311)

Setting dalam Buku

Juni : Setting dalam Buku

Juni : Setting dalam Buku

Linda adalah orang Swiss asli, dan buku ini mengambil setting di Jenewa. Penulis tak hanya menggunakan setting tempat ini sebagai sematan, tetapi dia juga menggambarkannya dengan cukup detail. Selain tempat, penulis menyinggung kebiasaan, gaya hidup, sampai kebudayaan orang Swiss yang kemungkinan hanya bisa dipahami oleh orang yang tinggal di Swiss. Bahkan karakter Linda ditunjukkan dengan kebanggaan yang alami sebagai warga Swiss.

Biarkan mereka percaya bahwa kami hanya memproduksi keju, cokelat, sapi, dan jam kukuk. Biarkan mereka percaya ada bank di setiap sudut jalan di Jenewa. Kami tidak berniat mengubah citra itu. Kami bahagia tanpa gerombolan orang-orang Barbar itu. Kami semua dipersenjatai dengan sangat lengkap (mengingat dinas militer merupakan kewajiban, setiap laki-laki Swiss menyimpan senjata di rumahnya), tetapi kau jarang mendengar seseorang menembak orang lain. (p.20)

Buku ini menggunakan sudut pandang orang pertama, sehingga narator yang sekaligus karakter utama—Linda, sangat mengetahui apa yang dideskripsikannya. Jalanan kota, pergantian musim, cerita rakyat, sikap para warga negaranya, dan lain sebagainya, menjelma sebagai bagian yang utuh dari setting cerita ini. Saya pribadi tidak tahu pasti mengenai tingkat akurasinya, tetapi dari segi sinambungnya di dalam buku ini, saya rasa penulis telah melakukan riset dengan cukup baik.

4/5 bintang untuk jiwa yang (tak) tenang.

Review #23 for Lucky No.15 Reading Challenge category One Word Only!