Category Archives: Science Fiction

Uncommon Type – Tom Hanks

37901431. sy475 Title : Uncommon Type: some stories
Author : Tom Hanks (2017)
Publisher : Alfred A. Knopf
Edition : First edition, third printing, November 2017
Format : Paperback, viii+405 pages

Pada awal kemunculan buku ini, keramaian otomatis muncul karena nama Tom Hanks di situ. Terlebih dalam sebuah buku fiksi. Keramaian agak mulai semakin menarik saat ada banyak pujian, baik dari pembaca, maupun sesama penulis, juga para kritikus. Dan setelah mencoba membaca sendiri, ternyata memang penulisannya mengesankan dan sangat bisa saya nikmati. Yang baru saya ketahui dari bagian about author di belakang, dan mungkin juga tak banyak yang mengetahui, tulisan Tom Hanks pernah beberapa kali dimuat di The New York Times, Vanity Fair,dan The New Yorker.

Membaca buku ini, saya merasa dilempar-lempar dalam lompatan berbagai realitas dan masa. Terkadang batasnya sangat jelas, tetapi tak jarang juga saya kehilangan orientasi tempat dan waktu, sampai disebutkan penanda-penandanya, seperti landmarks tertentu, jenis gawai dan media sosial yang digunakan pada masa itu, atau kejadian sejarah. Namun, di antara hal-hal yang terlihat acak, ada beberapa benang merah yang dijahit dengan manis di antaranya.

Salah satu hal yang cukup menonjol adalah penggunaan mesin tik, yang konon menjadi media penulis untuk membuat buku ini. Selain dengan foto-foto berbagai jenis mesin tik koleksi Hanks di setiap awal cerita, yang diambil dengan berbagai pose yang cantik, mesin tik juga mendapatkan porsi dalam beberapa cerita. Ada saat mesin tik menjadi cameo, yang tidak sekadar ditempelkan, tetapi juga memberi kesan kuat. Dalam kisah These Are the Meditation of My Heart, mesin tik menjadi bagian utama, yang digambarkan dengan romantisme tersendiri. Dimulai dari seorang manusia modern yang tertarik dengan mesin tik murahan yang hampir tidak berfungsi, kemudian membawanya berkenalan dengan mesin-mesin tik lain, dengan berbagai jenis dan merek dari berbagai masa, yang digambarkan sebagai mahakarya dengan kelebihannya masing-masing. Your Evangelista, Esperanza yang ditulis dengan format surat kabar (Our Town Today with Hank Fiset) menceritakan seseorang yang melepaskan diri dari teknologi, dan hidup bahagia dengan mesin tik saja. Sebuah peranti klasik yang memberinya pengalaman yang tak kalah kaya dari gawai-gawai modern.

Empat orang sahabat yang membuka buku dengan kisah Three Exhausting Weeks, secara tak terduga muncul kembali di tengah dan akhir buku, dalam Alan Bean plus Four dan Steve Wong is Perfect. Kisah pertama tampak seperti romansa kontemporer biasa, tanpa ada hal yang menonjol mengenai settingnya. Hingga di kisah kedua, pembaca diajak ke dalam setting futuristik yang sangat kental, yang membuat kita jadi mempertanyakan di tahun berapa keempat sahabat tersebut hidup. Fiksi sains dengan imajinasi liar yang dibumbui dengan humor agak mengingatkan saya pada Hitchhiker’s Guide karya Douglas Adams yang belum lama saya baca. Kemudian di cerita ketiga, kita dikembalikan pada suasana Amerika yang tampaknya normal-normal saja, kali ini dengan karakter yang memiliki kemampuan menakjubkan.

Suasana historis yang mengharukan dari seorang veteran perang dihadirkan dalam Christmas Eve 1953, yang settingnya sudah terlihat dari judulnya. Dengan fokus pada hubungan keluarga, pertemanan, dan trauma. Kisah keluarga muncul juga di Welcome to Mars, A Month on Greene Street, dan A Special Weekend dengan berbagai dinamikanya, perceraian, hubungan orang tua-anak, anak dengan lingkungan, perselingkuhan, dan membuka hati kembali. Suasana masa lalu yang dilatarbelakangi time travel ada di The Past is Important to Us. Lalu latar belakang dunia hiburan, yang tentunya sangat dekat dengan penulis, tak luput diangkat dalam A Junket in the City of Light dan Who’s Who?.

Selain menceritakan orang-orang kulit putih, penulis juga memunculkan karakter-karakter imigran dan etnis lain di Amerika Serikat. Yang paling menonjol tentunya adalah empat orang sahabat yang saya sebut sebelumnya, di mana salah dua di antaranya adalah keturunan Asia dan Afrika. Go See Costas memberikan sudut pandang imigran ilegal dari masa yang lebih lampau (saat Amerika tak seketat sekarang), dari sisi manusiawinya. Beberapa kisah dengan napas ini (termasuk Who’s Who) menunjukkan bahwa Amerika pada umumnya, dan New York pada khususnya, pernah (dan mungkin masih) menjadi simbol pengharapan dan kehidupan yang lebih baik.

Ada sebuah cerita yang disampaikan dalam format drama, tentang industri, pembangunan, dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi bisnis lama yang penuh kisah dan romantika. Stay With Us pada akhirnya memberikan sebuah kesan yang menyejukkan, meski di awal kita diajak dalam perjalanan bersama dua orang yang sangat eksentrik. Our Town Today With Hank Fiset muncul beberapa kali, setelah tiga cerita. Terkadang ada kesan bahwa berita itu berhubungan dengan cerita sebelumnya, tetapi dengan karakter dan detail yang agak berbeda.

Sejujurnya, meski secara keseluruhan saya sangat suka dengan buku ini, beberapa bagian terasa agak berat untuk dibaca, entah karena terlalu banyak detail, alurnya lambat, atau untuk alasan yang saya tidak sadari. Namun, saya tak meragukan bahwa buku debut Tom Hanks cukup berhasil membuat saya memasukkan buku berikutnya (semoga ada) ke dalam daftar bacaan suatu hari nanti.

If I ever run into Al Bean again, I’ll ask him what life has been like for him since he twice crossed the equigravisphere. Does he suffer melancholia on a quiet afternoon, as the world spins on automatic? (p.153)

InterWorld – Neil Gaiman & Michael Reaves

8497469

Title : InterWorld
Author : Neil Gaiman & Michael Reaves (2007)
Translator : Tanti Lesmana
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan pertama, Juni 2010
Format : Paperback, 280 pages

Joey Harker sangat payah dalam menentukan arah, dia sering tersesat, bahkan di rumahnya sendiri. Jadi ketika guru Kajian-Kajian Sosialnya, Mr. Dimas, memberi tugas untuk menemukan jalan pulang dari tempat tertentu di pusat kota, yang terjadi justru awal dari petualangan yang lebih dahsyat. Tanpa sengaja, Joey ‘berjalan’ ke Altiverse lain dan menemukan dunianya bukan lagi dunianya yang biasa. Dengan insiden itu pula, kehidupannya kini berubah dan takdirnya ditentukan untuk menjadi seorang Pelintas.

Kucengkeram kewarasanku dan kupegangi erat-erat dengan kedua tangan. (p.39)

Idenya adalah bahwa semesta ini tidak tunggal, melainkan ada Multiverse. Di dalam Multiverse, ada dunia-dunia yang terpecah menjadi Altiverse, yang terbentuk dari alternatif-alternatif keputusan besar yang dibuat di dunia ini. Multiverse sendiri ada dua kubu besar, di satu kutub ada Binary yang murni menggunakan sains saja, di kutub satunya adalah HEX yang menggunakan sihir murni. Keduanya berambisi untuk menguasai seluruh Altiverse dan mengubahnya menjadi sesuai dengan mereka sepenuhnya. Dunia-dunia yang lain berada di antaranya, termasuk Bumi yang cenderung pada sains, tetapi masih memiliki sedikit unsur sihir. Joey dan versi-versi lain dirinya adalah bagian dari InterWorld, yang akan menjaga kestabilan semesta dari peperangan antara Binary dan HEX. Para Pelintas menjadi incaran Binary dan HEX karena mereka sendiri tidak memiliki kemampuan melintasi Altiverse, sehingga mereka menggunakan ‘ekstrak’ pada Pelintas tersebut demi tujuan mereka, supaya mereka tidak tersesat di Medan-Antara.

Medan-Antara ini penuh dengan hiperboloid, pita-pita Möbius, botol-botol Klein…apa yang mereka sebut bentuk-bentuk non-Euklides. Membuatmu merasa seolah-olah terperangkap di dalam mimpi-mimpi buruk Einstein yang paling seram. Untuk bepergian di dalamnya tidak bisa dengan sekadar melihat kompas dan berkata, “Ke arah ini!”; bukan hanya ada empat arah, atau delapan, atau bahkan enam belas. Arah yang bisa dituju jumlahnya tidak terbatas—dan untuk menjalaninya dibutuhkan fokus dan konsentrasi, seperti kalau hendak menemukan sosok-sosok tersembunyi orang Indian di dalam gambar bentangan hutan. Lebih dari itu, diperlukan imajinasi. (p.139)

Konsep Multiverse dan Altiverse serta Medan-Antara ini ternyata tidak asing bagi saya, semacam versi saintifik dari konsep Dunia yang Terhubung milik Diana Wynne Jones, atau the Wood Between the Worlds dari C. S. Lewis dalam versi yang lebih modern. Terlepas dari itu, petualangan dan konsep tugas dalam buku ini sangat menarik. Unsur emosional yang dalam juga mewarnai beberapa bagian dari buku ini, yang menjadikannya lebih berbekas ketika membacanya. Beberapa di antaranya adalah momen perpisahan Joey dengan keluarganya, saat dia menyadari nilai sebuah keluarga; lalu saat ada yang harus menjadi korban untuk sebuah tindakan yang tampak bodoh; dan hubungan-hubungannya dengan orang (atau makhluk) lain yang memiliki nilai tersendiri. Kalau saya katakan, buku ini (termasuk buku-buku Neil Gaiman yang lain), memiliki unsur literary yang cukup kental meskipun jelas-jelas buku ini bergenre fantasi…tidak, saya rasa buku ini adalah perkawinan yang unik antara genre fantasi dan science fiction, mengingat porsi sains di buku ini cukup membuat otak saya berlompatan gembira. Saya belum pernah membaca karya Michael Reaves sebelumnya, tetapi saya menduga dia yang berperan besar dalam menumpahkan segenap unsur sains dalam buku ini.

Membaca buku ini memang memerlukan kesabaran di awal, karena terlalu banyak teka-teki tanpa jawaban yang ditumpahkan di awal. Namun semakin ke belakang, akan semakin terbiasa dan semakin menyenangkan. Petualangan yang menegangkan, penuh bahaya, perbatasan hidup dan mati, serta tugas-tugas yang sulit ini dilengkapi pula dengan humor. Atau sarkasme.

“Alat penunjuk lokasi sudah diaktifkan,” katanya. “Objek sasaran berada di lantai ketiga dari yang terakhir di kediaman ini.”
“Bisa tidak kau mempersingkat kalimatmu setiap kali kau membuat pengumuman?” Jo bertanya padanya, bulu-bulu sayapnya mengembang menandakan kejengkelannya.
“Yeah,” J/O menimpali. “Aku punya chip Merriam-Webster terbaru—yang sanggup memuat dua puluh tera kamus, thesaurus, silabus, sebut saja pokoknya, diindeks silang untuk enam puluh bidang realitas, dan beberapa kalimat yang kauucapkan masih tetap belum masuk daftar.”
Jai hanya tersenyum. “Apa gunanya memiliki kosa kata kalau tidak digunakan?”
(p.146-147)

Buku ini awalnya tidak dimaksudkan untuk menjadi sebuah novel. Sekitar tahun 1995, ide mengenai InterWorld lahir dan diwujudkan menjadi skenario serial televisi. Namun sayang pihak televisi belum menerimanya. Padahal menurut saya ini salah satu ide jenius, yah, tapi orang-orang televisi memang berbeda.

5/5 bintang untuk sains vs. sihir.

Review #41 for Lucky No.15 Reading Challenge category It’s Been There Forever

The Martian – Andy Weir

the martianTitle : The Martian
Author : Andy Weir (2011)

The cost for my survival must have been hundreds of millions of dollars. All to save one dorky botanist. Why bother?
Well, okay. I know the answer to that. Part of it might be what I represent: progress, science, and the interplanetary future we’ve dreamed of for centuries. But really, they did it because every human being has a basic instinct to help each other out. It might not seem that way sometimes, but it’s true.

Misi Ares merupakan misi pendaratan manusia di Mars yang bertujuan mempelajari segala hal tentang planet tersebut, mulai dari atmosfer, tanah, dan segala hal yang berkaitan dengan kemampuannya untuk menjadi planet ‘hidup’. Ares 1-2 cukup berhasil, tetapi Ares 3 mengalami cuaca buruk tak terduga yang menyebabkannya harus meninggalkan Mars secara darurat pada Sol 6. Sol adalah satuan hari di planet Mars, yang lamanya 39 menit lebih lama dibandingkan hari di Bumi. Kepergian awak Ares 3 tidak lengkap karena salah seorang kawan mereka, Mark Watney, sempat terbentur antena dan sistem komunikasi tidak mendeteksi tanda kehidupan padanya, sedangkan cuaca tidak memungkinkan mereka mencari jasadnya.

Namun, Watney tidak meninggal. Dia selamat berkat sistem homeostasis manusia yang menutup kebocoran pada kostum astronotnya. Dia tertinggal sendirian di Mars, tanpa alat komunikasi, dengan ransum terbatas, tetapi dengan otak cerdas dan selera humor yang tinggi.

Pendaratan Ares 4 baru akan terjadi empat tahun lagi, dengan jarak ribuan kilometer dari Hab Ares 3. Sementara itu, dia bisa memperpanjang ransumnya agar bisa menunjang hidupnya selama itu, merencanakan perjalanan yang hanya mengandalkan tenaga surya dari panel yang bisa ditunjang Rovernya, yang tidak hanya menyokong perjalanan, tetapi juga mesin-mesin yang menunjang hidupnya seperti oksigen dan air. Dia harus memodifikasi banyak hal, dan dia harus bercocok tanam. Jika beruntung, dia bisa mencari cara untuk menghidupkan kembali alat komunikasinya agar NASA tahu dan membantunya memikirkan hal-hal tersebut.

I got my undergrad degree at the University of Chicago. Half the people who studied botany were hippies who thought they could return to some natural world system. Somehow feeding seven billion people through pure gathering. They spent most of their time working out better ways to grow pot. I didn’t like them. I’ve always been in it for the science, not for any New World Order bullshit.
When they made compost heaps and tried to conserve every little ounce of living matter, I laughed at them. “Look at the silly hippies! Look at their pathetic attempts to simulate a complex global ecosystem in their backyard.”
Of course, now I’m doing exactly that.
(Sol 14)

Sementara itu, tiga bulan pasca kepergian Ares 3 dari Mars, NASA baru menyadari bahwa Watney masih hidup melalui pantauan satelit. Misi besar-besaran pun direncanakan untuk menyelamatkan Watney. Segala informasi yang masuk ke NASA adalah milik publik, sehingga mereka tidak bisa lepas dari media. Namun bukan hanya itu, Mark Watney adalah astronot mereka, dan mereka memiliki tanggung jawab untuk mengusahakan hidupnya semaksimal mungkin. Perbedaan pendapat, percobaan demi percobaan, kerjasama dengan pihak lain, serta apakah mereka harus melibatkan awak Ares 3 yang lain merupakan beberapa pertimbangan alot karena waktu adalah hal kritis yang menentukan hidup-mati seorang Watney.

Buku ini disusun dalam beberapa sudut pandang. Di Mars, pembaca disuguhkan catatan harian Watney dalam Log yang diisinya sekadar untuk memiliki teman bicara dan melampiaskan perasaannya, sedangkan di Bumi (NASA) dan Hermes (pesawat ruang angkasa yang digunakan awak Ares 3) menggunakan sudut pandang orang ketiga. Perpindahan lokasi penceritaan dalam buku ini cukup membuat penasaran karena masih meninggalkan pertanyaan, sekaligus membuat suasana kisah tidak terlalu monoton. Karakter-karakter yang dimunculkan juga ‘hidup’ dan memiliki perannya masing-masing, baik mereka sebagai ilmuwan yang berusaha memaksimalkan pengetahuan mereka, maupun para astronot yang merasakan dilema antara menolong kawan mereka atau bertanggung jawab terhadap keluarga.

Watney sendiri, saya suka karakternya yang humoris. Semangatnya menular pada saya saat membacanya, dan memberikan energi positif di sepanjang kisah. Tentu saja Watney tidak melulu bahagia, pasti ada masa-masa dia terpuruk dan putus asa—meski tidak lama—yang wajar sebagai seorang manusia. Terlebih, situasinya memang di luar kewajaran. Apalagi tidak semua usahanya berjalan lancar, sedikit kecelakaan membuatnya kehilangan beberapa liter air yang berharga, beberapa oksigen yang penting untuk hidupnya, bahkan sumber makanannya. Di atas itu semua, selera humornya yang tinggilah yang membuatnya bisa bertahan hidup.

“Well,” Irene said, “he’s very intelligent. All of them are, of course. But he’s particularly resourceful and a good problem-solver.”
“That may save his life,” Cathy interjected.
“It may indeed,” Irene agreed. “Also, he’s a good-natured man. Usually cheerful, with a great sense of humor. He’s quick with a joke. In the months leading up to launch, the crew was put through a grueling training schedule. They all showed signs of stress and moodiness. Mark was no exception, but the way he showed it was to crack more jokes and get everyone laughing.”

Saya suka dengan segala trivia tentang Mars dan kehidupan di luar angkasa, termasuk prosedur teknis NASA dan lain sebagainya. Memang penulis tidak berhubungan dengan NASA, dan riset hanya dilakukan melalui pencarian Google, tetapi kenyataannya kisah ini terjadi di masa depan, sehingga kemungkinan memang banyak teknologi fiksi yang ada dalam buku ini. Walaupun tidak sedikit juga hal ilmiah yang saya rasa cukup akurat. Dan yang terpenting adalah, bagaimana penulis menyusunnya menjadi suatu rangkaian hal yang masuk akal, seperti navigasi dengan bulan-bulan yang dimiliki oleh Mars (Phobos dan Deimos), penggunaan hal-hal yang memang sudah ada di Mars seperti Pathfinder (Technically it’s “Carl Sagan Memorial Station.” But with all due respect to Carl, I can call it whatever the hell I want. I’m the King of Mars.), juga berbagai reaksi kimia dan biologis yang mungkin terjadi dalam atmosfer Mars.

My guess is pockets of ice formed around some of the bacteria, leaving a bubble of survivable pressure inside, and the cold wasn’t quite enough to kill them. With hundreds of millions of bacteria, it only takes one survivor to stave off extinction.
Life is amazingly tenacious. They don’t want to die any more than I do.
(Sol 195)

Selain berhubungan dengan NASA, misi penyelamatan Watney melibatkan badan antariksa Tiongkok yang menambah kompleksitas sekaligus universalitas cerita. Walaupun begitu, saya tidak merasakan perbedaan sudut pandang dan budaya dari orang-orang Tiongkok yang dimasukkan ke dalam cerita.

“Love of science is universal across all cultures.”

Nilai-nilai persahabatan dan kekeluargaan sangat terasa pada orang-orang yang berhubungan dengan Watney. Bagaimana kita menghargai seorang manusia, bukan hanya sebagai obyek, tetapi juga sebagai subyek. Hal-hal yang menyangkut inilah yang seringkali melahirkan adegan-adegan mengharukan. Pun bagaimana kita merasakan empati pada karakter Watney di saat dia sedang terpuruk, dan bagaimana kita ikut bersorak pada pencapaian-pencapaiannya. Tak jarang saya tercekat saat membaca beberapa scene yang tampak biasa, tampak lucu, tetapi sebenarnya menunjukkan betapa sesungguhnya naluri kita adalah mencintai, menyayangi, dan merayakan hidup orang-orang yang kita pedulikan.

I never realized how utterly silent Mars is. It’s a desert world with practically no atmosphere to convey sound. I could hear my own heartbeat. (Sol 449)

4.5/5 bintang untuk Mars survival guide a la Watney.

Kebetulan, beberapa waktu lalu saya berkesempatan menonton filmnya. Karena bertepatan dengan saya selesai membaca bukunya, saya malah terfokus pada perbedaan-perbedaan antara film dan buku yang sebenarnya kurang esensial, tetapi mau tak mau saya sadari juga sebagai orang yang sangat terpukau dengan bukunya. Misalnya kepergian Ares 3 pada Sol sekian belas, alih-alih Sol 6 seperti di buku, dan gambaran Acidalia Planitia yang di buku saya bayangkan sebagai dataran yang sangat luas, tanpa bangun apapun. Di luar itu, sebenarnya film The Martian cukup sukses dan menakjubkan untuk kelasnya.

I’m in the middle of a bunch of craters that form a triangle. I’m calling it the Watney Triangle because after what I’ve been through, stuff on Mars should be named after me. (Sol 473)

They say once you grow crops somewhere, you have officially “colonized” it. So technically, I colonized Mars.
In your face, Neil Armstrong!

How I Live Now – Meg Rosoff

how i live nowTitle : How I Live Now
Author : Meg Rosoff (2004)

Which one would you choose, the rock or the hard place?

Ibu Daisy meninggal setelah melahirkannya, kenyataan yang membuat hidupnya selama lima belas tahun dibayang-bayangi oleh ketidaknyamanan antara dirinya dengan ayah maupun ibu tirinya, salah satunya. Saat memutuskan untuk mengunjungi saudari ibunya, bibi Penn, di London, takdir membawanya pada empat saudara sepupu yang akan mengubah caranya memandang kehidupan. Ada Osbert, yang tertua, Isaac dan Edmond yang kembar, serta perempuan satu-satunya, Piper.

Keempat kakak-beradik ini terbiasa hidup mandiri karena ibu mereka harus bekerja sebagai tulang punggung keluarga. Daisy yang selama lima belas tahun di Amerika tak pernah berkutat dengan kebun maupun ternak, kini belajar bersama para sepupunya. Tanpa diduga, perang berkecamuk, membuat bibi Penn yang sedang bertugas di luar negeri tertahan di bandara setempat. Kini, kelima anak itu harus bertahan hidup, tanpa orang tua, tanpa petugas pengantar makanan, tanpa bahan jadi yang bisa dibeli.

You don’t always get a chance to choose the kind of news you get.

Setting waktu kisah ini kurang begitu spesifik, yang jelas ini terjadi di masa modern, saat orang-orang biasa berkomunikasi dengan telepon kabel, ponsel dan email. Perang yang dimaksudkan juga tidak jelas antara siapa dengan siapa, pun seberapa luas area yang dipengaruhinya. Buku ini menyoroti Daisy beserta keempat saudara sepupunya dalam lingkup lokal. Sudut pandang penceritaan menggunakan sudut pandang orang pertama, melalui sudut pandang Daisy.

Konflik utama buku ini, seperti telah saya singgung di atas, adalah bagaimana cara mereka bertahan hidup. Daisy bersama keempat sepupunya di rumah sendirian, Daisy bersama Piper yang harus pergi tanpa tahu kondisi saudaranya yang lain, Daisy yang harus menjadi tumpuan Piper yang baru berusia sembilan tahun, kehilangan, kelaparan, kesakitan, kematian.

If you haven’t been in a war and are wondering how long it takes to get used to losing everything you think you need or love, I can tell you the answer is No time at all.

Konflik lain yang mungkin agak kontroversial adalah hubungan Daisy dengan Edmond. Keduanya saling menemukan rasa nyaman melalui hubungan yang bisa dikatakan sebagai romansa, untuk standar remaja belasan tahun. Meski tidak mendominasi cerita, tetapi rasa yang ditimbulkan sangat kuat. Edmond menjadi sumber kekuatan Daisy, sumber pelariannya saat membutuhkan rasa aman dan nyaman, dan pembaca dapat merasakannya dalam banyak bagian dalam buku ini.

I didn’t know if the food was poisoned. I didn’t know whether we’d get an infection and die. I didn’t know if a bomb would fall on us. I didn’t know whether Osbert would expose us to spores from some deadly disease picked up during his secret meetings. I didn’t know if we would be taken prisoner, tortured, murdered, raped, forced to confess or inform on our friends.
The only thing I knew for certain was that all around me was more life than I’d ever experienced in all the years I’d been on earth and as long as no one shut me in the barn away from Edmond at night I was safe.

Ekspektasi saya terhadap buku ini

Banner_OpiniBareng2015-300x187

Januari : Ekspektasi

Awalnya, saya tidak mengantisipasi kisah semacam ini. Ini adalah buku Meg Rosoff yang pertama saya baca, karena beberapa kali saya mendengar namanya diasosiasikan dengan karya yang bagus. Saya tidak memeriksa ulang genre dari buku ini saat membacanya, sehingga saya butuh beberapa waktu untuk menyadari bahwa ini adalah suatu perang yang belum terjadi, atau tidak pernah terjadi, atau, sebuah simbol. Kedua kalinya ekspektasi saya salah adalah karena saya mengira bahwa ini adalah kisah remaja ‘biasa’, sebuah kisah kehidupan atau kisah keluarga. Karena itulah saya merasa agak bosan saat di tengah-tengah kisah plot terasa sangat lambat.

Namun, penilaian saya akan jauh berbeda jika saya mengubah ekspektasi saya. Jika saya menyadari sejak awal bahwa buku ini menitikberatkan pada konflik interpersonal alih-alih konflik antarpersonal, mungkin saya akan lebih menikmatinya.

Every war has turning points, and every person too.

Ini adalah kisah tentang Daisy; hidupnya, pemikirannya, cara pandangnya, dan perubahannya. Dapat dikatakan bahwa perasaan sayang antar anggota keluarga secara utuh baru dirasakan Daisy di London. Rasa sayang yang membawa kehangatan, sekaligus penderitaan. Ini adalah kisah tentang Daisy yang dalam periode relatif singkat harus merasakan sekian banyak emosi, yang harus menghadapinya—pada akhirnya—seorang diri.

I was dying, of course, but then we all are. Every day, in perfect increments, I was dying of loss.

Saat melihat melalui sudut pandang yang berbeda, saya merasakan bahwa penceritaan Rosoff sangat menyentuh. Dialog dan narasinya sederhana, indah, sekaligus bermakna. Melalui kisah yang relatif singkat, penulis memotretkan banyak momen yang berkesan dan sangat kuat. Adegan-adegan kecil yang berefek besar, perasaan sederhana yang bermakna mendalam, itulah kekuatan dari buku ini.

Now we walk, and he talks to me sometimes, tells me the names of the plants we come across in the field. They’re hard to remember and there are too many of them, and the only ones I manage to keep in my head are the ones that saved my life.
Corylus avellana. Hazelnuts. Rubus fruticosus. Blackberries. Agaricus campestris. Field mushrooms. Rorippa nasturtium-aquaticum. Watercress. Allium ursinum. Wild garlic. Malus domestica. Apples.

Setelah ini, saya berniat membaca buku Meg Rosoff yang lain, dengan ekspektasi yang berbeda, atau tanpa ekspektasi apa-apa. Mungkin saya akan menemukan lebih banyak hal. 3.5/5 bintang untuk dua sisi perang.

Every war has its silver lining.

Review #1 for Lucky No.15 Reading Challenge category Who Are You Again?

Da Wild, Da Crazy, Da Vinci – Jon Scieszka

401856Title : Da Wild, Da Crazy, Da Vinci (The Time Wrap Trio #14)
Author : Jon Scieszka (2004)
Illustrator : Adam McCauley
Publisher : Scholastic
Edition : 4th printing, 2006 (First Scholastic printing, September 2005)
Format : Paperback, 74 pages

Saya mengambil buku ini karena nama penulisnya pernah muncul dalam postingan FYE tahun 2013 lalu, sebelum mengetahui bahwa buku ini adalah bagian dari serial. Meski demikian, buku ini dapat dibaca terpisah, karena latar belakang singkat yang penting telah disinggung di buku ini.

The Time Wrap Trio terdiri atas tiga anak laki-laki; Joe, Sam dan Fred. Berawal dari kado ulang tahun Joe dari pamannya berupa sebuah buku berwarna biru, dengan gambar-gambar dan tulisan-tulisan berkode, yang dengannya mereka bertualang di masa lalu maupun masa depan. Atas ide dari Sam—berdasarkan riset yang dilakukannya, mereka berasumsi bahwa penemu atau pembuat buku itu adalah Leonardo da Vinci. Kemudian mereka tiba di Italia, di masa lima abad sebelumnya.

Usaha mereka mencari Da Vinci demi mengetahui rahasia dan cara kerja buku yang mereka sebut The Book itu tampaknya tak berjalan lancar. Meski telah bertemu dengan sang pelukis Mona Lisa itu, Time Wrap Trio dihadapkan pada Captain Nassti yang sedang berusaha memanfaatkan penemuan-penemuan Da Vinci. Mereka bertiga pun mencari akal untuk meloloskan diri dari Nassti sekaligus menghindarkan kekejamannya dari penemuan-penemuan berharga Da Vinci.

Meski terlihat serius, petualangan mereka sebenarnya cukup sederhana dan penuh dengan humor. Tidak ada sains ataupun teori yang muluk-muluk dalam buku ini, tetapi banyak sekali sains sehari-hari yang diselipkan. Dari hal yang sederhana, dengan memanfaatkan sedikit bahan dari penemuan Leonardo da Vinci, cerita ini berhasil diramu dengan kocak dan hidup (termasuk proses penggambaran Vitruvian Man). Namun begitu, yang agak kurang berkenan untuk saya adalah bahasa masa lalu yang tampaknya sama saja dengan bahasa masa kini.

Selain Leonardo da Vinci, tokoh sejarah yang muncul dalam buku ini adalah Lord Borgia (Cesare Borgia) dan Niccolò Machiavelli. Penemuan yang ditampilkan saat itu, beserta hubungan para tokoh tersebut memang benar-benar mengacu pada sejarah. Jadi, mungkin dapat saya katakan bahwa buku ini juga merupakan historical fiction ringan untuk anak-anak.

3/5 bintang untuk Joe, Sam dan Fred da Brooklyn.

Review #8 of Children’s Literature Reading Project

Review #15 for 2014 TBRR Pile Reading Challenge (Historical Fiction #2)

Review #22 for Lucky No.14 Reading Challenge category Bargain All The Way

Beberapa fakta sejarah yang tersirat maupun tersurat dalam buku ini:

– Vitruvian Man yang dalam buku ini belum diberi nama, berawal dari teori bahwa panjang rentang kedua lengan manusia sama dengan tingginya, hingga terbentuk sebuah persegi; ujung kaki dan tangan manusia akan membentuk lingkaran dengan menaikkan lengan hingga jari tengah setinggi puncak kepala, sehingga pusat tubuh berada di pusar; dan dengan merentangkan kedua kaki, akan terbentuk segitiga samakaki. Untuk deskripsi yang lebih lengkap dan akurat, cek artikel ini atau itu.

– Cesare Borgia, Duke of Valentinois, pernah mempekerjakan Leonardo da Vinci sebagai arsitek dan insinyur militer. Da Vinci membangun sebuah kanal sebagai salah satu strategi perang.

– Machiavelli menuliskan tentang Borgia dalam bukunya, The Prince, yang menunjukkan kesepahaman dalam politik. Machiavelli juga menyaksikan sendiri masa kekuasaan Borgia.