Category Archives: Science Fiction

Animal Farm – George Orwell

Animal Farm

Review in English at the end of the post.

Title : Animal Farm
Author : George Orwell (1945)
Translator : J. Fransiska M.
Editor : Akiq AW
Publisher : Penerbit Sumbu
Edition : Cetakan kedua, Juni 2002
Format : Paperback, x + 126 halaman

Binatang Inggris, binatang Irlandia,
Binatang dari tiap negeri dan iklim,
Dengarkan kabar gembiraku
Akan masa depan yang gemilang

Cepat atau lambat harinya ‘kan tiba,
Manusia lalim akan digulingkan,
Dan ladang Inggris yang subur
Hanya akan diinjak oleh binatang saja.

Cincin-cincin ‘kan lenyap dari hidung kita,
Dan pelana dari punggung kita,
Kekang dan taji akan berkarat selamanya,
Cambuk yang kejam tak akan lagi melecut

Lebih kaya dari yang dapat akal gambarkan,
Gandum dan gandum bir, oat dan rumput kering,
Semanggi, buncis dan bit besar manis
Akan menjadi milik kita sejenak hari itu

Kecermelangan akan menyinari ladang Inggris,
Airnya akan menjadi lebih murni,
Angin sepoi-sepoi masih ‘kan bertiup lebih manis
Di hari yang ‘kan membebaskan kita

Untuk hari itu kita semua harus bekerja,
Walaupun kita mati sebelum itu berubah;
Sapi dan kuda, angsa dan kalkun,
Semua harus kerja keras demi kebebasan

Binatang Inggris, binatang Irlandia,
Binatang dari tiap negeri dan iklim,
Dengar baik-baik dan sebarkan kabarku
Akan masa depan yang gemilang

(Syair ‘Binatang Inggris’, p.9-10)

Pada suatu malam, terjadi sebuah kegemparan di gudang besar Pertanian Manor milik Tuan Jones. Para binatang yang ada di situ berkumpul demi mendengarkan pidato seekor babi yang sangat disegani, yang mereka sebut sebagai Si Mayor Tua, tentang betapa lalimnya manusia yang mengambil hasil kerja para binatang untuk kepentingannya sendiri. Dengan semangatnya, Mayor menyampaikan ide-ide pertanian yang bebas dari manusia, dimana setiap binatang sederajat, setiap hasil kerja keras mereka akan dapat mereka nikmati dengan adil dan semestinya.

Tiga malam kemudian, si Mayor tua meninggal. Ide mengenai pemberontakan itu masih terdengar di beberapa binatang, persiapan dijalankan dan diorganisir oleh hewan yang dianggap paling cerdas, yaitu babi. Di antaranya adalah dua ekor yang bernama Snowball dan Napoleon. Meski pada mulanya pemikiran mengenai keraguan tentang ide-ide hidup tanpa manusia, juga bagaimana manusia berjasa terhadap para binatang masih bergulir, lambat laun para babi dan beberapa binatang yang cukup cerdas berhasil meyakinkan pentingnya kehidupan yang bebas dan merdeka.

Pemberontakan pun terjadi secara spontan, tanpa perencanaan yang mendetail sebelumnya, Pertanian Manor telah menjadi milik para binatang seutuhnya, dan menjadi Pertanian Binatang. Aturan-aturan dicanangkan, pekerjaan-pekerjaan dilakukan bersama dan hasilnya dinikmati bersama-sama, selagi lagu ‘Binatang Inggris’ terus didengungkan di antara mereka.

Pertanian Binatang terus berjalan, melalui penyerbuan dari para manusia untuk mendapatkannya kembali—yang berhasil digagalkan dengan aksi heroik mereka, pengembangan para binatang yang dikoordinasi oleh Snowball dan Napoleon, yang berakhir dengan perselisihan dari dua babi tersebut, serta diusirnya Snowball yang menyandang cap sebagai pengkhianat.

“Kawan-kawan,” katanya, “Aku percaya bahwa setiap binatang di sini menghargai pengorbanan yang telah dilakukan oleh Kawan Napoleon, mengambil kerja tambahan ini ke atas pundaknya. Jangan dibayangkan, Kawan-kawan, bahwa kepemimpinan merupakan suatu kesengangan! Kebalikannya, kepemimpinan merupakan suatu tanggung jawab yang berat dan mendalam. Tak ada satupun binatang yang percaya lebih tegas dari ini, bahwa semua binatang adalah sederajat. Ia sebenarnya akan sangat bahagia untuk membiarkan kalian membuat keputusan-keputusan kalian sendiri. Tapi kadang-kadang kalian mungkin membuat keputusan-keputusan yang salah, Kawan-kawan. Lalu di manakah kita harus menempatkan diri?” (p.50)

Napoleon pun mulai mencanangkan dirinya sebagai ‘pemimpin’, sedikit demi sedikit dia melanggar apa yang telah disepakati sebagai prinsip binatangisme, dan bertingkah layaknya manusia. Dengan pendekatan diplomatis, dia mempengaruhi pola pikir para binatang lain bahwa yang dilakukannya memiliki alasan yang baik dan tidak bertentangan dengan cita-cita perjuangan mereka. Kesetiaan yang tinggi ditambah kekurangcerdasan binatang lain, serta ketakutan yang timbul setelahnya membuat mereka tak bisa (dan merasa tak perlu) berbuat apa-apa. Apa yang benar dan mana yang salah sudah sulit untuk dimengerti, tak ada lagi persamaan, tak ada lagi dengung lagu ‘Binatang Inggris’.

Tidak ada pikiran untuk memberontak atau tidak patuh dalam otak Clover. Ia tahu bahwa saat ini mereka jauh lebih baik daripada yang pernah mereka alami di masa Jones dan bahwa di atas semua hal, yang perlu dilakukan adalah mencegah kembalinya manusia. Apapun yang terjadi, ia akan tetap setia, bekerja keras, melaksanakan perintah-perintah yang diberikan kepadanya dan menerima kepemimpinan Napoleon. (p.78-79)

Kisah ini dapat dikatakan sebagai sebuah satir dan alegori dari perjuangan revolusi yang digambarkan dengan sangat cerdas. Meski dikatakan bahwa Pertanian Binatang atau Animal Farm melambangkan negara Rusia/Uni Soviet dan Marxisme-nya, saya kira keadaan seperti ini jamak terjadi pada negara mana pun, di masa apa pun. Cita-cita perjuangan yang mulia dapat digeser oleh sebagian kecil orang yang cerdik dan licik. Dengan kepandaian berdiplomasi para pemimpinnya, golongan pekerja yang hanya memiliki loyalitas buta tanpa pemikiran kritis dan kecerdasan akan sangat mudah dipengaruhi.

Membaca buku ini seperti membaca kehidupan, kita bisa dikejutkan oleh suatu hal, sekaligus tidak heran dengan hal yang terjadi kemudian. Kenyataan politik yang terkadang dapat menciptakan ‘keajaiban’, membenarkan yang salah, menghalalkan yang haram, memutarbalikkan fakta, bukan hal yang asing sejak dulu hingga sekarang.

Penggunaan simbol babi sebagaimana manusia yang cerdas, tapi begitu rakusnya hingga mempergunakan kecerdasannya demi kepentingan diri dan golongannya saja. Clover—sang kuda, sebagai simbol dari golongan pekerja yang setia, namun tak bisa menyuarakan pemikirannya, hanya bisa mengikuti apa kata pemimpinnya, dengan ketakutan akan kembalinya masa lalu yang suram. Tanpa sadar, mereka masuk ke dalam masa yang lebih suram, namun dengan ‘disulap’ sedemikian rupa sehingga tampak cantik dan menjanjikan.

Lagipula mereka tidak pernah kehilangan, bahkan untuk sesaat, rasa hormat dan hak istimewa mereka dalam menjadi anggota Pertanian Binatang. Mereka masih tetap satu-satunya pertanian di seluruh negeri, di seluruh Inggris!—yang dimiliki dan dioperasikan oleh binatang-binatang. (p.115)

Terjemahan buku ini cukup memuaskan bagi saya. Kata-katanya mengalir dengan nikmat, mudah diterima, tanpa kehilangan rasa dan keindahannya.

5/5 bintang untuk kritik cerdas nan memukau.

*Posting bersama BBI September (2) Distopia non YA. 

First edition cover

First edition cover

This is the third Orwell I’ve been read, and I do love this one more. The plot is simple though the main idea is really complex. It is said to be an allegorical story about Soviet and Marxism, but I prefer to see it wider, it described our political situation—no matter what our nationality is. The revolution of the animals at Manor Farm—then renamed as Animal Farm, at the beginning holded animalism as their principle. As the time went by, the pigs–as a symbol of human greediness–turned to be ‘less animal’.

There’s no more equality among animals, which supposed to be initial purpose of the revolution. The slogan “All animals are equal.” had become “All animals are equal, but some animals are more equal than others“. Some other animal, which were less intellect but loyal became victims of diplomatical brain-wash from the smarter but cunning ones.

It is a brilliant tale about humanity, I could see truth from every aspect. There’s nothing more absurd than political affair; there’s no more accurate definition of right and wrong, bending truth and lie has become a strategy. So this is classic, we can apply this story at every age.

Review #14 of Classics Club Project

Wishful Wednesday (30)

wpid-wishful-wednesday.jpgBertemu kembali dengan hari Rabu, bertemu kembali dengan Wishful Wednesday. Sebenarnya ada sesuatu hal yang meresahkan saya belakangan ini (curcol alert), ketika saya menata beberapa buku baru ke dalam lemari, saya menemukan banyaaakk sekali buku yang belum terbaca. Buku-buku itu adalah buku impian yang ingin sekali saya baca, ingin saya miliki, tapi setelah memilikinya, saya sadar bahwa saya tak bisa membacanya sekaligus. Seandainya waktu membaca bisa diulur, saya bisa menyelesaikan setengahnya saja, di sela-sela penambahan timbunan baru *sigh*.

Kalau sudah begitu, apakah saya tak lagi memiliki wishlist? Sayangnya tidak, masih banyak buku yang saya inginkan.

Belakangan ini lumayan sering beli buku baru–dalam artian baru terbit, dengan diskon yang relatif tak banyak. Dan sebagai kompensasinya, saya merasa harus segera membaca buku-buku itu. Tak masalah sih, karena memang yang saya beli itu benar-benar buku yang saya ingin baca, terlebih buku dari pengarang favorit. Namun, tak semua keinginan harus dituruti bukan? Terkadang ada yang nasibnya seperti buku ini, harus masuk wishlist terlebih dahulu:

Unwind - Pemisahan Raga

Orangtua Connor ingin menyingkirkannya karena ia selalu menimbulkan masalah. Risa tidak punya orangtua dan akan menjalani pemisahan raga untuk mengurangi beban panti asuhan. Pemisahan raga Lev sudah direncanakan sejak ia lahir, bagian dari agama orangtuanya. Dipertemukan nasib, dan dipersatukan keputusasaan, ketiga remaja ini melakukan perjalanan yang penuh bahaya, tahu bahwa nyawa merekalah taruhannya.

Jika bisa bertahan hidup sampai ulang tahun ke-18, mereka selamat. Tetapi, ketika setiap bagian tubuh mereka, dari tangan sampai jantung, diincar dunia yang menggila, 18 terasa amat sangat jauh. (source)

Cover terjemahannya lumayan lebih cakep daripada aslinya sih

Unwind (Unwind, #1)

Tapi aura stressful-nya lebih terasa yang ini ya. Yang jelas, kata salah seorang pembaca yang penilaiannya kupercaya, buku ini bagus banget. Itulah mengapa saya ingin membacanya.

Oya, minggu depan ada giveaway untuk Wishful Wednesday lho, simak di sini.

  1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

 

 

Fahrenheit 451 – Ray Bradbury

fahrenheit 451Title : Fahrenheit 451
Author : Ray Bradbury (1953)
Publisher : Ballantine Bal-Hi Books
Edition : Eighth Bal-Hi Printing, May 1969
Format : Paperback, 150 pages

“There was a silly bird called a Phoenix back before Christ, every few hundred years he built a pyre and burnt himself up. He must have been first cousin to Man. But every time he burnt himself up he sprang out of the ashes, he got himself born all over again. And it looks like we’re doing the same thing, over and over, but we’re got one thing the Phoenix never had. We know the silly thing we just did. We know all the silly things we’ve done for a thousand years and as long as we know that and always have it around where we can see it, some day we’ll stop making the funeral pyres and jumping in the middle of them. We pick up a few more people that remember, every generation.” (p.146)

Guy Montag adalah seorang fireman. Bukan, bukan pemadam kebakaran, tapi dia adalah orang yang harus membakar sebuah rumah jika ditemukan buku-buku di dalamnya. Pada masa itu, buku adalah ilegal. Tak ada seorang pun yang boleh menyimpan sebuah buku pun di rumah mereka. Mereka hidup dengan teknologi, televisi yang dapat ‘berinteraksi’, radio, tapi tak ada buku, cetak maupun elektronik.

Montag terbiasa dengan apa yang dilakukannya, sampai dia bertemu dengan seorang gadis muda bernama Clarisse McClellan, yang mengatakan hal yang terjadi pada masa lampau. Salah satunya adalah bahwa firemen dulunya adalah pemadam api, bukan sebaliknya.

“I sometimes think drivers don’t know what grass is, or flowers, because they never see them slowly. If you showed a driver a green blur, Oh yes! he’d say, that’s grass! A pink blur? That’s a rose garden! White blurs are houses. Brown blurs are cows. My uncle drove slowly on a highway once. He drove forty miles an hour and they jailed him for two days. Isn’t that funny, and sad, too?” (p.8)

“I’m antisocial, they say. I don’t mix. It’s so strange. I’m very social indeed. It all depends on what you mean by social, doesn’t it? Social to me means talking to you about things like this. Or talking about how strange the world is. Being with people is nice. But I don’t think it’s social to get a bunch of people together and then not let them talk, do you?” (p.27)

Sejak itu, Montag menyadari keresahan yang dia rasakan. Hubungan dengan istrinya yang tidak terasa ‘hidup’, makna kebahagiaan, kemudian pencariannya berakhir pada ketertarikannya untuk mempelajari apa yang dimiliki oleh sebuah buku, apa yang ditakuti darinya.

Sayangnya, ‘pembelotan’ Montag disadari juga oleh atasannya. Dengan segala cara, atasannya menanamkan pentingnya pemusnahan buku-buku, demi kepentingan umat manusia.

“It isn’t as simple as just picking up a book you laid down half a century ago. Remember, the firemen are rarely necessary. The public itself stopped reading of its own accord. (p.78)

“Classics cut to fit fifteen-minute radio shows, then cut again to fill a two-minute book column, winding up at last as a ten- or twelve-line dictionary resume.” (p.50)

Buku yang tidak seberapa tebal ini ternyata cukup sulit untuk saya, cukup ‘alot’ untuk dikunyah, dan cukup mengaduk-aduk emosi. Beberapa kali saya terbawa sentimen pribadi atas buku-buku yang dibakar, buku-buku yang dilarang, dan buku-buku yang dijadikan kambing hitam. Sudah sangat lumrah bagi kita bahwa beberapa buku mengundang kontroversi yang begitu besar. Inilah salah satu pembenaran untuk pemusnahan buku, demi kedamaian batin manusia.

Namun, seperti yang dialami oleh Montag, kita kehilangan ‘sesuatu’, kita tidak sepenuhnya bahagia. Siapa kita? Kenyataannya, banyak orang merasa hidup yang mereka jalani baik-baik saja. Istri Montag, para tetangga, firemen yang lain, tak merasakan keresahan itu. Hanya beberapa orang yang ditemui oleh Montag, yang pada masa lalu begitu terikat oleh buku. Jadi, manakah yang benar, manakah yang salah?

Guy Montag adalah karakter pemberontak yang dapat muncul pada segala zaman dan masa, dalam kasus apa pun. Dia melawan sesuatu hal yang sudah biasa dan membudaya, tapi dianggapnya salah. Namun, apakah tolok ukur dari benar dan salah? Bukankah kedua hal itu sangat relatif? Jika mayoritas berkata itu benar, apakah itu kebenaran, dan sebaliknya? Di sinilah Ray Bradbury mengaduk-aduk logika dan perasaan kita, di satu sisi kita melihat dari sudut pandang Guy Montag, di sisi lain, kita juga didoktrin secara panjang lebar tentang alasan ‘masuk akal’ mengapa buku-buku harus dimusnahkan.

3/5 untuk aroma buku yang lolos tak terbakar.

So if he burnt things with the firemen and the sun burnt Time, that meant that everything burned!
One of them had to stop burning. The sun wouldn’t, certainly.
(p.125)

“And when he died, I suddenly realized I wasn’t crying for him at all, but for the things he did.” (p.139)

Review #4 for 2013 TBR Pile Challenge

Review #4 for Fantasy Reading Challenge 2013

Review #9 for Books in English Reading Challenge 2013

*Posting bersama BBI April (2) Buku tentang buku, untuk merayakan ulang tahun BBI yang jatuh pada 13 April.

Character Thursday (29)

new-character-thursday-buttonGuy Montag adalah tokoh sentral dari buku Fahrenheit 451 karya Ray Bradbury. Profesinya adalah sebagai fireman, yang pada saat itu kurang tepat jika diterjemahkan sebagai pemadam kebakaran, karena Montag bertugas untuk menyalakan api. Dia melakukannya karena memang itu yang sudah terjadi dan merupakan hal yang lazim.

Pertemuannya dengan seorang gadis remaja, Clarisse McClellan, dan pembicaraan mereka menggelitik batin Montag. Sampai suatu ketika saat hendak membakar sebuah rumah, dia seolah mendapatkan kesadaran yang entah datang dari mana.

“There must be something in books, things we can’t imagine, to make a woman stay in a burning house; there must be something there. You don’t stay for nothing.”

“Last night I thought about all the kerosene I’ve used in the past ten years. And I thought about books. And for the first time I realized that a man was behind each one of the books. A man had to think them up. A man had to take a long time to put them down on paper. And I’d never even thought that thought before.”
“It took some man a lifetime maybe to put some of his thouhts down, looking around at the world and life and then I come along in two minutes and boom! it’s all over.”
(p.47)

Sejak itulah Montag mulai mencari-cari apa yang salah dari hidupnya, hidup yang sejak awal tak dirasakannya sebagai hidup yang seharusnya. Dan dia pun menyadari bahwa pencarian itu membawanya ke dalam bahaya yang biasanya diancamkannya kepada orang lain.

Dibesarkan dalam lingkungan dan sistem yang ‘penurut’ membuat karakter umum Guy Montag menjadi ‘penurut’ juga. Dorongan hati nuraninya tak serta merta membuatnya berani untuk menghadapi apa pun, tapi itu manusiawi. Guy Montag menghidupkan pemberontakan dalam dirinya, pertanyaan-pertanyaan tak terjawab dalam benaknya, serta jawaban-jawaban tak memuaskan yang diterimanya, pada akhirnya membawa Montag pada dunia yang sama sekali berbeda. Tanpa keteraturan yang biasa, ‘kenyamanan’ yang dirasanya semu, menuju kepada bahaya dan mendorongnya menjadi apa yang tak diduganya bisa muncul dalam dirinya.

Meski demikian, saya masih belum bisa merasakan kekuatan karakter Guy Montag saat membaca buku ini. Dalam beberapa situasi, Montag bertindak nekat tanpa berpikir panjang, dan beberapa kali pula dia seolah diikuti oleh keberuntungan. Jadi, menurut saya, Montag adalah simbol pemberontakan. Tak bisa dikatakan ideal, tapi cukup menginspirasi.

Bagikan karakter dalam bacaanmu di Character Thursday.

Frankenstein – Mary Shelley

Review in both Bahasa Indonesia and English.

Judul buku : Frankenstein
Penulis : Mary Shelley (1818)
Penerjemah : Anton Adiwiyoto
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, November 2009 (cetakan ketiga)
Tebal buku : 312 halaman

Konstruksi jiwa kita memang sangat aneh. Kita hanya dihubungkan oleh ikatan yang sangat tipis menuju kebahagiaan atau kehancuran. (p.45)

Robert Walton memiliki sebuah mimpi, menjelajahi Kutub Utara, wilayah yang belum terjamah oleh manusia. Dia percaya bahwa jika berhasil, usahanya akan bermanfaat bagi umat manusia. Akan tetapi, Victor Frankenstein tidak sependapat dengannya. Walton menemukan Frankenstein hampir tenggelam di lautan beku, dia menolongnya, menjadikannya sahabat, dan sebagai gantinya dia mendapatkan sebuah kisah luar biasa, yang nyaris tidak akan bisa dipercaya oleh manusia di mana pun juga.

Victor kecil adalah anak yang cerdas dan selalu ingin tahu. Dia banyak belajar dan membaca dari buku. Hasratnya akan ilmu pengetahuan begitu besar. Saat menginjak dewasa, dia pergi dari rumah demi menuntut ilmu yang lebih luas dan dalam. Sampai pada suatu ketika, perenungannya menghasilkan sebuah penemuan luar biasa, tentang rahasia kehidupan.

Berbekal rahasia itu, dia bekerja siang malam selama berbulan-bulan untuk menciptakan kehidupan. Setelah berhasil, bukannya lega dan bangga dengan hasil kerjanya, Frankenstein justru merasa ngeri. Dia baru menyadari betapa buruk makhluk ciptaannya, sampai-sampai dia sendiri lari meninggalkan makhluk yang tak tahu apa-apa itu.

Selama berbulan-bulan Frankenstein dihantui oleh pikirannya sendiri akan makhluk itu. Dan setelahnya, hanya mimpi buruk dan kemalangan yang mengikuti Frankenstein ke mana pun dia pergi. Makhluk yang berwujud mengerikan itu bereaksi terhadap penolakannya. Dia menjadi makhluk pendendam yang penuh kebencian. Satu per satu, orang-orang yang disayangi oleh Frankenstein menjadi korbannya.

Saya rasa kisah ini sudah banyak didengar dan diadaptasi dalam berbagai macam bentuknya. Nama Frankenstein sudah tidak asing lagi, meski beberapa orang masih keliru menganggap bahwa Frankenstein adalah makhluk yang diciptakan oleh Victor. Beberapa adaptasi juga tentunya tidak sama persis dengan versi buku aslinya. Jadi setelah membaca sendiri buku versi lengkapnya, saya rasa banyak detail yang sayang untuk dilewatkan.

Kesan yang saya dapatkan sejak halaman-halaman awal adalah bahasa yang digunakan, indah dan sentimental. Setidaknya itu saya rasakan dalam edisi terjemahan ini. Bahasa yang khas Eropa abad pertengahan. Kemudian saya berusaha menyelami masing-masing karakter, serta alasan atas tindakan-tindakannya. Saat Frankenstein berhasil menghidupkan ciptaannya, saya bisa memaklumi jika dia terkejut, kondisi fisik dan mentalnya terlalu lemah karena bekerja keras. Namun setelah itu, mengapa dia bisa menghakimi makhluk itu sebagai iblis, padahal dia sendiri telah menceritakan riwayat hidupnya.

Saya juga sebenarnya agak terganggu dengan logika yang digunakan Shelley. Dia menggambarkan makhluk itu sebagai sosok yang berhati lembut, penuh cinta dan kasih, akan tetapi dengan sebuah penolakan yang dia sendiri sudah tahu alasannya, dia dengan mudahnya dipenuhi oleh dendam dan kebencian. Begitu pula dengan Frankenstein yang tak memberi kesempatan sedikit pun untuk makhluk itu memperbaiki diri. Entah apakah saya yang salah atau terlalu terpengaruh oleh kata-kata manis, tapi saya lebih bisa bersimpati pada ‘monster’ Frankenstein dibandingkan penciptanya.

Alasan-alasan itu tidak menjadikan saya kehilangan minat pada buku ini. Salah satu alasannya mungkin karena ini adalah buku klasik yang sudah dibaca dan diakui secara turun-temurun. Tetapi, ada satu alasan dari saya pribadi, bahwa buku ini berasal dari zaman yang jauh sebelum saya. Pemikiran saat itu tentu jauh berbeda dengan saat ini. Mungkin juga ada suatu pesan yang tak tersampaikan kepada saya dari kalimat-kalimat Shelley yang kubaca di sela-sela pekerjaan. Yang jelas, saya mengakui bahwa ide ini, cara penulisan, alur kisah, dan pesan moral buku ini luar biasa.

Saya suka perpindahan sudut pandang dari Kapten Walton, Dokter Frankenstein, dan juga ‘monster’ Frankenstein yang halus dan disesuaikan dengan kebutuhan kisah. Pembaca diajak untuk selalu menjadi ‘orang pertama’ dalam bagian-bagian kisah tersebut. Kisah ini juga menyiratkan pentingnya suatu penerimaan yang apa adanya, bahwa penampakan luar bukanlah sesuatu yang penting dan bisa jadi menyesatkan. Lebih jauh lagi, Mary Shelley mengajak kita untuk lebih rendah hati sebagai manusia, agar jangan melangkahi kodrat sebagai makhluk, bukannya pencipta. Bahwa ilmu pengetahuan memang wajib dikembangkan, akan tetapi ada suatu area ‘terlarang’ yang tidak boleh dilangkahi, sebuah daerah berbahaya yang selamanya tetap berada di luar kekuasaan manusia.

4/5 untuk rahasia yang belum terkuak.

I think, I don’t completely understand what did Shelley want to tell about the monster and Frankenstein himself. I can not relate that the ‘pure’ creature could suddenly become devil because of one rejection. Note that he (or should I say it?) was learning about love before the moment that changed him.

But above those all, I can’t say that I dislike this book. I do love this book, it was really an extraordinary idea that Shelley wrote at that time. I felt that it was me who can’t digest it as it should. For I love the story, the plot, the changes of point of view, and, of course, the moral. Human aren’t unlimited, we should learn and learn, study and study more, but there are dangerous and forbidden area that we should not pass, because we aren’t perfect enough to do so.

Maybe, this book is meant to be read several times 🙂

Posting bareng BBI tema gothic

Review #5 of Classics Club Project

Entered to The Classic Bribe 2012 Challenge & Giveaway

EDITED (May 2013) : Beberapa minggu yang lalu saya sempat berdiskusi dengan seseorang tentang buku ini, dari beliau saya mendapatkan pencerahan. Di awal saya mengatakan bahwa saya belum bisa mengerti bagaimana makhluk itu bisa menjadi ‘monster’ secara tiba-tiba, dengan hanya satu penolakan, padahal awalnya dia digambarkan berhati lembut. Ternyata, selama membaca kisah ini saya lupa bahwa makhluk yang diciptakan Frankenstein ini adalah buatan manusia, tak sempurna, baik secara wujud maupun emosional. Di balik tubuh raksasanya, makhluk itu sama sekali bukan manusia dewasa. Dia baru saja ‘dilahirkan’, dengan tubuh yang begitu raksasa. Jika seorang anak balita mengalami sesuatu yang tak disukainya, tak dipenuhi keinginannya, mereka bisa marah, bisa merusak benda-benda di sekitarnya. Tapi itu anak-anak, dengan tubuh dan tenaga yang tak seberapa. Bagaimana jika balita itu berukuran raksasa, seperti makhluk Frankenstein? Itulah salah satu alasan mengapa kita bisa mudah merasa kasihan padanya, ketimbang Frankenstein yang lari terus-menerus.