Category Archives: Science

My Stroke of Insight – Jill Bolte Taylor

msoiTitle : My Stroke of Insight
Author : Jill Bolte Taylor, Ph.D (2008)
Translator : Natalia Suhandrini
Publisher : Elex Media Komputindo
Edisi : Cetakan pertama, 2009
Format : Paperback, xii + 190 pages

Serangan otak terhadap pengertian yang mendalam (stroke of insight) ini telah memberi saya hadiah tak ternilai tentang pengetahuan bahwa kedamaian yang terdalam hanyalah sejauh pikiran/perasaan. Mengalami kedamaian ini tidak berarti bahwa hidup Anda selalu gembira. Ini berarti bahwa Anda mampu melekat pada keadaan otak yang gembira di tengah kekacauan normal dari kehidupan yang melelahkan. (p.166)

Buku ini punya nilai tersendiri bagi saya pribadi. Banyak ide-ide penulis yang menarik bagi saya, beberapa ilmiah, beberapa belum terbukti. Terlepas dari latar belakang penulis sebagai ahli neuroanatomi, saya menikmati bukunya sebagai pengalaman pribadi seseorang yang kebetulan memahami tentang struktur dan fungsi otak manusia. Jadi, meski saya setuju, atau mempertimbangkan, beberapa ide penulis mengenai hal-hal yang belum terbukti secara ilmiah, saya tetap pada tanggung jawab saya untuk tidak memberi pembenaran bagi ide-ide tersebut.

Saya mereview buku ini karena saya memerlukannya untuk dokumentasi. Buku ini tidak akan saya simpan karena, pertama saya tidak menyukai terjemahannya, yang kedua karena saya merasa buku ini akan lebih berguna jika lebih banyak orang membacanya. Oleh karena itu, review ini akan panjang dan dipenuhi banyak kutipan.

Saya pernah mendengar dokter berkata, “Jika kemampuan Anda tidak kembali dalam enam bulan setelah serangan stroke, maka Anda tidak akan mendapatkannya kembali!” Percayalah, ini tidak benar. Saya memperhatikan peningkatan signifikan dari kemampuan otak saya untuk belajar dan berfungsi selama delapan tahun penuh setelah serangan stroke, titik di mana saya memutuskan bahwa pikiran dan tubuh saya benar-benar sembuh. Ilmuwan sangat tahu bahwa otak memiliki kemampuan luar biasa untuk mengubah keterhubungannya berdasarkan stimulasi yang datang. “Plastisitas” otak inilah yang mendasari kemampuannya untuk memulihkan fungsi yang hilang. (p.114-115)

Di usianya yang baru menginjak 37 tahun, Jill harus mengalami serangan stroke yang melumpuhkan sisi otak bagian kirinya. Dia kehilangan kemampuan kognitifnya, kemampuan berbahasa, kemampuan matematis, dan sebagian memorinya. Menariknya, saat serangan tersebut, dia menyadari ada bagian dirinya yang hilang perlahan-lahan. Dia menggambarkan dirinya seperti ‘benda cair’ yang menyatu dengan alam semesta, merasakan kedamaian yang janggal, dia masih sadar, tetapi dia kehilangan kemampuan untuk mengomunikasikan pikirannya, pun dia tidak mengerti—atau tepatnya tidak bisa mencerna—apa yang orang lain coba katakan padanya. Beruntung dalam kesadarannya yang tersisa, dia masih mampu memperoleh bantuan tepat pada waktunya.

Perdarahan yang dialami di otak bagian kirinya membuat otak bagian kanannya lebih peka. Saat orang-orang tidak sabar untuk membuatnya mengerti, sesungguhnya Jill merasakannya dari tingginya suara, ekspresi, dan lain sebagainya. Menurutnya, suara yang dikeraskan tak membuatnya lebih cepat mengerti, dia tidak tuli, dia hanya harus berusaha lebih keras dan butuh waktu untuk menghubungkan satu hal dengan hal lainnya. Pengetahuan ini saya rasa sangat penting untuk kita yang mungkin suatu saat akan berhubungan dengan orang-orang dengan serangan stroke, bukan hanya orang medis dan paramedis, tetapi juga keluarga, kerabat dan teman-temannya.

Kemampuan saya untuk mengaitkan sesuatu dengan lainnya diartikan keliru oleh seberapa cepat saya dapat mengingat suatu informasi, dan bukannya oleh bagaimana otak saya mengatur strategi untuk menemukan kembali informasi yang sudah ada. (p.77)

Belajar membaca memerlukan waktu yang lama dan banyak bujukan. Pertama, saya harus mengerti bahwa setiap coretan memiliki nama, dan bahwa setiap coretan berasosiasi dengan suara. Kemudian, kombinasi dari coretan, huruf-huruf yang saling cocok untuk mewakili kombinasi suara tertentu (sh, th, sq, dan lain-lain). Ketika semua kombinasi suara bersama itu digabungkan, mereka menciptakan satu suara (kata) yang memiliki arti! Luar biasa! Pernahkan Anda memikirkan tentang berapa banyak tugas-tugas kecil yang dilakukan otak Anda secepat ini agar Anda dapat membaca buku ini! (p.103)

Menurut penulis, belajar menggunakan otak kirinya kembali sangat memakan energi. Pun berhadapan dengan manusia, yang dia kategorikan ke dalam dua kelompok, orang yang memberinya energi, dan orang yang menyedot energinya. Mereka yang sabar, yang telaten dalam membuatnya merasa nyaman, mau mengulang-ulang perkataan tanpa kehilangan kesabaran agar Jill dapat mencerna, memberinya energi untuk terus belajar. Sedangkan mereka yang tidak sabaran, yang menganggapnya ‘bodoh’ atau ‘tuli’, yang hanya memikirkan kebutuhannya sendiri untuk mendapatkan informasi yang dia perlukan dari Jill adalah kelompok yang menyedot energinya.

Ketika sampai pada penyembuhan fisik sel, saya tidak dapat lagi menekankan pada pentingnya banyak tidur. Saya benar-benar yakin bahwa otak adalah otoritas tertinggi dalam apa yang diperlukannya untuk menyembuhkan diri sendiri. Seperti pernah saya singgung, bagi otak, tidur adalah “waktu menyusun berkas”. (p.115)

Buku ini menjelaskan cukup banyak teori mendetail tentang segregasi otak kiri dan otak kanan. Seperti saya sebutkan di pendahuluan, saya belum menemukan referensi ilmiah mengenai teori ini. Penjelasan penulis di buku ini pun lebih kepada pendapat pribadi berdasarkan pengalaman, dan bukan berdasarkan penelitian yang berbasis bukti. Meski demikian, saya rasa penjelasan tersebut ada benarnya, terlepas dari apakah benar ini bersumber dari perbedaan fungsi belahan otak, dan bukannya dari bagian tubuh yang lain. Penulis sempat menyinggung tentang hati (heart), atau dalam bahasa anatomisnya, jantung, yang dihubungkannya dengan otak kanan, sementara dari referensi lain yang saya baca lebih menghubungkannya dengan organ jantung itu sendiri.

Kenyataannya, hampir setiap orang yang berbicara dengan jujur memperhatikan bahwa mereka memiliki bagian-bagian yang saling bertentangan dalam kepribadiannya. Banyak dari kita berbicara tentang apa yang kepala kita (belahan kiri) perintahkan sementara hati kita (belahan kanan) meminta kita untuk melakukan yang berlawanan. Beberapa dari kita membedakan antara apa yang kita pikirkan (belahan kiri) dan apa yang kita rasakan (belahan kanan). Beberapa lainnya mengomunikasikan tentang kesadaran otak (belahan kiri) versus kesadaran intuisi tubuh (belahan kanan). …. Apa pun bahasa yang Anda gunakan untuk menjelaskan kedua bagian tersebut, berdasarkan pengalaman saya, saya yakin secara anatomi berakar dari dua belahan yang sangat berbeda di dalam kepala Anda. (p.139)

Buku ini juga menjelaskan mengenai dinamika energi dan intuisi, di mana penulis percaya bahwa setiap benda/tempat memiliki energi. Energi itu dapat dirasakan oleh tubuh kita, melalui kecerdasan otak kanan, menimbulkan intuisi yang kadang tak terjelaskan; perasaan tidak nyaman, takut, sedih, dan sebagainya. Saya termasuk orang yang percaya dengan kekuatan intuisi, karena dalam kesadaran saya, seringkali saya membuktikan bahwa ‘hati kecil’ saya, atau ‘firasat’ saya, benar. Seperti saat bertemu dengan seseorang, pernah saya merasa tidak nyaman dan ingin menghindar. Namun karena saya tidak punya alasan untuk itu, saya ‘terpaksa’ berinteraksi dengannya. Hingga di kemudian hari, terbukti bahwa orang tersebut memiliki potensi untuk merugikan saya, dan barulah saya memiliki alasan untuk menghindarinya (yang kadang terlambat).

Apapun itu, saya rasa buku ini menyampaikan suatu hal penting mengenai pentingnya keseimbangan hati dan pikiran, keseimbangan otak dan perasaan, jasmani dan rohani, jiwa dan raga. Bahwa meski kita tidak mengalami serangan seperti Jill, kita masih bisa mencapai kedamaian hakiki yang dialaminya melalui kesadaran kita. Bahwa dia menyampaikan seluruh pencapaiannya melalui buku ini, agar pembaca dapat menyadari potensi dirinya yang selama ini tertutup oleh keriuhan duniawi yang menuntut kita menggunakan ‘otak kiri’ lebih dominan ketimbang ‘otak kanan’.

Dalam waktu 90 detik setelah terpicu, komponen kimia dari kemarahan telah habis dihamburkan oleh darah saya dan respons otomatis saya pun selesai. Jika, bagaimanapun, saya tetap marah setelah 90 detik terlewati, maka itu adalah karena saya memilih untuk membiarkan sirkuit itu untuk terus bekerja. (p.151)

Bagi saya, sungguh mudah untuk menjadi baik terhadap orang lain ketika saya ingat bahwa tidak satu pun dari kita datang ke dunia ini dengan membawa panduan tentang bagaimana melakukan semuanya dengan baik. (p.153)

Mengalami rasa sakit bukanlah suatu pilihan, tetapi menderita adalah keputusan kognitif.
….
Cara termudah yang saya peroleh untuk merendahkan diri pada keagungan yang penuh damai adalah melalui tindakan berterima kasih. Ketika saya berterima kasih, hidup sungguh luar biasa!
(p.182)

The Grand Design – Stephen Hawking & Leonard Mlodinow

10241625Title : The Grand Design (Rancang Agung)
Author : Stephen W. Hawking & Leonard Mlodinow (2010)
Translator : Zia Anshor
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Edisi pertama 2010, Cetakan ketiga, Juni 2011
Format : Paperback, 203 pages

Bagaimana kita bisa memahami dunia tempat kita mendapati diri kita ada? Bagaimana tingkah laku alam semesta? Apa hakikat kenyataan? Dari mana segalanya berasal? Apakah alam semesta memerlukan pencipta?

Secara tradisional, semua yang tadi adalah pertanyaan filosofi, tapi filosofi sudah mati. Filosofi sudah tidak mengimbangi kemajuan terkini dalam sains, terutama fisika. Para ilmuwan telah menjadi pemegang obor penemuan dalam perjalanan pencarian pengetahuan. Tujuan buku ini adalah memberi jawaban yang didukung penemuan terbaru dan kemajuan teoritis.
(p.5)

Dalam buku ini, penulis menjabarkan beberapa pendekatan yang digunakan untuk memahami alam semesta. Mulanya, manusia selalu mengaitkan segala hal yang tak terjangkau logika dengan sosok Maha Besar; Tuhan, dewa, atau makhluk supranatural lain sesuai dengan budaya dan legenda. Namun, buku ini menunjukkan bahwa sains memiliki jawaban logis atas segala fenomena alam.

Ada pendekatan realisme bergantung model, yang memberi ruang bagi teori apa saja, asalkan bisa menjelaskan dengan tepat realitas yang ada saat ini. Model ini memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Realisme bergantung model bisa menimbulkan dualisme seperti apakah cahaya itu gelombang atau partikel; sifat fisik yang jauh berbeda, tetapi keduanya sama-sama dimiliki oleh cahaya.

…realisme bergantung model (model-dependent realism). Dasarnya adalah gagasan bahwa otak kita menafsirkan masukan dari organ indra dengan membuat model dunia. …. Jika dua teori atau model fisika sama-sama bisa memprediksi peristiwa yang sama dengan akurat, maka salah satunya tak bisa dikatakan lebih nyata daripada yang lain; justru kita bebas menggunakan model mana saja yang paling praktis. (p.7)

Menurut realisme bergantung-model, tak ada gunanya menanyakan apakah suatu model itu nyata atau tidak, yang penting adalah cocok atau tidak model itu dengan pengamatan. (p.47)

Dalam skala yang lebih kecil, atom atau zarah, ada aturan fisika yang berbeda, yang disebut fisika kuantum. Fisika klasik, yang didasarkan pada kumpulan atom yang bisa kita amati, tidak bisa menjelaskan fenomena ini. Maka lahirlah teori baru untuk menyempurnakannya, bahwa dalam keadaan sendiri, ternyata atom ‘bertingkah laku’ berbeda.

Model kuantum untuk alam mencakup kaidah-kaidah yang tak hanya berkontradiksi dengan pengalaman sehari-hari, tapi juga konsep realitas intuitif kita. Mereka yang menganggap kaidah-kaidah itu aneh atau sukar dipercaya punya banyak teman, di antaranya ahli-ahli fisika hebat seperti Einstein dan bahkan Feynman…. Tapi fisika kuantum cocok dengan pengamatan. Fisika kuantum tak pernah tak lulus ujian, dan sudah lebih sering diuji daripada teori apapun dalam sains. (p.77-78)

Fisika kuantum memberitahu kita bahwa selengkap apapun pengamatan kita atas masa kini, masa lalu (yang tak diamati), seperti masa depan, tidak pasti dan hanya ada sebagai kisaran kemungkinan. Alam semesta, menurut fisika kuantum, tak punya satu masa lalu atau sejarah. (p.87)

Alam semesta yang teratur dan konsisten dengan hukumnya adalah kunci dari keberadaannya. Jika tak ada hukum tetap yang bisa dijadikan pegangan, maka runtuhlah segalanya. Alam semesta terbentuk dan bertahan melalui satu set hukum alam. Set hukum alam ini adalah salah satu pembahasan yang menarik dalam buku ini. Penulis membuka peluang adanya berbagai set hukum yang berbeda-beda; set hukum alam yang ada di semesta kita ini adalah set hukum yang bisa bertahan melalui masa, yang telah teruji bisa mempertahankan kehidupan dan segalanya. Jika ada set hukum alam lain yang bisa mempertahankan kehidupan, mungkin wujud semestanya akan jauh berbeda. Tak ada yang tak mungkin, kita hanya tak bisa membayangkannya karena kita tak pernah melihatnya, tak pernah membayangkan model dan realitasnya.

Ubah aturan alam semesta kita sedikit saja, dan kondisi di mana kita bisa ada pun sirna! (p.170)

Alam semesta yang luas ini, yang terbentuk melalui ledakan besar milyaran tahun yang lalu, apakah satu-satunya? Apakah di luar sana ada semesta lain dengan hukum alam yang berbeda? Buku ini mungkin bisa memberi jawaban, atau menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru. Yang jelas, buku ini membuka wawasan saya akan fisika dan alam semesta. Buku ringkas ini cukup bisa diikuti oleh orang awam, mungkin ada beberapa detail yang membingungkan, serta tetap memerlukan sedikit pengetahuan tentang fisika, karena ada beberapa teori yang tidak dijabarkan sejak awal. Namun pada dasarnya, berbagai teori tersebut sudah diberikan dalam pelajaran fisika di sekolah menengah.

Dalam buku ini, penulis mengabaikan kenyataan bahwa alam semesta ini diciptakan. Menurut saya, pendekatan semacam ini baik untuk membuat kita terus belajar dan mencari. Jika kita hanya berpegang pada mukjizat dan kuasa supranatural, kita tak akan menemukan penyebab gerhana bulan, rasi bintang yang menunjukkan jalan, atau teori-teori kuantum yang membawa kita pada pengetahuan-pengetahuan baru. Adanya penjelasan ilmiah sama sekali tidak mengecilkan Tuhan bagi kita yang mempercayaiNya, justru mengagungkanNya yang bisa menciptakan hukum alam hingga sekecil-kecilnya dan sedetail-detailnya. Sebaliknya, bagi yang tak percaya, penjelasan macam apa pun tetap saja sulit mengubahnya.

Akhirnya, pengetahuan adalah bagaimana cara kita menyikapinya, mengapa kita membutuhkannya. Sama seperti alam semesta yang digambarkan di buku ini. Apakah semesta memang seperti itu, atau kita yang membuatnya seperti itu karena apa yang kita lihat hari ini.

Kita menciptakan sejarah lewat pengamatan, bukan sejarah yang menciptakan kita. (p.149)

4/5 bintang untuk kemungkinan teori segalanya.

Billions & Billions – Carl Sagan

61665Title : Billions & Billions: Thoughts on Life and Death at the Brink of the Millenium
Author : Carl Sagan (1997) (with Ann Druyan)
Publisher : Ballantine Books
Edition : First Ballantine Books Edition, June 1998, 4th printing
Format : Paperback, 296 pages

If you understand exponentials, the key to many of the secrets of the Universe is in your hand. (p.25)

Berapakah milyaran dan milyaran itu? Beberapa milyar? Banyak milyar? Apakah lebih banyak dari trilyunan? Saat seseorang melekatkan frasa ‘billions and billions’ padanya, penulis merasa harus meluruskan bahwa milyaran dan milyaran itu jauh lebih kecil jika dibandingkan 1063, misalnya. Kita hidup dikelilingi oleh jumlah, oleh angka. Jika dulunya manusia hanya ada 2, berkembang menjadi puluhan, ribuan, hingga kini mencapai 7 milyar. Jarak yang kita kenal hanya beberapa kilometer, dengan perkembangan sains kini kita bisa memprediksi jarak trilyunan tahun cahaya. Waktu penciptaan alam semesta, jumlah galaksi dan bintang-bintang, sangat banyak, tetapi kita bisa menghitungnya.

Ilmu pengetahuan manusia berkembang, kita semakin mengenal banyak hal, mengetahui banyak hal, dan menciptakan banyak hal. Namun ternyata, lebih banyak lagi hal yang tidak kita ketahui. Kita tidak tahu sebelumnya, bahwa penemuan-penemuan yang mempermudah hidup kita akan berdampak buruk bagi lingkungan. Pun ketika mengetahuinya, kita tidak serta-merta bisa meninggalkannya, karena satu dan banyak alasan. Kita tidak tahu bagaimana menyikapi kemajuan teknologi dengan bijak, sehingga terjadi pemanasan global akibat efek rumah kaca semakin parah, lahir perang nuklir yang menyebabkan pengeluaran yang tak perlu untuk hal-hal yang seharusnya bisa dihidari jika kita bisa lebih bijak.

Maybe the products of science are simply too powerful, too dangerous for us. Maybe we’re not grown-up enough to be given them. (p.87)

Melalui buku terakhirnya, penulis mengajak kita berpikir tentang bumi kita, dan alam semesta ini. Saat buku ini ditulis di akhir abad ke-20, banyak isu tentang lingkungan lokal dan global masih hangat untuk dibahas. Bahkan kini, setelah dua dekade, isu-isu yang diangkat penulis masih sangat relevan. Penulis menggelitik kita dengan luasnya alam semesta yang, sangat tidak menutup kemungkinan, menyembunyikan kehidupan yang mirip dengan bumi yang kita tinggali. Penulis menyadarkan bahwa terlepas dari warna kulit, bangsa, wilayah geografis, dan apa pun yang mengotak-ngotakkan kita, kita adalah ras manusia yang sama, yang menempati bumi kecil kita yang sama. Pencemaran dan pengrusakan lingkungan di satu negara, pasti akan menimbulkan efek di negara lain, di seluruh dunia. Seandainya suatu saat ada makhluk asing dari galaksi lain hendak mengintervensi bumi kita, mungkin kita baru menyadari hal itu.

No one nation or generation or industry got us into this mess, and no one nation or generation or industry can by itself get us out. If we are to prevent this climate danger from working its worst, we will simply all have to work together, for a long time. (p.139)

CO2 molecules, being brainless, are unable to understand the profound idea of national sovereignty. They’re just blown by the wind. If they’re produced in one place, they can wind up in any other place. The planet is a unit. Whatever the ideological and cultural differences, the nations of the world must work together; otherwise there will be no solution to greenhouse warning and the other global environmental problems. We are all in this greenhouse together. (p.161)

Penulis menjabarkan pemikiran-pemikirannya dengan sangat runtut. Kita dituntun menuju satu per satu fakta yang awalnya tampak sulit ditelusuri benang merahnya, tetapi lambat laun, gambaran besarnya tampak jelas. Saya sangat menikmati gaya bahasa penulis yang mudah diikuti, ilmiah tapi sederhana, rinci tapi tidak rumit, detail tapi tidak membosankan. Membaca buku ini ibarat dihempaskan pada kenyataan pahit dan getir, dilemparkan menuju lubang ego dan kelalaian manusia, sekaligus menghangatkan hati dan memanjakan pikiran atas kehausan akan ilmu pengetahuan dan hati nurani.

Buku yang ditulis di penghabisan umur sang penulis ini juga memuat hari-hari terakhir hidupnya. Penulis menceritakan perjuangannya melawan penyakitnya dengan bantuan sains, bagaimana pandangan pribadinya tentang kehidupan dan kematian, serta apa yang sedang dilakukan sains pada masa itu; mempersiapkan misi menyambut adanya makhluk asing di luar bumi. Meski penulis tak sempat benar-benar menutup buku ini, istrinya–Ann Druyan, melengkapi buku ini dengan mengharukan, menggambarkan perjuangan serta pencapaian salah satu astronom besar di masa itu.

4.5/5 bintang untuk trilyunan kepedulian pada bumi yang satu.

…in less than one century, our most fearful weapon has become a billion times more deadly. But we have not become a billion times wiser…. (p.233)

Review #4 for Lucky No.15 Reading Challenge category Something Borrowed

Kontroversi 101 Mitos Kesehatan – Florentina R. Wahjuni

kontroversiJudul : Kontroversi 101 Mitos Kesehatan
Penulis : dr. Florentina R. Wahjuni (2012)
Editor : Ariesta
Penerbit : Penebar Plus+ (Penebar Swadaya Grup)
Edisi : Cetakan I, 2012
Format : Paperback, 140 halaman

Hal ini karena masyarakat Indonesia terbukti mudah percaya dengan mitos walaupun hal tersebut tidak benar. Oleh karena itu, mari kita cari tahu fakta ilmiah dari mitos-mitos yang ada dan tidak begitu saja mempercayai perkataan orang tentang sesuatu yang berbau mitos. (hal. 6, Prakata Penulis)

Orang-orang tua kita dulu sering membaluri anak-anak dengan bawang merah ketika demam. Saya juga sering mendengar beberapa makanan yang dijadikan momok bagi ibu hamil. Pun sering juga menemukan pasien yang menganggap sakit gigi bisa sembuh hanya dengan minum analgesik saja. Apakah semua itu benar? Buku ini memiliki jawabannya.

Buku ini mengupas beberapa mitos yang beredar di masyarakat Indonesia. Terbagi dalam bab-bab berdasarkan topiknya; mitos seputar mata, mitos seputar kulit, mitos seputar demam, mitos seputar kanker, dan lain sebagainya. Pembahasan tiap sub bab juga pendek-pendek, dan langsung tepat sasaran, sehingga pembaca bisa mencernanya dalam sekali duduk.

Ditulis oleh dokter yang mendalami phytobiophysics, dengan pembahasan yang relatif umum dan sering dijumpai sehari-hari. Oleh karena ilmu medis bukanlah ilmu pasti, pasti ada perbedaan yang tidak prinsipal dalam teori yang dianut satu dengan yang lain, salah satunya adalah bab tentang kerokan.

Bagian yang paling saya tekankan dalam buku ini adalah dalam bab Mitos Seputar Psikis, karena sangat berkaitan dengan masyarakat pada umumnya, sehat maupun sakit. Dalam bab tersebut, penulis menekankan kesalahan-kesalahan yang terlanjur menjadi stigma, seperti OCD (obsessive compulsive disorders) yang selalu diidentikkan dengan kebersihan dan kerapian, self injury yang selalu dianggap mencari perhatian, kesalahan dalam mendefinisikan antisosial, dan lain sebagainya. Tampaknya memang masih banyak salah kaprah dalam ilmu psikologi/psikiatri ini. Saya sendiri juga sering melihat orang-orang yang sebegitu cepat dan gegabahnya mendiagnosis dirinya atau orang lain. Seperti orang yang cenderung menghindar dari interaksi dianggap antisosial, padahal pribadi antisosial biasanya cenderung menggunakan kekerasan dan kurang empati, sedangkan orang introvert/avoidant justru empatinya bisa sangat kuat.

Rasanya buku ini cukup sebagai pengantar bagi yang ingin membuka mata terhadap salah kaprah, mitos, dan kepercayaan keliru tentang kesehatan.