Category Archives: Short Story

The Seven Poor Travellers – Charles Dickens

4906089Title : The Seven Poor Travellers
Author : Charles Dickens (1854)
Publisher : Project Gutenberg
Edition : April 3, 2005  [eBook #1392]

Strictly speaking, there were only six Poor Travellers; but, being a Traveller myself, though an idle one, and being withal as poor as I hope to be, I brought the number up to seven.  This word of explanation is due at once, for what says the inscription over the quaint old door?

RICHARD WATTS, Esq.
by his Will, dated 22 Aug. 1579,
founded this Charity
for Six poor Travellers,
who not being ROGUES, or PROCTORS,
May receive gratis for one Night,
Lodging, Entertainment,
and Fourpence each.

Di rumah tersebut, pengembara ketujuh ini masuk dan mempersembahkan makan malam Natal untuk keenam pengembara miskin tersebut. Dan sebagai salah satu tradisi juga, dia menceritakan sebuah kisah tentang pejuang di masa perang; Richard Doubledick.

Singkat cerita, kehidupan Richard Doubledick sudah hancur, hingga suatu saat, pimpinannya–Captain Taunton—memanggilnya, dan mengatakan sesuatu yang mengubah kehidupan Doubledick selamanya. Dia kembali ‘hidup’ dan memiliki tujuan hidup, serta menyimpan utang budi pada sang Kapten.

Kepulangannya pun mengembalikan kehidupan lamanya menjadi lebih baik, hingga dia dihadapkan pada satu situasi dia berkesempatan membalas utang budinya pada Captain Taunton tetapi dengan cara merenggut kehidupan orang lain. Apakah memaafkan bisa melunasi utangnya tersebut, menilik kondisi yang ‘tak biasa’ dari dendam yang muncul tersebut?

Selepas menceritakan kisah ini, sang pengembara miskin ketujuh ini melanjutkan perjalanannya.

Brightly they shone, but not so brightly as my own fire, and the brighter faces around it, when we came together to celebrate the day.  And there I told of worthy Master Richard Watts, and of my supper with the Six Poor Travellers who were neither Rogues nor Proctors, and from that hour to this I have never seen one of them again.

Perjalanan sang narator—pengembara ketujuh—ini sebenarnya singkat saja, tetapi penceritaan khas Dickens yang kaya deskripsi mengajak kita mengagumi apa-apa yang ditemuinya di perjalanan. Namun, tetap saja rasanya masih terlalu singkat dan kurang ‘ada apa-apa’ dalam perjalanannya yang dituliskan menjadi dua bab, pertama dan ketiga/terakhir.

Saya sendiri lebih menikmati kisah yang diceritakannya tentang Richard Doubledick, dalam satu bab penuh, bab kedua. Tentang bagaimana melanjutkan hidup dengan memaafkan dan melepaskan beban sepenuhnya, termasuk memaafkan diri sendiri.

2.5/5 bintang untuk cerita pendek dalam cerita pendek.

Review #31 of Classics Club Project

Advertisements

Dua Saudara – Jhumpa Lahiri

dua saudaraTitle : Brotherly Love (Dua Saudara)
Author : Jhumpa Lahiri (2013)
Translator : Anton WP
Publisher : bukuKatta
Edition : Cetakan pertama, 2014
Format : Paperback, 68 halaman

Penampilan fisik Subhash dan Udayan memang mirip, tetapi kedua kakak beradik ini memiliki sifat yang jauh berbeda. Subhash, sang kakak lebih penurut dan ‘lurus’, sedangkan Udayan sulit ditebak dan seringkali menyusahkan. Hingga saat keduanya lulus dari universitas—hal yang langka di lingkungan mereka saat itu—keduanya memilih jalan yang berbeda. Shubhash meninggalkan Tollygunge untuk melanjutkan program doktoral di Rhode Island, sedangkan Udayan tetap tinggal untuk melanjutkan perjuangannya untuk revolusi di India.

Bersetting di tahun 1960-70an, saat India sedang bergejolak, perang Vietnam, pemisahan Bangladesh, dan berbagai peristiwa sejarah yang secara langsung maupun tidak langsung akan berhubungan dengan karakter dalam kisah ini. Kisah pendek ini pada mulanya dimuat di New Yorker, kisah yang merupakan pengantar untuk novel Lahiri, The Lowland. Hal ini menjawab tanda tanya saya saat membaca buku ini, saat menemukan bahwa untuk sebuah cerita pendek, setting dan karakterisasi buku ini terbangun cukup detail.

Cerita pendek ini menitikberatkan pada hubungan Subhash dan Udayan yang terpisahkan oleh ideologi yang berbeda. Jarak geografis dan jarak ideologis ternyata membawa hubungan mereka dalam suatu kecanggungan baru. Oleh karena dikisahkan dengan sudut pandang orang ketiga terbatas, pembaca hanya bisa melihat melalui sudut pandang Subhash. Buku ini menangkap apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan oleh Subhash. Namun, kisah ini kemudian diakhiri dengan cantik, mengenai kenyataan tentang sikap Udayan terhadap kakaknya itu. Menyentak, sekaligus mengharukan.

Review #21 for 2014 TBRR Pile Reading Challenge

Review #34 for Lucky No.14 Reading Challenge category (Not So) Fresh From the Oven

Desember

Short Stories – Oscar Wilde

Author : Oscar Wilde
Publisher : Signet Classic, New American Library
Edition : 16th printing, ©1983
Fomat : Paperback, p. 235-302

Contents:
1. The Happy Prince, from The Happy Prince, and Other Tales (1888)
2. The Birthday of the Infanta, from The House of Pomegranates (1891)
3. Lord Arthur Savile’s Crime, from Lord Arthur Saville’s Crime and Other Stories (1909)

Edisi The Picture of Dorian Gray yang saya baca memuat tiga cerpen Wilde yang diambil dari tiga kumpulan yang berbeda. Saya pasti berencana membaca kumpulan-kumpulan tersebut, jadi katakanlah ini sekadar pengantar untuk memperoleh sedikit gambaran mengenai beberapa cerpen Wilde, sebelum saya membaca keseluruhannya.

Illustration for the first edition by Walter Crane

The Happy Prince mungkin merupakan salah satu cerpen anak-anak Wilde yang paling terkenal. Mengisahkan tentang sebuah patung ‘Pangeran Bahagia’, yang melihat kenyataan bahwa dunianya tak seindah yang dulu dilihatnya saat dia masih hidup dan bahagia. Di suatu saat menjelang musim dingin, seekor burung walet yang sedang beristirahat di bawah sang patung menemukan bahwa Pangeran Bahagia sedang bersedih, kini saat dia bisa melihat orang-orang kelaparan, kesakitan, menderita dan kekurangan. Pangeran Bahagia meminta sang walet menunda migrasinya dan membantunya membagikan emas dan permata yang melekat di tubuhnya kepada mereka yang membutuhkan.

Then the swallow flew back to the Happy Prince and told him what he had done. “It is curious,” he remarked, “but I feel quite warm now, although it is so cold.”
“That is because you have done a good action,” said the Prince. And the little swallow began to think, and then he fell asleep. Thinking always made him sleepy.
(p.239)

Kisah ini sederhana, tapi dalam. Kisah ini menggelitik nurani kita tentang apa makna bahagia yang sejati, apa yang menjadi tolok ukurnya, serta sudut pandang yang berbeda mengenai kebahagiaan. Salah satu pernyataan filosofis dalam kisah ini adalah perbedaan reaksi orang-orang saat melihat perubahan sang Pangeran, dari patung yang cantik dan (terlihat) bahagia menjadi sesosok patung kusam karena tak utuh lagi. Dari komentar beberapa orang tersebut, terlihat bagaimana terkadang kita hanya melihat seseorang hanya dari penampilan luarnya, berdasar materi belaka. Namun jauh di dalam, ada sesuatu yang tak bisa dikalahkan, sebuah ketulusan yang disimbolkan dengan jantung sang Pangeran yang tak bisa dileburkan.

The Birthday of the Infanta menceritakan kemeriahan perayaan ulang tahun ke-12 sang Putri Raja Spanyol tersebut. Sang Raja sendiri tak ikut dalam pesta tersebut. Sejak kematian istrinya, dia tak mengenal kebahagiaan, selalu murung dan meratapi sang Ratu yang masih diawetkan, saking besarnya cinta sang Raja. Di antara hiburan di ulang tahun sang Infanta, dia paling terhibur dengan seorang cebol yang dengan sikap konyol dan kekurangan tubuhnya menjadi bahan tertawaan semua orang. Namun sesungguhnya, si cebol tersebut tidak tahu apa yang mereka tertawakan. Dia merasa sang Infanta menyukainya, hingga tanpa sengaja dia menemukan cermin dan menyadari apa sesungguhnya yang membuat orang-orang tampak senang jika melihatnya.

But somehow the birds liked him. They had seen him often in the forest, dancing about like an elf after the eddying leaves, or crouched up in the hollow of some old oak-tree, sharing his nuts with the squirrels. They did not mind his being ugly, a bit. (p.255)

Sayangnya, kebanyakan hanya melihat penampilan luar saja. Mereka tak merasa penting untuk mengetahui bagaimana perasaan dan sikap si cebol, di balik segala kekurangan fisiknya. Dalam cerita ini, penulis sempat menceritakan panjang lebar mengenai latar belakang sang Raja, saya rasa mungkin itu berhubungan dengan sikap sang Infanta. Kurangnya kasih sayang orang tua, terutama kelemahlembutan seorang ibu, membuat sang Infanta kurang peka dan kurang empati terhadap sekitarnya. Penutup dari kisah ini cukup mengena, terutama kalimat terakhir Infanta : “For the future let those who come to play with me have no hearts,” (p.263). Kalimat yang merangkum kesimpulan dengan menggetarkan.

Lord Arthur Savile’s Crime adalah sebuah kekonyolan menurut saya. Saat Lady Windermere mengundang orang-orang ke rumahnya, dia mendemonstrasikan kemampuan Mr. Podgers, seorang pembaca garis tangan, meramal para tamunya. Lord Arthur Savile, seorang pemuda yang penuh semangat tak ketinggalan ingin diramal olehnya. Namun saat melihat garis tangan Lord Arthur, wajah Mr. Podgers berubah tegang. Dia membaca kejahatan, tetapi menyimpannya dan hanya menyampaikannya saat berdua saja dengan Lord Arthur. Lord Arthur pun menghabiskan bulan demi bulan untuk merealisasikan kejahatan yang diramalkan tersebut, agar dia bisa menjalani kehidupan dengan normal setelahnya, tanpa dibayang-bayangi hal yang belum dilakukannya.

Sooner or later we are all called upon to decide on the same issue—of us all, the same question is asked. To Lord Arthur it came early in life—before his nature had been spoiled by the calculating cynicism of middle age, or his heart corroded by the shallow fashionable egotism of our day, and he felt no hesitation about doing his duty. (p.280)

Saya tidak bisa melihat karakter Lord Arthur selain konyol dan sulit dimengerti jalan pikirannya. Mungkin karena saya tak pernah percaya pada ramalan, sementara Lord Arthur sangat menganggap serius ramalan tersebut, hingga nekat melakukan apa saja. Meski kisahnya lumayan panjang, cerpen ini memiliki akhir yang terbuka. Pembaca dapat mengambil kesimpulan apa saja, karena segala yang terjadi telah terjadi. Pembaca bisa saja menganggap bahwa akhir kisah itu adalah akibat dari perbuatan Lord Arthur yang mengejar ramalan tersebut, atau bisa juga menganggap bahwa yang telah dilakukannya sia-sia belaka.

Short Stories – Émile Zola

Title : The Miller’s Daughter, Captain Burle, Death of Olivier Becaille
Author : Émile Zola
Publisher : Project Gutenberg
Edition : November 10, 2012 [EBook #1069]
Format : ebook

Setelah membaca tiga novelnya, saya mendapat dua kesan kuat tentang karya Zola: kekuatan deskripsi dan kisah yang mencengangkan di antara manusia-manusia dengan sifat-sifat dasarnya yang ditampakkan ‘apa adanya’. Apakah hal ini berlaku untuk cerita pendeknya?

The Miller’s Daughter berkisah tentang kincir air serta pemiliknya, Pere Merlier. Cerita bermula saat Francoise Merlier bertunangan dengan Dominique Penquer, dan merencanakan pernikahan di Saint Louise’s Day. Pada masa itu, kabar mengenai serangan pasukan Prussia sudah semakin santer terdengar, hingga pagi hari sebelum Saint Louise’s Day, dikabarkan akan ada serangan ke Rocreuse, desa mereka. Pasukan Prancis sudah siap dan, sialnya, mereka memilih kincir air Merlier sebagai benteng. Merlier tidak bisa menolak permintaan itu meski hatinya berat. Pernikahan putrinya tidak akan berlangsung.

Dalam cerpen ini, kekuatan deskripsi Zola masih terasa. Selain gambaran mengenai lokasi kisah ini terjadi, gambaran mengenai peperangan yang terjadi juga lumayan detail untuk sebuah cerita pendek.

When Pere Merlier was advised to change it he shook his head, saying that a new wheel would be lazier and would not so well understand the work, and he mended the old one with whatever he could put his hands on: cask staves, rusty iron, zinc and lead. The wheel appeared gayer than ever for it, with its profile grown odd, all plumed with grass and moss. When the water beat upon it with its silvery flood it was covered with pearls; its strange carcass wore a sparkling attire of necklaces of mother-of-pearl.

Namun cerpen ini sangat ‘ringan’ untuk ukuran Zola. Meski alurnya menegangkan, terutama tentang bagaimana nasib pasangan tersebut di tengah-tengah peperangan, tidak ada kejutan khasnya dalam mengeksplorasi sifat dasar manusia. Kisah ini pun berakhir sebagai kisah cinta yang manis.

Captain Burle tinggal bersama ibunya, Mme Burle, dan putranya, Charles, di sebuah kota kecil bernama Vauchamp. Suatu malam, Major Laguitte, rekan Captain Burle datang ke apartemen Burle dan menemukan bahwa yang dicarinya tidak ada. Dia terpaksa menceritakan pada Mme Burle tentang kecurangan yang dilakukan putranya, yang bertugas mengurus keuangan, atas pembayaran tukang daging, yang menyebabkannya berutang 2000 francs, jumlah yang sangat besar untuk keluarga sederhana mereka. Burle menghabiskan uang itu untuk minum-minum dan berjudi, hingga malam itu juga, Laguitte menyeretnya keluar dan memaksanya berjanji untuk tak kembali lagi.

Beberapa bulan berlalu, Burle sudah tak pernah keluar malam, dan keuangan tampak berjalan baik. Hingga suatu hari, Laguitte memperhatikan bahwa selama ini, ada selisih kecil dalam laporan keuangan Burle tiap harinya. Dia pun kembali mengecek Burle di malam hari, dan ternyata kawannya itu sudah kembali ke kebiasaan lamanya. Kemarahan membuatnya menantang Burle untuk berduel, dan sang Major melakukan sesuatu yang fatal.

Paul Cézanne, Paul Alexis reading to Émile Zola, 1869–1870, São Paulo Museum of Art (source)

Cerpen kedua ini lebih kental konflik, menampakkan bagaimana jika manusia dikontrol oleh nafsunya, hingga melupakan keluarga dan dedikasi. Captain Burle adalah sosok manusia yang telah dikalahkan oleh nafsu, dan tampaknya tak ada yang bisa mengubahnya. Meski akhir dari kisah ini cukup mengharukan, tak ada hal-hal fantastis ataupun luar biasa yang mengguncangkan keseluruhan kisah ini.

Death of Olivier Becaille adalah favorit saya di antara tiga cerpen ini. Dengan kalimat pembuka yang langsung menuju sasaran:

It was on a Saturday, at six in the morning, that I died after a three days’ illness. My wife was searching a trunk for some linen, and when she rose and turned she saw me rigid, with open eyes and silent pulses.

Cerita ini mengisahkan bagaimana Olivier, yang masih bisa mendengar dan merasakan (juga sedikit melihat satu titik sebelum matanya ditutup), harus menghadapi proses pemakamannya sendiri. Tak hanya kekhawatiran dikubur hidup-hidup, Olivier juga harus mendengarkan tanda-tanda istrinya yang dihibur oleh pria lain, yang dibayangkannya mengambil kesempatan dari kesedihan dan ketidakberdayaan istrinya saat itu. Pria itu, yang juga menguruskan pemakaman Olivier, tampak seolah ingin mempercepat proses pemakamannya, hal yang membuat Olivier semakin merana.

Kemudian bagian menegangkannya adalah saat Olivier akhirnya berhasil ‘bangun’ kembali. Zola menggambarkan dengan rinci saat dia berusaha membuka peti matinya sendiri, menggali tanah yang menimbunnya, dan berusaha kembali ke atas tanah sebelum dia benar-benar meninggal lagi karena kehabisan oksigen. Berhasilkah dia? Berapa lama sudah dia dikuburkan? Apakah dia bisa kembali hidup normal setelahnya?

Was this strange state of torpor, this immobility of the flesh, really death, although the functions of the intellect were not arrested? Was my soul only lingering for a brief space before it soared away forever?

Kisah ini menarik karena temanya yang unik. Olivier tampaknya menderita kelainan aneh, yang mungkin bermula dari sakit masa kecilnya—meski belum pernah seekstrem kematian—yang belum bisa dideteksi oleh medis pada masa itu. Tapi jauh di balik itu, Zola tampaknya menggelitik pembacanya dengan kematian, dan bagaimana peran kita di dunia ini saat kita hidup dan meninggal dunia.

I am an ordinary man who has toiled and eaten like anybody else. Death no longer frightens me, but it does not seem to care for me now that I have no motive in living, and I sometimes fear that I have been forgotten upon earth.

Where There’s Smoke – Jodi Picoult

Where There's SmokeTitle : Where There’s Smoke (A Short Story)
Author : Jodi Picoult (2014)
Publisher : Ballantine Books
Format : ebook

That is how I sum up my career as a psychic. Just because you can’t see something doesn’t mean I don’t. I can’t explain it, I can’t understand it, and I can’t deny it.

Serenity baru berusia empat tahun ketika dia melihat bocah laki-laki yang mencuri barang-barang di rumahnya, bocah yang tak seorang pun bisa melihatnya selain dirinya. Beberapa tahun kemudian, Serenity adalah paranormal terkenal yang memiliki program televisi sendiri. Program yang menayangkan dirinya berkomunikasi dengan orang yang sudah meninggal, yang mungkin adalah anak seseorang, ayah atau ibu seseorang, suami atau istri seseorang, demi menyampaikan suatu pesan, memastikan keadaan mereka, dan lain sebagainya.

Suatu hari, Serenity hendak menghubungkan seorang istri dengan suaminya yang merupakan veteran perang. Wanita itu hendak mempertemukan sang suami dengan anaknya yang lahir tanpa pernah bertemu ayahnya. Namun, hal tak terduga terjadi, arwah veteran perang tersebut memendam kemarahan. Kemarahan yang pada akhirnya disalurkan melalui Serenity, membuatnya berada dalam masalah. Ditambah lagi kepercayaan dirinya yang sudah berlebihan memberatkan situasinya. Dan kemudian sebuah kesalahan lagi dilakukan, memperburuk segalanya.

Sometimes, all you can do is watch things burn, and wait for the ash to settle.

Saya belum pernah membaca karya Jodi Picoult yang berbau supranatural, dan sempat skeptis dengan tema ini. Tetapi ternyata cerita pendek ini sangat menarik. Picoult membangun kehidupan Serenity dengan cukup utuh. Meski singkat, kisah ini sudah menampakkan cara kerja dan apa-apa saja yang dihadapi oleh seorang paranormal dalam dunia Serenity. Dalam dunia Serenity, mungkin banyak hal tidak sesuai dengan apa yang secara umum dipercaya oleh orang-orang (termasuk kliennya). Dia membahas mengenai kesalahpahaman orang mengenai dunia orang meninggal, mengenai arwah, mengenai komunikasi antardimensi, dan lain sebagainya. Saya tidak bisa mengatakan bahwa saya mempercayai hal-hal tersebut dalam kehidupan nyata, tetapi saya bisa meyakinkan bahwa sejauh cerita pendek ini, belum ada lubang logika yang saya temukan dalam hal-hal supranatural tersebut.

We are all psychic to a degree. How many times do you walk into a room and just know there’s tension in there? How many times have you thought about an old friend, and then she calls? Or had a dream about your grandma and you wake up and find the lost earring you inherited from her? It’s like making a psychic telephone call: you send energy into the universe, and it comes back to you.

Serenity Jones adalah salah satu karakter yang nantinya akan muncul di novel Jodi Picoult berikutnya, Leaving Time. Sebagai sebuah perkenalan, cerpen ini sukses membuat saya penasaran. 4/5 bintang untuk awal yang membakar.

Leaving TimeDalam edisi yang saya baca, juga ada excerpt dari novel Leaving Time yang dikatakan mulai terbit Oktober ini. Perkenalan mengenai karakter utama di novel ini juga cukup menarik. Tentang seorang anak tiga belas tahun yang memiliki memori yang sangat bagus. Jenna bahkan bisa mengingat satu kejadian bersama ibunya saat dia masih berusia sembilan bulan.

Ada satu hal yang tak bisa diingat oleh Jenna meski dia sangat memerlukannya, detail kejadian saat ibunya menghilang. Ibu Jenna adalah seorang ilmuwan yang mempelajari memori, yang pada suatu malam ditemukan tidak sadarkan diri, dan beberapa waktu setelahnya menghilang dari rumah sakit. Adakah sesuatu rahasia yang penting dari penelitian ibu Jenna? Apakah memori Jenna berhubungan dengan penelitian ibunya? Apakah yang akan terjadi pada Jenna dan pencariannya?

…there’s a fine line between a negative moment and a traumatic one. Negative moments get remembered. Traumatic ones get forgotten, or so warped that they are unrecognizable, or else they turn into a big, bleak, white nothing I get in my head when I try to focus on that night.