Category Archives: Thriller

Scary Tales #1-2 – James Preller

HSHTitle 1 : Home Sweet Horror
Edition : 1st printing, 2013
Format : Paperback, 98 pages

Title 2 : I Scream, You Scream
ISYSEdition : 1st printing, 2013
Format : Paperback, 98 pages

Author : James Preller
Illustrator : Iacopo Bruno
Publisher : Macmillan Children’s Books

Scare Yourself Silly!, itulah tagline dari serial ini, dan tampaknya penulis berhasil ‘menakuti’ beberapa pembacanya (saya salah satunya). Meski dikatakan berseri, setiap buku Scary Tales memiliki cerita berbeda yang tidak berhubungan satu sama lain.

Home Sweet Horror bercerita tentang keluarga kecil Finn—ayah dan kedua anaknya, Kelly dan Liam—yang baru berpindah rumah semenjak ditinggalkan oleh Mrs. Finn beberapa waktu berselang. Secara tersirat, tampak pertentangan kepentingan di sini; Mr. Finn yang ingin menghapus kenangan mendiang istrinya, dan anak-anak yang masih berat meninggalkan kenangan ibu mereka. Namun, karena ini kisah anak-anak, hal tersebut tidak terlihat secara eksplisit. Di rumah baru mereka, Liam—yang baru berusia 8 tahun—bisa merasakan dan mendengar adanya ‘makhluk lain’ yang menghuni rumah tersebut, dan berusaha mengusir mereka dari sana. Puncak segala masalah adalah ketika Kelly dan temannya yang sedang berkunjung memainkan permainan Bloody Mary, awal segala petaka.

I Scream, You Scream berkisah mengenai Samantha Carver, 11 tahun, yang suka sekali ke wahana permainan dan juga suka bermain anagram. Kebahagiaan tak terkira menghampirinya saat dia berkesempatan menaiki wahana baru di Dr. Z’s Adventure Park yang disebut Dragon Tooth. Tak ada yang tahu cara kerjanya, dan ini akan menjadi kejutan dari Dr. Z, milyuner misterius yang merancangnya sendiri. Namun, wahana yang ditunggu-tunggu itu tak berjalan semulus yang dipikirkan Sam. Masalah terjadi, dan dia harus melalui petualangan yang berbahaya bersama Andy, kawan barunya. Petualangan itu melibatkan alien, dan makhluk yang paling ditakuti oleh Sam.

Home Sweet Horror menyajikan kisah horor yang cukup mencekam. Dengan adanya ‘makhluk’ yang sejatinya tak terlihat itu, tapi berwujud cukup nyata bagi Liam. Meski kisahnya sederhana dan penyelesaiannya melegakan, teror yang terbangun sepanjang kisah cukup melekat. Apalagi disertai ilustrasi yang tak kalah mencekam. Meski begitu, saya menemukan satu ketidaksesuaian antara gambar dengan deskripsi narasinya, yang meski tidak signifikan terhadap keseluruhan cerita, tetap mengganggu akurasi buku ini.

I Scream, You Scream mengangkat suasana yang agak berbeda. Tidak ada horor, melainkan lebih kepada suspense/thriller dan misteri, dan mungkin akan ada hubungannya dengan science fiction—mengingat kompleksnya Dr. Z’s Adventure Park yang misterius itu. Buku ini agak lebih kompleks dari segi kisah dan konflik. Jika dalam Home Sweet Horror kita lebih diperlihatkan suasana dan plot, maka di I Scream, You Scream ini ada perkembangan karakter yang lebih jelas disoroti. Ketegangan yang dibangun cukup nyata, dan meski petunjuk di sana-sini membuat beberapa hal sedikit tertebak, penyelesaian kisah ini agak tak terduga, dan sangat menyenangkan.

Secara keseluruhan, penulis berhasil membangun suasana menakutkan dalam balutan kisah anak-anak yang mudah diikuti. Tidak luar biasa, tidak meledak-ledak, tetapi cukup membekas. Seri ini adalah salah satu alternatif yang seru untuk memperkenalkan kisah horor dan suspense untuk anak-anak. 3/5 bintang untuk cermin-cermin di rumah horor, dan 4/5 bintang untuk tiket naik ke Dragon Tooth.

Review #25 of Children’s Literature Reading Project

Review #26 for Lucky No.15 Reading Challenge category Who Are You Again?

Advertisements

Sharp Objects – Gillian Flynn

17924737Title : Sharp Objects
Author : Gillian Flynn (2006)

Sometimes it is all too loud.

Camille Preaker, jurnalis Daily Post Chicago, dikirim oleh editornya untuk meliput kasus pembunuhan di sebuah kota kecil, Wind Gap, di Missouri. Camille dipilih karena dia dibesarkan di lingkungan itu, dan kasus itu bukan kasus biasa. Seorang anak perempuan sembilan tahun dicekik hingga tewas, dan dibuang dalam keadaan gigi sudah tercabut semua. Kini seorang anak perempuan lagi dilaporkan hilang, dan terancam mengalami nasib yang sama. Berita eksklusif yang menghebohkan di sebuah kota kecil adalah lahan yang bagus untuk media.

Kedatangan Camille di Wind Gap adalah sebuah tantangan baginya. Wind Gap menyimpan trauma masa lalunya, kenangan yang ingin dilupakannya, rasa sakit kehilangan adik, ibu yang tak pernah akur, ayah tiri yang acuh, serta saudari tiri yang bermasalah. Pencarian berita yang dilakukannya mau tak mau membawanya kembali pada kehidupan masa lalunya. Dia harus menemui keluarganya—terutama ibunya, dia harus bicara dengan seisi kota—orang-orang yang mengenal masa kecilnya, dan dia harus berhadapan dengan rasa sakit dan masalah orang-orang lain, yang sedikit banyak menguak rasa sakitnya sendiri. Perlahan, rasa sakit dari sayatan yang dilakukannya di masa mudanya, yang meninggalkan bekas luka di sekujur tubuhnya, yang telah dikuburkan bersama sesi-sesi terapi, muncul kembali.

Sometimes I think illness sits inside every woman, waiting for the right moment to bloom.

Awalnya saya mengira akan menghadapi sebuah misteri pembunuhan dalam buku ini, tetapi ternyata buku ini lebih menampilkan konflik sebuah keluarga. Sebuah keluarga yang menyimpan luka selama beberapa dekade, dan diturunkan dari generasi ke generasi. Adora, ibu Camille, memiliki masalah dengan ibunya sendiri, hingga saat dia memiliki Camille, dia tak bisa memberikan kasih sayang selayaknya yang dibutuhkan seorang anak. Camille yang menjaga jarak dengan ibunya, sejatinya juga merindukan kasih sayang orang tuanya. Dia tak pernah bertemu ayahnya, sedangkan Adora lebih menyayangi adiknya. Sebuah hubungan yang rumit pun timbul, adakah hubungan yang telah tegang selama bertahun-tahun bisa diperbaiki? Apakah luka baru yang kini timbul dapat menghapuskan bekas luka-luka lama?

Buku ini benar-benar menggambarkan kerapuhan dan gangguan psikologis para karakternya melalui kejadian demi kejadian, serta pilihan-pilihan yang dilakukan oleh para karakternya. Kita dibuat berjengit saat menengok nostalgia Camille dengan benda-benda tajam di kulitnya, ngeri dengan kesadisan sang pembunuh dengan korbannya, tersentak dengan kenakalan para remaja Wind Gap, muak dengan manuver-manuver yang dilakukan orang-orang demi mencapai tujuannya, dan saya marah pada penulis karena merasa ditipu. Di pertengahan buku, penulis mengarahkan dengan jelas mengenai pembunuhnya, tanpa dikonfirmasi oleh kecurigaan Camille maupun polisi. Saya dibiarkan merasa yakin tentang pembunuhnya, bahkan diberi bukti-bukti yang menguatkan, sementara karakternya sibuk mencarikan alibi. Kemudian, pada satu bab terakhir, semua asumsi dan analisis saya dibelokkan dan dibalikkan.

Saya tidak bisa mengatakan saya menikmati alurnya. Di satu sisi, saya yakin permasalahan yang sesungguhnya tak sesederhana yang terus ditonjolkan oleh sang penulis. Selama membaca, saya mencari-cari celah, mencari-cari tanda-tanda untuk mematahkan (atau menguatkan) dugaan saya, tetapi tidak ada, saya dipaksa maju dengan keyakinan yang saya tahu bakal dipatahkan entah kapan dan di mana. Di luar itu, penulis telah berhasil membuat ketegangan, kegelapan, dan kengerian yang pekat di setiap halaman bukunya. Penulis tak tanggung-tanggung saat mendeskripsikan sesuatu yang sadis ataupun mengerikan.

Dalam buku ini, aroma kematian ditampakkan dalam wujudnya yang paling gelap. Anak perempuan dibunuh dengan sadis. Kematian seorang anak bertahun-tahun sebelumnya masih menimbulkan trauma yang menghancurkan kehidupan keluarganya. Kematian membayangi kehidupan seisi kota. Kematian juga menyamarkan sesuatu yang buruk yang pernah terjadi sebelumnya.

When you die, you become perfect.

Bersiaplah untuk melihat kehidupan penuh drama gelap di Wind Gap, tempat sifat manusia ditunjukkan dengan vulgar dan ‘telanjang’.

3/5 bintang untuk setiap kata dalam sayatan.

…being conflicted means you can live a shallow life without copping to being a shallow person.

Review #32 for Lucky No.14 Reading Challenge category Blame it on Bloggers (kak Mia & Alvina)