Category Archives: Tragedy

Mini Reviews: Indonesian Plays

Buku yang dibicarakan:

Orkes Madun karya Arifin C. Noer (1999)
Pustaka Firdaus, Cetakan Pertama, Maret 2000, 436 halaman

Topeng Kayu karya Kuntowijoyo
Yayasan Bentang Budaya, Cetakan Pertama, Maret 2001, 258 halaman

Hakim Sarmin Presiden Kita karya Agus Noor
Basabasi, Cetakan Pertama, Maret 2017, 260 halaman

Laki-Laki Bersayap Patah karya Yudhi Herwibowo
BukuKatta, Cetakan Pertama, September 2017, 140 halaman

Ada masanya saya pertama kali membaca karya-karya Shakespeare, naskah drama Oscar Wilde, dan beberapa penulis Eropa yang lain. Dari situ saya memiliki gambaran mengenai play (naskah drama) dari beberapa masa dan gaya. Namun, sebagai orang Indonesia, tentunya tak lengkap jika saya tidak mencicip juga naskah drama karya penulis lokal. Oleh karenanya sejak beberapa tahun lalu, saya pelan-pelan mencari dan membaca naskah drama lokal yang sekiranya bisa memperkaya pengalaman membaca karya jenis ini.

Pada dasarnya, sebuah naskah drama ditulis untuk dipentaskan. Jadi, ketika membaca tulisan-tulisan tersebut, saya memainkan peran-peran di kepala saya. Persamaan dari jenis karya ini, termasuk karya penulis luar negeri, adalah ketiadaan bangunan latar belakang dan karakter yang utuh. Tentunya tidak semua, seperti Vera (Oscar Wilde) yang saya yang rasa cukup kuat karakternya, atau An Ideal Husband yang memiliki konflik yang utuh dan kompleks, ataupun A Doll’s House (Henrik Ibsen) yang menggambarkan setting tempat yang cukup familiar. Namun, tetap kita tidak bisa membandingkannya dengan novel yang memiliki unsur-unsur jelas.

Keempat judul yang saya sebutkan di atas memiliki gaya penulisan dan titik berat yang berbeda, persamaannya adalah, jangan membacanya secara serius, tidak perlu mencari-cari makna di setiap kalimat yang tertulis (atau terucap). Karena seperti yang disebutkan Kuntowijoyo dalam pengantarnya:

Demikianlah jangan mencoba mencari makna satu per satu dalam drama ini nanti Anda bisa tersesat, tapi cari pesannya. Anggap saja kata-kata itu hanya celoteh yang boleh bermakna boleh tidak. Sebab, seperti kredo puisi Sutardji Calzoum Bachri, kata-kata telah bebas dari makna. Tapi, ada bedanya. Puisi Sutardji Calzoum Bachri memakai mantra sebagai model; jadi yang perlu bukan kata tapi bunyi. Mantra adalah sihir bunyi. Akan tetapi, drama ini lebih dari itu; modelnya ialah dolanan bocah. Dalam dolanan bocah, kata, kalimat, dan bahkan bait semuanya kehilangan makna. Bunyi juga tidak diperlukan. (Topeng Kayu, hal.vi)

Meski begitu, ketiga buku yang lain tidak sekental Kuntowijoyo membangun ‘sihir suasana’ seperti dolanan bocah yang diistilahkannya. Orkes Madun sesekali membangun suasana dengan permainan kata tersebut, tetapi dialog antar karakter yang membangun sebuah konflik jauh lebih banyak. Sedangkan Agus Noor lebih mudah ditangkap karena hampir setiap dialognya memiliki makna. Berbeda lagi dengan Yudhi Herwibowo yang banyak menampilkan monolog karakternya, sehingga rasanya kalimat-kalimat di sini menjadi lebih penting dari sekadar pembangun suasana.

Saya tak hendak mengunggulkan karya yang satu dengan yang lainnya, karena memang bukan ahlinya. Namun, dari kacamata sebagai pembaca, saya lebih mudah menikmati Hakim Sarmin Presiden Kita. Buku ini sebenarnya terdiri dari dua buah drama, yaitu Hakim Sarmin dan Presiden Kita Tercinta. Keduanya bisa berdiri sendiri meski sebagian karakternya sama, dan kisahnya berhubungan. Drama ini mengangkat tema mengenai intrik politik, kekuasaan, dan penegakan hukum. Suasana yang digambarkan adalah situasi terkini, penuh dengan sindiran serta referensi politik dan sejarah, dan tentu saja humor yang jamak menjadi bungkus yang relatif aman bagi kritikan terhadap penguasa, sekaligus menghibur pembaca (atau penonton).

Sebab hakim yang gila hanya mungkin dilahirkan oleh masyarakat yang gila. Hukum itu cermin masyarakat, kalau hakimnya gila, pasti masyarakatnya lebih gila. (Hakim Sarmin, hal.52)

Kita memang hidup di zaman yang telah dipenuhi kegilaan. Keadilan dan kegilaan sulit dibedakan. (Hakim Sarmin, hal.122)

Revolusi selalu dimulai oleh mereka yang gila… (Hakim Sarmin, hal.128)

Hakim Sarmin sendiri menitikberatkan pada pergerakan revolusi hukum dan kekuasaan, dengan plot twist yang bertebaran di mana-mana. Sedangkan Presiden Kita Tercinta menceritakan tirani dan kudeta dari sudut pandang pemilik kekuasaan. Dari bayangan saya, untuk mementaskan lakon ini cukup mudah, karena disertai panduan dari penulisnya sendiri, dan propertinya tidak terlalu rumit. Namun, oleh karena situasinya sangat terkini, dengan bahasa dan istilah kekinian tersebar dalam kalimat-kalimatnya, rasanya jika suatu saat buku ini menjadi klasik, akan memerlukan catatan kaki untuk menjelaskan kata dan istilah tersebut.

Menawi Diparani,
….

Demokrasi hanyalah jalan. Dan kita tahu, banyak jalan menuju Roma.
Paringan,
Jangan lupa pake Wise atau GPS… biar tak tersesat…

Pak Kunjaran,
Setuju!

(Hakim Sarmin, hal.117-118)

Orkes Madun dimaksudkan menjadi sebuah pentalogi, tapi lakon kelima, Magma, belum sempat ditulis. Namun, karena penulis sudah bercerita ke mana-mana mengenai Magma, anak-anak Sekolah Perancis di Jakarta yang juga mendengar kisahnya membuatnya menjadi komik dan dimuat dalam buku ini. Keempat lakon yang telah ditulis dan dipentaskan di Teater Kecil berturut-turut; I. Madekur dan Tarkeni, IIa. Umang-Umang, IIb. Sandek, Pemuda Pekerja, dan IV. Ozone.

Tema yang diusung dalam keempat lakon ini cukup luas, dan ada keterkaitan satu sama lain. Tentang kemiskinan, kekuasaan, gender, nafsu manusia, yang disampaikan seolah tanpa beban. Bahkan ada beberapa detail sains yang sangat relevan meski disebutkan sambil lalu. Banyak di antara kalimat-kalimat karakternya yang spontan dan acuh, terselip sindiran, kebijaksanaan, maupun celetukan yang cukup filosofis.

…kapitalis tetap akan memegang tampuk pemerintahan di mana-mana. Barangkali dan bukan tidak mungkin kapitalis akan meminjam nama lain, bahkan bukan mustahil ia akan tampil sebagai seorang komunis atau seorang sosialis. (Sandek, hal.254)

BOROK                 : Hukuman apa yang paling hebat di dunia selain hukuman mati? Saya rela dipancung. Saya sudi ditembak berkali-kali. Saya mau dicincang-cincang lalu dicampur dengan adonan semen. Saya mau mati.
RANGGONG      : Justru sebaliknya. Hukuman yang paling berat ternyata adalah menanggung kehidupan dan hidup lebih dari kemampuan kita. Hukuman hidup!
(Ozone, hal.321)

Laki-Laki Bersayap Patah juga merupakan kumpulan drama, yaitu Aku, Aku; Laki-Laki Bersayap Patah; Terkutuk; dan Pendekar Sesat, Pendekar Ular. Jika dibandingkan dengan drama lain yang disebutkan di sini, dialog serta konflik dalam buku ini lebih ‘serius’. Hampir setiap kalimatnya bermakna, tidak didominasi dengan kata-kata ‘sihir suasana’. Drama yang diangkat lebih menitikberatkan pada konfliknya, sehingga plot yang disuguhkan menyimpan kejutan penyelesaian di akhirnya yang menanti memberi kejutan. Temanya pun menarik, yang cukup terasa adalah konflik psikologis dan drama keluarga yang cukup gelap.

Ada aroma surealisme yang kental dalam drama-drama di buku ini, yang membuat saya seolah membaca cerpen. Ternyata memang ada lakon yang diubah bentuk dari cerpen penulisnya sendiri. Dengan membaca dalam bentuk drama (atau menontonnya), rasanya mungkin akan lebih mudah dibayangkan. Begitu pula karakternya, masing-masing memiliki pembeda yang menonjol, sehingga akan lebih membutuhkan pendalaman bagi para pemeran untuk menampilkannya. Apalagi di sini banyak sekali monolog, baik itu percakapan batin, maupun penjelasan situasi yang disampaikan secara panjang lebar. Di satu sisi kita mengetahui lebih dalam mengenai konflik dan karakternya, tetapi di sisi lain monolog ini semacam kurang memaksimalkan interaksi antar karakter yang seharusnya membangun sebuah drama.

Dalam Topeng Kayu, Kuntowijoyo hendak mengkritisi kekuasaan, semua kekuasaan selain kekuasaan Tuhan (hal ini disampaikannya dalam pengantar). Rasanya memang pengantar ini menjadi sangat penting bagi pembaca awam seperti saya, yang hanya bisa menangkap sedikit-sedikit dari sihir suasana yang dibangun begitu kokoh.

Tanpa impian kenyataan tak terasa. Tanpa larangan kebolehan tak terasa. Tanpa ikatan kemerdekaan tak terasa. Tanpa kejahatan kebaikan tak terasa. Tanpa hitam putih tak terasa. Ternyata kita tersesat! (Topeng Kayu, hal.120)

Wah, itulah kesalahan umum. Disangka segalanya berhubungan. Tidak selalu harus. Perbuatan tidak selalu harus berhubungan dengan hasilnya. Pohon tidak selalu berhubungan dengan buahnya. Itu mesin. Itu nalar. Itu pikiran. Kekuasaan yang sempurna di luar semua itu. (hal.219)

Dari keempat buku yang saya baca ini, rasanya masih penasaran dengan karya yang lain, dan utamanya, masih ingin melihat karya-karya ini dipentaskan. Apakah bisa semakin menjelaskan maksudnya, atau justru menimbulkan kesan yang baru?

Advertisements

King Richard III – William Shakespeare

18416265Title : King Richard III
Author : William Shakespeare (1593)
Publisher : Project Gutenberg
Edition : November, 1997 [Etext #1103]
Format : ebook

When clouds are seen, wise men put on their cloaks;
When great leaves fall, then winter is at hand;
When the sun sets, who doth not look for night?
Untimely storms make men expect a dearth.
All may be well; but, if God sort it so,
‘Tis more than we deserve or I expect.
(Act II, Scene 3)

Drama Shakespeare ini termasuk dalam kategori sejarah. Nama-nama dan kejadiannya memang berdasarkan sejarah, tetapi sejarah bergantung dari mana kita memandangnya. Jadi kisah King Richard III ini dapat saya katakan merupakan sejarah yang terekam pada masa drama ini ditulis.

Di permulaan drama ini, Richard adalah Duke of Gloucester. Inggris berada di bawah kekuasaan Edward IV—yang adalah kakak Richard—dari House of York. Pada masa itu, Inggris terbagi dua, York dan Lancaster. Oleh karena tidak puas dengan keadaan, Richard berambisi untuk menjadi raja. Ambisinya itu diwujudkan dengan cara-cara yang frontal dan nekat. Dia tak ragu-ragu menjebak dan membunuh orang-orang yang dianggapnya sebagai penghalang memperoleh mahkota kerajaan. Orang-orang terdekatnya, keluarga, teman, dan orang kepercayaannya pun tak luput dari kekejamannya.

Anehnya, segala kebencian yang muncul terhadap Richard atas kekejamannya tersebut pada suatu kali dapat berubah. Seperti saat dia melamar Lady Anne, yang suaminya terbunuh oleh tangannya, meski Anne jelas-jelas menolak dan sangat membencinya, pada akhirnya mulut manis Richard berhasil menjadikan Lady Anne sebagai istrinya. Kharisma Richard juga membuat beberapa orang loyal kepadanya, meski harus mengeksekusi orang-orang yang dianggap berkhianat terhadap raja mereka.

Dalam drama ini, kekejaman dan tirani Richard sangat dominan digambarkan. Namun, apakah yang menyebabkannya menjadi seorang raja berdarah dingin dan bertangan besi? Pada awal drama ini, monolog Richard menceritakan keadaannya, yang mungkin membentuk karakternya menjadi seperti yang diceritakan. Penampilannya yang tidak menarik, kelainan bentuk tubuh, dan kelemahannya mungkin pada mulanya menimbulkan rasa minder, tetapi tampaknya lambat laun menimbulkan suatu ambisi untuk menutupi kekurangan tersebut.

But I-that am not shap’d for sportive tricks,
Nor made to court an amorous looking-glass-
I-that am rudely stamp’d, and want love’s majesty
To strut before a wanton ambling nymph-
I-that am curtail’d of this fair proportion,
Cheated of feature by dissembling nature,
Deform’d, unfinish’d, sent before my time
Into this breathing world scarce half made up,
And that so lamely and unfashionable
(Act I, Scene 1)

Bahkan ibunya sendiri, Duchess of York, juga mengakui bahwa sejak kecil, Richard selalu bermasalah. Apakah ada diskriminasi yang diterima Richard saat kecil? Atau mungkin dia kekurangan perhatian yang semestinya atau diharapkannya didapat? Tampaknya menarik jika ada catatan sejarah yang menganalisis masa kecil Richard III ini.

Thou cam’st on earth to make the earth my hell.
A grievous burden was thy birth to me;
Tetchy and wayward was thy infancy;
Thy school-days frightful, desp’rate, wild, and furious;
Thy prime of manhood daring, bold, and venturous;
Thy age confirm’d, proud, subtle, sly, and bloody,
More mild, but yet more harmful-kind in hatred.
(Act IV, Scene 4)

Late 16th century portrait, housed in the National Portrait Gallery, London.

Seperti sudah saya singgung di atas, ada sisi positif Richard III yang tersirat drama ini, sisi yang menyebabkannya memiliki pengikut yang setia. Namun sayangnya, menurut saya, porsinya tak sebesar sisi negatifnya sebagai seorang raja bertangan besi. Meski begitu, pada beberapa bagian dapat terlihat bagaimana kekuatan kata-kata Richard untuk mempengaruhi orang lain.

Drama ini merupakan salah satu drama Shakespeare yang memiliki konflik yang sangat intens. Fokus utamanya tetap pada Richard dan bagaimana dia mencapai dan mempertahankan kekuasaannya, kemudian bagaimana orang-orang di sekitarnya—kawan, lawan, dan rakyat—memandangnya, menilainya dan menghakiminya. Act V scene 3 adalah salah satu scene favorit saya, karena pada scene tersebut kita ditunjukkan dua kubu yang akan berperang, Richard (mewakili York), dan Richmond (mewakili Lancaster). Di scene tersebut, saya bayangkan lampu-lampu panggung yang bergantian menyorot masing-masing kubu, karena meski dalam satu scene, tempat kejadiannya jauh dan keduanya belum saling bertemu.

4/5 bintang, God save the Queen.

Bad is the world; and all will come to nought,
When such ill dealing must be seen in thought.
(Act III, Scene 6)

November #2 : Angka dalam Judul Buku

 

Romeo and Juliet – William Shakespeare

Romeo & JulietTitle : Romeo and Juliet
Author : William Shakespeare (1597)
Publisher : FeedBooks
Format : ebook

Love is a smoke raised with the fume of sighs;
Being purged, a fire sparkling in lovers’ eyes;
Being vex’d a sea nourish’d with lovers’ tears:
(Romeo, Act I Scene I)

Permusuhan keluarga Montague dan Capulet sudah mendarah daging. Maka ketika Romeo Montague yang baru saja patah hati disarankan untuk datang ke pesta keluarga Capulet, bisa dipastikan akan ada masalah. Sepupunya yang beranggapan bahwa Romeo bisa menemukan wanita baru di sana tidak menyangka bahwa yang mencuri hati Romeo adalah wanita yang terlarang untuknya, Juliet Capulet.

Romeo dan Juliet pun segera memutuskan untuk menikah secara diam-diam, demi kesucian cinta mereka. Namun belum sehari-semalam berlalu, Romeo terlibat masalah pembunuhan dan dendam nyawa Montague-Capulet. Dia akan diadili, dan terancam mendapatkan hukuman pengasingan. Seolah tak cukup masalah, perjodohan Juliet dipercepat, padahal dia sudah menikah dengan musuh keluarganya.

Saya rasa hampir semua sudah mengetahui plot kisah ini, juga bagaimana akhirnya. Namun mungkin tidak semuanya membaca dari versi asli yang ditulis oleh Shakespeare. Saya tidak memperhatikan variasi kisah pada berbagai adaptasi, yang jelas dalam versi Shakespeare, saya menangkap keindahan dalam tutur Romeo yang sangat kentara. Hal yang tak bisa kita lihat sepenuhnya dalam versi adaptasi.

Tak bisa dipungkiri, dalam drama Shakespeare pasti ada lubang di sana-sini, mungkin karena formatnya yang mengharuskan kisah kehidupan yang panjang agar selesai ditampilkan dalam beberapa jam. Semacam cinta instan antara Romeo dan Juliet, pun pernikahan mereka. Namun saya tidak merasa terlalu terganggu dengan itu.

ROMEO O, teach me how I should forget to think.
BENVOLIO By giving liberty unto thine eyes; Examine other beauties.
(Act I Scene I)

So soon forsaken? young men’s love then lies
Not truly in their hearts, but in their eyes.
(Friar Laurence, Act II Scene III)

Di balik itu semua, drama ini memang menekankan pada cinta yang terbentur oleh latar belakang keluarga. Bahwa permusuhan yang dibawa secara turun-temurun atas nama kehormatan keluarga, hingga bahkan sudah tak jelas asal-mulanya, hanya membawa penderitaan bagi anak-keturunannya. Kekuatan cinta yang akan melakukan apa saja, bijak atau bodoh, yang rela mengorbankan segala hal, termasuk nama dan masa lalu. Sebagaimana kata-kata Juliet yang termasyhur:

What’s in a name? that which we call a rose
By any other name would smell as sweet;
So Romeo would, were he not Romeo call’d,
Retain that dear perfection which he owes
Without that title. Romeo, doff thy name,
And for that name which is no part of thee
Take all myself.
(Juliet, Act II Scene II)

Selain itu, hal terpenting adalah jangan bertindak gegabah. Mungkin benar bahwa cinta itu buta, membutakan mata dan pikiran, karena terkadang tragedi itu terjadi karena kesalahpahaman, karena informasi yang terlambat diperoleh, karena tindakan terburu-buru yang dilakukan atas nama cinta.

4/5 bintang untuk tragedi cinta (yang tidak perlu).

Come, gentle night, come, loving, black-brow’d night,
Give me my Romeo; and, when he shall die,
Take him and cut him out in little stars,
And he will make the face of heaven so fine
That all the world will be in love with night
And pay no worship to the garish sun.
(Juliet, Act III Scene II)

Review #19 of Classics Club Project

Scene on Three (18)

SceneOnThree

Queen. O Hamlet, thou hast cleft my heart in twain.
Ham. O, throw away the worser part of it, And live the purer with the other half.
(Act III Scene IV)

Dalam kisah Hamlet karya William Shakespeare ini, hubungan antara Hamlet dan ibunya memang kurang baik karena Hamlet tidak menyukai keputusan ibunya menikahi pamannya, pasca meninggalnya ayahnya. Menurut Hamlet, tindakan ibunya tersebut bagai pengkhianatan terhadap mendiang ayahnya, apalagi pamannya–yang saat ini menjadi Raja–diduga sebagai pembunuh ayahnya.

Hamlet masih menyayangi dan menghormati ibunya, namun demi mendiang ayahnya, dia harus berkonfrontasi dengan kedudukan ibunya sebagai Ratu yang sekarang. Kalimat Hamlet di atas ‘membuang separuh hati yang busuk dan hidup dengan setengah hati yang suci’ agak terdengar sarkastik, namun di balik itu tersimpan kepedulian Hamlet terhadap ibundanya.

Mari berbagi scene yang menarik.

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya dari buku pilihan kalian ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

Scene on Three (17)

SceneOnThree

Peter (warming his hands at a stove). Has Vera not come back yet, Michael?
Mich. No, Father Peter, not yet; ’tis a good three miles to the post office, and she has to milk the cows besides, and that dun one is a rare plaguey creature for a wench to handle.
Peter. Why didn’t you go with her, you young fool? she’ll never love you unless you are always at her heels; women like to be bothered.
Mich. She says I bother her too much already, Father Peter, and I fear she’ll never love me after all.
Peter. Tut, tut, boy, why shouldn’t she? you’re young and wouldn’t be ill-favoured either, had God or thy mother given thee another face. Aren’t you one of Prince Maraloffski’s gamekeepers; and haven’t you got a good grass farm, and the best cow in the village? What more does a girl want?
Mich. But Vera, Father Peter—
Peter. Vera, my lad, has got too many ideas; I don’t think much of ideas myself; I’ve got on well enough in life without ’em; why shouldn’t my children? […]
(Prologue)

Adegan ini merupakan bagian dari prolog drama Vera, or, The Nihilists by Oscar Wilde yang tidak saya singgung dalam review. Percakapan antara Michael dengan Peter, ayah Vera. Tersirat bahwa Michael telah lama menyimpan cintanya pada Vera–yang tampaknya telah ditolak oleh Vera, sedangkan ayahnya menginginkan Michael untuk lebih agresif meluluhkan hati putrinya.

Ayah Vera masih memiliki pandangan kolot yang menginginkan anak-anaknya hidup mapan dan tenang sebagaimana dirinya. Tak ada ruang untuk pendidikan, apalagi politik dan sebagainya. Peter telah salah menilai, atau salah mengharapkan, putrinya. Menariknya, apa yang kemudian diperjuangkan oleh Vera akan membawa akhir yang tragis untuknya. Apakah dia menyesali keputusannya?

Sebenarnya, dalam drama ini memang tidak disebutkan. Akan tetapi, pertanyaan tersebut telanjur menggelitik saya. Bolehlah pertanyaan itu kita jawab sendiri : Apakah kita akan menyesal jika meninggalkan kehidupan yang damai demi idealisme, meski akhirnya tak seindah yang kita harapkan?

Bagi scene menarik di bacaanmu, caranya :

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya dari buku pilihan kalian ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).