Category Archives: True Story

My Stroke of Insight – Jill Bolte Taylor

msoiTitle : My Stroke of Insight
Author : Jill Bolte Taylor, Ph.D (2008)
Translator : Natalia Suhandrini
Publisher : Elex Media Komputindo
Edisi : Cetakan pertama, 2009
Format : Paperback, xii + 190 pages

Serangan otak terhadap pengertian yang mendalam (stroke of insight) ini telah memberi saya hadiah tak ternilai tentang pengetahuan bahwa kedamaian yang terdalam hanyalah sejauh pikiran/perasaan. Mengalami kedamaian ini tidak berarti bahwa hidup Anda selalu gembira. Ini berarti bahwa Anda mampu melekat pada keadaan otak yang gembira di tengah kekacauan normal dari kehidupan yang melelahkan. (p.166)

Buku ini punya nilai tersendiri bagi saya pribadi. Banyak ide-ide penulis yang menarik bagi saya, beberapa ilmiah, beberapa belum terbukti. Terlepas dari latar belakang penulis sebagai ahli neuroanatomi, saya menikmati bukunya sebagai pengalaman pribadi seseorang yang kebetulan memahami tentang struktur dan fungsi otak manusia. Jadi, meski saya setuju, atau mempertimbangkan, beberapa ide penulis mengenai hal-hal yang belum terbukti secara ilmiah, saya tetap pada tanggung jawab saya untuk tidak memberi pembenaran bagi ide-ide tersebut.

Saya mereview buku ini karena saya memerlukannya untuk dokumentasi. Buku ini tidak akan saya simpan karena, pertama saya tidak menyukai terjemahannya, yang kedua karena saya merasa buku ini akan lebih berguna jika lebih banyak orang membacanya. Oleh karena itu, review ini akan panjang dan dipenuhi banyak kutipan.

Saya pernah mendengar dokter berkata, “Jika kemampuan Anda tidak kembali dalam enam bulan setelah serangan stroke, maka Anda tidak akan mendapatkannya kembali!” Percayalah, ini tidak benar. Saya memperhatikan peningkatan signifikan dari kemampuan otak saya untuk belajar dan berfungsi selama delapan tahun penuh setelah serangan stroke, titik di mana saya memutuskan bahwa pikiran dan tubuh saya benar-benar sembuh. Ilmuwan sangat tahu bahwa otak memiliki kemampuan luar biasa untuk mengubah keterhubungannya berdasarkan stimulasi yang datang. “Plastisitas” otak inilah yang mendasari kemampuannya untuk memulihkan fungsi yang hilang. (p.114-115)

Di usianya yang baru menginjak 37 tahun, Jill harus mengalami serangan stroke yang melumpuhkan sisi otak bagian kirinya. Dia kehilangan kemampuan kognitifnya, kemampuan berbahasa, kemampuan matematis, dan sebagian memorinya. Menariknya, saat serangan tersebut, dia menyadari ada bagian dirinya yang hilang perlahan-lahan. Dia menggambarkan dirinya seperti ‘benda cair’ yang menyatu dengan alam semesta, merasakan kedamaian yang janggal, dia masih sadar, tetapi dia kehilangan kemampuan untuk mengomunikasikan pikirannya, pun dia tidak mengerti—atau tepatnya tidak bisa mencerna—apa yang orang lain coba katakan padanya. Beruntung dalam kesadarannya yang tersisa, dia masih mampu memperoleh bantuan tepat pada waktunya.

Perdarahan yang dialami di otak bagian kirinya membuat otak bagian kanannya lebih peka. Saat orang-orang tidak sabar untuk membuatnya mengerti, sesungguhnya Jill merasakannya dari tingginya suara, ekspresi, dan lain sebagainya. Menurutnya, suara yang dikeraskan tak membuatnya lebih cepat mengerti, dia tidak tuli, dia hanya harus berusaha lebih keras dan butuh waktu untuk menghubungkan satu hal dengan hal lainnya. Pengetahuan ini saya rasa sangat penting untuk kita yang mungkin suatu saat akan berhubungan dengan orang-orang dengan serangan stroke, bukan hanya orang medis dan paramedis, tetapi juga keluarga, kerabat dan teman-temannya.

Kemampuan saya untuk mengaitkan sesuatu dengan lainnya diartikan keliru oleh seberapa cepat saya dapat mengingat suatu informasi, dan bukannya oleh bagaimana otak saya mengatur strategi untuk menemukan kembali informasi yang sudah ada. (p.77)

Belajar membaca memerlukan waktu yang lama dan banyak bujukan. Pertama, saya harus mengerti bahwa setiap coretan memiliki nama, dan bahwa setiap coretan berasosiasi dengan suara. Kemudian, kombinasi dari coretan, huruf-huruf yang saling cocok untuk mewakili kombinasi suara tertentu (sh, th, sq, dan lain-lain). Ketika semua kombinasi suara bersama itu digabungkan, mereka menciptakan satu suara (kata) yang memiliki arti! Luar biasa! Pernahkan Anda memikirkan tentang berapa banyak tugas-tugas kecil yang dilakukan otak Anda secepat ini agar Anda dapat membaca buku ini! (p.103)

Menurut penulis, belajar menggunakan otak kirinya kembali sangat memakan energi. Pun berhadapan dengan manusia, yang dia kategorikan ke dalam dua kelompok, orang yang memberinya energi, dan orang yang menyedot energinya. Mereka yang sabar, yang telaten dalam membuatnya merasa nyaman, mau mengulang-ulang perkataan tanpa kehilangan kesabaran agar Jill dapat mencerna, memberinya energi untuk terus belajar. Sedangkan mereka yang tidak sabaran, yang menganggapnya ‘bodoh’ atau ‘tuli’, yang hanya memikirkan kebutuhannya sendiri untuk mendapatkan informasi yang dia perlukan dari Jill adalah kelompok yang menyedot energinya.

Ketika sampai pada penyembuhan fisik sel, saya tidak dapat lagi menekankan pada pentingnya banyak tidur. Saya benar-benar yakin bahwa otak adalah otoritas tertinggi dalam apa yang diperlukannya untuk menyembuhkan diri sendiri. Seperti pernah saya singgung, bagi otak, tidur adalah “waktu menyusun berkas”. (p.115)

Buku ini menjelaskan cukup banyak teori mendetail tentang segregasi otak kiri dan otak kanan. Seperti saya sebutkan di pendahuluan, saya belum menemukan referensi ilmiah mengenai teori ini. Penjelasan penulis di buku ini pun lebih kepada pendapat pribadi berdasarkan pengalaman, dan bukan berdasarkan penelitian yang berbasis bukti. Meski demikian, saya rasa penjelasan tersebut ada benarnya, terlepas dari apakah benar ini bersumber dari perbedaan fungsi belahan otak, dan bukannya dari bagian tubuh yang lain. Penulis sempat menyinggung tentang hati (heart), atau dalam bahasa anatomisnya, jantung, yang dihubungkannya dengan otak kanan, sementara dari referensi lain yang saya baca lebih menghubungkannya dengan organ jantung itu sendiri.

Kenyataannya, hampir setiap orang yang berbicara dengan jujur memperhatikan bahwa mereka memiliki bagian-bagian yang saling bertentangan dalam kepribadiannya. Banyak dari kita berbicara tentang apa yang kepala kita (belahan kiri) perintahkan sementara hati kita (belahan kanan) meminta kita untuk melakukan yang berlawanan. Beberapa dari kita membedakan antara apa yang kita pikirkan (belahan kiri) dan apa yang kita rasakan (belahan kanan). Beberapa lainnya mengomunikasikan tentang kesadaran otak (belahan kiri) versus kesadaran intuisi tubuh (belahan kanan). …. Apa pun bahasa yang Anda gunakan untuk menjelaskan kedua bagian tersebut, berdasarkan pengalaman saya, saya yakin secara anatomi berakar dari dua belahan yang sangat berbeda di dalam kepala Anda. (p.139)

Buku ini juga menjelaskan mengenai dinamika energi dan intuisi, di mana penulis percaya bahwa setiap benda/tempat memiliki energi. Energi itu dapat dirasakan oleh tubuh kita, melalui kecerdasan otak kanan, menimbulkan intuisi yang kadang tak terjelaskan; perasaan tidak nyaman, takut, sedih, dan sebagainya. Saya termasuk orang yang percaya dengan kekuatan intuisi, karena dalam kesadaran saya, seringkali saya membuktikan bahwa ‘hati kecil’ saya, atau ‘firasat’ saya, benar. Seperti saat bertemu dengan seseorang, pernah saya merasa tidak nyaman dan ingin menghindar. Namun karena saya tidak punya alasan untuk itu, saya ‘terpaksa’ berinteraksi dengannya. Hingga di kemudian hari, terbukti bahwa orang tersebut memiliki potensi untuk merugikan saya, dan barulah saya memiliki alasan untuk menghindarinya (yang kadang terlambat).

Apapun itu, saya rasa buku ini menyampaikan suatu hal penting mengenai pentingnya keseimbangan hati dan pikiran, keseimbangan otak dan perasaan, jasmani dan rohani, jiwa dan raga. Bahwa meski kita tidak mengalami serangan seperti Jill, kita masih bisa mencapai kedamaian hakiki yang dialaminya melalui kesadaran kita. Bahwa dia menyampaikan seluruh pencapaiannya melalui buku ini, agar pembaca dapat menyadari potensi dirinya yang selama ini tertutup oleh keriuhan duniawi yang menuntut kita menggunakan ‘otak kiri’ lebih dominan ketimbang ‘otak kanan’.

Dalam waktu 90 detik setelah terpicu, komponen kimia dari kemarahan telah habis dihamburkan oleh darah saya dan respons otomatis saya pun selesai. Jika, bagaimanapun, saya tetap marah setelah 90 detik terlewati, maka itu adalah karena saya memilih untuk membiarkan sirkuit itu untuk terus bekerja. (p.151)

Bagi saya, sungguh mudah untuk menjadi baik terhadap orang lain ketika saya ingat bahwa tidak satu pun dari kita datang ke dunia ini dengan membawa panduan tentang bagaimana melakukan semuanya dengan baik. (p.153)

Mengalami rasa sakit bukanlah suatu pilihan, tetapi menderita adalah keputusan kognitif.
….
Cara termudah yang saya peroleh untuk merendahkan diri pada keagungan yang penuh damai adalah melalui tindakan berterima kasih. Ketika saya berterima kasih, hidup sungguh luar biasa!
(p.182)

Jejak Penyintas & Rumah

jejak penyintasJudul 1 : Jejak Penyintas (Sepuluh Kisah Rumah Tangga Buruh Migran Perempuan dari Sukabumi, Malang, Lombok Tengah, dan Bone)
Edisi : Cetakan Pertama, Juni 2007
Tebal : xxv + 84 halaman

rumahJudul 2 : Rumah: Dambaan Buruh Migran Perempuan (Sepuluh Cerita dari dan tentang Rumah Buruh Migran Perempuan Asal Sukabumi, Malang, Lombok Tengah, dan Bone)
Edisi : Cetakan Pertama, Mei 2008
Tebal : xxviii + 105 halaman

Penyunting : Tati Krisnawaty, SH Ningsih, JJ Rizal
Penerbit : The World Bank Office Jakarta

Gelombang buruh migran seolah tak ada habisnya. Selama berpuluh-puluh tahun, menjadi TKI/TKW adalah pilihan hidup yang (dirasa) menjanjikan. Pemberitaan mengenai kesulitan pada buruh migran tersebut pun tak menyurutkan orang untuk berbondong-bondong memilih menjadi buruh atau PRT di luar negeri. Hal ini tentu bukan tanpa alasan. Memang benar bahwa menjadi buruh migran menjanjikan penghasilan yang jauh lebih besar. Jika kita, sebagai ‘orang luar’, memandang kasus gagal dari para TKI, maka orang-orang pedesaan (terutama yang disorot dalam buku ini: Sukabumi, Malang, Lombok Tengah, dan Bone) yang hidup dalam kondisi pas-pasan, bahkan kekurangan, lebih memilih untuk memandang kasus-kasus yang berhasil.

Kedua buku ini terlahir dari studi kasus mengenai para buruh migran perempuan (BMP). Dari sekian ratus wawancara dan penelitian, dipilihlah masing-masing sepuluh kasus untuk setiap buku, yang masing-masing mewakili isu perempuan penyintas (survivor) dan usaha membangun rumah tinggal–yang dianggap sebagai simbol kesejahteraan, keamanan, tempat bernaung, dan tempat pulang.

Di tengah masyarakat yang masih menganut budaya patriarki, menjadi BMP tidaklah mudah. Di satu sisi, mereka ingin turut andil dalam meningkatkan kesejahteraan rumah tangga, di sisi lain, ada budaya dan adat yang membuat usaha mereka jauh lebih sulit. Adanya diskriminasi, tindak kekerasan—baik fisik maupun mental, sampai pada pencerabutan hak-hak perempuan, tak pelak terjadi pada mereka, meski nyata-nyata telah berusaha menaikkan taraf hidup keluarga, dengan segenap pengorbanannya.

Buku ini memotret kisah-kisah BMP, baik yang berhasil ataupun yang gagal, yang dihina atau dipuji, yang dihargai maupun yang disia-siakan dan sekadar dimanfaatkan. Ada BMP yang hidupnya menjadi bahagia dalam rumah yang mapan, ada juga yang diceraikan karena alasan adat, bahkan ada yang disingkirkan setelah suami/keluarga mendapatkan bantuannya. Namun, di sisi lain, bukan tidak mungkin BMP yang berubah dan meninggalkan keluarganya untuk pilihan hidup yang lain. Dalam hal ini, kesetiaan suami/keluarga di kampung halaman yang disoroti.

Kisah-kisah dalam buku ini merupakan kisah nyata yang dibalut dalam nama-nama samaran, sehingga kisahnya pun dibangun dengan konflik yang wajar terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Tak semua kisah terbalut emosi, beberapa ada kisah yang ‘biasa’ saja, tetapi—yang paling penting adalah—berhasil menyampaikan maksudnya. Buku ini dimaksudkan sebagai salah satu sarana menyebarluaskan isu-isu sosial mengenai BMP yang jarang disoroti, atau jarang mendapatkan perhatian dari pihak yang berwenang. Bahkan mungkin ada pihak-pihak yang sengaja menutup mata dan hanya mengambil keuntungan secara sepihak. Hal-hal ini menyebabkan minimnya regulasi yang melindungi para BMP, regulasi yang bukan hanya menjadikan mereka sebagai komoditas.

Kelemahan dari buku ini adalah tata bahasa dan penulisan yang tidak sempurna. Masih banyak saya temukan hal-hal yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sangat disayangkan, mengingat buku ini adalah sebuah karya yang semestinya bisa dikemas dengan lebih baik sehingga bisa menjangkau lebih banyak pembaca.

Pembahasan yang mengiringi kisah-kisah dalam buku ini—pada kata pengantar, prolog, dan epilog—sangat lengkap dan komprehensif. Mulai dari tema, sinopsis, latar belakang, moral, dan lain sebagainya. Di satu sisi baik untuk tujuan yang dimaksudkan dari penulisan buku ini, tetapi di sisi lain, detail yang terlalu berlebihan membuat pembaca merasa cukup, bahkan sebelum membaca kisahnya sendiri.

Secara keseluruhan, buku ini cukup mencerahkan, memberi sudut pandang baru, dan mengasah empati kita pada orang-orang yang mengambil pilihan tak populer dalam hidupnya. Semoga pihak yang berwenang berkesempatan untuk mengetahui kisah-kisah mereka dan membuat regulasi yang berimbang. 3/5 bintang untuk perempuan-perempuan perkasa dan perjuangannya.

Juni : Budaya & Setting Indonesia

Juni : Budaya & Setting Indonesia

Girl with Nine Wigs – Sophie van der Stap

Title : Girl with Nine Wigs (Meisje Met Negen Pruiken)
Author : Sophie van der Stap (2006)
Translator : Rini Nurul Badariah
Editor : Tantrina Dwi Aprianita
Publisher : Penerbit Imania
Edition : Cetakan I, Juli 2011
Format : Paperback, 260 pages

Di usianya yang baru 21 tahun, Sophie didiagnosis menderita kanker yang sudah bermetastasis. Muda, dengan semangat hidup yang masih membara, tentunya hal ini menimbulkan tekanan padanya. Kanker jenis rhabdomyosarcoma ini disadarinya ketika sel-sel kanker sudah menyerang selaput pleura hingga merendam paru-parunya. Kemoterapi pun direncanakan, dan segala mimpi buruk Sophie dimulai.

Buku ini menceritakan perasaan-perasaannya, mulai dari penyangkalan atas penyakitnya, hingga bagaimana dia menghadapi dan menjalani hidup dengan kanker. Sophie punya caranya sendiri untuk bertahan. Dia menuliskan perjalanan hari-harinya dalam buku ini—yang memang berwujud layaknya buku harian. Dia juga menemukan cara untuk ‘melepaskan’ dirinya melalui rambut palsu yang dibelinya saat rambutnya mulai rontok. Sophie membeli berbagai macam warna dan jenis wig dan memberi kepribadian tersendiri pada setiap rambut yang dikenakannya. Melalui itu, dia bukan hanya menyenangkan dirinya, tetapi dia juga mampu melihat dirinya sendiri melalui sudut pandang yang berbeda.

Penyakit kronis, penyakit yang mengancam jiwa, atau penyakit apa pun itu, termasuk penyakit akut dan yang ringan, pastilah menimbulkan tekanan tersendiri bagi penderitanya. Penyakit dapat menghalangi seseorang melanjutkan hidupnya dengan normal, menuntut sedikit atau banyak waktunya untuk istirahat dan berobat. Namun, penyakit tak mesti menghentikan kehidupan seseorang saat itu juga. Sakit bisa juga menjadi sarana seseorang untuk memandang kehidupannya dari cara yang tak direncanakannya, hingga hidup bisa merencanakan sesuatu yang berbeda untuknya. Itulah yang ditunjukkan Sophie dan sembilan wignya, cara melanjutkan hidup, yang hanya bisa ditemukan oleh diri si sakit sendiri.

Meski menunjukkan emosi-emosinya, tulisan Sophie tidak cukup emosional untuk pembaca seperti saya. Saya justru merasakan suatu semangat kebebasan yang tinggi serta pemberontakan atas kehidupannya yang terpaksa melenceng dari rencananya semula, yang mungkin juga adalah cerminan dari kepribadian Sophie yang sesungguhnya. 3/5 bintang untuk napas hari ini.

Review #16 for Lucky No.15 Reading Challenge category Freebies Time

Buku Ajar Koas Racun – Andreas Kurniawan

16101609Judul : Buku Ajar Koas Racun
Penulis : Andreas Kurniawan
Penyunting : Agus Wahadyo
Penerbit : MediaKita
Edisi : Cetakan kedua, 2012
Format : Paperback, xii + 256 halaman

Mana istilah yang benar: ‘koas’, ‘koass’, ‘coass’, atau ‘k0-@s5’?
Tidak ada yang benar, karena yang namanya koas pasti akan salah.

(hal.iv)

😀

Membaca buku ini menjadi semacam nostalgia dan pengingat masa-masa beberapa tahun lalu, saat masih menjadi koas, alias ‘pembantunya pembantu’. Tapi meski posisi koas waktu itu tak lebih dari keset (meminjam istilah dosen saya), akan selalu ada kisah-kisah indah pada masa itu. Di antara ritme gila-gilaan yang melibatkan malam-malam tanpa tidur, tugas yang seolah-olah tidak akan pernah selesai (eh, bohong ding, biasanya selesai dalam beberapa jam, sesaat sebelum deadline), berkejar-kejaran dengan konsulen, dimarahi, dicaci, dicurangi, dimanfaatkan, dan lain sebagainya, pada akhirnya semuanya berlalu untuk kita tertawakan saja. Melalui buku ini, penulis yang juga adalah mantan koas alias dokter, mengajak kita tertawa dengan kisahnya pada masa itu.

Buku ini memberi sedikit gambaran tentang sebuah makhluk yang dinamakan koas. Kenapa saya bilang sedikit? Karena saya rasa banyak yang masih belum disebutkan, mungkin itu sebabnya selalu ada buku 2, 3, dan seterusnya. Mulai dari ritual jaga malam sampai ujian stase, suka duka menjadi (calon) dokter, macam-macam pasien, mitos yang beredar di masyarakat, karakteristik konsulen, sampai dinamika bersama rekan sejawat. Saya menikmati cara penulisan buku ini yang mengalir saja, tidak perlu dibuat-buat untuk tampak lebih lucu. Buku ini tidak menyebutkan almamater penulis (walaupun saya rasa saya tahu), dan saya tidak yakin bagaimana metode pembelajaran di sana. Yang saya rasakan agak kurang pas adalah penulis mencampurkan cerita masa preklinik dengan masa koas, yang sebenarnya periode waktunya berbeda, dan menjadi kurang konsisten dengan judulnya. Tapi tetap saja saya suka karena cerita-cerita di preklinik tidak kalah menarik dengan masa koas, terutama kini saat saya mengingatnya kembali.

Kami memang dibiasakan untuk bertindak cepat termasuk dalam hal menulis catatan atau status pasien. Akibatnya bisa diduga: tulisan tidak perlu bagus, yang penting bisa terbaca.
Terbaca?!  Lu bercanda???
(hal.98-99)

Penulis awalnya menulis catatan-catatan masa koasnya di note Facebook sebelum akhirnya dibukukan. Selain cerita, ada juga meme-meme khas yang melengkapi buku ini. Sebenarnya saya jadi ingin menceritakan semua isi buku ini, tapi buat apa? Lebih baik baca sendiri jika tertarik 🙂

April : Buku yang Diterbitkan dari Online

April : Buku yang Diterbitkan dari Online

Review #14 for Lucky No.15 Reading Challenge category It’s Been There Forever (Thanks to kak Dewi buat bukunya, maaf ketimbun lama XD)

Buka-Bukaan Ala Blogger Kondang(an)

23528136Judul : Buka-Bukaan Ala Blogger Kondang(an)
Penulis : Abdul Cholik, Ade Anita, Akhmad Muhaimin Azzet, Cii’ Yuniaty, Esti Sulistyawan, Hariyanto Wijoyo, Haya Aliya Zaki, Lianny Hendrawati, Nuzulul Arifin, Ririe Khayan, Sri Wahyuni, Suprihati, Susi Susindra
Penyunting : Aisha S. Maharani
Penerbit : Penerbit Sixmidad
Edisi : Cetakan Pertama, Juli 2014
Format : Paperback, 152 halaman

Buku ini layaknya kumpulan curhat para blogger kondang, mereka yang sudah bertahun-tahun malang-melintang di dunia perblogan. Tiga belas blogger tersebut berbagi banyak hal tentang blogging, mulai dari mencegah hiatus, mengembangkan blog menjadi buku, merambah media massa, blogger dalam komunitas, blogger dalam bidang-bidang tertentu, hingga bagaimana tetap ngeblog di antara kesibukan. Bukan hanya berbagi cerita, para blogger ini juga memberi banyak sekali tips bermanfaat yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan kita. Pada prinsipnya, buku ini merupakan salah satu panduan yang bersahabat untuk memulai, menjalankan, mengembangkan, memanfaatkan, serta menyikapi blog.

Buku ini mengingatkan saya tentang masa-masa saya membangun blog. Bisa dikatakan saya agak terlambat memulai blogging, karena ketidaktahuan saya pada masa itu. Saya merasa blog sebagai kemewahan yang tak bisa saya bangun di antara media saya yang terbatas. Saya menyamankan diri berada di ruang tumblr atau media sosial yang terbatas. Hingga suatu ketika di pertengahan 2009 ada yang memotivasi saya untuk membuat blog sebagai publikasi bagi tulisan-tulisan saya. Saat itu blog saya masih tidak stabil karena banyak alasan. Hingga tahun 2012 saya memutuskan aktif di sebuah komunitas blogger buku, dan membangun blog yang nyaman dan aktif hingga sekarang.

Cerita saya tidak penting, karena saya bukan blogger kondang seperti para kontributor di buku ini. Namun, berkat buku ini saya jadi semacam bernostalgia, sekaligus termotivasi untuk terus mengembangkan blog dan penulisan saya. Mereka yang saat ini telah merasakan hasil dari blogging selama bertahun-tahun memiliki cerita yang berbeda-beda, memiliki jalan dan caranya masing-masing, tetapi memiliki satu tujuan besar yang sama: berbagi. Bahwa dengan blogging mereka bisa mendapatkan honor, hadiah, ketenaran, promosi, dan sebagainya hanyalah bonus.

Blogger adalah anomali, sebuah deviasi eksistensial yang menembus sekat dan batas-batas nilai yang cenderung diyakini oleh masyarakat oportunis. (hal.vii)

Dari sisi penulisan, terasa sekali ‘aura blog’ dalam buku ini. Setiap blogger menulis dengan gaya uniknya masing-masing yang sangat kentara perbedaannya. Ada yang lurus, ada yang berbelok-belok, ada yang berputar-putar. Ada yang serius, ada yang ilmiah, ada yang santai, ada yang sederhana dan ada yang kompleks. Dan tentu saja jika dikaitkan masalah selera, ada yang gaya penulisannya saya suka dan tidak suka.

Secara umum, buku ini mungkin salah satu buku yang wajib dibaca semua orang, terutama para blogger, para calon blogger, para calon penulis, para penulis yang belum tahu hendak ke mana, dan siapa saja yang tertarik pada dunia perblogan maupun penulisan. Karena menulis adalah hal yang paling esensial dalam blogging, sedangkan blogging sendiri bisa menjadi salah satu sarana menulis yang memiliki banyak keuntungan.

4/5 bintang untuk blogging, salah satu hidup saya saat ini.

Review #30 for Lucky No.14 Reading Challenge category Freebies Time