Category Archives: Meme

Scene on Three (123)

Tidak mungkin menolong orang dengan mencelakakan orang lain. Tidak mungkin membangun kebudayaan dengan alasan dendam dan kebencian. Logika apa itu? Atas nama kemelaratan kamu melakukan perampokan dan mengumumkannya sebagai perang suci! (Ozone, hal.396)

Bagian yang saya ambil dari buku Orkes Madun karya Arifin C Noer ini ditulis hampir dua dekade lalu, tetapi masih relevan hingga saat ini. Buku yang sudah saya bahas di review ini memang menunjukkan berbagai fenomena sosial yang kebanyakan bisa kita tarik sejarahnya, bahkan masih kita rasakan hingga saat ini.

Kalimat di atas mewakili kegelisahan saya akan sebagian manusia hari ini yang membenarkan kejahatan atas nama kebaikan. Entah standar moral apa yang mereka pergunakan, ada hal-hal yang tidak bisa saya maklumi ataupun sepakati untuk tidak sepakat. Ada prinsip nilai yang dilanggar ketika kejahatan dibenarkan, yang menurut saya menggugurkan segala alasan yang mendasari kebaikan yang mereka tuju.

Ada masanya saya mencoba menelusuri pola pikir orang-orang semacam itu, berusaha memahami tanpa prasangka buruk, tetapi saya selalu gagal. Ada dinding tipis yang riskan untuk dilewati, yang tak ingin kulanggar, dan tak bisa kumaklumi. Mungkin, perlu sebuah pendekatan yang berbeda untuk memahaminya, atau membiarkan semuanya berjalan apa adanya, dan semaksimal mungkin menegakkan apa yang kita yakini masing-masing, lalu biarkan alam semesta yang menyeleksinya.

Bagikan link Scene on Three-mu di kolom komentar Scene on Three yang terakhir.

Advertisements

Scene on Three (122) & Refleksi Blogoversary ke-6

Sejak berabad-abad yang lalu, di seluruh dunia, Watt dan Newton pasti bukan satu-satunya orang yang pernah melihat uap keluar dari ketel berisi air mendidih dan mengamati jatuhnya apel dari pohon.
Punya mata, tapi tidak melihat keindahan; punya telinga, tapi tidak mendengar musik; punya pikiran, tapi tidak memahami kebenaran; punya hati tapi hati itu tak pernah tergerak dan karena itu tidak pernah terbakar. Itulah hal-hal yang harus ditakuti, kata Kepala Sekolah.
(p.106)

Ini adalah petikan dari buku Totto-chan (Gadis Cilik di Jendela) karya Tetsuko Kuroyanagi (1981) yang sangat mencerminkan keseluruhan isi bukunya; perenungan. Kisah Totto-chan kecil yang bersekolah di sekolah yang tak biasa, dengan Kepala Sekolah yang memilih metode yang tidak lazim di Jepang, dan bagaimana hal-hal tersebut membentuk kepribadian anak-anak. Kutipan di atas mengingatkan kita untuk membaca hal di sekeliling kita dengan kreativitas, tak terkungkung dengan kebiasaan maupun tradisi.

Begitu halnya dengan blog ini. Hari ini menandai enam tahun sejak post pertama diterbitkan di sini, dan mungkin, penurunan frekuensi blog akhir-akhir ini bukan hanya suatu fase yang nanti akan berlalu dengan sendirinya. Saya rasa ada hal-hal yang harus berubah. Selama enam tahun ini, saya bertahan dengan suatu metode mereview yang memiliki pakem sendiri, yang saya rasa merupakan kebutuhan dari sebuah resensi. Namun, pada beberapa kasus, cara ini justru menghambat saya dalam mereview. Ada buku-buku yang ingin saya review, tapi tak membuat saya bisa memikirkan hal-hal untuk melengkapi pakem review tersebut. Dari situ, tahun lalu ada Mini Reviews yang agak membantu saya dalam mereview.

Setelah saya pikirkan, mungkin saya akan membuat lebih banyak Mini Reviews, maupun jenis review lain dengan pakem yang berbeda dari kebiasaan saya, meski itu berarti mengorbankan ‘kelengkapan’ sebuah review. Dengan begitu, saya harap dengan waktu yang semakin terbatas, lebih banyak review bisa hadir di blog ini, meski hanya satu dua kalimat komentar, ataupun mungkin hanya dalam Scene on Three seperti ini. Dengan begini, mungkin harapan saya di 2018 tidak akan terlalu muluk.

Book Kaleidoscope 2017

It has become a tradition on this blog that every year I post about remarkable books or some aspects in books that I read that year. As you can see, I didn’t blog much last year, so this post become more important in order to record my good reading journey in 2017.

There are 60 books I read based on my Goodreads data (however, there are some books that aren’t on Goodreads, and MANY I haven’t finished reading), with various genres. Besides fictions, there are some nonfiction books with my preferred themes. And here are three books that feed me well:

  1. Avicenna by Aisha Khan. I always interested to know how medicine works centuries ago. Before all these guidelines and safe procedures we have today. Avicenna, or Ibnu Sina, was said to be one of the modern medicine pioneer. This thin book gave me new insights about history and society, and of course, more interest in this doctor’s life.
  2. A Short Guide to a Long Life by David B. Agus. I am a firm believer in holistic medicine, and this book, a short guide (as the title said) is an important book for everybody to read in order to gain better quality of life.
  3. Reasons to Stay Alive by Matt Haig. It is a book about depression and anxiety based on experience. The author isn’t a health practitioner, but his insights are great and have reliable data to support his opinions.

With so many books out there, I never run out of surprises and wonders. There are books I read with some intentions except of getting an extraordinary story. On the contrary, these three books are unexpectedly extraordinary:

  1. A Cruel Bird Came to the Nest and Looked In by Magnus Mills. I bought the book because of the cover, I didn’t know the author, I never heard about the book, and I wasn’t sure about the story in the synopsis. However, a book always find a way to get into its reader, right? 🙂
  2. Silver Dream by Michael Reaves & Mallory Reaves. Although there are a big Neil Gaiman’s name on the cover, he didn’t contribute in writing this second book of Interworld, that’s why I wasn’t sure. True that it isn’t as magical as Gaiman’s usual story, but it is a magical science fiction book with the science aspect so intense to awe me.
  3. Flying High by Linda Chapman. The third installment of My Secret Unicorn, I bought this because I thought a friend would be interested. I am so happy I decided to pick and reading this book. It is so fun, so warm, so classic, that reminds me of my childhood readings, although this book wasn’t really written in that era.

Here are some authors I haven’t read before, and left me curious about their other books:

  1. HAMKA, an Indonesian Islamic scholar, writers, philosopher, and activist. He himself had an interesting life story, however, I just read his novels this year, and a classic it is.
  2. Magnus Mills, the author I hadn’t heard before. His writing style is unique (based on the one book I read), it made me craving for more extraordinary journey with the strange story.
  3. Agus Noor, an Indonesia contemporary author, he writes various kind of books, but the one I read last year was a play. From a few Indonesian plays I’ve read, his is one that most enjoyable.
  4. Juan Pablo Villalobos. When I saw a friend reviewed a book from this Mexican author, I was pretty curious and as I found the book on a digital library, I didn’t hesitate to read it. It was a new experience for me to get that mindblowing character.
  5. David B. Agus, MD. As I mentioned before, I like most of his views in medicine and planning to read his other books to get some new insights.

Some of you may know that I have a strange taste in a weird and absurd book. I can take the wildest and craziest story, and enjoying it although I can’t get the whole idea of the book. And last year there are:

  1. Pingkan Melipat Jarak by Sapardi Djoko Damono. The author is famous as a poet, although he’s been writing stories for decades already. However, this novel gives an extraordinary love story, that plays with time, dream, imagination, and reality. Here is my complete review.
  2. Down the Rabbit Hole by Juan Pablo Villalobos. A novella that was written from a boy’s point of view. His father is a head of syndicate, and guess how his character be like. Unbelievably insane.

To be honest, I don’t easily fall for fictional characters. But, I have some that caught me last year:

  1. Newt Scamander (Fantastic Beasts and Where to Find Them by J.K.Rowling). Who can resist this fantastic beasts lover after seeing Eddie Redmayne potrayed him? And I was falling in love again as I read the screenplay.
  2. Ronnie Petroski (See You in the Cosmos by Jack Cheng). Well, he’s the brother of the main character. He didn’t play much important role in the beginning, and his description didn’t give a good impression. Until the part he appeared more, his quality was showing. His love for the family, big responsibility, and sacrifice truly made him more attractive.

There are some books that touched my heart and left me with too much feeling:

  1. The Tale of the Rose by Consuelo de Saint-Exupéry. This book gave me a whole new idea about love, trust, and loyalty. My review here.
  2. One by Sarah Crossan. This book is certainly not my favourite, but at some point, it broke my heart deeply.
  3. See You in the Cosmos by Jack Cheng. This book made me cry, and I couldn’t read any books for weeks after because I felt I couldn’t find anything as good as this book.

And, finally, here are my top three favourite books this year:

  1. The Tale of the Rose by Consuelo de Saint-Exupéry, a memoir of Antoine de Saint-Exupéry’s wife. It was really well-written and even it showed bitter truth, I can’t help but love it.
  2. George’s Cosmic Treasure Hunt by Lucy & Stephen Hawking. As a fan of astronomy, I found this book entertaining and educating at the same time. This is George’s second adventure, and I love it better than the first book.
  3. See You in the Cosmos by Jack Cheng. Well, there are many things I wish to say about this book. I hope I could write the review soon.

So, these are some important books I read last year. I’m happy I found some treasures even I didn’t read much (as much as I expected). So, here we go, make 2018 a better year.

Scene on Three (121): 4th Anniversary

Hari ini adalah ulang tahun keempat Scene on Three. Rasanya kok tidak afdhol kalau saya tidak membuat postingan. Sejauh ini, target blogging saya memang belum sepenuhnya tercapai, jadi ya banyak hal jadi terbengkalai. Mulanya saya mau membuat giveaway untuk edisi ini, tapi tak yakin juga akan ada yang ikut. Jadi ini sifatnya situasional ya. Jika ada yang membuat SoT pada bulan Juli ini dan menautkan linknya ke kolom komentar di bawah, akan saya pertimbangkan, bisa dicek ketentuannya di sini.

Scene kali ini saya ambil dari sebuah memoar yang sedang saya baca, karya Matt Haig yang berjudul Reasons to Stay Alive. Buku ini merupakan kisah perjuangan penulis melawan depresi dan kecemasan, bagian yang saya ambil ini ada di bab awal.

We humans might have evolved too far. The price for being intelligent enough to be the first species to be fully aware of the cosmos might just be a capacity to feel a whole universe’s worth of darkness.

Haig juga menyampaikan bahwa perkembangan teknologi menjadi era yang serba cepat kali ini tidak diikuti dengan evolusi otak dan insting manusia, sehingga semuanya menjadi sumber stres yang terus terakumulasi. Saya belum mencari referensi yang lebih ilmiah mengenai hal ini, tetapi ide ini cukup membuat saya berpikir ulang. Jika benar bahwa ignorance is bliss, rasanya saya juga berpikir dua kali untuk menjadi ignorance. Mungkin memang ini risiko menjadi manusia yang selalu ingin tahu, selalu ingin maju, tentunya kita juga dibekali kemampuan adaptasi yang hebat untuk menghadapi tantangan zaman.

Scene on Three (120): 5th Year Blogoversary

SceneOnThree

Sekian lama tidak membuat SoT, dan hari ini, bertepatan dengan 5 tahunnya blog Bacaan B.Zee ini, tampaknya saya wajib menuliskan sesuatu. Beberapa bulan lalu, saya sempat menemukan buku Albert Camus di perpustakaan kota, La Chute (1956), atau diterjemahkan menjadi Jungkir. Buku yang tampaknya sudah hilang dari peredaran, diterjemahkan Penerbit Tinta pada Oktober 2004 oleh Decky Juli Zafilus. Saya tidak mengatakan terjemahannya buruk, karena ini Camus, memang seharusnya dibaca penuh penghayatan. Namun, kesalahan saya, terlena dengan tipisnya buku ini sehingga menunda membacanya sampai mendekati jatuh tempo peminjaman. Saya (saat itu) menangkap ide besarnya, tetapi merasa melewatkan hal yang penting, karenanya saya tidak yakin mau membuat reviewnya.

Sebagai jalan tengah, saya mau berbagi beberapa scene berkesan saja. Ya, beberapa, karena ini edisi spesial blogoversary.

wp-1484317887973.jpg

Umat manusia dijadikan yakin pada alasan-alasan Anda, kesungguhan Anda, dan parahnya kesusahan-kesusahan Anda, hanya oleh kematian Anda. Selama Anda ada dalam kehidupan, kasus Anda diragukan, Anda hanya berhak mendapatkan spektisisme mereka.

wp-1484317894278.jpg

Anda sudah mati, mereka akan memanfaatkan kejadian itu untuk memberi motif-motif yang idiot atau norak pada tindakan Anda itu. Kawan yang terhormat, para martir memang harus memilih dilupakan, dicemooh, atau diperalat. Kalau dipahami, tidak bakalan.

Kematian memang seringkali meninggalkan misteri bagi kita yang masih hidup, bukan hanya masalah kapan kita menyusul mereka yang pergi lebih dulu, melainkan dengan cara apa, meninggalkan apa, dan untuk tujuan apa kematian memeluk kita. Saya pernah membaca kata seseorang bahwa kematian seringkali memunculkan yang terbaik dalam diri kita. Saat kita meninggal, orang akan membicarakan hal-hal baik tentang kita, hal buruk dan tabu dengan segera dilupakan dan dimaafkan, guna menghargai kita yang baru saja meninggalkan mereka, mungkin dengan sedikit perasaan kasihan. Hal ini senada dengan perkataan Camus di gambar pertama, bahwa segala alasan dan kesusahan kita hanya akan dipercaya setelah kita tidak ada lagi, mungkin dengan rasa kasihan juga. Akan tetapi, pemahaman tampaknya tetap merupakan hal yang mustahil. Seperti ditunjukkan pada gambar kedua, manusia akan mengarang-ngarang hal yang tak mereka pahami, alih-alih berusaha mengingat kembali apa yang belum mereka pahami. Namun, yah, semua itu masalah kita yang hidup dan ditinggalkan, bukan?

… sel bawah parit yang pada Abad Pertengahan dinamakan ketidaknyamanan. Pada umumnya, di sana Anda diabaikan demi kehidupan. Sel itu dapat dibedakan dengan yang lain-lainnya lewat dimensi-dimensinya yang penuh kejeniusan. Dia tidak cukup tinggi untuk posisi orang berdiri dan tidak cukup lebar untuk posisi orang berbaring. Orang harus bergaya terhalang, hidup menyerong; masa tidur adalah suatu posisi terjungkir, terjaga pada malam hari suatu posisi berjongkok. (p.126)

Saya harus lebih tinggi ketimbang Anda, pikiran-pikiran saya mengangkat diri saya. Malam-malam itu, tepatnya pagi-pagi itu, karena jungkir terjadi di fajar kala, saya keluar, saya pergi, dengan suatu perjalanan kaki yang geram ke sepanjang kanal-kanal. (p.165)

Karya Camus ini memang tipis, tetapi dikatakan sebagai salah satu karyanya paling menarik, karena bisa ada multitafsir dan multipersepsi di situ. Saya memilih menandai bagian yang mengandung judulnya saja untuk menunjukkan sebagian ide utamanya. Kondisi jungkir (the fall) yang mungkin diceritakannya dengan geram di sepanjang buku, diakhiri dengan sebuah kebangkitan geram yang mengajak saya untuk merenung kembali.

Pada intinya, yang membuat Camus menarik adalah bagaimana gagasannya menggelitik kira untuk berpikir. Di satu sisi kita merasa ingin setuju, tetapi di sisi lain, sepertinya terlalu riskan untuk menyetujuinya.

Untuk yang masih punya scene yang bisa dibagikan, bisa menempelkan tautannya di kolom komentar di bawah. Saya sudah punya resolusi untuk tahun ke-5 Bacaan B.Zee, semoga SoT hari ini menjadi pembuka jalan yang baik.