Category Archives: Scene on Three

Scene on Three (130) [My blog is 8 years old!]

Tahun ini, lagi-lagi ulang tahun blog ini saya rayakan dengan sekadar membuat post (meski terlambat 18 hari). Saya berterima kasih pada semua pengunjung blog ini, siapa pun Anda, yang sedikit banyak menyemangati saya untuk terus menulis.

Scene kali ini dari buku Absent in the Spring karya Mary Westmacott, buku yang saya selesaikan beberapa hari lalu, yang membuat gelombang emosional di bab-bab terakhirnya. Scene ini tidak berhubungan secara langsung dengan konflik utama buku ini, tapi menarik, karenanya, cocok untuk masuk di Scene on Three.

‘Ah but that is so English. You think it impertinent if I ask the questions that we Russians feel are so natural. It is curious that. If I were to ask you where you had been, to what hotels, and what scenery you had seen, and if you have children and what do they do, and have you travelled much, and do you know a good hairdresser in London — all that you would answer with pleasure. But if I ask something that comes into my mind — have you a sorrow, is your husband faithful–do you sleep much with men — what has been your most beautiful experience in life — are you conscious of the love of God? All those things would make you draw back — affronted — and yet they are much more interesting than the others, nicht wahr?’ (p.227-228)

Ternyata, basa-basi orang Rusia agak mendekati basa-basi orang Indonesia ya, kalau tidak bisa dibilang lebih parah, lol. Ya, sebenarnya mungkin mau bertanya apa saja itu sah-sah saja, tetapi alangkah lebih baik jika mengetahui karakteristik atau budaya orang tersebut, dan siap juga dengan konsekuensi bahwa orang tersebut akan tersinggung.

Scene on Three (129): 6th Anniversary Edition

Kembali lagi di Scene on Three, yang edisi perdananya tepat hari ini enam tahun yang lalu. Sebenarnya tak ada yang patut dirayakan sekarang, karena SoT sudah jarang sekali muncul. Tapi kalau boleh berbangga, setidaknya ada postingan lagi hari ini.

Kutipan kali ini saya ambil dari buku The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy by Douglas Adam.

‘What do you mean you’ve never been to Alpha Centauri? For Heaven’s sake, mankind, it’s only four light-years away, you know. I’m sorry, but if you can’t be bothered to take an interest in local affairs that’s your own lookout.’ (p.30)

Kalimat ini dilontarkan oleh alien yang akan menghancurkan bumi. Sebelumnya dia mengatakan bahwa pengumuman tentang hal ini sudah ada di salah satu departemen di Alpha Centauri. Ini adalah salah satu aspek yang membuat saya suka buku ini, hal-hal tak terbatas di dalamnya. Bayangkan saat manusia bumi masih bergelut dengan penerbangan ke bulan, mencari-cari jejak kehidupan di Mars, ternyata makhluk lain di luar sana sudah mencapai kemajuan yang bahkan tidak kita bayangkan.

Di samping itu, situasi ini hampir sama persis dengan yang dialami karakter utamanya, Arthur Dent, yang rumahnya akan digusur untuk proyek kota. Hanya tentu saja skalanya jauh berbeda. Namun, di luar itu, ada satu hal yang saya tangkap, mengenai relativitas. Bahwa apa yang kita anggap kecil, mungkin besar bagi orang lain, begitu pula sebaliknya. Kita tidak bisa menyamakan cara pandang orang lain dengan kita, jika masing-masing berdiri di posisi dan situasi yang berbeda.

Sama seperti apa-apa yang belakangan kerap (di)ramai(kan) di media sosial, tentang berapa gaji yang layak, harus sudah punya apa di usia sekian, kriteria macam-macam, dan segala jenis pencapaian, adalah sebuah pembicaraan yang bukan untuk disamaratakan. Latar belakang keluarga, pendidikan, tempat tinggal, jenis pekerjaan, tanggungan, adalah sedikit dari hal-hal yang membedakan kita, yang ujung-ujungnya membedakan segala apa itu di atas. Jadi ya, sebaiknya jangan berkecil hati dengan apa yang dimiliki orang lain. Karena setiap kita punya porsi masing-masing dalam kehidupan. Tak perlu juga terlalu berbangga diri jika sudah merasa mencapai dan memiliki segalanya. Malu sama alien.

Scene on Three (128)

Ada beberapa paragraf/kalimat acak dari buku Totto-chan’s Children karya Tetsuko Kuroyanagi yang akan saya bagikan di sini. Sebetulnya sudah lama juga buku ini kubaca, dan karena ada beberapa kalimat yang menarik, saya berniat untuk membuat resensinya. Namun, rupanya hal itu tidak terlaksana juga. Jadi, inilah salah satu fungsi adanya Scene on Three.

Saat para wanita mulai mengarahkan pandangan kepada masyarakat, saat itulah segala sesuatu akan mulai membaik. (p.157)

Sekali lagi, aku ingin sekali berterima kasih kepada anak-anak yang sudah menyambutku dengan hangat dan mengajariku untuk hidup dengan ketulusan hati dan tanpa mengeluh. (p.171)

Sembilan puluh persen pusat pembangkit listrik dihancurkan dengan cara sama. Aku tahu betapa banyaknya alasan untuk melakukan hal itu, tapi aku tak bisa berhenti memikirkan betapa banyaknya nyawa anak-anak dan air mata para ibu yang bisa diselamatkan jika hal semacam ini tidak terjadi. Aku akan terus mengatakannya: perang benar-benar kejam. (p.184)

Kita tidak dilahirkan untuk saling membenci, kita dilahirkan untuk saling mengasihi. (p.299)

Buku ini merangkum perjalanan penulis sebagai Duta Kemanusiaan UNICEF sekitar tahun 1984-1996. Dia memotret anak-anak korban perang, yang terjebak di daerah konflik, serta kemiskinan yang mengikutinya. Salah satu hal yang saya suka adalah, penulis menyoroti sudut pandang pada individu, bukan sekadar populasi secara statistik. Bahwa setiap anak memiliki kisahnya, dan setiap anak adalah istimewa.

Scene on Three (127) : 7th Blogoversary Edition

Saya bersyukur sekali, dengan semua yang terjadi di tahun-tahun kemarin, saya masih bisa membuat setidaknya satu post pada setiap hari jadi blog ini. Saya ingin selalu mengingat betapa blog ini dilahirkan atas dorongan cinta pada buku, dan (semoga) akan terus dirawat dengan alasan yang sama.

Scene kali ini saya ambil dari cerpen Green Tea karya Sheridan Le Fanu, yang diterbitkan dalam seri Penguin Little Black Classics.

I believe that the essential man is a spirit, that the spirit is an organized substance, but as different in point of material from what we ordinarily understand by matter, as light or electricity is; that the material body is, in the most literal sense, a vesture, and death consequently no interruption of the living man’s existence, but simply his extrication from the natural body — a process which commences at the moment of what we term death, and the completion of which, at furthest a few days later, is the resurrection ‘in power.’ (p.7-8)

Mengingat kisah ini pertama dipublikasikan pada tahun 1872, maka tentu ada perbedaan pemahaman pada zaman tersebut, terlepas dari apa yang diyakini penulis. Secara umum topik ini memang sangat menarik, dan bisa menjadi berbagai penafsiran, tergantung dari sisi keilmuan yang mana kita membahasnya.

Scene on Three (126)

Menjadi perempuan tak pernah mudah, bahkan di zaman sekarang. Berabad-abad perempuan melakukan ‘perlawanan’ untuk memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki, mendapat hak yang sama, dipandang sebagai manusia yang setara—bukan inferior. Namun, kadang kala perjuangan ini bisa dimentahkan kembali, bukan hanya oleh laki-laki, tapi oleh perempuan itu sendiri. Mereka yang mengkritisi pilihan perempuan lain, menganggap hanya ada satu jalan untuk perempuan, menganggap tabu jika perempuan punya kemampuan lebih dibanding lelaki.

Kebetulan beberapa waktu terakhir saya membaca beberapa buku yang mengangkat tentang hal ini, salah satunya adalah A Golden Web karya Barbara Quick. Kisah berlatar abad ke-14 ini mengisahkan seorang perempuan cerdas—yang rasa ingin tahunya sangat besar—hingga dia harus menyamar menjadi lelaki demi bisa belajar di sekolah kedokteran. Kesempatan yang saat ini sangat terbuka lebar. Perempuan hari ini bebas bisa menjadi apa saja, tetapi selalu ada yang ingin mundur.

Hari ini, di Indonesia, masih ada orang-orang yang mengkritisi perempuan yang bersekolah tinggi dan menekuni profesinya. Katanya kodrat perempuan itu di rumah, membesarkan anak. Apakah sekolah dan karir menghambat hal itu? Jika dalam Islam dikatakan bahwa ibu adalah madrasah pertama, dan madrasah pertama akan menentukan kualitas anak ke depannya, maka seorang ibu tentu harus cerdas. Ibu yang cerdas dan berpendidikan akan menjamin anak-anak mereka mendapatkan pendidikan pertama yang berkualitas tinggi. Lalu, kita yang fana ini apakah bisa menjamin apa yang terjadi di masa depan, jika para ayah tak mampu menjamin keuangan keluarga, atau bahkan meninggal dunia, apakah perempuan harus pasrah begitu saja menanti untuk dinikahi kembali demi bisa ‘hidup’?

Apa pilihan seorang perempuan selain menjadi biarawati atau istri? Para janda sering kali bisa dan mampu menggantikan pekerjaan suami mereka. Namun, tidak ada perempuan yang benar-benar memiliki profesi tertentu—kecuali, mungkin, seorang pelayan. (p.138-139)

Jika seorang perempuan mau dan mampu, kenapa harus dibatasi atas nama kodrat? Terlebih dalam A Golden Web ini, sang perempuan digambarkan lebih cerdas ketimbang rata-rata lelaki yang ditemuinya. Perempuan ini bahkan melakukan percobaan penting yang membuktikan teori yang penting bagi umat manusia di kemudian hari.

Sampai hari ini, coba kita hitung banyaknya perempuan yang menemukan, menjelajah, bereksperimen, dan memberikan manfaat bagi dunia ini. Jumlahnya tentu banyak—dan mungkin lebih banyak seandainya perempuan punya kesempatan yang sama sejak awal. Jika tidak ada mereka, apakah dunia kita akan seperti ini sekarang?

Banyak yang menganggap bahwa perjuangan perempuan itu bertujuan untuk menyaingi para lelaki. Padahal, hal itu sesederhana para laki-laki yang memiliki ambisi. Kenapa perempuan tidak boleh memiliki ambisi, tanpa dianggap berusaha menihilkan para lelaki? Seharusnya kita saling mendukung, sesuai dengan kemampuan masing-masing, tak peduli apa jenis kelaminnya.

“Dia berkata, ‘Keberanian seorang lelaki tampak dalam caranya memerintah, dan keberanian seorang perempuan tampak dalam caranya mematuhi.’ Jika memakai penilaian itu, Otto, aku ini seorang pengecut.”
“Kalau begitu, berdasarkan penilaian itu juga, Sayangku, aku ini seorang perempuan—karena aku siap mematuhi segala perintahmu.”
(p.259)

Kenapa kita berusaha mundur ke belakang, dan mengulang sejarah kelam yang menenggelamkan potensi setengah populasi dunia?

Apa itu Scene on Three?

Baca juga tulisan saya tentang dilema penulis perempuan di Jurnal Ruang.