Category Archives: Scene on Three

Scene on Three (121): 4th Anniversary

Hari ini adalah ulang tahun keempat Scene on Three. Rasanya kok tidak afdhol kalau saya tidak membuat postingan. Sejauh ini, target blogging saya memang belum sepenuhnya tercapai, jadi ya banyak hal jadi terbengkalai. Mulanya saya mau membuat giveaway untuk edisi ini, tapi tak yakin juga akan ada yang ikut. Jadi ini sifatnya situasional ya. Jika ada yang membuat SoT pada bulan Juli ini dan menautkan linknya ke kolom komentar di bawah, akan saya pertimbangkan, bisa dicek ketentuannya di sini.

Scene kali ini saya ambil dari sebuah memoar yang sedang saya baca, karya Matt Haig yang berjudul Reasons to Stay Alive. Buku ini merupakan kisah perjuangan penulis melawan depresi dan kecemasan, bagian yang saya ambil ini ada di bab awal.

We humans might have evolved too far. The price for being intelligent enough to be the first species to be fully aware of the cosmos might just be a capacity to feel a whole universe’s worth of darkness.

Haig juga menyampaikan bahwa perkembangan teknologi menjadi era yang serba cepat kali ini tidak diikuti dengan evolusi otak dan insting manusia, sehingga semuanya menjadi sumber stres yang terus terakumulasi. Saya belum mencari referensi yang lebih ilmiah mengenai hal ini, tetapi ide ini cukup membuat saya berpikir ulang. Jika benar bahwa ignorance is bliss, rasanya saya juga berpikir dua kali untuk menjadi ignorance. Mungkin memang ini risiko menjadi manusia yang selalu ingin tahu, selalu ingin maju, tentunya kita juga dibekali kemampuan adaptasi yang hebat untuk menghadapi tantangan zaman.

Advertisements

Scene on Three (120): 5th Year Blogoversary

SceneOnThree

Sekian lama tidak membuat SoT, dan hari ini, bertepatan dengan 5 tahunnya blog Bacaan B.Zee ini, tampaknya saya wajib menuliskan sesuatu. Beberapa bulan lalu, saya sempat menemukan buku Albert Camus di perpustakaan kota, La Chute (1956), atau diterjemahkan menjadi Jungkir. Buku yang tampaknya sudah hilang dari peredaran, diterjemahkan Penerbit Tinta pada Oktober 2004 oleh Decky Juli Zafilus. Saya tidak mengatakan terjemahannya buruk, karena ini Camus, memang seharusnya dibaca penuh penghayatan. Namun, kesalahan saya, terlena dengan tipisnya buku ini sehingga menunda membacanya sampai mendekati jatuh tempo peminjaman. Saya (saat itu) menangkap ide besarnya, tetapi merasa melewatkan hal yang penting, karenanya saya tidak yakin mau membuat reviewnya.

Sebagai jalan tengah, saya mau berbagi beberapa scene berkesan saja. Ya, beberapa, karena ini edisi spesial blogoversary.

wp-1484317887973.jpg

Umat manusia dijadikan yakin pada alasan-alasan Anda, kesungguhan Anda, dan parahnya kesusahan-kesusahan Anda, hanya oleh kematian Anda. Selama Anda ada dalam kehidupan, kasus Anda diragukan, Anda hanya berhak mendapatkan spektisisme mereka.

wp-1484317894278.jpg

Anda sudah mati, mereka akan memanfaatkan kejadian itu untuk memberi motif-motif yang idiot atau norak pada tindakan Anda itu. Kawan yang terhormat, para martir memang harus memilih dilupakan, dicemooh, atau diperalat. Kalau dipahami, tidak bakalan.

Kematian memang seringkali meninggalkan misteri bagi kita yang masih hidup, bukan hanya masalah kapan kita menyusul mereka yang pergi lebih dulu, melainkan dengan cara apa, meninggalkan apa, dan untuk tujuan apa kematian memeluk kita. Saya pernah membaca kata seseorang bahwa kematian seringkali memunculkan yang terbaik dalam diri kita. Saat kita meninggal, orang akan membicarakan hal-hal baik tentang kita, hal buruk dan tabu dengan segera dilupakan dan dimaafkan, guna menghargai kita yang baru saja meninggalkan mereka, mungkin dengan sedikit perasaan kasihan. Hal ini senada dengan perkataan Camus di gambar pertama, bahwa segala alasan dan kesusahan kita hanya akan dipercaya setelah kita tidak ada lagi, mungkin dengan rasa kasihan juga. Akan tetapi, pemahaman tampaknya tetap merupakan hal yang mustahil. Seperti ditunjukkan pada gambar kedua, manusia akan mengarang-ngarang hal yang tak mereka pahami, alih-alih berusaha mengingat kembali apa yang belum mereka pahami. Namun, yah, semua itu masalah kita yang hidup dan ditinggalkan, bukan?

… sel bawah parit yang pada Abad Pertengahan dinamakan ketidaknyamanan. Pada umumnya, di sana Anda diabaikan demi kehidupan. Sel itu dapat dibedakan dengan yang lain-lainnya lewat dimensi-dimensinya yang penuh kejeniusan. Dia tidak cukup tinggi untuk posisi orang berdiri dan tidak cukup lebar untuk posisi orang berbaring. Orang harus bergaya terhalang, hidup menyerong; masa tidur adalah suatu posisi terjungkir, terjaga pada malam hari suatu posisi berjongkok. (p.126)

Saya harus lebih tinggi ketimbang Anda, pikiran-pikiran saya mengangkat diri saya. Malam-malam itu, tepatnya pagi-pagi itu, karena jungkir terjadi di fajar kala, saya keluar, saya pergi, dengan suatu perjalanan kaki yang geram ke sepanjang kanal-kanal. (p.165)

Karya Camus ini memang tipis, tetapi dikatakan sebagai salah satu karyanya paling menarik, karena bisa ada multitafsir dan multipersepsi di situ. Saya memilih menandai bagian yang mengandung judulnya saja untuk menunjukkan sebagian ide utamanya. Kondisi jungkir (the fall) yang mungkin diceritakannya dengan geram di sepanjang buku, diakhiri dengan sebuah kebangkitan geram yang mengajak saya untuk merenung kembali.

Pada intinya, yang membuat Camus menarik adalah bagaimana gagasannya menggelitik kira untuk berpikir. Di satu sisi kita merasa ingin setuju, tetapi di sisi lain, sepertinya terlalu riskan untuk menyetujuinya.

Untuk yang masih punya scene yang bisa dibagikan, bisa menempelkan tautannya di kolom komentar di bawah. Saya sudah punya resolusi untuk tahun ke-5 Bacaan B.Zee, semoga SoT hari ini menjadi pembuka jalan yang baik.

Scene on Three (119) : An Evolution

SceneOnThree

“And anyway,” continued Miss Flora, “all this making a fuss about things because someone wore or used them seems to me all nonsense. They’re not wearing or using them now. That pen that George Eliot wrote The Mill on the Floss with—that sort of things—well, it’s only a pen after all. If you’re really keen on George Eliot, why not get The Mill on the Floss in a cheap edition and read it.” (The Murder of Roger Ackroyd by Agatha Christie; p.30)

Saya termasuk orang yang mudah terpengaruh oleh ‘bungkus’, termasuk Scene on Three ini sejak awal sudah saya buatkan ‘bungkus’ yang penuh makna secara personal. Maka dari itu, kalimat Flora Ackroyd di atas cukup menyindir juga. Apalagi terkadang situasi tidak mengizinkan kita untuk mempertahankan ‘bungkus’ itu selamanya. Mungkin saja pena yang dipergunakan George Eliot itu rusak, lalu malah jadi tidak berfungsi sama sekali. Siapa tahu di bab lima Eliot mempergunakan pena yang lain karena penanya yang itu terselip. Pun jika penanya diganti, kemungkinan The Mill on the Floss menjadi karya yang berbeda itu sangat kecil sekali. Satu-satunya yang dilakukan oleh pena itu adalah menghubungkan pemikiran Eliot dengan dunia, mungkin dia dipilih karena nyaman dipergunakan, atau hanya kebetulan saja pena itu yang terpilih.

Jadi karena saya, sekali lagi, masih sayang dengan Scene on Three karena alasan saya membuatnya sejak awal, tetapi kondisi saya pun ternyata sudah sulit untuk post rutin, bahkan sebulan sekali, dengan terpaksa saya mengorbankan ‘bungkus’ yang sudah saya buat. Jika kalian–para pembaca dan pengunjung blog ini, para pengikut SoT baik yang baru atau lama, yang rutin maupun yang temporer–ingin membuat SoT seperti biasa, silakan memasukkan link kalian di kolom komentar SoT manapun yang kalian temukan. Karena mulai hari ini, saya hanya akan berbagi tanpa ketentuan apa-apa, termasuk waktu. Dua hal yang tetap saya pertahankan adalah scene dan three, dua kata yang ada di judulnya. Artinya, saya akan memposting scene yang menarik untuk saya tepat pada tanggal berunsur angka tiga, tetapi tidak terbatas harus setiap tanggal berapa atau setiap berapa lama.

Saya tahu, perubahan SoT sejak lebih dari setahun lalu, dimana saya mulai tidak rutin blogwalking hingga tidak rutin posting membuat meme ini dengan sendirinya jadi mati. Namun, saya menolak untuk menguburnya, saya akan meletakkannya di kotak kaca, menjadikannya masih terlihat, tanpa memaksanya bekerja terlalu keras.

Scene on Three (118)

SceneOnThree

Dia tak pernah tertipu oleh penampilan luar, dan dia tetap berdiam diri ketika orang-orang berusaha membuatnya terkesan. Dan dia menggunakan kesempatan ini untuk memperbaiki kesalahan-kesalahannya, sebab orang-orang lain telah menjadi cermin yang sangat baik baginya.
Seorang kesatria memanfaatkan setiap kesempatan untuk mengajari dirinya sendiri.
(p.21)

Scene di atas dari Kitab Suci Kesatria Cahaya karya Paulo Coelho. Entah mengapa saya menunda membaca buku ini begitu lama. Setelah saya merasa ‘butuh inspirasi’ beberapa waktu lalu, barulah saya memilih buku Coelho untuk dibaca. Buku ini, seperti judulnya, memang semacam manual untuk menjalani hidup yang maksimal.

Kalau kata orang, pengalaman adalah guru yang paling berharga. Namun saya percaya untuk beberapa hal, lebih baik kita tidak mengalaminya sendiri. Karena itulah saya banyak mendengar dan mengamati kehidupan orang lain, termasuk melalui membaca. Karena itu juga, saya selalu menilai penting bahwa suatu buku harus realistis dan logis, termasuk fiksi, termasuk fantasi. Saya tidak menganut paham bahwa alur yang tidak logis boleh dimaafkan karena itu “hanya fiksi”.

Omong-omong, hari ini bertepatan dengan tiga tahun usia SoT. Jadi, saya ingin sedikit memberi hadiah kejutan untuk teman-teman yang rutin membaca post SoT meskipun tidak ikut memasukkan link. Semacam ingin tahu juga, seberapa banyak sih sebenarnya silent reader di sini. Caranya cukup meninggalkan alamat email/akun twitter/akun instagram yang aktif di kolom komentar di bawah, untuk nantinya saya hubungi.

Sementara itu, saya masih menunggu scene-mu hari ini, dan hari-hari berunsur tiga sebulan ke depan, caranya:

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya dari buku pilihan kalian ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

Link 13 Juli 2016

Link 23 Juli 2016

Link 30-31 Juli 2016

Link 3 Agustus 2016

Scene on Three (117)

SceneOnThree

Menurut dongengnya zaman kita yang serba efisien ini dibangun oleh manusia-manusia yang cacat, manusia-manusia yang tidak lengkap dan zaman ini adalah zamannya pemarah-pemarah. Rupanya badut-badut zaman pertengahan dahulu telah menciptakan lakon banyolan yang penuh darah dengan perlengkapan panggung yang tidak tanggung-tanggung. Kalau badut-badut itu mampu bangkit lagi dari kuburnya pasti mereka akan meminta maaf kepada kita semua, tapi mereka tidak akan pernah bangkit lagi dan karenanya mereka tidak perlu minta maaf. Kita yang sekarang diperlukan oleh zaman ini. Kita manusia. Kedudukan kita sedang gawat karena mendapat saingan luar biasa dari bayangan kita sendiri yang bernama komputer dan sejenisnya. Bahkan peperangan antara kita pada suatu hari tanpa kita sadari digerakkan oleh mereka! Dan dibalik mereka adalah badut-badut dan anak cucu mereka yang bernama materialisme yang produknya adalah kemiskinan dan kekafiran. (hal.281)

Scene kali ini masih saya ambil dari Orkes Madun karya Arifin C Noer. Dialog (atau monolog) itu menunjukkan gambaran buku ini secara umum menurut saya; kalimat-kalimat yang tak jelas arahnya, terkesan melantur, tetapi pada hakikatnya penuh dengan sindiran dan filosofi. Kalimat-kalimat semacam ini banyak saya temukan dalam naskah drama ini, bahkan sebagian lebih sulit dipahami ketimbang contoh di atas. Namun semakin lama memang saya semakin bisa mengapresiasi karya penulis yang satu ini.

Bagikan scene-mu hari ini, dan hari-hari berunsur tiga sebulan ke depan, caranya:

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya dari buku pilihan kalian ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

Link 13 Juni 2016

Link 23 Juni 2016

Link 30 Juni 2016

Link 3 Juli 2016