2018 in Review and 2019 Plan

Tahun 2018 meninggalkan cukup banyak kesan pada proses membaca saya. Meski pencapaian saya segitu-segitu saja, yang penting saya menikmati dan mendapatkan manfaat darinya. Awal tahun lalu, saya memasang target yang tak muluk. Selain target baca di Goodreads, tiga hal yang saya rencanakan berhasil terlaksana semua.

1. Membaca minimal 1 (satu) buku dari timbunan dengan jumlah halaman lebih dari 500 (lima ratus).

The Help by Kathryn Stockett, yang saya beli sekitar 2012-2013.

2. Menulis setidaknya 3 (tiga) esai yang sempat saya rencanakan. Minimal di blog, syukur-syukur kalau bisa di media (online).

Sepertinya masih sulit menulis jika tidak ada target, untungnya saya mendapat kesempatan menulis di Jurnal Ruang, sehingga menambah motivasi untuk segera menyelesaikannya. Tepat ada tiga artikel yang terbit tahun 2018:

3. Mengisi/mengelola acara luring tentang buku, setidaknya sekali.

Saya membuat sebuah pertemuan berbagi mengenai membaca buku dalam bahasa Inggris. Sebenarnya pesertanya sangat antusias, saya hampir membuat sebuah komunitas, tapi karena satu dan lain hal, belum sempat follow up kembali.

Untuk The Classics Club tampaknya masih menjadi cita-cita, sedangkan CLRP tetap berjalan karena buku anak sering merupakan pelarian saya saat reading slump.

Bicara tentang blogging, ada sebuah pencapaian yang cukup membanggakan tahun lalu. Bukan mengenai kuantitas, tapi kualitas. Karena saya cukup jarang membaca buku baru, maka novel Sapardi Djoko Damono yang saya ikuti saat itu, Yang Fana Adalah Waktu, tak saya sia-siakan untuk diikutkan ke Resensi Pilihan Gramedia. Sebetulnya saya menang bukan karena resensi saya bagus, tapi ya memang ada strateginya. Singkat cerita, review itu terpilih, dan dari hadiah yang saya ajukan, saya mendapatkan buku Gentayangan karya Intan Paramaditha dan Alih Wahana dari penulis yang sama. Lalu, kebetulan setelahnya ada sayembara resensi Gentayangan dari penulisnya. Untungnya saya masih bisa mengejar membuat resensinya, dan termasuk dalam salah satu pemenang hadiah hiburan. Buku yang beranak-pinak begini yang membuat saya semakin bersemangat menulis.

Untuk tahun 2019 ini, target baca saya di Goodreads masih sama, 55 buku. Dan ada kemungkinan berubah jika terjadi sesuatu di tahun ini. Sedangkan untuk target lain, mungkin ini agak sulit diukur, tapi saya ingin merombak isi lemari buku saya. Buku-buku yang sudah lama tertimbun harus mulai dikurangi, entah dipindahkan ke rak sudah dibaca, atau dikeluarkan sama sekali jika memang tidak ingin dibaca. Saya juga ingin merapikan koleksi sehingga lebih enak dilihat, menimbulkan kebahagiaan dan kepuasan saat saya memandanginya.

Sejujurnya banyak buku yang saat ini berada di rak akan dibaca dibeli karena harga murah dan rasa ingin tahu saja. Saya masih ingin membacanya, tapi tak yakin ingin mengoleksinya. Jadi setelah semuanya terbaca, saya inginnya rak buku saya benar-benar berisi buku yang saya sukai dan ingin saya koleksi.

Tentunya menghabiskan timbunan adalah hal mustahil dilakukan dalam satu tahun. Namun, karena belakangan saya relatif lebih selektif dalam membeli buku, dan beberapa ada dalam bentuk digital, cukup berubah profilnya saja.

Advertisements

Book Kaleidoscope 2018

The year 2018 has been a quite nice year for my reading life. I didn’t read more than I did the previous year, but the journey was satisfying. As I said in my Instagram, I want to modify my TBR pile (ganti tahun ganti timbunan). Because there are so many books I bought 3++ years before that I haven’t read. I pick as many old TBR as I can, so I could change the appearance of my bookshelves and become less stressful about it. However, the temptation of new books is unbearable, new TBR are inevitable. So, without guilty, there will be much more to read.

In 2018, I read 60 books from my target of 55 books. Here is the record in Goodreads. As usual, I read from various genres, although I read less classics than I used to. Here are lists of impressive things in my readings in 2018 (by reading time sequence).

Anticipated Sequel:

  1. Yang Fana Adalah Waktu by Sapardi Djoko Damono is the last book of trilogy by a well-known senior poet and author in Indonesia. His readers are either love this series or hate it, because of his different style. Some said it’s too old-fashioned, but for me, it contains many experiments, which I found interesting.
  2. Lethal White by Robert Galbraith, the fourth installment of Cormoran Strike series, is worth the wait. Although I prefer the third book, this book keeps being a great read.
  3. Eternity’s Wheel by Michael & Mallory Reaves. After surprisingly good sequel, I pick this third book with higher expectation. It’s not better that the second book, but I can close the book with enough satisfaction.PhotoGrid_1546328495774.jpg

Pastiche/Adaptation:

  1. The Return of the Young Prince by A. G. Roemmers. This book is meant to be the sequel of a masterpiece from Antoine de Saint-Exupery, The Little Prince. I won’t compare them, since I don’t put my expectation that high. I found the characters are annoying, but I like many of their conversations and the general idea.
  2. A Study in Charlotte by Brittany Cavallaro. The story about Sherlock Holmes and John Watson great-great-great grandchildren. I ‘read’ the audiobook version of it, which was a new experience to me. I can’t quite accept Holmes stories other than Doyle’s, but over all, it’s okay for a YA fiction.
  3. The Comical Tragedy or Tragical Comedy of Mr. Punch by Neil Gaiman. As an Asian that lives in Asia, I’m not familiar with Punch and Judy puppet play. The first time I heard about it was in Dickens book, and I couldn’t understand how that kind of show is for children. Reading this book added my puzzlement, until I searched the show on YouTube, and yeah, I may understand a bit.PhotoGrid_1546329853632.jpg

Authors I Long to Read:

There are so many authors I want to read but haven’t had the chance, or haven’t found the right book. Here are some names I was curious about:

  1. Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (Di Tanah Lada), Indonesian young author. She gained some awards that are quite an achievement for a 20-something year old. I definitely won’t stop just reading one of her books, for she’s also writing across genres.
  2. Ursula K Le Guin (Catwings & Catwings Return). Some years ago, I failed reading her novel because of the bad timing. Reading these two books may not represent her writing fully, but at least I’ve read her.
  3. Terry Pratchett (The Carpet People). I have bought some of his Discworld series, but haven’t read it because apparently, I didn’t buy it in the right order. Luckily, I got the chance to read his first story first.
  4. Anton Chekhov (Gooseberries).
  5. Sheridan Le Fanu (Green Tea).

These two classics I read from Penguin Little Black, an excuse to collect them.PhotoGrid_1546330185365.jpg

Books I Would Recommend:

  1. Laut Bercerita by Leila S. Chudori, Indonesian politic fiction. The setting is around 1990s, around Reformation 1998, when university students were starting the protests. It’s a heartbreaking story about the students that were being ‘vanished’ by a special force military, and their families left behind. At that time, the country was governed by one president for more than 30 years. Of course, it was far from democratic. This book is important because today, people that were involved in those past sins are trying to rule this country again. And our younger generation need to know the hidden history about human rights violations that happened in the past.
  2. Good Night Stories for Rebel Girls by Elena Favilli & Francesca Cavallo. A mini biography of 100 powerful and wonderful women, with great illustrations from women illustrators all over the world. The stories are simple and suitable for younger readers. It’s great for young girls to have women representations of their dreams.
  3. Monster Kepala Seribu (Indonesian translation of Un Monstruo de mil Cabezas) by Laura Santullo. I strongly recommend this book for all health care policy makers. It’s about a woman doing everything (even breaking the law) to make certain that her husband getting cure for his terminal illness. The politics of health insurance and policies are being the center of problem that would ruin people’s life.
  4. Aroma Karsa by Dee Lestari. Indonesian fiction again, a story about perfume makers in search for an ultimate formula. It involves hyperosmia, historical and cultural events. It’s a very exciting stories that makes 700+ pages didn’t feel so thick.
  5. Gentayangan by Intan Paramaditha. Another Indonesian page-turner adventure. This book has pick your own adventure format. A story about a woman seeking for an adventure, but have to make an agreement with the devil. The adventures could be disastrous, astonishing, or mundane, depends of the choice we (readers) take. I read somewhere that this book is going to be translated in English.PhotoGrid_1546329390854.jpg

Favourite Books:

  1. The Great Trouble by Deborah Hopkinson. This book had been on my wishlist for quite some time, but I didn’t prioritize to buy. Until one day I decided to order it online and read it, I was so grateful to find this splendid book. I love it as a health professional, because the author could incredibly deliver the concept of epidemiology in a middle grade book. The concept that maybe not all adults know.
  2. The Tale of Despereaux by Kate DiCamillo. Another heart-warming stories from an axceptional author.
  3. The Help by Kathryn Stockett. This is quite a masterpiece, and I’m sure it would be a classic, and still relevant long after.PhotoGrid_1546329643437.jpg

Of course there are still many good books I discovered last year. And I hope I could find more this year.

The Help – Kathryn Stockett

8171838Title : The Help
Author : Kathryn Stockett (2009)
Translator : Barokah Ruziati
Publisher : Penerbit Matahati
Edition : Cetakan pertama, Mei 2010
Format : Large paperback, 545 pages

Buku ini disusun dengan tiga sudut pandang orang pertama. Aibileen, pembantu kulit hitam di rumah Elizabeth Leefolt. Dia adalah salah satu yang dituakan dalam lingkungan kulit hitam, relatif fasih, terutama saat menulis doa-doanya. Aibileen, seperti umumnya pembantu kulit hitam saat itu, selain mengerjakan pekerjaan rumah tangga, juga mengasuh anak-anak kulit putih, sampai tiba saatnya mereka cukup besar untuk mandiri. Mae Mobley Leefolt tak berbeda dari anak-anak lain yang diasuhnya sebelumnya, kecuali bahwa Miss Leefolt hampir tak bisa mengurus anak. Mae Mobley adalah anak istimewa Aibileen, dan dia bertekad ‘menanamkan’ sesuatu pada anak itu selagi dia masih ‘buta warna’.

Pada masa itu, di tahun 1960an, segregasi warna kulit masih ada di beberapa wilayah Amerika Serikat, terutama di bagian selatan, dan yang paling parah (bahkan mungkin sampai sekarang) adalah di Mississippi—setting buku ini. Di kota Jackson ini, seorang kulit hitam bisa dipukuli hingga meninggal hanya karena salah masuk ke kamar mandi khusus kulit putih, dan tak ada yang membelanya.

Sudut pandang kedua adalah Minny, pembantu sahabat Aibileen yang ceplas-ceplos, dan sering mendapat masalah karena mulutnya, meski masakannya terkenal paling enak. Sebelumnya dia bekerja untuk Hilly Holbrook, tetapi karena suatu hal dia dipecat dan seluruh nyonya kulit putih di Jackson tak ada yang berani mempekerjakannya, karena pengaruh Hilly dan kedudukannya yang terpandang. Berkat Aibileen, Minny bisa bekerja untuk Celia Foote—orang kulit putih yang berasal dari daerah pedesaan, yang ‘berbeda’ dari nyonya kulit putih di sana. Selain itu, dia juga menikahi mantan kekasih Hilly, sehingga otomatis dia menjadi terkucilkan di kota kecil yang sangat segan kepada Hilly.

Sedangkan sudut pandang ketiga adalah Eugenia ‘Skeeter’ Phelan, sahabat Elizabeth dan Hilly, seorang kulit putih yang digambarkan tidak memenuhi standar kecantikan wanita pada masa itu. Dia juga tergolong memiliki pemikiran yang cukup maju, suka menulis, dan tidak seperti perempuan seusianya pada masa itu, dia belum menikah dan sulit dekat dengan laki-laki karena pola pikirnya yang berbeda. Skeeter adalah satu-satunya perempuan kulit putih yang secara terang-terangan berani  menentang Hilly—terlepas dari hubungan mereka yang dekat, dan tetap mendapatkan masalah karenanya. Salah satu hal yang ditentangnya adalah ide Hilly mempengaruhi semua keluarga di Jackson untuk memiliki kamar mandi khusus pembantu, sehingga para tamu kulit putih tak harus berbagi kamar mandi dengan para pembantu kulit hitam.

Berbagai hal yang terjadi menggelitik Skeeter untuk menulis mengenai kehidupan para pembantu kulit hitam, bagaimana para nyonya kulit putih memperlakukan mereka, dan bagaimana perasaan mereka yang sebenarnya. Untuk itu, dia memerlukan bantuan, dan melalui Aibileen, satu per satu rahasia dibagikan. Mereka menghadapi risiko yang sangat besar, dengan taruhan keamanan, bahkan nyawa.

Hubungan antar manusia dan kejadian saling terjalin dengan apik, menghasilkan sebuah buku yang kompleks tetapi mengalir dan tidak membosankan. Saya suka segala hal tentang buku ini; alurnya, ketegangannya, karakter-karakternya yang bulat utuh, serta riset yang dilakukan penulis akan kondisi pada masa itu. Buku ini juga menyuguhkan berbagai emosi; pahit, manis, kocak, sedih, bahagia, terharu, bangga, marah, kecewa, kasih. Buku yang sangat indah, dan salah satu yang wajib dibaca setiap orang, agar kita bisa lebih menghargai sesama manusia, terlepas dari warna kulit, latar belakang, dan keyakinannya.

Membaca buku ini tak hanya membuka tabir sejarah masa lalu, tetapi sedikit banyak juga mengingatkan akan kondisi saat ini. Baik itu di Amerika Serikat, maupun di Indonesia, bahkan mungkin di banyak tempat di seluruh dunia, praktik-praktik rasisme dan segregasi sosial masih banyak kita temukan. Memang sulit untuk melihat manusia sebagai manusia saja, tanpa embel-embel identitas, terlebih jika hal ini dilestarikan dari generasi ke generasi. Sebuah generasi yang rasis, akan menghasilkan keturunan yang rasis, begitu seterusnya. Butuh pengaruh yang sangat besar untuk mengubahnya. Entah sampai kapan kita bermimpi hidup dalam masyarakat inklusif, dan Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya menjadi slogan semata.

You is kind. You is smart. You is important.

Lethal White – Robert Galbraith

Lethal White (Cormoran Strike, #4)Title : Lethal White (Cormoran Strike #4)
Author : Robert Galbraith (2018)
Publisher : Mulholland Books / Little, Brown and Company
Edition : First edition, September 2018
Format : Large paperback, 650 pages

Setelah kasus Shacklewell Ripper yang diceritakan di buku ketiga, kantor detektif Cormoran Strike kebanjiran pekerjaan. Hal ini membantu Cormoran dan Robin menjaga keberlangsungan neraca yang seimbang agar bisa bekerja dengan tenang, tapi di sisi lain, pemberitaan media menyulitkan pekerjaan mereka yang seringkali harus menyamar dan bersembunyi dari sasaran mereka. Kedua partner ini harus selektif memilih klien yang sesuai dengan visi dan misi mereka, sembari tetap memperhatikan bayaran yang prospektif. Karena alasan-alasan ini, mereka perlu dan mampu mempekerjakan mitra detektif lain, yang bisa membantu terutama dalam masalah penyamaran.

Suatu hari, Cormoran kedatangan seorang dengan gangguan jiwa bernama Billy, yang mengungkit sesuatu mengenai pembunuhan di masa kecilnya. Kunjungan singkat ini mengganggu pikiran Cormoran, sehingga dia memutuskan menggali lebih lanjut, meski petunjuk yang ditinggalkan sangat minim. Penelusuran Strike membawanya ke Jimmy Knight, seorang aktivis kiri. Secara kebetulan (atau bukan kebetulan) di waktu yang berdekatan, dia diminta Jasper Chiswell—Menteri Kebudayaan—untuk menangani pemerasan yang dialaminya. Kasus ini berhubungan dengan Jimmy Knight dan suami dari Menteri Olahraga. Di samping bayaran yang tinggi, kasus ini juga membawanya ke kasus Billy.

“One cannot be held accountable for unintended consequences.” (p.102)

Kali ini Robin mendapat porsi besar dalam pekerjaan ini. Dia ditugaskan menyamar ke Istana Westminster sebagai pegawai magang di kantor Chiswell. Sesuai dengan janji Cormoran sebelumnya, bahwa Robin akan diposisikan sebagai partner, bukan hanya sekretaris. Meski mengandung risiko, pekerjaan semacam ini memang selalu diimpikan Robin. Bahkan walau saat ini kondisi mentalnya masih kurang baik, akibat trauma yang dialaminya pada kasus Shacklewell Ripper.

Perlahan tapi pasti, tim detektif Strike mengupas kasus yang rumit ini, yang berujung, berpangkal, dan berjalin dengan banyak kejadian di masa lalu, orang-orang yang pernah mereka kenal sebelumnya (termasuk Charlotte), rahasia-rahasia yang tak ingin diungkapkan, dan kasus pembunuhan yang baru. Dengan ketegangan, tantangan, bahaya, kejutan, seperti umumnya cerita detektif (yang bagi Cormoran termasuk beberapa kali gangguan di kakinya).

“The client doesn’t get to tell me what I can and can’t investigate. Unless you want the whole truth, I’m not your man.”
“You are, I know you’re the best, that’s why Papa hired you, and that’s why I want you.”
“Then you’ll need to answer questions when I ask them, instead of telling me what does and doesn’t matter.”
(p.313)

Saya tidak menyangkal bahwa salah satu daya tarik dari serial ini adalah bunga-bunga hubungan Cormoran dan Robin. Hubungan semacam ini mungkin cukup klise di buku roman, tetapi penulis berhasil meramunya menjadi sesuatu yang sangat diinginkan pembaca. Chemistry kedua partner ini begitu kuat, sehingga tidak bisa tidak saya merestui hubungan ini. Beberapa bagian cukup membuat gemas, tetapi karena status Robin sudah menjadi istri Matthew, tentunya kita perlu bersabar untuk mencapai ke tingkat yang lebih.

Hubungan Robin dan Matthew sejak pembukaan buku ini sudah tak harmonis lagi—agak terlambat karena kejadiannya di hari pernikahan mereka, tepat saat itu kebenaran tentang Matthew terbuka di hadapan Robin. Kejadian di hari pernikahan itu buat saya sudah menjadi sebuah kisah tersendiri, karena begitu banyak emosi yang terlibat dan kemungkinan yang bisa mengubah kehidupan mereka—meski akhirnya tak terjadi. Bagian prolog ini saja, sukses membuat saya terhenyak dan meninggalkan beragam perasaan.

“Pretending you’re OK when you aren’t isn’t strength.” (p.548)

Bagian lain yang menjadi favorit saya adalah saat Cormoran merasakan bahwa dirinya memiliki dan merupakan bagian dari sebuah keluarga, keluarga yang benar-benar memiliki hubungan darah dengannya. Di bagian ini, sisi manusia Strike yang selama ini terbalut dalam kemasan profesional, luruh menampakkan emosi yang mendalam.

Masalah keluarga juga hadir pada kasus Chiswell yang ditanganinya, yang sedikit banyak membuatnya menghubung-hubungkan dengan dirinya sendiri. Terlebih hubungan kekerabatan di keluarga Chiswell cukup rumit, dengan adanya affair, pernikahan kembali, dan kematian.

Selain itu, urusan keluarga ternyata cukup membebani tugas para detektif yang dituntut bekerja di luar jam kerja normal. Setahu saya, kebanyakan karakter detektif fiksi memang jarang yang memiliki hubungan serius ke orang lain, selain partner kerjanya. Hal ini cukup disorot, tentang hubungan asmara Cormoran yang tidak berlangsung baik, hambatan karena mitra-mitranya sudah berkeluarga.

(…) perhaps the only difference between the two of them was that Strike’s mother had live long enough, and loved him well enough, to stop him breaking when life threw terrible things at him. (p.505)

Kelebihan dari penulis yang satu ini adalah caranya meramu sebuah kisah yang mengandung paket lengkap. Kita tidak hanya mendapatkan kisah detektif yang rumit, di buku ini kita juga mendapatkan kisah cinta, kisah skandal di pemerintahan, kehidupan kaum kiri dan anarkis, beberapa sudut pandang mengenai kesehatan jiwa, pelecehan seksual, isu politik dan sosial, diskriminasi ras, dan hubungan yang tidak sehat. Hal-hal ini muncul dalam kehidupan pribadi detektif kita, maupun kasus yang ditanganinya. Isu-isu terkait perempuan juga masih kuat disuarakan.

“…. Ultimate responsibility always lies with the woman, who should have stopped it, who should have acted, who must have known. Your failings are really our failings, aren’t they? Because the proper role of the woman is carer, and there’s nothing lower in this whole world than a bad mother.” (p.479)

Di buku sebelumnya, penulis menggunakan lagu-lagu sebuah band untuk menandai babnya, kali ini dia menggunakan kutipan drama Rosmersholm karya Henrik Ibsen. Dengan latar waktu di sekitar saat Olimpiade London 2012, kita juga mendapat gambaran persiapan Olimpiade tersebut, baik dari dalam kementerian, maupun terkait antusiasme warga Inggris secara umum. Trivia lain yang bisa didapat adalah seputar kuda—yang berhubungan dengan hobi istri Chiswell, yang juga menjadi bagian penting dan petunjuk dari misteri yang disimpan. Termasuk menjadi judul buku ini.

Lethal white syndrome. (…). Pure white foal, seems healthy when it’s born, but defective bowel. Can’t pass feces. (…). They can’t survive, lethal whites. (p.355)

Secara keseluruhan, perjalanan yang ditawarkan buku ini seperti roller coaster, suatu saat kita naik perlahan, lalu ada ketegangan dan emosi, luapan kegembiraan di saat yang lain, dan berakhir dengan kehausan akan petualangan berikutnya. Meski begitu, bagi saya kesan yang ditimbulkan buku ini tak sekuat buku ketiganya—yang merupakan favorit saya. Mungkin karena porsinya cukup besar, begitu banyak hal yang terjadi, sehingga fokus saya pun harus dibagi-bagi.

It was a glorious thing, to be given hope, when all had seemed lost. (p.236)

Scene on Three (126)

Menjadi perempuan tak pernah mudah, bahkan di zaman sekarang. Berabad-abad perempuan melakukan ‘perlawanan’ untuk memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki, mendapat hak yang sama, dipandang sebagai manusia yang setara—bukan inferior. Namun, kadang kala perjuangan ini bisa dimentahkan kembali, bukan hanya oleh laki-laki, tapi oleh perempuan itu sendiri. Mereka yang mengkritisi pilihan perempuan lain, menganggap hanya ada satu jalan untuk perempuan, menganggap tabu jika perempuan punya kemampuan lebih dibanding lelaki.

Kebetulan beberapa waktu terakhir saya membaca beberapa buku yang mengangkat tentang hal ini, salah satunya adalah A Golden Web karya Barbara Quick. Kisah berlatar abad ke-14 ini mengisahkan seorang perempuan cerdas—yang rasa ingin tahunya sangat besar—hingga dia harus menyamar menjadi lelaki demi bisa belajar di sekolah kedokteran. Kesempatan yang saat ini sangat terbuka lebar. Perempuan hari ini bebas bisa menjadi apa saja, tetapi selalu ada yang ingin mundur.

Hari ini, di Indonesia, masih ada orang-orang yang mengkritisi perempuan yang bersekolah tinggi dan menekuni profesinya. Katanya kodrat perempuan itu di rumah, membesarkan anak. Apakah sekolah dan karir menghambat hal itu? Jika dalam Islam dikatakan bahwa ibu adalah madrasah pertama, dan madrasah pertama akan menentukan kualitas anak ke depannya, maka seorang ibu tentu harus cerdas. Ibu yang cerdas dan berpendidikan akan menjamin anak-anak mereka mendapatkan pendidikan pertama yang berkualitas tinggi. Lalu, kita yang fana ini apakah bisa menjamin apa yang terjadi di masa depan, jika para ayah tak mampu menjamin keuangan keluarga, atau bahkan meninggal dunia, apakah perempuan harus pasrah begitu saja menanti untuk dinikahi kembali demi bisa ‘hidup’?

Apa pilihan seorang perempuan selain menjadi biarawati atau istri? Para janda sering kali bisa dan mampu menggantikan pekerjaan suami mereka. Namun, tidak ada perempuan yang benar-benar memiliki profesi tertentu—kecuali, mungkin, seorang pelayan. (p.138-139)

Jika seorang perempuan mau dan mampu, kenapa harus dibatasi atas nama kodrat? Terlebih dalam A Golden Web ini, sang perempuan digambarkan lebih cerdas ketimbang rata-rata lelaki yang ditemuinya. Perempuan ini bahkan melakukan percobaan penting yang membuktikan teori yang penting bagi umat manusia di kemudian hari.

Sampai hari ini, coba kita hitung banyaknya perempuan yang menemukan, menjelajah, bereksperimen, dan memberikan manfaat bagi dunia ini. Jumlahnya tentu banyak—dan mungkin lebih banyak seandainya perempuan punya kesempatan yang sama sejak awal. Jika tidak ada mereka, apakah dunia kita akan seperti ini sekarang?

Banyak yang menganggap bahwa perjuangan perempuan itu bertujuan untuk menyaingi para lelaki. Padahal, hal itu sesederhana para laki-laki yang memiliki ambisi. Kenapa perempuan tidak boleh memiliki ambisi, tanpa dianggap berusaha menihilkan para lelaki? Seharusnya kita saling mendukung, sesuai dengan kemampuan masing-masing, tak peduli apa jenis kelaminnya.

“Dia berkata, ‘Keberanian seorang lelaki tampak dalam caranya memerintah, dan keberanian seorang perempuan tampak dalam caranya mematuhi.’ Jika memakai penilaian itu, Otto, aku ini seorang pengecut.”
“Kalau begitu, berdasarkan penilaian itu juga, Sayangku, aku ini seorang perempuan—karena aku siap mematuhi segala perintahmu.”
(p.259)

Kenapa kita berusaha mundur ke belakang, dan mengulang sejarah kelam yang menenggelamkan potensi setengah populasi dunia?

Apa itu Scene on Three?

Baca juga tulisan saya tentang dilema penulis perempuan di Jurnal Ruang.