2017 Reading and Blogging Plan

2017! Tak terasa sudah 17 tahun sejak kita memasuki abad ke-21, dan di sini kita sudah dikelilingi teknologi yang tak terbayangkan para kakek-nenek kita, juga masih dibayangi dunia distopia yang dulu hanya dibayangkan nenek-kakek kita. Saya pernah membayangkan jika ada program migrasi ke Mars, saya akan ikut membawa buku-buku saya dan menyelesaikannya dengan tenang di sana, jauh dari hiduk-pikuk bumi dan segala permasalahannya. Internet? Kalau tidak ada ya, saya tidak akan jadi blogger lagi. Sebelumnya tak pernah terbayangkan saya bisa berhenti setelah selama ini, tetapi kita selalu belajar, kita mudah terbiasa.

Setahun terakhir saya melalui sebuah perjalanan yang terjal, mengorbankan banyak hal untuk kembali lagi ke tempat mula saya berdiri. Namun, apakah saya masih orang yang sama meski berdiri di tempat yang sama? Idealnya tidak, idealnya saya belajar, idealnya saya semakin yakin dengan tujuan saya, idealnya semuanya menuju kepada yang lebih baik.

Saya belum tahu idealisme seperti apa yang seharusnya saya pegang untuk menjalani tahun ini. Namun, saya rasa ada sebuah keputusan yang harus diambil. Menimbang semakin sesaknya rak buku dan semakin tak terkendalinya sumber buku murah.

Untuk 2017, saya akan berusaha mengembalikan rutinitas membaca dan mereview saya.

Tentunya tidak akan bisa sama seperti sebelumnya, mengingat satu dan beberapa hal yang menanti untuk diselesaikan. Yah, mengenai mekanismenya akan saya atur sendiri. Saya tetap tidak akan mengikuti reading challenges seperti tahun lalu, tetapi saya akan menantang diri saya sendiri:

  1. Menyelesaikan beberapa review buku ‘penting’ yang sudah menumpuk sejak tahun lalu.
  2. Menyediakan waktu untuk ‘merawat’ blog ini, termasuk untuk menuliskan ide-ide yang sebelumnya tertunda karena berbagai pembenaran.
  3. Mengatur mood dan kondisi sedemikian rupa sehingga tertundanya review tidak menjadi alasan untuk memulai buku baru.
  4. Menyebarkan kecintaan pada buku baik secara daring maupun luring.
  5. Tetap dalam perjalanan menemukan buku-buku yang berkesan dan luar biasa, dalam jalur yang sudah saya tapaki beberapa tahun terakhir.

Kebetulan, tahun ini tepat berakhirnya The Classics Club Project dan Children’s Literature Reading Project ronde pertama. Saya tahu hasilnya tidak sesuai dengan target ambisius saya di awal, tetapi saya masih akan melanjutkan ke ronde berikutnya dengan target yang lebih fleksibel dan mempertimbangkan efek ‘fun‘ nya.

Sekian rencana saya untuk setahun ke depan. Semoga saya berhasil menaklukkan tantangan yang saya buat sendiri.

wp-1483448212004.png

Book Kaleidoscope 2016

Tahun 2016 sudah (hampir) berlalu, dan seperti biasa, tidak afdhol rasanya kalau tidak merekap bacaan. Tahun 2016 ini adalah tahun cobaan bagi mood baca saya. Hampir sepanjang tahun ini mood baca saya terjun bebas. Bukan tidak membaca sama sekali, karena membaca itu masih penting buat saya, hanya saja satu buku bisa saya selesaikan lebih lama daripada biasanya. Terkadang, ini juga membuat saya tidak betah dan terburu-buru ganti buku, dan bukan berarti buku yang saya tinggalkan itu jelek.

Di goodreads, tercatat 76 buku yang saya baca tahun 2016 (kenyataannya lebih beberapa buku dari itu, karena ada yang belum masuk rupanya). Tidak banyak, menilik banyaknya komik dan buku anak bergambar di dalamnya. Namun, melihat judul-judul dan penulisnya, rasanya saya cukup puas karena berbagai alasan. Saya juga lega dengan keputusan saya di awal tahun, sehingga tidak ada rasa bersalah.

Saya menandai tiga periode saya bisa ‘lebih lancar’ membaca. Yang pertama pada pertengahan tahun, tepatnya akhir Juni hingga awal Juni, sebenarnya menurut goodreads, periode membacanya cukup panjang untuk buku-buku anak tipis, tetapi berhasil menyelesaikan empat buku saat itu tampak seperti kemewahan. Yang kedua pada bulan Agustus, dalam waktu kurang dari dua minggu, saya berhasil menyelesaikan tiga novel detektif. Sedangkan yang terakhir pada akhir Oktober, setelah menghadiri Big Bad Wolf di Surabaya, saya membabat lebih dari lima belas buku anak, sebelum saya kirimkan pada yang menitip (lumayan baca gratisan, setelah izin dulu pastinya). Saya tahu sejak lama, bahwa review yang tertunda sering membuat saya malas membaca, karena saya sudah terbiasa selalu membuat review sejak blog ini lahir. Jadi pada mulanya, memang review-lah yang menjadi momoknya. Bagi pengunjung blog ini mungkin bisa melihat betapa tahun ini saya sulit menulis review, karena itu, bisa move on membaca tanpa menyelesaikan review semacam menjadi kebiasaan baru yang inginnya tidak saya biasakan di 2017.

Saya cukup puas karena berhasil membaca beberapa buku dari penulis favorit, dan menemukan buku favorit baru, atau sekadar bernostalgia dengan gaya tulisan mereka. Di antaranya, tidak lain dan tidak bukan ada Neil Gaiman. Meski gagal dengan niat ingin membaca kumpulan cerpennya, saya membaca beberapa buku anaknya yang belum saya baca. Dan akhir tahun ini saya memutuskan membeli ebook dari Humble Bundle yang berisi karya-karya langka Gaiman, yang hasil penjualannya dipergunakan untuk amal. Saya baru membaca beberapa judul, tetapi asyik juga membaca karya-karya ‘mentah’ dari penulis favorit, rasanya meneguhkan mengapa dia jadi favorit. Kemudian ada Oscar Wilde, yang saya hanya kesampaian membaca satu cerpen, The Canterville Ghost; cerita hantu yang kocak dan menyentil khas Wilde. Ada Sapardi Djoko Damono yang novel Hujan Bulan Juni-nya berhasil membuat saya terpukau dengan gaya ‘terserah-gue-mau-ngapain’-nya. And, always, the Queen J.K.Rowling, kali ini atas nama Robert Galbraith dia berhasil memangsaku kembali.

Membaca buku karena sedang naik daun itu bukan gaya saya, jadi dengan agak malu saya akui bahwa saya memulai membaca buku Eka Kurniawan karena dia masuk nominasi Man Booker Prize. Untungnya saya memang sudah menimbun mengoleksi beberapa judul bukunya, jadi tidak terlalu merasa bersalah (baca: pembelaan). Omong-omong, saya jadi suka gaya penulisannya di Lelaki Harimau dan memutuskan mengoleksi semua bukunya (yang sudah hampir saya lengkapi di tahun yang sama). Secara de facto, tahun ini bukan pertama kalinya saya membaca karya Haruki Murakami, tetapi Wind rasanya terlalu ringkas untuk bisa dinilai seapik Norwegian Wood. Setelah membaca bukunya yang kedua ini, saya merasakan kembali book hangover dan menjadi sedikit lebih malas untuk membaca buku lain selama beberapa waktu. Lalu ada John Steinbeck, bisa dibilang Of Mice and Men adalah buku utuh pertamanya yang saya baca, karena sebelumnya saya baru membaca versi abridged dari The Pearl. Kebetulan Steinbeck yang saya baca terjemahan, dan sepertinya ada rasa yang ‘hilang’, entah karena mood saya atau apa, yang jelas, saya perlu memberi tempat lebih baik untuk penulis yang satu ini.

Mood yang kurang baik mungkin bisa menjadi alasan untuk menemukan hal-hal baru dalam bacaan. Seperti saat saya memilih membaca Orkes Madun, drama karya Arifin C. Noer yang merupakan buku play Indonesia yang pertama saya baca. Mencoba-coba perpustakaan digital untuk pertama kalinya juga mengantarkan saya pada buku yang saya tak tahu pernah ada di pasaran, Jejak Ingatan, yang merupakan kumpulan cerpen, esai, dan jurnalistik pemenang lomba menulis tentang Alzheimer. Buku yang mengangkat tema cukup penting dengan bahasa sederhana yang penting untuk dibaca luas. Saya juga merambah sejarah (lagi) dengan membaca biografi Douwes Dekker oleh Tim Buku Tempo, akibat penasaran pasca membaca Max Havelaar. Juga sebuah buku bergambar yang tak sengaja saya temukan di obral buku, Angsa Merampas Roti Bebek-Bebek: Masa Kanak-Kanakku di Kamp Tahanan Jepang di Jawa oleh Anne-Ruth Wertheim. Sebuah autobiografi seorang Belanda yang cukup berkesan. Saya juga membaca biografi singkat Nikola Tesla oleh Patrick Sean hasil gratisan Amazon yang sudah saya simpan lama, gara-gara sebuah video tentang teori flat earth.

Lalu ada beberapa penulis yang masuk radar. Untuk buku anak bergambar, ada John Yeoman dan Michael Rosen yang kebetulan menulis buku yang diilustrasi oleh Quentin Blake, ilustrator buku-buku Roald Dahl. Tema yang diangkat cukup oke, beberapa bahkan sangat membekas, meski ditulis dengan sederhana. Ada Sharon Creech juga yang akan saya bahas di bawah. Untuk buku klasik, ada Voltaire yang saya tak menyangka tulisannya bakal seperti itu. Dari review Candide yang pernah saya baca, saya bayangkan tulisannya cukup berat, ternyata cukup menghibur, beberapa bagian malah lucu, tanpa kehilangan maknanya. Hella Haasse, seorang Belanda yang bercerita tentang fiksi sejarah Indonesia, yang terlambat saya kenal tapi ternyata berhasil memukau. Dan ada Keigo Higashino, penulis novel detektif Jepang yang cukup membuat bahagia karena karakternya orang sains. Buku Kesetiaan Mr.X (seri Detective Galileo #3) cukup emosional untuk ukuran sebuah cerita pembunuhan.

Dan, inilah daftar 6 buku yang paling berkesan yang saya baca di 2016. Urutan berdasarkan waktu baca. Empat buku teratas sudah ada reviewnya.

oeroegnwcareer-of-evilroger ackroydtpatlp heartbeat

  1. Oeroeg by Hella Haasse

Sebuah fiksi sejarah Nusantara yang ditulis oleh penulis Belanda. Bukunya singkat, tetapi ditulis dengan cantik dan meninggalkan kesan sangat kuat. Persahabatan antar ras yang digambarkan dengan begitu realistis hingga membuat saya sedih karena melihat kebenaran di situ.

  1. Norwegian Wood by Haruki Murakami

Serasa diguncang-guncang membaca buku ini. Salah satu buku yang lebih baik tidak dibaca sinopsisnya, karena di bab-bab awal pun saya bisa dibuat terhempas.

  1. Career of Evil by Robert Galbraith

Rasanya saya sudah bercerita banyak di review. Yang jelas pengalaman membaca yang sangat nikmat. Saya berhasil menebak pembunuhnya dengan analisis yang cukup sederhana (tapi benar), ya, meskipun sempat dibuat ragu gara-gara penulisnya lebih pintar.

  1. The Murder of Roger Ackroyd by Agatha Christie

Ini salah satu buku ‘kurang ajar’. Yah, saya tidak mengharapkan dia pembunuhnya sih, tetapi memang sejak awal saya merasa buku ini aneh. Karena pembunuhnya itu, segala yang aneh menjadi masuk akal. Tapi tetap saja ini kurang ajar.

  1. The Pilot and The Little Prince by Peter Sís

Sebagai penggemar Antoine de Saint-Exupéry, dan The Little Prince tentunya, buku ini sangat penting. Biografi singkat sang penulis sejak awal kehidupannya sampai meninggalnya, membuat saya tahu mengapa dia menulis buku-bukunya itu, serta lebih memahami berbagai simbolisme dalam The Little Prince. Ilustrasinya juga sangat berkesan, seperti kata orang, satu gambar bisa mewakili ribuan kata.

  1. Heartbeat by Sharon Creech

Saya beli buku ini murni karena tertarik bentuknya yang narrative poetry. Saya jarang mendapati buku bentuk ini, dan masih terpesona pasca Out of the Dust. Saya tidak berharap banyak meski saya tahu penulisnya adalah penerima penghargaan Newbery. Mungkin puisi naratif memang cenderung emosional, karena pemilihan katanya, rimanya, dibuat sesingkat mungkin dan langsung menancap dalam jiwa. Puisi naratif tidak perlu takut menuliskan kesedihan bertubi-tubi karena dia puisi, kira-kira seperti itu. Yang jelas, setelah membaca ini saya merasakan kehangatan yang menandakan bahwa buku ini sangat berkesan bagi saya.

Itulah kira-kira gambaran tahun 2016, tidak ada yang disesali, tidak ada yang sia-sia, semoga tahun 2017 lebih baik. Welcome 2017, welcome new spirit!

Esperanza Rising – Pam Muñoz Ryan

esperanzaTitle : Esperanza Rising
Author : Pam Muñoz Ryan (2000)
Translator : Maria M. Lubis
Editor : Jia Effendie
Publisher : Penerbit Atria
Edition : Cetakan I, Maret 2011
Format : Paperback, 238 pages

“Jangan takut untuk memulai lagi dari awal.”

Esperanza Ortega kecil hidup bak ratu di El Rancho de las Rosas di Aguascalientes, Meksiko. Sebagai anak tunggal dari tuan tanah yang kaya, segala kebutuhan dan keinginannya mudah saja diwujudkan. Selama ini dia dikelilingi orang tua yang menyayanginya, baju bagus yang bersih, pelayan yang selalu siap melayaninya, orang-orang yang menghormatinya, rumah yang besar dan nyaman. Hingga suatu ketika, dia menyadari bahwa di bawah kemewahan yang dinikmatinya, ada orang-orang yang menderita, yang bekerja keras demi bisa hidup, yang tersingkir, dan yang memberontak.

Tepat menjelang ulang tahunnya yang ketiga belas, kehidupannya berubah total. Kepentingan orang-orang terhadap El Rancho de las Rosas mengorbankan keluarganya. Dengan terpaksa, Esperanza dan Mama harus ikut dengan keluarga pekerja yang akan pindah ke Amerika Serikat. Tempat semua orang dapat maju dengan usahanya sendiri, tempat yang tak mengenal status sosial; selama mereka mau bekerja, mereka bisa menaikkan derajat. Perjalanan yang sulit untuk Esperanza yang selama ini hidup dalam prioritas.

Amerika ternyata tak seindah yang mereka bayangkan. Orang-orang Meksiko, juga para imigran dari negara lain, tetap dianggap sebagai warga kelas dua di bawah orang-orang kulit putih; meski mereka lahir di Amerika, sudah memiliki kewarganegaraan, bahkan belum pernah menginjakkan kaki ke Meksiko. Kesempatan mereka terbatas, tetapi sebagian dari mereka percaya bahwa kerja keras mereka akan membuahkan hasil. Di sisi lain, ada para pekerja yang protes menuntut upah yang lebih layak.

Esperanza menatap kegelapan. Isabel tidak memiliki apa-apa, tetapi dia juga memiliki segalanya. Esperanza menginginkan milik Isabel. Dia menginginkan begitu sedikit kekhawatiran sehingga sesuatu yang sesederhana boneka benang bisa membuatnya gembira. (p.158)

Di sinilah Esperanza diuji. Dia harus menanggalkan kebiasaannya sebagai seorang ratu, dan harus turun tangan melakukan pekerjaan rumah bahkan pekerjaan kasar. Kerinduan dengan orang-orang tercinta melecutnya untuk bisa menghasilkan uang, untuk bertahan di pertanian California yang penuh persaingan. Di usianya yang belasan tahun, Esperanza belajar artinya kehilangan, kejatuhan, kematian, dan bagaimana harus bangkit, melepaskan, dan bertahan. Akankah segalanya menjadi lebih baik? Akankah keringat dan air matanya berbuah senyum dan kebahagiaan?

Dalam setiap kesulitan, manusia akan berubah, lebih dewasa atau terpuruk. Inilah yang dialami Esperanza, sebagaimana judulnya, Esperanza bangkit. Namun, perubahan yang dialaminya tidak drastis, wajar karena kekecewaan dan kesedihan masa lalu memang sulit dihapuskan dalam masa krisis. Romantisme masa lalu kadang menghambat proses penyesuaian hari ini, tetapi akan ada satu motivasi kuat yang pada akhirnya membuatnya sadar caranya bergerak naik; cinta.

Buku yang bersetting pada tahun 1930an ini menunjukkan Amerika yang masih melakukan diskriminasi berdasarkan ras dan kebangsaan, dari sudut pandang para imigran dan keturunan Meksiko. Bagaimana mereka harus bersaing tidak sehat dengan orang-orang Okkie (Oklahoma), dengan kompetensi di bawah mereka tetapi mendapatkan kesempatan lebih baik karena mereka rela dibayar murah.

Ada sesuatu yang terasa sangat salah karena mengusir orang-orang dari “negara bebas” mereka sendiri, karena mereka mengungkapkan pikiran mereka. (p.187)

Salah satu karakter menarik di buku ini adalah Miguel—anak pasangan pekerja di Aguascalientes yang mengajak mereka ke Amerika—yang hampir seusia dengan Esperanza. Miguel, yang kerap merasakan kebaikan hati Papa, memiliki tekad yang kuat untuk maju. Dia yang juga merasa berutang dengan keluarga Ortega selalu berada di samping Esperanza kala dibutuhkan.

Buku ini juga kaya dengan penggunaan simbol dan metafora yang halus. Seperti mawar yang dibawa dari Aguascalientes sebagai simbol keluarga, pola renda yang diajarkan Abuelita (ibu dari Mama) membentuk lembah dan gunung, serta yang paling saya suka adalah suara degup jantung bumi yang didengar di Meksiko dan di Amerika adalah sebuah pertanda sesuatu yang besar. Penggunaan bab-bab berdasarkan musim panen menambah keunikan buku ini.

Meski sempat bosan di awal karena kekeraskepalaan Esperanza, buku ini diakhiri dengan sangat manis dan hangat. 4/5 bintang untuk buah-buah anggur yang mengawali dan mengkhiri kisah ini.

The Wonderful Wizard of Oz – L. Frank Baum

oz1

Title : The Wonderful Wizard of Oz
Author : L. Frank Baum (1900)
Illustrator : W. W. Denslow
Publisher : Project Gutenberg
Edition : January 6, 2014 [EBook #43936]
Format : ebook

Dorothy tinggal di sebuah rumah kecil di tengah padang rumput kelabu yang kering di Kansas, bersama Uncle Henry dan Aunt Em, serta Toto, anjing kecilnya. Hari itu terlihat lebih kelabu, ada awan tebal menggantung, mengancam membawa badai topan bersamanya. Mereka sudah bersiap untuk berlindung di ruang bawah tanah. Namun, sebelum tiba di pintu, Dorothy yang memegang Toto sudah terbang bersama rumah yang terjebak topan.

A strange thing then happened.
The house whirled around two or three times and rose slowly through the air. Dorothy felt as if she were going up in a balloon.
The north and south winds met where the house stood, and made it the exact center of the cyclone. In the middle of a cyclone the air is generally still, but the great pressure of the wind on every side of the house raised it up higher and higher, until it was at the very top of the cyclone; and there it remained and was carried miles and miles away as easily as you could carry a feather.

Rumah kecil itu, bersama Dorothy dan Toto, mendarat dengan mulus di Negeri Oz. Negeri yang masih dikuasai oleh penyihir di empat penjuru negerinya, di mana terdapat penyihir jahat di Timur dan Barat, serta penyihir baik di Utara dan Selatan. Akan tetapi, tak ada penyihir yang bisa melampaui kekuatan sang Penyihir Hebat Oz yang tinggal di kota Emerald. Kota yang untuk menuju ke sana harus mengikuti jalan berbata kuning. Untuk bisa pulang ke Kansas, Dorothy harus menempuh jalur tersebut, dengan segala bahayanya, sendirian, dengan bekal hadiah dan perlindungan dari Penyihir Utara.

oz1-3Di perjalanannya, Dorothy bertemu dengan orang-orangan sawah yang sangat ingin memiliki otak, penebang kayu dari kaleng yang ingin memiliki hati, dan singa penakut yang ingin memiliki keberanian. Mereka menduga pastilah sang Penyihir Oz dapat memberi mereka semua itu. Berbagai rintangan, mulai dari menghadapi binatang buas, taman bunga yang mematikan, sampai bertemu dengan Oz ternyata juga membutuhkan pengorbanan tersendiri. Apakah mereka bisa meyakinkan Oz untuk membantu mereka? Apakah Oz yang menakjubkan bisa memberikan apa yang diinginkan keempatnya? Harga apa yang harus dibayarkan mereka demi memperolehnya?

“I cannot understand why you should wish to leave this beautiful country and go back to the dry, gray place you call Kansas.”

“That is because you have no brains,” answered the girl. “No matter how dreary and gray our homes are, we people of flesh and blood would rather live there than in any other country, be it ever so beautiful. There is no place like home.”
The Scarecrow sighed.
“Of course I cannot understand it,” he said. “If your heads were stuffed with straw, like mine, you would probably all live in the beautiful places, and then Kansas would have no people at all. It is fortunate for Kansas that you have brains.”

Pada pengantarnya, penulis mengatakan hendak mengubah kebiasaan dongeng anak klasik yang penuh dengan pesan moral dan kejadian-kejadian menakutkan. Penulis hendak menghadirkan keceriaan dan hiburan murni untuk anak-anak dengan kisahnya ini. Dan memang benar, buku ini adalah petualangan yang tidak mengajak anak untuk menjadi seperti ini atau seperti itu. Tantangan dapat terlalui dengan relatif mudah, dengan kecerdikan, keberanian, dan keberuntungan. Namun, di balik kesederhanaan plot ini, tersimpan pesan tersirat yang sangat dalam.

oz1-6

Bahwa apa yang kita cari hingga jauh, sebenarnya sudah ada dalam diri kita, sudah kita miliki, sudah diberikan kepada kita, bahkan mungkin sudah kita pergunakan selama ini. Hanya masalah waktu, kapan kita menyadarinya, kapan kita siap mempergunakannya, serta saat bagaimana kita bisa menghargainya. Dalam kisah singkat yang terkesan serba kebetulan ini, kita dapat melihat seberapa pentingnya proses terhadap kedewasaan dan kesiapan kita menerima sesuatu yang lebih besar.

oz1-5The Tin Woodman knew very well he had no heart, and therefore he took great care never to be cruel or unkind to anything.
“You people with hearts,” he said, “have something to guide you, and need never do wrong; but I have no heart, and so I must be very careful. When Oz gives me a heart of course I needn’t mind so much.”

Twist dalam kisah ini sebenarnya akan mengecewakan pembaca yang berharap banyak, tetapi justru di situlah kisah ini menjadi lebih bermakna. Peran utama bukan lagi dipegang Oz yang berada di judulnya, tetapi Dorothy beserta rombongan yang melalui petualangan yang menantang.

“…. Experience is the only thing that brings knowledge, and the longer you are on earth the more experience you are sure to get.”

4/5 bintang untuk dongeng klasik yang modern pada masanya.

“…. True courage is in facing danger when you are afraid, and that kind of courage you have in plenty.”

Review #34 of Classics Club Project

Review #41 of Children’s Literature Reading Project

oz1-1

Menyoal Stigma tentang Komik

Pada post saya terdahulu mengenai sejarah, saya sempat menyinggung sebuah manga yang membuat saya tertarik untuk mempelajari materi sejarahnya. Saya ingat saya terobsesi dengan astronomi sejak kecil. Saya juga ingat saya tergila-gila pada anime Sailor Moon. Jika saya tarik kembali masa itu, kemungkinan besar ketertarikan saya akan astronomi dikarenakan saya suka Sailor Moon, jadi saya penasaran untuk mempelajari ilmu perbintangan.

Kecenderungan orang tua di Indonesia, sejak dulu bahkan hingga sekarang, menganggap bahwa membaca komik hanya buang-buang waktu, menghambat belajar, membuat malas, dan berbagai stigma negatif yang lain. Komik dijadikan kambing hitam, dicap hina, dan dipandang sebelah mata. Padahal, saya adalah salah satu bukti hidup bahwa komik berhasil menggelitik rasa ingin tahu saya dan membuat saya mencari tahu lebih dari buku-buku yang lain. Memang, ada anak yang berhenti di komik, lalu tidak membaca lagi, tidak bergairah belajar, tetapi saya rasa itu kisah yang berbeda. Banyak teman saya di komunitas baca bermula dari komik.

Jika kita menilik dari sisi yang lebih luas, pada intinya komik adalah salah satu bentuk penyampaian informasi.

Comics is a medium used to express ideas by images, often combined with text or other visual information. (source)

Earliest known comic book (source)

Komik sebenarnya sudah dikenal sejak sejarah manusia ada, lihat saja abjad bangsa Mesir kuno yang menggunakan gambar-gambar. Komik sendiri hanyalah bentuk, tidak ada batasan genre dan usia dalam kontennya. Anggapan bahwa komik adalah untuk anak-anak adalah salah besar, karena banyak komik atau manga yang ditujukan untuk dewasa. Kesalahan persepsi ini mungkin salah satu yang menimbulkan antipati orang tua terhadap komik, karena mereka melihat adanya konten yang tidak layak untuk anak.

Mengenai genre pun sesungguhnya beragam, baik fiksi maupun nonfiksi–termasuk sejarah, biografi, dan lain sebagainya. Komik tidak identik dengan budaya populer ataupun konten yang dangkal. Salah satu manga favorit saya, Topeng Kaca (Garasu no Kamen), memiliki konflik yang kompleks, karakterisasi yang utuh, dan dibuat berdasarkan riset yang dalam. Di dalam komik tersebut, kita disuguhkan seluk-beluk dunia akting dan panggung, pertunjukan adaptasi teater/film dari karya sastra dunia, hingga hubungan-hubungan antar manusia yang nyata.

Trajan’s Column; an early precursor to print comics (source)

Memang sebenarnya stigma negatif komik tidak hanya terjadi di Indonesia, karena itulah pada pertengahan abad ke-20 muncul istilah graphic novel (gravel/novel grafis). Pada dasarnya gravel dan komik hampir serupa, istilah gravel muncul untuk alasan marketing, hingga kini istilah tersebut digunakan untuk komik yang berdiri sendiri (stand alone), dengan plot yang lebih kompleks (source). Di Jepang, Yoshihiro Tatsumi memperkenalkan istilah gekiga yang membedakannya dari manga. Gekiga diharapkan menjangkau pembaca yang lebih dewasa dan mewadahi karya yang lebih ‘literer’ (source).

Dalam literature, kita mengenal picture book untuk anak-anak, bahkan illustrated fiction yang tidak selalu untuk anak-anak. Sastra klasik dewasa seperti karya Charles Dickens, George Elliot atau Sir Arthur Conan Doyle termasuk yang diperkaya dengan ilustrasi.

A picture book combines visual and verbal narratives in a book format, most often aimed at young children. (source)

Illustrated fiction is a hybrid narrative medium in which images and text work together to tell a story. It can take various forms, including fiction written for adults or children, magazine fiction, comic strips, and picture books. (source)

Ilustrasi atau gambar berfungsi menegaskan narasi, menyampaikan sesuatu yang tak bisa dinarasikan, melengkapi narasi, atau bahkan menggantikan narasi sama sekali. Sebagaimana lukisan dipamerkan dalam galeri, maka buku juga bisa menjadi galeri yang bergerak.

Jadi sebenarnya tidak tepat menilai sebuah buku dari jumlah ilustrasi di dalamnya, atau bentuk ilustrasinya, atau di rak mana dia menempati toko buku. Menurut saya, komik juga sama seperti novel; ada yang picisan, ada yang mahakarya, sama juga seperti buku nonfiksi yang berupa teks; ada yang menginspirasi atau informatif, ada juga yang berisi omong kosong atau racauan delusional penulisnya. Semuanya kembali pada selera dan preferensi masing-masing dalam melihat konten, bukan hanya sampul.