The Help – Kathryn Stockett

8171838Title : The Help
Author : Kathryn Stockett (2009)
Translator : Barokah Ruziati
Publisher : Penerbit Matahati
Edition : Cetakan pertama, Mei 2010
Format : Large paperback, 545 pages

Buku ini disusun dengan tiga sudut pandang orang pertama. Aibileen, pembantu kulit hitam di rumah Elizabeth Leefolt. Dia adalah salah satu yang dituakan dalam lingkungan kulit hitam, relatif fasih, terutama saat menulis doa-doanya. Aibileen, seperti umumnya pembantu kulit hitam saat itu, selain mengerjakan pekerjaan rumah tangga, juga mengasuh anak-anak kulit putih, sampai tiba saatnya mereka cukup besar untuk mandiri. Mae Mobley Leefolt tak berbeda dari anak-anak lain yang diasuhnya sebelumnya, kecuali bahwa Miss Leefolt hampir tak bisa mengurus anak. Mae Mobley adalah anak istimewa Aibileen, dan dia bertekad ‘menanamkan’ sesuatu pada anak itu selagi dia masih ‘buta warna’.

Pada masa itu, di tahun 1960an, segregasi warna kulit masih ada di beberapa wilayah Amerika Serikat, terutama di bagian selatan, dan yang paling parah (bahkan mungkin sampai sekarang) adalah di Mississippi—setting buku ini. Di kota Jackson ini, seorang kulit hitam bisa dipukuli hingga meninggal hanya karena salah masuk ke kamar mandi khusus kulit putih, dan tak ada yang membelanya.

Sudut pandang kedua adalah Minny, pembantu sahabat Aibileen yang ceplas-ceplos, dan sering mendapat masalah karena mulutnya, meski masakannya terkenal paling enak. Sebelumnya dia bekerja untuk Hilly Holbrook, tetapi karena suatu hal dia dipecat dan seluruh nyonya kulit putih di Jackson tak ada yang berani mempekerjakannya, karena pengaruh Hilly dan kedudukannya yang terpandang. Berkat Aibileen, Minny bisa bekerja untuk Celia Foote—orang kulit putih yang berasal dari daerah pedesaan, yang ‘berbeda’ dari nyonya kulit putih di sana. Selain itu, dia juga menikahi mantan kekasih Hilly, sehingga otomatis dia menjadi terkucilkan di kota kecil yang sangat segan kepada Hilly.

Sedangkan sudut pandang ketiga adalah Eugenia ‘Skeeter’ Phelan, sahabat Elizabeth dan Hilly, seorang kulit putih yang digambarkan tidak memenuhi standar kecantikan wanita pada masa itu. Dia juga tergolong memiliki pemikiran yang cukup maju, suka menulis, dan tidak seperti perempuan seusianya pada masa itu, dia belum menikah dan sulit dekat dengan laki-laki karena pola pikirnya yang berbeda. Skeeter adalah satu-satunya perempuan kulit putih yang secara terang-terangan berani  menentang Hilly—terlepas dari hubungan mereka yang dekat, dan tetap mendapatkan masalah karenanya. Salah satu hal yang ditentangnya adalah ide Hilly mempengaruhi semua keluarga di Jackson untuk memiliki kamar mandi khusus pembantu, sehingga para tamu kulit putih tak harus berbagi kamar mandi dengan para pembantu kulit hitam.

Berbagai hal yang terjadi menggelitik Skeeter untuk menulis mengenai kehidupan para pembantu kulit hitam, bagaimana para nyonya kulit putih memperlakukan mereka, dan bagaimana perasaan mereka yang sebenarnya. Untuk itu, dia memerlukan bantuan, dan melalui Aibileen, satu per satu rahasia dibagikan. Mereka menghadapi risiko yang sangat besar, dengan taruhan keamanan, bahkan nyawa.

Hubungan antar manusia dan kejadian saling terjalin dengan apik, menghasilkan sebuah buku yang kompleks tetapi mengalir dan tidak membosankan. Saya suka segala hal tentang buku ini; alurnya, ketegangannya, karakter-karakternya yang bulat utuh, serta riset yang dilakukan penulis akan kondisi pada masa itu. Buku ini juga menyuguhkan berbagai emosi; pahit, manis, kocak, sedih, bahagia, terharu, bangga, marah, kecewa, kasih. Buku yang sangat indah, dan salah satu yang wajib dibaca setiap orang, agar kita bisa lebih menghargai sesama manusia, terlepas dari warna kulit, latar belakang, dan keyakinannya.

Membaca buku ini tak hanya membuka tabir sejarah masa lalu, tetapi sedikit banyak juga mengingatkan akan kondisi saat ini. Baik itu di Amerika Serikat, maupun di Indonesia, bahkan mungkin di banyak tempat di seluruh dunia, praktik-praktik rasisme dan segregasi sosial masih banyak kita temukan. Memang sulit untuk melihat manusia sebagai manusia saja, tanpa embel-embel identitas, terlebih jika hal ini dilestarikan dari generasi ke generasi. Sebuah generasi yang rasis, akan menghasilkan keturunan yang rasis, begitu seterusnya. Butuh pengaruh yang sangat besar untuk mengubahnya. Entah sampai kapan kita bermimpi hidup dalam masyarakat inklusif, dan Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya menjadi slogan semata.

You is kind. You is smart. You is important.

Advertisements

Lethal White – Robert Galbraith

Lethal White (Cormoran Strike, #4)Title : Lethal White (Cormoran Strike #4)
Author : Robert Galbraith (2018)
Publisher : Mulholland Books / Little, Brown and Company
Edition : First edition, September 2018
Format : Large paperback, 650 pages

Setelah kasus Shacklewell Ripper yang diceritakan di buku ketiga, kantor detektif Cormoran Strike kebanjiran pekerjaan. Hal ini membantu Cormoran dan Robin menjaga keberlangsungan neraca yang seimbang agar bisa bekerja dengan tenang, tapi di sisi lain, pemberitaan media menyulitkan pekerjaan mereka yang seringkali harus menyamar dan bersembunyi dari sasaran mereka. Kedua partner ini harus selektif memilih klien yang sesuai dengan visi dan misi mereka, sembari tetap memperhatikan bayaran yang prospektif. Karena alasan-alasan ini, mereka perlu dan mampu mempekerjakan mitra detektif lain, yang bisa membantu terutama dalam masalah penyamaran.

Suatu hari, Cormoran kedatangan seorang dengan gangguan jiwa bernama Billy, yang mengungkit sesuatu mengenai pembunuhan di masa kecilnya. Kunjungan singkat ini mengganggu pikiran Cormoran, sehingga dia memutuskan menggali lebih lanjut, meski petunjuk yang ditinggalkan sangat minim. Penelusuran Strike membawanya ke Jimmy Knight, seorang aktivis kiri. Secara kebetulan (atau bukan kebetulan) di waktu yang berdekatan, dia diminta Jasper Chiswell—Menteri Kebudayaan—untuk menangani pemerasan yang dialaminya. Kasus ini berhubungan dengan Jimmy Knight dan suami dari Menteri Olahraga. Di samping bayaran yang tinggi, kasus ini juga membawanya ke kasus Billy.

“One cannot be held accountable for unintended consequences.” (p.102)

Kali ini Robin mendapat porsi besar dalam pekerjaan ini. Dia ditugaskan menyamar ke Istana Westminster sebagai pegawai magang di kantor Chiswell. Sesuai dengan janji Cormoran sebelumnya, bahwa Robin akan diposisikan sebagai partner, bukan hanya sekretaris. Meski mengandung risiko, pekerjaan semacam ini memang selalu diimpikan Robin. Bahkan walau saat ini kondisi mentalnya masih kurang baik, akibat trauma yang dialaminya pada kasus Shacklewell Ripper.

Perlahan tapi pasti, tim detektif Strike mengupas kasus yang rumit ini, yang berujung, berpangkal, dan berjalin dengan banyak kejadian di masa lalu, orang-orang yang pernah mereka kenal sebelumnya (termasuk Charlotte), rahasia-rahasia yang tak ingin diungkapkan, dan kasus pembunuhan yang baru. Dengan ketegangan, tantangan, bahaya, kejutan, seperti umumnya cerita detektif (yang bagi Cormoran termasuk beberapa kali gangguan di kakinya).

“The client doesn’t get to tell me what I can and can’t investigate. Unless you want the whole truth, I’m not your man.”
“You are, I know you’re the best, that’s why Papa hired you, and that’s why I want you.”
“Then you’ll need to answer questions when I ask them, instead of telling me what does and doesn’t matter.”
(p.313)

Saya tidak menyangkal bahwa salah satu daya tarik dari serial ini adalah bunga-bunga hubungan Cormoran dan Robin. Hubungan semacam ini mungkin cukup klise di buku roman, tetapi penulis berhasil meramunya menjadi sesuatu yang sangat diinginkan pembaca. Chemistry kedua partner ini begitu kuat, sehingga tidak bisa tidak saya merestui hubungan ini. Beberapa bagian cukup membuat gemas, tetapi karena status Robin sudah menjadi istri Matthew, tentunya kita perlu bersabar untuk mencapai ke tingkat yang lebih.

Hubungan Robin dan Matthew sejak pembukaan buku ini sudah tak harmonis lagi—agak terlambat karena kejadiannya di hari pernikahan mereka, tepat saat itu kebenaran tentang Matthew terbuka di hadapan Robin. Kejadian di hari pernikahan itu buat saya sudah menjadi sebuah kisah tersendiri, karena begitu banyak emosi yang terlibat dan kemungkinan yang bisa mengubah kehidupan mereka—meski akhirnya tak terjadi. Bagian prolog ini saja, sukses membuat saya terhenyak dan meninggalkan beragam perasaan.

“Pretending you’re OK when you aren’t isn’t strength.” (p.548)

Bagian lain yang menjadi favorit saya adalah saat Cormoran merasakan bahwa dirinya memiliki dan merupakan bagian dari sebuah keluarga, keluarga yang benar-benar memiliki hubungan darah dengannya. Di bagian ini, sisi manusia Strike yang selama ini terbalut dalam kemasan profesional, luruh menampakkan emosi yang mendalam.

Masalah keluarga juga hadir pada kasus Chiswell yang ditanganinya, yang sedikit banyak membuatnya menghubung-hubungkan dengan dirinya sendiri. Terlebih hubungan kekerabatan di keluarga Chiswell cukup rumit, dengan adanya affair, pernikahan kembali, dan kematian.

Selain itu, urusan keluarga ternyata cukup membebani tugas para detektif yang dituntut bekerja di luar jam kerja normal. Setahu saya, kebanyakan karakter detektif fiksi memang jarang yang memiliki hubungan serius ke orang lain, selain partner kerjanya. Hal ini cukup disorot, tentang hubungan asmara Cormoran yang tidak berlangsung baik, hambatan karena mitra-mitranya sudah berkeluarga.

(…) perhaps the only difference between the two of them was that Strike’s mother had live long enough, and loved him well enough, to stop him breaking when life threw terrible things at him. (p.505)

Kelebihan dari penulis yang satu ini adalah caranya meramu sebuah kisah yang mengandung paket lengkap. Kita tidak hanya mendapatkan kisah detektif yang rumit, di buku ini kita juga mendapatkan kisah cinta, kisah skandal di pemerintahan, kehidupan kaum kiri dan anarkis, beberapa sudut pandang mengenai kesehatan jiwa, pelecehan seksual, isu politik dan sosial, diskriminasi ras, dan hubungan yang tidak sehat. Hal-hal ini muncul dalam kehidupan pribadi detektif kita, maupun kasus yang ditanganinya. Isu-isu terkait perempuan juga masih kuat disuarakan.

“…. Ultimate responsibility always lies with the woman, who should have stopped it, who should have acted, who must have known. Your failings are really our failings, aren’t they? Because the proper role of the woman is carer, and there’s nothing lower in this whole world than a bad mother.” (p.479)

Di buku sebelumnya, penulis menggunakan lagu-lagu sebuah band untuk menandai babnya, kali ini dia menggunakan kutipan drama Rosmersholm karya Henrik Ibsen. Dengan latar waktu di sekitar saat Olimpiade London 2012, kita juga mendapat gambaran persiapan Olimpiade tersebut, baik dari dalam kementerian, maupun terkait antusiasme warga Inggris secara umum. Trivia lain yang bisa didapat adalah seputar kuda—yang berhubungan dengan hobi istri Chiswell, yang juga menjadi bagian penting dan petunjuk dari misteri yang disimpan. Termasuk menjadi judul buku ini.

Lethal white syndrome. (…). Pure white foal, seems healthy when it’s born, but defective bowel. Can’t pass feces. (…). They can’t survive, lethal whites. (p.355)

Secara keseluruhan, perjalanan yang ditawarkan buku ini seperti roller coaster, suatu saat kita naik perlahan, lalu ada ketegangan dan emosi, luapan kegembiraan di saat yang lain, dan berakhir dengan kehausan akan petualangan berikutnya. Meski begitu, bagi saya kesan yang ditimbulkan buku ini tak sekuat buku ketiganya—yang merupakan favorit saya. Mungkin karena porsinya cukup besar, begitu banyak hal yang terjadi, sehingga fokus saya pun harus dibagi-bagi.

It was a glorious thing, to be given hope, when all had seemed lost. (p.236)

Scene on Three (126)

Menjadi perempuan tak pernah mudah, bahkan di zaman sekarang. Berabad-abad perempuan melakukan ‘perlawanan’ untuk memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki, mendapat hak yang sama, dipandang sebagai manusia yang setara—bukan inferior. Namun, kadang kala perjuangan ini bisa dimentahkan kembali, bukan hanya oleh laki-laki, tapi oleh perempuan itu sendiri. Mereka yang mengkritisi pilihan perempuan lain, menganggap hanya ada satu jalan untuk perempuan, menganggap tabu jika perempuan punya kemampuan lebih dibanding lelaki.

Kebetulan beberapa waktu terakhir saya membaca beberapa buku yang mengangkat tentang hal ini, salah satunya adalah A Golden Web karya Barbara Quick. Kisah berlatar abad ke-14 ini mengisahkan seorang perempuan cerdas—yang rasa ingin tahunya sangat besar—hingga dia harus menyamar menjadi lelaki demi bisa belajar di sekolah kedokteran. Kesempatan yang saat ini sangat terbuka lebar. Perempuan hari ini bebas bisa menjadi apa saja, tetapi selalu ada yang ingin mundur.

Hari ini, di Indonesia, masih ada orang-orang yang mengkritisi perempuan yang bersekolah tinggi dan menekuni profesinya. Katanya kodrat perempuan itu di rumah, membesarkan anak. Apakah sekolah dan karir menghambat hal itu? Jika dalam Islam dikatakan bahwa ibu adalah madrasah pertama, dan madrasah pertama akan menentukan kualitas anak ke depannya, maka seorang ibu tentu harus cerdas. Ibu yang cerdas dan berpendidikan akan menjamin anak-anak mereka mendapatkan pendidikan pertama yang berkualitas tinggi. Lalu, kita yang fana ini apakah bisa menjamin apa yang terjadi di masa depan, jika para ayah tak mampu menjamin keuangan keluarga, atau bahkan meninggal dunia, apakah perempuan harus pasrah begitu saja menanti untuk dinikahi kembali demi bisa ‘hidup’?

Apa pilihan seorang perempuan selain menjadi biarawati atau istri? Para janda sering kali bisa dan mampu menggantikan pekerjaan suami mereka. Namun, tidak ada perempuan yang benar-benar memiliki profesi tertentu—kecuali, mungkin, seorang pelayan. (p.138-139)

Jika seorang perempuan mau dan mampu, kenapa harus dibatasi atas nama kodrat? Terlebih dalam A Golden Web ini, sang perempuan digambarkan lebih cerdas ketimbang rata-rata lelaki yang ditemuinya. Perempuan ini bahkan melakukan percobaan penting yang membuktikan teori yang penting bagi umat manusia di kemudian hari.

Sampai hari ini, coba kita hitung banyaknya perempuan yang menemukan, menjelajah, bereksperimen, dan memberikan manfaat bagi dunia ini. Jumlahnya tentu banyak—dan mungkin lebih banyak seandainya perempuan punya kesempatan yang sama sejak awal. Jika tidak ada mereka, apakah dunia kita akan seperti ini sekarang?

Banyak yang menganggap bahwa perjuangan perempuan itu bertujuan untuk menyaingi para lelaki. Padahal, hal itu sesederhana para laki-laki yang memiliki ambisi. Kenapa perempuan tidak boleh memiliki ambisi, tanpa dianggap berusaha menihilkan para lelaki? Seharusnya kita saling mendukung, sesuai dengan kemampuan masing-masing, tak peduli apa jenis kelaminnya.

“Dia berkata, ‘Keberanian seorang lelaki tampak dalam caranya memerintah, dan keberanian seorang perempuan tampak dalam caranya mematuhi.’ Jika memakai penilaian itu, Otto, aku ini seorang pengecut.”
“Kalau begitu, berdasarkan penilaian itu juga, Sayangku, aku ini seorang perempuan—karena aku siap mematuhi segala perintahmu.”
(p.259)

Kenapa kita berusaha mundur ke belakang, dan mengulang sejarah kelam yang menenggelamkan potensi setengah populasi dunia?

Apa itu Scene on Three?

Baca juga tulisan saya tentang dilema penulis perempuan di Jurnal Ruang.

Mini Reviews : Children – Young Adult

22608982The Carpet People / Terry Pratchett (author & illustrator) (1971) / Houghton Mifflin Harcourt / First U.S. edition, 2013 / Paperback, 294 pages

Buku ini merupakan karya pertama Pratchett yang diterbitkan. Diawali dari cerita bersambung mingguan yang dikirim ke kalangan tertentu, kemudian dikembangkan menjadi novel, dan diterbitkan. Seiring dengan pendewasaan penulis, maka buku ini mengalami beberapa perbaikan dan penyesuaian, ditambah ilustrasi karya penulis sendiri. Pada edisi ini ada tambahan halaman ilustrasi berwarnanya, serta tambahan versi awal yang terbit setiap pekan. Buku ini berhasil meneguhkan bahwa penulis sangat lihai membangun sebuah dunia yang sama sekali baru, dengan aturannya sendiri, serta begitu solid, sehingga seringkali sulit dibayangkan.

I wrote that in the days when I thought fantasy was all battles and kings. Now I’m inclined to think that the real concerns of fantasy ought to be about not having battles, and doing without kings.

Dunia yang disebut Carpet ini ditinggali oleh suku bangsa yang berbeda-beda, di wilayah yang berbeda pula karakteristiknya. Sehingga seseorang bisa dengan mudah mengetahui bahwa dia sudah masuk ke wilayah bangsa lain ketika dilihatnya warna tanah dan langit berubah, bentuk dan kerapatan pohon (yang disebut sebagai Hair) berbeda. Karakter utama dalam buku ini berasal dari golongan Munrungs, yang harus meninggalkan tanahnya karena diserang oleh sesuatu yang menakutkan, yang saat itu belum bisa mereka identifikasi dengan benar. Dalam perjalanan, mereka masuk ke wilayah lain, bertemu dengan bangsa-bangsa lain, yang kemudian saling bersekutu untuk melawan musuh bersama.

“Nothing has to happen. History isn’t something you live. It is something you make. ….” (p.162)

You don’t have to accept it; you can change what’s going to happen. (p.252)

Suku bangsa yang berbeda ini memiliki sifat dan kebiasaan yang berbeda, yang menjadikan toleransi dan saling melengkapi menjadi salah satu nilai dari buku ini. Buku ini cukup potensial untuk dikupas lebih dalam lagi. Dan dengan humor yang apik di sana-sini, tampaknya tak akan membosankan untuk dikunjungi kembali.

“…. He said we didn’t need a lot of old books, we knew all we needed to know. I was just trying to make the point that a civilization needs books if there’s going to be a reasoned and well-informed exchange of views.” (p.206)

 

288676The Broken Bridge / Philip Pullman (1990) / First Dell Laurel-Leaf edition, September 2001, 7th printing / Mass market paperback, 220 pages

Ginny dilahirkan dari ayah kulit putih dan ibu yang berkulit gelap. Namun, dia hidup hanya dengan ayahnya saja, yang membuatnya semakin merasa terasing akibat perbedaan warna kulit. Ginny senang menggambar dan melukis, bakat yang menurut ayahnya didapatkan dari ibunya. Ginny semakin nyaman dengan ini, karena dia merasa tak asing lagi, karena dia sama dengan ibunya.

Di usia remajanya, Ginny berambisi untuk mencari keluarga dari pihak ibunya. Namun, berbagai hal terjadi silih berganti, mulai dari pekerja sosial yang bolak-balik menanyainya, yang membuka kebenaran yang selama ini tersembunyi. Ginny usia 16 tahun harus menghadapi kenyataan mendadak mengenai hidupnya yang ternyata dipenuhi kebohongan. Perlahan tapi pasti semuanya terkuak, dan semakin dia mencari, semakin dalam dia terjebak dalam kebohongan-kebohongan tersebut. Kemudian, titik terang muncul ketika dia mulai berpikir jernih dan menerima kenyataan, menerima apa adanya.

Cerita tentang pencarian diri, identitas, dan asal mula. Tidak hanya membahas mengenai keluarga, buku ini juga menceritakan gejolak remaja terkait pertemanan, seksualitas, serta isu terkait diskriminasi dan kriminalitas. Semakin masuk ke belakang, kisah terasa semakin dalam dan kuat, hingga sampai ke akhir yang sangat memuaskan. Sebuah kisah keluarga yang begitu pelik dan penuh emosi.

I can see in the dark. I can’t see so well in the daylight, can’t see the obvious thing …. I can understand mysteries. Like the broken bridge. (p.121)

 

Seesaw Girl / Linda Sue Park (1999) / Illustrated by Jean and Mou-sien Tseng / Sandpiper, an imprint of Houghton Mifflin Harcourt / Paperback, 90 pages

7153349Korea di abad ke-17 masih sangat tertutup dari dunia luar. Mereka hidup dengan cara mereka sendiri. Pada masa itu, wanita kelas atas tidak diperbolehkan keluar dari rumah, kecuali saat mereka menikah, kemudian mereka masuk ke rumah keluarga suami mereka, dan tidak diperbolehkan keluar kembali. Hidup mereka di dalam dinding berkisar seputar pekerjaan rumah tangga. Wanita bahkan tidak mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan.

Sebagai perempuan dari keluarga terpandang, Jade Blossom pun harus selalu berada di rumah untuk menjaga kehormatan diri dan keluarganya. Sejak pernikahan Graceful Willow—bibi yang usianya tak terpaut jauh dengannya, Jade merasa kesepian karena tak ada lagi teman perempuan yang sebayanya. Dia pun bertekad untuk mendatangi Willow di rumah suaminya, meski harus melanggar peraturan secara diam-diam. Rencana dijalankan, tetapi banyak hal mengenai dunia luar yang tak diantisipasi oleh Jade. Sekilas pandangan akan dunia luar membuat rasa keingintahuan Jade remaja tergelitik. Dia melakukan apa yang tidak boleh dilakukan, dan melihat apa yang tidak seharusnya dia lihat. Pemandangan itu semakin membuat Jade ingin tahu lebih dalam lagi, sehingga dia belajar dan melakukan hal yang tak wajar dilakukan oleh perempuan di masa itu.

The path to wisdom lies not in certainty, but in trying to understand. (p.66)

Buku ini kecil, tetapi membawa pesan yang sangat kuat. Karakter dalam buku ini tidak digambarkan sebagai tokoh revolusioner yang akan mengubah Korea, tetapi kesan akan adanya perubahan disampaikan melalui cara yang lain. Sebuah kisah sederhana yang terasa jauh dari kita yang sudah terbiasa hidup dalam kebebasan, tetapi begitu dekat karena deskripsi yang kuat dari penulis. Hal yang mengganjal bagi saya adalah nama-nama yang dipilih dalam buku ini bukan nama Korea, entah karena sasaran pembacanya atau apa, tetapi justru membuat suasana Koreanya sedikit terganggu. Apalagi menjadi tidak cocok karena saat itu Korea masih terisolasi dari dunia luar.

 

A Golden Web / Barbara Quick (2010) / Translated to Indonesian by Maria M. Lubis / Penerbit Atria / Cetakan I, Maret 2011 / Paperback, 272 pages

“Aku tidak mau dilupakan.”
“Kau tidak akan dilupakan, Alessandra Giliani!”
(p.260)

10588138Kisah ini terinspirasi dari ahli anatomi pertama yang pernah tinggal di Bologna, sekitar abad ke-14. Pada saat itu, tempat wanita adalah di rumah, saat waktunya tiba, mereka harus siap menjadi istri dan melahirkan anak, atau—pilihan lainnya adalah menjadi biarawati. Tidak ada pilihan untuk belajar maupun bekerja. Alessandra Giliani bisa dikatakan mendobrak aturan sosial pada saat itu. Hingga—mungkin—bukti dan dokumen tentangnya sempat dimusnahkan, dan tersisa sedikit sejarah tentangnya. Dari sedikit yang ada itu, penulis menyusun sebuah fiksi sejarah, dengan sebagian besar kisah keluarganya direka oleh penulis.

Sejak kecil, Alessandra hidup dikelilingi buku-buku, karena ayahnya bekerja menyalin buku-buku untuk dijual kembali (saat itu belum ada percetakan, semua dikerjakan secara manual). Alessandra yang punya rasa ingin tahu besar, ditambah cintanya pada ibunya yang meninggal saat melahirkan adik bungsunya, mulai tertarik pada ilmu manusia. Hal ini membawanya ke Bologna, menyamar menjadi laki-laki demi masuk ke sekolah kedokteran.

Semangat belajar dan tekad Alessandra yang sulit dipatahkan, serta dukungan dari orang-orang di sekitarnya begitu mengharukan. Suasana yang digambarkan penulis memberikan bayangan yang cukup mengenai kondisi sosial masyarakat pada zaman itu. Betapa menjadi perempuan yang cerdas adalah sebuah aib yang harus ditutupi. Dan betapa tidak beruntungnya, saat hidup mereka hanya dinilai sebatas peran sebagai penyetak bayi, tanpa hak untuk mendapatkan kehidupan yang mereka kehendaki, bahkan tanpa jaminan keselamatan dalam ‘tugas’ yang diembannya.

Menurut saya, alurnya agak terlalu lambat di awal dan terlalu cepat di akhir. Justru cerita tentang proses belajarnya lebih menarik untuk diperpanjang, hingga setara dengan latar belakang sosial masyarakat yang sudah digambarkan panjang di awal.

 

18060916Liesl & Po / Lauren Oliver (2011) / Illustrated by  Kei Acedera (2011) / Translated to Indonesian by Prisca Primasari / Penerbit Mizan / Cetakan I, April 2013 / Paperback, 319 pages

Saat sedang ketakutan, orang-orang tak selalu melakukan hal yang benar. Mereka berpaling. Menutup mata. (p.103)

Liesl dikurung di loteng oleh ibu tirinya, berbulan-bulan sejak ayahnya sakit hingga meninggal dunia. Liesl dengan sabar menerima perlakuan itu, meski dalam hati dia sangat merindukan ayahnya, serta pohon willow tempat mereka menguburkan ibunya, dekat tempat tinggal mereka yang dulu. Suatu malam, sesosok hantu bernama Po dengan anjing/kucing hantu bernama Bundle mengunjunginya dari Dunia Lain. Tak ada yang memahami kenapa Po bisa menembus hingga ke tempat Liesl. Dengan imbalan gambar Liesl, Po bersedia membantu gadis itu mencari ayahnya di Dunia Lain, meski normalnya hal tersebut mustahil.

Di sisi lain, ada Will, murid sang alkemis, yang mengagumi Liesl sejak pertama dia melihatnya melalui jendela loteng tempatnya dikurung. Will yang dipaksa bekerja keras oleh sang alkemis tanpa imbalan yang setimpal, melakukan sebuah kesalahan yang membuatnya mendapat masalah besar, dia pun lari sejauh-jauhnya.

Itulah masalah lain orang hidup: Mereka terpisah, selalu terpisah. Mereka tak pernah benar-benar membaur. Mereka tak tahu bagaimana menjadi seseorang selain diri mereka sendiri; kadang mereka bahkan tak tahu bagaimana caranya menjadi diri sendiri. (p.99)

Berbagai kejadian dan rencana secara tak terduga mempertemukan semua karakter dalam buku ini. Karakter baik dan jahat, masing-masing memiliki kisahnya sendiri, yang berhubungan satu sama lain, membentuk jalinan cerita yang bermuara pada cinta—cinta antar anggota keluarga, teman, dunia, dan sesama manusia, juga sesama makhluk hidup. Walau menyimpan banyak kejutan, kisah ini menyimpan banyak sekali kebetulan dan penyelesaian yang mudah, terlalu mudah bahkan. Meski demikian, setiap karakter menampakkan peran yang kuat.

Dan sungguh, inilah inti dari segalanya, karena jika kau tak percaya bahwa hati bisa mengembang secara tiba-tiba, dan cinta bisa merekah layaknya bunga bahkan di tempat yang paling keras, aku takut kau akan mendapati jalan yang panjang, gersang, dan tandus, dan kau akan kesulitan menemukan cahaya. (p.315)

See You in the Cosmos – Jack Cheng

32048758

Title : See You in the Cosmos
Author : Jack Cheng (2017)
Publisher : Puffin Books
Format : Paperback, 314 pages
ISBN : 978-0-141-36560-2

Buku ini kubaca sekitar November tahun lalu. Saat itu saya sedang masa lepas dari reading slump, tetapi setelah menamatkan ini, saya justru mengalami book hangover yang parah hingga sulit membaca apa-apa. Buku ini menarik saya karena buku anak bertema antariksa, pun penulis debut biasanya bebas ekspektasi, harganya pun relatif murah. Awalnya saya urung, tapi entah mengapa terbayang-bayang terus dan kuputuskan tetap membelinya. Memang seringkali intuisi tidak boleh diabaikan, saya memang akhirnya suka sekali buku ini. Bahkan sampai selama ini, saya tetap merasa perlu menuliskan reviewnya—walau tak sesempurna yang saya harapkan.

Buku ini dituliskan dari rekaman iPod seorang anak 11 tahun bernama Alex Petroski. Alex terobsesi dengan roket dan ruang angkasa, penggemar berat Carl Sagan, yang bermimpi untuk menerbangkan roketnya sendiri. Rekaman yang terinspirasi dari Golden Record yang diluncurkan ke luar angkasa itu, akan dibawanya ke SHARF (Southwest High-Altitude Rocket Festival) yang ditemukannya via internet. Dia juga berkenalan dengan sesama nerd di Rocketforum, orang-orang yang baru mengetahui bahwa Alex adalah anak-anak setelah bertemu langsung dengannya.

He said if we can do something that big, something that’s never been done before in the history of humanity, then of course we can solve all the problems we have at home. (p.59)

Alex yang digambarkan lebih dewasa dari usianya ini bepergian sendiri—ayahnya sudah tak ada, ibunya digambarkan mengalami fase-fase aneh dan kesulitan merawat Alex maupun dirinya sendiri, sementara kakak lelakinya, Ronnie, bekerja jauh di luar kota. Awalnya kita hanya akan melihat kisah ini dari sudut pandang Alex melalui penuturannya di rekaman iPod. Namun, seiring dia menemui banyak orang, kita bisa mendengar suara-suara mereka, percakapan yang tak sengaja terekam, ataupun rekaman yang disengaja tanpa sepengetahuan Alex, sehingga menjelaskan banyak hal kepada pembaca hal-hal yang tak dipahami Alex. Bagaimana pun tanggung jawab besar yang ditanggungnya, Alex tetaplah anak-anak.

Alex yang belajar tentang roket secara autodidak, tidak pernah melakukan uji coba, harus bersiap untuk dikecewakan ekspektasinya yang sangat tinggi. Untunglah orang-orang yang ditemuinya juga baik, perhatian, dan simpatik. Sampai dia menemukan sebuah nama di internet yang akan mengubah hidupnya, orang-orang ini juga yang membawa Alex lebih jauh, menemui orang-orang lain yang di luar dugaan, membuka rahasia-rahasia, dan meluruskan masalah-masalah.

Buku yang sangat indah, tokoh utama yang manis, petualangan yang seru, penuh kejutan, dan meninggalkan begitu banyak kesan emosional. Karakter favorit saya di buku ini adalah Ronnie Petroski, yang mulanya dari deskripsi Alex tampak seperti kakak yang cuek dan ingin lari dari masalah. Kenyataannya justru sebaliknya, dia adalah sosok pengganti kepala keluarga yang penuh tanggung jawab dan rela berkorban demi keluarga. Saya tidak bisa tidak menyukainya.

Buku ini mungkin awalnya cenderung datar, tetapi lambat laun dengan hadirnya para karakter dan terbukanya misteri, terasa indah menyentuh hati, bahkan saya sempat menangis pada salah satu bagian.

These words we try to use to describe it, to describe that feeling, these words like love and bravery and truth, the reason they can’t describe it all the way, and the reason that sounds or music or pictures can’t describe it all the way either, is because THEY’RE all shadows too! WORDS ARE SHADOWS TOO! (p.298)

Sebagai penutup, akan saya kutipkan joke receh ala nerd yang menghiasi buku ini.

How does an astronaut cut his hair on the moon?

Eclipse it.

(p.91)

Why didn’t the Dog Star laugh at the comedy show?

Because it was too Sirius.

(p.149)