Nongkrong Gaul Sambil Membaca

Sabtu malam lalu, tepatnya tanggal 20 Mei 2017, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional dan pertama kalinya pemerintah memberlakukan pengiriman paket buku gratis melalui PT Pos Indonesia, Najwa Shihab selaku Duta Baca Indonesia meluncurkan sebuah program yang dinamakannya Pojok Baca. Pertama kalinya Pojok Baca ini dibuka di kota Solo, tepatnya di Markobar, gerai martabak (atau terang bulan) yang ternama di seantero negeri karena inovasinya, dan pemiliknya kebetulan merupakan putra sulung Presiden Indonesia saat ini. Saat datang sekitar pukul tujuh kurang, saya agak beruntung karena mendapatkan tempat strategis (atau sebenarnya tempat itu sudah ditandai tapi saya tidak tahu, haha). Meski undangan pukul tujuh, baru sekitar setengah jam setelahnya, tamu yang ditunggu-tunggu datang.

Sebelumnya saya masih agak samar dengan program ini. Saya datang karena tergerak dengan konsep yang sepertinya menarik. Setelah mendengar penjelasan dari mbak Tamu dan mas Tuan Rumah, barulah jelas bahwa mbak Nana sebagai Duta Baca memiliki ide untuk membangun sebuah ruang membaca di tempat-tempat strategis, guna menebarkan kesukaan membaca. Program ini dimulai dari Markobar dengan proses yang cukup mudah, melalui satu percakapan WhatsApp saja, mas Gibran sudah menerima tawaran untuk merelakan sebagian ruang gerainya diduduki oleh buku-buku. Selanjutnya, Pojok Baca ini akan terus ditambah, baik di cabang Markobar lain, ataupun di tempat-tempat umum, di antara yang sudah direncanakan adalah di stasiun, bandara, bahkan kantor polisi.

Di tempat ini disediakan kotak donasi bagi siapapun pengunjung yang ingin menyumbangkan bukunya, sehingga nantinya buku-buku bisa disebarkan di Pojok-Pojok Baca di seluruh negeri. Mbak Nana menegaskan juga bahwa program ini adalah swadaya, dari kita untuk kita, jadi bukan merupakan ide atau program pemerintah. Untuk saat ini, buku-buku yang sudah ada merupakan sumbangan dari penerbit Literati dan IKAPI, tetapi nantinya Duta Baca Indonesia ini menginginkan adanya sumbangan dari masyarakat dan program kerjasama dengan IKAPI yang berupa diskon khusus, agar terjadi pertumbuhan penerbitan Indonesia yang sehat.

Pojok Baca di Markobar Solo

Selain membahas mengenai Pojok Baca, mbak Nana dan mas Gibran juga membicarakan banyak hal seputar membaca, mulai dari pengalaman membaca buku saat kecil, bagaimana kecintaan terhadap buku dimulai, sampai dengan kondisi perbukuan Indonesia saat ini. Pada acara ini, diundang pula beberapa perwakilan dari Taman Baca Masyarakat di berbagai daerah, baik dari Solo sendiri, Yogyakarta, sampai di Kalimantan dan Sulawesi, yang menceritakan suka duka mereka mengelola taman baca serta pengamatan mengenai minat baca di Indonesia.

Salah satu penekanan dalam diskusi ini adalah minat baca di Indonesia sesungguhnya tidak sekecil yang ada di data UNESCO, setidaknya begitulah menurut mereka yang melihat sendiri bagaimana masyarakat (terutama anak-anak) begitu bersemangat saat diberi akses buku. Saya pribadi sudah lama percaya bahwa pada dasarnya anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar terhadap buku, yang sebagian besar terkikis saat dewasa jika lingkungan mereka tidak mendukung. Mungkin hal ini bisa menjadi pembicaraan cukup panjang atau bahan penelitian baru, tetapi itu masalah lain.

Pengunjung dalam acara itu cukup ramai hingga tumpah ke luar gerai. Menjelang akhir acara, pengunjung diberi kesempatan bertanya, dan beruntung saya sempat bertanya. Walaupun kalimat saya cukup belepotan, intinya sih saya agak sedikit narsis mengenalkan BBI, dan mengusulkan mbak Nana supaya punya setidaknya 30 menit seminggu acara televisi yang isinya semacam review buku. Ide ini sebenarnya sudah lama terbersit (bahkan sempat saya emailkan ke Mata Najwa dan MetroTV, entah terbaca atau tidak), karena berdasar pengalaman sebagai blogger buku, kadang rasa tertarik seseorang untuk membaca itu timbul karena konten dalam buku itu sendiri, jadi bagian dari kampanye yang tidak seabstrak ‘ayo baca buku’ saja.

Mba Nana yang asli cukup berbeda dari saat membawakan acaranya sendiri, bersama mas Gibran yang sangat irit bicara.

Kembali ke Pojok Buku, sebenarnya ide ini memang tidak benar-benar baru di Indonesia, tetapi sebagian memang tidak berjalan dengan baik. Di Solo saja, setidaknya pernah ada dua atau tiga tempat serupa yang saat ini sudah tutup, karena pada mulanya mereka memang menjual suasana tempat nongkrong sekaligus tempat baca, sedangkan anak muda nongkrong umumnya ya ngobrol-ngobrol atau seru-seruan bersama. Saat acara ini, barulah saya terbersit bahwa mungkin memang cara seperti ini lebih efektif. Pertama, tempat yang dipilih adalah tempat yang sudah mapan, yang sudah memiliki pengunjung tetap, yang sudah menjadi tempat nongrong gaul. Kedua, dengan sedikit pengaruh dari Duta Baca dan mungkin beberapa orang yang sudah memiliki penggemar, setidaknya anak muda akan bisa mulai percaya diri bahwa membaca tidak kontradiktif dengan gaul.

Sejak tahun lalu, di Yogyakarta, teman mbak Ina (Nurina yang juga anggota BBI) membuka Kafe Noice yang dibuka dengan konsep kafe buku. Mbak Ina, saya, dan beberapa teman mencoba meletakkan beberapa buku kami di sana, dan kata mbak Ina, responnya cukup baik sehingga saya sempat menambah beberapa buku lagi di sana. Saya sendiri tidak tahu respon baik yang dimaksud yang seperti apa, tetapi setidaknya ada harapan positif untuk Pojok Buku. Tentunya tantangan pasti ada dan harus siap dihadapi. Seperti saat teman-teman Goodreads Semarang membuat semacam rumah buku yang diletakkan di taman untuk dibaca sambil bersantai di bawah pohon, tetapi tidak lama sampai buku-buku beserta rumahnya dicuri. Semoga dengan adanya faktor-faktor baik pendukung Pojok Baca yang saya sebutkan di atas tadi, mentalitas bangsa kita juga ikut menjadi lebih baik.

Salam literasi!

Advertisements

The Last Siege – Jonathan Stroud

Title : The Last Siege / Pengepungan Terakhir
Author : Jonathan Stroud (2006)
Translator : Ribkah Sukito
Editor : Primadonna Angela
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan pertama, Oktober 2011
Format : Paperback, 288 pages

Tiga remaja dengan masalahnya masing-masing dipertemukan oleh sebuah insiden di depan bekas kastil yang lama tak berpenghuni. Emily dan Simon tak pernah berteman sebelumnya, tetapi saat terjepit oleh musuh yang sama, bersama dengan Marcus yang berasal dari bagian kota yang lain, tiba-tiba mereka masuk ke dalam petualangan yang digagas oleh anak asing itu.

“Kastil itu hidup karena kau dapat menafsirkannya sesukamu. Kastil itu bisa menjadi apa pun yang kaupikirkan. Kau bisa membayangkan bagaimana kastil itu dulunya, ketika belum hancur, ketika orang-orang tinggal di dalamnya. Dan setiap orang bebas untuk membayangkan hal yang berbeda.” (p.80)

Petualangan mereka semakin liar dan semakin bebas, masing-masing mereka kini punya peran dalam mewujudkan imajinasi mereka. Mulai dari permainan menaklukkan kastil,  penjelajahan dan menapak tilas sejarah, hingga pertahanan yang mulai tak tampak sebagai permainan lagi. Masalah menjadi serius ketika Marcus menceritakan masalah keluarganya kepada kedua kawannya. Masalah yang membutuhkan campur tangan pihak berwajib, tetapi, akankah orang dewasa mengerti ketakutan mereka?

Kisah persahabatan, keluarga, kehilangan, dinamika remaja, dan pengkhianatan. Sama seperti kisah Baron Hugh—penghuni kastil pada masa Raja John—yang diceritakan Marcus, mereka menghadapi ujian kesetiaan yang serupa.

Pada akhirnya, meski dibalut kisah petualangan yang menyenangkan, buku ini menyimpan kenyataan yang pahit tentang jurang antara anak-anak dan orang dewasa, serta secercah mengenai kesehatan mental. Mungkin karena ditujukan untuk pembaca muda, pesannya cukup samar untuk menyembunyikan kebrutalannya.

“Aku sedang berpikir—tentang apa yang dikatakan ibumu.”
“Iya.”
“Hanya… Apakah semuanya sudah baik-baik saja?”
“Tidak, tentu saja belum. ….”
(p.143)

Mini Reviews: Non-English

Ada tiga buku terjemahan yang aslinya bukan berbahasa Inggris, dua di antaranya diterjemahkan dari bahasa aslinya, sedangkan yang satu melalui bahasa Inggris sebelum diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

The Ninth / A Kilendecik / Anak Kesembilan by Ferenc Barnás (2006)

Translated from English to Indonesian by Saphira Zoelfikar, Gramedia Pustaka Utama, cetakan pertama, Februari 2010, paperback, 296 pages

Set in a sleepy village north of Budapest in 1968, this touching, unsettling novel paints a richly wrought portrait of mid-twentieth-century Hungary. The narrator is the ninth child of a family distinguished by its size, poverty, faith, and abundance of physical and psychological disabilities. His confusion is exacerbated by the strict, secretive Catholic household his parents keep in the face of a Communist system. These dual oppressions propel him toward an inevitable realization of his guilt and desire that speaks to his struggle with a fateful, seamless beauty. (source)

Sebagai anak kesembilan dari sebelas bersaudara, posisi sang narator (yang namanya tidak disebutkan, hanya diketahui berinisial B [p.114]) cukup tidak signifikan di dalam keluarga. Dalam posisi itu, dia menjadi pengamat yang tak memiliki peran penting sebagaimana anak terbesar dalam keluarga yang ikut mencari nafkah, maupun anak yang lebih kecil yang lebih tergantung pada orang tua. Selain posisinya, B juga memiliki kepekaan yang berbeda dari saudara-saudarinya, baik caranya memandang masyarakat, juga kepekaan dalam arti yang sebenarnya mengenai kesulitannya untuk tidur dan mengabaikan bunyi-bunyian.

Aku tahu istilah akal sehat darinya; artinya ialah orang itu tidak manja. (p.187)

Menarik melihat dunia yang kejam melalui mata seorang anak. Dengan kepolosan yang terhapus sedikit demi sedikit, yang menjadikannya melakukan sesuatu di luar nilai yang ditanamkan keluarganya demi keluar dari ketidaknyamanan kehidupan. Di sini juga ada gambaran tentang politik yang tampak melalui mata seorang anak, jadi mungkin memiliki sedikit pengetahuan sejarah akan bermanfaat.

 

La casa de papel / Rumah Kertas by Carlos María Domínguez (2002)

Translated to Indonesian by Ronny Agustinus, Marjin Kiri, cetakan kedua, Oktober 2016, paperback, vi +76 pages

Buku mengubah takdir hidup orang-orang. (p.1)

Bluma Lennon, distinguished professor of Latin American literature at Cambridge, is hit by a car while crossing the street, immersed in a volume of Emily Dickinson’s poems. Several months after her untimely demise, a package arrives for her from Argentina-a copy of a Conrad novel, encrusted in cement and inscribed with a mysterious dedication. Bluma’s successor in the department (and a former lover) travels to Buenos Aires to track down the sender, one Carlos Brauer, who turns out to have disappeared. (source)

Jauh lebih sulit membuang buku ketimbang memperolehnya. (p.9)

Kegilaan dimulai saat kita diajak menapak tilas jejak dan pemikiran Brauer. Mulai dari kebiasaannya yang aneh dengan buku-buku, sampai kegilaan yang membuatnya melakukan sesuatu yang tidak masuk akal, yang membuat ‘rumah kertas’ menjadi sesuatu yang mengerikan.

Inilah proses kita merampungkan bibliografi: kita mulai dengan satu rujukan kepada buku yang tidak kita punya, lalu begitu kita memiliki buku tersebut, ada rujukan yang menuntun kita ke buku lainnya. (p.27)

“…. Brauer bersikeras bahwa buku-buku harus dikelompokkan berdasarkan kriteria yang berbeda dengan kriteria tematik yang vulgar itu.”
“…. Maksudku begini, Pedro Páramo dan Rayuela sama-sama karya sastrawan Amerika Latin, tapi yang pertama menuntun kita ke William Faulkner, dan yang satunya membawa kita ke Moebius. Atau dengan kata lain: Dostoievsky pada akhirnya lebih dekat dengan Roberto Arlt ketimbang dengan Tolstoy. Sebagai penegasan, Hegel, Victor Hugo, dan Samiento  layak dipasang berderetan ketimbang Paco Espínola, Benedetti, dan Felisberto Hernández.”
(p.38-39)

Buku ini memang bagaikan cermin bagi para pecinta buku. Segala hal yang dilakukan Brauer mungkin dekat dengan sebagian dari kebiasaan sebagian dari kita. Mulai dari yang biasa saja sampai yang ekstrem. Hingga di satu titik ada yang salah cara memaknai buku-buku, lalu apa yang bisa dilakukan?

“Orang-orang ini ada dua golongan, izinkan saya menjelaskan: pertama, kolektor, yang bertekad mengumpulkan edisi-edisi langka, …, sekalipun mereka tak pernah membuka-bukanya selain untuk melihat-lihat halamannya, seperti orang-orang mengagumi sebuah objek yang indah, barang langka. Lainnya, ada para kutu buku, pelahap bacaan yang rakus, ….” (p.17)

Sastra Amerika Latin ini, entah cerpen atau novella tepatnya, membawa kita ke dunia yang sangat dekat, tetapi begitu jauh. Bagaimana seseorang yang menggilai buku bisa melakukan hal yang gila dengan buku-bukunya.

Orang rupanya juga bisa mengubah takdir buku-buku. (p.57)

 

Kaas / Keju by Willem Elsschot (1969)

Translated to Indonesian by Jugiarie Soegiarto, Gramedia Pustaka Utama, cetakan pertama, Mei 2010, paperback, 176 pages

Dari karyawan hendak menjadi pengusaha, mengambil risiko terlalu besar karena iming-iming keuntungan berlipat, menjalankan bisnis tanpa pengetahuan yang memadai. Walau ditulis hampir setengah abad yang lalu, buku ini masih sangat dekat dengan keseharian kita, di mana orang berlomba-lomba menjadi pengusaha, lalu mengambil jalan yang sangat tidak aman. Bagi saya, mengambil risiko itu baik, tapi bukan tanpa perhitungan, karena orang bisa maju tidak hanya dengan modal nekat, tetapi juga harus mau belajar.

Hal inilah yang menjadi akar permasalahan Frans Laarmans. Gengsi menjadikannya nekat, mengambil risiko terlalu banyak untuk menjual keju yang sudah terlanjur dibelinya. Mulai dari mengambil barang terlalu banyak, menggunakan pekerja tanpa perhitungan, dan dikendalikan oleh gengsi menjadi seorang ‘pengusaha besar’. Meski singkat, buku ini menangkap karakter Laarmans dengan jelas, dengan segala kekurangan dan dinamikanya. Sehingga saya bisa merasakan jengkel akan keputusannya sampai empati dengan pilihannya.

Dalam seni tak ada percobaan. Janganlah coba memaki bila kau tak marah, jangan coba menangis bila jiwamu kering, jangan bersorak selama kau tak dipenuhi keriangan. (p.172)

Mini Reviews: Children’s Book

Oleh karena buku yang belum direview semakin menumpuk, sepertinya saya perlu menurunkan gengsi sedikit dengan membuat review yang cepat, singkat, dan padat. Dalam mini reviews, sebisa mungkin akan saya kumpulkan buku dengan tema atau genre yang seragam.

Stone Fox by John Reynolds Gardiner (1980)

Harpercollins, hardcover, 96 pages

Based on a Rocky Mountain legend, Stone Fox tells the story of Little Willy, who lives with his grandfather in Wyoming. When Grandfather falls ill, he is no longer able to work the farm, which is in danger of foreclosure. Little Willy is determined to win the National Dogsled Race—the prize money would save the farm and his grandfather. But he isn’t the only one who desperately wants to win. Willy and his brave dog Searchlight must face off against experienced racers, including a Native American man named Stone Fox, who has never lost a race. (source)

Kisah tentang seorang bocah sepuluh tahun yang harus berjuang sendiri saat kakeknya terbaring tak berdaya karena putus asa. Little Willy yang tak memiliki siapapun kecuali kakek dan Searchlight, anjingnya, berusaha menembus apa yang orang lain bilang tidak mungkin.

Awalnya saya kurang suka dengan buku ini karena karakter-karakter sampingannya kurang simpatik terhadap Willy, bahkan bisa saya katakan tak punya hati nurani, seluruhnya. Sepanjang cerita pun saya merasa bisa menebak akhirnya, mudah. Namun, saya salah. Buku ini berakhir dengan kejutan yang membuat saya tak tahu harus merasa bagaimana dengan keseluruhan isi buku ini. Yang jelas, akhirnya cukup menyentak, yang tak hanya mengubah suasana kisah menjadi sangat tragis, tetapi mungkin akan mengubah sikap semua orang yang tadinya tak simpatik itu.

In the Dinosaur’s Paw (The Kids of the Polk Street School #5) by Patricia Reilly Giff (1985) (Illustrated by Blanche Sims)

Yearling, January 1985, paperback, 72 pages

Richard Best membutuhkan penggaris di hari pertama sekolah usai libur Natal, untuk pelajaran tentang dinosaurus, tapi dia lupa di mana menyimpannya. Untungnya di sekolah dia menemukan penggaris di mejanya, yang menurut Matthew—kawannya—adalah penggaris milik dinosaurus karena inisial di atasnya. Setelah menemukan penggaris itu, Richard merasa segala keinginannya terkabul. Lambat laun perasaan gembira itu tergantikan oleh gelisah dan rasa bersalah karena dia merasa bertanggung jawab atas masalah yang dialami orang lain. Sayangnya saat dia berusaha memperbaikinya, penggaris itu hilang.

Karakter anak-anak dalam buku ini benar-benar amat sangat polos sekali, sesuai dengan usia mereka. Kenaifan dan keluguan bocah ini membuat beberapa hal dalam kisah terasa manis. Bahkan terhadap ‘musuh’ mereka bisa menjadi sangat pemaaf jika dihadapkan pada suatu masalah yang lebih besar, ketulusan hati yang pada dasarnya kita semua miliki jauh di dalam hati. Mungkin masalah-masalah anak terlihat sepele bagi kita orang dewasa, tapi seberapa jauh anak memikirkan masalah itu bisa jadi membuat kita malu karena mempermasalahkan hal yang seharusnya tidak perlu jadi masalah.

Sebenarnya buku ini lebih kepada kisah sehari-hari yang dibumbui dengan kisah ‘penggaris dinosaurus’ itu. Mungkin ada perkembangan karakter yang hendak digambarkan untuk keseluruhan serial besarnya. Jadi sepertinya membaca sesuai urutannya akan memberi pengalaman yang berbeda.

Sable by Karen Hesse (1994) (Illustrated by Marcia Sewall)

First Scholastic printing, September 2005, paperback, 85 pages

Ibu Tate tidak suka anjing, tetapi suatu hari seekor anjing muncul dalam kondisi menyedihkan, dan Tate langsung jatuh hati pada hewan malang itu. Kecintaan Tate bukan sekadar keinginan sesaat, dia benar-benar menyayangi anjing itu, yang dinamakannya Sable. Dia membuatkan tempat tinggal, memastikannya makan cukup, dan melatihnya untuk mandiri. Sayangnya, Sable punya kebiasaan buruk yang sulit diubah.

Beberapa kali Tate melatihnya, tetapi kebiasaan buruk itu memicu semakin banyak masalah hingga Sable terpaksa harus dikeluarkan dari rumah. Di sinilah menurut saya bagian terbaik dari buku ini, Tate sungguh-sungguh melakukan sesuatu agar Sable dapat kembali ke rumahnya, dan yang dilakukannya sungguh menyentuh, terlebih untuk anak seusianya.

Seringkali persahabatan dengan hewan menjadi sesuatu yang lebih mengena untuk diceritakan. Apalagi anjing yang terkenal sebagai hewan yang setia, dan saya selalu melihat persahabatan semacam ini justru melebihi ketulusan persahabatan antar manusia. Jika saya sedang usil sedikit dan mengandaikan Sable adalah manusia, kisah dalam buku ini rasanya akan punya banyak perumpamaan yang cukup mendekati sifat manusia (dewasa) juga. Namun biarlah keusilan itu saya simpan sendiri.

Kisah yang indah dalam kesederhanaan buku anak. Sesuatu yang besar bisa jadi muncul dari hal kecil yang tak pernah kita sangka sebelumnya.

Indigo (Water Tales #2) by Alice Hoffman (2002)

First Scholastic printing, January 2003, paperback, 86 pages

A real friend believes in you when you don’t believe in yourself, (p.11)

Tiga sahabat; Martha Glimmer, Trevor dan Eli McGill merasa Oak Grove bukan tempat mereka seharusnya berada. Martha punya mimpi untuk berada di kota-kota besar dan mengembangkan karir sebagai penari, sedangkan McGill bersaudara merindukan laut yang tak pernah mereka jumpai sejak hidup di Oak Grove yang tinggi dan kering.

You could easily tell who was who by whether or not they listened to you. (p.14)

Sometimes words spoken are the ones you’ve been afraid to think, but once they’re said aloud there’s no way to make them disappear. (p.27)

Oak Grove sendiri punya sejarah yang suram berhubungan dengan air. Banjir besar membuat mereka membuat dinding yang melindungi kota itu dari air. Namun saat ketiga sahabat itu memutuskan untuk pergi menggapai mimpi, mereka menemukan bahwa mimpi itu bisa diwujudkan dengan cara yang lebih baik. Penemuan yang dibayar dengan sebuah peristiwa traumatis bagi penduduk kota kering itu.

They were both thinking of people who’d disappeared and were never found again, and of how it was to leave behind the people you loved, even if the life you wanted wasn’t the one they could give you. (p.33)

Kisah persahabatan dan keluarga dalam sebuah buku tipis, dalam balutan magical realism dengan, mungkin, sedikit fantasi. Beberapa halaman buku ini dihiasi oleh semacam foto, alih-alih ilustrasi seperti umumnya buku anak. Saya menikmati kalimat-kalimat di buku ini, walaupun beberapa hal mudah ditebak. Hal tentang takdir dan mimpi itu lumayan terlalu instan menurut saya, tetapi, ya, kadang hidup memang seperti itu.

Lulu Walks the Dog (Lulu #2) by Judith Viorst (2012) (Illustrated by Lane Smith)

Atheneum Books for Young Readers (imprint of Simon & Schuster Children’s Publishing Division), First paperback edition, March 2014, 170 pages

Lulu is back with a brand-new refrain, and it’s time to earn some cash. How else can she buy the very special thing that she is ALWAYS and FOREVER going to want?
After some (maybe) failed attempts, Lulu decides on the perfect profitable job: dog walking. But Brutus, Pookie, and Cordelia are not interested in behaving, and the maddeningly helpful neighborhood goody-goody, Fleischman, has Lulu wanting to stomp his sneakers—and worse.
How will Lulu deal with three infuriating dogs and the even more infuriating Fleischman? And what is this SUPERSPECIAL thing that Lulu is so fiercely determined to buy? I really don’t feel like discussing that right now.
Once again, picture book legends Judith Viorst and Lane Smith bring us the loudest, rudest girl to ever shove her way into our hearts.
(synopsis from back cover)

Saya tidak bisa merasa simpatik ataupun suka pada karakter-karakter di dalamnya, entah Lulu yang keras kepala dan arogan—terlepas dari usianya yang sangat muda, maupun Fleischman yang suka menolong, pun orang dewasa di sekitarnya tak mengambil porsi lebih baik pada kisah anak ini. Saya juga kurang menikmati narasinya, terlebih saat penulis mengambil alih beberapa bagian dan memasukkan suaranya sendiri di sini.

91xjroxyyel

Hal terbaik dari buku ini adalah ilustrasinya. Saya suka sekali sapuan tinta sang ilustrator yang cantik, tak terlalu banyak detail tapi sangat ekspresif. Pun bentuk-bentuk geometrisnya tak menghilangkan keluwesan yang tercermin dalam gambar-gambarnya. Porsi gambarnya cukup banyak memenuhi keseluruhan isi buku, yang cukup menghibur di antara kisahnya yang berbalut humor ala penulis.

#BBIHUT6 Giveaway Hop

77471-bbi2bhut2b6-01

Hari ulang tahun tak lengkap tanpa giveaway yaa, pasti sebagian orang sudah menunggu momen untuk berburu hadiah di ulang tahun BBI yang keenam ini. Setelah dari sini, kalian bisa berburu lebih banyak di sini ya, di bagian paling bawah.

Untuk kali ini Bacaan B.Zee akan memberi hadiah buku pilihan kalian sendiri, sebutkan saja judul dan penulisnya, kalau bisa disertai tautan ke Goodreads. Syaratnya:

  1. Sebutkan satu buku wishlist yang ingin kalian pilih sebagai hadiah, beserta alasannya di kolom komentar. Buku yang dipilih bebas, tidak ada batasan harga, asal bukan boxset. Buku harus dibaca dan direview (minimal review singkat 1-2 kalimat di Goodreads atau di media sosial) sebelum ulang tahun BBI yang ketujuh. Boleh ditambah alasan kenapa review kalian akan menarik untuk saya.
  2. Follow akun BBI di salah satu atau semua media sosialnya, sebutkan juga di kolom komentar.
  3. Tambahkan juga saran untuk BBI ke depan agar lebih maju, boleh usul kegiatan di dalam atau di luar anggota, atau usulan yang lain (asal jangan usul BBI melonggarkan aturan syarat blog ya, saya di barisan yang menentang keras hal itu, haha).
  4. Giveaway ini terbuka untuk siapa saja yang memiliki alamat kirim di Indonesia, tidak harus anggota BBI.
  5. Giveaway dibuka hari ini dan ditutup tanggal 30 April 2017, jadi jika time stamp di komentar sudah bulan Mei tidak terhitung lagi.
  6. Pemenang akan diambil dari yang jawaban no.1 nya paling saya suka, kalau saya bingung, akan saya lakukan undian. Keputusan pemenangnya memang subjektif jadinya, tapi tetap tidak bisa diganggu gugat ya.
  7. Pemenang terpilih diberi waktu menanggapi hingga 2×24 jam setelah diumumkan (akan saya hubungi lewat kontak yang tercantum di komentar), jika tidak ada tanggapan akan dipilih pemenang baru.

Gampang kan, cuma tinggal mengarang indah saja. Semoga beruntung!

UPDATE 3 MEI 2017

Berhubung jawabannya cukup personal dan tidak seperti yang saya harapkan (yang salah harapan saya sih, bukan jawabannya, hehe). Jadi akhirnya pemenang tetap diundi ya. Selamat untuk Bety Kusumawardhani yang sudah terpilih dari random, akan saya hubungi secepatnya.

Terima kasih untuk yang sudah ikut. Tunggu giveaway selanjutnya ya, semoga akan ada lagi dalam waktu dekat.