Mini Reviews: Non-English

Ada tiga buku terjemahan yang aslinya bukan berbahasa Inggris, dua di antaranya diterjemahkan dari bahasa aslinya, sedangkan yang satu melalui bahasa Inggris sebelum diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

The Ninth / A Kilendecik / Anak Kesembilan by Ferenc Barnás (2006)

Translated from English to Indonesian by Saphira Zoelfikar, Gramedia Pustaka Utama, cetakan pertama, Februari 2010, paperback, 296 pages

Set in a sleepy village north of Budapest in 1968, this touching, unsettling novel paints a richly wrought portrait of mid-twentieth-century Hungary. The narrator is the ninth child of a family distinguished by its size, poverty, faith, and abundance of physical and psychological disabilities. His confusion is exacerbated by the strict, secretive Catholic household his parents keep in the face of a Communist system. These dual oppressions propel him toward an inevitable realization of his guilt and desire that speaks to his struggle with a fateful, seamless beauty. (source)

Sebagai anak kesembilan dari sebelas bersaudara, posisi sang narator (yang namanya tidak disebutkan, hanya diketahui berinisial B [p.114]) cukup tidak signifikan di dalam keluarga. Dalam posisi itu, dia menjadi pengamat yang tak memiliki peran penting sebagaimana anak terbesar dalam keluarga yang ikut mencari nafkah, maupun anak yang lebih kecil yang lebih tergantung pada orang tua. Selain posisinya, B juga memiliki kepekaan yang berbeda dari saudara-saudarinya, baik caranya memandang masyarakat, juga kepekaan dalam arti yang sebenarnya mengenai kesulitannya untuk tidur dan mengabaikan bunyi-bunyian.

Aku tahu istilah akal sehat darinya; artinya ialah orang itu tidak manja. (p.187)

Menarik melihat dunia yang kejam melalui mata seorang anak. Dengan kepolosan yang terhapus sedikit demi sedikit, yang menjadikannya melakukan sesuatu di luar nilai yang ditanamkan keluarganya demi keluar dari ketidaknyamanan kehidupan. Di sini juga ada gambaran tentang politik yang tampak melalui mata seorang anak, jadi mungkin memiliki sedikit pengetahuan sejarah akan bermanfaat.

 

La casa de papel / Rumah Kertas by Carlos María Domínguez (2002)

Translated to Indonesian by Ronny Agustinus, Marjin Kiri, cetakan kedua, Oktober 2016, paperback, vi +76 pages

Buku mengubah takdir hidup orang-orang. (p.1)

Bluma Lennon, distinguished professor of Latin American literature at Cambridge, is hit by a car while crossing the street, immersed in a volume of Emily Dickinson’s poems. Several months after her untimely demise, a package arrives for her from Argentina-a copy of a Conrad novel, encrusted in cement and inscribed with a mysterious dedication. Bluma’s successor in the department (and a former lover) travels to Buenos Aires to track down the sender, one Carlos Brauer, who turns out to have disappeared. (source)

Jauh lebih sulit membuang buku ketimbang memperolehnya. (p.9)

Kegilaan dimulai saat kita diajak menapak tilas jejak dan pemikiran Brauer. Mulai dari kebiasaannya yang aneh dengan buku-buku, sampai kegilaan yang membuatnya melakukan sesuatu yang tidak masuk akal, yang membuat ‘rumah kertas’ menjadi sesuatu yang mengerikan.

Inilah proses kita merampungkan bibliografi: kita mulai dengan satu rujukan kepada buku yang tidak kita punya, lalu begitu kita memiliki buku tersebut, ada rujukan yang menuntun kita ke buku lainnya. (p.27)

“…. Brauer bersikeras bahwa buku-buku harus dikelompokkan berdasarkan kriteria yang berbeda dengan kriteria tematik yang vulgar itu.”
“…. Maksudku begini, Pedro Páramo dan Rayuela sama-sama karya sastrawan Amerika Latin, tapi yang pertama menuntun kita ke William Faulkner, dan yang satunya membawa kita ke Moebius. Atau dengan kata lain: Dostoievsky pada akhirnya lebih dekat dengan Roberto Arlt ketimbang dengan Tolstoy. Sebagai penegasan, Hegel, Victor Hugo, dan Samiento  layak dipasang berderetan ketimbang Paco Espínola, Benedetti, dan Felisberto Hernández.”
(p.38-39)

Buku ini memang bagaikan cermin bagi para pecinta buku. Segala hal yang dilakukan Brauer mungkin dekat dengan sebagian dari kebiasaan sebagian dari kita. Mulai dari yang biasa saja sampai yang ekstrem. Hingga di satu titik ada yang salah cara memaknai buku-buku, lalu apa yang bisa dilakukan?

“Orang-orang ini ada dua golongan, izinkan saya menjelaskan: pertama, kolektor, yang bertekad mengumpulkan edisi-edisi langka, …, sekalipun mereka tak pernah membuka-bukanya selain untuk melihat-lihat halamannya, seperti orang-orang mengagumi sebuah objek yang indah, barang langka. Lainnya, ada para kutu buku, pelahap bacaan yang rakus, ….” (p.17)

Sastra Amerika Latin ini, entah cerpen atau novella tepatnya, membawa kita ke dunia yang sangat dekat, tetapi begitu jauh. Bagaimana seseorang yang menggilai buku bisa melakukan hal yang gila dengan buku-bukunya.

Orang rupanya juga bisa mengubah takdir buku-buku. (p.57)

 

Kaas / Keju by Willem Elsschot (1969)

Translated to Indonesian by Jugiarie Soegiarto, Gramedia Pustaka Utama, cetakan pertama, Mei 2010, paperback, 176 pages

Dari karyawan hendak menjadi pengusaha, mengambil risiko terlalu besar karena iming-iming keuntungan berlipat, menjalankan bisnis tanpa pengetahuan yang memadai. Walau ditulis hampir setengah abad yang lalu, buku ini masih sangat dekat dengan keseharian kita, di mana orang berlomba-lomba menjadi pengusaha, lalu mengambil jalan yang sangat tidak aman. Bagi saya, mengambil risiko itu baik, tapi bukan tanpa perhitungan, karena orang bisa maju tidak hanya dengan modal nekat, tetapi juga harus mau belajar.

Hal inilah yang menjadi akar permasalahan Frans Laarmans. Gengsi menjadikannya nekat, mengambil risiko terlalu banyak untuk menjual keju yang sudah terlanjur dibelinya. Mulai dari mengambil barang terlalu banyak, menggunakan pekerja tanpa perhitungan, dan dikendalikan oleh gengsi menjadi seorang ‘pengusaha besar’. Meski singkat, buku ini menangkap karakter Laarmans dengan jelas, dengan segala kekurangan dan dinamikanya. Sehingga saya bisa merasakan jengkel akan keputusannya sampai empati dengan pilihannya.

Dalam seni tak ada percobaan. Janganlah coba memaki bila kau tak marah, jangan coba menangis bila jiwamu kering, jangan bersorak selama kau tak dipenuhi keriangan. (p.172)

Advertisements

Mini Reviews: Children’s Book

Oleh karena buku yang belum direview semakin menumpuk, sepertinya saya perlu menurunkan gengsi sedikit dengan membuat review yang cepat, singkat, dan padat. Dalam mini reviews, sebisa mungkin akan saya kumpulkan buku dengan tema atau genre yang seragam.

Stone Fox by John Reynolds Gardiner (1980)

Harpercollins, hardcover, 96 pages

Based on a Rocky Mountain legend, Stone Fox tells the story of Little Willy, who lives with his grandfather in Wyoming. When Grandfather falls ill, he is no longer able to work the farm, which is in danger of foreclosure. Little Willy is determined to win the National Dogsled Race—the prize money would save the farm and his grandfather. But he isn’t the only one who desperately wants to win. Willy and his brave dog Searchlight must face off against experienced racers, including a Native American man named Stone Fox, who has never lost a race. (source)

Kisah tentang seorang bocah sepuluh tahun yang harus berjuang sendiri saat kakeknya terbaring tak berdaya karena putus asa. Little Willy yang tak memiliki siapapun kecuali kakek dan Searchlight, anjingnya, berusaha menembus apa yang orang lain bilang tidak mungkin.

Awalnya saya kurang suka dengan buku ini karena karakter-karakter sampingannya kurang simpatik terhadap Willy, bahkan bisa saya katakan tak punya hati nurani, seluruhnya. Sepanjang cerita pun saya merasa bisa menebak akhirnya, mudah. Namun, saya salah. Buku ini berakhir dengan kejutan yang membuat saya tak tahu harus merasa bagaimana dengan keseluruhan isi buku ini. Yang jelas, akhirnya cukup menyentak, yang tak hanya mengubah suasana kisah menjadi sangat tragis, tetapi mungkin akan mengubah sikap semua orang yang tadinya tak simpatik itu.

In the Dinosaur’s Paw (The Kids of the Polk Street School #5) by Patricia Reilly Giff (1985) (Illustrated by Blanche Sims)

Yearling, January 1985, paperback, 72 pages

Richard Best membutuhkan penggaris di hari pertama sekolah usai libur Natal, untuk pelajaran tentang dinosaurus, tapi dia lupa di mana menyimpannya. Untungnya di sekolah dia menemukan penggaris di mejanya, yang menurut Matthew—kawannya—adalah penggaris milik dinosaurus karena inisial di atasnya. Setelah menemukan penggaris itu, Richard merasa segala keinginannya terkabul. Lambat laun perasaan gembira itu tergantikan oleh gelisah dan rasa bersalah karena dia merasa bertanggung jawab atas masalah yang dialami orang lain. Sayangnya saat dia berusaha memperbaikinya, penggaris itu hilang.

Karakter anak-anak dalam buku ini benar-benar amat sangat polos sekali, sesuai dengan usia mereka. Kenaifan dan keluguan bocah ini membuat beberapa hal dalam kisah terasa manis. Bahkan terhadap ‘musuh’ mereka bisa menjadi sangat pemaaf jika dihadapkan pada suatu masalah yang lebih besar, ketulusan hati yang pada dasarnya kita semua miliki jauh di dalam hati. Mungkin masalah-masalah anak terlihat sepele bagi kita orang dewasa, tapi seberapa jauh anak memikirkan masalah itu bisa jadi membuat kita malu karena mempermasalahkan hal yang seharusnya tidak perlu jadi masalah.

Sebenarnya buku ini lebih kepada kisah sehari-hari yang dibumbui dengan kisah ‘penggaris dinosaurus’ itu. Mungkin ada perkembangan karakter yang hendak digambarkan untuk keseluruhan serial besarnya. Jadi sepertinya membaca sesuai urutannya akan memberi pengalaman yang berbeda.

Sable by Karen Hesse (1994) (Illustrated by Marcia Sewall)

First Scholastic printing, September 2005, paperback, 85 pages

Ibu Tate tidak suka anjing, tetapi suatu hari seekor anjing muncul dalam kondisi menyedihkan, dan Tate langsung jatuh hati pada hewan malang itu. Kecintaan Tate bukan sekadar keinginan sesaat, dia benar-benar menyayangi anjing itu, yang dinamakannya Sable. Dia membuatkan tempat tinggal, memastikannya makan cukup, dan melatihnya untuk mandiri. Sayangnya, Sable punya kebiasaan buruk yang sulit diubah.

Beberapa kali Tate melatihnya, tetapi kebiasaan buruk itu memicu semakin banyak masalah hingga Sable terpaksa harus dikeluarkan dari rumah. Di sinilah menurut saya bagian terbaik dari buku ini, Tate sungguh-sungguh melakukan sesuatu agar Sable dapat kembali ke rumahnya, dan yang dilakukannya sungguh menyentuh, terlebih untuk anak seusianya.

Seringkali persahabatan dengan hewan menjadi sesuatu yang lebih mengena untuk diceritakan. Apalagi anjing yang terkenal sebagai hewan yang setia, dan saya selalu melihat persahabatan semacam ini justru melebihi ketulusan persahabatan antar manusia. Jika saya sedang usil sedikit dan mengandaikan Sable adalah manusia, kisah dalam buku ini rasanya akan punya banyak perumpamaan yang cukup mendekati sifat manusia (dewasa) juga. Namun biarlah keusilan itu saya simpan sendiri.

Kisah yang indah dalam kesederhanaan buku anak. Sesuatu yang besar bisa jadi muncul dari hal kecil yang tak pernah kita sangka sebelumnya.

Indigo (Water Tales #2) by Alice Hoffman (2002)

First Scholastic printing, January 2003, paperback, 86 pages

A real friend believes in you when you don’t believe in yourself, (p.11)

Tiga sahabat; Martha Glimmer, Trevor dan Eli McGill merasa Oak Grove bukan tempat mereka seharusnya berada. Martha punya mimpi untuk berada di kota-kota besar dan mengembangkan karir sebagai penari, sedangkan McGill bersaudara merindukan laut yang tak pernah mereka jumpai sejak hidup di Oak Grove yang tinggi dan kering.

You could easily tell who was who by whether or not they listened to you. (p.14)

Sometimes words spoken are the ones you’ve been afraid to think, but once they’re said aloud there’s no way to make them disappear. (p.27)

Oak Grove sendiri punya sejarah yang suram berhubungan dengan air. Banjir besar membuat mereka membuat dinding yang melindungi kota itu dari air. Namun saat ketiga sahabat itu memutuskan untuk pergi menggapai mimpi, mereka menemukan bahwa mimpi itu bisa diwujudkan dengan cara yang lebih baik. Penemuan yang dibayar dengan sebuah peristiwa traumatis bagi penduduk kota kering itu.

They were both thinking of people who’d disappeared and were never found again, and of how it was to leave behind the people you loved, even if the life you wanted wasn’t the one they could give you. (p.33)

Kisah persahabatan dan keluarga dalam sebuah buku tipis, dalam balutan magical realism dengan, mungkin, sedikit fantasi. Beberapa halaman buku ini dihiasi oleh semacam foto, alih-alih ilustrasi seperti umumnya buku anak. Saya menikmati kalimat-kalimat di buku ini, walaupun beberapa hal mudah ditebak. Hal tentang takdir dan mimpi itu lumayan terlalu instan menurut saya, tetapi, ya, kadang hidup memang seperti itu.

Lulu Walks the Dog (Lulu #2) by Judith Viorst (2012) (Illustrated by Lane Smith)

Atheneum Books for Young Readers (imprint of Simon & Schuster Children’s Publishing Division), First paperback edition, March 2014, 170 pages

Lulu is back with a brand-new refrain, and it’s time to earn some cash. How else can she buy the very special thing that she is ALWAYS and FOREVER going to want?
After some (maybe) failed attempts, Lulu decides on the perfect profitable job: dog walking. But Brutus, Pookie, and Cordelia are not interested in behaving, and the maddeningly helpful neighborhood goody-goody, Fleischman, has Lulu wanting to stomp his sneakers—and worse.
How will Lulu deal with three infuriating dogs and the even more infuriating Fleischman? And what is this SUPERSPECIAL thing that Lulu is so fiercely determined to buy? I really don’t feel like discussing that right now.
Once again, picture book legends Judith Viorst and Lane Smith bring us the loudest, rudest girl to ever shove her way into our hearts.
(synopsis from back cover)

Saya tidak bisa merasa simpatik ataupun suka pada karakter-karakter di dalamnya, entah Lulu yang keras kepala dan arogan—terlepas dari usianya yang sangat muda, maupun Fleischman yang suka menolong, pun orang dewasa di sekitarnya tak mengambil porsi lebih baik pada kisah anak ini. Saya juga kurang menikmati narasinya, terlebih saat penulis mengambil alih beberapa bagian dan memasukkan suaranya sendiri di sini.

91xjroxyyel

Hal terbaik dari buku ini adalah ilustrasinya. Saya suka sekali sapuan tinta sang ilustrator yang cantik, tak terlalu banyak detail tapi sangat ekspresif. Pun bentuk-bentuk geometrisnya tak menghilangkan keluwesan yang tercermin dalam gambar-gambarnya. Porsi gambarnya cukup banyak memenuhi keseluruhan isi buku, yang cukup menghibur di antara kisahnya yang berbalut humor ala penulis.

#BBIHUT6 Giveaway Hop

77471-bbi2bhut2b6-01

Hari ulang tahun tak lengkap tanpa giveaway yaa, pasti sebagian orang sudah menunggu momen untuk berburu hadiah di ulang tahun BBI yang keenam ini. Setelah dari sini, kalian bisa berburu lebih banyak di sini ya, di bagian paling bawah.

Untuk kali ini Bacaan B.Zee akan memberi hadiah buku pilihan kalian sendiri, sebutkan saja judul dan penulisnya, kalau bisa disertai tautan ke Goodreads. Syaratnya:

  1. Sebutkan satu buku wishlist yang ingin kalian pilih sebagai hadiah, beserta alasannya di kolom komentar. Buku yang dipilih bebas, tidak ada batasan harga, asal bukan boxset. Buku harus dibaca dan direview (minimal review singkat 1-2 kalimat di Goodreads atau di media sosial) sebelum ulang tahun BBI yang ketujuh. Boleh ditambah alasan kenapa review kalian akan menarik untuk saya.
  2. Follow akun BBI di salah satu atau semua media sosialnya, sebutkan juga di kolom komentar.
  3. Tambahkan juga saran untuk BBI ke depan agar lebih maju, boleh usul kegiatan di dalam atau di luar anggota, atau usulan yang lain (asal jangan usul BBI melonggarkan aturan syarat blog ya, saya di barisan yang menentang keras hal itu, haha).
  4. Giveaway ini terbuka untuk siapa saja yang memiliki alamat kirim di Indonesia, tidak harus anggota BBI.
  5. Giveaway dibuka hari ini dan ditutup tanggal 30 April 2017, jadi jika time stamp di komentar sudah bulan Mei tidak terhitung lagi.
  6. Pemenang akan diambil dari yang jawaban no.1 nya paling saya suka, kalau saya bingung, akan saya lakukan undian. Keputusan pemenangnya memang subjektif jadinya, tapi tetap tidak bisa diganggu gugat ya.
  7. Pemenang terpilih diberi waktu menanggapi hingga 2×24 jam setelah diumumkan (akan saya hubungi lewat kontak yang tercantum di komentar), jika tidak ada tanggapan akan dipilih pemenang baru.

Gampang kan, cuma tinggal mengarang indah saja. Semoga beruntung!

UPDATE 3 MEI 2017

Berhubung jawabannya cukup personal dan tidak seperti yang saya harapkan (yang salah harapan saya sih, bukan jawabannya, hehe). Jadi akhirnya pemenang tetap diundi ya. Selamat untuk Bety Kusumawardhani yang sudah terpilih dari random, akan saya hubungi secepatnya.

Terima kasih untuk yang sudah ikut. Tunggu giveaway selanjutnya ya, semoga akan ada lagi dalam waktu dekat.

Belanja Buku di Solo

kota-solo_20151108_174153

Solo adalah sebuah kota yang cukup kecil di Jawa Tengah, dilihat dari segi ukuran. Namun, perkembangan perekonomian dan wisata sepertinya tak kalah dengan kota-kota besar lainnya. Saya tidak punya datanya sih, cuma melihat pesatnya pembangunan mal dan hotel, serta padat dan macetnya saat hari libur, terutama liburan panjang. Jadi, diiyakan saja lah.

Solo lebih terkenal pada wisata budaya dan kerajinannya; Keraton, Sentra Batik, Pasar Klewer, Pasar Triwindu, Ngarsopuro, atau event-event khusus seperti Festival Payung, Solo Batik Carnival, Festival Kuliner, dsb. Kalau untuk mencari buku, rasanya Solo bukan sebuah tujuan yang terlalu ‘menghasilkan’. Namun, jika suatu saat mampir ke Solo, atau sudah/akan tinggal di Solo, jangan khawatir akan kesulitan mencari buku, karena ada beberapa tempat menarik dengan berbagai karakteristiknya.

Buku Baru

Untuk buku baru yang standar, Gramedia memiliki dua cabang di Solo, satu di Jalan Slamet Riyadi di area Timuran, sedangkan yang kedua ada di dalam mal Solo Square. Kedua Gramedia ini memiliki koleksi cukup lengkap dan terbaru, dan di lokasi Slamet Riyadi sering ada area obralan, baik yang cukup besar di area pelataran, atau yang kecil-kecilan di dekat area parkir basement. Selain itu, Gramedia juga kerap memiliki area kecil di mal-mal yang disebut Gramedia Expo. Biasanya waktunya lebih panjang dari obralan biasa, tetapi tidak permanen, hanya beberapa bulan atau tahun, lalu pindah ke mal yang lain. Untuk kemunculannya biasanya diberitakan di sosial media Gramedia Solo Square.

Untuk buku baru berdiskon, ada Togamas. Tadinya dia berlokasi di Kota Barat, tetapi beberapa tahun lalu sudah bergeser sedikit ke daerah Gendhingan, Jalan Slamet Riyadi, tak jauh dari Solo Grand Mall (SGM, tapi jangan tertipu nama ya). Togamas juga sudah membuka cabang di Solo Paragon Mall, dengan koleksi yang relatif tidak selengkap di Togamas pusatnya. Yang menarik dari toko buku ini selain diskon seumur hidup untuk semua buku, ada buku-buku dari penerbit nonmainstream. Bahkan buku-buku sastra seperti terbitan Balai Pustaka dan Dian Rakyat berumur relatif panjang di toko buku, hanya sayangnya definisi sastra di sini agak kabur, jadi buku-buku sastra dari penerbit mainstream termasuk ke dalam novel yang umurnya hanya sekian bulan jika penjualannya kurang baik. Konsep dari toko ini juga inginnya bukan hanya berjualan buku, tetapi menjadi wadah untuk berbagai kegiatan, jadi di tengah area buku anak disediakan juga meja-meja dan alas duduk untuk sekadar membaca-baca, atau kegiatan lain yang diadakan bekerjasama dengan pihak luar. Di antara rak buku dewasa juga tersedia beberapa bangku yang cukup nyaman untuk membaca atau sekadar beristirahat. Kabarnya memang manajer toko ini tak berkeberatan jika pelanggan membaca buku di tempat.

Ada sebuah toko yang paling lama bertahan, sepanjang pengetahuan saya, di antara berbagai toko buku yang sudah tutup sejak menjamurnya penjualan online dan (mungkin) buku bajakan, yaitu Toko Buku Sekawan. Toko ini hampir dua pertiga areanya menjual alat tulis dan peralatan kantor, tetapi sepertiga area bukunya cukup menarik. Walau koleksinya tidak lengkap, banyak buku lama bisa ditemukan di sini, sebagai contoh saya pernah menemukan terjemahan Coraline (Neil Gaiman) dan The Magician’s Elephant (Kate DiCamillo), pada tahun 2012, saat buku itu sudah lama menghilang dari toko buku yang lain. Selain buku fiksi dan nonfiksi umum, buku referensi di sini cukup lengkap. Untuk kalangan medis, penerbit andalan kami adalah EGC, dan toko ini menyediakan puluhan judul dari penerbit ini dalam berbagai bidang.

Untuk buku impor, saat ini sudah ada cabang Books & Beyond di Hartono Mall, yang sebenarnya secara administratif sudah bukan bagian dari kota Surakarta, tetapi masuk kabupaten Sukoharjo. Namun, area ini tak jauh dari Solo, malah dekat dengan perumahan elit hingga diberi nama Solo Baru.

Selain itu, ada juga toko buku yang mengkhususkan menjual buku-buku agama, baik itu agama Islam maupun Kristen (toko yang berbeda tentunya), tetapi tidak akan saya bahas di sini karena, selain cukup banyak, saya juga tidak hapal semuanya.

Buku Bekas

Selain mengais harta karun di toko yang menjual buku nonmainstream di atas, mengobok-obok toko buku bekas memiliki sensasi tersendiri. Buku yang bisa didapatkan sangat beragam dan tidak terduga. Tentunya dengan harga yang relatif sangat murah.

Kios-kios buku yang berjajar di area Belakang Sriwedari sudah sangat dikenal oleh hampir semua penduduk kota Solo. Sejak saya kecil, kios-kios ini menjadi sasaran mencari buku pelajaran dengan harga murah, ketimbang membeli buku baru yang hanya akan digunakan setahun. Namun, di antara buku pelajaran yang merajai hampir seluruh kios, jika jeli kita bisa menemukan buku-buku lain, meski jumlahnya tak banyak. Kadang jika butuh hiburan, saya akan menyusuri kios-kios di sana sambil memasang mata, jika ada buku selain buku pelajaran, saya akan meminta izin penjualnya untuk melihat-lihat dulu. Ada buku terjemahan, buku lokal, sampai buku berbahasa Inggris, dari yang sudah buluk, sampai yang masih bersegel. Hati-hati untuk buku bersegel, sebagian besar bukunya bajakan, tetapi ada juga beberapa buku sisa gudang penerbit yang dijual dengan harga murah tetapi tetap di atas harga buku bajakan. Jika meragukan keasliannya, saya biasanya melewatkan buku bersegel. Komik/manga juga cukup banyak, dengan berbagai kondisinya. Jika beruntung, banyak juga buku-buku bagus yang bisa ditemukan di sana.

Area buku bekas di Alun-Alun Utara hampir sama, bedanya di sini buku pelajaran sangat sedikit, kebanyakan novel, komik, majalah, buku anak-anak atau buku nonfiksi dari berbagai tema. Areanya relatif kecil, jumlah kiosnya tak lebih dari 15, jadi koleksinya memang relatif sedikit. Kebanyakan buku bekas, ada buku bersegel asli, tetapi kebanyakan buku bersegelnya bajakan juga. Di sini saya beberapa kali beruntung, mendapatkan buku impor bekas yang kondisinya masih bagus dengan harga di bawah dua puluh ribu rupiah. Tak jarang juga saya menemukan buku lokal yang sudah langka. Jika dibandingkan di belakang Sriwedari, di sini kita bisa mendapat buku lebih murah dengan usaha yang relatif lebih mudah. Oh ya, area ini jam bukanya juga relatif pendek, hanya sampai jam empat sore saja.

taman-buku-dan-majalah-alun-alun-keraton-surakarta_20150814_114409

Books yang menjual buku impor bekas saya lihat sudah ada di berbagai kota, jadi mungkin sudah tidak asing dengan lapak buku dengan harga seragam ini. Di Solo yang masih bertahan hingga saat ini hanya di area Carrefour di dalam Solo Paragon Mall. Jumlah raknya sudah menyusut sejak awal-awal dibukanya, pun harganya semakin naik. Untuk ukuran buku impor bekas yang tidak terlalu langka, harga-harganya sangat bisa tersaingi dengan toko buku online atau bahkan jika beruntung di lapak buku bekas yang lain. Namun, tak ada salahnya juga menyusuri rak-rak ini, siapa tahu ada buku dambaan yang harganya cukup sepadan. Beberapa koleksi serupa juga ada di Togamas Slamet Riyadi, walaupun hanya mengisi satu petak kecil rak.

Setiap Minggu pagi di GOR Manahan juga bisa ditemukan pasar dadakan, yang setidaknya ada satu lapak penjual buku. Saya sudah cukup lama tidak menengok tempat itu, tetapi sepertinya masih ada. Koleksinya jelas seadanya, bukanya pun pagi saja, sebelum matahari tinggi pasarnya sudah bubar. Akan tetapi, bagi para pemburu buku, keberuntungan itu tak mengenal waktu dan tempat, bukan?

Itulah sebagian tempat belanja buku yang ada di Solo saat ini. Meski tak sebanyak di kota besar, tetapi sepertinya seharian tak akan cukup untuk menyusuri satu per satu buku-buku yang ada di sana. Jadi tak ada salahnya berkunjung, siapa tahu buku incaran kalian terselip di sana.

NB: Maaf saya tidak menyertakan foto dan alamat lengkap masing-masing toko/lapak tersebut karena saya belum sempat mendata. Jika ada yang membutuhkan informasi, bisa cari di Google atau email langsung ke saya (ada di halaman About).

NB2: Karena ini judulnya belanja buku, saya hanya mencantumkan toko buku. Jika ingin wisata buku ke perpustakaan atau kafe buku, tersedia juga koleksi yang bervariasi. Mungkin akan saya buatkan post khusus jika kapan-kapan.
77471-bbi2bhut2b6-01Post ini dibuat dalam rangkaian event ulang tahun BBI ke-6, ada marathon dan giveaway hop. Nantikan giveaway di blog ini tanggal 15 April besok ya. Lebih banyak lagi cek http://www.blogbukuindonesia.com

Selamat 6 Tahun, Bebi

77471-bbi2bhut2b6-01

Selamat ulang tahun yang keenam, Bebi, alias Blogger Buku Indonesia a.k.a. BBI, komunitas blogger buku tercinta! Mungkin hari ini saya tidak akan bermanis-manis membicarakan hal indah bersamamu, semuanya sudah berulang kali saya sampaikan, baik pada ulang tahun yang sebelum-sebelumnya, maupun pada berbagai kesempatan saya menulis dan berbicara tentangmu.

Hari ini, saya memutuskan untuk mengeluarkan segala hal pahit yang selama ini tak pernah tersampaikan pada siapapun. Pada kesempatan yang baik ini, saat semua pembicaraan berpusat padamu, saat semua yang sayang padamu bernostalgia, saat lebih banyak kemungkinan post ini akan terbaca.

Mulai dari mana ya, hari ini rasanya begitu asing, saya tidak mengenal sebagian besar orang-orang di komunitas ini, anggota baru begitu banyak, anggota lama menghilang. Saya tidak menyalahkan siapa-siapa, memang dasar saya saja yang kurang bergaul. Saya hanya ingat bahwa biasanya ada hal yang mempersatukan kita tetapi kini menghilang. Ada momen yang menjadikan member baru bisa cepat akrab dengan member lama, entah itu interaksi di blog, di sosial media, atau di event offline. Hari ini masih seperti itu, kok, tapi ada yang kurang untuk BBI.

Ada hal yang pernah saya sampaikan di forum pengurus, tetapi tampaknya saya berbeda pendapat mengenai hal ini. Mengenai rasa memiliki. Dulu, saat saya masuk BBI di Januari 2012, BBI sudah cukup besar, sudah punya aktivitas, sudah keren lah pokoknya, jadi bisa dibilang saya tidak ikut membangunnya dari awal sekali. Namun, saya, dan beberapa anggota yang kurang lebih ‘seangkatan’ dengan saya punya rasa memiliki yang besar, punya keterikatan yang kuat dengan BBI. Semakin bertambahnya anggota, tentunya perlu ada kepengurusan, yang saya rasa baik untuk menegaskan batasan-batasan suatu komunitas. Kalau dilepaskan begitu saja, napas dan visi misi yang dulu dibangun saat awal bisa saja melenceng. Namun, saya merasa pengurus terlalu kuat memegangi BBI. Semua masalah ‘dipaksakan’ untuk selesai di level pengurus, member yang lain hanya tahu beres. Dan ini mengusik saya, karena bagi saya, masalah-masalah serta hambatan itulah sebenarnya salah satu hal yang menyebabkan rasa sayang kita bertambah, karena kita berjuang bersama. Kalau member, apalagi member baru, hanya tahu masalah selesai, atau ada pendelegasian tanpa mengerti urgensi dan kepentingannya bagi BBI, rasanya pasti berbeda. Mungkin, mungkin, inilah salah satu yang menyebabkan regenerasi tidak berjalan baik. Saya tahu banyak anggota lama, bahkan pengurus sudah bergelut dengan urusannya masing-masing, termasuk saya sendiri. Kehidupan ini dinamis, dan kebanyakan kita akan memasuki masa perubahan dari kehidupan kita; kuliah, bekerja, menikah, memiliki anak, pindah tugas, sedikit sekali dari kita yang sudah ‘mapan’ dalam arti tinggal melanjutkan hidup sampai pensiun tanpa ada gelombang di sana-sini. Namun, sekali lagi, pendapat saya berbeda, dan saya menuliskan ini hanya menyampaikan unek-unek saya, bukan untuk melegitimasi atau memaksakan itu.

Dua tahun terakhir ini saya bersiap untuk memasuki sebuah masa transisi yang ternyata tidak jadi saya lalui. Prosesnya cukup panjang hingga saat ini saya berdiri lagi di titik ini. Saat itu, saya terpaksa mengurangi kegiatan yang saya sukai; membaca dan blogging, serta semua kerepotan divus yang sangat saya nikmati. Saya bahkan memutuskan untuk keluar dari grup pengurus, walaupun masih belum sanggup keluar dari grup divus, padahal saya sudah memberi peringatan jauh-jauh hari saat itu bahwa akan keluar dari divus. Karena sibuk dengan urusan sendiri, saya jadi tidak bisa memberi kontribusi lebih kepada pengurus, makanya lebih baik saya keluar daripada mengetahui ada masalah tetapi tidak bisa membantu, atau lebih parahnya, memberi usulan dan saran, tetapi tidak ada yang sanggup mengeksekusinya.

Mulai tahun ini saya sudah bertekad untuk kembali. Sempat beberapa minggu lalu ada wacana event komunitas di Yogyakarta, dan saya sudah siap untuk menjadi perwakilan BBI mengurus segala kerepotannya (walaupun agak ragu juga). Namun, karena satu dan lain hal kegiatannya dibatalkan, lalu saya berpikir, mungkin memang sebaiknya seperti itu. Bukan karena tidak ada yang mengurus, tapi untuk apa? Mengenalkan BBI? Menjaring member? BBI tidak butuh itu, menurut saya, yang diperlukan BBI hari ini adalah bagaimana merekatkan kembali para member yang sudah tersebar dari Sabang sampai Merauke. Kita tidak perlu event ke luar, kita perlu lebih banyak event di dalam. Bagaimana caranya? Saya tidak tahu, sungguh tidak tahu, karena itulah saya di sini menyampaikan unek-unek saya, dan bukannya pergi ke forum pengurus dan mengusulkan ini dan itu.

Mohon maaf jika ada yang tidak berkenan dengan tulisan saya. Saya sadar, banyak pendapat saya tidak populer, utamanya di kalangan pengurus. Namun, apapun yang terjadi, saya tetap sayang BBI, sayang kawan-kawan, member lama ataupun baru, yang sudah kenal ataupun yang belum kenal, karena kita disatukan oleh maskot yang lucu nan menggemaskan ini. Siapa yang tidak gemas coba?

BBI

Post ini dibuat dalam rangkaian event ulang tahun BBI ke-6, ada marathon dan giveaway hop. Nantikan giveaway di blog ini tanggal 15 April besok ya. Lebih banyak lagi cek http://www.blogbukuindonesia.com