Scene on Three (126)

Menjadi perempuan tak pernah mudah, bahkan di zaman sekarang. Berabad-abad perempuan melakukan ‘perlawanan’ untuk memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki, mendapat hak yang sama, dipandang sebagai manusia yang setara—bukan inferior. Namun, kadang kala perjuangan ini bisa dimentahkan kembali, bukan hanya oleh laki-laki, tapi oleh perempuan itu sendiri. Mereka yang mengkritisi pilihan perempuan lain, menganggap hanya ada satu jalan untuk perempuan, menganggap tabu jika perempuan punya kemampuan lebih dibanding lelaki.

Kebetulan beberapa waktu terakhir saya membaca beberapa buku yang mengangkat tentang hal ini, salah satunya adalah A Golden Web karya Barbara Quick. Kisah berlatar abad ke-14 ini mengisahkan seorang perempuan cerdas—yang rasa ingin tahunya sangat besar—hingga dia harus menyamar menjadi lelaki demi bisa belajar di sekolah kedokteran. Kesempatan yang saat ini sangat terbuka lebar. Perempuan hari ini bebas bisa menjadi apa saja, tetapi selalu ada yang ingin mundur.

Hari ini, di Indonesia, masih ada orang-orang yang mengkritisi perempuan yang bersekolah tinggi dan menekuni profesinya. Katanya kodrat perempuan itu di rumah, membesarkan anak. Apakah sekolah dan karir menghambat hal itu? Jika dalam Islam dikatakan bahwa ibu adalah madrasah pertama, dan madrasah pertama akan menentukan kualitas anak ke depannya, maka seorang ibu tentu harus cerdas. Ibu yang cerdas dan berpendidikan akan menjamin anak-anak mereka mendapatkan pendidikan pertama yang berkualitas tinggi. Lalu, kita yang fana ini apakah bisa menjamin apa yang terjadi di masa depan, jika para ayah tak mampu menjamin keuangan keluarga, atau bahkan meninggal dunia, apakah perempuan harus pasrah begitu saja menanti untuk dinikahi kembali demi bisa ‘hidup’?

Apa pilihan seorang perempuan selain menjadi biarawati atau istri? Para janda sering kali bisa dan mampu menggantikan pekerjaan suami mereka. Namun, tidak ada perempuan yang benar-benar memiliki profesi tertentu—kecuali, mungkin, seorang pelayan. (p.138-139)

Jika seorang perempuan mau dan mampu, kenapa harus dibatasi atas nama kodrat? Terlebih dalam A Golden Web ini, sang perempuan digambarkan lebih cerdas ketimbang rata-rata lelaki yang ditemuinya. Perempuan ini bahkan melakukan percobaan penting yang membuktikan teori yang penting bagi umat manusia di kemudian hari.

Sampai hari ini, coba kita hitung banyaknya perempuan yang menemukan, menjelajah, bereksperimen, dan memberikan manfaat bagi dunia ini. Jumlahnya tentu banyak—dan mungkin lebih banyak seandainya perempuan punya kesempatan yang sama sejak awal. Jika tidak ada mereka, apakah dunia kita akan seperti ini sekarang?

Banyak yang menganggap bahwa perjuangan perempuan itu bertujuan untuk menyaingi para lelaki. Padahal, hal itu sesederhana para laki-laki yang memiliki ambisi. Kenapa perempuan tidak boleh memiliki ambisi, tanpa dianggap berusaha menihilkan para lelaki? Seharusnya kita saling mendukung, sesuai dengan kemampuan masing-masing, tak peduli apa jenis kelaminnya.

“Dia berkata, ‘Keberanian seorang lelaki tampak dalam caranya memerintah, dan keberanian seorang perempuan tampak dalam caranya mematuhi.’ Jika memakai penilaian itu, Otto, aku ini seorang pengecut.”
“Kalau begitu, berdasarkan penilaian itu juga, Sayangku, aku ini seorang perempuan—karena aku siap mematuhi segala perintahmu.”
(p.259)

Kenapa kita berusaha mundur ke belakang, dan mengulang sejarah kelam yang menenggelamkan potensi setengah populasi dunia?

Apa itu Scene on Three?

Baca juga tulisan saya tentang dilema penulis perempuan di Jurnal Ruang.

Advertisements

Mini Reviews : Children – Young Adult

22608982The Carpet People / Terry Pratchett (author & illustrator) (1971) / Houghton Mifflin Harcourt / First U.S. edition, 2013 / Paperback, 294 pages

Buku ini merupakan karya pertama Pratchett yang diterbitkan. Diawali dari cerita bersambung mingguan yang dikirim ke kalangan tertentu, kemudian dikembangkan menjadi novel, dan diterbitkan. Seiring dengan pendewasaan penulis, maka buku ini mengalami beberapa perbaikan dan penyesuaian, ditambah ilustrasi karya penulis sendiri. Pada edisi ini ada tambahan halaman ilustrasi berwarnanya, serta tambahan versi awal yang terbit setiap pekan. Buku ini berhasil meneguhkan bahwa penulis sangat lihai membangun sebuah dunia yang sama sekali baru, dengan aturannya sendiri, serta begitu solid, sehingga seringkali sulit dibayangkan.

I wrote that in the days when I thought fantasy was all battles and kings. Now I’m inclined to think that the real concerns of fantasy ought to be about not having battles, and doing without kings.

Dunia yang disebut Carpet ini ditinggali oleh suku bangsa yang berbeda-beda, di wilayah yang berbeda pula karakteristiknya. Sehingga seseorang bisa dengan mudah mengetahui bahwa dia sudah masuk ke wilayah bangsa lain ketika dilihatnya warna tanah dan langit berubah, bentuk dan kerapatan pohon (yang disebut sebagai Hair) berbeda. Karakter utama dalam buku ini berasal dari golongan Munrungs, yang harus meninggalkan tanahnya karena diserang oleh sesuatu yang menakutkan, yang saat itu belum bisa mereka identifikasi dengan benar. Dalam perjalanan, mereka masuk ke wilayah lain, bertemu dengan bangsa-bangsa lain, yang kemudian saling bersekutu untuk melawan musuh bersama.

“Nothing has to happen. History isn’t something you live. It is something you make. ….” (p.162)

You don’t have to accept it; you can change what’s going to happen. (p.252)

Suku bangsa yang berbeda ini memiliki sifat dan kebiasaan yang berbeda, yang menjadikan toleransi dan saling melengkapi menjadi salah satu nilai dari buku ini. Buku ini cukup potensial untuk dikupas lebih dalam lagi. Dan dengan humor yang apik di sana-sini, tampaknya tak akan membosankan untuk dikunjungi kembali.

“…. He said we didn’t need a lot of old books, we knew all we needed to know. I was just trying to make the point that a civilization needs books if there’s going to be a reasoned and well-informed exchange of views.” (p.206)

 

288676The Broken Bridge / Philip Pullman (1990) / First Dell Laurel-Leaf edition, September 2001, 7th printing / Mass market paperback, 220 pages

Ginny dilahirkan dari ayah kulit putih dan ibu yang berkulit gelap. Namun, dia hidup hanya dengan ayahnya saja, yang membuatnya semakin merasa terasing akibat perbedaan warna kulit. Ginny senang menggambar dan melukis, bakat yang menurut ayahnya didapatkan dari ibunya. Ginny semakin nyaman dengan ini, karena dia merasa tak asing lagi, karena dia sama dengan ibunya.

Di usia remajanya, Ginny berambisi untuk mencari keluarga dari pihak ibunya. Namun, berbagai hal terjadi silih berganti, mulai dari pekerja sosial yang bolak-balik menanyainya, yang membuka kebenaran yang selama ini tersembunyi. Ginny usia 16 tahun harus menghadapi kenyataan mendadak mengenai hidupnya yang ternyata dipenuhi kebohongan. Perlahan tapi pasti semuanya terkuak, dan semakin dia mencari, semakin dalam dia terjebak dalam kebohongan-kebohongan tersebut. Kemudian, titik terang muncul ketika dia mulai berpikir jernih dan menerima kenyataan, menerima apa adanya.

Cerita tentang pencarian diri, identitas, dan asal mula. Tidak hanya membahas mengenai keluarga, buku ini juga menceritakan gejolak remaja terkait pertemanan, seksualitas, serta isu terkait diskriminasi dan kriminalitas. Semakin masuk ke belakang, kisah terasa semakin dalam dan kuat, hingga sampai ke akhir yang sangat memuaskan. Sebuah kisah keluarga yang begitu pelik dan penuh emosi.

I can see in the dark. I can’t see so well in the daylight, can’t see the obvious thing …. I can understand mysteries. Like the broken bridge. (p.121)

 

Seesaw Girl / Linda Sue Park (1999) / Illustrated by Jean and Mou-sien Tseng / Sandpiper, an imprint of Houghton Mifflin Harcourt / Paperback, 90 pages

7153349Korea di abad ke-17 masih sangat tertutup dari dunia luar. Mereka hidup dengan cara mereka sendiri. Pada masa itu, wanita kelas atas tidak diperbolehkan keluar dari rumah, kecuali saat mereka menikah, kemudian mereka masuk ke rumah keluarga suami mereka, dan tidak diperbolehkan keluar kembali. Hidup mereka di dalam dinding berkisar seputar pekerjaan rumah tangga. Wanita bahkan tidak mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan.

Sebagai perempuan dari keluarga terpandang, Jade Blossom pun harus selalu berada di rumah untuk menjaga kehormatan diri dan keluarganya. Sejak pernikahan Graceful Willow—bibi yang usianya tak terpaut jauh dengannya, Jade merasa kesepian karena tak ada lagi teman perempuan yang sebayanya. Dia pun bertekad untuk mendatangi Willow di rumah suaminya, meski harus melanggar peraturan secara diam-diam. Rencana dijalankan, tetapi banyak hal mengenai dunia luar yang tak diantisipasi oleh Jade. Sekilas pandangan akan dunia luar membuat rasa keingintahuan Jade remaja tergelitik. Dia melakukan apa yang tidak boleh dilakukan, dan melihat apa yang tidak seharusnya dia lihat. Pemandangan itu semakin membuat Jade ingin tahu lebih dalam lagi, sehingga dia belajar dan melakukan hal yang tak wajar dilakukan oleh perempuan di masa itu.

The path to wisdom lies not in certainty, but in trying to understand. (p.66)

Buku ini kecil, tetapi membawa pesan yang sangat kuat. Karakter dalam buku ini tidak digambarkan sebagai tokoh revolusioner yang akan mengubah Korea, tetapi kesan akan adanya perubahan disampaikan melalui cara yang lain. Sebuah kisah sederhana yang terasa jauh dari kita yang sudah terbiasa hidup dalam kebebasan, tetapi begitu dekat karena deskripsi yang kuat dari penulis. Hal yang mengganjal bagi saya adalah nama-nama yang dipilih dalam buku ini bukan nama Korea, entah karena sasaran pembacanya atau apa, tetapi justru membuat suasana Koreanya sedikit terganggu. Apalagi menjadi tidak cocok karena saat itu Korea masih terisolasi dari dunia luar.

 

A Golden Web / Barbara Quick (2010) / Translated to Indonesian by Maria M. Lubis / Penerbit Atria / Cetakan I, Maret 2011 / Paperback, 272 pages

“Aku tidak mau dilupakan.”
“Kau tidak akan dilupakan, Alessandra Giliani!”
(p.260)

10588138Kisah ini terinspirasi dari ahli anatomi pertama yang pernah tinggal di Bologna, sekitar abad ke-14. Pada saat itu, tempat wanita adalah di rumah, saat waktunya tiba, mereka harus siap menjadi istri dan melahirkan anak, atau—pilihan lainnya adalah menjadi biarawati. Tidak ada pilihan untuk belajar maupun bekerja. Alessandra Giliani bisa dikatakan mendobrak aturan sosial pada saat itu. Hingga—mungkin—bukti dan dokumen tentangnya sempat dimusnahkan, dan tersisa sedikit sejarah tentangnya. Dari sedikit yang ada itu, penulis menyusun sebuah fiksi sejarah, dengan sebagian besar kisah keluarganya direka oleh penulis.

Sejak kecil, Alessandra hidup dikelilingi buku-buku, karena ayahnya bekerja menyalin buku-buku untuk dijual kembali (saat itu belum ada percetakan, semua dikerjakan secara manual). Alessandra yang punya rasa ingin tahu besar, ditambah cintanya pada ibunya yang meninggal saat melahirkan adik bungsunya, mulai tertarik pada ilmu manusia. Hal ini membawanya ke Bologna, menyamar menjadi laki-laki demi masuk ke sekolah kedokteran.

Semangat belajar dan tekad Alessandra yang sulit dipatahkan, serta dukungan dari orang-orang di sekitarnya begitu mengharukan. Suasana yang digambarkan penulis memberikan bayangan yang cukup mengenai kondisi sosial masyarakat pada zaman itu. Betapa menjadi perempuan yang cerdas adalah sebuah aib yang harus ditutupi. Dan betapa tidak beruntungnya, saat hidup mereka hanya dinilai sebatas peran sebagai penyetak bayi, tanpa hak untuk mendapatkan kehidupan yang mereka kehendaki, bahkan tanpa jaminan keselamatan dalam ‘tugas’ yang diembannya.

Menurut saya, alurnya agak terlalu lambat di awal dan terlalu cepat di akhir. Justru cerita tentang proses belajarnya lebih menarik untuk diperpanjang, hingga setara dengan latar belakang sosial masyarakat yang sudah digambarkan panjang di awal.

 

18060916Liesl & Po / Lauren Oliver (2011) / Illustrated by  Kei Acedera (2011) / Translated to Indonesian by Prisca Primasari / Penerbit Mizan / Cetakan I, April 2013 / Paperback, 319 pages

Saat sedang ketakutan, orang-orang tak selalu melakukan hal yang benar. Mereka berpaling. Menutup mata. (p.103)

Liesl dikurung di loteng oleh ibu tirinya, berbulan-bulan sejak ayahnya sakit hingga meninggal dunia. Liesl dengan sabar menerima perlakuan itu, meski dalam hati dia sangat merindukan ayahnya, serta pohon willow tempat mereka menguburkan ibunya, dekat tempat tinggal mereka yang dulu. Suatu malam, sesosok hantu bernama Po dengan anjing/kucing hantu bernama Bundle mengunjunginya dari Dunia Lain. Tak ada yang memahami kenapa Po bisa menembus hingga ke tempat Liesl. Dengan imbalan gambar Liesl, Po bersedia membantu gadis itu mencari ayahnya di Dunia Lain, meski normalnya hal tersebut mustahil.

Di sisi lain, ada Will, murid sang alkemis, yang mengagumi Liesl sejak pertama dia melihatnya melalui jendela loteng tempatnya dikurung. Will yang dipaksa bekerja keras oleh sang alkemis tanpa imbalan yang setimpal, melakukan sebuah kesalahan yang membuatnya mendapat masalah besar, dia pun lari sejauh-jauhnya.

Itulah masalah lain orang hidup: Mereka terpisah, selalu terpisah. Mereka tak pernah benar-benar membaur. Mereka tak tahu bagaimana menjadi seseorang selain diri mereka sendiri; kadang mereka bahkan tak tahu bagaimana caranya menjadi diri sendiri. (p.99)

Berbagai kejadian dan rencana secara tak terduga mempertemukan semua karakter dalam buku ini. Karakter baik dan jahat, masing-masing memiliki kisahnya sendiri, yang berhubungan satu sama lain, membentuk jalinan cerita yang bermuara pada cinta—cinta antar anggota keluarga, teman, dunia, dan sesama manusia, juga sesama makhluk hidup. Walau menyimpan banyak kejutan, kisah ini menyimpan banyak sekali kebetulan dan penyelesaian yang mudah, terlalu mudah bahkan. Meski demikian, setiap karakter menampakkan peran yang kuat.

Dan sungguh, inilah inti dari segalanya, karena jika kau tak percaya bahwa hati bisa mengembang secara tiba-tiba, dan cinta bisa merekah layaknya bunga bahkan di tempat yang paling keras, aku takut kau akan mendapati jalan yang panjang, gersang, dan tandus, dan kau akan kesulitan menemukan cahaya. (p.315)

See You in the Cosmos – Jack Cheng

32048758

Title : See You in the Cosmos
Author : Jack Cheng (2017)
Publisher : Puffin Books
Format : Paperback, 314 pages
ISBN : 978-0-141-36560-2

Buku ini kubaca sekitar November tahun lalu. Saat itu saya sedang masa lepas dari reading slump, tetapi setelah menamatkan ini, saya justru mengalami book hangover yang parah hingga sulit membaca apa-apa. Buku ini menarik saya karena buku anak bertema antariksa, pun penulis debut biasanya bebas ekspektasi, harganya pun relatif murah. Awalnya saya urung, tapi entah mengapa terbayang-bayang terus dan kuputuskan tetap membelinya. Memang seringkali intuisi tidak boleh diabaikan, saya memang akhirnya suka sekali buku ini. Bahkan sampai selama ini, saya tetap merasa perlu menuliskan reviewnya—walau tak sesempurna yang saya harapkan.

Buku ini dituliskan dari rekaman iPod seorang anak 11 tahun bernama Alex Petroski. Alex terobsesi dengan roket dan ruang angkasa, penggemar berat Carl Sagan, yang bermimpi untuk menerbangkan roketnya sendiri. Rekaman yang terinspirasi dari Golden Record yang diluncurkan ke luar angkasa itu, akan dibawanya ke SHARF (Southwest High-Altitude Rocket Festival) yang ditemukannya via internet. Dia juga berkenalan dengan sesama nerd di Rocketforum, orang-orang yang baru mengetahui bahwa Alex adalah anak-anak setelah bertemu langsung dengannya.

He said if we can do something that big, something that’s never been done before in the history of humanity, then of course we can solve all the problems we have at home. (p.59)

Alex yang digambarkan lebih dewasa dari usianya ini bepergian sendiri—ayahnya sudah tak ada, ibunya digambarkan mengalami fase-fase aneh dan kesulitan merawat Alex maupun dirinya sendiri, sementara kakak lelakinya, Ronnie, bekerja jauh di luar kota. Awalnya kita hanya akan melihat kisah ini dari sudut pandang Alex melalui penuturannya di rekaman iPod. Namun, seiring dia menemui banyak orang, kita bisa mendengar suara-suara mereka, percakapan yang tak sengaja terekam, ataupun rekaman yang disengaja tanpa sepengetahuan Alex, sehingga menjelaskan banyak hal kepada pembaca hal-hal yang tak dipahami Alex. Bagaimana pun tanggung jawab besar yang ditanggungnya, Alex tetaplah anak-anak.

Alex yang belajar tentang roket secara autodidak, tidak pernah melakukan uji coba, harus bersiap untuk dikecewakan ekspektasinya yang sangat tinggi. Untunglah orang-orang yang ditemuinya juga baik, perhatian, dan simpatik. Sampai dia menemukan sebuah nama di internet yang akan mengubah hidupnya, orang-orang ini juga yang membawa Alex lebih jauh, menemui orang-orang lain yang di luar dugaan, membuka rahasia-rahasia, dan meluruskan masalah-masalah.

Buku yang sangat indah, tokoh utama yang manis, petualangan yang seru, penuh kejutan, dan meninggalkan begitu banyak kesan emosional. Karakter favorit saya di buku ini adalah Ronnie Petroski, yang mulanya dari deskripsi Alex tampak seperti kakak yang cuek dan ingin lari dari masalah. Kenyataannya justru sebaliknya, dia adalah sosok pengganti kepala keluarga yang penuh tanggung jawab dan rela berkorban demi keluarga. Saya tidak bisa tidak menyukainya.

Buku ini mungkin awalnya cenderung datar, tetapi lambat laun dengan hadirnya para karakter dan terbukanya misteri, terasa indah menyentuh hati, bahkan saya sempat menangis pada salah satu bagian.

These words we try to use to describe it, to describe that feeling, these words like love and bravery and truth, the reason they can’t describe it all the way, and the reason that sounds or music or pictures can’t describe it all the way either, is because THEY’RE all shadows too! WORDS ARE SHADOWS TOO! (p.298)

Sebagai penutup, akan saya kutipkan joke receh ala nerd yang menghiasi buku ini.

How does an astronaut cut his hair on the moon?

Eclipse it.

(p.91)

Why didn’t the Dog Star laugh at the comedy show?

Because it was too Sirius.

(p.149)

Gentayangan – Intan Paramaditha

35702080Judul : Gentayangan: pilih sendiri petualangan sepatu merahmu
Penulis : Intan Paramaditha (2017)
Penyelia naskah : Mirna Yulistianti
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Edisi : Cetakan pertama, Oktober 2017
Format : Paperback, 492 halaman

Cerita mengutukmu saat kau tahu tak ada apa pun yang bisa kau ubah setelah mendengarnya. (hal. 271)

Kau terikat perjanjian dengan Iblis Kekasih. Dia memberimu sepatu merah yang akan membawamu bertualang tanpa henti. Kau, seorang guru bahasa Inggris yang tak pernah pergi ke negara berbahasa Inggris. Kau yang merasa bosan setengah mati dengan hidup yang kaujalani lebih dari seperempat abad. Kau yang merasa belum mencapai apa pun dalam hidupmu. Kini, sepatu merah membebaskanmu sekaligus mengutukmu. Sepatu Iblis yang terkutuk, tapi kau selalu punya pilihan.

Pilihan adalah salah satu kekuatan buku ini. Jalan yang kau pilih akan menentukan bagaimana hidupmu selanjutnya, bagaimana akhir dari perjalananmu (jika ada akhirnya), dan apakah kau akan meraih kebahagiaan—atau apa pun yang kau inginkan—sebagai konsekuensi dari pilihan ini. Hal ini membuat buku ini terasa dekat dengan kehidupan. Dalam hidup, kita selalu berhadapan dengan pilihan dan segala konsekuensinya. Bedanya, dalam kehidupan tak ada jalan memutar.

Pilihan. Saat sepatu merahmu hilang sebelah, apa yang akan kaulakukan, kembali untuk mencarinya, atau meneruskan perjalananmu? Sepatu yang begitu berharga karena membawamu jalan-jalan, atau justru karena dia sepatu Iblis, kau yakin dia akan kembali sendiri. Saat kau bertemu seseorang yang membuatmu nyaman, apakah kau akan dengan rela hati meninggalkan hidup penuh petualangan yang sedang kaunikmati? Apakah kau rela berpisah dengan sepatu merahmu saat melihat ada orang lain yang memerlukan kebebasan, sebagaimana yang kaudapatkan beberapa saat sebelumnya? Apakah kau memilih jalan yang sudah pasti di depan matamu, atau kau akan merawat fantasi dan harapan semu akan sesuatu yang lain?

Penulis fiksi ternyata benar-benar iseng, kalau bukan keji. Mereka bekerja keras menciptakan labirin, mencari orang-orang patuh untuk disesatkan di dalamnya, menikmati penderitaan korban sambil minum kopi dan makan donat. (hal. 319)

Sebuah buku yang mengandung belasan atau puluhan kemungkinan ini, memberikan kita kesempatan menjalani hidup dengan berbagai peluang dan jalan kembali. Di sini, waktu bisa diputar. Jika kita menyesali pilihan yang kita ambil sebelumnya, kita bisa kembali dan mengambil jalan lain, lalu bertemu dengan akhir yang lebih baik. Jika akhir yang kita dapatkan sudah baik, tapi membosankan, kita bisa berandai-andai, bagaimana jika kita memilih jalan yang (mungkin) kurang baik, tapi lebih seru. Atau kembali untuk sekadar memuaskan rasa penasaran tentang “Bagaimana jika aku tadi memilih jalan yang lain?” Sebuah pertanyaan yang mustahil terjawab dalam kehidupan nyata.

Meski begitu, sebagaimana hidup, ada kalanya jalan yang kita lalui tak menyisakan pilihan. Kita dipaksa untuk maju terus, meski mendamba pilihan yang lain. Atau saat kita merasa sudah memilih jalan yang lebih baik, ternyata akhirnya sama saja, tetap di jalan yang sama dengan pilihan sebelumnya. Keputusan yang berbeda bisa saja membawa kita pada akhir yang sama. Kita bisa menyebutnya takdir, atau kau boleh juga mengatakan itu kutukan sepatu merah.

Maafkan kesewenang-wenangan cerita ini, tapi kau tahu bahwa terkadang hidup mencabut semua pilihan. Memilih adalah sebuah kemewahan. (hal. 286)

Buku ini juga berbicara mengenai budaya dan geografi dengan cukup fasih. Mulai dari Indonesia, terutama dari sudut pandang kau (sang karakter utama), yang digambarkan sebagai pemeluk agama mayoritas, tapi tak menjalankan nilai agama sepenuhnya, Amerika Serikat di mata para imigran, serta Belanda dan Jerman dengan sejarah-sejarahnya. Tak hanya itu, aroma fiksi ilmiah, dongeng, legenda, dan misteri akan muncul dalam beberapa pilihan yang kita ambil. Pengalaman penulis mengunjungi dan tinggal di berbagai negara menghasilkan deskripsi yang sangat detail, seolah kita benar-benar berada di tempat itu, merasakan sendiri perjalanan dengan semua indra terbuka. Kritik sosial mau tak mau akan timbul di sana-sini. Dengan kejujuran yang terkadang mengejutkan, penulis tak ragu mengangkat isu sensitif yang terjadi saat ini, maupun yang sudah berlalu, seperti tragedi 1998 dan 1965.

Salah satu hal yang menggelitik adalah bagaimana penulis membuat tafsirannya sendiri atas dongeng dan legenda yang sudah terkenal. Seperti Dorothy dalam The Wizard of Oz yang tak sepolos bayangan kita saat membaca/menonton cerita anak-anak tersebut, juga motif tak-terlalu-durhaka dari sikap Malin Kundang sebelum dikutuk menjadi batu. Perubahan ini membuatnya semakin dekat dengan sebagian besar dari kita, karena tak ada manusia biasa yang benar-benar suci, dan tak ada yang murni keji.

Kau lihat? Betapa sulitnya bicara tentang akar, tanah, dan ikrar setia bila nenek moyangmu seorang pelaut.
Ambillah sauh dan pilih sendiri pengkhianatanmu.
(hal. 28)

Membaca buku ini tentu tak akan menghasilkan pengalaman yang lengkap jika belum menelusuri semua pilihannya. Sehingga ada baiknya saat membaca, kita buat peta sederhana yang mudah diikuti sebagai pemandu jalan agar tidak tersesat saat ingin kembali. Saat membaca buku ini, awalnya saya memilih pilihan pertama dari setiap pilihan yang tersedia hingga tamat. Lalu saya kembali satu langkah, untuk memilih jalan berikutnya, begitu seterusnya. Karena kebetulan pilihan pertama memiliki cabang yang terbanyak, dan pada titik tertentu kita diajak menelusuri hal yang itu-itu saja, muncul rasa bosan. Pada titik jenuh itu, saya meninggalkan pilihan-pilihan yang (kelihatannya) tinggal sedikit, dan memutari jalan yang benar-benar berbeda. Sebenarnya ada untungnya juga mengambil jalan yang urut, karena kita tidak lupa dengan detail kejadian sebelumnya, terutama pada kisah yang panjang dan banyak jalan bercabangnya. Namun, ada kalanya juga jalan memutar yang kita rasa sudah jauh ternyata membawa kita ke peristiwa yang sama. Kalaupun menginginkan perjalanan spontan yang tak direncanakan, buku ini juga bisa dinikmati per satu jalur saja hingga menemukan kata tamat. Lalu lupakan semuanya, dan kembali ke awal lagi, menikmati perjalanan yang jauh berbeda, atau begitu mirip. Intinya, pilih sendiri petualanganmu!

Selain dinikmati sebagai beragam petualangan, secara umum, ada beberapa ide besar yang faktanya terserak di antara petualangan yang banyak itu. Awalnya detail tersebut bisa tampak sebagai pemanis cerita saja, tetapi, saat sudah menemukan tiga, lima, atau sepuluh petunjuk ke hal yang sama, rasanya tak sulit menarik satu benang merah yang menampilkan sebuah kisah sendiri. Terutama tentang asal-usul sepatu merah dan pemilik sebelumnya.

Kau menimang-nimang sepatu merah di pangkuanmu. Ia terlihat lelah namun haus perjalanan, sama sepertimu. Kau selalu mengira petualangan memaksamu menoleh ke belakang, tapi barangkali ia juga sebuah lingkaran—lingkaran setan, tepatnya—terus-menerus, tak putus; kau akan melewati jalan yang sama dan jatuh di lubang yang sama, seperti déjà vu konstan, tapi mungkin, sekali waktu, kau akan beruntung. (hal. 475)

Meski Iblis Kekasih mengatakan tak ada jalan pulang setelah sepatu merah ini, nyatanya buku ini menyuguhkan beberapa definisi untuk pulang. Saya rasa, dengan atau tanpa sepatu merah pun, perjalanan tak akan membawa kita ke ujung yang sama. Segala peristiwa dan kejadian akan mengubah kita, mengubah cara pandang kita akan sesuatu, mengubah cara pandang orang lain tentang kita, begitu pula semua orang di sekitar kita maupun yang kita tinggalkan akan berubah. Pulang tak akan pernah sama. Kau hanya perlu memilih, harga yang menurutmu sepadan.

Kini kau paham mengapa buat mereka yang pergi sekian lama, atau terlalu lama, pulang butuh keberanian. (hal. 428)

Cewek baik masuk surga, cewek bandel gentayangan.

Flora & Ulysses – Kate DiCamillo

30164426Title : Flora & Ulysses
Author : Kate DiCamillo (2013)
Illustrator : K.G.Campbell (2013, 2014)
Publisher : Walker Books
Edition : First printing, 2015
Format : Paperback, 256 pages

Holy bagumba!

Buku ini adalah buku DiCamillo paling ceria yang pernah kubaca sejauh ini. Flora Belle Buckman, yang dengan pengalaman membaca ekstra di komik The Illuminated Adventures of the Amazing Incandesto! langganannya, mengenai Hal Buruk yang Bisa Terjadi Padamu, menyelamatkan seekor tupai dan menjalin persahabatan dengannya. Tupai yang karena sebuah kecelakaan dengan penyedot debu super Ulysses 2000x, berubah menjadi superhero–seperti Incandesto–yang kemudian dinamainya Ulysses.

Dalam petualangannya dengan Ulysses, Flora menemukan teman (Mrs. Tickham sebelah rumah yang luar biasa, William Spiver yang kadang menjengkelkan, Dr Meescham dengan kisah Blundermeecen-nya), ayah yang sempat ‘hilang’, serta kenyataan mengenai ibu yang selama ini tidak disadarinya.

Perpisahan kedua orang tua Flora membuat banyak hal berubah dalam hidupnya. Dia tak lagi tinggal bersama ayah yang biasanya menjadi kawan per-Incandesto-an, kalaupun ayahnya datang untuk membawanya keluar sekali waktu, pria itu terlihat murung dan kesepian. Ibunya yang seorang penulis novel romansa sibuk dengan buku yang tak menarik bagi Flora, di depan mesin ketik dengan rokok yang selalu menyala, dan kesayangan tak masuk akal terhadap lampu yang diberi nama Mary Ann.

Hanya teman-teman barunya yang mengerti betapa berharganya Ulysses, dan membantu melindunginya. Juga dengan kisah-kisah spektakuler yang mereka bawa, serta petualangan yang mereka jalani berikutnya. Melalui kejadian-kejadian luar biasa ini, Flora yang (mengaku) sinis mulai mengenal harapan, cinta, dan perasaan-perasaan yang selama ini tak terungkapkan.

Holy unanticipated occurrences!

Buku ini dilengkapi dengan ilustrasi yang bukan hanya menghiasi, tetapi ikut berkisah dan menghidupkan suasana, menggantikan kata-kata dan kalimat-kalimat. Mungkin–seperti yang disinggung dalam kisah ini, dan sebagaimana Flora berkali-kali menggunakan komik favoritnya sebagai referensi yang sangat berguna–buku ini menunjukkan bahwa ada kalanya komik bisa berkisah lebih baik ketimbang narasi.

Penulis juga gemar berinteraksi dengan pembaca melalui narasinya. Utamanya untuk memberikan pengertian mengenai kata-kata sulit–karena target pembacanya adalah anak, atau kejadian yang sulit dipahami anak-anak. Beberapa kali dia mendorong pembacanya untuk membuka kamus, salah satu cara yang baik untuk belajar.

Di samping lucu dan menyenangkan, buku ini menyimpan emosi mendalam mengenai jiwa manusia. Tentang kesepian, keluarga, dan rumah. Bahwa terkadang manusia tidak bisa menyampaikan apa yang ada di dalam hatinya yang sesungguhnya, sehingga butuh sesuatu untuk mengungkapkan kebenaran, meski tragedi sekalipun.

“The truth,” said William Spiver, “is a slippery thing.” (p.240)