Belanja Buku di Solo

kota-solo_20151108_174153

Solo adalah sebuah kota yang cukup kecil di Jawa Tengah, dilihat dari segi ukuran. Namun, perkembangan perekonomian dan wisata sepertinya tak kalah dengan kota-kota besar lainnya. Saya tidak punya datanya sih, cuma melihat pesatnya pembangunan mal dan hotel, serta padat dan macetnya saat hari libur, terutama liburan panjang. Jadi, diiyakan saja lah.

Solo lebih terkenal pada wisata budaya dan kerajinannya; Keraton, Sentra Batik, Pasar Klewer, Pasar Triwindu, Ngarsopuro, atau event-event khusus seperti Festival Payung, Solo Batik Carnival, Festival Kuliner, dsb. Kalau untuk mencari buku, rasanya Solo bukan sebuah tujuan yang terlalu ‘menghasilkan’. Namun, jika suatu saat mampir ke Solo, atau sudah/akan tinggal di Solo, jangan khawatir akan kesulitan mencari buku, karena ada beberapa tempat menarik dengan berbagai karakteristiknya.

Buku Baru

Untuk buku baru yang standar, Gramedia memiliki dua cabang di Solo, satu di Jalan Slamet Riyadi di area Timuran, sedangkan yang kedua ada di dalam mal Solo Square. Kedua Gramedia ini memiliki koleksi cukup lengkap dan terbaru, dan di lokasi Slamet Riyadi sering ada area obralan, baik yang cukup besar di area pelataran, atau yang kecil-kecilan di dekat area parkir basement. Selain itu, Gramedia juga kerap memiliki area kecil di mal-mal yang disebut Gramedia Expo. Biasanya waktunya lebih panjang dari obralan biasa, tetapi tidak permanen, hanya beberapa bulan atau tahun, lalu pindah ke mal yang lain. Untuk kemunculannya biasanya diberitakan di sosial media Gramedia Solo Square.

Untuk buku baru berdiskon, ada Togamas. Tadinya dia berlokasi di Kota Barat, tetapi beberapa tahun lalu sudah bergeser sedikit ke daerah Gendhingan, Jalan Slamet Riyadi, tak jauh dari Solo Grand Mall (SGM, tapi jangan tertipu nama ya). Togamas juga sudah membuka cabang di Solo Paragon Mall, dengan koleksi yang relatif tidak selengkap di Togamas pusatnya. Yang menarik dari toko buku ini selain diskon seumur hidup untuk semua buku, ada buku-buku dari penerbit nonmainstream. Bahkan buku-buku sastra seperti terbitan Balai Pustaka dan Dian Rakyat berumur relatif panjang di toko buku, hanya sayangnya definisi sastra di sini agak kabur, jadi buku-buku sastra dari penerbit mainstream termasuk ke dalam novel yang umurnya hanya sekian bulan jika penjualannya kurang baik. Konsep dari toko ini juga inginnya bukan hanya berjualan buku, tetapi menjadi wadah untuk berbagai kegiatan, jadi di tengah area buku anak disediakan juga meja-meja dan alas duduk untuk sekadar membaca-baca, atau kegiatan lain yang diadakan bekerjasama dengan pihak luar. Di antara rak buku dewasa juga tersedia beberapa bangku yang cukup nyaman untuk membaca atau sekadar beristirahat. Kabarnya memang manajer toko ini tak berkeberatan jika pelanggan membaca buku di tempat.

Ada sebuah toko yang paling lama bertahan, sepanjang pengetahuan saya, di antara berbagai toko buku yang sudah tutup sejak menjamurnya penjualan online dan (mungkin) buku bajakan, yaitu Toko Buku Sekawan. Toko ini hampir dua pertiga areanya menjual alat tulis dan peralatan kantor, tetapi sepertiga area bukunya cukup menarik. Walau koleksinya tidak lengkap, banyak buku lama bisa ditemukan di sini, sebagai contoh saya pernah menemukan terjemahan Coraline (Neil Gaiman) dan The Magician’s Elephant (Kate DiCamillo), pada tahun 2012, saat buku itu sudah lama menghilang dari toko buku yang lain. Selain buku fiksi dan nonfiksi umum, buku referensi di sini cukup lengkap. Untuk kalangan medis, penerbit andalan kami adalah EGC, dan toko ini menyediakan puluhan judul dari penerbit ini dalam berbagai bidang.

Untuk buku impor, saat ini sudah ada cabang Books & Beyond di Hartono Mall, yang sebenarnya secara administratif sudah bukan bagian dari kota Surakarta, tetapi masuk kabupaten Sukoharjo. Namun, area ini tak jauh dari Solo, malah dekat dengan perumahan elit hingga diberi nama Solo Baru.

Selain itu, ada juga toko buku yang mengkhususkan menjual buku-buku agama, baik itu agama Islam maupun Kristen (toko yang berbeda tentunya), tetapi tidak akan saya bahas di sini karena, selain cukup banyak, saya juga tidak hapal semuanya.

Buku Bekas

Selain mengais harta karun di toko yang menjual buku nonmainstream di atas, mengobok-obok toko buku bekas memiliki sensasi tersendiri. Buku yang bisa didapatkan sangat beragam dan tidak terduga. Tentunya dengan harga yang relatif sangat murah.

Kios-kios buku yang berjajar di area Belakang Sriwedari sudah sangat dikenal oleh hampir semua penduduk kota Solo. Sejak saya kecil, kios-kios ini menjadi sasaran mencari buku pelajaran dengan harga murah, ketimbang membeli buku baru yang hanya akan digunakan setahun. Namun, di antara buku pelajaran yang merajai hampir seluruh kios, jika jeli kita bisa menemukan buku-buku lain, meski jumlahnya tak banyak. Kadang jika butuh hiburan, saya akan menyusuri kios-kios di sana sambil memasang mata, jika ada buku selain buku pelajaran, saya akan meminta izin penjualnya untuk melihat-lihat dulu. Ada buku terjemahan, buku lokal, sampai buku berbahasa Inggris, dari yang sudah buluk, sampai yang masih bersegel. Hati-hati untuk buku bersegel, sebagian besar bukunya bajakan, tetapi ada juga beberapa buku sisa gudang penerbit yang dijual dengan harga murah tetapi tetap di atas harga buku bajakan. Jika meragukan keasliannya, saya biasanya melewatkan buku bersegel. Komik/manga juga cukup banyak, dengan berbagai kondisinya. Jika beruntung, banyak juga buku-buku bagus yang bisa ditemukan di sana.

Area buku bekas di Alun-Alun Utara hampir sama, bedanya di sini buku pelajaran sangat sedikit, kebanyakan novel, komik, majalah, buku anak-anak atau buku nonfiksi dari berbagai tema. Areanya relatif kecil, jumlah kiosnya tak lebih dari 15, jadi koleksinya memang relatif sedikit. Kebanyakan buku bekas, ada buku bersegel asli, tetapi kebanyakan buku bersegelnya bajakan juga. Di sini saya beberapa kali beruntung, mendapatkan buku impor bekas yang kondisinya masih bagus dengan harga di bawah dua puluh ribu rupiah. Tak jarang juga saya menemukan buku lokal yang sudah langka. Jika dibandingkan di belakang Sriwedari, di sini kita bisa mendapat buku lebih murah dengan usaha yang relatif lebih mudah. Oh ya, area ini jam bukanya juga relatif pendek, hanya sampai jam empat sore saja.

taman-buku-dan-majalah-alun-alun-keraton-surakarta_20150814_114409

Books yang menjual buku impor bekas saya lihat sudah ada di berbagai kota, jadi mungkin sudah tidak asing dengan lapak buku dengan harga seragam ini. Di Solo yang masih bertahan hingga saat ini hanya di area Carrefour di dalam Solo Paragon Mall. Jumlah raknya sudah menyusut sejak awal-awal dibukanya, pun harganya semakin naik. Untuk ukuran buku impor bekas yang tidak terlalu langka, harga-harganya sangat bisa tersaingi dengan toko buku online atau bahkan jika beruntung di lapak buku bekas yang lain. Namun, tak ada salahnya juga menyusuri rak-rak ini, siapa tahu ada buku dambaan yang harganya cukup sepadan. Beberapa koleksi serupa juga ada di Togamas Slamet Riyadi, walaupun hanya mengisi satu petak kecil rak.

Setiap Minggu pagi di GOR Manahan juga bisa ditemukan pasar dadakan, yang setidaknya ada satu lapak penjual buku. Saya sudah cukup lama tidak menengok tempat itu, tetapi sepertinya masih ada. Koleksinya jelas seadanya, bukanya pun pagi saja, sebelum matahari tinggi pasarnya sudah bubar. Akan tetapi, bagi para pemburu buku, keberuntungan itu tak mengenal waktu dan tempat, bukan?

Itulah sebagian tempat belanja buku yang ada di Solo saat ini. Meski tak sebanyak di kota besar, tetapi sepertinya seharian tak akan cukup untuk menyusuri satu per satu buku-buku yang ada di sana. Jadi tak ada salahnya berkunjung, siapa tahu buku incaran kalian terselip di sana.

NB: Maaf saya tidak menyertakan foto dan alamat lengkap masing-masing toko/lapak tersebut karena saya belum sempat mendata. Jika ada yang membutuhkan informasi, bisa cari di Google atau email langsung ke saya (ada di halaman About).

NB2: Karena ini judulnya belanja buku, saya hanya mencantumkan toko buku. Jika ingin wisata buku ke perpustakaan atau kafe buku, tersedia juga koleksi yang bervariasi. Mungkin akan saya buatkan post khusus jika kapan-kapan.
77471-bbi2bhut2b6-01Post ini dibuat dalam rangkaian event ulang tahun BBI ke-6, ada marathon dan giveaway hop. Nantikan giveaway di blog ini tanggal 15 April besok ya. Lebih banyak lagi cek http://www.blogbukuindonesia.com

Selamat 6 Tahun, Bebi

77471-bbi2bhut2b6-01

Selamat ulang tahun yang keenam, Bebi, alias Blogger Buku Indonesia a.k.a. BBI, komunitas blogger buku tercinta! Mungkin hari ini saya tidak akan bermanis-manis membicarakan hal indah bersamamu, semuanya sudah berulang kali saya sampaikan, baik pada ulang tahun yang sebelum-sebelumnya, maupun pada berbagai kesempatan saya menulis dan berbicara tentangmu.

Hari ini, saya memutuskan untuk mengeluarkan segala hal pahit yang selama ini tak pernah tersampaikan pada siapapun. Pada kesempatan yang baik ini, saat semua pembicaraan berpusat padamu, saat semua yang sayang padamu bernostalgia, saat lebih banyak kemungkinan post ini akan terbaca.

Mulai dari mana ya, hari ini rasanya begitu asing, saya tidak mengenal sebagian besar orang-orang di komunitas ini, anggota baru begitu banyak, anggota lama menghilang. Saya tidak menyalahkan siapa-siapa, memang dasar saya saja yang kurang bergaul. Saya hanya ingat bahwa biasanya ada hal yang mempersatukan kita tetapi kini menghilang. Ada momen yang menjadikan member baru bisa cepat akrab dengan member lama, entah itu interaksi di blog, di sosial media, atau di event offline. Hari ini masih seperti itu, kok, tapi ada yang kurang untuk BBI.

Ada hal yang pernah saya sampaikan di forum pengurus, tetapi tampaknya saya berbeda pendapat mengenai hal ini. Mengenai rasa memiliki. Dulu, saat saya masuk BBI di Januari 2012, BBI sudah cukup besar, sudah punya aktivitas, sudah keren lah pokoknya, jadi bisa dibilang saya tidak ikut membangunnya dari awal sekali. Namun, saya, dan beberapa anggota yang kurang lebih ‘seangkatan’ dengan saya punya rasa memiliki yang besar, punya keterikatan yang kuat dengan BBI. Semakin bertambahnya anggota, tentunya perlu ada kepengurusan, yang saya rasa baik untuk menegaskan batasan-batasan suatu komunitas. Kalau dilepaskan begitu saja, napas dan visi misi yang dulu dibangun saat awal bisa saja melenceng. Namun, saya merasa pengurus terlalu kuat memegangi BBI. Semua masalah ‘dipaksakan’ untuk selesai di level pengurus, member yang lain hanya tahu beres. Dan ini mengusik saya, karena bagi saya, masalah-masalah serta hambatan itulah sebenarnya salah satu hal yang menyebabkan rasa sayang kita bertambah, karena kita berjuang bersama. Kalau member, apalagi member baru, hanya tahu masalah selesai, atau ada pendelegasian tanpa mengerti urgensi dan kepentingannya bagi BBI, rasanya pasti berbeda. Mungkin, mungkin, inilah salah satu yang menyebabkan regenerasi tidak berjalan baik. Saya tahu banyak anggota lama, bahkan pengurus sudah bergelut dengan urusannya masing-masing, termasuk saya sendiri. Kehidupan ini dinamis, dan kebanyakan kita akan memasuki masa perubahan dari kehidupan kita; kuliah, bekerja, menikah, memiliki anak, pindah tugas, sedikit sekali dari kita yang sudah ‘mapan’ dalam arti tinggal melanjutkan hidup sampai pensiun tanpa ada gelombang di sana-sini. Namun, sekali lagi, pendapat saya berbeda, dan saya menuliskan ini hanya menyampaikan unek-unek saya, bukan untuk melegitimasi atau memaksakan itu.

Dua tahun terakhir ini saya bersiap untuk memasuki sebuah masa transisi yang ternyata tidak jadi saya lalui. Prosesnya cukup panjang hingga saat ini saya berdiri lagi di titik ini. Saat itu, saya terpaksa mengurangi kegiatan yang saya sukai; membaca dan blogging, serta semua kerepotan divus yang sangat saya nikmati. Saya bahkan memutuskan untuk keluar dari grup pengurus, walaupun masih belum sanggup keluar dari grup divus, padahal saya sudah memberi peringatan jauh-jauh hari saat itu bahwa akan keluar dari divus. Karena sibuk dengan urusan sendiri, saya jadi tidak bisa memberi kontribusi lebih kepada pengurus, makanya lebih baik saya keluar daripada mengetahui ada masalah tetapi tidak bisa membantu, atau lebih parahnya, memberi usulan dan saran, tetapi tidak ada yang sanggup mengeksekusinya.

Mulai tahun ini saya sudah bertekad untuk kembali. Sempat beberapa minggu lalu ada wacana event komunitas di Yogyakarta, dan saya sudah siap untuk menjadi perwakilan BBI mengurus segala kerepotannya (walaupun agak ragu juga). Namun, karena satu dan lain hal kegiatannya dibatalkan, lalu saya berpikir, mungkin memang sebaiknya seperti itu. Bukan karena tidak ada yang mengurus, tapi untuk apa? Mengenalkan BBI? Menjaring member? BBI tidak butuh itu, menurut saya, yang diperlukan BBI hari ini adalah bagaimana merekatkan kembali para member yang sudah tersebar dari Sabang sampai Merauke. Kita tidak perlu event ke luar, kita perlu lebih banyak event di dalam. Bagaimana caranya? Saya tidak tahu, sungguh tidak tahu, karena itulah saya di sini menyampaikan unek-unek saya, dan bukannya pergi ke forum pengurus dan mengusulkan ini dan itu.

Mohon maaf jika ada yang tidak berkenan dengan tulisan saya. Saya sadar, banyak pendapat saya tidak populer, utamanya di kalangan pengurus. Namun, apapun yang terjadi, saya tetap sayang BBI, sayang kawan-kawan, member lama ataupun baru, yang sudah kenal ataupun yang belum kenal, karena kita disatukan oleh maskot yang lucu nan menggemaskan ini. Siapa yang tidak gemas coba?

BBI

Post ini dibuat dalam rangkaian event ulang tahun BBI ke-6, ada marathon dan giveaway hop. Nantikan giveaway di blog ini tanggal 15 April besok ya. Lebih banyak lagi cek http://www.blogbukuindonesia.com

Memilih Karya Neil Gaiman

source

Sebagai seseorang yang mengaku sebagai penggemar karya-karya Neil Gaiman, rasanya kurang sah bila saya tidak memberikan rekomendasi kepada lebih banyak orang mengenai karya beliau. Sebenarnya, tanpa saya promosikan pun, penulis yang satu ini sudah menunjukkan giginya di mana-mana. Penggemarnya di luar sana juga sudah cukup banyak, sehingga pastilah mereka yang belum pernah membaca karya penulis ini sedikit banyak merasa penasaran dengan tulisannya. Kali ini, saya akan memberi sedikit tips bagaimana memulai membaca karya Gaiman, karya mana yang sekiranya cocok untuk dibaca pertama kali.

Untuk para penggemar fantasi yang tidak pilih-pilih, alias semua karya fantasi dilahap, rasanya tidak akan kesulitan menemukan karya yang disukai dari Gaiman. Buku-buku Gaiman sebagian besar bergenre dark fantasy, jadi bagi yang punya masalah dengan karakter yang bercela, atau tepatnya penuh cela dan kesialan, antagonis yang sadis nan menyeramkan, atau akhir cerita yang tidak jelas bahagia atau tidak, mungkin perlu peringatan sejak awal agar tidak berekspektasi di luar itu. Kecuali, beberapa buku anak-anaknya. Ya, Neil Gaiman selain menulis buku untuk dewasa, juga menulis buku untuk anak-anak. Mari kita bahas satu per satu.

Secara umum, buku dewasa Gaiman memiliki persamaan pada ciri karakter utamanya. Biasanya, karakter di novel-novelnya adalah pria yang bercela. Entah dia gagal dalam pekerjaan, dalam percintaan, tidak populer secara sosial, bahkan bisa menyebalkan. Pokoknya bukan ciri protagonis yang bisa mengundang simpati dengan mudah.

Good Omens (1990)

Hasil kolaborasi dengan Terry Pratchett ini menghadirkan nuansa yang akan berbeda dari karya Gaiman setelahnya. Bisa dibilang ini pertama kalinya penulis ini mengalami masa tenar, berkat kerjasamanya dengan penulis yang sudah senior. Dengan melibatkan ramalan akhir zaman, malaikat, iblis, keduanya menghasilkan kisah yang penuh humor. Buku ini cocok untuk yang jiwanya sedang membutuhkan hiburan.

Neverwhere (1996)

Buku ini memanjakan kita dengan setting kota London, tepatnya London Bawah. Apa itu London Bawah? Bisa dibilang versi ajaib dari London dimana kita bisa menilai seberapa gila imajinasi Gaiman melalui deskripsi dan karakter-karakternya. Tema besarnya cukup sederhana, bukunya tidak terlalu tebal, mungkin sebuah awalan yang ‘aman’.

Stardust (1999)

Kalau Neverwhere mengambil setting yang dekat dengan dunia yang ada di kenyataan, Stardust lebih kepada dunia antah-berantah, Negeri Peri. Dengan pola dongeng yang khas hitam-putih, tetapi suatu saat bisa jadi yang hitam menjadi putih, dan sebaliknya. Buku ini rasanya cocok bagi penikmat dongeng, dengan modifikasi yang lebih dewasa.

American Gods (2001)

Buku yang paling tebal, dan mungkin paling mengintimidasi. Namun, buku ini sangat cocok bagi yang menginginkan pengalaman lengkap dan utuh membaca Gaiman. Buku ini mengandung semua unsur yang bisa membuat kita mengagumi penulis yang satu ini. Jadi, jika masih ada waktu dan kesempatan untuk membaca buku tebal, tak ada salahnya berkenalan dengan Gaiman melalui buku ini.

Anansi Boys (2005)

Buku ini masih berada di dunia yang sama dengan American Gods, bisa dibilang sekuelnya, tetapi dengan karakter ‘sempalan’ yang tidak banyak dibahas di buku sebelumnya. Karakternya relatif lebih tidak menyenangkan, perkembangannya pun tidak drastis, dengan konflik keluarga yang lebih terasa.

Interworld (2007)

Dalam buku ini, Gaiman berkolaborasi dengan Michael Reaves. Buku ini agak berbeda karena genrenya lebih kepada fiksi sains, bahkan sangat kental. Bagi penyuka sains, khususnya yang berhubungan dengan komputer, alam semesta, dan berbagai kemungkinannya, Interworld ini sangat memanjakan otak.

Ocean at the End of the Lane (2013)

Bisa dibilang buku ini adalah karya paling personal, baik bagi penulisnya, maupun bagi saya saat membacanya. Bagi penulisnya, ini memang kurang lebih semacam memori masa kecil—yang tentunya dibumbui dengan berbagai macam hal fantastis. Bagi saya, entahlah, saya merasa seperti berada di dalam mimpi saat membacanya, begitu dekat, begitu familiar, jadi meski tak tahu apa yang bakal terjadi, bahkan tak terduga, tetap merasa semacam ada de javu dari alam bawah sadar saya. Saya tak punya penjelasan yang logis selain bahwa saya ada di bawah sihir Gaiman saat membacanya. Intinya buku ini memang mengenang masa kecil sang karakter yang bagaikan mimpi, hal yang sempat dia lupakan dari pengalaman magis di masa kecilnya perlahan kembali.

Untuk yang merasa tidak siap dengan keabsurdan imajinasi liar Neil Gaiman, mungkin bisa mencoba buku anak-anaknya. Novelnya yang untuk anak memiliki semua unsur fantastis yang menjadi ciri khasnya, tetapi minus karakter menyebalkan, minus kesadisan, minus kejadian tidak menyenangkan, dan seringkali karakternya sangat mudah disukai, meskipun tak menghilangkan unsur gelap dan (sedikit) menyeramkan dalam ceritanya. Satu lagi, jika semua karakter utama dalam karya dewasanya adalah pria, dalam karya anaknya, dia punya protagonis perempuan.
Coraline (2002)

Anak perempuan dengan nama tak lazim ini sempat mengalami petualangan tak lazim di flat barunya. Ada unsur gelap, antagonis yang menyeramkan, tetapi dalam kadar sangat ringan jika dibanding buku dewasanya. Berpusat pada hubungan orang tua dan anak tunggalnya, dengan dibumbui tetangga yang aneh.

The Graveyard Book (2008)

Novel pemenang penghargaan Newbery ini bisa dikatakan sebagai bildungsroman atau coming-of-age, dengan sentuhan dark fantasy atau horor. Sebagaimana judulnya, kisah ini berada di sekitar pemakaman, tepatnya, seorang anak manusia yang dibesarkan di kuburan oleh penghuninya yang (sudah) bukan manusia (lagi). Memang diakuinya sendiri bahwa Gaiman terinspirasi oleh The Jungle Book karya Rudyard Kipling, jadi selain pola pengasuhan anak yang mirip, format kisah ini juga mirip, yaitu terdiri dari bab-bab cerita pendek yang mengisahkan setiap fase pertumbuhan dan perkembangan karakternya dari anak hingga dewasa.

Odd and the Frost Giants (2008)

Buku ini lebih bersahabat untuk anak yang lebih kecil. Bagian tidak menyenangkannya relatif sedikit dan samar, dengan bahasa yang cukup bersahabat untuk anak. Sehingga bagi orang dewasa mungkin ini pengenalan yang lebih lembut. Dengan setting dan karakter yang nantinya akan lebih familiar begitu kejutannya dibuka.

Fortunately, the Milk (2013)

Sasaran usia dan nuansanya sama dengan Odd and the Frost Giants, tidak gelap, tetapi lebih banyak menampilkan adegan dan karakter yang fantastis. Lebih banyak gambar, lebih banyak humor, dan lebih menyenangkan.

Selain itu, beberapa buku anaknya yang lain; The Day I Swapped My Dad for Two Goldfish, The Wolves in the Walls, The Dangerous Alphabet, Blueberry Girl, Crazy Hair, Instructions, Chu’s Day (yang ini berseri), dan Hansel and Gretel bisa dijadikan awalan, dan tetap akan memberikan ciri khas Gaiman, minus keabsurdan dan kegelapan yang semakin pekat pada karya-karyanya untuk usia yang lebih dewasa.

Bagi penyuka komik, mungkin bisa mencoba seri Sandman, saya sendiri belum sempat membaca, tetapi di luar sana komik itu menjadi favorit banyak orang. Sedangkan bagi yang ingin menyelami ide dan pikiran Neil Gaiman, ada kumpulan esainya yang sudah dibukukan, The View from the Cheap Seats. Dan yang sedang hangat adalah Norse Mythology, yang berada di antara fiksi dan nonfikso, yang jelas akan menarik bagi penggemar mitologi Norwegia pada khususnya, dan fantasi pada umumnya. Cerpen Gaiman pun cukup banyak, bagi yang ingin mencecapnya, baik dewasa ataupun anak, antologi bersama penulis lain atau kumpulan cerpennya sendiri, dan beberapa di antaranya bahkan diterbitkan ulang dalam bentuk komik atau buku berilustrasi.

Begitulah kurang lebih gambaran sekilas mengenai karya Gaiman versi saya. Saya tidak bisa memberikan urutan prioritas, karena, pertama akan bias (semuanya bagus tentu saja!), dan yang kedua setiap pembaca memiliki prioritas genrenya masing-masing. Yang pasti, tak berhenti di fantasi, Neil Gaiman memiliki rasa universal pada setiap karyanya, yang memberi sentuhan lapisan dan corak kehidupan nyata yang beragam. Dan, siapa sih, yang pernah memberi karakternya nama ‘Nobody’, ‘Odd’, atau ‘Shadow’, tanpa terkesan aneh?

77471-bbi2bhut2b6-01Post ini dibuat dalam rangkaian event ulang tahun BBI ke-6, ada marathon dan giveaway hop. Nantikan giveaway di blog ini tanggal 15 April besok ya. Lebih banyak lagi cek http://www.blogbukuindonesia.com

Buku Fiksi yang Bukan Novel

Saya suka membaca bukan hanya menilai isi dan ceritanya, seringkali saya juga menilai gaya penulisan dan efek yang ditimbulkannya. Seperti gaya William Faulkner yang memberi ritme tersendiri pada kalimat-kalimatnya, atau Italo Calvino yang mengajak kita memasuki kisah di dalam kisah. Begitu pula bentuknya, selain novel ada cerpen (atau kumpulan cerpen ketika sudah dibukukan), novela, play (drama), dan sebagainya. Banyak hal menarik saya dapatkan ketika membaca fiksi dengan bentuk yang berbeda-beda. Saya bukan ahli dalam bidang ini, jadi apa yang saya sampaikan setelah ini adalah murni dari pengalaman dan opini pribadi ya.

Berdasarkan panjang pendeknya karya fiksi dibagi menjadi cerita pendek, novela, dan novel. Sering ketika saya ingin mengenal seorang penulis, saya membaca cerpennya terlebih dahulu, entah itu dari sumber lepas maupun dari kumpulan cerpen yang memuat banyak penulis. Pun ketika ada pilihan antara novel dan novela, maka memilih novela rasanya lebih aman, terlebih dulu saat masih dikejar-kejar reading challenge. Namun, semakin banyak membaca, semakin saya memahami bahwa ketiganya tidak hanya berbeda dari jumlah kata atau jumlah halaman semata. Perbedaan jumlah kata tersebut memberi efek yang nyata pada karya yang dihasilkan; sebut saja tentang kedalaman karakter, konflik, alur, hingga akhir cerita. Cerpen cenderung memberikan kesan mendalam pada episode, sebuah kejadian atau potret, sehingga jarang kita terikat pada sang karakter. Hal yang berkebalikan terjadi pada novel, yang memberi ruang pada kita untuk mendalami karakter, mengalami banyak kejadian dan peristiwa, bahkan bergelut pada keseharian sang karakter selama bertahun-tahun. Lain halnya dengan novela, yang berada di antaranya, dia bisa menceritakan apa saja, dengan kedalaman seperti apa yang diinginkan oleh penulis (atau ditangkap oleh pembaca), tergantung kepiawaian sang penulis. Meski begitu, mungkin pada novela ada beberapa hal yang jatuhnya serba tanggung, tanpa mengurangi kesan yang ditimbulkannya. Ada beberapa kali kejadian, saya justru lebih jatuh hati pada novela seorang penulis ketimbang novelnya. Sebut saja The Old Man and the Sea karya Ernest Hemingway dibandingkan dengan A Farewell to Arms, dan Animal Farm dibanding 1984 milik George Orwell. Novela yang diramu dengan baik sering menimbulkan kesan yang lebih dalam karena rasanya ingin lebih, ingin tahu lebih banyak, ingin kenal lebih dalam, karena sebelumnya sudah ada perkenalan yang cukup membuat kita terikat. Oleh karena itu, saya sering meringis kalau ada syarat membuat resensi dari buku dengan jumlah halaman minimal sekian. Saya paham maksudnya, tetapi tetap saja, saya tidak bisa menahan diri 🙂

Selain bentuk prosa di atas, ada juga karya fiksi yang berbentuk naskah drama (play). Salah satu penulis play paling dikenal hingga hari ini adalah William Shakespeare. Penulis ini pula yang membuat saya memulai membaca karya play sungguhan, setelah sebelumnya pernah membaca versi abridged, terlebih banyak karyanya diangkat di dalam manga favorit saya, Garasu no Kamen. Pertama kali saya membaca karya Shakespeare yang asli adalah A Midsummer Night’s Dream, salah satu lakon Maya Kitajima yang paling berkesan. Awalnya, saya lebih banyak bergelut dengan bahasanya ketimbang dengan bentuknya. Namun, terima kasih pada kak Fanda dan kak Dessy yang pernah membuat tantangan membaca play, saya jadi berkesempatan membaca beberapa play Shakespeare hingga terbiasa, dan sekali waktu bisa mengintip di NoFearShakespeare jika butuh bocoran. Tidak hanya Shakespeare, saya juga berkenalan dengan Oscar Wilde, Luigi Pirandello, Henrik Ibsen, dan membuat saya lebih bisa mengapresiasi karya play yang lain. Walaupun saya belum berkesempatan membaca karya yang lebih tua seperti Greek plays, dari situ saya mulai bereksplorasi sekiranya ada penulis yang sudah saya kenal yang menulis play sebagai sampingan, seperti Sir Arthur Conan Doyle yang menulis ulang The Speckled Band. Saya juga mencoba karya play asli Indonesia, seperti Orkes Madun karya Arifin C. Noer. Dalam beberapa tumpukan buku belum terbaca saya juga ada beberapa naskah drama dari beberapa negara. Meski tidak pernah benar-benar menonton pertunjukan drama di panggung besar, mungkin sedikit banyak dari pengalaman membaca Garasu no Kamen membuat saya lebih mudah membayangkan scene-scene ketika membacanya. Asyiknya membaca play adalah kita bisa membayangkan sedang menonton pertunjukan, kalimat-kalimatnya sederhana khas percakapan sehari-hari, kalaupun dia bermuatan filosofis biasanya tidak terlalu rumit dan panjang. Tentunya setiap penulis memiliki gaya khas sendiri, tetapi secara umum, tema yang berat bisa terasa lebih ringan dengan bentuk ini.

Dengan berkembangnya dunia pertunjukan, sekarang play tidak sebatas pertunjukan panggung, ada yang dinamakan screenplay atau movie script. Sebenarnya saya masih asing dengan bentuk ini karena belum berkesempatan membacanya. Baru beberapa waktu yang lalu saya memulai membaca The Counselor karya Cormac McCarthy—yang belum selesai—dan kesan awal bentuk ini sedikit lebih rumit karena perpindahan adegan bisa sangat cepat, latar tempat dan waktu lebih rumit, karena pada film sudah melalui proses suntingan, berbeda dengan panggung pertunjukan yang semua pengaturannya dikerjakan pada saat pertunjukan. Mungkin akan jauh lebih mudah jika sudah menonton filmnya terlebih dahulu. Lagipula, distribusi film juga relatif tidak sesulit akses menuju gedung pertunjukan drama.

Di tahun yang sama saya berkenalan dengan puisi naratif berkat tantangan baca yang dibuat oleh Listra. Sama seperti play, pembacaan puisi naratif saat itu juga masuk ke dalam rangkaian membaca klasik, dan karena saya masih cukup asing, saya hanya sukses membaca The Raven karya Edgar Allan Poe. Puisi yang bercerita tampaknya tak menjadikannya lebih mudah dipahami dibandingkan puisi biasa, penggunaan lambang-lambang dan kosa kata puitis yang asing untuk saya saat itu cukup menjadi hambatan, dan saya juga belum sempat mencoba karya lain, termasuk Homer yang sudah lama saya incar. Ternyata, saya malah lebih dulu berkesempatan membaca bentuk puisi naratif yang lebih kontemporer, yaitu Out of the Dust karya Karen Hesse. Karena pengalaman membaca puisi naratif saya belum banyak, membaca karya yang lebih baru membuat pemahaman saya lebih baik. Namun, dua saja belum cukup, dan saat pada Big Bad Wolf 2016 Surabaya mempertemukan saya dengan Heartbeat karya Sharon Creech, saya langsung membelinya setelah membuka isi halamannya. Tadinya saya belum ingin membeli buku anak lagi, tetapi bentuk puisi naratif ini membuat saya langsung berubah pikiran, karena, kapan lagi bisa saya dapatkan. Kesimpulan sementara saya saat ini, puisi naratif juga mengalami perkembangan seiring zaman, dan karya kontemporer tentunya lebih mudah dipahami daripada karya klasik. Lalu, kekuatan dari puisi naratif adalah dia bisa menghadirkan ritme tersendiri melalui bait dan rimanya. Dan ritme itu bisa mempengaruhi emosi kita saat membacanya. Penggunaan kalimat yang relatif pendek juga semacam menantang penulis membuat kesan sedalam mungkin dengan kata-kata yang terbatas. Sejauh ini, mereka sudah berhasil. Dan dengan menulis ini, sekaligus mengingatkan diri saya sendiri untuk memasukkan puisi naratif klasik ke dalam daftar baca saya lagi.

Berkat masuk BBI dan berkenalan dengan berbagai pembacalah saya jadi mengenal berbagai karya fiksi yang bukan novel. Jadi, referensi bacaan serta pengalaman membaca saya lebih kaya. Dan nyatanya memang masing-masing bentuk memiliki kelebihan dan keunikannya masing-masing. Setidaknya, jika sedang bosan, saya bisa memilih untuk membaca karya apa lagi yang bukan novel. Ini belum termasuk buku anak bergambar (picture book), komik, kumpulan puisi yang rasanya lebih pas kalau dijelaskan di bawah tema tersendiri, terlebih jika kita melibatkan karya nonfiksi.

Belakangan, saya baru tahu ada satu puisi naratif kontemporer yang diterjemahkan di Indonesia. Sebuah langkah yang baik untuk memperkenalkan pembaca Indonesia pada bentuk fiksi ini. Dan berkat J.K. Rowling, sepertinya banyak orang yang tidak familiar dengan play mulai membaca The Cursed Child, apalagi rencananya juga akan diterjemahkan di Indonesia. Beberapa waktu lalu, saya juga melihat ada yang menerjemahkan Hamlet milik Shakespeare dalam bentuk play, alih-alih menyadurnya ke bentuk novel biasa. Semoga dengan adanya variasi semacam itu, pembaca kita jadi semakin kaya, dan bahkan menemukan pembaca baru. Bagaimana dengan kalian, apakah ada bentuk karya fiksi bukan novel lain yang pernah dibaca?

Post ini dibuat dalam rangkaian event ulang tahun BBI ke-6, ada marathon dan giveaway hop. Nantikan giveaway di blog ini tanggal 15 April besok ya. Lebih banyak lagi cek http://www.blogbukuindonesia.com

 

Referensi:
https://en.wikipedia.org/wiki/Literature
https://en.wikipedia.org/wiki/Fiction
https://en.wikipedia.org/wiki/Prose
https://en.wikipedia.org/wiki/Poetry

Menilai Buku dari Sampulnya

‘Don’t judge a book by its cover’ sepertinya cukup dimaknai secara idiomatis saja, karena makna literalnya terkadang tidak sesuai dengan pengalaman kita sehari-hari sebagai seorang pembaca. Sampul buku sebagian besar adalah ranah dari penerbit, sangat sedikit penulis mengambil peran dalam pembuatan maupun pemilihannya, kecuali jika penulis adalah ilustrator, atau untuk buku-buku berilustrasi. Saya yakin, hampir semua pembaca pernah tertipu oleh sampul, baik itu positif (sampul jelek isi bagus) maupun negatif (sampul bagus isi jelek, atau sampul tidak mencerminkan isinya). Dan pengalaman itu bisa mengubah cara kita menilai buku dari sampulnya.

Saya sendiri beberapa tahun belakangan mengalami pergeseran cara memilih buku untuk dibeli (atau dibaca jika pinjam). Setelah masuk ke komunitas perbukuan, referensi terhadap buku-buku meningkat sangat drastis. Terlebih setelah era Goodreads, dari yang membeli buku hanya berdasar temuan di toko buku beralih menjadi perburuan buku berdasar resensi positif para pembaca lainnya. Dengan perubahan ini, daftar baca meningkat drastis, peningkatan yang tidak sebanding dengan kecepatan baca. Daftar baca saya pun dipenuhi oleh penulis-penulis tertentu, sederet buku canon, pemenang penghargaan tertentu, dan karena saya suka buku klasik, daftar buku saya semakin panjang karena tidak terbatas oleh waktu terbitnya buku. Hal ini membuat saya menutup sebelah mata untuk penulis yang namanya belum pernah saya dengar. Bukan skeptis, tetapi rasanya waktu sudah sangat berharga untuk mencoba-coba penulis baru, jadi meskipun buku tersebut mungkin bagus, mungkin suatu saat saja saya baca kalau saya sudah dengar banyak hal positif tentangnya.

Namun, terkadang pemikiran semacam itu tidak selalu berlaku sesuai yang diharapkan. Saat berekreasi menelusuri rak buku, baik itu di toko buku reguler ataupun obralan, terkadang ada buku yang begitu menarik kita. Saya termasuk orang yang percaya dengan intuisi, saya percaya dengan penilaian awal saya, terutama jika penilaian tersebut cukup ekstrem. Seperti saat beberapa tahun lalu saya mengunjungi toko buku langganan, dan menemukan sebuah buku dengan judul unik, Pria yang Salah Mengira Istrinya Sebagai Topi. Hanya dari rasa ingin tahu saja, saya membaca sinopsis di belakangnya, menarik karena berisi kasus unik, tetapi saya masih belum yakin akan manfaatnya bagi saya. Awalnya saya tertarik karena penulisnya seorang dokter sungguhan, sehingga kemungkinan buku ini bukan pseudoscience seperti yang sedang marak dekade ini. Apalagi buku ini pertama kali diterbitkan lebih dari 20 tahun sebelumnya, hingga jika masih ‘hidup’ artinya bukan sekadar tren sesaat, tetapi apakah masih relevan? Saya belum mengenal reputasi sang penulis, apakah beliau benar-benar menggunakan ilmu medisnya atau menggunakan ilmu yang lain. Saya juga tidak melihat ada teman-teman saya yang pernah meresensi/membaca buku ini. Terlebih, bukunya diterjemahkan oleh penerbit yang tidak begitu terkenal, yang saya tidak tahu kredibilitasnya. Dalam kondisi normal, saya akan meletakkan buku itu, membayar buku lain yang sudah ada di daftar belanja, pulang, dan bila masih penasaran berselancar lebih jauh tentang Oliver Sacks. Namun, di samping diskon 25% untuk buku baru yang sayang jika dilewatkan, buku ini semacam satu di antara sejuta, yang saya rasa jika saya lepaskan hari itu tak akan saya dapatkan kembali. Saya membayar buku itu (yang harganya relatif mahal di masa itu), dan membacanya segera. Hasilnya? Saya suka sekali! Tidak menyangka buku dengan sampul tidak menarik dari pembelian berdasar intuisi—mirip seperti masa-masa sebelum Goodreads—bisa membuat saya langsung jatuh hati pada seorang penulis, sehingga saya haus mencari karya-karyanya yang lain. Sebuah pengalaman yang sepertinya menyenangkan untuk diulang.

Di antara tumpukan buku belum terbaca di rumah, di sela daftar belanja yang membengkak setiap bulan, karena daftar terbit yang semakin menggila; jangankan buku yang tidak masuk daftar belanja, buku yang sudah masuk daftar belanja pun harus dipilah-pilah mana yang bisa dibeli langsung, mana yang harus ditunda pembeliannya. Jadi, pengalaman mendapatkan buku yang tak terduga hampir seperti angan-angan semu, kenangan masa lalu. Akan tetapi, jika sebuah buku ditakdirkan untuk kita beli (dan baca), tidak ada yang bisa menghalangi buku itu jatuh ke kasir dan kantong belanja kita. Big Bad Wolf Books 2016 di Surabaya menjadi saksi betapa sekeras-kerasnya kita menahan diri untuk kalap, selalu ada jalan untuk ‘buku tak dikenal’ itu masuk. Salah satunya adalah A Cruel Bird Came to the Nest and Looked In bersampul cantik ini. Untuk buku bersampul keras, buku ini termasuk murah, dan sekali lagi, desain sampulnya membuat saya berhenti sesaat untuk sekadar mengelusnya. Seperti kebiasaan saya, mengelus sebentar, baca sinopsisnya, mengucapkan sedikit pujian, lalu berpamitan karena dia bukan termasuk prioritas belanja. Namun, sampul putih biru dengan aksen emas ini sulit untuk saya lepaskan. Baru beberapa langkah meninggalkannya, saya merasa terpanggil untuk kembali dan menyentuhnya kembali, menimbang-nimbang agak lama, untuk kemudian masuk ke dalam daftar ‘tidak ada salahnya dicoba, kalau tidak suka tinggal dijual lagi’ yang harusnya dikosongkan karena ada peringatan ‘memangnya bisa langsung dibaca?’. Tapi toh, dia mendarat di kasir juga.

Kali ini peringatan itu memang benar, selang beberapa bulan setelahnya barulah saya memulai membaca buku ini. Seperti kesan saya di awal, sinopsis buku ini tidak jelas berkisah tentang apa, latar waktu maupun tempatnya juga tidak jelas, saya hanya sedikit terhibur karena penulisnya pernah meraih penghargaan, tetapi bahkan beberapa halaman pertama saya tetap tidak yakin dengan genrenya. Saya bisa menertawakan diri sendiri jika ternyata ini buku romance, atau bisa mengawang-awang jika ini buku fantasi, atau sedikit lebih serius jika ini fiksi sejarah atau sastra kontemporer. Pada akhirnya saya dibawa penulis ke labirin kisah yang tidak jelas tetapi memabukkan. Seperti candu, kisah ini menjadi semacam pelarian sesaat dari buku-buku yang ‘jelas’, penyegaran dari buku-buku yang sudah bisa saya prediksi. Dan pada akhirnya, seusai membaca buku ini, saya merindukan sensasinya. Saya sukses berkenalan sendiri dengan Magnus Mills, dan siap memasukkan buku-bukunya ke dalam daftar belanja yang memang selalu bertambah.

Jadi, sampul buku itu memang sangat penting sebagai bahan penilaian awal, terlebih jika nama penulis, judul buku, ataupun posisinya di rak tidak membuat kita tergerak untuk mengambil buku itu dan membaca sinopsisnya. Mungkin karena pertimbangan itu juga penerbit rela mengeluarkan modal besar untuk desainer sampul buku yang bagus, berlomba-lomba membuat sampul buku yang cantik meski isinya biasa saja, atau membeli hak cipta sampul buku terjemahan untuk pembaca fanatik yang ‘mensakralkan’ sampul buku. Jika buku yang tak dikenal pun bisa melayang ke keranjang belanja akibat sampulnya, bayangkan dengan buku yang sudah dikenal bahkan buku favorit. Penerbit sering menerbitkan ulang buku dengan sampul baru yang cantik, menerbitkan buku klasik yang sudah public domain dengan beragam sampul yang menawan, itu adalah strategi pemasaran yang sangat baik. Tinggal bagaimana kita sebagai pembaca, menyerah pada kecantikan itu, atau bertahan dengan pedoman ‘yang penting isinya (atau harganya)’.

Post ini dibuat dalam rangkaian event ulang tahun BBI ke-6, ada marathon dan giveaway hop. Nantikan giveaway di blog ini tanggal 15 April besok ya. Lebih banyak lagi cek http://www.blogbukuindonesia.com