Tag Archives: 2014 TBRR Challenge

2014 TBRR Pile Wrap Up

http://lemarihobbybuku.blogspot.com/

Tahun 2014 sudah hampir berakhir, awal tahun lalu saya berkomitmen untuk ikut reading challenge ini. Berhubung tahun ini saya tidak membuat list buku sejak awal, maka tekanan untuk menyelesaikan buku lebih sedikit. Dan akhirnya, inilah list timbunan buku fisik yang berhasil saya baca (ebook tidak saya masukkan):

1. The Miraculous Journey of Edward Tulane – Kate DiCamillo

2. Hard Times – Charles Dickens (Classic #1)

3. Stardust – Neil Gaiman (Book Into Movie #1)

4. The Adventures of Tom Sawyer – Mark Twain (Classic #2)

5. Spring-Heeled Jack – Philip Pullman (Award Winner #1)

6. The Unknown Errors of Our Lives – Chitra Banerjee Divakaruni

7. The Casual Vacancy – J. K. Rowling

8. Ways to Live Forever – Sally Nicholls

9. The Book Thief – Markus Zusak (Historical Fiction #1)

10. The Mysterious Affair at Styles – Agatha Christie (Mystery #1)

11. The Murder at the Vicarage – Agatha Christie (Mystery #2)

12. Orang-Orang Tanah – Poppy D. Chusfani

13. Mata yang Enak Dipandang – Ahmad Tohari

14. Courrier Sud – Antoine de Saint-Exupéry (Classic #3)

15. Da Wild, Da Crazy, Da Vinci – Jon Scieszka (Historical Fiction #2)

16. The Picture of Dorian Gray – Oscar Wilde (Book Into Movie #2)

17. Howl’s Moving Castle – Diana Wynne Jones (Award Winner #2)

18. Carrie – Stephen King (Book Into Movie #3)

19. American Gods – Neil Gaiman (Award Winner #3)

20. Out of the Dust – Karen Hesse (Historical Fiction #3)

21. Dua Saudara – Jhumpa Lahiri

22. The Fellowship of the Ring – J. R. R. Tolkien (Classic #4)

Tidak banyak sih, jika dihitung dari persentase keseluruhan timbunan saya. Tahun ini godaan ebook dan buku baru masih lebih ampuh. Namun setidaknya saya berhasil melampaui 12 buku target minimal challenge ini, serta lolos 5 kategori challenge tambahan.

Terima kasih, mbak Maria, atas challengenya.

The Fellowship of the Ring – J. R. R. Tolkien

lotr1Title : The Lord of the Rings #1 : The Fellowship of the Ring
Author : J. R. R. Tolkien (1954)
Translator : Gita Yuliani K.
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan ketujuh, Oktober 2007
Format : Paperback, 512 pages

(Review ini mengandung spoiler ringan)

Tiga Cincin untuk raja-raja Peri di bawah langit,
Tujuh untuk raja-raja Kurcaci di balairung batu mereka,
Sembilan untuk Insan Manusia yang ditakdirkan mati,
Satu untuk Penguasa Kegelapan di takhtanya yang kelam
Di Negeri Mordor di mana Bayang-bayang merajalela.
Satu Cincin ‘tuk menguasai mereka semua, Satu Cincin ‘tuk menemukan mereka,
Satu Cincin ‘tuk membawa mereka semua dan dalam kegelapan mengikat mereka
Di Negeri Mordor di mana Bayang-bayang merajalela.

Pada 22 September yang akan datang, Bilbo Baggins akan merayakan ulang tahunnya yang kesebelas puluh satu, bertepatan dengan ulang tahun ketiga puluh tiga keponakannya, Frodo Baggins. Bilbo mengangkat Frodo sebagai ahli warisnya 12 tahun yang lalu, membawanya untuk tinggal bersamanya di Bag End. Dan kini di usianya yang sudah mencapai 111, Bilbo memutuskan untuk meninggalkan segalanya, termasuk barang berharga yang didapatkannya pada perjalanannya bersama para Kurcaci, lebih dari 50 tahun yang lalu. Sebuah cincin.

Sepeninggal Bilbo, Gandalf menjelaskan pada Frodo perihal cincin itu, cincin yang diduga merupakan Cincin Utama, yang hendak diambil kembali oleh kekuatan jahat. Cincin itu bisa membuat pemakainya tak terlihat, tetapi dengan dipergunakannya Cincin itu, kekuatan jahat akan semakin mendekat. Sebuah kisah lama tentang perjalanan Cincin dari Sauron, Isildur, dan Gollum pun diceritakan. Cincin yang menimbulkan ketamakan itu hanya bisa dimusnahkan di Celah Ajal, di kedalaman Orodruin, dan hanya Frodo yang bisa melakukan tugas itu.

Ditemani oleh tiga kawan Hobbitnya yang setia—Samwise Gamgee, Peregrin Took alias Pippin, dan Meriadoc Brandybuck alias Merry—Frodo keluar dari Shire diam-diam, menghindari kejaran para Penunggang Hitam, melewati Old Forest, bergabung dengan Strider—seorang Penjaga Hutan—di Bree, hingga tiba di Negeri pada Peri, Rivendell. Dalam Rapat Dewan di Rumah Elrond, terbentuklah persekutuan yang akan menemani Frodo membawa Cincin sampai ke Mordor, yang terdiri dari empat Hobbit (Frodo sendiri, Sam, Pippin, dan Merry), dua Manusia (Aragorn dan Boromir), seorang Peri (Legolas), seorang Kurcaci (Gimli), dan Gandalf sang Penyihir. Kesembilan anggota rombongan tersebut pun berangkat, melewati Pegunungan Berkabut, melalui Tambang Moria yang penuh kegelapan, singgah di Lothlórien yang indah, kemudian perselisihan terjadi akibat Kutukan Isildur.

Buku pertama dari trilogi ini memang terkesan menitikberatkan pada setting dan ‘pembangunan’ dunia. Separuh bagian pertama menggambarkan perjalanan para Hobbit hingga ke Rivendell, kemudian bagian kedua barulah dimulai perjalanan kesembilan Pembawa Cincin. Dalam perjalanan mereka, penulis menggambarkan dengan sangat detail, mulai dari pemandangan yang tampak dari utara, selatan, barat, timur, suara-suara yang terdengar, suasana yang timbul, sifat-sifat makhluk penghuninya, dan sesekali sejarah terbentuknya tempat tersebut, atau peristiwa bersejarah yang pernah terjadi di situ. Dengan begitu, dunia yang dibangunnya terasa benar-benar solid dan nyata. Meski demikian, tak berarti penulis mengabaikan unsur-unsur lain. Karakterisasi dalam buku ini juga dibangun cukup kuat. Terutama para Hobbit, yang sejak awal sudah memperlihatkan kesetiaan dan keberaniannya.

Di antara kaum Bijak, hanya aku seorang yang mau mempelajari adat-istiadat dan pengetahuan tentang hobbit: suatu cabang pengetahuan yang tak dikenal, tapi penuh kejutan. Mereka bisa selembek mentega, tapi kadang-kadang sekokoh akar pohon tua. (Gandalf, p.67)

Kau bisa mempercayai kami untuk mendampingimu dalam semua kesulitan—sampai akhir yang pahit. Dan kau bisa mempercayai kami untuk menyimpan rahasiamu yang mana pun—lebih rapat daripada kau sendiri bisa menyimpannya. (Merry, p.137)

Aku belajar banyak tentang Sam Gamgee dalam perjalanan ini. Mula-mula dia bersekongkol, sekarang dia melawak. Nanti dia akan menjadi tukang sihir… atau pejuang! (Frodo, p.259)

Hubungan antar bangsa di Dunia Tengah juga sedikit banyak diperlihatkan di sini. Siapa yang saling bermusuhan, siapa yang tidak mau bekerja sama satu sama lain, siapa mengagumi siapa, siapa takut pada siapa, dan sebagainya. Salah satu saat yang paling manis adalah saat Sam pertama kali bertemu dan berinteraksi dengan para Peri. Sejak lama Sam mengagumi para Peri yang hanya didengarnya dari dongeng dan lagu. Beberapa kali bertemu mereka dan singgah di negeri mereka dalam perjalanannya bersama Frodo, menularkan perasaan hangat dan puas pada saya saat membacanya. Sebaliknya kaum Kurcaci yang sejak lama berselisih dengan bangsa Peri, menimbulkan kisah uniknya kala Legolas sang Peri dan Gimli sang Kurcaci terpaksa harus berada dalam satu perjalanan.

Namun demikian, anehnya mereka tetap merupakan kaum yang tangguh, walau terbiasa hidup nyaman dalam kedamaian. Mereka sulit untuk ditakut-takuti atau dibunuh; dan mereka begitu menyukai barang-barang bagus, walau jika terpaksa mereka bisa hidup tanpa semua itu; mereka juga bisa bertahan menghadapi kesedihan, musuh, atau cuaca, dengan cara yang membuat terperangah orang-orang yang tidak mengenal mereka dengan baik, yang hanya melihat perut serta wajah mereka yang sehat dan cukup makan. (p.15, Tentang Para Hobbit)

Frodo, sebagai kunci dalam perjalanan ini menunjukkan keberanian dan ketangguhan yang luar biasa. Tak terhitung bahaya maut yang dilewatinya, tekadnya untuk menempuh perjalanan demi menghancurkan Cincin itu tetap kuat, dengan atau tanpa teman dan pelindung. Bahkan beberapa kali dia bimbang karena ingin menjauhkan kawan-kawannya dari bahaya yang ditimbulkan oleh Cincin tersebut.

Luka itu akhirnya menguasaimu. Kalau lewat beberapa jam lagi, kami sudah tak bisa membantumu. Tapi dalam dirimu ada kekuatan, hobbit yang budiman! (Gandalf, p.272)

Selain karakter-karakter utama Para Pembawa Cincin, ada karakter-karakter unik yang digambarkan sebagai sosok yang ‘serba tahu dan serba bisa’ seperti Tom Bombadil, beberapa Peri, Penyihir, dan Manusia yang banyak membantu, juga Lady Arwen, putri Elrond dari Rivendell, yang meski hanya ditampilkan sekilas, tetapi sudah terlihat akan menyajikan sebuah kisah (terutama bagi yang sudah pernah mengetahui kisah selanjutnya). Di antara para Peri yang abadi dan tangguh, salah satu yang paling berkesan adalah Lady Galadriel di Lothlórien. Galadriel memiliki kemampuan yang unik untuk memasuki pikiran dan hasrat lawan bicaranya, dia juga memiliki akses ke kedalaman jiwa orang lain. Di Lothlórien, dia bahkan tampak lebih dominan ketimbang suaminya, Lord Celeborn, termasuk penampilan fisiknya.

Tanda tanya yang ditinggalkan buku pertama adalah ke mana perjalanan Para Pembawa Cincin ini, selepas dari Lothlórien, harus berlanjut. Sejak awal Boromir telah mengatakan hanya ikut dalam perjalanan sampai ke Gondor. Setelah itu, dia akan bergabung dengan pasukan di Minas Tirith untuk melawan kekuatan jahat Morgul. Apalagi dengan diketemukannya Cincin Utama dan Pedang Patah, sesuai dengan petunjuk yang didapatnya. Kemudian karena hal-hal tak terduga sepanjang perjalanan, terutama kejadian mengerikan di Moria, berbagai kehilangan dan kerusakan, rombongan ini mulai gamang menentukan arah. Akankah mereka meneruskan perjalanan ke Mordor, atau memperbarui rencana dan mengumpulkan kekuatan dengan singgah ke Gondor.

Nah, biarlah kebodohan menjadi jubah kita, selubung di depan mata Musuh! Karena dia sangat pintar, dan dia menimbang semua hal hingga sekecil-kecilnya, dalam timbangan kejahatannya. Tapi satu-satunya ukuran yang dia kenal adalah hasrat, hasrat untuk kekuasaan; dan begitulah dia menilai semua orang. Dalam hatinya takkan pernah terlintas pikiran bahwa ada orang yang akan menolak, bahwa kita ingin memiliki Cincin itu untuk menghancurkannya. (Gandalf, p.333)

The Lord of the Rings memang oleh penulisnya tidak dimaksudkan untuk menjadi trilogi, tetapi penerbit awalnya memecahnya menjadi tiga buku, dengan dua bagian di tiap bukunya. Mungkin karena itulah buku pertama ini terasa agak ‘nanggung’ petualangannya. 4.5/5 bintang untuk pengenalan Dunia Tengah yang mengagumkan.

Review #24 of Classics Club Project

Review #22 for 2014 TBRR Pile Reading Challenge (Classic)

Review #35 for Lucky No.14 Reading Challenge category Chunky Brick

Dua Saudara – Jhumpa Lahiri

dua saudaraTitle : Brotherly Love (Dua Saudara)
Author : Jhumpa Lahiri (2013)
Translator : Anton WP
Publisher : bukuKatta
Edition : Cetakan pertama, 2014
Format : Paperback, 68 halaman

Penampilan fisik Subhash dan Udayan memang mirip, tetapi kedua kakak beradik ini memiliki sifat yang jauh berbeda. Subhash, sang kakak lebih penurut dan ‘lurus’, sedangkan Udayan sulit ditebak dan seringkali menyusahkan. Hingga saat keduanya lulus dari universitas—hal yang langka di lingkungan mereka saat itu—keduanya memilih jalan yang berbeda. Shubhash meninggalkan Tollygunge untuk melanjutkan program doktoral di Rhode Island, sedangkan Udayan tetap tinggal untuk melanjutkan perjuangannya untuk revolusi di India.

Bersetting di tahun 1960-70an, saat India sedang bergejolak, perang Vietnam, pemisahan Bangladesh, dan berbagai peristiwa sejarah yang secara langsung maupun tidak langsung akan berhubungan dengan karakter dalam kisah ini. Kisah pendek ini pada mulanya dimuat di New Yorker, kisah yang merupakan pengantar untuk novel Lahiri, The Lowland. Hal ini menjawab tanda tanya saya saat membaca buku ini, saat menemukan bahwa untuk sebuah cerita pendek, setting dan karakterisasi buku ini terbangun cukup detail.

Cerita pendek ini menitikberatkan pada hubungan Subhash dan Udayan yang terpisahkan oleh ideologi yang berbeda. Jarak geografis dan jarak ideologis ternyata membawa hubungan mereka dalam suatu kecanggungan baru. Oleh karena dikisahkan dengan sudut pandang orang ketiga terbatas, pembaca hanya bisa melihat melalui sudut pandang Subhash. Buku ini menangkap apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan oleh Subhash. Namun, kisah ini kemudian diakhiri dengan cantik, mengenai kenyataan tentang sikap Udayan terhadap kakaknya itu. Menyentak, sekaligus mengharukan.

Review #21 for 2014 TBRR Pile Reading Challenge

Review #34 for Lucky No.14 Reading Challenge category (Not So) Fresh From the Oven

Desember

Out of the Dust – Karen Hesse

out of the dustTitle : Out of the Dust
Author : Karen Hesse (1997)
Publisher : Scholastic Inc.
Edition : 7th printing, Apple Signature Edition
Format : Paperback, 228 pages

I don’t want to die,
I just want to go,
away,
out of the dust.
(p.149)

Billie Jo Kelby lahir pada Agustus 1920. Ayahnya sangat menginginkan anak laki-laki hingga memperlakukan anak perempuannya itu sebagaimana anak laki-laki. Tetapi Billie Jo masih memiliki persamaan dengan ibunya, dia suka memainkan piano, meski ibunya tak suka jika dia mengorbankan sekolahnya demi musik. Billie Jo mengisahkan hidupnya di usianya yang keempat belas, bagaimana ayahnya setia menanti hujan demi ladang gandumnya, bulan demi bulan yang kering dan berdebu. Saat itu ibunya sedang hamil lagi, berusaha sepenuhnya mengatasi kondisi keluarganya, di Oklahoma yang terancam kelaparan.

Hujan yang dirindukan tak juga hadir, hanya debu dan badai debu, membuat ladang-ladang semakin memburuk, tanaman-tanaman enggan hidup, dan rumah-rumah menjadi suram. Di masa-masa genting ini, sebuah kecelakaan fatal terjadi di rumah Kelby. Ayahnya meletakkan minyak tanah di dekat kompor, ibunya yang mengira itu air tak sengaja membakarnya, kemudian Billie yang berusaha membereskan kekacauan justru membuatnya lebih kacau, tanpa disengaja.

“Billie Jo threw the pail,”
they said. “An accident,”
they said.
Under their words a finger pointed.

They didn’t talk
about my father leaving kerosene by the stove.

(p.71)

Kecelakaan itu membuat luka menganga di keluarga itu, luka yang tak kunjung membaik, lahir dan batin. Kedua tangan Billie terluka sehingga dia sama sekali tak bisa bermain piano. Hatinya juga terluka karena sikap ayahnya yang berubah murung dan dingin. Billie Jo yang sebelumnya adalah gadis remaja dengan kehidupan remajanya—sekolah, mendapatkan uang ekstra dari bermain piano, jatuh cinta pada anak laki-laki, bermimpi, dan lain sebagainya—kini harus lari dari segala kenangan yang menyakitkan saat keluarganya masih baik-baik saja, meski serba kekurangan. Cita-citanya yang paling utama adalah keluar dari lingkungan rumahnya yang berdebu, kapan pun dia bisa, bagaimana pun caranya.

“We weren’t always happy,” I tell Louise.
“But we were happy enough
until the accident.
When I rode the train west,
I went looking for something,
but I didn’t see anything wonderful.
I didn’t see anything better than what I already had.
Home.”
(p.217)

Jika melihat beberapa kutipan buku ini yang saya cantumkan di atas, terlihat bahwa buku ini bukan terdiri dari paragraf-paragraf sebagaimana novel pada umumnya. Buku ini berisi bait-bait kisah Billie Jo yang diceritakan melalui suaranya sendiri. Dengan cara begini, buku ini terkesan agak puitis, sekaligus mudah dan cepat dicerna.

Dengan sedikit kata-kata, penulis berhasil menghasilkan efek emosional yang dahsyat. Setiap beberapa halaman, ada saja yang membuat saya harus berhenti membaca, karena aura depresi yang sangat pekat. Setting waktu kisah ini memang pada masa-masa depresi (Depression Era) yang mengikuti Perang Dunia II. Badai debu yang terjadi pada buku ini (tahun 1934) juga merupakan satu rangkaian Dust Bowl dari badai yang terjadi berturut-turut di Amerika Serikat saat itu.

Aura depresi semakin memekat pasca kecelakaan di keluarga Kelby. Di sini, selain depresi karena kondisi alam dan negara, konflik batin para anggota keluarga, terutama Billie Jo, semakin ditampakkan. Anak dan ayah yang berjuang keras untuk berdamai dengan keadaan, dengan diri mereka sendiri, dan untuk saling memaafkan.

He stares at me,
maybe he is looking for Ma.
He won’t find her.
I look like him,
I stand like him,
I walk across the kitchen floor
with that long-legged walk
of his.
I can’t make myself over the way Ma did.

And yet, if I could look in the mirror and see her in
my face,
If I could somehow know that Ma
and baby Franklin
lived on in me . . .

But it can’t be
I’m my father’s daughter.

(p.113-114)

Jika ditilik secara ukuran buku, Out of the Dust ini bisa saja dibaca dalam sekali duduk. Namun melihat isinya, rasanya mustahil ada orang yang bisa tega menyantap kisah suram ini sekaligus tanpa istirahat. Pengalaman saya membandingkan reaksi bacaan terhadap teman sesama blogger, saya memiliki ambang penerimaan yang sangat tinggi terhadap kisah-kisah gelap. Untuk yang satu ini, saya akui, saya tidak kuat. Tingkat kegelapan dan depresinya sungguh sangat tinggi sekali, meski—kabar gembiranya—kisah ini tetap berakhir bahagia.


I am because of the dust.
And what I am is good enough.
Even for me.
(p.222)

4/5 bintang untuk kisah yang meremukkan hati.

Review #12 of Children’s Literature Reading Project

Review #31 for Lucky No.14 Reading Challenge category Cover Lust (I admit it’s a strange taste, but yes, the dark nuance of the cover made me curious)

Review #20 for 2014 TBRR Pile Reading Challenge (Historical Fiction)

November #1 : Newbery Book List

 

American Gods – Neil Gaiman

4407Title : American Gods
Author : Neil Gaiman (2001)
Publisher : Review (imprint of Headline Book Publishing), 2005
Format : Paperback, 640 pages

‘My people went from here to America a long time ago. They went there, and then they returned to Iceland. They said it was a good place for men, but a bad place for gods. And without their gods they felt too…alone.’ (p.633)

Sejak ditemukannya benua Amerika, orang-orang dari Eropa berbondong-bondong berimigrasi ke sana. Lambat laun, orang-orang dari Afrika dan Asia, juga belahan lain dunia berimigrasi ke sana. Amerika menjadi lambang modernitas dan kemakmuran. Akan tetapi, jauh sebelum itu, imigran-imigran itu sesungguhnya ‘membawa’ serta dewa-dewa mereka. Mereka membawa kepercayaan dan keyakinan mereka, hingga lambat laun, terseret oleh arus hidup modern, dewa-dewa yang mereka bawa akhirnya tergeser dan terlupakan.

‘Gods die. And when they truly die they are unmourned and unremembered. Ideas are more difficult to kill than people, but they can be killed, in the end.’ (p.65)

Shadow tiga tahun tinggal di penjara karena sesuatu hal yang terpaksa dilakukannya. Di penjara, dia selalu berhati-hati untuk tidak mencari masalah, meski tubuh besarnya menjamin dirinya aman dari para penjahat di dalam penjara. Dia menanti hari kebebasannya setenang mungkin, menantikan hari-hari bahagia saat dia berkumpul kembali dengan Laura, istri yang dicintainya. Namun, menjelang hari kebebasannya, keadaannya menjadi di luar dugaan. Hidup Shadow tidak pernah sama lagi.

Dalam keterasingan dengan dunia yang ditinggalkannya, Shadow bertemu dengan Mr. Wednesday yang menawarkan pekerjaan untuknya. Wednesday yang misterius, yang selalu tahu ke mana Shadow bersembunyi dan selalu bisa menemukannya, yang berkeras untuk mempekerjakan Shadow sebagai asisten, sopir, sekaligus bodyguardnya. Shadow pun terikat perjanjian dengan Wednesday, memulai sebuah petualangan baru yang tak terbayangkan sebelumnya.

Shadow terseret dalam sebuah perang antara dewa-dewa kuno dengan dewa-dewa modern. Dia mendampingi Wednesday menyatukan dewa-dewa kuno yang terlupakan dan sudah terpecah belah. Entah bagaimana, perjanjian yang mengikat Shadow membuatnya loyal sepenuh hati pada Wednesday. Tanpa keterpaksaan, tanpa banyak mempertanyakan hal-hal ganjil yang harus dilakukan, dia melakukan tugasnya. Kemudian perlahan, misteri demi misteri kembali pada dirinya sendiri. Hal-hal yang dilakukannya dan yang terjadi padanya ternyata memiliki hubungan yang mengejutkan.

‘I feel,’ Shadow told her, ‘like I’m in a world with its own sense of logic. Its own rules. Like when you’re in a dream, and you know there are rules you mustn’t break, but you don’t know what they are or what they mean. I have no idea what we’re talking about, or what happened today, or pretty much anything since I got out of jail. I’m just going along with it, you know?’ (p.100)

Buku tebal ini sangat, sangat, luar biasa. Penulis memasukkan banyak unsur dalam buku ini, yang satu sama lain bisa menyatu dengan halus dan apik. Selain berbagai mitologi dan legenda yang menjadi unsur utama dalam karakterisasi, dewa-dewa imigran itu dibuat memiliki karakter manusiawi yang tak jarang menimbulkan simpati. Pun karakter-karakter manusianya, dengan berbagai konflik yang kaya dan beragam, tak sekadar menjadi pelengkap. Sebagai karakter utama, Shadow—sebagaimana karakter Gaiman pada umumnya—memiliki banyak sekali kekurangan. Namun, di luar dugaan, saya lebih mudah bersimpati padanya. Mungkin saya suka karena Shadow bukan seorang pengeluh. Sikapnya yang selalu menerima segala sesuatu terkadang mencengangkan, terlihat bodoh, tetapi menurut saya justru di situ kekuatannya.

Hubungan Shadow dengan Laura juga menjadi salah satu konflik yang kuat dalam buku ini. Laura yang sudah meninggal, karena sesuatu hal bangkit kembali menjadi mayat hidup. Shadow masih sangat mencintai istrinya meski Laura terbukti mencuranginya sewaktu dia masih di penjara, pun Laura juga tampak menyesali perbuatannya. Perasaan mereka tergambar kuat dalam buku ini, Laura yang begitu ingin hidup, dan Shadow yang bimbang antara ingin menghidupkan Laura kembali atau melepaskannya. Salah satu adegan paling emosional menurut saya adalah pertemuan keduanya di sebuah pemakaman, saat Laura untuk pertama kalinya mengkritisi sikap Shadow yang selalu menerima, mengatakan bahwa Shadow ‘tidak hidup’. Perdebatan inilah yang nantinya menjadi titik balik hubungan mereka.

Wednesday yang misterius juga berkembang seiring jalannya kisah. Semakin lama interaksi Shadow dengan Wednesday, kelemahan-kelemahan dan sifat manusiawi Wednesday semakin nampak. Dia yang pada mulanya terkesan dingin, lambat laun berhasil menumbuhkan simpati saya.

Shadow said softly, ‘You’re a god.’
Wednesday looked at him sharply. He seemed to be about to say something, and then he slumped back in his seat, and looked down at the menu and said ‘So?’
‘It’s a good thing to be a god,’ said Shadow.
‘Is it?’ ask Wednesday, and this time it was Shadow who looked away.
(p.386)

Dunia yang dibangun dalam buku ini berjalan paralel, ada Amerika dengan segala detail geografis yang sesungguhnya, dibumbui dengan berbagai tempat ajaib di tempat-tempat tersebut. Penulis dapat dengan ajaib membuat sebuah portal dari karosel raksasa, membuat karakternya berpindah ke ‘belakang panggung’ dengan sebuah belokan misterius, bahkan menggambarkan dunia setelah kematian menurut imajinasinya. Penulis menggambarkannya dengan segala detail yang membuat pembaca mampu masuk ke dalam dunia tersebut tanpa merasa tersesat. Salah satu tempat menarik dalam buku ini adalah kota Lakeside, yang dikatakan sebagai tempat paling aman dan tenang. Shadow menghabiskan beberapa waktu tenang di sana sebelum tugas memanggilnya kembali. Dan ternyata, siapa sangka bahwa tempat itu menyimpan rahasia yang mengerikan dan mencengangkan.

Buku ini begitu kaya, hal-hal besar yang mendalam, sampai hal-hal kecil yang membuat buku ini menarik. Hal sesederhana trik koin yang merupakan keahlian Shadow dapat memberikannya banyak pengalaman dalam interaksinya dengan orang maupun dewa lain. Di antara suasana yang gelap, terselip juga berbagai humor, ironi, ataupun selingan kisah cinta yang manis. Pada pergantian bab, terkadang diselipkan kilas balik kisah dewa-dewi di masa lampau yang tidak berhubungan langsung dengan alur besarnya. Kemudian kesemua hal-hal kompleks, beberapa hal sederhana, dan berbagai hal yang tak terpikirkan menyatu menjadi satu kisah yang luar biasa.

Jika boleh saya simpulkan, kisah ini adalah kisah Shadow. Bagaimana seorang mantan narapidana yang tak memiliki tujuan hidup bisa memperjuangkan sesuatu yang diinginkan—atau tidak diinginkan—olehnya. Bagaimana dia yang tadinya dianggap ‘tidak hidup’ pada akhirnya menemukan kehidupan yang sesungguhnya. Bagaimana dia yang hanya ingin hidup tenang, atau mati dengan tenang, menemukan makna dalam kehidupan dan kematian.

Shadow wanted to point out to Mad Sweeney that that was a kind of bitter philosophy, but he suspected it was the being dead that made you bitter. (p.241)

5/5 bintang untuk masterpiece dari sang master story-teller.

‘You people talk about the living and the dead as if they were two mutually exclusive categories. As if you cannot have a river that is also a road, or a song that is also a color.’ (p.523)

Review #28 for Lucky No.14 Reading Challenge category Chunky Brick

Review #19 for 2014 TBRR Pile Reading Challenge (Book Award Winner) [Bram Stoker Award for Best Novel (2001), Hugo Award for Best Novel (2002), Nebula Award for Best Novel (2002), Locus Award for Best Fantasy Novel (2002), International Horror Guild Award Nominee for Best Novel (2001), World Fantasy Award Nominee for Best Novel (2002), SFX Award for Best Novel (2002), Geffen Award (2003), Mythopoeic Fantasy Award Nominee for Adult Literature (2002), Prix Bob Morane for roman traduit (2003)]