Tag Archives: 2014 TBRR Challenge

Carrie – Stephen King

155443Title : Carrie
Author : Stephen King (1974)
Publisher : New English Library
Edition : Open Market Edition, twenty-fifth impression, 1992 (222 pages)

Everybody’s guessed|that baby can’t be blessed|’til she finally sees that she’s like all the rest…
(p.38)

Carrie White bukanlah remaja biasa, yang dibesarkan oleh ibunya yang luar biasa fanatik dalam beragama. Oleh karena pengaruh ibunya itulah dia tidak bisa bersosialisasi dengan siapa pun dan dikucilkan di sekolah. Pada usia yang ketujuh belas tahun, dia baru mengalami menstruasi pertamanya—yang termasuk terlambat—dan bahkan tidak mengetahui sesuatu pun tentangnya. Akibatnya, dia di-bully habis-habisan, termasuk oleh Chris Hargensen—putri seorang pengacara terkenal yang arogan dan manja, serta Sue Snell—gadis populer di sekolah Ewen High tersebut.

Miss Desjardin, guru olahraga yang memergoki kejadian itu terpaksa membimbing Carrie untuk menghadapi menstruasi pertamanya, dan melaporkan kepada kepala sekolah untuk menindak para pem-bully tersebut. Mereka akan didetensi, atau tidak boleh hadir ke pesta prom. Beberapa gadis yang dipimpin oleh Chris memilih tidak menjalani hukuman tersebut sebagai protes sehingga mereka dilarang hadir di pesta prom. Sementara Sue yang merasa bersalah atas kata-katanya pada Carrie tak hendak melawan, karena dia juga tak ingin melewatkan malam prom. Chris Hargensen marah besar, marah pada pihak sekolah yang menyalahkannya, marah pada Sue yang tak mendukungnya.

Tanpa diduga, Sue, dengan banyak alasan yang membingungkan dirinya sendiri, meminta pacarnya, Tommy Ross—anak laki-laki populer juga—untuk mengajak Carrie ke prom bersamanya. Tentu saja hal itu adalah sebuah dilema tersendiri bagi Carrie. Pertama, dia sudah trauma dengan segala tingkah laku teman-temannya. Dia khawatir bagaimana seandainya ini hanya lelucon yang akan digunakan untuk mempermalukannya lebih jauh. Namun, undangan ini adalah kesempatan yang baik untuk membaur dengan teman-temannya. Di sisi lain, ibunya—yang menganggap menstruasi Carrie sebagai balasan atas dosanya—tak akan mengizinkan Carrie untuk datang. Pesta, anak laki-laki, gaun pesta, semuanya adalah dosa besar.

Namun, di balik itu semua, terornya adalah pada kemampuan telekinetis Carrie. Kemampuan yang sudah ditunjukkannya sejak kecil, tetapi saat ini menguat dan mulai disadarinya setelah dia mengalami menstruasi. Apakah Carrie akan menggunakan kemampuannya secara bijak? Apakah dia tetap akan datang ke prom dengan segala risikonya? Pembalasan apa yang direncanakan oleh Chris? Dan apa akibat yang ditimbulkan?

Buku ini bukanlah buku ‘mudah’, meski jumlah halamannya tak banyak. Penulis menggunakan kutipan-kutipan reportase, kutipan buku teks, kutipan catatan para saksi, serta narasi dan dialog konvensional untuk menceritakan kisah ini. Beberapa gaya bahasa tersebut tentu akan terasa relatif kaku untuk sebuah novel, tetapi King sangat piawai dalam membuat tulisan-tulisannya tersebut menjadi khas dan berbeda satu sama lain.

Alurnya di awal terasa datar-datar saja, saat kita diperkenalkan satu demi satu situasi yang akan terjadi pada klimaksnya. Klimaksnya sendiri bukan sesuatu yang di luar dugaan—karena telah disinggung sebelumnya—tetapi tetap saja, sepertiga bagian akhir membawa ketegangan, horor, teror, simpati, bahkan penyesalan saat saya membacanya. Ya, setelah eksplorasi mendetail tentang latar belakang dan karakter Carrie, serta latar belakang tragedi malam prom tersebut, rasanya sangat menyesakkan melihat bahwa semuanya berakhir seperti itu. Dari sesuatu yang kecil dan tampak remeh, bisa menghasilkan efek yang besar dan meluas.

3/5 bintang untuk Carrie yang malang.

*Dibaca dalam rangka baca bareng kismis family Joglosemar. Unsur kismis dalam buku ini lumayan kental, setidaknya bakal ada yang tidak berani membacanya malam-malam jika diceritakan secara mendetail di dalam grup 🙂

Review #27 for Lucky No.14 Reading Challenge category Once Upon a Time

Review #18 for 2014 TBRR Pile Reading Challenge (Book Into Movie)

Howl’s Moving Castle – Diana Wynne Jones

6621452Title : Howl’s Moving Castle (Istana yang Bergerak
Author : Diana Wynne Jones (1986)
Translator : Syaribah Noor Brice
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan Pertama, Juli 2009
Format : Paperback, 328 pages

Sophie Hatter adalah anak pertama dari tiga bersaudari, menyusul setelahnya Lettie dan Martha. Di Ingary, anak pertama dipercaya akan pertama kali mengalami kegagalan dibandingkan saudara-saudaranya. Ketika ayahnya meninggal, ibunya mengirimkan Lettie untuk magang di sebuah toko roti, dan Martha ke seorang penyihir, sedangkan Sophie sendiri akan magang bersamanya melanjutkan usaha penjualan topi.

Hidup Sophie berlalu dengan membosankan. Ibunya, Fanny, lebih sering bepergian, meninggalkannya sendiri bersama topi-topinya sehingga Sophie terbiasa berbicara dengan topi. Usahanya mengalami kemajuan, hingga suatu hari, seorang nenek sihir jahat yang terkenal dari Waste datang dan mengutuknya menjadi seorang wanita tua. Karena tak bisa lagi tinggal bersama Fanny, maka Sophie pergi mencari keberuntungannya.

Dalam perjalanannya, Sophie sampai di rumah Howl, penyihir yang terkenal suka memakan jantung gadis-gadis muda. Oleh karena merasa dirinya aman dari Howl, dia tetap tinggal di sana; membersihkan rumah, menjahit pakaian, dan melakukan pekerjaan apa saja yang bisa dilakukannya, demi sebuah perjanjian dengan Calcifer, jin api, untuk saling membebaskan kutukan. Jika Sophie bisa membantunya melepaskan perjanjian Calcifer dengan Howl, dia akan membebaskan Sophie dari kutukan nenek sihir dari Waste. Masalahnya adalah, Sophie harus mengetahui sendiri perjanjian Calcifer dengan Howl.

Buku ini tidak menyediakan hal-hal yang luar biasa dari awalnya, tetapi seiring berkembangnya cerita, pesona sederhana buku ini mulai tampak. Setting buku ini memang dunia high fantasy yang, kalau kata saya, relatif sederhana. Memang ada sihir, ada rumah bergerak yang bisa berada di empat tempat sekaligus, ada mitos-mitos yang nyata, tetapi tidak perlu menunjukkan kehidupan yang luar biasa juga. Howl yang seorang penyihir, tidak selalu menggunakan sihir untuk melakukan apa saja. Pun kehidupan sehari-hari para penduduk Ingary, Kingsbury, Porthaven, maupun lain-lainnya terlihat biasa saja, meski terkadang membutuhkan beberapa mantra untuk melariskan dagangan, memberi keberuntungan, atau menambah kekuatan. Istana bergerak Howl juga menarik untuk ditelaah cara kerjanya, bagaimana satu pintu bisa menuju ke empat tempat sekaligus.

Konflik dalam buku ini sebenarnya cukup rumit. Masing-masing karakter menyimpan rahasianya masing-masing—terkecuali Sophie yang merupakan fokus dalam kisah ini, karena diceritakan dalam sudut pandang orang ketiga terbatas. Masalah yang pada mulanya tampak bersifat personal, semakin lama semakin melibatkan orang lain, bahkan menentukan nasib suatu negeri. Misteri yang disimpan oleh karakter-karakter tersebut muncul dalam bentuk petunjuk samar, tindakan atau kata-kata yang mencurigakan, sehingga tidak sulit menebak jika sesungguhnya ada apa-apa—yang sulit adalah memastikan, apakah apa-apa itu. Itulah salah satu hal yang memesona saya. Sayangnya, entah mengapa bahasa terjemahannya terasa agak membingungkan di beberapa bagian. Mungkin memang sulit menerjemahkan buku ini secara sempurna, karena setelah melihat-lihat beberapa review, memang ada banyak permainan kata-kata dalam buku ini, yang tentu saja sulit diaplikasikan ke dalam bahasa lain.

Yang tak kalah menyenangkan adalah karakter-karakternya. Sophie yang setelah dikutuk menjadi nenek-nenek masih tetap ceria dengan kekonyolan dan keberaniannya. Howl yang ternyata jauh dari apa yang digosipkan (oh, dia adalah penyihir tampan yang baru melewatkan usia sepuluh ribu harinya, memesona dengan pakaian mewah dan parfumnya, tak pernah gagal memikat hati para gadis, tetapi, dengan sederet kekurangan yang…menyebalkan, tanpa menghilangkan pesonanya). Mengikuti perkembangan karakter keduanya cukup menarik. Sophie yang sedikit demi sedikit menemukan dirinya sendiri, dalam situasi yang memaksanya untuk tidak pasrah terhadap takdir anak pertama yang selalu tidak beruntung. Sedangkan Howl yang menyimpan misteri terbesar, latar belakang dan kisah hidupnya yang kompleks, serta tingkah lakunya yang ternyata—sekecil dan seremeh apa pun—memiliki alasan-alasan tertentu. Belum lagi karakter-karakter minor yang tak kalah menarik, tetapi akan terlalu panjang jika saya tuliskan di sini.

Mengikuti kisah Sophie di atas istana yang bergerak benar-benar seperti dibawa ke dunia fantasi tak kentara yang semakin lama semakin pekat. Intensitas konfliknya juga meningkat seiring berkembangnya kisah. Menurut saya, pesona dari segala aspek di buku ini layak saya anugerahi 5/5 bintang, meski saya tidak terlalu cocok dengan bahasa terjemahannya. Dan setelah ini, saya akan menonton ulang animenya yang juga membuat saya terpesona beberapa tahun yang lalu.

Review #11 of Children’s Literature Reading Project

Review #26 for Lucky No.14 Reading Challenge category Movies vs Books

Review #17 for 2014 TBRR Pile Reading Challenge (Book Award Winner) [Phoenix Award (Children’s Literature Association) (2006), Boston Globe-Horn Book Award (1987), American Library Association (ALA) Notable Book for Children’s Book (1986)]

Oktober #2 : First published on the year you are born

Oktober #2 : First published on the year you are born

The Picture of Dorian Gray – Oscar Wilde

dorian gray(The conclusion in English at the last words)

Title : The Picture of Dorian Gray
Author : Oscar Wilde (1891)
Publisher : Signet Classic, New American Library
Edition : 16th printing, ©1983
Fomat : Paperback, 234 pages (of 304 pages total)

“I hate them for it,” cried Hallward. “An artist should create beautiful things, but should put nothing of his own life into them. We live in an age when men treat art as if it were meant to be a form of autobiography. We have lost the abstract sense of beauty. Some day I will show the world what it is; and for that reason the world shall never see my portrait of Dorian Gray.” (p.29)

“It was not intended as a compliment. It was a confession. Now that I have made it, something seems to have gone out of me. Perhaps one should never put one’s worship into words.” (Basil Hallward, p.129)

Basil Hallward mungkin melakukan kesalahan ketika membagi perasaannya pada Lord Henry Wotton tentang Dorian Gray. Ketika menjadikan Dorian sebagai objek lukisannya, Basil mengerahkan seluruh ‘diri’nya dalam lukisan tersebut. Lord Henry yang merasa tertarik dengan deskripsi penuh pujaan Basil terhadap Dorian pun semakin penasaran. Sejak pertama kali bertemu Dorian, Basil sudah merasakan bahwa kawan barunya tersebut memiliki kepribadian yang menarik dan akan mempengaruhi dirinya. Akan tetapi, Dorian yang muda dan polos pun berubah setelah diperkenalkan pada Lord Henry.

Kekaguman Dorian terhadap Lord Henry sama seperti Basil pada dirinya, inilah yang mengawali perubahan tersebut. Lord Henry menanamkan kecintaan pada kemudaan dan penampilan, sehingga kecintaan Dorian pada dirinya sendiri tumbuh secara tidak sehat. Tepat saat lukisan dirinya selesai, Dorian berharap agar lukisannya saja yang menua, sementara dirinya tetap dalam keadaan terbaiknya saat itu. Sesuatu yang aneh terjadi kemudian. Harapannya menjadi nyata, tetapi dalam wujud yang lebih mengerikan.

But the picture? What was he to say of that? It held the secret of his life, and told his story. It had taught him to love his own beauty. Would it teach him to loathe his own soul? Would he ever look at it again? (p.105)

Kepolosan yang terenggut darinya tampak dalam lukisan dirinya. Kekejian, kelicikan, kejahatan, semuanya mewujud dalam lukisan yang kemudian disembunyikan di sebuah ruangan di rumahnya. Penampilan Dorian yang tetap muda dan polos bisa menipu sebagian orang, tetapi tidak dari orang-orang yang pernah menjadi ‘korban’nya. Sementara hubungannya dengan Lord Henry semakin erat karena ide-ide yang merasukinya, pertemanannya dengan Basil semakin renggang. Belasan tahun berlalu, darah dan kutukan orang-orang mengotori lukisan Dorian Gray, dendam dan permusuhan menghantuinya. Mungkin hanya Basil yang masih benar-benar peduli dan percaya padanya, di samping Lord Henry yang mendukung segala kehidupan penuh kesenangan yang kini dijalaninya.

He played with the idea and grew wilful; tossed it into the air and transformed it; let it escape and recaptured it; made it iridescent with fancy and winged it with paradox. (p.57)

Membaca buku ini memberikan emosi yang campur aduk. Pada mulanya, kita disuguhi deskripsi-deskripsi yang indah, kalimat-kalimat penuh filosofi, kemudian lambat laun kita dijerumuskan pada area abu-abu, pada paradoks berpikir, dan kemudian dihempaskan kepada kenyataan. Kenyataan yang mungkin menyakitkan, mengecewakan, tetapi mungkin juga itulah yang terbaik, atau bisa jadi indah jika kita memandang dari sudut pandang yang lain.

Mere words! Was there anything so real as words? (p.36)

Sesuai judulnya, buku ini menunjukkan potret Dorian Gray, perkembangan karakternya sejak bertemu dengan Lord Henry, sejak lukisan Basil selesai. Dorian muda yang naif begitu mudah terpengaruh oleh kalimat-kalimat Lord Henry. Di saat keputusannya membawa malapetaka mengerikan, Lord Henry yang menghilangkan perasaan bersalahnya. Selain melalui kata-kata, Lord Henry juga mempengaruhi Dorian melalui sebuah buku yang dipinjamkannya. Dorian pun tumbuh dewasa sebagai orang yang memuja penampilan, gemar berhura-hura dan—secara tak sadar—mematikan hati dan perasaannya.

Dorian Gray had been poisoned by a book. There were moments when he looked on evil simply as a mode through which he could realize his conception of the beautiful. (p.158)

Uniknya, penulis bisa membuat kita (atau saya) memandang Dorian sebagaimana orang-orang memandang Dorian Gray. Dorian yang tampan dan berwajah polos, meski banyak perkataan negatif tentangnya di luar sana, kita hanya bisa melihat Dorian Gray yang menawan. Buku ini mendeskripsikan Dorian sedemikian rupa sehingga sangat sulit untuk kehilangan simpati padanya.

Selain karakterisasi yang kuat, narasi yang diutarakan oleh penulis sangat cantik. Mulai dari detail kejadian, deskripsi setting, hingga isi pikiran para karakternya. Akhir kisah ini tidak sulit ditebak, kejutan justru bertebaran di tengah-tengah cerita—mungkin lebih kepada rasa tak percaya bahwa kejadiannya akan seperti itu. Namun tetap saja, akhir kisah ini menyisakan sebuah perasaan manis-pahit yang sulit dihilangkan.

“To be good is to be in harmony with one’s self.” (Lord Henry, p.92)

The Picture of Dorian Gray is the only novel that Wilde wrote. The novel captured self-lovingness in a dark way. Dorian Gray, who was influenced by Lord Henry Wotton, worshipped his own youth and beauty. Therefore, he was trapped in his own sufferings, while he acted hedonistic. He had to hold a secret about his shames in his own picture—drawn by Basil Hallward, his former admirer—that magically bore his age and faults.

Wilde’s writing style was beautiful. He captured human nature, described landscape into details, and delivered philosophical ideas. This book is so contain, in spite of the not-so-many number of pages. I said, it’s more than enough of Wilde writing this one novel in his lifetime (let alone his plays, short stories and essays).

4.5/5 stars for the beauty of dangerous self-admiration.

“I worshipped you too much. I am punished for it. You worshipped yourself too much. We are both punished.” (p. 170)

Oscar Fingal O'Flahertie Wills Wilde (16 October 1854 – 30 November 1900)

Oscar Fingal O’Flahertie Wills Wilde (16 October 1854 – 30 November 1900)

Today (16 October 2014) is the 160th birthday of Oscar Wilde. He has become my favourite author since I read three of his plays last year. I dedicated this review of his wonderful only novel on this special day. Although, I don’t feel complete with this version, because it was censored. The original draft of this book was banned due to homosexuality issue, therefore his editor asked him to change many things. And because I’m a curious reader, I’m looking forward to reading the original idea of my favourite author—without intending to judge the idea. Perhaps I could catch something different and more from that version.

“I never approve, or disapprove, of anything now. It is an absurd attitude to take towards life. We are not sent into the world to air our moral prejudices. I never take any notice of what common people say, and I never interfere with what charming people do.” (Lord Henry, p.88)

Review #23 of Classics Club Project

Review #16 for 2014 TBRR Pile Reading Challenge (Book Into Movie #2)

Review #24 for Lucky No.14 Reading Challenge category Favorite Author

Da Wild, Da Crazy, Da Vinci – Jon Scieszka

401856Title : Da Wild, Da Crazy, Da Vinci (The Time Wrap Trio #14)
Author : Jon Scieszka (2004)
Illustrator : Adam McCauley
Publisher : Scholastic
Edition : 4th printing, 2006 (First Scholastic printing, September 2005)
Format : Paperback, 74 pages

Saya mengambil buku ini karena nama penulisnya pernah muncul dalam postingan FYE tahun 2013 lalu, sebelum mengetahui bahwa buku ini adalah bagian dari serial. Meski demikian, buku ini dapat dibaca terpisah, karena latar belakang singkat yang penting telah disinggung di buku ini.

The Time Wrap Trio terdiri atas tiga anak laki-laki; Joe, Sam dan Fred. Berawal dari kado ulang tahun Joe dari pamannya berupa sebuah buku berwarna biru, dengan gambar-gambar dan tulisan-tulisan berkode, yang dengannya mereka bertualang di masa lalu maupun masa depan. Atas ide dari Sam—berdasarkan riset yang dilakukannya, mereka berasumsi bahwa penemu atau pembuat buku itu adalah Leonardo da Vinci. Kemudian mereka tiba di Italia, di masa lima abad sebelumnya.

Usaha mereka mencari Da Vinci demi mengetahui rahasia dan cara kerja buku yang mereka sebut The Book itu tampaknya tak berjalan lancar. Meski telah bertemu dengan sang pelukis Mona Lisa itu, Time Wrap Trio dihadapkan pada Captain Nassti yang sedang berusaha memanfaatkan penemuan-penemuan Da Vinci. Mereka bertiga pun mencari akal untuk meloloskan diri dari Nassti sekaligus menghindarkan kekejamannya dari penemuan-penemuan berharga Da Vinci.

Meski terlihat serius, petualangan mereka sebenarnya cukup sederhana dan penuh dengan humor. Tidak ada sains ataupun teori yang muluk-muluk dalam buku ini, tetapi banyak sekali sains sehari-hari yang diselipkan. Dari hal yang sederhana, dengan memanfaatkan sedikit bahan dari penemuan Leonardo da Vinci, cerita ini berhasil diramu dengan kocak dan hidup (termasuk proses penggambaran Vitruvian Man). Namun begitu, yang agak kurang berkenan untuk saya adalah bahasa masa lalu yang tampaknya sama saja dengan bahasa masa kini.

Selain Leonardo da Vinci, tokoh sejarah yang muncul dalam buku ini adalah Lord Borgia (Cesare Borgia) dan Niccolò Machiavelli. Penemuan yang ditampilkan saat itu, beserta hubungan para tokoh tersebut memang benar-benar mengacu pada sejarah. Jadi, mungkin dapat saya katakan bahwa buku ini juga merupakan historical fiction ringan untuk anak-anak.

3/5 bintang untuk Joe, Sam dan Fred da Brooklyn.

Review #8 of Children’s Literature Reading Project

Review #15 for 2014 TBRR Pile Reading Challenge (Historical Fiction #2)

Review #22 for Lucky No.14 Reading Challenge category Bargain All The Way

Beberapa fakta sejarah yang tersirat maupun tersurat dalam buku ini:

– Vitruvian Man yang dalam buku ini belum diberi nama, berawal dari teori bahwa panjang rentang kedua lengan manusia sama dengan tingginya, hingga terbentuk sebuah persegi; ujung kaki dan tangan manusia akan membentuk lingkaran dengan menaikkan lengan hingga jari tengah setinggi puncak kepala, sehingga pusat tubuh berada di pusar; dan dengan merentangkan kedua kaki, akan terbentuk segitiga samakaki. Untuk deskripsi yang lebih lengkap dan akurat, cek artikel ini atau itu.

– Cesare Borgia, Duke of Valentinois, pernah mempekerjakan Leonardo da Vinci sebagai arsitek dan insinyur militer. Da Vinci membangun sebuah kanal sebagai salah satu strategi perang.

– Machiavelli menuliskan tentang Borgia dalam bukunya, The Prince, yang menunjukkan kesepahaman dalam politik. Machiavelli juga menyaksikan sendiri masa kekuasaan Borgia.

Courrier Sud – Antoine de Saint-Exupéry

pesawat pos selatanTitle : Courrier Sud (Southern Mail/Pesawat Pos Selatan)
Author : Antoine de Saint-Exupéry (1929)
Translator : Prof. Dr. Apsanti Djokosujatno
Publisher : Komodo Books
Edition : Cetakan Pertama, Februari 2010
Format : Paperback, 190 pages

Jacques Bernis adalah salah satu dari penerbang pada masa itu, di masa awal abad kedua puluh, di saat pesawat, peralatan navigasi dan komunikasi belum secanggih sekarang. Pada masa itu—setidaknya bagi Bernis, atau bagi penulis sendiri—terbang adalah suatu kehidupan tersendiri. Para penerbang merasakan hidup yang berbeda saat mereka di udara, dimana segalanya terlihat lebih familiar ketimbang saat mereka berada di tempat mereka berasal.

…kami tidak bisa merasa terasing di padang pasir: kami perlu kembali ke rumah untuk membayangkan keterasingan kami, dan melihatnya dalam bingkai tersebut. (p.18)

Sebagai penerbang pesawat pos Afrika, tugas Bernis adalah menyampaikan surat-surat dari belahan bumi yang satu ke belahan bumi yang lain. Berita-berita mengenai keluarga dan para kekasih. Hidup dan kerinduan orang lain, meski hidup dan kerinduannya sendiri memiliki kisah yang berbeda.

Waktu fajar menyingsing, kau harus membawa dengan kedua tanganmu renungan-renungan suatu bangsa. Dengan kedua tanganmu yang lemah. Membawanya menerjang beribu kendala, seperti harta karun di balik baju hangatmu. Surat-surat berharga, kata orang padamu, surat-surat yang lebih berharga daripada hidupmu. Dan begitu rapuh.
Dan bahwa sebuah kesalahan akan menebarkannya dalam api, mengaduknya dengan angin. (p.28-29)

Akan tetapi, saat Bernis kembali ke daratan—ke kampung halamannya, dia mendapati dirinya kembali pada kehidupan yang masih sama dengan saat dia tinggalkan. Kehidupan statis yang jauh berbeda dengan saat dia berada di angkasa. Kehidupan yang kini terasa sangat asing. Pun kisah percintaannya dengan Geneviève, pujaan hatinya sejak lama, seperti terhalangi oleh sebuah dinding yang memisahkan penerbang dengan manusia daratan. Apakah jalan yang dipilihnya memang membawanya berakhir dalam kesepian?

Mereka ingin mengetahui kehausannya untuk bertindak, gemuruh bunyi mesin pesawatnya, dan mengapa memangkasi perdu-perdu mawar setiap sore seperti mereka bagi kami tidak cukup untuk merasa bahagia.
…..
… Dan karena guru kami yang paling tua memimpikan betapa satu-satunya kebenaran mungkin adalah kedamaian buku-buku, hal yang membuat kami sedih. Namun para guru telah mengetahui hal itu. Pengalaman mereka kejam karena mengajarkan sejarah kepada manusia.
“Mengapa kalian kembali ke kampung halaman?” Bernis tidak menjawab, tetapi guru-guru tua itu mengerti jiwa manusia, dan sambil mengerjapkan mata, berpikir bahwa dia kembali ke kampung halaman karena cinta.
(p.35-37)

“Ternyata, semuanya tetap sama …”
Sebelumnya dia khawatir menemukan semua hal berbeda, dan sekarang ia menderita medapatkan semua begitu tetap sama.
(p.51)

Meskipun agak membingungkan, saya sangat menikmati buku ini karena penulisnya adalah salah satu favorit saya. Bahasa puitisnya mungkin menghalangi saya dari memahami keseluruhan maksudnya, tetapi tidak dari filosofi-filosofi yang tersirat dari kalimat per kalimat yang disampaikannya. Sebagaimana yang sudah saya ceritakan sekilas, buku ini mengisahkan kegelisahan dan keresahan seorang Bernis. Perasaan ini sangat tersampaikan dengan baik, melalui perjalanan yang dilaluinya, di darat maupun di udara.

Jika kita pasrah kita tidak akan menderita. Jika kita justru menyerah pada kesedihan kita menderita lagi. Dia akan menderita nanti saat mempertentangkan beberapa angan-angan. (p.110)

Selain itu, sebagaimana dalam buku penulis yang pernah saya baca sebelumnya, Terre des Hommes, penulis memperlihatkan dengan sangat apik mengenai dunia yang dilihatnya dari atas pesawat. Tidak ada yang biasa dari fenomena alam jika terlihat dari atas, tidak ada keluarbiasaan yang tak tersampaikan oleh seorang penerbang yang memutuskan menulis sendiri bukunya.

Penemuan manusia yang kita nikmati sekarang mungkin terlihat biasa saja, tetapi melalui buku ini kita bisa sedikit melihat ke belakang. Kita diajak melihat, betapa berharganya sebuah penemuan kecil saat itu, betapa menakjubkannya akal manusia jika dipergunakan untuk menaklukkan alam dengan cara bersahabat dengannya.

Dari atas, bumi tampak telanjang dan mati; pesawat turun; bumi mengenakan pakaian. Hutan-hutan kembali mengisinya, lembah-lembah, lereng-lereng, membentuk suatu gelembung padanya: bumi bernafas. (p.38)

Betapa luar biasanya pertemuan di Sahara ini! Seluruh Eropa berkumpul, ibu kota-ibu kota dengan kicau burung yang saling mengungkapkan rahasia-rahasia. (p.148)

Terbang adalah pilihan hidup Bernis, dan juga penulis. Saat memilih jalan itu, mungkin dia tidak menyadari konsekuensinya, tetapi dia menemukan hidup yang sejati di atas sana. Setiap orang memang memiliki jalannya sendiri, jalan yang tidak mungkin dipahami oleh orang lain yang berbeda jalur dengan diri mereka. Namun, melalui kisah Bernis yang disampaikan oleh Exupéry, saya bisa mencoba memahami jalan hidup yang berbeda itu melalui tulisannya, tulisan seorang penerbang yang sesungguhnya.

Bagi kami, bintang-bintang merupakan ukuran jarak yang sesungguhnya. Kehidupan yang damai, cinta yang setia, teman wanita yang kami sangka mencintai, bintang kutublah yang kembali menerangi semua itu… (p.185)

4/5 bintang untuk kehidupan dalam kokpit.

Review #14 for 2014 TBRR Pile Reading Challenge (Classic #3)

Review #21 for Lucky No.14 Reading Challenge category Favorite Author