Tag Archives: 2015 TBRR Challenge

InterWorld – Neil Gaiman & Michael Reaves

8497469

Title : InterWorld
Author : Neil Gaiman & Michael Reaves (2007)
Translator : Tanti Lesmana
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan pertama, Juni 2010
Format : Paperback, 280 pages

Joey Harker sangat payah dalam menentukan arah, dia sering tersesat, bahkan di rumahnya sendiri. Jadi ketika guru Kajian-Kajian Sosialnya, Mr. Dimas, memberi tugas untuk menemukan jalan pulang dari tempat tertentu di pusat kota, yang terjadi justru awal dari petualangan yang lebih dahsyat. Tanpa sengaja, Joey ‘berjalan’ ke Altiverse lain dan menemukan dunianya bukan lagi dunianya yang biasa. Dengan insiden itu pula, kehidupannya kini berubah dan takdirnya ditentukan untuk menjadi seorang Pelintas.

Kucengkeram kewarasanku dan kupegangi erat-erat dengan kedua tangan. (p.39)

Idenya adalah bahwa semesta ini tidak tunggal, melainkan ada Multiverse. Di dalam Multiverse, ada dunia-dunia yang terpecah menjadi Altiverse, yang terbentuk dari alternatif-alternatif keputusan besar yang dibuat di dunia ini. Multiverse sendiri ada dua kubu besar, di satu kutub ada Binary yang murni menggunakan sains saja, di kutub satunya adalah HEX yang menggunakan sihir murni. Keduanya berambisi untuk menguasai seluruh Altiverse dan mengubahnya menjadi sesuai dengan mereka sepenuhnya. Dunia-dunia yang lain berada di antaranya, termasuk Bumi yang cenderung pada sains, tetapi masih memiliki sedikit unsur sihir. Joey dan versi-versi lain dirinya adalah bagian dari InterWorld, yang akan menjaga kestabilan semesta dari peperangan antara Binary dan HEX. Para Pelintas menjadi incaran Binary dan HEX karena mereka sendiri tidak memiliki kemampuan melintasi Altiverse, sehingga mereka menggunakan ‘ekstrak’ pada Pelintas tersebut demi tujuan mereka, supaya mereka tidak tersesat di Medan-Antara.

Medan-Antara ini penuh dengan hiperboloid, pita-pita Möbius, botol-botol Klein…apa yang mereka sebut bentuk-bentuk non-Euklides. Membuatmu merasa seolah-olah terperangkap di dalam mimpi-mimpi buruk Einstein yang paling seram. Untuk bepergian di dalamnya tidak bisa dengan sekadar melihat kompas dan berkata, “Ke arah ini!”; bukan hanya ada empat arah, atau delapan, atau bahkan enam belas. Arah yang bisa dituju jumlahnya tidak terbatas—dan untuk menjalaninya dibutuhkan fokus dan konsentrasi, seperti kalau hendak menemukan sosok-sosok tersembunyi orang Indian di dalam gambar bentangan hutan. Lebih dari itu, diperlukan imajinasi. (p.139)

Konsep Multiverse dan Altiverse serta Medan-Antara ini ternyata tidak asing bagi saya, semacam versi saintifik dari konsep Dunia yang Terhubung milik Diana Wynne Jones, atau the Wood Between the Worlds dari C. S. Lewis dalam versi yang lebih modern. Terlepas dari itu, petualangan dan konsep tugas dalam buku ini sangat menarik. Unsur emosional yang dalam juga mewarnai beberapa bagian dari buku ini, yang menjadikannya lebih berbekas ketika membacanya. Beberapa di antaranya adalah momen perpisahan Joey dengan keluarganya, saat dia menyadari nilai sebuah keluarga; lalu saat ada yang harus menjadi korban untuk sebuah tindakan yang tampak bodoh; dan hubungan-hubungannya dengan orang (atau makhluk) lain yang memiliki nilai tersendiri. Kalau saya katakan, buku ini (termasuk buku-buku Neil Gaiman yang lain), memiliki unsur literary yang cukup kental meskipun jelas-jelas buku ini bergenre fantasi…tidak, saya rasa buku ini adalah perkawinan yang unik antara genre fantasi dan science fiction, mengingat porsi sains di buku ini cukup membuat otak saya berlompatan gembira. Saya belum pernah membaca karya Michael Reaves sebelumnya, tetapi saya menduga dia yang berperan besar dalam menumpahkan segenap unsur sains dalam buku ini.

Membaca buku ini memang memerlukan kesabaran di awal, karena terlalu banyak teka-teki tanpa jawaban yang ditumpahkan di awal. Namun semakin ke belakang, akan semakin terbiasa dan semakin menyenangkan. Petualangan yang menegangkan, penuh bahaya, perbatasan hidup dan mati, serta tugas-tugas yang sulit ini dilengkapi pula dengan humor. Atau sarkasme.

“Alat penunjuk lokasi sudah diaktifkan,” katanya. “Objek sasaran berada di lantai ketiga dari yang terakhir di kediaman ini.”
“Bisa tidak kau mempersingkat kalimatmu setiap kali kau membuat pengumuman?” Jo bertanya padanya, bulu-bulu sayapnya mengembang menandakan kejengkelannya.
“Yeah,” J/O menimpali. “Aku punya chip Merriam-Webster terbaru—yang sanggup memuat dua puluh tera kamus, thesaurus, silabus, sebut saja pokoknya, diindeks silang untuk enam puluh bidang realitas, dan beberapa kalimat yang kauucapkan masih tetap belum masuk daftar.”
Jai hanya tersenyum. “Apa gunanya memiliki kosa kata kalau tidak digunakan?”
(p.146-147)

Buku ini awalnya tidak dimaksudkan untuk menjadi sebuah novel. Sekitar tahun 1995, ide mengenai InterWorld lahir dan diwujudkan menjadi skenario serial televisi. Namun sayang pihak televisi belum menerimanya. Padahal menurut saya ini salah satu ide jenius, yah, tapi orang-orang televisi memang berbeda.

5/5 bintang untuk sains vs. sihir.

Review #41 for Lucky No.15 Reading Challenge category It’s Been There Forever

Advertisements

Mimpi Bayang Jingga – Sanie B. Kuncoro

6471541Judul : Mimpi Bayang Jingga
Penulis : Sanie B. Kuncoro
Penyunting : Imam Risdiyanto
Penerbit : Bentang Pustaka
Edisi : Cetakan pertama, April 2009
Format : Paperback, vi + 214 halaman

Mimpi Bayang Jingga adalah kumpulan tiga kisah tentang cinta, mimpi, ego, perpisahan, dan kehilangan. Kisah pertama, The Desert Dreams berkisah tentang perselingkuhan seorang suami yang merasakan kedataran dalam rumah tangganya. Namun, cinta itu egois, cinta itu ingin memiliki, dan cinta tak ingin dibagi. Jingga berkisah tentang seorang wanita yang menemukan ‘jalan pintas’ untuk mimpi-mimpinya, cinta yang memiliki segalanya, kecuali satu yang dianggap paling penting bagi seorang wanita, komitmen. Mimpi Bayang memilih gaya unik untuk kisahnya, agak supranatural, dan menunjukkan bahwa ego dan cinta sulit untuk dipersatukan. Pada akhirnya, mungkin seseorang perlu menilik kembali, cinta seperti apa yang dimilikinya, dan apakah itu sesuai dengan yang seharusnya, ataukah mesti ada jalan lain yang dipilih untuk cinta.

Ada nyeri meremang pada sudut benakku. Dengan sakit kutemukan kenyataan betapa aku telah kehilangan sebuah perasaan yang pernah kumiliki terhadapnya. Sebuah kehilangan yang kemudian memampukanku untuk ‘melihat’nya. (hal.55)

Ketiga cerita ini tidak saling berhubungan, tetapi memiliki benang merah tema yang serupa. Daya tarik dari karya penulis adalah kalimat-kalimat indah yang tersusun dalam paragraf-paragrafnya. Gaya penulisan ini lebih kentara pada The Desert Dreams karena penulis menggunakan metafora-metafora untuk menyembunyikan kejadian yang sesungguhnya, untuk memberikan efek kejutan bagi pembaca. Sedangkan pada Jingga dan Mimpi Bayang, penulis banyak menggunakan dialog yang menegaskan karakter dan pola berpikir tokoh-tokohnya.

Kisahnya sendiri sebenarnya menarik, terlepas dari kisah cintanya, saya menikmati plot dan alur ceritanya, terutama Mimpi Bayang yang diramu dengan apik dan menarik. Saya tidak bisa menebak ke mana arah kisah-kisah ini. Saya agak terganggu dengan ending Jingga yang terkesan sedikit ‘maksa’, atau mungkin hanya terburu-buru.

Selain romansa, penulis juga menyisipkan berbagai isu sosial, politik, ekonomi, dan sebagainya, yang memperkaya kisahnya hingga tak melulu soal cinta. Juga nilai persahabatan yang membuat saya berpikir ulang tentang beberapa sikap saya dan orang-orang di sekitar saya selama ini. Agak sulit untuk setuju dengan beberapa ide penulis di sini, tetapi dalam konteks kisah, memang sulit dibantah.

Tapi begitulah, mahasiswa dengan segala kemudaannya. Merasa telah melakukan hal-hal besar justru karena ketidaksadaran bahwa begitu jauh yang masih harus dipahami di dasar kehidupan nun jauh di sana. Tanpa menyadari bahwa permukaan kehidupan sama sekali bukanlah representasi yang ada di dalamnya, justru lebih merupakan kamuflase serupa telaga yang menyimpan kedalaman tak terduga. (hal.36-37)

3/5 bintang untuk 3 cara mengisahkan cinta segitiga.

Review #39 for Lucky No.15 Reading Challenge category It’s Been There Forever

Snow Country – Yasunari Kawabata

snwcntrTitle : Snow Country (Daerah Salju)
Author : Yasunari Kawabata (1935)
Translator : A.S. Laksana
Editor : Gita Romadhona
Publisher : GagasMedia
Edition : Cetakan kedua, 2010
Format : Paperback, vi +190 pages

“Apakah Bima Sakti selalu seperti ini tiap malam?”
“Bima Sakti? Indah, bukan? Tapi tidak selalu begini tiap malam. Sekarang ini luar biasa cerah.”
(p.180)

Di daerah salju itu, Shimamura pertama kali bertemu dengan Komako, yang belakangan diketahuinya adalah seorang geisha. Seperti biasa seusai melakukan aktivitas, pria itu meminta sake dan geisha, tetapi tak ada yang membangkitkan minatnya selain Komako. Berjalanlah kisah keduanya dalam musim dingin itu, Komako yang biasanya sudah sangat lelah dan mabuk akan mengoceh di depan Shimamura dan tertidur di sana hingga pagi. Keduanya menjalin sebuah hubungan yang janggal, bukan kekasih, tetapi juga tak bisa dikatakan sahabat. Keduanya saling berkisah tentang kehidupan dan berbagi kecintaan terhadap musik dan tarian.

Sementara itu, Shimamura sendiri masih menyimpan rasa penasaran pada wanita yang dilihatnya di kereta, yang ternyata tinggal serumah dengan Komako. Wanita itu bernama Yoko, yang di sana untuk merawat seorang pria-entah-siapa yang berada di ambang kematiannya. Hubungan janggal Komako dan Shimamura semakin aneh dengan masuknya Yoko dalam perbincangan keduanya, serta sikap Komako sendiri kepada wanita itu.

Saya setuju dengan sebuah review yang saya baca yang mengibaratkan Kawabata ‘melukis’ dalam buku ini, alih-alih menulis. Buku ini melukiskan hal-hal kompleks tentang sebuah tempat dan hubungan manusia. Jujur, saya tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaan saya saat membacanya, atau menyebutkan apa yang bisa saya simpulkan seusai membacanya. Saya menikmati setiap alunan kalimat dalam buku ini, bahkan dalam versi terjemahannya pun.

Seperti buku Kawabata yang pernah saya baca sebelumnya, buku ini tak memberi gambaran utuh tentang karakter-karakternya. Kita disuguhkan pada pertunjukan suatu daerah dan budayanya, meski sedikit banyak kita bisa membaca karakter orang-orang yang terlibat di sana.

Terkadang, banyak hal tidak memerlukan alasan. Seperti Shimamura yang tidak memerlukan pembenaran atas hubungannya dengan Komako meski wanita itu tak tampak memiliki kelebihan yang luar biasa. Atau Komako yang bersikap baik pada Yoko meski dia membencinya karena Shimamura mempedulikannya. Atau apakah kita perlu tahu mengapa Yoko memilih akhir yang seperti itu. Buku ini adalah potret sebuah episode kehidupan, yang tak memerlukan penjelasan di mana ujung dan mana pangkalnya. Buku ini mungkin adalah jenis buku yang bisa dikupas satu per satu lapisannya, ketika kita membacanya di saat yang tepat.

4/5 bintang untuk keindahan yang tak terjelaskan.

Sebuah karya yang dikerjakan dengan cinta yang memancar dari kesungguhan hati—bukankah ia akan selalu sanggup menggerakkan hati, kapan pun dan di mana pun? (p.169)

The Giraffe and the Pelly and Me – Roald Dahl

gpmTitle : The Giraffe and the Pelly and Me
Author : Roald Dahl (1985)
Translator : Poppy Damayanti Chusfani
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan kedua, Januari 2010
Format : Paperback, 80 pages

Di dekat rumah Billy ada sebuah rumah besar yang telah lama kosong, kata ibunya dulunya merupakan toko permen yang disebut The Grubber. Cerita tentang berbagai jenis permen membuat Billy berharap suatu saat dia bisa membelinya dan mengembalikan fungsinya sebagai toko permen yang menakjubkan. Namun sayang, tak selang lama, rumah itu telah terjual, dan pemiliknya yang baru adalah Perusahaan Pembersih Jendela Tanpa Tangga, yang terdiri atas seekor jerapah, burung pelikan, dan kera.

Kami akan sikat kaca
Hingga berkilat bagai tembaga
Dan bersinar bak permata baru!
Kami cepat dan sopan
Datang kapan pun dibutuhkan
Si Jerapah dan si Pelly dan aku!
(p.18)

Ketiganya sesungguhnya sedang dalam masa sulit, karena mereka sudah berhari-hari tak makan, apalagi mereka dari jenis yang unik, dengan makanan khusus yang tak dapat ditemukan di daerah itu. Kabar baik datang saat suruhan Duke of Hampshire datang dan menyampaikan pekerjaan untuk para pembersih kaca tersebut. Tetapi hal tak terduga terjadi di rumah besar Duke tersebut. Konsekuensinya, mereka melakukan hal yang tak dijanjikan, dan mendapatkan hal yang tak dijanjikan pula.

Satu lagi kisah ringan yang menyenangkan. Berbalut sebuah petualangan sederhana seorang anak dan ketiga teman barunya, mereka menunjukkan arti sebuah kerja keras dan dedikasi pada pekerjaan dan impian. Tugas yang dibebankan, jika dilaksanakan sepenuh hati, akan berbuah pada hal yang baik, bahkan mungkin jauh lebih indah daripada yang disangka sebelumnya.

Unsur-unsur yang menarik dari buku ini adalah pengenalan tentang hidup ketiga hewan yang disebutkan di sini, serta beberapa jenis flora yang mendukungnya. Selain itu, berbagai jenis permen dari seluruh belahan dunia, yang entah benar atau fiktif, sangat menyegarkan untuk disimak. Tak lupa sajak-sajak indah yang mewarnai di sana-sini. 4/5 bintang untuk kawanan unik yang menggapai mimpinya.

Kami dapat kaujumpai
Di halaman buku ini
Karena di sinilah kami selalu.
Takkan berakhir cerita
Jika kawan-kawanmu ada
Si Jerapah dan si Pelly dan aku.”
(p.79)

Review #35 of Children’s Literature Reading Project

Review #38 for Lucky No.15 Reading Challenge category It’s Been There Forever

Wonderstruck – Brian Selznick

Title : Wonderstuck
Author : Brian Selznick (2011)
Translator : Marcalais Fransisca
Editor : Dhewiberta
Publisher : Penerbit Bentang
Edition : Cetakan I, November 2013
Format : Paperback, 648 pages

Dan, jika meteorit sama dengan bintang jatuh, masih bisakah kau mengucapkan permintaan meskipun telah jatuh ke Bumi? (p.347)

Ben Wilson lahir dan tinggal di sebuah pedesaan di Gunflint Lake, Minnesota; yang konon terbentuk karena tumbukan sebuah meteor. Telinganya tuli sebelah, dia tidak tahu siapa ayahnya, dan ibunya baru saja meninggal. Meski masih memiliki paman, bibi, dan saudara sepupu yang tinggal tak jauh dari rumah ibunya, Ben merasa sendirian dan tidak aman. Suatu hari, saat hendak membereskan barang-barang peninggalan ibunya, dia menemukan sesuatu yang dirasanya sebagai petunjuk keberadaan ayahnya; toko buku Kincaid di New York City, dan sebuah buku berjudul Wonderstruck yang diterbitkan oleh American Museum of Natural History, New York. Berbekal informasi itu dan sebuah nama yang tertera dalam surat untuk ibunya, dia nekat pergi ke New York, berharap menemukan ayah yang tak pernah dikenalnya seumur hidup.

IMG_20151008_100307Dalam gambar, penulis juga menceritakan sebuah kisah yang terjadi lima puluh tahun sebelumnya di Hoboken, New Jersey. Seorang gadis kecil bernama Rose, yang terkurung di rumahnya dan membuat diorama segala macam bangunan, terutama dari seorang artis ternama yang menjadi obsesinya. Rose yang juga tuli-bisu ini pada akhirnya juga nekat kabur dari rumah, mencari sesosok yang dirindukannya selama ini.

Kisah yang terjadi pada tahun 1977 dan 1927 di dua tempat berbeda ini diceritakan secara paralel melalui narasi dan gambar. Pada mulanya, Ben diceritakan melalui narasi saja, sedangkan Rose melalui gambar saja. Hingga kemudian gambar dan narasi dipertemukan menjadi sebuah kisah yang indah dan mengharukan. Apakah keduanya pada akhirnya menemukan apa yang mereka cari di New York?

Ben menatap lukisan langit malam di tembok melengkung di belakang diorama. Tergambar di sana …. Beruang Besar. Dan di ujung Beruang Kecil, Ben dapat melihat Bintang Utara dengan jelas, tetapi ia tak pernah merasa setersesat ini. (p.395)

Ini kedua kalinya saya membaca karya penulis ini, dan seperti sebelumnya, penulis memasukkan misteri dan simbol yang sangat dalam melalui kisahnya. Mulai dari meteor yang membentuk Gunflint Lake, serigala yang konon tinggal di sana, museum, sampai diorama di dalamnya berjalin dan berpadu membentuk jawaban dari ‘ketersesatan’ seorang anak. Dalam buku ini, ibu Ben yang dulunya seorang pustakawan memiliki sebuah kutipan favorit yang menjadi penuntun bagi anaknya: We are all in the gutter but some of us are looking at the stars (Oscar Wilde). Selain itu, inspirasi lain berasal dari sebuah lagu yang sangat populer di era 70-an, Space Oddity oleh David Bowie.

“This is Major Tom to ground control;
I’m stepping thro’ the door,
And I’m floating in a most peculiar way
And the stars look very different today
For here am I sitting in a tin can far above world ….”
(p.72)

Kedua kutipan tersebut merupakan cerminan dari keseluruhan buku ini. Tentang Ben dan Rose yang memberanikan diri keluar dari zona amannya guna mencari sesuatu yang luar biasa, yang pada akhirnya akan mengubah hidup mereka. Sebagaimana pencarian pada umumnya, mereka dipertemukan oleh orang-orang yang secara tak terduga bisa menolong mereka, halangan baik dari luar maupun dari dalam diri mereka yang berwujud keputusasaan juga tak dipungkiri akan dihadapi, yang menentukan adalah seberapa keras niat mereka, usaha mereka, dan keberuntungan mungkin akan datang. Pencarian itu juga mungkin tak menuntun mereka pada apa yang mereka cari pada mulanya, tetapi pertanyaan-pertanyaan mereka akan terjawab walau dengan cara yang berbeda.

IMG_20151008_100629Selznick, saya akui, adalah ilustrator yang sangat brilian. Seluruh gambarnya berhasil berbicara dan bercerita dengan apik. Dia bisa membuat satu gambar yang bercerita banyak, dia juga lihai dalam menyusun gambar-gambar hingga pembaca merasa seperti sedang menonton sebuah film. Sayang, kekuatannya itu tidak saya rasakan ketika membaca narasinya. 4.5/5 bintang untuk Wonderstruck yang tersembunyi.

Review #33 of Children’s Literature Reading Project

Review #35 for Lucky No.15 Reading Challenge category First Initial

PS: Saya langsung jatuh cinta begitu mendengarkan lagu Space Oddity, old but gold