Tag Archives: (author) Carlos María Domínguez

Mini Reviews: Non-English

Ada tiga buku terjemahan yang aslinya bukan berbahasa Inggris, dua di antaranya diterjemahkan dari bahasa aslinya, sedangkan yang satu melalui bahasa Inggris sebelum diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

The Ninth / A Kilendecik / Anak Kesembilan by Ferenc Barnás (2006)

Translated from English to Indonesian by Saphira Zoelfikar, Gramedia Pustaka Utama, cetakan pertama, Februari 2010, paperback, 296 pages

Set in a sleepy village north of Budapest in 1968, this touching, unsettling novel paints a richly wrought portrait of mid-twentieth-century Hungary. The narrator is the ninth child of a family distinguished by its size, poverty, faith, and abundance of physical and psychological disabilities. His confusion is exacerbated by the strict, secretive Catholic household his parents keep in the face of a Communist system. These dual oppressions propel him toward an inevitable realization of his guilt and desire that speaks to his struggle with a fateful, seamless beauty. (source)

Sebagai anak kesembilan dari sebelas bersaudara, posisi sang narator (yang namanya tidak disebutkan, hanya diketahui berinisial B [p.114]) cukup tidak signifikan di dalam keluarga. Dalam posisi itu, dia menjadi pengamat yang tak memiliki peran penting sebagaimana anak terbesar dalam keluarga yang ikut mencari nafkah, maupun anak yang lebih kecil yang lebih tergantung pada orang tua. Selain posisinya, B juga memiliki kepekaan yang berbeda dari saudara-saudarinya, baik caranya memandang masyarakat, juga kepekaan dalam arti yang sebenarnya mengenai kesulitannya untuk tidur dan mengabaikan bunyi-bunyian.

Aku tahu istilah akal sehat darinya; artinya ialah orang itu tidak manja. (p.187)

Menarik melihat dunia yang kejam melalui mata seorang anak. Dengan kepolosan yang terhapus sedikit demi sedikit, yang menjadikannya melakukan sesuatu di luar nilai yang ditanamkan keluarganya demi keluar dari ketidaknyamanan kehidupan. Di sini juga ada gambaran tentang politik yang tampak melalui mata seorang anak, jadi mungkin memiliki sedikit pengetahuan sejarah akan bermanfaat.

 

La casa de papel / Rumah Kertas by Carlos María Domínguez (2002)

Translated to Indonesian by Ronny Agustinus, Marjin Kiri, cetakan kedua, Oktober 2016, paperback, vi +76 pages

Buku mengubah takdir hidup orang-orang. (p.1)

Bluma Lennon, distinguished professor of Latin American literature at Cambridge, is hit by a car while crossing the street, immersed in a volume of Emily Dickinson’s poems. Several months after her untimely demise, a package arrives for her from Argentina-a copy of a Conrad novel, encrusted in cement and inscribed with a mysterious dedication. Bluma’s successor in the department (and a former lover) travels to Buenos Aires to track down the sender, one Carlos Brauer, who turns out to have disappeared. (source)

Jauh lebih sulit membuang buku ketimbang memperolehnya. (p.9)

Kegilaan dimulai saat kita diajak menapak tilas jejak dan pemikiran Brauer. Mulai dari kebiasaannya yang aneh dengan buku-buku, sampai kegilaan yang membuatnya melakukan sesuatu yang tidak masuk akal, yang membuat ‘rumah kertas’ menjadi sesuatu yang mengerikan.

Inilah proses kita merampungkan bibliografi: kita mulai dengan satu rujukan kepada buku yang tidak kita punya, lalu begitu kita memiliki buku tersebut, ada rujukan yang menuntun kita ke buku lainnya. (p.27)

“…. Brauer bersikeras bahwa buku-buku harus dikelompokkan berdasarkan kriteria yang berbeda dengan kriteria tematik yang vulgar itu.”
“…. Maksudku begini, Pedro Páramo dan Rayuela sama-sama karya sastrawan Amerika Latin, tapi yang pertama menuntun kita ke William Faulkner, dan yang satunya membawa kita ke Moebius. Atau dengan kata lain: Dostoievsky pada akhirnya lebih dekat dengan Roberto Arlt ketimbang dengan Tolstoy. Sebagai penegasan, Hegel, Victor Hugo, dan Samiento  layak dipasang berderetan ketimbang Paco Espínola, Benedetti, dan Felisberto Hernández.”
(p.38-39)

Buku ini memang bagaikan cermin bagi para pecinta buku. Segala hal yang dilakukan Brauer mungkin dekat dengan sebagian dari kebiasaan sebagian dari kita. Mulai dari yang biasa saja sampai yang ekstrem. Hingga di satu titik ada yang salah cara memaknai buku-buku, lalu apa yang bisa dilakukan?

“Orang-orang ini ada dua golongan, izinkan saya menjelaskan: pertama, kolektor, yang bertekad mengumpulkan edisi-edisi langka, …, sekalipun mereka tak pernah membuka-bukanya selain untuk melihat-lihat halamannya, seperti orang-orang mengagumi sebuah objek yang indah, barang langka. Lainnya, ada para kutu buku, pelahap bacaan yang rakus, ….” (p.17)

Sastra Amerika Latin ini, entah cerpen atau novella tepatnya, membawa kita ke dunia yang sangat dekat, tetapi begitu jauh. Bagaimana seseorang yang menggilai buku bisa melakukan hal yang gila dengan buku-bukunya.

Orang rupanya juga bisa mengubah takdir buku-buku. (p.57)

 

Kaas / Keju by Willem Elsschot (1969)

Translated to Indonesian by Jugiarie Soegiarto, Gramedia Pustaka Utama, cetakan pertama, Mei 2010, paperback, 176 pages

Dari karyawan hendak menjadi pengusaha, mengambil risiko terlalu besar karena iming-iming keuntungan berlipat, menjalankan bisnis tanpa pengetahuan yang memadai. Walau ditulis hampir setengah abad yang lalu, buku ini masih sangat dekat dengan keseharian kita, di mana orang berlomba-lomba menjadi pengusaha, lalu mengambil jalan yang sangat tidak aman. Bagi saya, mengambil risiko itu baik, tapi bukan tanpa perhitungan, karena orang bisa maju tidak hanya dengan modal nekat, tetapi juga harus mau belajar.

Hal inilah yang menjadi akar permasalahan Frans Laarmans. Gengsi menjadikannya nekat, mengambil risiko terlalu banyak untuk menjual keju yang sudah terlanjur dibelinya. Mulai dari mengambil barang terlalu banyak, menggunakan pekerja tanpa perhitungan, dan dikendalikan oleh gengsi menjadi seorang ‘pengusaha besar’. Meski singkat, buku ini menangkap karakter Laarmans dengan jelas, dengan segala kekurangan dan dinamikanya. Sehingga saya bisa merasakan jengkel akan keputusannya sampai empati dengan pilihannya.

Dalam seni tak ada percobaan. Janganlah coba memaki bila kau tak marah, jangan coba menangis bila jiwamu kering, jangan bersorak selama kau tak dipenuhi keriangan. (p.172)

Advertisements