Tag Archives: (author) Tetsuko Kuroyanagi

Scene on Three (128)

Ada beberapa paragraf/kalimat acak dari buku Totto-chan’s Children karya Tetsuko Kuroyanagi yang akan saya bagikan di sini. Sebetulnya sudah lama juga buku ini kubaca, dan karena ada beberapa kalimat yang menarik, saya berniat untuk membuat resensinya. Namun, rupanya hal itu tidak terlaksana juga. Jadi, inilah salah satu fungsi adanya Scene on Three.

Saat para wanita mulai mengarahkan pandangan kepada masyarakat, saat itulah segala sesuatu akan mulai membaik. (p.157)

Sekali lagi, aku ingin sekali berterima kasih kepada anak-anak yang sudah menyambutku dengan hangat dan mengajariku untuk hidup dengan ketulusan hati dan tanpa mengeluh. (p.171)

Sembilan puluh persen pusat pembangkit listrik dihancurkan dengan cara sama. Aku tahu betapa banyaknya alasan untuk melakukan hal itu, tapi aku tak bisa berhenti memikirkan betapa banyaknya nyawa anak-anak dan air mata para ibu yang bisa diselamatkan jika hal semacam ini tidak terjadi. Aku akan terus mengatakannya: perang benar-benar kejam. (p.184)

Kita tidak dilahirkan untuk saling membenci, kita dilahirkan untuk saling mengasihi. (p.299)

Buku ini merangkum perjalanan penulis sebagai Duta Kemanusiaan UNICEF sekitar tahun 1984-1996. Dia memotret anak-anak korban perang, yang terjebak di daerah konflik, serta kemiskinan yang mengikutinya. Salah satu hal yang saya suka adalah, penulis menyoroti sudut pandang pada individu, bukan sekadar populasi secara statistik. Bahwa setiap anak memiliki kisahnya, dan setiap anak adalah istimewa.

Scene on Three (122) & Refleksi Blogoversary ke-6

Sejak berabad-abad yang lalu, di seluruh dunia, Watt dan Newton pasti bukan satu-satunya orang yang pernah melihat uap keluar dari ketel berisi air mendidih dan mengamati jatuhnya apel dari pohon.
Punya mata, tapi tidak melihat keindahan; punya telinga, tapi tidak mendengar musik; punya pikiran, tapi tidak memahami kebenaran; punya hati tapi hati itu tak pernah tergerak dan karena itu tidak pernah terbakar. Itulah hal-hal yang harus ditakuti, kata Kepala Sekolah.
(p.106)

Ini adalah petikan dari buku Totto-chan (Gadis Cilik di Jendela) karya Tetsuko Kuroyanagi (1981) yang sangat mencerminkan keseluruhan isi bukunya; perenungan. Kisah Totto-chan kecil yang bersekolah di sekolah yang tak biasa, dengan Kepala Sekolah yang memilih metode yang tidak lazim di Jepang, dan bagaimana hal-hal tersebut membentuk kepribadian anak-anak. Kutipan di atas mengingatkan kita untuk membaca hal di sekeliling kita dengan kreativitas, tak terkungkung dengan kebiasaan maupun tradisi.

Begitu halnya dengan blog ini. Hari ini menandai enam tahun sejak post pertama diterbitkan di sini, dan mungkin, penurunan frekuensi blog akhir-akhir ini bukan hanya suatu fase yang nanti akan berlalu dengan sendirinya. Saya rasa ada hal-hal yang harus berubah. Selama enam tahun ini, saya bertahan dengan suatu metode mereview yang memiliki pakem sendiri, yang saya rasa merupakan kebutuhan dari sebuah resensi. Namun, pada beberapa kasus, cara ini justru menghambat saya dalam mereview. Ada buku-buku yang ingin saya review, tapi tak membuat saya bisa memikirkan hal-hal untuk melengkapi pakem review tersebut. Dari situ, tahun lalu ada Mini Reviews yang agak membantu saya dalam mereview.

Setelah saya pikirkan, mungkin saya akan membuat lebih banyak Mini Reviews, maupun jenis review lain dengan pakem yang berbeda dari kebiasaan saya, meski itu berarti mengorbankan ‘kelengkapan’ sebuah review. Dengan begitu, saya harap dengan waktu yang semakin terbatas, lebih banyak review bisa hadir di blog ini, meski hanya satu dua kalimat komentar, ataupun mungkin hanya dalam Scene on Three seperti ini. Dengan begini, mungkin harapan saya di 2018 tidak akan terlalu muluk.