Tag Archives: Baca Bareng BBI 2015

Pride and Prejudice – Jane Austen

PnPTitle : Pride and Prejudice
Author : Jane Austen (1797)
Publisher : Wordsworth Classics
Format : Paperback, 329 pages

Pasangan Bennet memiliki lima anak perempuan yang sedang beranjak dewasa. Oleh karena tidak memiliki anak laki-laki, seluruh kekayaan Mr.Bennet akan jatuh pada seorang sepupu jauh jika dia meninggal dunia. Hal ini membuat Mrs.Bennet begitu berambisi menikahkan putri-putrinya, dan kalau bisa, dengan pria yang mapan.

Kelima Bennet bersaudari memiliki karakter yang berbeda-beda. Jane si sulung yang cantik dan merupakan cermin wanita ideal masa itu, Elizabeth/Lizzy yang cerdas dan merupakan favorit ayahnya, Mary si kutu buku, serta Catherine/Kitty dan Lidya yang bebas. Kisah dibuka dengan kedatangan seorang pria kaya di Netherfield, tak jauh dari kediaman Bennet di Longbourn. Pria itu, Mr.Bingley, kabarnya sedang mencari istri, dan secara otomatis, Mrs.Bennet mengharapkan salah seorang putrinya yang terpilih. Tidak mengejutkan jika kemudian Jane menarik perhatian pria itu, begitupun sebaliknya. Di samping itu, Bingley memiliki seorang teman yang juga kaya, tapi kaku dalam pergaulan hingga tampak sombong, Mr.Darcy. Sejak awal terlihat ada gesekan antara Darcy dengan Lizzy, tetapi tampaknya rasa sebal Lizzy pada Darcy tidak berlangsung dua arah.

Hubungan ini berjalan cukup rumit, Lizzy mau tidak mau harus sering berhubungan dengan Darcy karena kawannya diharapkan menjadi calon iparnya, ditambah saudari-saudari Bingley yang nantinya akan mengganggu hubungan saudara mereka dengan Jane. Pada suatu kesempatan, dia juga akan berkenalan dengan Wickham yang akan memberinya sudut pandang yang berbeda tentang Darcy. Singkatnya, Lizzy yang sangat ingin tidak berhubungan dengan Darcy yang memiliki citra negatif di matanya, selalu berkesempatan untuk mengalami sebaliknya, dan disadari atau tidak, dia justru menjadi penasaran tentang kisah hidup orang yang dibencinya itu.

‘Perhaps,’ said Darcy, ‘I should have judged better, had I sought an introduction, but I am ill-qualified to recommend myself to strangers.’
‘Shall we ask your cousin the reason of this?’ said Elizabeth, still addressing Colonel Fitzwilliam. ‘Shall we ask him why a man of sense and education, and who has lived in the world, is ill qualified to recommend himself to strangers?’
‘I can answer your question,’ said Fitzwilliam, ‘without applying to him. It is because he will not give himself the trouble.’
‘I certainly have not the talent which some people possess,’ said Darcy, ‘of conversing easily with those I have never seen before. I cannot catch their tone of conversation, or appear interested in their concerns, as I often see done.’
‘My fingers,’ said Elizabeth, ‘do not move over this instrument in the masterly manner which I see so many women’s do. They have not the same force or rapidity, and do not produce the same expression. But then I have always supposed it to be my own fault—because I will not take the trouble of practising. It is not that I do not believe my fingers as capable as any other woman’s of superior execution.’
Darcy smiled and said, ‘You are perfectly right. You have employed your time much better. No one admitted to the privilege of hearing you, can think anything wanting. We neither of us perform to strangers.’
(p.150-151)

Dinamika sosial pada masa itu digambarkan dalam obsesi Mrs.Bennet. Bagaimana dia dan orang-orang dalam lingkarannya memandang pria dan wanita, bagaimana para wanita berlomba-lomba menarik perhatian para pria, dan bagaimana para pria bersikap dalam posisinya yang ditentukan oleh kekayaan. Tidak terlalu banyak konflik yang berarti selain hubungan-hubungan itu dan pandangan masyarakat terhadapnya. Karakter para putri Bennet yang disorot hanya Jane dan Lizzy, serta Lydia yang nantinya akan mengguncang keluarga itu. Jane yang serba sempurna dan Lizzy yang mandiri saling mengisi dan melengkapi, baik dalam kisah maupun dalam penggambaran satu sama yang lainnya. Kemunculan dan hubungan keduanya memperjelas perbedaan dan pandangan hidup masing-masing.

‘Oh! you are a great deal too apt you know, to like people in general. You never see a fault in anybody. All the world are good and agreeable in your eyes. I never heard you speak ill of a human being in my life.’ (p.15)

Buku ini banyak memotret kejadian dan dialog sehingga, bagi saya, agak membosankan. Terkecuali beberapa momen kecil yang bisa membuat saya tertawa atau kagum, keseluruhan buku ini memiliki konflik yang itu-itu saja dan penyelesaian yang bisa ditebak. Perkembangan karakter tidak terlalu tampak, hanya perubahan drastis dari sudut pandang satu sama lain dikarenakan kesalahpahaman atau ketidaktahuan. Karya ini dipuji-puji karena merupakan potret akurat dari kondisi sosial masa itu, serta karakter Lizzy yang mendobrak stigma tentang perempuan. 2.5/5 bintang untuk perkenalan saya dengan Austen.

‘I wish I could say anything to comfort you,’ replied Elizabeth; ‘but it is wholly out of my power. You must feel it; and the usual satisfaction of preaching patience to a sufferer is denied me, because you have always so much.’ (p.276)

September : Sastra Eropa

September : Sastra Eropa

Review #29 of Classics Club Project

Review #34 for Lucky No.15 Reading Challenge category Bargain All The Way

The Boy in the Striped Pyjamas – John Boyne

The boy in the striped pyjamasTitle : The Boy in the Striped Pyjamas (Anak Lelaki Berpiama Garis-Garis)
Author : John Boyne (2006)
Translator : Rosemary Kesauli
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan pertama, Juli 2007
Format : Paperback, 240 pages

Suatu hari di usianya yang baru sembilan tahun, Bruno terpaksa harus berpisah dari kenyamanan rumah dan sahabat-sahabatnya di Berlin, untuk pindah ke suatu tempat terpencil yang disebutnya Out-With. Kepindahan itu dikarenakan promosi yang didapatkan ayahnya karena berhasil menyenangkan The Fury, pemimpin bangsa Jerman saat itu. Ibu dan kakak perempuannya, Gretel, sebenarnya juga tidak menyukai kepindahan mereka, tetapi masing-masing mereka harus menyesuaikan diri demi karir sang ayah, yang sekarang dipanggil Komandan.

Rumah yang mereka tempati di Out-With berada di lingkungan yang sangat asing dan sepi. Dari jendela kamarnya, Bruno dapat melihat sebuah dataran berpasir dengan kamp-kamp, yang dipenuhi orang dan anak laki-laki yang berpakaian seragam, piama garis-garis. Bruno tak mengerti apa yang terjadi pada sekumpulan orang tersebut, kecuali bahwa sesekali mereka berbaris dan para serdadu yang sesekali berada di antara mereka. Hingga suatu hari, naluri penjelajah Bruno tergelitik untuk melanggar aturan orang tuanya agar tidak meninggalkan rumah. Dia berjalan menuju pagar kawat yang tinggi dan lebar yang membatasi wilayahnya dengan orang-orang berpiama garis-garis. Bruno bertemu Shmuel, anak yang tanggal lahirnya sama persis dengan dirinya (15 April 1934), tetapi bernasib sangat berbeda. Pertemuan itulah yang akan mengubah hidupnya.

Jauh sebelum membaca buku ini, saya sudah menonton film adaptasinya, sehingga tak banyak kejutan yang saya dapatkan. Meski pada edisi yang saya baca penerbit memutuskan untuk tidak memberikan sinopsis kisah ini, tidak banyak berpengaruh pada saya. Penerbit Indonesia ini juga tampaknya hendak ‘bermain aman’ dengan menegaskan bahwa buku ini bukan anak-anak, padahal edisi aslinya jelas memang ditulis untuk anak-anak. Gaya bahasanya pun cukup menunjukkan bahwa buku ini ditujukan untuk pembaca muda.

Sebenarnya, tidak banyak hal sensitif yang disebutkan secara tersurat dalam buku ini. Fakta sejarah yang melatarbelakangi kisah ini tidak disebutkan secara detail, kata-kata kotor yang ditujukan pada bangsa yang dianggap rendah pun disensor. Hal yang agak mengganggu saya justru karakter Bruno yang terlalu naif, untuk anak sembilan tahun sekalipun. Bukan hanya naif, Bruno juga sangat acuh tak acuh terhadap sekitarnya. Tampaknya, dia adalah produk dari orang tua yang sangat protektif, yang tidak memberikannya akses informasi yang penting diketahuinya, ditambah sifat abainya yang entah tumbuh dari mana. Bahkan dalam interaksinya dengan Shmuel, dia tidak menunjukkan empati sebagaimana mestinya, hanya berpusat pada pikiran dan perasaannya sendiri. Karakter yang menampakkan perubahan justru adalah Gretel, meski tidak dibahas secara mendetail.

Kesalahan pelafalan The Fury dan Out-With oleh Bruno juga agak janggal, karena Bruno berbicara dalam bahasa Jerman, bukan Inggris. Dalam satu adegan juga disebutkan bahwa dia membaca kata Out-With tersebut. Bagian saat Bruno menyebutkan sebuah buku dari Inggris hadiah dari ayahnya juga tidak sesuai dengan latar kebanggaan ayah Bruno terhadap bangsa Jerman, yang menganggap diri paling unggul, ditambah fakta bahwa Letnan Kotler—bawahan ayahnya—justru mencibir buku tersebut.

Di luar kejanggalan-kejanggalan yang sudah saya sebutkan, saya cukup menikmati membaca buku ini. Oleh karena sudah mengetahui latar sejarah yang berhubungan dengan buku ini, yaitu sekitar Perang Dunia II, saya tidak kesulitan membayangkan apa yang terjadi dari sudut pandang Bruno yang naif—karena buku ini menggunakan sudut pandang orang ketiga terbatas. Saya juga berhasil menangkap emosi yang hendak disampaikan oleh penulis melalui kisahnya, meski karakter utamanya tidak menunjukkan pemahaman yang sama dengan pembaca.

Secara keseluruhan, aura kepolosan dalam buku inilah hal yang paling saya suka. Layaknya buku anak-anak lain, isu-isu sosial yang berat dilebur dalam sebuah kisah mengenai keluarga dan persahabatan yang wajar kita temui sehari-hari. Sebuah keluarga dengan dinamikanya, perpisahan dengan lingkungan yang nyaman, persahabatan yang murni, dan ambisi yang justru menghancurkan kebahagiaan, adalah sebagian hal yang tersirat dalam kisah Bruno. Sebuah nilai plus dalam buku ini adalah penekanan mengenai persahabatan murni tersebut. Kenaifan dan kepolosan Bruno dan Shmuel membuat mereka memandang masing-masing persamaan mereka, alih-alih membesar-besarkan perbedaan seperti yang dilakukan oleh para orang dewasa. Mungkin inilah hal utama yang membuat saya menilai tinggi buku ini. 3.5/5 bintang untuk penjelajahan tak terduga.

Agustus : Perang Dunia

Agustus : Perang Dunia

Review #28 of Children’s Literature Reading Project

Review #29 for Lucky No.15 Reading Challenge category It’s Been There Forever

Lotta – Astrid Lindgren

lottaTitle : Lotta: The Mischievous Martens & Lotta Leaves Home (Barnen På Bråkmakargatan & Lotta På Bråkmakargatan)
Author : Astrid Lindgren (1958 & 1961)
Illustrator : Ilon Wikland
Translator : Listiana Srisanti
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan Ketiga, September 2007
Format : Paperback, 184 halaman

Lotta adalah bungsu dari keluarga Nyman, usianya 3 tahun. Bersama kakak-kakaknya, Jonas dan Maria, anak-anak itu memiliki ulah macam-macam untuk meramaikan rumah mereka. Namun, Lotta yang menjadi pusat cerita punya ulah uniknya sendiri.

Di balik kepolosan tindakan dan perkataannya, Lotta kecil punya banyak akal untuk menjawab pertanyaan maupun larangan orang-orang yang lebih tua. Meski bisa dikatakan nakal, Lotta sebenarnya adalah bibit anak-anak cerdas jika bakatnya dikembangkan dengan baik. Buku ini menunjukkan betapa pemikiran anak-anak tak bisa kita anggap sepele, bahwa anak juga memiliki cara berpikirnya sendiri yang berbeda dari orang dewasa, bukan inferior, tetapi berbeda.

Terjemahan Indonesia Lotta sebenarnya merupakan gabungan cerita dari buku-buku The Children on Troublemaker Street dan Lotta on Troublemaker Street/Lotta Leaves Home. Pada bagian pertama, terjemahan ini diberi judul Keluarga Lotta yang Bahagia. Di sini, penulis bercerita dari sudut pandang Maria sebagai orang pertama, dan mengisahkan tentang ulah ketiga saudara ini, mulai dari Lotta yang selalu mendapatkan peran tak menyenangkan dalam permainan mereka, Jonas yang iseng hingga tercebur ke danau, hingga Lotta yang membuat dapur mereka kebanjiran.

Bamsie adalah mainan babi-babian dari kain merah muda yang selalu dibawa-bawa Lotta ke mana saja. Lotta mengira Bamsie itu beruang, jadi dia memanggilnya Bamsie Beruang.
“Dia babi. Dari dulu juga dia itu babi!” kata Jonas berkali-kali.
Biasanya Lotta lalu menangis dan berkata bahwa Bamsie adalah beruang.
“Beruang warnanya tidak merah muda,” Jonas menggoda. “Lagi pula, Lotta, dia itu beruang kutub atau beruang biasa?”
“Dia beruang babi,” kata Lotta.
(p.47)

Pada bagian kedua yang diberi judul Lotta Pindah Rumah, cerita menggunakan sudut pandang orang ketiga, karena cerita berpusat pada Lotta saja. Suatu pagi Lotta terbangun karena mimpi buruk, tetapi dia menganggap mimpinya itu nyata sehingga hari itu semuanya serba salah. Lotta pun memutuskan untuk pindah dan menyewa loteng di rumah Bu Berg, tetangganya.

Saya suka dengan cara Bu Berg memperlakukan Lotta, dia tidak menganggapnya sebagai anak kecil, tetapi sebagai apa Lotta memposisikan diri. Dengan begitu, Lotta kecil merasa dihargai dan bisa belajar tentang arti dari tanggung jawab. Akhir dari kisah ini juga adalah penutup yang cocok untuk buku ini karena menekankan pentingnya nilai sebuah keuarga.

“Aku masuk ke rumah kecilku—
Hari sudah malam
Dan gelap
Dan aku seorang diri
Kunyalakan lampu kecilku.
Kucingku menyambut, ‘Selamat datang.’”

“Tapi aku tak punya kucing,” kata Lotta sedih.

(p.156)

Buku ini dilengkapi dengan ilustrasi cantik untuk memperkaya cerita dan mewarnai imajinasi. Mulai dari gambar-gambar kecil yang menunjukkan suasana, hingga ilustrasi dua halaman penuh yang menunjukkan lingkungan keluarga Nyman. Buku yang merupakan potret kebahagiaan anak-anak, dan pengingat bagi orang dewasa tentang masa kanak-kanak yang perlu mendapatkan perhatian dan perlakuan yang sesuai. 4/5 bintang untuk ulah Lotta yang lucu dan menggemaskan.

Juli : Kenakalan Anak-Anak

Juli : Kenakalan Anak-Anak

Review #27 of Children’s Literature Reading Project

Review #28 for Lucky No.15 Reading Challenge category It’s Been There Forever

Jejak Penyintas & Rumah

jejak penyintasJudul 1 : Jejak Penyintas (Sepuluh Kisah Rumah Tangga Buruh Migran Perempuan dari Sukabumi, Malang, Lombok Tengah, dan Bone)
Edisi : Cetakan Pertama, Juni 2007
Tebal : xxv + 84 halaman

rumahJudul 2 : Rumah: Dambaan Buruh Migran Perempuan (Sepuluh Cerita dari dan tentang Rumah Buruh Migran Perempuan Asal Sukabumi, Malang, Lombok Tengah, dan Bone)
Edisi : Cetakan Pertama, Mei 2008
Tebal : xxviii + 105 halaman

Penyunting : Tati Krisnawaty, SH Ningsih, JJ Rizal
Penerbit : The World Bank Office Jakarta

Gelombang buruh migran seolah tak ada habisnya. Selama berpuluh-puluh tahun, menjadi TKI/TKW adalah pilihan hidup yang (dirasa) menjanjikan. Pemberitaan mengenai kesulitan pada buruh migran tersebut pun tak menyurutkan orang untuk berbondong-bondong memilih menjadi buruh atau PRT di luar negeri. Hal ini tentu bukan tanpa alasan. Memang benar bahwa menjadi buruh migran menjanjikan penghasilan yang jauh lebih besar. Jika kita, sebagai ‘orang luar’, memandang kasus gagal dari para TKI, maka orang-orang pedesaan (terutama yang disorot dalam buku ini: Sukabumi, Malang, Lombok Tengah, dan Bone) yang hidup dalam kondisi pas-pasan, bahkan kekurangan, lebih memilih untuk memandang kasus-kasus yang berhasil.

Kedua buku ini terlahir dari studi kasus mengenai para buruh migran perempuan (BMP). Dari sekian ratus wawancara dan penelitian, dipilihlah masing-masing sepuluh kasus untuk setiap buku, yang masing-masing mewakili isu perempuan penyintas (survivor) dan usaha membangun rumah tinggal–yang dianggap sebagai simbol kesejahteraan, keamanan, tempat bernaung, dan tempat pulang.

Di tengah masyarakat yang masih menganut budaya patriarki, menjadi BMP tidaklah mudah. Di satu sisi, mereka ingin turut andil dalam meningkatkan kesejahteraan rumah tangga, di sisi lain, ada budaya dan adat yang membuat usaha mereka jauh lebih sulit. Adanya diskriminasi, tindak kekerasan—baik fisik maupun mental, sampai pada pencerabutan hak-hak perempuan, tak pelak terjadi pada mereka, meski nyata-nyata telah berusaha menaikkan taraf hidup keluarga, dengan segenap pengorbanannya.

Buku ini memotret kisah-kisah BMP, baik yang berhasil ataupun yang gagal, yang dihina atau dipuji, yang dihargai maupun yang disia-siakan dan sekadar dimanfaatkan. Ada BMP yang hidupnya menjadi bahagia dalam rumah yang mapan, ada juga yang diceraikan karena alasan adat, bahkan ada yang disingkirkan setelah suami/keluarga mendapatkan bantuannya. Namun, di sisi lain, bukan tidak mungkin BMP yang berubah dan meninggalkan keluarganya untuk pilihan hidup yang lain. Dalam hal ini, kesetiaan suami/keluarga di kampung halaman yang disoroti.

Kisah-kisah dalam buku ini merupakan kisah nyata yang dibalut dalam nama-nama samaran, sehingga kisahnya pun dibangun dengan konflik yang wajar terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Tak semua kisah terbalut emosi, beberapa ada kisah yang ‘biasa’ saja, tetapi—yang paling penting adalah—berhasil menyampaikan maksudnya. Buku ini dimaksudkan sebagai salah satu sarana menyebarluaskan isu-isu sosial mengenai BMP yang jarang disoroti, atau jarang mendapatkan perhatian dari pihak yang berwenang. Bahkan mungkin ada pihak-pihak yang sengaja menutup mata dan hanya mengambil keuntungan secara sepihak. Hal-hal ini menyebabkan minimnya regulasi yang melindungi para BMP, regulasi yang bukan hanya menjadikan mereka sebagai komoditas.

Kelemahan dari buku ini adalah tata bahasa dan penulisan yang tidak sempurna. Masih banyak saya temukan hal-hal yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sangat disayangkan, mengingat buku ini adalah sebuah karya yang semestinya bisa dikemas dengan lebih baik sehingga bisa menjangkau lebih banyak pembaca.

Pembahasan yang mengiringi kisah-kisah dalam buku ini—pada kata pengantar, prolog, dan epilog—sangat lengkap dan komprehensif. Mulai dari tema, sinopsis, latar belakang, moral, dan lain sebagainya. Di satu sisi baik untuk tujuan yang dimaksudkan dari penulisan buku ini, tetapi di sisi lain, detail yang terlalu berlebihan membuat pembaca merasa cukup, bahkan sebelum membaca kisahnya sendiri.

Secara keseluruhan, buku ini cukup mencerahkan, memberi sudut pandang baru, dan mengasah empati kita pada orang-orang yang mengambil pilihan tak populer dalam hidupnya. Semoga pihak yang berwenang berkesempatan untuk mengetahui kisah-kisah mereka dan membuat regulasi yang berimbang. 3/5 bintang untuk perempuan-perempuan perkasa dan perjuangannya.

Juni : Budaya & Setting Indonesia

Juni : Budaya & Setting Indonesia

Night – Elie Wiesel

nightTitle : Night (La Nuit)
Author : Elie Wiesel (1958)
Translator : Stella Rodway
Publisher : Bantam Books
Edition : 88th printing, 1982
Format : Paperback, xi + 111 pages

Night adalah sebuah memoar Eliezer saat dirinya baru hendak beranjak remaja dan diseret ke kamp konsentrasi. Lahir dan besar di Sighet, Transylvania, Elie adalah anak yahudi yang memiliki pemahaman yang unik mengenai kitab sucinya, serta tingkat keyakinan yang lebih daripada anak-anak seusianya, hingga menimbulkan kehausan untuk belajar lebih dan lebih lagi. Namun, segalanya berubah saat Gestapo memasuki kotanya dan mengungsikan para penghuninya entah ke mana.

Keluar dari Sighet adalah awal penderitaan. Mereka dipaksa meninggalkan rumah dan harta mereka, makan seadanya, kehausan, kepanasan, berjalan kaki jauh, berdiri berdesak-desakan dalam sebuah gerbong, dan dibawa entah ke mana. Setibanya di Birkenau, mereka dihadapkan pada bayangan kematian, bayangan akan dijadikan bahan bakar, dibakar hidup-hidup. Mereka yang lolos seleksi sebagian dibawa ke kamp konsentrasi Auschwitz, tempat mereka dipaksa bekerja demi sekadar menunjukkan bahwa hidup mereka masih bermanfaat. Di sinilah Elie dan ayahnya dibawa, terpisah dari ibu dan saudarinya.

Hari-hari penderitaan dan ketakutan dimulai, dan yang menjadi fokus Elie pada saat itu hanyalah bagaimana caranya bertahan hidup tanpa harus terpisah dari ayahnya. Makian, pukulan, siksaan, kelaparan, kurang tidur, adalah hal yang lumrah mereka hadapi. Untuk bertahan hidup, mereka harus mematikan segala rasa, demi mempertahankan kekuatan untuk sekadar tetap bernapas dan tetap bekerja, sebab berhenti bekerja berarti mati.

Bread, soup—these were my whole life. I was a body. Perhaps less than that even: a starved stomach. The stomach alone was aware of the passage of time. (p.50)

Seberapa lama manusia dapat bertahan dengan kondisi semacam itu? Belum lagi tambahan siksaan bekunya musim dingin, kelelahan fisik dan mental, membuat satu per satu dari mereka tumbang dengan sendirinya, atau ditumbangkan karena sudah terlalu lemah. Buku ini menggambarkan betapa buruknya seorang manusia dapat bertindak terhadap manusia lain, dengan berbagai macam alasan. Apakah bangsa yang berbudaya akan memperlakukan manusia lain seperti binatang, meski mereka berbeda? Apakah seorang manusia yang memiliki hati nurani, tega menyiksa manusia lain secara perlahan-lahan dan melihatnya mati perlahan-lahan?

All round me death was moving in, silently, without violence. It would seize upon some sleeping being, enter into him, and consume him bit by bit. (p.85)

Buku ini dituliskan dengan emosi yang sangat terasa. Masih terlihat bagaimana kemarahan, kesedihan, ketakutan, kepasrahan, keputusasaan, mewarnai paragraf demi paragraf pengalaman hidup penulis. Membaca buku ini, saya mendapatkan kesan perjuangan seorang Elie yang (berusaha untuk) kuat, Elie yang penuh kemarahan, dan kemudian diakhiri dengan sebuah kejujuran yang menyakitkan, tentang seberapa jauh seseorang—seorang remaja—mencapai batasnya, batas egonya, ego bertahan hidup.

Banyak kontroversi yang ditimbulkan dari tragedi holocaust ini. Sebagian menganggap ini hanyalah isu dan kisah fiktif yang disebarkan untuk meraih simpati dunia. Namun, ada sebuah pernyataan yang menurut saya patut direnungkan.

Having confronted the story, we would much prefer to disbelieve, treating it as the product of a diseased mind, perhaps. And there are those today who—feeding on that wish, and on the anti-Semitism that lurks near the surface of the lives of even cultured people—are trying to persuade the world that the story is not true, urging us to treat it as the product of diseased minds, indeed. They are committing the greatest indignity human beings can inflict on one another: telling people who have suffered excruciating pain and loss that their painand lost were illusions. (Robert McAfee Brown, Preface for the Twenty-fifth Anniversary Edition, p.v-vi)

Jadi, terlepas dari benar atau salahnya bagian sejarah yang ini, pembantaian terhadap rakyat sipil, terhadap orang-orang tak bersalah, terhadap wanita dan anak-anak, adalah hal yang tidak bisa dibenarkan, apapun alasannya. Hal ini termasuk pula pembantaian era modern yang masih terjadi saat ini; Israel terhadap Palestina, ISIS, Suriah, sampai yang terhangat, pembantaian Muslim Rohingya. Dalam Islam—agama yang saya pahami—pembunuhan hanya dibenarkan dalam rangka pembelaan diri. Tidak ada kebenaran dalam pembunuhan atas dasar perbedaan, invasi, ataupun hasrat duniawi lainnya. Tidak ada manusia yang lebih tinggi derajatnya daripada manusia lain berdasarkan suku bangsa, warna kulit, sejarah keturunan, kekayaan, ataupun kekuasaan, hingga dia berhak untuk melakukan teror dan pembunuhan.

Pada akhirnya, Eliezer menunjukkan dampak dari agresi dan ego manusia-manusia yang merasa paling tinggi derajatnya, terhadap seorang bocah yang belum mengerti dunia. Anak-anak seperti Eliezer belum mengerti bahwa kebencian bisa timbul tanpa alasan yang masuk akal, dengan cara-cara di luar keadilan yang mereka pahami. Seorang anak, seharusnya menikmati masa kecilnya, bukan menanggung penderitaan akibat keserakahan orang dewasa, bukan terpaksa menanggung beban kehidupan lebih awal, yang pada akhirnya memakan hati nurani mereka, mencabik-cabik perasaan dan kehidupan mereka sejak dini. 3/5 bintang untuk malam yang panjang bagi Elie.

Here or elsewhere—what difference did it make? To die today or tomorrow, or later? The night was long and never ending. (p.93)

Mei : Hak Asasi Manusia

Mei : Hak Asasi Manusia dan Kritik Sosial

Review #20 for Lucky No.15 Reading Challenge category One Word Only!