Tag Archives: Baca Bareng BBI 2015

Buku Ajar Koas Racun – Andreas Kurniawan

16101609Judul : Buku Ajar Koas Racun
Penulis : Andreas Kurniawan
Penyunting : Agus Wahadyo
Penerbit : MediaKita
Edisi : Cetakan kedua, 2012
Format : Paperback, xii + 256 halaman

Mana istilah yang benar: ‘koas’, ‘koass’, ‘coass’, atau ‘k0-@s5’?
Tidak ada yang benar, karena yang namanya koas pasti akan salah.

(hal.iv)

😀

Membaca buku ini menjadi semacam nostalgia dan pengingat masa-masa beberapa tahun lalu, saat masih menjadi koas, alias ‘pembantunya pembantu’. Tapi meski posisi koas waktu itu tak lebih dari keset (meminjam istilah dosen saya), akan selalu ada kisah-kisah indah pada masa itu. Di antara ritme gila-gilaan yang melibatkan malam-malam tanpa tidur, tugas yang seolah-olah tidak akan pernah selesai (eh, bohong ding, biasanya selesai dalam beberapa jam, sesaat sebelum deadline), berkejar-kejaran dengan konsulen, dimarahi, dicaci, dicurangi, dimanfaatkan, dan lain sebagainya, pada akhirnya semuanya berlalu untuk kita tertawakan saja. Melalui buku ini, penulis yang juga adalah mantan koas alias dokter, mengajak kita tertawa dengan kisahnya pada masa itu.

Buku ini memberi sedikit gambaran tentang sebuah makhluk yang dinamakan koas. Kenapa saya bilang sedikit? Karena saya rasa banyak yang masih belum disebutkan, mungkin itu sebabnya selalu ada buku 2, 3, dan seterusnya. Mulai dari ritual jaga malam sampai ujian stase, suka duka menjadi (calon) dokter, macam-macam pasien, mitos yang beredar di masyarakat, karakteristik konsulen, sampai dinamika bersama rekan sejawat. Saya menikmati cara penulisan buku ini yang mengalir saja, tidak perlu dibuat-buat untuk tampak lebih lucu. Buku ini tidak menyebutkan almamater penulis (walaupun saya rasa saya tahu), dan saya tidak yakin bagaimana metode pembelajaran di sana. Yang saya rasakan agak kurang pas adalah penulis mencampurkan cerita masa preklinik dengan masa koas, yang sebenarnya periode waktunya berbeda, dan menjadi kurang konsisten dengan judulnya. Tapi tetap saja saya suka karena cerita-cerita di preklinik tidak kalah menarik dengan masa koas, terutama kini saat saya mengingatnya kembali.

Kami memang dibiasakan untuk bertindak cepat termasuk dalam hal menulis catatan atau status pasien. Akibatnya bisa diduga: tulisan tidak perlu bagus, yang penting bisa terbaca.
Terbaca?!  Lu bercanda???
(hal.98-99)

Penulis awalnya menulis catatan-catatan masa koasnya di note Facebook sebelum akhirnya dibukukan. Selain cerita, ada juga meme-meme khas yang melengkapi buku ini. Sebenarnya saya jadi ingin menceritakan semua isi buku ini, tapi buat apa? Lebih baik baca sendiri jika tertarik 🙂

April : Buku yang Diterbitkan dari Online

April : Buku yang Diterbitkan dari Online

Review #14 for Lucky No.15 Reading Challenge category It’s Been There Forever (Thanks to kak Dewi buat bukunya, maaf ketimbun lama XD)

Bridge to Terabithia – Katherine Paterson

terabithiaTitle : Bridge to Terabithia (Jembatan Terabithia)
Author : Katherine Paterson (1977)
Illustrator : Donna Diamond
Translator : Sapardi Djoko Damono
Publisher : Elex Media Komputindo
Edition : Cetakan pertama, 2001
Format : Paperback, 181 pages

Jesse Aarons adalah anak laki-laki satu-satunya dari lima bersaudara. Di liburan musim panasnya, dia berlatih untuk menjadi pelari nomor satu, untuk mendapatkan penerimaan dan penghargaan dari teman-teman dan keluarganya. Namun saat sekolah dimulai dan lomba lari diadakan, dia dikalahkan oleh seorang anak baru, anak perempuan bernama Leslie Burke. Pertemanan mereka terjadi begitu saja, mereka memutuskan untuk menciptakan tempat rahasia untuk mereka berdua. Sebuah kerajaan yang dinamakan Terabithia.

“Kita butuh tempat, hanya untuk kita. Tempat itu harus sangat rahasia dan kita tidak boleh mengatakannya pada siapa pun di dunia ini. Mungkin sebuah negeri yang sangat rahasia, dan kau dan aku akan menjadi penguasanya.” (p.56)

Meski berteman dengan seorang anak perempuan tak membuat posisi Jess lebih mudah, Leslie membuatnya nyaman dan bahagia. Mereka saling berbagi dan mendukung. Hingga suatu saat, keadaan tiba-tiba berubah, dan Jess sekali lagi harus mengalami posisi yang sulit, kali ini sebagai seorang yang ditinggalkan.

Leslie telah memperdayainya. Ia telah membuatnya meninggalkan dirinya yang lama dan masuk ke dunianya. Dan sebelum ia benar-benar kerasan tetapi terlambat untuk kembali, Leslie telah meninggalkannya terdampar di sana—seperti astronot yang sedang berjalan-jalan di bulan. Sendirian. (p.161)

Persahabatan dan kehilangan, serta tema-tema gelap yang sejenisnya, adalah tema umum dalam sastra anak mulai pertengahan abad ke-20. Usia sepuluh tahun adalah usia yang rawan dengan perubahan. Di usia 10 tahun, anak mulai mengalami perubahan-perubahan dalam dirinya, pun bagi Jess, ada tuntutan yang harus dihadapinya sebagai anak laki-laki satu-satunya. Anak laki-laki tidak boleh cengeng, anak laki-laki harus berani, anak laki-laki harus kuat, atau yang semacamnya.

Pembelajaran bisa datang dari mana saja. Bagi Jess, dia datang dalam wujud seorang Leslie. Leslie menjadikannya Raja Terabithia, sedikit banyak memberi peran seorang pria dewasa dalam diri Jess, membangkitkan keberanian dan tanggung jawabnya. Karakter Leslie yang dewasa dan berwawasan luas benar-benar membawa perubahan bagi Jess. Leslie mengajak Jess mendobrak sesuatu yang perlu diubah, tidak takut menjadi berbeda jika memang itu baik. Melalui Leslie, Jess mendapatkan kepercayaan diri untuk mengasah hobi dan bakat yang dinilai tidak berarti oleh keluarga maupun lingkungannya. Melalui Leslie pula, pada akhirnya Jess semakin dekat dan saling mengerti dengan keluarganya.

Untuk ketakutan di masa mendatang—karena ia tidak membodohi dirinya bahwa segalanya sudah lewat—ya, kau harus menghadapi rasa takut itu dan tidak membiarkannya melumatkanmu. Betul kan, Leslie? (p.178)

4/5 bintang untuk kisah pendewasaan yang menyayat hati.

Maret : Adaptasi

Maret : Adaptasi

Pertama kali menonton film ini, bertahun-tahun lalu, saya tidak tahu bahwa ini diangkat dari buku. Dalam film, penonton diberikan visualisasi Terabithia—yang sebenarnya merupakan negeri khayalan—hingga tampak seolah-olah merupakan ‘dunia lain’ dan memberikan kesan salah (pada saya) sebagai kisah fantasi. Apalagi saat kehilangan Leslie, tampak Jess seolah-olah tidak dapat kembali ke Terabithia. Namun secara umum, menurut saya, filmnya berhasil memotret maksud dari bukunya dengan cukup baik.

Review #17 of Children’s Literature Reading Project

Review #12 for Lucky No.15 Reading Challenge category It’s Been There Forever

Night Flight – Antoine de Saint-Exupéry

night flightTitle : Night Flight (Vol de Nuit)
Author : Antoine de Saint-Exupéry (1932)
Translator : Stuart Gilbert
Publisher : Harvest / HBJ Book (Harcourt Brace Jovanovich)
Format : Paperback, 89 pages

“We do not pray for immortality,” he thought, “but only to see our acts and all things stripped suddenly of all their meaning; for then it is the utter emptiness of everything reveals itself.” (p.78)

Setiap pekerjaan memiliki risikonya sendiri. Risiko merugi, risiko terluka, risiko terkena penyakit, sampai risiko kehilangan nyawa. Menjadi penerbang malam, mengantarkan surat-surat melalui lautan juga mengandung risiko yang tidak kecil. Oleh karena pentingnya tugas itu dan besarnya risiko, disiplin adalah salah satu kunci untuk mengendalikan risiko tersebut.

Inilah yang dihadapi Rivière, kepala urusan penerbangan yang memastikan bahwa semuanya berjalan sesuai jadwal, aman, dan selamat. Rivière yang terkenal keras dan tak berperasaan, tetapi yang dilakukannya tersebut semata-mata karena dia yakin bahwa memang itulah yang harus dilakukan.

“To think I’ve come to this after all those years of work! I’m fifty; all that time I’ve filled my life with work, trained myself, fought my way, altered the course of events and here’s this damned thing getting a hold of me, obsessing me till it seems the only thing that matters in the world. It’s absurd!”

“Am I just or unjust? I’ve no idea. All I know is that when I hit hard there are fewer accidents. It isn’t the individual that’s responsible but a sort of hidden force and I can’t get at it without—getting at every one! If I were merely just, every night flight would mean a risk of death.”
(p.41-42)

Di balik itu semua, ada pertentangan dalam batin Rivière, apakah yang selama ini dianggapnya baik benar-benar baik?

Dalam buku ini, penulis tidak menyuguhkan sebuah kisah dengan plot yang runtut, tidak pula sebuah peristiwa yang mengubah hidup seseorang. Penulis menggambarkan sebuah potret, beberapa potret, tentang kehidupan penerbangan pada masa itu. Potret-potret tersebut disusunnya dengan indah, sekaligus menyedihkan, potret kehidupan dan kematian, potret sebuah dedikasi dan loyalitas pada profesi, dengan segala konsekuensinya.

Karakter Rivière, dengan segala paradoksnya, menunjukkan hal itu. Kecintaannya pada tugas tak mengurangi kecintaannya pada para bawahannya. Namun, cinta yang terakhir itu—menurutnya—harus disembunyikan, karena dengan pekerjaan berisiko tinggi seperti itu, ada kalanya dia harus mengambil keputusan yang benar-benar kejam, yang menuntut pengorbanan mereka, demi tugas.

Not he, thought Rivière, it wasn’t he whom I dismissed so brutally, but the mischief for which, perhaps, he was not responsible, though it came to pass through him. (p.43)

These men of mine, I love them; it’s not they whom I’m against, but what comes about through them. . . . His heart was throbbing rapidly and it hurt him. . . . No, I cannot say if I am doing right or what precise value should be set on a human life, or suffering, or justice. How should I know the value of a man’s joys? Or of a trembling hand? Of kindness, or pity? (p.45)

Jadi, bagaimana ketika tugas dan perasaan dihadapkan? Ada Fabien, potret seorang pilot, yang saat terjebak di dalam badai, memberikan sebuah efek berantai bagi banyak orang. Bagaimana Fabien mengambil keputusan untuk bertahan hidup, bagaimana orang-orang di navigasi menyikapinya, bagaimana dengan surat-surat yang dibawanya, bagaimana dengan istri yang menunggu di rumahnya, dan bagaimana Rivière harus menghadapinya—para bawahan dan seorang istri; orang-orang yang saling terhubung itu, saling mempengaruhi, kemudian saling meniadakan. Satu Fabien, satu pilot, tidak akan mengubah jadwal penerbangan malam berikutnya, memaksa orang-orang untuk beraktivitas secara normal kembali.

Thinking of the lost airmen, Rivière felt his heat sink. All man’s activity, even the building of a bridge, involves a toll of suffering and he could no longer evade the issue—“Under what authority?” (p.63)

Satu kejadian yang tampak tak mengubah apa-apa itu, sesungguhnya menjadi tantangan bagi Rivière dan pola berpikirnya. Kejadian itu juga yang menjadi alat bagi penulis untuk menunjukkan arti dari kebahagiaan yang sesungguhnya.

Buku yang singkat, tetapi penuh dengan pemikiran dan filosofi. Meski tak sampai seratus halaman, butuh waktu lama bagi saya untuk menyelesaikannya. Meski telah diterjemahkan dari bahasa aslinya (Perancis), buku ini masih menggambarkan keindahan bahasa dan penggambaran khas penulis yang juga berprofesi sebagai penerbang. Pengalamannya memperkaya buku ini dan narasinya. Satu hal yang selalu ada dalam buku-bukunya adalah pentingnya cahaya bagi para penerbang.

The villages were lighting up, constellations that greeted each other across the dusk. And, at a touch of his finger, his flying-lights flashed back a greeting to them. The earth grew spangled with light signals as each house lit its star, searching the vastness of the night as a light-house sweeps the sea. (p.12)

5/5 bintang untuk sebuah kerlip bintang di antara awan badai.

“I tell you, Robineau, in life there are no solutions. There are only motive forces, and our task is to set them acting—the the solutions follow.” (p.75)

Februari : Profesi

Februari : Profesi

Review #8 for Lucky No.15 Reading Challenge category Something New

Enchanted Glass – Diana Wynne Jones

enchanted glassTitle : Enchanted Glass
Author : Diana Wynne Jones (2010)
Publisher : GreenWillow Books (Imprint of HarperCollins Publishers)
Edition : First paperback edition, 2011
Format : Paperback, 292 pages

Andrew Brandon Hope mendapatkan kabar kematian kakeknya dari pihak ibu, Jocelyn Brandon, sesaat setelah ditemui oleh hantu kakeknya yang menunjukkan sebuah berkas dengan segel hitam. Andrew mewarisi harta dan tanah Melstone House, serta tanggung jawab kakeknya, yang adalah seorang penyihir, untuk menjaga seluas wilayah tertentu (field-of-care), tempat Jocelyn ‘membimbing’ orang-orang di dalam lingkaran tersebut. Sayangnya, berkas bersegel hitam itu belum bisa ditemukan di Melstone, sementara Andrew masih buta dengan masalah persihiran.

Aidan Cain, anak laki-laki berumur dua belas tahun, baru saja ditinggalkan oleh neneknya. Kini dia sebatang kara, tetapi neneknya yang seorang penyihir berpesan agar dia pergi kepada Jocelyn Brandon jika mengalami kesulitan. Maka Aidan, yang semasa dirawat di rumah yatim piatu dikejar-kejar oleh makhluk jahat, memutuskan untuk pergi ke Melstone, dan mendapati bahwa yang dicarinya juga telah meninggal dunia. Andrew memutuskan untuk tetap menampung Aidan, karena di field-of-care Brandon dia aman.

Andrew dan Aidan pun mengalami petualangan menegangkan dalam usaha mereka menetapkan field-of-care Brandon dengan cara menelusurinya. Keduanya—terutama Aidan yang lebih peka—bisa merasakan perbedaan ‘rasa’ yang ditimbulkan di daerah yang terlindungi oleh sihir Brandon, dengan daerah luar yang rasanya ‘tidak aman’. Dalam penelusuran tersebut, mereka menemukan bahwa ada yang telah melanggar batas tersebut. Andrew pun berusaha mempertahankan wilayah kakeknya dari pihak-pihak jahat yang ingin mengambil alih, sekaligus melindungi Aidan dari pengejar yang ingin membunuhnya.

Ini adalah kali kedua saya membaca karya penulis ini, dan keduanya sama-sama menggunakan karakter utama dewasa (dalam buku ini Andrew Hope) meski kisahnya ditujukan untuk anak-anak. Andrew yang sejak awal dikatakan hanya peduli pada dunianya sendiri, perlahan dituntut untuk bertanggung jawab pada Aidan, pada field-of-care kakeknya, pada keajaiban-keajaiban di rumahnya sendiri. Melalui Aidan, Andrew bisa mengenal kemampuannya mempengaruhi orang dan eksistensi melalui kacamatanya, kemampuan yang juga dimiliki oleh Aidan. Melalui Aidan pula, Andrew mengetahui rahasia panel kaca warna-warni yang pernah dikatakan oleh kakeknya memiliki kekuatan sihir, tetapi tak pernah dijelaskan lebih lanjut. Hubungan timbal-balik keduanya inilah yang berperan penting dalam perkembangan keduanya.

Fakta menarik mengenai Andrew Hope adalah, bahwa sebenarnya kakeknya telah jauh-jauh hari menanamkan pengetahuan sihir padanya di masa kecilnya. Namun, ibu Andrew yang tak mempercayai sihir, serta lingkungan ‘normal’ Andrew—di luar Melstone yang hanya didatanginya saat liburan—menekan pengetahuan itu hingga terlupakan olehnya semasa dewasa. Kini, saat Andrew memegang Melstone, perlahan ingatan itu timbul kembali, ingatan yang akan menentukan apakah dia bisa menyelamatkan Aidan dan Melstone dari kekuatan jahat yang perlahan masuk dan menguasai. Saya menikmati saat-saat ingatan Andrew muncul perlahan, dipicu oleh hal-hal kecil yang berkaitan dengan masa kecilnya. Tak sepenuhnya sihir, tapi tetap terasa magis.

Satu hal yang agak menjadi tanda tanya bagi saya adalah hubungan asmara yang dialami oleh Andrew. Buku ini dilabeli untuk anak mulai usia 10 tahun, tetapi di dalamnya terkandung kekaguman Andrew kepada wanita secara fisik. Bagian itu tidak disampaikan dengan detail, jadi mungkin saja memang masih bisa diterima, apalagi standar ‘dewasa’ anak-anak di luar negeri berbeda dengan di Indonesia, karena faktor budaya yang berbeda. Juga ada sedikit kejutan di akhir mengenai asal-usul Aidan yang merupakan materi dewasa (atau minimal remaja) tapi bisa disampaikan dengan sangat halus.

Unsur-unsur fantasi dalam buku ini menurut saya ringan, tidak terlalu pekat, tetapi sekaligus kompleks dan kuat. Dunia yang dibangun penulis tidak sepenuhnya fantasi, wilayah sihir dan nonsihir tidak dibatasi dengan jelas, dan memang buku ini tidak berfokus pada setting. Selain wilayah sihir, benda-benda ajaib, sihir tak terlihat yang mekanismenya tak terlalu detail, ada juga makhluk-makhluk ajaib seperti weredogs (iya, bukan werewolves), counterparts—makhluk yang merupakan perwujudan dari manusia lain di wilayah tersebut, juga—salah satu favorit saya untuk alasan personal—bagaimana konflik para karakter kita berhubungan dengan legenda Raja Peri Oberon dan para istrinya, termasuk Ratu Titania, dan tak ketinggalan pelayannya, Puck. Penulis menyatukannya dengan apik, apalagi secara pribadi, saya suka modifikasi legenda dan mitos dalam kisah fantasi yang lebih modern. Hal itu membuat saya merasa lebih familiar dengan kisah tersebut, lebih mudah untuk masuk, dan menjadi bagian dari sebuah semesta fantasi raksasa.

4.5/5 bintang untuk kisah sihir perkotaan.

… he knew that magic was one of the great forces of the universe that had come into being right at the beginning, along with gravity and the force that held atoms together, as strong as or stronger than any force there. (p.255)

Review #12 of Children’s Literature Reading Project

Review #3 for Lucky No.15 Reading Challenge category Freebies Time

Januari : Buku SS

Januari : Buku SS

Terima kasih untuk santaku yang baik, saya suka buku ini, dan kini waktunya untuk menebak identitasmu. Petunjuk darimu sudah saya posting di sini. Saya langsung mengartikan ‘yang berjarak tidak kurang 48,4 mil darimu’ itu sebagai ‘orang dekat’, entah kenapa. Padahal justru itu menjauhkan dugaan, karena tidak kurang berarti pas, atau lebih. Petunjuk kedua adalah ‘yang dapat mendengar cicitan yang sering kau ungkapkan dengan jelas. namun sebaliknya tidak’, artinya santaku yang baik sudah follow twitterku, tetapi saya belum follow santaku yang baik. Malam itu juga saya langsung menelusuri daftar follower twitter dan membuat catatan dalam hati. Petunjuk yang tidak bisa saya pecahkan hingga saat ini adalah ‘mungkin saya adalah bunga es di lereng semeru’, saya punya beberapa dugaan, tetapi tidak ada yang pas.

Santaku yang baik, beberapa hari setelah mencoba mengutak-atik riddlemu, aku memutuskan untuk menggunakan cara di luar ‘prosedur yang semestinya’, yang harus kulakukan segera sebelum datanya dihapus. Saya melacak no.resi paket cantik darimu. Memang sih saya tidak mendapatkan resinya, tetapi (untungnya), tulisan di paket dengan spidol masih jelas dan terbaca (tidak seperti paket tahun lalu yang sudah tidak terlacak), dan menemukan bahwa santaku yang baik berada di suatu tempat di Semarang. Menilik paketnya yang cantik dan megah, saya tidak yakin bahwa santaku yang baik menitipkannya, jadi kemungkinan besar paket itu dikirim sendiri. Sebenarnya, ada satu kecurigaan dari teman yang sudah memfollow santaku yang baik itu tentang pembelian paket di salah satu online book store, dan memang, meski saya memberi link ke online book store yang berbeda, saya tahu buku ini tidak dibeli dari sana karena biasanya online store itu membungkus ulang bukunya dengan plastik.

Jadi, santaku yang baik, maaf ya kalau konspirasi alam semesta membuatku menebak dirimu adalah Hanum Puspa, bukan sepenuhnya berdasarkan riddle. Saya menunggu konfirmasi darimu. Sekali lagi, terima kasih banyak.

SecretSanta2014