Tag Archives: BBI 2014

Dua Saudara – Jhumpa Lahiri

dua saudaraTitle : Brotherly Love (Dua Saudara)
Author : Jhumpa Lahiri (2013)
Translator : Anton WP
Publisher : bukuKatta
Edition : Cetakan pertama, 2014
Format : Paperback, 68 halaman

Penampilan fisik Subhash dan Udayan memang mirip, tetapi kedua kakak beradik ini memiliki sifat yang jauh berbeda. Subhash, sang kakak lebih penurut dan ‘lurus’, sedangkan Udayan sulit ditebak dan seringkali menyusahkan. Hingga saat keduanya lulus dari universitas—hal yang langka di lingkungan mereka saat itu—keduanya memilih jalan yang berbeda. Shubhash meninggalkan Tollygunge untuk melanjutkan program doktoral di Rhode Island, sedangkan Udayan tetap tinggal untuk melanjutkan perjuangannya untuk revolusi di India.

Bersetting di tahun 1960-70an, saat India sedang bergejolak, perang Vietnam, pemisahan Bangladesh, dan berbagai peristiwa sejarah yang secara langsung maupun tidak langsung akan berhubungan dengan karakter dalam kisah ini. Kisah pendek ini pada mulanya dimuat di New Yorker, kisah yang merupakan pengantar untuk novel Lahiri, The Lowland. Hal ini menjawab tanda tanya saya saat membaca buku ini, saat menemukan bahwa untuk sebuah cerita pendek, setting dan karakterisasi buku ini terbangun cukup detail.

Cerita pendek ini menitikberatkan pada hubungan Subhash dan Udayan yang terpisahkan oleh ideologi yang berbeda. Jarak geografis dan jarak ideologis ternyata membawa hubungan mereka dalam suatu kecanggungan baru. Oleh karena dikisahkan dengan sudut pandang orang ketiga terbatas, pembaca hanya bisa melihat melalui sudut pandang Subhash. Buku ini menangkap apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dilakukan oleh Subhash. Namun, kisah ini kemudian diakhiri dengan cantik, mengenai kenyataan tentang sikap Udayan terhadap kakaknya itu. Menyentak, sekaligus mengharukan.

Review #21 for 2014 TBRR Pile Reading Challenge

Review #34 for Lucky No.14 Reading Challenge category (Not So) Fresh From the Oven

Desember

Advertisements

King Richard III – William Shakespeare

18416265Title : King Richard III
Author : William Shakespeare (1593)
Publisher : Project Gutenberg
Edition : November, 1997 [Etext #1103]
Format : ebook

When clouds are seen, wise men put on their cloaks;
When great leaves fall, then winter is at hand;
When the sun sets, who doth not look for night?
Untimely storms make men expect a dearth.
All may be well; but, if God sort it so,
‘Tis more than we deserve or I expect.
(Act II, Scene 3)

Drama Shakespeare ini termasuk dalam kategori sejarah. Nama-nama dan kejadiannya memang berdasarkan sejarah, tetapi sejarah bergantung dari mana kita memandangnya. Jadi kisah King Richard III ini dapat saya katakan merupakan sejarah yang terekam pada masa drama ini ditulis.

Di permulaan drama ini, Richard adalah Duke of Gloucester. Inggris berada di bawah kekuasaan Edward IV—yang adalah kakak Richard—dari House of York. Pada masa itu, Inggris terbagi dua, York dan Lancaster. Oleh karena tidak puas dengan keadaan, Richard berambisi untuk menjadi raja. Ambisinya itu diwujudkan dengan cara-cara yang frontal dan nekat. Dia tak ragu-ragu menjebak dan membunuh orang-orang yang dianggapnya sebagai penghalang memperoleh mahkota kerajaan. Orang-orang terdekatnya, keluarga, teman, dan orang kepercayaannya pun tak luput dari kekejamannya.

Anehnya, segala kebencian yang muncul terhadap Richard atas kekejamannya tersebut pada suatu kali dapat berubah. Seperti saat dia melamar Lady Anne, yang suaminya terbunuh oleh tangannya, meski Anne jelas-jelas menolak dan sangat membencinya, pada akhirnya mulut manis Richard berhasil menjadikan Lady Anne sebagai istrinya. Kharisma Richard juga membuat beberapa orang loyal kepadanya, meski harus mengeksekusi orang-orang yang dianggap berkhianat terhadap raja mereka.

Dalam drama ini, kekejaman dan tirani Richard sangat dominan digambarkan. Namun, apakah yang menyebabkannya menjadi seorang raja berdarah dingin dan bertangan besi? Pada awal drama ini, monolog Richard menceritakan keadaannya, yang mungkin membentuk karakternya menjadi seperti yang diceritakan. Penampilannya yang tidak menarik, kelainan bentuk tubuh, dan kelemahannya mungkin pada mulanya menimbulkan rasa minder, tetapi tampaknya lambat laun menimbulkan suatu ambisi untuk menutupi kekurangan tersebut.

But I-that am not shap’d for sportive tricks,
Nor made to court an amorous looking-glass-
I-that am rudely stamp’d, and want love’s majesty
To strut before a wanton ambling nymph-
I-that am curtail’d of this fair proportion,
Cheated of feature by dissembling nature,
Deform’d, unfinish’d, sent before my time
Into this breathing world scarce half made up,
And that so lamely and unfashionable
(Act I, Scene 1)

Bahkan ibunya sendiri, Duchess of York, juga mengakui bahwa sejak kecil, Richard selalu bermasalah. Apakah ada diskriminasi yang diterima Richard saat kecil? Atau mungkin dia kekurangan perhatian yang semestinya atau diharapkannya didapat? Tampaknya menarik jika ada catatan sejarah yang menganalisis masa kecil Richard III ini.

Thou cam’st on earth to make the earth my hell.
A grievous burden was thy birth to me;
Tetchy and wayward was thy infancy;
Thy school-days frightful, desp’rate, wild, and furious;
Thy prime of manhood daring, bold, and venturous;
Thy age confirm’d, proud, subtle, sly, and bloody,
More mild, but yet more harmful-kind in hatred.
(Act IV, Scene 4)

Late 16th century portrait, housed in the National Portrait Gallery, London.

Seperti sudah saya singgung di atas, ada sisi positif Richard III yang tersirat drama ini, sisi yang menyebabkannya memiliki pengikut yang setia. Namun sayangnya, menurut saya, porsinya tak sebesar sisi negatifnya sebagai seorang raja bertangan besi. Meski begitu, pada beberapa bagian dapat terlihat bagaimana kekuatan kata-kata Richard untuk mempengaruhi orang lain.

Drama ini merupakan salah satu drama Shakespeare yang memiliki konflik yang sangat intens. Fokus utamanya tetap pada Richard dan bagaimana dia mencapai dan mempertahankan kekuasaannya, kemudian bagaimana orang-orang di sekitarnya—kawan, lawan, dan rakyat—memandangnya, menilainya dan menghakiminya. Act V scene 3 adalah salah satu scene favorit saya, karena pada scene tersebut kita ditunjukkan dua kubu yang akan berperang, Richard (mewakili York), dan Richmond (mewakili Lancaster). Di scene tersebut, saya bayangkan lampu-lampu panggung yang bergantian menyorot masing-masing kubu, karena meski dalam satu scene, tempat kejadiannya jauh dan keduanya belum saling bertemu.

4/5 bintang, God save the Queen.

Bad is the world; and all will come to nought,
When such ill dealing must be seen in thought.
(Act III, Scene 6)

November #2 : Angka dalam Judul Buku

 

Out of the Dust – Karen Hesse

out of the dustTitle : Out of the Dust
Author : Karen Hesse (1997)
Publisher : Scholastic Inc.
Edition : 7th printing, Apple Signature Edition
Format : Paperback, 228 pages

I don’t want to die,
I just want to go,
away,
out of the dust.
(p.149)

Billie Jo Kelby lahir pada Agustus 1920. Ayahnya sangat menginginkan anak laki-laki hingga memperlakukan anak perempuannya itu sebagaimana anak laki-laki. Tetapi Billie Jo masih memiliki persamaan dengan ibunya, dia suka memainkan piano, meski ibunya tak suka jika dia mengorbankan sekolahnya demi musik. Billie Jo mengisahkan hidupnya di usianya yang keempat belas, bagaimana ayahnya setia menanti hujan demi ladang gandumnya, bulan demi bulan yang kering dan berdebu. Saat itu ibunya sedang hamil lagi, berusaha sepenuhnya mengatasi kondisi keluarganya, di Oklahoma yang terancam kelaparan.

Hujan yang dirindukan tak juga hadir, hanya debu dan badai debu, membuat ladang-ladang semakin memburuk, tanaman-tanaman enggan hidup, dan rumah-rumah menjadi suram. Di masa-masa genting ini, sebuah kecelakaan fatal terjadi di rumah Kelby. Ayahnya meletakkan minyak tanah di dekat kompor, ibunya yang mengira itu air tak sengaja membakarnya, kemudian Billie yang berusaha membereskan kekacauan justru membuatnya lebih kacau, tanpa disengaja.

“Billie Jo threw the pail,”
they said. “An accident,”
they said.
Under their words a finger pointed.

They didn’t talk
about my father leaving kerosene by the stove.

(p.71)

Kecelakaan itu membuat luka menganga di keluarga itu, luka yang tak kunjung membaik, lahir dan batin. Kedua tangan Billie terluka sehingga dia sama sekali tak bisa bermain piano. Hatinya juga terluka karena sikap ayahnya yang berubah murung dan dingin. Billie Jo yang sebelumnya adalah gadis remaja dengan kehidupan remajanya—sekolah, mendapatkan uang ekstra dari bermain piano, jatuh cinta pada anak laki-laki, bermimpi, dan lain sebagainya—kini harus lari dari segala kenangan yang menyakitkan saat keluarganya masih baik-baik saja, meski serba kekurangan. Cita-citanya yang paling utama adalah keluar dari lingkungan rumahnya yang berdebu, kapan pun dia bisa, bagaimana pun caranya.

“We weren’t always happy,” I tell Louise.
“But we were happy enough
until the accident.
When I rode the train west,
I went looking for something,
but I didn’t see anything wonderful.
I didn’t see anything better than what I already had.
Home.”
(p.217)

Jika melihat beberapa kutipan buku ini yang saya cantumkan di atas, terlihat bahwa buku ini bukan terdiri dari paragraf-paragraf sebagaimana novel pada umumnya. Buku ini berisi bait-bait kisah Billie Jo yang diceritakan melalui suaranya sendiri. Dengan cara begini, buku ini terkesan agak puitis, sekaligus mudah dan cepat dicerna.

Dengan sedikit kata-kata, penulis berhasil menghasilkan efek emosional yang dahsyat. Setiap beberapa halaman, ada saja yang membuat saya harus berhenti membaca, karena aura depresi yang sangat pekat. Setting waktu kisah ini memang pada masa-masa depresi (Depression Era) yang mengikuti Perang Dunia II. Badai debu yang terjadi pada buku ini (tahun 1934) juga merupakan satu rangkaian Dust Bowl dari badai yang terjadi berturut-turut di Amerika Serikat saat itu.

Aura depresi semakin memekat pasca kecelakaan di keluarga Kelby. Di sini, selain depresi karena kondisi alam dan negara, konflik batin para anggota keluarga, terutama Billie Jo, semakin ditampakkan. Anak dan ayah yang berjuang keras untuk berdamai dengan keadaan, dengan diri mereka sendiri, dan untuk saling memaafkan.

He stares at me,
maybe he is looking for Ma.
He won’t find her.
I look like him,
I stand like him,
I walk across the kitchen floor
with that long-legged walk
of his.
I can’t make myself over the way Ma did.

And yet, if I could look in the mirror and see her in
my face,
If I could somehow know that Ma
and baby Franklin
lived on in me . . .

But it can’t be
I’m my father’s daughter.

(p.113-114)

Jika ditilik secara ukuran buku, Out of the Dust ini bisa saja dibaca dalam sekali duduk. Namun melihat isinya, rasanya mustahil ada orang yang bisa tega menyantap kisah suram ini sekaligus tanpa istirahat. Pengalaman saya membandingkan reaksi bacaan terhadap teman sesama blogger, saya memiliki ambang penerimaan yang sangat tinggi terhadap kisah-kisah gelap. Untuk yang satu ini, saya akui, saya tidak kuat. Tingkat kegelapan dan depresinya sungguh sangat tinggi sekali, meski—kabar gembiranya—kisah ini tetap berakhir bahagia.


I am because of the dust.
And what I am is good enough.
Even for me.
(p.222)

4/5 bintang untuk kisah yang meremukkan hati.

Review #12 of Children’s Literature Reading Project

Review #31 for Lucky No.14 Reading Challenge category Cover Lust (I admit it’s a strange taste, but yes, the dark nuance of the cover made me curious)

Review #20 for 2014 TBRR Pile Reading Challenge (Historical Fiction)

November #1 : Newbery Book List

 

Howl’s Moving Castle – Diana Wynne Jones

6621452Title : Howl’s Moving Castle (Istana yang Bergerak
Author : Diana Wynne Jones (1986)
Translator : Syaribah Noor Brice
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan Pertama, Juli 2009
Format : Paperback, 328 pages

Sophie Hatter adalah anak pertama dari tiga bersaudari, menyusul setelahnya Lettie dan Martha. Di Ingary, anak pertama dipercaya akan pertama kali mengalami kegagalan dibandingkan saudara-saudaranya. Ketika ayahnya meninggal, ibunya mengirimkan Lettie untuk magang di sebuah toko roti, dan Martha ke seorang penyihir, sedangkan Sophie sendiri akan magang bersamanya melanjutkan usaha penjualan topi.

Hidup Sophie berlalu dengan membosankan. Ibunya, Fanny, lebih sering bepergian, meninggalkannya sendiri bersama topi-topinya sehingga Sophie terbiasa berbicara dengan topi. Usahanya mengalami kemajuan, hingga suatu hari, seorang nenek sihir jahat yang terkenal dari Waste datang dan mengutuknya menjadi seorang wanita tua. Karena tak bisa lagi tinggal bersama Fanny, maka Sophie pergi mencari keberuntungannya.

Dalam perjalanannya, Sophie sampai di rumah Howl, penyihir yang terkenal suka memakan jantung gadis-gadis muda. Oleh karena merasa dirinya aman dari Howl, dia tetap tinggal di sana; membersihkan rumah, menjahit pakaian, dan melakukan pekerjaan apa saja yang bisa dilakukannya, demi sebuah perjanjian dengan Calcifer, jin api, untuk saling membebaskan kutukan. Jika Sophie bisa membantunya melepaskan perjanjian Calcifer dengan Howl, dia akan membebaskan Sophie dari kutukan nenek sihir dari Waste. Masalahnya adalah, Sophie harus mengetahui sendiri perjanjian Calcifer dengan Howl.

Buku ini tidak menyediakan hal-hal yang luar biasa dari awalnya, tetapi seiring berkembangnya cerita, pesona sederhana buku ini mulai tampak. Setting buku ini memang dunia high fantasy yang, kalau kata saya, relatif sederhana. Memang ada sihir, ada rumah bergerak yang bisa berada di empat tempat sekaligus, ada mitos-mitos yang nyata, tetapi tidak perlu menunjukkan kehidupan yang luar biasa juga. Howl yang seorang penyihir, tidak selalu menggunakan sihir untuk melakukan apa saja. Pun kehidupan sehari-hari para penduduk Ingary, Kingsbury, Porthaven, maupun lain-lainnya terlihat biasa saja, meski terkadang membutuhkan beberapa mantra untuk melariskan dagangan, memberi keberuntungan, atau menambah kekuatan. Istana bergerak Howl juga menarik untuk ditelaah cara kerjanya, bagaimana satu pintu bisa menuju ke empat tempat sekaligus.

Konflik dalam buku ini sebenarnya cukup rumit. Masing-masing karakter menyimpan rahasianya masing-masing—terkecuali Sophie yang merupakan fokus dalam kisah ini, karena diceritakan dalam sudut pandang orang ketiga terbatas. Masalah yang pada mulanya tampak bersifat personal, semakin lama semakin melibatkan orang lain, bahkan menentukan nasib suatu negeri. Misteri yang disimpan oleh karakter-karakter tersebut muncul dalam bentuk petunjuk samar, tindakan atau kata-kata yang mencurigakan, sehingga tidak sulit menebak jika sesungguhnya ada apa-apa—yang sulit adalah memastikan, apakah apa-apa itu. Itulah salah satu hal yang memesona saya. Sayangnya, entah mengapa bahasa terjemahannya terasa agak membingungkan di beberapa bagian. Mungkin memang sulit menerjemahkan buku ini secara sempurna, karena setelah melihat-lihat beberapa review, memang ada banyak permainan kata-kata dalam buku ini, yang tentu saja sulit diaplikasikan ke dalam bahasa lain.

Yang tak kalah menyenangkan adalah karakter-karakternya. Sophie yang setelah dikutuk menjadi nenek-nenek masih tetap ceria dengan kekonyolan dan keberaniannya. Howl yang ternyata jauh dari apa yang digosipkan (oh, dia adalah penyihir tampan yang baru melewatkan usia sepuluh ribu harinya, memesona dengan pakaian mewah dan parfumnya, tak pernah gagal memikat hati para gadis, tetapi, dengan sederet kekurangan yang…menyebalkan, tanpa menghilangkan pesonanya). Mengikuti perkembangan karakter keduanya cukup menarik. Sophie yang sedikit demi sedikit menemukan dirinya sendiri, dalam situasi yang memaksanya untuk tidak pasrah terhadap takdir anak pertama yang selalu tidak beruntung. Sedangkan Howl yang menyimpan misteri terbesar, latar belakang dan kisah hidupnya yang kompleks, serta tingkah lakunya yang ternyata—sekecil dan seremeh apa pun—memiliki alasan-alasan tertentu. Belum lagi karakter-karakter minor yang tak kalah menarik, tetapi akan terlalu panjang jika saya tuliskan di sini.

Mengikuti kisah Sophie di atas istana yang bergerak benar-benar seperti dibawa ke dunia fantasi tak kentara yang semakin lama semakin pekat. Intensitas konfliknya juga meningkat seiring berkembangnya kisah. Menurut saya, pesona dari segala aspek di buku ini layak saya anugerahi 5/5 bintang, meski saya tidak terlalu cocok dengan bahasa terjemahannya. Dan setelah ini, saya akan menonton ulang animenya yang juga membuat saya terpesona beberapa tahun yang lalu.

Review #11 of Children’s Literature Reading Project

Review #26 for Lucky No.14 Reading Challenge category Movies vs Books

Review #17 for 2014 TBRR Pile Reading Challenge (Book Award Winner) [Phoenix Award (Children’s Literature Association) (2006), Boston Globe-Horn Book Award (1987), American Library Association (ALA) Notable Book for Children’s Book (1986)]

Oktober #2 : First published on the year you are born

Oktober #2 : First published on the year you are born

Kumpulan Cerita Anak-Anak – S. Haryanto Arkoboesono

kcaa coverJudul : Kumpulan Cerita Anak-Anak
Penulis : S. Haryanto Arkoboesono (1981)
Ilustrator : B. L. Bambang Prasodjo
Penerbit : Balai Pustaka
Edisi : Cetakan kelima, 2007
Format : Paperback, 52 halaman

Buku ini berisi empat belas fabel, yang menurut saya tampak seperti Grimm versi Indonesia. Kisah-kisah dalam buku ini sangat gelap, dengan kekerasan yang agak vulgar. Formulanya hampir sama dengan fabel kebanyakan; kelicikan yang mendapatkan balasannya, kebodohan yang membawa kesialan, kecerdikan yang menyelamatkan, dan lain sebagainya. Dengan Serigala yang menjadi karakter ‘penjahat’ licik yang paling sering muncul, dan Kancil—seperti biasa—menjadi karakter yang cerdik. Namun tidak hanya itu, ada Katak, Burung, Domba, Beruang, Kucing, sampai Harimau yang memperkaya kisah ini.

kcaaKisah-kisah dalam buku ini dikemas untuk menyampaikan berbagai macam pesan moral, seperti kisah Katak Ingin Terbang menyampaikan betapa kita harus menyadari keterbatasan kita, atau Kata-Kata Manis yang menunjukkan betapa kelicikan sering terbalut kalimat-kalimat indah. Sayangnya, penulis membuat pesan moral dalam kisahnya hanya bermakna tunggal, padahal menurut saya kisah-kisahnya sangat potensial untuk dimaknai lebih luas. Penulis terkesan kaku dan memaksakan persepsinya dengan memberikan kesimpulan dalam satu paragraf terakhir. Seandainya satu paragraf akhir dari masing-masing kisah itu dihilangkan, menurut saya justru akan sangat bagus untuk imajinasi dan kreativitas anak-anak yang membacanya.

Sebagai buku yang diterbitkan pada tahun 1981, yaitu saat Ejaan Yang Disempurnakan telah diresmikan, buku ini termasuk kurang teliti dalam hal tersebut. Susunan kalimatnya terkadang membingungkan, dalam artian subyek, predikat dan obyek yang tidak jelas. Gaya penceritaannya juga kadang terlalu bertele-tele dan kurang efisien (banyak kalimat yang diulang). Pada edisi yang saya baca pun (cetakan 2007), tampaknya tidak dilakukan proses penyuntingan yang berarti.

Ditulis oleh seorang guru SD, saya rasa buku ini cukup lumayan untuk sebuah dongeng anak-anak. Apalagi ditambah ilustrasi sederhana yang menarik. Seperti saya katakan di atas, ‘rasa’ Grimm-nya cukup kentara. Namun, saya rasa buku ini masih perlu dipoles sedemikian rupa lagi supaya bisa menjadi ‘Grimm Indonesia’ yang benar-benar layak diturunkan dari generasi ke generasi.

Review #10 of Children’s Literature Reading Project

Review #25 for Lucky No.14 Reading Challenge category Bargain All The Way

Oktober #1 : Buku Balai Pustaka

Oktober #1 : Buku Balai Pustaka