Tag Archives: Book Kaleidoscope 2016

Book Kaleidoscope 2016

Tahun 2016 sudah (hampir) berlalu, dan seperti biasa, tidak afdhol rasanya kalau tidak merekap bacaan. Tahun 2016 ini adalah tahun cobaan bagi mood baca saya. Hampir sepanjang tahun ini mood baca saya terjun bebas. Bukan tidak membaca sama sekali, karena membaca itu masih penting buat saya, hanya saja satu buku bisa saya selesaikan lebih lama daripada biasanya. Terkadang, ini juga membuat saya tidak betah dan terburu-buru ganti buku, dan bukan berarti buku yang saya tinggalkan itu jelek.

Di goodreads, tercatat 76 buku yang saya baca tahun 2016 (kenyataannya lebih beberapa buku dari itu, karena ada yang belum masuk rupanya). Tidak banyak, menilik banyaknya komik dan buku anak bergambar di dalamnya. Namun, melihat judul-judul dan penulisnya, rasanya saya cukup puas karena berbagai alasan. Saya juga lega dengan keputusan saya di awal tahun, sehingga tidak ada rasa bersalah.

Saya menandai tiga periode saya bisa ‘lebih lancar’ membaca. Yang pertama pada pertengahan tahun, tepatnya akhir Juni hingga awal Juni, sebenarnya menurut goodreads, periode membacanya cukup panjang untuk buku-buku anak tipis, tetapi berhasil menyelesaikan empat buku saat itu tampak seperti kemewahan. Yang kedua pada bulan Agustus, dalam waktu kurang dari dua minggu, saya berhasil menyelesaikan tiga novel detektif. Sedangkan yang terakhir pada akhir Oktober, setelah menghadiri Big Bad Wolf di Surabaya, saya membabat lebih dari lima belas buku anak, sebelum saya kirimkan pada yang menitip (lumayan baca gratisan, setelah izin dulu pastinya). Saya tahu sejak lama, bahwa review yang tertunda sering membuat saya malas membaca, karena saya sudah terbiasa selalu membuat review sejak blog ini lahir. Jadi pada mulanya, memang review-lah yang menjadi momoknya. Bagi pengunjung blog ini mungkin bisa melihat betapa tahun ini saya sulit menulis review, karena itu, bisa move on membaca tanpa menyelesaikan review semacam menjadi kebiasaan baru yang inginnya tidak saya biasakan di 2017.

Saya cukup puas karena berhasil membaca beberapa buku dari penulis favorit, dan menemukan buku favorit baru, atau sekadar bernostalgia dengan gaya tulisan mereka. Di antaranya, tidak lain dan tidak bukan ada Neil Gaiman. Meski gagal dengan niat ingin membaca kumpulan cerpennya, saya membaca beberapa buku anaknya yang belum saya baca. Dan akhir tahun ini saya memutuskan membeli ebook dari Humble Bundle yang berisi karya-karya langka Gaiman, yang hasil penjualannya dipergunakan untuk amal. Saya baru membaca beberapa judul, tetapi asyik juga membaca karya-karya ‘mentah’ dari penulis favorit, rasanya meneguhkan mengapa dia jadi favorit. Kemudian ada Oscar Wilde, yang saya hanya kesampaian membaca satu cerpen, The Canterville Ghost; cerita hantu yang kocak dan menyentil khas Wilde. Ada Sapardi Djoko Damono yang novel Hujan Bulan Juni-nya berhasil membuat saya terpukau dengan gaya ‘terserah-gue-mau-ngapain’-nya. And, always, the Queen J.K.Rowling, kali ini atas nama Robert Galbraith dia berhasil memangsaku kembali.

Membaca buku karena sedang naik daun itu bukan gaya saya, jadi dengan agak malu saya akui bahwa saya memulai membaca buku Eka Kurniawan karena dia masuk nominasi Man Booker Prize. Untungnya saya memang sudah menimbun mengoleksi beberapa judul bukunya, jadi tidak terlalu merasa bersalah (baca: pembelaan). Omong-omong, saya jadi suka gaya penulisannya di Lelaki Harimau dan memutuskan mengoleksi semua bukunya (yang sudah hampir saya lengkapi di tahun yang sama). Secara de facto, tahun ini bukan pertama kalinya saya membaca karya Haruki Murakami, tetapi Wind rasanya terlalu ringkas untuk bisa dinilai seapik Norwegian Wood. Setelah membaca bukunya yang kedua ini, saya merasakan kembali book hangover dan menjadi sedikit lebih malas untuk membaca buku lain selama beberapa waktu. Lalu ada John Steinbeck, bisa dibilang Of Mice and Men adalah buku utuh pertamanya yang saya baca, karena sebelumnya saya baru membaca versi abridged dari The Pearl. Kebetulan Steinbeck yang saya baca terjemahan, dan sepertinya ada rasa yang ‘hilang’, entah karena mood saya atau apa, yang jelas, saya perlu memberi tempat lebih baik untuk penulis yang satu ini.

Mood yang kurang baik mungkin bisa menjadi alasan untuk menemukan hal-hal baru dalam bacaan. Seperti saat saya memilih membaca Orkes Madun, drama karya Arifin C. Noer yang merupakan buku play Indonesia yang pertama saya baca. Mencoba-coba perpustakaan digital untuk pertama kalinya juga mengantarkan saya pada buku yang saya tak tahu pernah ada di pasaran, Jejak Ingatan, yang merupakan kumpulan cerpen, esai, dan jurnalistik pemenang lomba menulis tentang Alzheimer. Buku yang mengangkat tema cukup penting dengan bahasa sederhana yang penting untuk dibaca luas. Saya juga merambah sejarah (lagi) dengan membaca biografi Douwes Dekker oleh Tim Buku Tempo, akibat penasaran pasca membaca Max Havelaar. Juga sebuah buku bergambar yang tak sengaja saya temukan di obral buku, Angsa Merampas Roti Bebek-Bebek: Masa Kanak-Kanakku di Kamp Tahanan Jepang di Jawa oleh Anne-Ruth Wertheim. Sebuah autobiografi seorang Belanda yang cukup berkesan. Saya juga membaca biografi singkat Nikola Tesla oleh Patrick Sean hasil gratisan Amazon yang sudah saya simpan lama, gara-gara sebuah video tentang teori flat earth.

Lalu ada beberapa penulis yang masuk radar. Untuk buku anak bergambar, ada John Yeoman dan Michael Rosen yang kebetulan menulis buku yang diilustrasi oleh Quentin Blake, ilustrator buku-buku Roald Dahl. Tema yang diangkat cukup oke, beberapa bahkan sangat membekas, meski ditulis dengan sederhana. Ada Sharon Creech juga yang akan saya bahas di bawah. Untuk buku klasik, ada Voltaire yang saya tak menyangka tulisannya bakal seperti itu. Dari review Candide yang pernah saya baca, saya bayangkan tulisannya cukup berat, ternyata cukup menghibur, beberapa bagian malah lucu, tanpa kehilangan maknanya. Hella Haasse, seorang Belanda yang bercerita tentang fiksi sejarah Indonesia, yang terlambat saya kenal tapi ternyata berhasil memukau. Dan ada Keigo Higashino, penulis novel detektif Jepang yang cukup membuat bahagia karena karakternya orang sains. Buku Kesetiaan Mr.X (seri Detective Galileo #3) cukup emosional untuk ukuran sebuah cerita pembunuhan.

Dan, inilah daftar 6 buku yang paling berkesan yang saya baca di 2016. Urutan berdasarkan waktu baca. Empat buku teratas sudah ada reviewnya.

oeroegnwcareer-of-evilroger ackroydtpatlp heartbeat

  1. Oeroeg by Hella Haasse

Sebuah fiksi sejarah Nusantara yang ditulis oleh penulis Belanda. Bukunya singkat, tetapi ditulis dengan cantik dan meninggalkan kesan sangat kuat. Persahabatan antar ras yang digambarkan dengan begitu realistis hingga membuat saya sedih karena melihat kebenaran di situ.

  1. Norwegian Wood by Haruki Murakami

Serasa diguncang-guncang membaca buku ini. Salah satu buku yang lebih baik tidak dibaca sinopsisnya, karena di bab-bab awal pun saya bisa dibuat terhempas.

  1. Career of Evil by Robert Galbraith

Rasanya saya sudah bercerita banyak di review. Yang jelas pengalaman membaca yang sangat nikmat. Saya berhasil menebak pembunuhnya dengan analisis yang cukup sederhana (tapi benar), ya, meskipun sempat dibuat ragu gara-gara penulisnya lebih pintar.

  1. The Murder of Roger Ackroyd by Agatha Christie

Ini salah satu buku ‘kurang ajar’. Yah, saya tidak mengharapkan dia pembunuhnya sih, tetapi memang sejak awal saya merasa buku ini aneh. Karena pembunuhnya itu, segala yang aneh menjadi masuk akal. Tapi tetap saja ini kurang ajar.

  1. The Pilot and The Little Prince by Peter Sís

Sebagai penggemar Antoine de Saint-Exupéry, dan The Little Prince tentunya, buku ini sangat penting. Biografi singkat sang penulis sejak awal kehidupannya sampai meninggalnya, membuat saya tahu mengapa dia menulis buku-bukunya itu, serta lebih memahami berbagai simbolisme dalam The Little Prince. Ilustrasinya juga sangat berkesan, seperti kata orang, satu gambar bisa mewakili ribuan kata.

  1. Heartbeat by Sharon Creech

Saya beli buku ini murni karena tertarik bentuknya yang narrative poetry. Saya jarang mendapati buku bentuk ini, dan masih terpesona pasca Out of the Dust. Saya tidak berharap banyak meski saya tahu penulisnya adalah penerima penghargaan Newbery. Mungkin puisi naratif memang cenderung emosional, karena pemilihan katanya, rimanya, dibuat sesingkat mungkin dan langsung menancap dalam jiwa. Puisi naratif tidak perlu takut menuliskan kesedihan bertubi-tubi karena dia puisi, kira-kira seperti itu. Yang jelas, setelah membaca ini saya merasakan kehangatan yang menandakan bahwa buku ini sangat berkesan bagi saya.

Itulah kira-kira gambaran tahun 2016, tidak ada yang disesali, tidak ada yang sia-sia, semoga tahun 2017 lebih baik. Welcome 2017, welcome new spirit!