Tag Archives: FYE Children’s Literature

The Golden Compass – Philip Pullman

the golden compassTitle : The Golden Compass (Kompas Emas/Northern Lights) (His Dark Materials #1)
Author : Philip Pullman (1995)
Translator : B. Sendra Tanuwidjaja
Editor : Dini Pandia
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan ketiga, Februari 2008 (movie tie-in)
Format : Paperback, 504 halaman

Lyra Belacqua sejak kecil tinggal di Akademi Jordan di Oxford. Meski begitu, banyak hal yang tidak boleh diketahuinya, seperti berbagai macam kegiatan para cendekiawan di Akademi tersebut. Namun suatu hari, Lyra mengendap-endap ke ruang rehat dan mendengarkan serta melihat hal-hal yang tak seharusnya diketahuinya saat itu. Hari itu, pamannya, Lord Asriel mempresentasikan penemuannya di kutub utara, dan ada satu hal yang menghantui pikiran Lyra sejak saat itu: Debu.

Debu yang ditunjukkan Lord Asriel dalam presentasinya memperlihatkan pengaruhnya pada orang dewasa, namun tidak pada anak-anak. Setelahnya, di Oxford maupun di kota-kota lain diberitakan hilangnya anak-anak yang berusia di bawah dua belas tahun. Isu yang berkembang menamakan para penculik anak-anak sebagai Pelahap. Hingga pada suatu hari, Lyra menyadari bahwa teman sepermainannya, Roger, hilang diambil oleh para Pelahap.

Pada saat yang bersamaan, seorang wanita bernama Mrs. Coulter hendak mengambil Lyra dan mendidiknya. Dia memandang bahwa Lyra yang beranjak dewasa harus dididik di akademi wanita pula, bukan di Jordan yang merupakan akademi pria. Sebelum keberangkatannya, Master Akademi Jordan memberinya sebuah Kompas Emas yang katanya merupakan milik Lord Asriel, serta berpesan agar menyembunyikan keberadaannya dari Mrs. Coulter.

Mulanya, Lyra menikmati kebersamaannya dengan Mrs. Coulter, sosok wanita dewasa pertama yang menjadi panutannya. Akan tetapi, lama-kelamaan Lyra merasa bahwa dia diarahkan demi suatu kepentingan. Kepentingan yang membahayakan Lord Asriel, dan berhubungan dengan para Pelahap, juga Debu. Dia memutuskan untuk melarikan diri. Beruntung dalam pelariannya, dia dibantu oleh para gipsi yang pernah berhutang budi pada Lord Asriel. Bersama-sama mereka menuju ke Utara, mencari Roger, anak seorang gipsi yang diculik, serta anak-anak yang lain jika memungkinkan, juga membebaskan Lord Asriel.

Dunia yang dikisahkan dalam buku ini adalah dunia yang berbeda, di sini setiap orang memiliki sebuah dæmon yang akan selalu bersamanya. Dæmon merupakan perwujudan dari jiwa manusia tersebut, orang-orang tanpa dæmon digambarkan seperti orang-orang yang tak berkepala—dan dalam kasus ini sangat mengerikan dan menjijikkan. Pada anak-anak, dæmon masih dapat berubah-ubah, dan setelah anak tersebut tumbuh dewasa, dæmon mereka pun berhenti berubah.

“Kenapa dæmon harus mengambil bentuk tetap?” tanya Lyra. “Aku ingin Pantalaimon bisa berubah selamanya. Ia juga sependapat.”
“Ah, mereka selalu mengambil bentuk tetap, dan mereka akan selalu begitu. Itu bagian dari tumbuh dewasa. Akan ada saatnya kau merasa bosan dengan perubahan-perubahannya, dan kau ingin ia tetap dalam satu bentuk tertentu.”
“Tidak akan pernah!”
“Oh, nanti kau pasti begitu. Kau pasti ingin tumbuh dewasa seperti semua gadis lainnya. Lagi pula, bentuk tetap ada untungnya.”
“Apa?”
“Kau jadi tahu otang macam apa dirimu. Ambil contoh Belisaria. Ia camar laut, dan itu berarti aku juga semacam camar laut. Aku tidak indah dan hebat atau cantik, tapi aku tangguh dan bisa bertahan hidup di mana saja serta selalu menemukan makanan dan teman. Itu ada gunanya diketahui. Dan waktu bentuk dæmonmu tetap nanti, kau juga akan tahu orang macam apa dirimu.”
“Tapi bagaimana kalau dæmonmu mengambil bentuk tetap yang tidak kausukai?”
“Yah, kalau begitu, kau jadi tidak puas, kan? Banyak orang yang ingin punya dæmon berbentuk singa, tapi mereka akhirnya mendapatkan dæmon berbentuk pudel. Dan sebelum mereka belajar untuk merasa puas dengan diri mereka sendiri, mereka akan sangat gelisah karenanya. Buang-buang perasaan saja, tindakan seperti itu.”
Tapi Lyra merasa ia tidak akan pernah tumbuh dewasa.
(p.208-9)

Ada kalanya kita ragu untuk menjadi dewasa, ragu untuk menetap pada suatu hal, tak yakin bisa meninggalkan fleksibilitas kehidupan yang selama ini membuat kita nyaman, memudahkan ‘pelarian’ saat hal tersebut diperlukan. Sebagaimana Lyra yang tak ingin tumbuh dewasa, karena khawatir tak puas dengan bentuk tetap dæmonnya.

Adapun Kompas Emas yang dimiliki Lyra adalah suatu alat yang mampu menjawab berbagai pertanyaan, perlu teknik khusus untuk membacanya, tetapi Lyra memiliki bakat alami untuk memahaminya.

Sebagai seorang anak perempuan, Lyra tidak dapat dikategorikan sebagai anak yang ‘manis’. Sejak masih tinggal di Oxford, dia suka menelusuri atap akademi bersama Roger, bermain perang dengan anak-anak lain, dan seringkali merusak gaunnya dalam permainan-permainan tersebut. Namun Lyra adalah anak yang cerdas, benaknya selalu menyimpan pertanyaan, nuraninya pun masih menyuarakan kebaikan, dia pemberani meski kadang nekat dan bertindak tanpa berpikir panjang.

Lyra tidak terbiasa bermuram durja; ia anak yang selalu optimis dan pragmatis, lagi pula, ia tidak imajinatif. Orang yang punya banyak imajinasi tak akan serius berpikir ada kemungkinan pergi sejauh ini untuk menyelamatkan temannya, Roger; atau setelah memikirkan kemungkinan itu, anak yang imajinatif akan langsung menemukan beberapa alasan mengapa rencana tersebut mustahil. Hanya karena seseorang terlatih berbohong tidak berarti ia punya imajinasi kuat. Banyak pembohong jagoan sama sekali tak punya imajinasi; itu alasan mengapa kebohongan mereka tampak meyakinkan, tanpa dosa. (p.305)

Gagasan itu melayang dan berpendar lembut seperti gelembung sabun. Lyra bahkan tak berani memandang langsung ke arah rencana itu karena khawatir gelembung tersebut akan pecah. Tapi ia kenal betul sifat-sifat suatu gagasan, dan ia membiarkan gagasan itu berpendar, mengalihkan pandangannya dan berpikir tentang hal lain. (p.408)

Dan pada akhirnya, ada harga yang harus dibayarkan oleh satu-dua kecerobohan. Tak semuanya berjalan sesuai dengan seharusnya.

Buku ini menurut saya dipenuhi oleh banyak sekali simbolisasi. Oleh karena saya membacanya pada usia dewasa, maka hal-hal tersirat yang dikemas melalui cerita anak-anak tetap terasa. Bagi saya, buku ini terkesan ‘penuh’, penuh kejadian, penuh karakter, penuh informasi, meski dinikmati ‘hanya’ sebagai buku anak biasa. Ada beberapa konten yang saya rasa terlalu dewasa untuk anak-anak, sehingga mungkin buku ini lebih tepat jika ditujukan untuk remaja.

“Itu tugas orang-orang tua,” Pustakawan menanggapi, “mencemaskan anak muda. Dan tugas anak muda untuk mengolok-olok kegelisahan orang tua.” (p.47)

Perjalanan Lyra ke Utara benar-benar memanjakan imajinasi kita tentang tempat-tempat yang disinggahinya. Salju, rasa dingin yang menusuk tulang, aurora, ketegangan perang melawan beruang berbaju besi, serta tempat-tempat yang menawarkan teknologi yang tak terduga sebelumnya. Penggambarannya cukup detail dan hidup.

3/5 bintang untuk keindahan Cahaya Utara.

Review #7 for Fantasy Reading Challenge 2013

Review #3 for Read Big!

FYE button

Sebagaimana saya singgung di atas, bahwa beberapa konten dalam buku ini lebih cocok untuk remaja, maka usia kelayakan baca sekitar 12 tahun ke atas.

Mio, My Son – Astrid Lindgren

mio anakkuTitle : Mio Anakku (Mio, Min Mio)
Author : Astrid Lindgren (1954)
Translator : Purnawati Olsson
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan pertama, Oktober 2005
Format : Paperback, 192 halaman

Bo Vilhelm Olsson bukanlah anak dari orang tuanya, melainkan anak yang diangkat dari panti asuhan. Sayangnya, orang tua angkatnya tak memperlakukan Bo alias Bosse dengan baik. Bosse hanya memiliki seorang teman, Benka. Sampai suatu hari, kejadian aneh membawanya ke Negeri nun Jauh. Dan ternyata, di Negeri nun Jauh, namanya adalah Mio, putra sang Raja.

Di Negeri nun Jauh, Mio merasakan kebahagiaan yang tak didapatkannya bersama orang tua angkatnya. Ayahnya, sang Raja, begitu memanjakannya dan memberikan apa yang dibutuhkan dan diinginkan Mio. Bukan hanya harta atau kesenangan, tapi juga kasih sayang yang tak terbatas.

“Aku suka suara kicau burung. Aku suka musik dari pohon-pohon poplar perakku. Tetapi yang paling kusukai adalah mendengar suara tawa anakku di Taman Mawar ini.” (p.30)

Di Negeri nun Jauh, Mio juga menemukan sahabat-sahabat baru; Jum-Jum, Miramis—kuda putih bersurai keemasan miliknya, Nonno si anak gembala, Jiri dan saudara-saudaranya. Akan tetapi, ada ganjalan dalam kebahagiaannya. Teror dari Kesatria Kato yang menculik anak-anak membawa Mio pada takdirnya untuk berkuda menembus Hutan Kemilau Bulan, menuju Dataran Luar, menghadapi Kesatria Kato.

Berhasilkah Mio mengemban misinya, dan apa saja yang harus dilaluinya?

Dongeng anak-anak ini merupakan dongeng indah yang cukup memanjakan imajinasi. Meskipun dengan sedikit bumbu nuansa kelam di dalamnya, cahaya, harapan, dan kebahagiaan tetap merupakan unsur utama dan tujuan akhir dari buku ini. Ditulis dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, kita diajak untuk melihat kehidupan dan perasaan Mio seolah-olah dari mulutnya sendiri. Mio yang selalu optimis dan berpikir positif karena pengaruh dan kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya, Mio yang meskipun telah bahagia di Negeri nun Jauh tak pernah melupakan sahabat terbaiknya—Benka dan ayahnya.

Salah satu hal menarik dalam buku ini adalah terdapatnya hal-hal yang mengingatkan saya dengan serial Harry Potter. Jubah Gaib yang mampu menyembunyikan penggunanya, ketegangan dan kegelapan yang ditimbulkan jika nama Kesatria Kato disebutkan, juga deskripsi ala dementor di bawah ini:

Aura jahatnya mengalir membungkus kami seperti sungai es, merayap ke wajah dan tangan kami seperti bara api, dan membuat mata kami pedih. Ketika kami menarik napas, perasaan jahat itu ikut masuk bersama udara ke paru-paru kami. Aura kejamnya mengalir memasuki tubuhku, dan aku menjadi sangat letih sehingga tidak kuat mengangkat pedangku meskipun sudah berusaha sekuat tenaga. (p.149)

Alur dalam buku ini berjalan lambat, namun saya rasa hal itulah yang menjadi keunggulan buku ini. Oleh karena penulis memberikan ruang yang sangat besar untuk mendeskripsikan latar tempat, kejadian, serta pemikiran-pemikiran di dalamnya, yang selain memperkaya wawasan bahasa anak-anak, juga sangat cocok untuk dinikmati perlahan-lahan. Tak ketinggalan pula beberapa ilustrasi sederhana di dalamnya, cukup untuk memberi bayangan mengenai adegan-adegan penting dalam cerita.

4/5 bintang untuk dongeng dari Negeri nun Jauh.

Review #6 for Fantasy Reading Challenge 2013

*Posting bersama BBI Juli (1) Buku anak, boleh bergambar atau tidak. Buku-buku yang dulu menjadi favorit semasa kecil atau remaja.

FYE button

Cukup bisa dipahami dan dinikmati oleh anak usia 8 tahun, meski dengan unsur-unsur gelapnya.

Harry Potter and the Order of the Phoenix – J. K. Rowling

HP5Title : Harry Potter and the Order of the Phoenix (Harry Potter #5)
Author : J. K. Rowling (2003)
Format : ebook

(Review Harry Potter #4)

And now the Sorting Hat is here
And you all know the score:
I sort you into houses
Because that is what I’m for,
But this year I’ll go further,
Listen closely to my song:
Though condemned I am to split you
Still I worry that it’s wrong,
Though I must fulfill my duty And must quarter every year
Still I wonder whether Sorting
May not bring the end I fear.
Oh, know the perils, read the signs,
The warning history shows,
For our Hogwarts is in danger
From external, deadly foes
And we must unite inside her
Or we’ll crumble from within
I have told you, I have warned you…
Let the Sorting now begin.

Liburan musim panas memang selalu buruk bagi Harry semenjak dia bersekolah di Hogwarts, karena dia harus kembali ke rumah keluarga Dursley. Namun liburan kali ini lebih menyiksa bagi Harry karena tak ada berita dari teman-temannya. Kembalinya Voldemort dan pemberitaan Daily Prophet yang ‘biasa-biasa’ saja terasa aneh dan tak cocok dengan apa yang diperkirakannya. Menunggu dan tak tahu apa-apa membuat emosi remajanya semakin tak stabil. Keadaan diperparah oleh hadirnya dua Dementor yang nyaris membunuh Dudley—sepupu Harry—di Little Winging, dan dia baru mengetahui bahwa selama ini dia diawasi atas perintah Dumbledore.

Dengan pertimbangan bahwa Harry sudah tak aman lagi di Privet Drive, dia dibawa oleh serombongan Auror—pemburu Death Eater—ke markas Orde Phoenix (the Order of the Phoenix) yang terletak di Grimmauld Place nomor 12, yang tak lain dan tak bukan adalah rumah milik Sirius Black. Orde Phoenix merupakan kelompok rahasia yang telah terbentuk sejak kejayaan Voldemort di masa lalu. Anggotanya adalah para Auror yang baru diperkenalkan di buku ini (favorit saya adalah Nymphadora Tonks, perempuan super yang stylish), juga Alastor Moody yang pernah ‘muncul’ di buku sebelumnya, Remus Lupin, Sirius Black, Professor McGonagall, Professor Snape, Arthur Weasley, Hagrid, dan tentunya Professor Dumbledore (serta beberapa nama yang terlewat). Selain anggota Orde–apalagi Harry dan lainnya yang masih bersekolah dan di bawah umur–tak dilibatkan dalam pembicaraan-pembicaraan penting mereka.

Di Grimmauld Place ini Harry mengetahui silsilah keluarga Black, latar belakang Sirius, dan keadaan keluarga Black yang tersisa (yang akan berhubungan dengan kisah selanjutnya). Harry juga memahami bahwa dunia sihir belum siap menerima berita kembalinya Voldemort yang dibawanya akhir tahun ajaran lalu, bahwa Kementerian Sihir sendiri yang memastikan bahwa berita itu tak dianggap serius (reaksi Menteri Cornelius Fudge bisa dilihat di sini). Bahkan Albus Dumbledore yang sangat disegani pun mendapatkan celaan dan fitnah hingga beberapa gelar kehormatannya dicabut. Hal lain yang tak kalah menyakitkan adalah Percy Weasley yang ikut-ikutan mengkritisi ayahnya sehingga pertengkaran dalam keluarga Weasley pun terjadi.

Di Hogwarts, keadaan tak jauh berbeda. Hanya sedikit yang mempercayai Harry dan kesaksiannya atas kembalinya Voldemort. Keadaan ini membuatnya semakin mudah marah, bahkan Ron dan Hermione tak luput dari teriakan-teriakannya, meski dia tak bermaksud untuk marah pada mereka. Di hari-hari ini, emosi Harry sangat mudah tersulut, terlebih dengan bekas lukanya yang semakin sering terasa nyeri dan mimpi-mimpi aneh dimana dia menelusuri sebuah lorong yang sama setiap malam.

He was sick of it; sick of being the person who was stared at and talked about all the time. If any of them knew, if any of them had the faintest idea what it felt like to be the one all these things had happened to…

Hogwarts kedatangan guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam yang baru, Dolores Umbridge, dari Kementerian Sihir. Di sana, dia memastikan bahwa pelajaran Hogwarts sesuai dengan apa yang diinginkan Kementerian Sihir, jangan sampai ada celah bagi para murid untuk mempelajari hal-hal yang bisa mereka pergunakan untuk melawan kementerian. Tokoh Umbridge ini digambarkan dengan cardigan pink, bermulut manis, tapi sesungguhnya dia lebih kejam daripada siapapun yang pernah ada di Hogwarts. Kelas Umbridge hanya diisi dengan membaca buku, tak boleh ada tongkat sihir. Hal ini menimbulkan keresahan, terutama bagi Harry, Ron dan Hermione. Di samping karena ini adalah tahun OWL (Ordinary Wizarding Level) bagi mereka, yang akan menentukan karir di kemudian hari, juga mereka merasa perlu mempersiapkan diri menghadapi dunia luar, terlebih saat ini. ‘Perlawanan’ Harry berupa protes dan sarkasme berbuah detensi yang kejam dan sangat ‘membekas’.

“Do you really think this is about truth or lies? It’s about keeping your head down and your temper under control!” –Minerva McGonagall

Atas dasar inilah, Hermione mengumpulkan beberapa murid untuk belajar Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam secara diam-diam. Mereka mendeklarasikan diri sebagai Dumbledore’s Army (D.A.) atau Laskar Dumbledore.

Saya suka bagaimana para guru Hogwarts bersatu dengan cara yang halus dan tidak memprovokasi, namun cukup memberi ‘pelajaran’ bagi Umbridge. Apalagi Professor McGonagall yang selama ini terkenal sangat disiplin, beberapa kali memberi pelajaran pada Umbridge dengan caranya sendiri, yang selalu membuat saya mengidolakannya lebih daripada biasanya.

“I wonder,” said Professor McGonagall in cold fury, turning on Professor Umbridge, “how you expect to gain an idea of my usual teaching methods if you continue to interrupt me? You see, I do not generally permit people to talk when I am talking.”

“Thank you so much, Professor!” said Professor Flitwick in his squeaky little voice. “I could have got rid of the sparklers myself, of course, but I wasn’t sure whether or not I had the authority.”

“I’m terribly sorry to have to contradict you, Minerva, but as you will see from my note, Harry has been achieving very poor results in his classes with me -”
“I should have made my meaning plainer,” said Professor McGonagall, turning at last to look Umbridge directly in the eyes. “He has achieved high marks in all Defense Against the Dark Arts tests set by a competent teacher.”

Ron masuk ke tim Quidditch. Ron mulai menunjukkan kekaguman pada Hermione (meski belum seserius yang dapat terjadi). Berbeda dengan Harry yang menunjukkan gejala romansa remaja pada Cho Chang, salah satu murid Ravenclaw.

“Hermione, you are honestly the most wonderful person I’ve ever met,” said Ron weakly, “and if I’m ever rude to you again -”
“- I’ll know you’re back to normal,” said Hermione.

Buku ini mengeksplorasi lebih banyak karakter ‘sampingan’ lain. Seperti Neville Longbottom yang kali ini digambarkan mengalami transformasi yang menunjukkan bahwa dia memang adalah Gryffindor sejati. Ada Luna Lovegood yang dianggap aneh, tapi sebenarnya memiliki pola pikir yang luar biasa, serta selalu bersikap apa adanya. Juga akan ada rahasia mengapa Sibyll Trelawney dipertahankan di Hogwarts, padahal jelas semua orang tahu kemampuannya (atau ketidakmampuannya).

“Sibyll Trelawney may have Seen, I do not know,” continued Firenze, and Harry heard the swishing of his tail again as he walked up and down before them, “but she wastes her time, in the main, on the self-flattering nonsense humans call fortune-telling. I, however, am here to explain the wisdom of centaurs, which is impersonal and impartial. We watch the skies for the great tides of evil or change that are sometimes marked there. It may take ten years to be sure of what we are seeing.”

Fred dan George dengan ‘penelitian-penelitian’nya untuk Weasleys’ Wizarding Wheezes, membantu sekolah untuk menghadapi Hogwarts. Juga jalan hidup mereka yang tidak biasa pada akhirnya, namun akan sangat dihargai di kemudian hari.

“One day,” said Hermione, sounding thoroughly exasperated, “you’ll read Hogwarts: A History, and perhaps it will remind you that you can’t Apparate or Disapparate inside Hogwarts. Even Voldemort couldn’t just make you fly out of your dormitory, Harry.”

Seperti sudah saya singgung, bahwa Harry mengalami mimpi-mimpi yang dicurigainya berhubungan dengan apa yang sedang dirasakan oleh Voldemort, serta di tempat disembunyikannya sesuatu yang diincar oleh Voldemort. Dumbledore pun merasa perlu untuk melindungi Harry dengan memerintahkan Professor Snape mengajari Harry Occlumency—ilmu untuk menutup pikiran, sehubungan dengan kekhawatiran bahwa Voldemort dapat masuk dan menguasai pikiran Harry.

I’m just getting flashes of what mood he’s in. –Harry Potter

“… he’s got other plans… plans he can put into operation very quietly indeed… stuff he can only get by stealth… like a weapon. Something he didn’t have last time.”

“Only Muggles talk of ‘mind-reading’. The mind is not a book, to be opened at will and examined at leisure. Thoughts are not etched on the inside of skulls, to be perused by any invader. The mind is a complex and many-layered thing, Potter – or at least, most minds are.” –Severus Snape

Pelajaran yang tidak mudah bagi Harry, selain karena gurunya adalah musuh bebuyutannya (dan ayahnya, serta Sirius), Harry tampak setengah hati menutup pikirannya dari mimpi-mimpi yang membuatnya penasaran.

“Fools who wear their hearts proudly on their sleeves, who cannot control their emotions, who wallow in sad memories and allow themselves to be provoked so easily – weak people, in other words – they stand no chance against his powers! He will penetrate your mind with absurd ease, Potter!” –Severus Snape

Di antara ketujuh buku Harry Potter yang saya baca beberapa tahun lalu, saya ingat buku kelima ini yang paling membuat saya sedih. Waktu itu mungkin karena saya masih merasakan emosi yang sama dengan Harry Potter. Pada pembacaan ulang ini, kebiasaan buruk saya muncul, berharap bahwa ceritanya bisa berubah karena saya sudah tahu ‘rahasia’nya. Tapi tentu saja itu tidak mungkin. Kesalahan-kesalahan yang tidak perlu, yang berujung pada penyesalan selamanya, ending yang sangat menyesakkan. Dan harga itu harus dibayar oleh Harry karena kecerobohannya, karena ketidakstabilan emosinya, karena arogansi yang diwarisi dari ayahnya ditambah kebaikan hati yang diwarisi dari ibunya.

“You know,” said Phineas Nigellus, even more loudly than Harry “this is precisely why I loathed being a teacher! Young people are so infernally convinced that they are absolutely right about everything. Has it not occurred to you, my poor puffed-up popinjay, that there might be an excellent reason why the Headmaster of Hogwarts is not confiding every tiny detail of his plans to you? Have you never paused, while feeling hard-done-by, to note that following Dumbledores orders has never yet led you into harm? No. No, like all young people, you are quite sure that you alone feel and think, you alone recognize danger, you alone are the only one clever enough to realize what the Dark Lord may be planning -”

Saya tidak menyalahkan fluktuasi hormon Harry, ataupun kenyataan bahwa Harry berbeda dan selalu diperlakukan berbeda dengan anak lain. Jalan hidupnya tak mudah, emosi yang ditunjukkannya adalah pilihannya, dan konsekuensi yang ditanggungnya akan membantunya untuk tumbuh dewasa. Saya rasa pesan ini penting, dan penulis tak luput untuk memasukkan sisi manusiawi (atau remajawi?) ini pada sosok pahlawan rekaannya.

Dan sekali lagi, saya selalu dibuat kagum oleh Professor Dumbledore. Di akhir, beliau menunjukkan kerendahan hati yang luar biasa dengan membebankan seluruh kesalahan pada dirinya sendiri, melindungi Harry begitu kuatnya.

“Youth cannot know how age thinks and feels. But old men are guilty if they forget what it was to be young… and I seem to have forgotten, lately…” –Albus Dumbledore

“I cared about you too much,” said Dumbledore simply. “I cared more for your happiness than your knowing the truth, more for your peace of mind than my plan, more for your life than the lives that might be lost if the plan failed. In other words, I acted exactly as Voldemort expects we fools who love to act.

hotter-potter-logo-15/5 bintang untuk kebenaran yang pahit.

“…the world isn’t split into good people and Death Eaters,” –Sirius Black

Review #6 for Hotter Potter

Review #12 for Books in English Reading Challenge 2013

Review #9 for What’s in a Name Challenge 2013

FYE buttonSemakin gelap, semakin mengarah kepada remaja-dewasa. Menurut saya mulai usia 14-15 tahun seharusnya sanggup menerimanya.

Charlotte’s Web – E. B. White

charlottes webTitle : Charlotte’s Web
Author : E. B. White (1952)
Publisher : Scholastic Inc.
Format : Paperback, 184 pages

Kisah ini dimulai ketika Fern Arable menyelamatkan seekor anak babi kerdil yang hendak dibunuh ayahnya karena dianggap akan menyusahkan di kemudian hari.

“But it’s unfair. The pig couldn’t help being born small, could it? If I had been very small at birth, would you have killed me?” (p.3)

Jadilah babi kecil itu diserahkan kepada Fern untuk dirawatnya sendiri. Dia memberinya nama Wilbur. Fern mengasuhnya seperti anak manusia, memberinya makan, mengajaknya bermain bersama bonekanya, hingga usia Wilbur mencapai lima minggu, dia harus dijual karena perawatannya semakin sulit dan makannya semakin banyak. Wilbur pun pindah ke peternakan Zuckerman, dimana Fern masih menengoknya setiap hari.

Waktu berlalu, ada kalanya Wilbur merasa  kesepian saat Fern tak menengoknya. Kemudian dia bertemu dengan Charlotte, seekor laba-laba yang bersedia menjadi temannya. Wilbur sangat memuja Charlotte, baginya Charlotte bukan hanya teman, sahabat, tapi juga penghibur dan pelindungnya. Saat Wilbur mendengar kenyataan bahwa suatu ketika dia akan berakhir menjadi makanan bagi keluarga Zuckerman, Charlotte juga yang berjanji akan menolongnya.

Charlotte memiliki caranya, dia memintal jaring-jaringnya membentuk huruf yang terbaca “some pig” di pintu kandang Wilbur. Saat pagi datang, dengan sinar matahari yang baru muncul dan kemilau air dari pagi yang berkabut, jaring-jaring Charlotte menarik perhatian manusia di sekitarnya. Wilbur pun dinobatkan sebagai suatu keajaiban. Terlebih dengan ‘jaring berkata’ yang akan dibuatkan Charlotte selanjutnya, Wilbur menjadi babi yang bernilai lebih di mata Zuckerman.

Fabel ini sungguh dipenuhi oleh perumpamaan-perumpamaan yang menggelitik. Sebagaimana yang disebutkan oleh Fern, bagaimana kita terlalu memandang rendah sesuatu (atau seseorang) yang lahir ‘tidak normal’, padahal tak ada yang tahu apa yang bisa terjadi padanya di kemudian hari, seandainya dia diberi kesempatan lebih, minimal sama, dengan yang lainnya.

Ada juga bagian di saat Wilbur mengalami kebosanan yang memuncak dan berniat kabur dari kandang. Sebelum sempat berhasil, Wilbur telah kelelahan menghindari kejaran pemiliknya. Dia belum berhasil, dia kelelahan, bingung, dan lapar. Makanan yang diumpankan padanya menjadi jaminan kenyamanannya kembali, pelarian bukan lagi menjadi pilihannya. Bagian ini kurang lebih sama seperti kita. Ada kalanya kita bosan dengan rutinitas, dengan segala yang mengekang kita. Akan tetapi, di luar sana tak ada kenyamanan itu. Zona aman kita berada di rutinitas itu, butuh tekad, kemauan dan usaha yang lebih daripada yang dimiliki Wilbur untuk keluar. Namun, akankah itu sepadan? Bolehlah kita berkaca sejenak pada Wilbur.

Dalam kasus jaring Charlotte, kita ditunjukkan bagaimana manusia seringkali terfokus pada sesuatu yang di luar kebiasaan. Laba-laba membuat jaring itu sudah biasa, yang tidak biasa adalah laba-laba yang menulis dengan jaring. Namun, sesungguhnya jika kita mau membuka mata, keajaiban selalu ada di sekitar kita, dalam hal-hal yang ‘biasa’, hingga luput dari pengamatan kita.

“I don’t understand how a spider learned to spin a web in the first place. When the words appeared, everyone said they were a miracle. But nobody pointed out that the web itself is a miracle.” (p.109)

Kemunculan Charlotte sebagai sosok yang lebih ‘dewasa’ daripada Wilbur memberi banyak nilai dalam kehidupan Wilbur, juga kita sebagai pembaca. Awalnya, saya heran dengan pemberian judul Charlotte’s Web ini, padahal sesungguhnya tokoh utama dalam buku ini adalah Wilbur, si babi. Namun, sampai akhir saya menyadari betapa besar peran Charlotte dalam hidup Wilbur, dalam pendewasaannya, dan dalam keseluruhan konflik di dalam buku. Kita bisa melihat diri kita pada Wilbur, kita bisa melihat diri orang-orang penting dalam hidup kita—yang suatu ketika datang tak terduga—pada Charlotte. Atau mungkin, ada kalanya kita menjadi Charlotte pada Wilbur lain, dan kita belajar arti keikhlasan dan ketulusan pada sang laba-laba.

“Why did you do all this for me?” he asked. “ I don’t deserve it. I’ve never done anything for you.”
“You have been my friend,” replied Charlotte. “That in itself is a tremendous thing. I wove my webs for you because I liked you. After all, what’s a life, anyway? We’re born, we live a little while, we die. A spider’s life can’t help being something of a mess, with all this trapping and eating flies. By helping you, perhaps I was trying to lift up my life a trifle. Heaven knows anyone’s life can stand a little of that.”
(p.164)

4/5 bintang untuk kontemplasi dan retrospeksi.

Review #11 for Books in English Reading Challenge 2013

Review #5 for Fantasy Reading Challenge 2013

*Posting bersama BBI Mei (1) Klasik-kontemporer, buku-buku yang ditulis di abad 20 atau 21 dan telah menjadi klasik, atau buku-buku klasik yang mengangkat tema modern.

FYE button

Saya rasa usia 8 tahun cukup untuk menangkap makna tersurat dalam buku ini.

Harry Potter and the Goblet of Fire – J. K. Rowling

hp4Title : Harry Potter and the Goblet of Fire (Harry Potter #4)
Author : J. K. Rowling (2000)
Format : ebook

(Review Harry Potter #3)

He was used to bizarre accidents and injuries; they were unavoidable if you attended Hogwarts School of Witchcraft and Wizardry and had a knack for attracting a lot of trouble.

Dalam buku ini, bahkan sebelum menginjakkan kaki di Hogwarts, sudah ada masalah yang menyambut Harry. Berawal dari mimpi, dimana Harry merasa berada di tempat yang sama dengan Lord Voldemort, mendengar percakapannya dengan Wormtail tentang perencanaan pembunuhannya, diakhiri dengan rasa sakit di bekas lukanya sehingga dia terbangun. Kepahitan pertama di awal kisah, dimana kita diingatkan kembali bagaimana ‘sendiri’nya Harry di rumah Dursley, keluarganya yang tersisa. Meskipun dikatakan bahwa The Weasleys were Harry’s favorite family in the world; namun rasanya berita ini terlalu ‘besar’ jika disampaikan pada mereka, maupun kedua sahabatnya, Ron dan Hermione.

What he really wanted (and it felt almost shameful to admit it to himself) was someone like – someone like a parent: an adult wizard whose advice he could ask without feeling stupid, someone who cared about him, who had had experience with Dark Magic….

Kemudian dia teringat bahwa dia memiliki ayah angkat, Sirius Black. Sejak kemunculannya yang diceritakan di buku ketiga, pada buku ini peranan Sirius menjadi cukup penting bagi Harry. Selain sebagai tempat mencurahkan segala masalahnya, Sirius juga tahu apa yang harus dilakukan dan mengerti bahaya apa yang dihadapi Harry, lebih dari siapa pun—selain Dumbledore tentunya.

Dalam tahun itu juga ada Quidditch World Cup, Harry pun berkesempatan untuk menontonnya bersama dengan keluarga Weasley. Dalam kesempatan tersebut, untuk pertama kalinya Harry menemui  Charlie dan Bill Weasley, dua kakak tertua Ron. Ayah Ron yang bekerja di kementerian sihir, juga Percy yang baru saja lulus dari Hogwarts, memberi Harry gambaran—baik secara langsung maupun diceritakan oleh Ron—mengenai orang-orang penting di kementerian, jabatan apa saja dan apa yang dikerjakan oleh kementerian sihir. Termasuk dunia sihir secara internasional, yang merupakan hal baru bagi Harry yang semenjak kecil dibesarkan oleh Muggle (plus sangat anti-sihir). Pada malam seusai final Quidditch World Cup, terjadi kekacauan. Sekelompok penyihir dengan topeng yang merupakan Death Eater (pengikut Lord Voldemort) muncul dan pada puncaknya, muncul the Dark Mark, yang dulunya adalah tanda bahwa Voldemort dan pengikutnya melakukan pembunuhan.

Kekacauan rasanya belum cukup buruk bila belum dipoles kembali oleh media. Munculnya reporter, yang lebih cocok disebut sebagai tukang gosip, bernama Rita Skeeter, memperburuk semua yang telah buruk. Pada awalnya, dia mengusik kementerian dengan pemberitaan yang tidak berimbang dan dipenuhi spekulasi yang dibuat-buat.

“there certainly will be rumors now she’s printed that.” –Arthur Weasley

Tidak berhenti di situ, sepanjang buku ini, dia akan mewarnai media massa dengan berita yang tidak bertanggung jawab. Berbekal Quick-Quotes Quill yang mampu menulis sendiri sementara kita berbicara, Skeeter membuat berita sensasional yang kebenarannya dipelintir sedemikian rupa sehingga segala hal menjadi buruk. (Lebih baik Quick-Quotes Quill buat saya saja, lebih berguna). Merasa tidak asing? Yup, setidaknya Madam Rowling memperingatkan kita untuk lebih berhati-hati dalam menerima berita dari media massa, seterkenal apa pun media massa itu (Daily Prophet! Hampir semua penyihir berlangganan, namun nyatanya berita sampah Skeeter lolos juga).

Event besar pun menunggu di Hogwarts. Tahun ini diselenggarakan Turnamen Triwizard, yang melibatkan tiga sekolah sihir: Hogwarts, Durmstrang, dan Beauxbatons. Masing-masing sekolah akan dipilih seorang pemenang oleh Piala Api (the Goblet of Fire). Oleh karena turnamen ini sempat memakan korban, maka diputuskan bahwa batasan usia untuk mengikuti turnamen ini adalah 17 tahun. Namun kejutan muncul saat piala telah memuntahkan tiga nama pemenang dari ketiga sekolah tersebut, muncul nama keempat yang sangat kontroversial : Harry Potter.

Tidak ada yang tahu siapa yang memasukkan nama Harry dalam Piala Api, yang jelas bukan dirinya sendiri karena Dumbledore telah memasang sihir pelindung agar hanya penyihir di atas 17 tahun yang dapat memasukkan nama ke Piala Api. Banyak yang tak setuju dengan adanya dua pemenang dari Hogwarts, namun tak ada yang bisa dilakukan, karena setiap nama yang keluar dari Piala Api telah terikat kontrak sihir untuk menyelesaikan tugasnya di turnamen.

Pro-kontra di dalam Hogwarts sendiri tak terelakkan, kebanyakan beranggapan buruk terhadap Harry, kecuali teman-teman seasrama Gryffindor yang tak peduli asalkan pemenangnya dari asrama mereka, karena pemenang Hogwarts sebenarnya, yang terpilih di awal adalah Cedric Diggory dari Hafflepuff. Pengucilan bukan hal baru bagi Harry, yang baru adalah kenyataan bahwa Ron, sahabatnya sendiri, tak mau berbicara dengannya. Ron yang merasa selalu tampak ‘inferior’ di samping Harry tampaknya cemburu atas apa yang diraih Harry. Hanya Hermione yang percaya bahwa masuknya Harry dalam Turnamen Triwizard adalah rencana seseorang untuk mencelakakannya.

Harry liked Hermione very much, but she just wasn’t the same as Ron. There was much hess laughter and a lot more hanging around in the library when Hermione was your best friend.

Sekali lagi ujian persahabatan harus dilalui oleh mereka. Suatu hal yang pasti terjadi dalam hubungan yang bersifat jangka panjang.

Selain persahabatan, untuk remaja 14 tahun, cinta monyet adalah menu yang wajar. Terlebih dengan adanya momen Yule Ball, yang boleh diikuti oleh siswa tingkat empat ke atas, membuat mereka mulai ‘melihat’ dengan siapa mereka ingin pergi ke pesta dansa. Meski masing-masing tak berhasil pergi dengan pasangan yang mereka inginkan, Harry dan Ron terlihat telah merasakan perasaan yang (mendekati) cinta dan cemburu.

“Just because it’s taken you three years to notice, Ron, doesn’t mean no one else has spotted I’m a girl!”

“Next time there’s a ball, ask me before someone else does, and not as a last resort!”

Guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam yang (selalu) baru, Alastor ‘Mad-Eye’ Moody memberi suasana yang berbeda. Sebagai mantan Auror (pemburu Death Eater), agak paranoid (CONSTANT VIGILANCE!), tapi metode mengajarnya sangat disukai. Dia mengajarkan banyak hal baru, termasuk tiga Unforgivable Curses sebagai pengetahuan untuk menghadapi apa pun yang terjadi di luar sana. Perseteruannya dengan Snape—mengingat reputasi Moody—menguatkan prasangka Harry dan Ron atas hal buruk tentang guru yang paling tak disukai (dan tak menyukai Harry).

“I don’t care what Moody says,” Hermione went on. “Dumbledore’s not stupid. He was right to trust Hagrid and Professor Lupin, even though loads of people wouldn’t have given them jobs, so why shouldn’t he be right about Snape, even if Snape is a bit -“
“- evil,” said Ron promptly.

Perkenalan Harry dengan Pensieve milik Dumbledore, secara tak sengaja menguak keterlibatan beberapa orang di sekitarnya saat ini dengan penyihir hitam di masa lampau. Di dalam Pensieve tersebut, Dumbledore sedang ‘menata’ ingatannya, membantunya untuk melihat sesuatu yang terlewatkan olehnya.

Spekulasi tak terelakkan dari segala kejadian aneh yang menimpa Harry adalah rencana besar yang melibatkan Voldemort. Tapi apa? Bagaimana? Melalui siapa?

“Wormtail, I need somebody with brains, somebody whose loyalty has never wavered, and you, unfortunately, fulfill neither requirement.” –Lord Voldemort

*SLIGHTLY SPOILERS*

Melalui jalan yang tak tertebak, dan melalui orang yang tak terduga, jebakan Voldemort berhasil memancing Harry dan mengawali kebangkitan kembali Voldemort serta kekuatan dan kejahatannya. Namun tanpa adanya saksi yang dapat meyakinkan Menteri Sihir, Cornelius Fudge, dengan alasan keguncangan bagi kedamaian yang telah tercipta, Fudge memutuskan untuk tak memercayai bahwa Voldemort telah bangkit, bahwa harus ada usaha untuk melindungi dunia sihir dari kekacauan yang seperti belasan tahun silam.

“we have reached a parting of the ways. You must act as you see fit. And I – I shall act as I see fit.”

 “It is my belief, however, that the truth is generally preferable to lies, and that any attempt to pretend that Cedric died as the result of an accident, or some sort of blunder of his own, is an insult to his memory.”

“Remember Cedric. Remember, if the time should come when you have to make a choice between what is right and what is easy, remember what happened to a boy who was good, and kind, and brave, because he strayed across the path of Lord Voldemort. Remember Cedric Diggory.”

–Albus Dumbledore

*END OF SPOILERS*

Pada akhirnya, di sinilah salah satu titik balik pendewasaan Harry. Melawan ketakutan dan perasaan bersalah, serta bersiap untuk menghadapi hal buruk apa pun di masa yang akan mendatang.

“Understanding is the first step to acceptance, and only with acceptance can there be recovery. He needs to know who has put him through the ordeal he has suffered tonight, and why,”

Numbing the pain for a while will make it worse when you finally feel it.

–Albus Dumbledore

Oleh karena tampaknya telah menjadi takdir Harry Potter untuk menjadi orang yang istimewa, orang yang terpilih, the boy who lived, sehingga masa kanak-kanak dan remajanya tak dapat seperti teman-temannya yang lain. Dan dia tak bisa memilih.

What wouldn’t he have given to be one of these people, sitting around laughing and talking, with nothing to worry about but homework?

Hal-hal menarik lain dalam buku ini adalah konsep ‘perbudakan’ yang diangkat oleh Hermione menyangkut Peri Rumah. Di sisi lain, kesetiaan ‘buta’ Peri Rumah meski diperlakukan semena-mena oleh majikannya.

“If you want to know what a mans like, take a good look at how he treats his inferiors, not his equals.” –Sirius Black

Juga usaha Fred dan George untuk menghasilkan uang dan memanfaatkan kreativitas dan bakat mereka untuk membuat toko lelucon, yang ditentang oleh ibu mereka. Saya suka dengan prinsip si kembar yang tak terpaku pada standar yang diyakini oleh kebanyakan orang. Mereka tak yakin dapat menjadi sepandai ketiga kakak mereka dan memperoleh pekerjaan cemerlang yang diimpikan kebanyakan orang, tapi keduanya membuka jalan bagi diri mereka sendiri. Mereka berwiraswasta—meski dengan hal yang kelihatan sepele—tapi dengan serius sehingga tak diragukan mereka bisa meraih keberhasilan dengan cara yang berbeda.

Sehubungan dengan meme bulan ini mengenai buku, tak lengkap rasanya jika tak menyinggung buku ‘andalan’ Hermione, buku terpenting bagi yang ingin mengetahui seluk-beluk Hogwarts.

“Aren’t you two ever going to read Hogwarts, A History?”
“What’s the point?” said Ron. “You know it by heart, we can just ask you.”

Satu lagi fakta menarik tentang Invisibility Cloak, ternyata ada seseorang dalam kisah ini yang memilikinya selain Harry. Apakah ini berarti bahwa Cloak of Invisibility yang sesungguhnya, yang diceritakan dalam The Tale of the Three Brothers bukanlah jubah yang sama dengan yang dimiliki Harry? Ataukah dongeng Beedle itu yang memang sekadar dongeng? (Ingatkan saya untuk memberi kesimpulan seusai membaca kembali buku #7)

“Curiosity is not a sin,” he said. “But we should exercise caution with our curiosity. . . yes, indeed …”

Satu hal yang baru saya sadari di buku keempat ini adalah bagaimana J. K. Rowling menjaga sudut pandang yang digunakan tetap berdasarkan sudut pandang Harry Potter, meski diceritakan menggunakan sudut pandang orang ketiga (sudut pandang orang ketiga terbatas). Hal ini saya sadari karena setiap penulis ingin menyampaikan rencana Voldemort, dua kali melalui mimpi Harry. Kalau saya tidak salah,ini juga berlaku di buku sebelumnya, kecuali pada buku pertama, bagian awal, sebelum kehadiran sosok Harry.

hotter-potter-logo-15/5 bintang untuk buku yang mendorong saya untuk tak melewatkan setiap detailnya.

You place too much importance, and you always have done, on the so-called purity of blood! You fail to recognize that it matters not what someone is born, but what they grow to be!

Review #5 for Hotter Potter

Review #10 for Books in English Reading Challenge 2013

Review #8 for What’s in a Name Challenge 2013

FYE buttonMulai ada bumbu-bumbu cinta monyet, aroma kematian yang lebih ‘menakutkan’, usia 13 tahun sudah cukup ‘tua’ untuk ini.