Tag Archives: kumpulan cerpen

The Jungle Book – Rudyard Kipling

jungle bookTitle : The Jungle Book
Author : Rudyard Kipling (1894)
Translator : Anggun Prameswari
Editor : Jia Effendi & Fenty Nadia
Publisher : Penerbit Atria
Edition : Cetakan I, September 2011
Format : Paperback, 240 pages

Salah satu indahnya Hukum Rimba adalah hukuman adil untuk semua pihak. Tidak ada yang menggerutu kesal setelahnya. (p.87)

The Jungle Book adalah kumpulan kisah tentang hewan, terutama hewan liar. Kebanyakan berupa fabel, tetapi ada juga yang bukan seperti kisah Toomai Sang Penakluk Gajah. Tak hanya cerita pendek, buku ini juga dihiasi puisi/syair bertema sama, dan seringkali berhubungan dengan kisah yang akan atau telah diceritakan.

Menyebutkan The Jungle Book mau tak mau mengingatkan kita pada Mowgli, karakter dan kisah yang sering diangkat dalam berbagai adaptasi buku ini. Kenyataannya memang kisah Mowgli cukup dominan dalam buku ini. Dalam terjemahan yang saya baca ini, ada tiga kisah Mowgli, mulai dari masa kecil saat dia mulai masuk dalam kawanan serigala, saat belajar bersama Baloo sang beruang dan Bagheera sang macan kumbang, kenakalan-kenakalannya, sampai pada menghadapi musuh bebuyutannya, Shere Khan sang harimau. Dalam kisah-kisah Mowgli, suasana hutan serta hukum rimba yang berlaku di dalamnya digambarkan dengan mendetail, terutama karena nasib bocah itu bergantung pada pemahaman hewan-hewan tersebut terhadap hukum rimba serta kecerdikan pelaksanaannya.

Cerita-cerita lain pada pokoknya hampir serupa, yaitu kisah tentang keberanian, kecerdikan, serta kegigihan. Seperti anjing laut dalam kisah Anjing Laut Putih yang berani meninggalkan kebiasaan demi keamanan, Rikki-Tikki-Tavi si mongoose yang dengan penuh keberanian dan kecerdikan melindungi manusia penolongnya dari ular kobra, serta Toomai yang pada awalnya diremehkan tetapi ternyata sanggup melakukan sesuatu yang di luar dugaan. Sebagaimana fabel pada umumnya, hewan-hewan yang diceritakan sedikit banyak memiliki sifat manusiawi, yang bisa jadi menyindir manusia, atau sekadar menunjukkan hakikat naluri manusia. Di luar itu, ada juga bagian saat penulis secara terang-terangan menyampaikan hal itu.

Darzee adalah sahabat kecil dengan otak yang sama ringannya yang tidak bisa mencerna lebih dari satu ide bersamaan di dalam kepalanya. Dan karena ia tahu anak-anak Nagaina akan segera menetas seperti anak-anaknya, awalnya ia berpikir tidak adil kalau anak-anak Nag harus dihabisi. Tapi, istrinya adalah burung yang cerdas dan ia tahu telur-telur kobra nantinya akan menjadi kobra-kobra muda. Jadi, ia terbang meninggalkan sarang dan membiarkan Darzee untuk menjaga agar anak-anaknya tetap hangat dan melanjutkan nyanyiannya tentang kematian Nag. Darzee mirip seperti manusia dalam beberapa hal. (p.188)

Sebagian besar kisah dalam terjemahan The First Jungle Book ini berlatar di India, dan kemungkinan besar memang penulis terinspirasi dari masa hidupnya di negeri tersebut. India yang sangat berbeda karakteristiknya dengan negara asal penulis memberikan ide-ide tersendiri mengenai hidup dan manusia.

Saya suka sekali terjemahan ini. Selain berhasil mempertahankan suasana dan aliran kisah, beberapa pilihan katanya juga indah, yang saya sadari sejak saya menemukan kata Ranah Bengkalai, termasuk bagaimana penerjemah dapat mempertahankan rima dalam sajak-sajak di dalam buku ini. 4/5 bintang untuk alam liar yang memukau.

Tenanglah sayang, malam sudah larut,
Dan gelapnya samudra berkilauan serupa biru.
Sang bulan menatap para penghuni batas laut
Di tengah ceruk riak ombak berderu.
Saat ombak berdebur, terbentuklah alasmu tidur,
Hai, si sirip kecil yang jemu, meringkuklah
dengan tenang!
Badai pun takkan buat kau tegang,
pun hiu tak akan menyerang,
Tidurlah di tengah tenangnya debur laut
bergelombang!
(p.128)

Review #33 of Classics Club Project

Review #40 of Children’s Literature Reading Project

Dijual: Keajaiban (+GIVEAWAY)

dijual keajaibanTitle : Dijual: Keajaiban
Author : Gao Xingjian, Khairiyah Ibrahim as-Saqqaf, Naguib Mahfouz, Orhan Pamuk, R.K.Narayan, Salman Rushdie, Taufiq el-Hakim, Yukio Mishima, Yusuf Idris
Translator : Tia Setiadi
Editor : Ainini
Publisher : DIVA Press
Edition : Cetakan Pertama, Desember 2015
Format : Paperback, 228 pages

Saya mesti mengatakan bahwa justru dalam periode ini manakala sastra menjadi muskil sama sekali saya mengerti mengapa sastra begitu berharga: ia membiarkan seorang manusia melindungi kesadarannya. (Xingjian, Perihal Sastra, p.205)

Contents:

  1. Di Sebuah Taman / In the Park (Gao Xingjian, 2007)
  2. Pembunuhan Cahaya di Alir Sungai / The Assasination of Light at the River’s Flow (Khayriyah Ibrahim as-Saqqaf, 1998)
  3. Qismati dan Nasibi / Qismati and Nasibi (Naguib Mahfouz, 2008)
  4. Memandang ke Luar Jendela / To Look Out the Window (Orhan Pamuk, 2007)
  5. Anjing Buta / The Blind Dog (R.K. Narayan, 1947)
  6. Di Selatan Dua Lelaki Tua India / In the South (Salman Rushdie, 2009)
  7. Dijual: Keajaiban / Miracles for Sale (Taufiq el-Hakim, 1998)
  8. Tujuh Jembatan / The Seven Bridges (Yukio Mishima, 1966)
  9. Nampan dari Surga / A Tray from Heaven (Yusuf Idris, 2008)
  10. Perihal Sastra / In Case of Literature (Pidato Nobel Gao Xingjian, 2000)

Buku ini terdiri atas sembilan cerita pendek dari penulis besar Asia, ditambah naskah pidato penerimaan Nobel Sastra Gao Xingjian. Sebagian besar kisah telah dibahas di sini, sana, dan situ, sehingga di sini saya akan lebih membahas mengenai kesan saya terhadap gaya penulisan para penulis tersebut. Keuntungan dari sebuah antologi adalah kita bisa mengenal gaya penulisan beberapa penulis dari sebuah buku saja, dalam hal ini khususnya cerita pendek, karena seringkali tulisan-tulisan yang lebih panjang memiliki kesan yang berbeda.

Di Sebuah Taman menunjukkan kepiawaian Xingjian dalam menyusun dialog menjadi sebuah cerita yang utuh. Gaya yang jarang sekali saya jumpai, tetapi mungkin menarik jika saya bisa membacanya bersamaan dengan kisah-kisah penulis yang lainnya sehingga akan lebih mudah untuk saya pahami. As-Saqqaf dalam cerpennya menyuguhkan narasi cantik yang dipenuhi dengan metafora dan simbol.

Namun, sesuatu yang misterius berbisik dalam diriku, degup jantung waktu yang akrab dan mengganggu, degup ketakutan, peringatan, harapan, kesedihan, kebahagiaan, tawa, kecemasan, dan kepuasan, semua datang seketika. Hari berhenti, jam menggelisahkan, menit mengingatkan…—tentang apa? (as-Saqqaf, Pembunuhan Cahaya di Alir Sungai, p.32)

Judulnya saja sudah mengandung sesuatu, pembunuhan cahaya yang mungkin menghasilkan kegelapan; sebuah kritik sosial yang disampaikan dengan cukup lugas melalui diksi yang puitis. Tulisan Mahfouz, meski memiliki konflik yang tidak lazim, merupakan kisah ‘biasa’ yang menghadirkan cerita mengenai dua buah jiwa. Dari segi kisah, yang paling berkesan bagi saya adalah karya Pamuk dan Rushdie. Pamuk dengan kisah keluarga, tetapi mengandung keaktualan yang sangat universal, seolah menggambarkan dunia yang luas ini dengan perantaraan dua orang bocah dan permainan kartunya. Sedangkan Rushdie mengajak kita merenung mengenai kehidupan kita.

Akan tetapi cinta telah mulai mengganggunya, seperti yang lain-lainnya. Dia adalah keluarga nyamuk, demikian pikir Senior, kerumunan yang berdengung, dan cinta adalah gigitan mereka yang bikin gatal. (Rushdie, Di Selatan Dua Lelaki Tua India, p.124)

Di usia yang semakin tua, maka cara pandang kita terhadap hidup akan berubah. Begitu pula kedua lelaki tua yang disebut Senior dan Junior di sini, yang sebenarnya hanya berselisih usia 17 hari. Mereka berbagi nama yang sama, tetapi kehidupan mereka jauh berbeda. Akan tetapi perbedaan-perbedaan yang jauh tersebut tak dapat memisahkan mereka di hari tua yang semakin sepi. Pada akhirnya, konsep dan kenyataan mengenai kematian lah yang menghantui hari-hari tua, dan menghantui kita sebagai pembaca.

Kematian dan kehidupan hanyalah dua beranda yang berbatasan. Senior berdiri di salah satu sisi dari beranda itu sebagaimana yang biasa dia lakukan, dan di beranda lainnya, melanjutkan kebiasaan mereka selama bertahun-tahun, berdiri Junior, bayangannya, nama panggilannya, siap berdebat dengannya. (Rushdie, Di Selatan Dua Lelaki Tua India, p.142)

Dari segi narasi, setidaknya dalam edisi terjemahan yang saya baca ini, kisah yang paling mengalir dan enak dibaca adalah milik Narayan dan Mishima. Sedangkan el-Hakim dan Idris lebih kuat dalam membuat konflik yang membuat kita penasaran mengenai kelanjutannya, masing-masing memberi hal tak terduga dan sentuhan humor dalam kisahnya. Secara keseluruhan, saya lebih merasa ‘dekat’ dengan tulisan Rushdie dan Mishima, mungkin karena saya lebih familiar dengan sastra Asia Timur dan Selatan ketimbang Asia Barat yang jarang saya ‘kunjungi’.

Seorang penulis adalah orang biasa, mungkin dia lebih peka tapi seorang yang terlalu peka acap kali juga lebih rapuh. Penulis tak berbicara sebagai juru bicara masyarakat atau sebagai penjelmaan kebenaran. Suaranya mungkin lemah, tapi justru suara individual inilah yang lebih autentik.
Apa yang ingin saya kemukakan di sini adalah bahwa sastra hanya bisa menjadi suara individual dan selalu begitu. Sekali sastra dibuat sebagai himne sebuah bangsa, bendera ras, corong partai politik, atau suara kelas atau kelompok, ia berlaku hanya sekadar sebagai alat propaganda. Sastra semacam itu kehilangan apa yang melekat dalam sastra, berhenti sebagai sastra, dan menjadi pengganti bagi kekuasaan dan keuntungan.
(Xingjian, Perihal Sastra, p.202-203)

Sebagai penutup, saya suka sekali dengan pidato Xingjian mengenai sastra ini. Menurutnya, sastra (seharusnya) tidak berbicara untuk siapa-siapa, tidak perlu memiliki pesan apa-apa, karena ia adalah kebutuhan penulis untuk melampiaskan apa-apa yang ingin ditulisnya. Sastra sejati lahir dari hati terdalam, yang tidak menuntut apa-apa kecuali bahwa dia dituliskan untuk menjaga sang penulis tetap ‘waras’, tanpa peduli apakah dia akan dibaca atau tidak.

Estetika yang berpijak dari emosi-emosi manusia tak akan aus bahkan jikalau terjadi perubahan terus-menerus dalam sastra dan seni. Namun evaluasi-evaluasi literer yang berubah-ubah seperti mode bersandar pada mode terakhir: yakni apa pun yang baru itu bagus. Ini adalah mekanisme dalam pergerakan-pergerakan pasar umumnya dan pasar buku tak terbebas darinya, tapi bilamana penilaian estetis penulis mengikuti pergerakan-pergerakan pasar ini akan berarti bunuh diri sastra. Terutama dalam apa yang disebut masyarakat konsumer dewasa ini, saya kira seorang mesti bernaung dalam sastra sejati. (Xingjian, Perihal Sastra, p.209)

Pidatonya ini menjelaskan banyak hal mengenai sastra; menjelaskan mengapa sastra tidak selalu mudah dipahami, karena dia tak selalu perlu dipahami; menjawab tantangan bahwa sastra pasti memiliki nilai moral tertentu, yaitu dengan menjadi jujur, meski ia harus menabrak nilai moral tersebut; dan menegaskan bahwa sastra tidak akan menjadi sesuatu yang populer, karena dia adalah pekerjaan sepi.

“Kenyataannya, hubungan pengarang dan pembaca selalu merupakan hubungan komunikasi spiritual dan tak perlu mereka bersua atau berinteraksi secara sosial, itu adalah komunikasi yang semata melalui karya. Sastra masih menjadi bentuk yang sangat diperlukan dari aktivitas manusia yang di dalamnya baik pembaca maupun penulis terlibat atas kemauan mereka sendiri. Dengan demikian, sastra tak punya tugas terhadap massa.” (Xingjian, Perihal Sastra, p.210)

received_10208040676604997.jpeg

Buku yang sangat ‘kaya’ ini bisa kalian miliki, PLUS sebuah buku terbaru terbitan DIVA Press, simak syarat dan ketentuannya ya:

  1. Peserta memiliki alamat kirim di Indonesia
  2. Follow blog ini dan twitter @divapress01
  3. Bagikan info giveaway ini di media sosial
  4. Jawab pertanyaan ini di kolom komentar, dengan menyertakan nama, alamat email, dan link share di media sosial

Ceritakan pengalaman membaca yang membawa keajaiban bagi kalian. Tidak harus sastra, mungkin ada buku yang membuat hidup kalian berubah, atau mengubah cara pandang kalian, atau apapun definisi ‘keajaiban’ menurut kalian.

  1. Batas giveaway ini adalah 25-31 Januari 2016, dan akan dipilih satu orang pemenang

Semoga beruntung mendapatkan kumpulan sepuluh ‘keajaiban’ ini.

Kitchen – Jo Joo-Hee

25200133Title : Kitchen (vol. 1-3)
Author & Illustrator : Jo Joo-Hee (2009-2010)
Translator : Mayang Ratu Negara
Publisher : Penerbit Noura Books
Edition : Cetakan I, Februari 2015

“Komik pun pada akhirnya adalah sebuah cerita.”

Kitchen adalah komik yang berisi cerita-cerita pendek mengenai masakan, makanan, dan yang berhubungan dengannya. Tampaknya ini adalah proyek ‘cinta’ penulis pada makanan. Segala hal yang dituangkannya dalam buku ini adalah hal-hal yang memiliki makna pribadi untuknya. Hampir di setiap akhir cerita, penulis menggambarkan epilog berupa pengalaman masa lalunya, yang entah sebenarnya, atau diberi sentuhan hiperbola, karena hampir semuanya terlampau kocak dan ‘ajaib’.

Hal-hal yang kupilih dengan bebas dan nyaman, cerita-cerita pendek yang telah lama tertidur dalam hati kini kuracik dan kusajikan agar dapat dicicipi.

25200154Dalam ketiga buku ini ada sejumlah 37 episode, yang masing-masing buku terdiri atas 16, 11, dan 10 cerita. Suasana dan tema spesifik ke-37 cerita ini cukup bervariasi. Ada kisah tentang keluarga, kekasih, ambisi, kesetiaan, kekecewaan, dan lain sebagainya. Beberapa cerita memberikan rasa haru, beberapa menonjolkan kelucuannya, ada yang mengandung filosofi yang dalam, ada pula yang menularkan rasa hangat dalam hati. Benang merahnya adalah makanan dan masakan.

Saya kagum dengan cara penulis menyampaikan kisahnya melalui makanan. Siapa yang menyangka bahwa dari sekaleng jus jeju bisa disusun sebuah kisah pertemuan yang mengharukan, atau bibimbap (nasi campur) yang bisa menjadi katalis pertemanan, atau penganan ringan bisa menyimpan kenangan tentang bunga azalea dan rok mini. Walaupun tak semua makanan dalam kisah ini menjadi fokus utama, tetapi makanan memegang peranan penting yang mungkin tak kita lihat sebelumnya. Misalnya dalam Episode 11 – Pengobatannya, digambarkan bahwa sebuah ramuan obat mungkin lebih berkhasiat bagi si pemberi ketimbang si sakit, karena di dalam ramuan itu tersimpan harapan.

kitchen 1 episode 11 pengobatannya p.114Selalu akulah orang yang mendapat pengobatan.

Hal sesederhana benih semangka pun bisa menjadi penawar Hati yang Rindu (Episode 29)

kitchen 3 episode 29 hati yang rindu p.24

Pun Ikan Sarden (Episode 32) yang bergerombol ternyata punya filosofi yang dalam di mata seorang yang sudah terpisah dari kumpulannya.

kitchen 3 episode 32 ikan sarden p.69

Seperti yang saya katakan bahwa penulis banyak menggunakan pengalaman pribadinya sebagai rujukan, maka aroma masakan dan sentuhan budaya Korea cukup kental tersaji dalam buku-buku ini. Walaupun asing dengan hal-hal berbau Korea, setelah membaca buku ini saya jadi tahu bahwa orang Korea sangat teradiksi dengan cabai dan kimchi, juga makanan-makanan tertentu yang harus tersaji dalam upacara adat yang melambangkan sesuatu, cukup mirip dengan budaya Indonesia, meski jenis makanannya berbeda.

Selain masakan Korea, penulis juga menulis beberapa kisah tentang orang Korea yang merantau ke luar negeri, dan bagaimana masakan yang berbeda berefek kepadanya. Ada juga kisah spesial mengenai makanan terbaik yang pernah disantap penulis saat berkeliling dunia, dan makanan terburuk, yang masing-masing ada di buku kedua dan ketiga. Melihat banyaknya negara yang sudah dikunjungi penulis, dan variasi situasi kisah yang disampaikannya, saya jadi berpikir bahwa penulis memang seorang pengamat yang hebat. Mungkin adalah naluri seorang komikus untuk menangkap visualisasi sesuatu dengan berbagai sudut pandang, dan naluri seorang penulis yang memperkaya makna sesuatu dengan lebih mendalam. Pengalaman-pengalaman penulis yang banyak tercermin dari karya yang dihasilkannya.

25200159Yang menyenangkan dari buku ini adalah karena ilustrasinya full colour, sehingga selain gambarnya yang bercerita, warna-warninya menambah suasana kisah juga. Meski arsiran di tempat-tempat tertentu (misal di wajah) terlalu ‘ramai’ untuk selera saya, banyak gambar yang proporsinya sangat pas dengan emosi yang ditimbulkannya. Kualitas kertas dalam edisi terjemahan ini cukup bagus, dengan HVS yang cukup tebal sehingga warna juga tampak tebal. Sayangnya, mungkin proporsinya agak diperkecil sehingga cukup membuat mata lelah, bahkan tak jarang saya harus mendekatkan buku lebih dari jarak baca normal karena tulisannya jadi terlalu kecil untuk dibaca pada jarak biasa.

4/5 bintang untuk kisah lezat dan proses memasaknya.

Just So Stories – Rudyard Kipling

Review in Indonesian and English
just so storiesTitle : Just So Stories (Sekadar Cerita)
Author : Rudyard Kipling (1902)
Translator : Maggie Tiojakin
Illustrator : Staven Andersen
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan pertama, Desember 2011
Format : Paperback, 160 pages

Dua belas ‘sekadar cerita’ yang bukan sekadar cerita. Cerita-cerita Rudyard Kipling benar-benar memanjakan imajinasi pembaca dengan untaian kisah yang membuat saya terpana, tertawa, menepuk kening, sampai mengagumi keindahannya. Selain kisah dan bahasanya yang indah, setiap kisah diakhiri dengan sajak yang merangkum sekaligus menyimpulkan kisah sebelumnya.

Saya salut dengan penerjemah yang berhasil mentransformasikan keindahan bahasa penulis dalam bahasa Indonesia. Namun sayangnya, saya menemukan beberapa ketidakakuratan dalam terjemahan tersebut. Dan ternyata setelah saya bandingkan sekilas dengan aslinya, tampak bahwa proses penyuntingan (baik diksi maupun makna) agak kurang sempurna, ada satu tahapan terlewatkan yang mengurangi keindahan buku terjemahan ini.

Terlepas dari itu, kisahnya sendiri sangat luar biasa. Rasanya luar biasa membaca bagaimana pola di kulit zebra dan jerapah terbentuk, bagaimana sikap kucing sejak zaman dahulu kala, hingga kisah pasangan kupu-kupu yang sangat manis. Kisah favorit saya adalah bagian yang menceritakan awal mula penulisan surat dan penemuan alfabet oleh Taffy. Gadis cilik yang cerdas dan menggemaskan, yang tingkahnya menyusahkan banyak orang, tetapi yang dilakukannya sungguh luar biasa. Ada beberapa bagian yang menurut saya agak hambar, karena bagaimanapun juga, humor klasik bisa saja berbeda ‘rasa’ di setiap masa. 4/5 bintang untuk imajinasi liar yang klasik.

I read the Indonesian translation, re-illustrated by Indonesian illustrator. As any other translations, there must be something lost. I did can see the beauty, still I plan to re-read the English version of this work to get more enjoyment. However, Kipling’s imaginations really blew me up with joy. From what the forest did to zebra’s and giraffe’s skin, what the cat was at prehistorical time, to the lovely butterfly couple. My favourite part is the invention of letter and alphabet by Taffimai Metallumai (Taffy). Beside the jaw-dropping events, I like Taffy’s character. She was smart and lovely, though she put a lot of people into trouble. Some details of the stories sound cheesy for me, because, after all, it’s classic. Some humours may not last forever.

Review #28 of Classics Club Project

Review #32 of Children’s Literature Reading Project

Review #33 for Lucky No.15 Reading Challenge category It’s Been There Forever

Jejak Penyintas & Rumah

jejak penyintasJudul 1 : Jejak Penyintas (Sepuluh Kisah Rumah Tangga Buruh Migran Perempuan dari Sukabumi, Malang, Lombok Tengah, dan Bone)
Edisi : Cetakan Pertama, Juni 2007
Tebal : xxv + 84 halaman

rumahJudul 2 : Rumah: Dambaan Buruh Migran Perempuan (Sepuluh Cerita dari dan tentang Rumah Buruh Migran Perempuan Asal Sukabumi, Malang, Lombok Tengah, dan Bone)
Edisi : Cetakan Pertama, Mei 2008
Tebal : xxviii + 105 halaman

Penyunting : Tati Krisnawaty, SH Ningsih, JJ Rizal
Penerbit : The World Bank Office Jakarta

Gelombang buruh migran seolah tak ada habisnya. Selama berpuluh-puluh tahun, menjadi TKI/TKW adalah pilihan hidup yang (dirasa) menjanjikan. Pemberitaan mengenai kesulitan pada buruh migran tersebut pun tak menyurutkan orang untuk berbondong-bondong memilih menjadi buruh atau PRT di luar negeri. Hal ini tentu bukan tanpa alasan. Memang benar bahwa menjadi buruh migran menjanjikan penghasilan yang jauh lebih besar. Jika kita, sebagai ‘orang luar’, memandang kasus gagal dari para TKI, maka orang-orang pedesaan (terutama yang disorot dalam buku ini: Sukabumi, Malang, Lombok Tengah, dan Bone) yang hidup dalam kondisi pas-pasan, bahkan kekurangan, lebih memilih untuk memandang kasus-kasus yang berhasil.

Kedua buku ini terlahir dari studi kasus mengenai para buruh migran perempuan (BMP). Dari sekian ratus wawancara dan penelitian, dipilihlah masing-masing sepuluh kasus untuk setiap buku, yang masing-masing mewakili isu perempuan penyintas (survivor) dan usaha membangun rumah tinggal–yang dianggap sebagai simbol kesejahteraan, keamanan, tempat bernaung, dan tempat pulang.

Di tengah masyarakat yang masih menganut budaya patriarki, menjadi BMP tidaklah mudah. Di satu sisi, mereka ingin turut andil dalam meningkatkan kesejahteraan rumah tangga, di sisi lain, ada budaya dan adat yang membuat usaha mereka jauh lebih sulit. Adanya diskriminasi, tindak kekerasan—baik fisik maupun mental, sampai pada pencerabutan hak-hak perempuan, tak pelak terjadi pada mereka, meski nyata-nyata telah berusaha menaikkan taraf hidup keluarga, dengan segenap pengorbanannya.

Buku ini memotret kisah-kisah BMP, baik yang berhasil ataupun yang gagal, yang dihina atau dipuji, yang dihargai maupun yang disia-siakan dan sekadar dimanfaatkan. Ada BMP yang hidupnya menjadi bahagia dalam rumah yang mapan, ada juga yang diceraikan karena alasan adat, bahkan ada yang disingkirkan setelah suami/keluarga mendapatkan bantuannya. Namun, di sisi lain, bukan tidak mungkin BMP yang berubah dan meninggalkan keluarganya untuk pilihan hidup yang lain. Dalam hal ini, kesetiaan suami/keluarga di kampung halaman yang disoroti.

Kisah-kisah dalam buku ini merupakan kisah nyata yang dibalut dalam nama-nama samaran, sehingga kisahnya pun dibangun dengan konflik yang wajar terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Tak semua kisah terbalut emosi, beberapa ada kisah yang ‘biasa’ saja, tetapi—yang paling penting adalah—berhasil menyampaikan maksudnya. Buku ini dimaksudkan sebagai salah satu sarana menyebarluaskan isu-isu sosial mengenai BMP yang jarang disoroti, atau jarang mendapatkan perhatian dari pihak yang berwenang. Bahkan mungkin ada pihak-pihak yang sengaja menutup mata dan hanya mengambil keuntungan secara sepihak. Hal-hal ini menyebabkan minimnya regulasi yang melindungi para BMP, regulasi yang bukan hanya menjadikan mereka sebagai komoditas.

Kelemahan dari buku ini adalah tata bahasa dan penulisan yang tidak sempurna. Masih banyak saya temukan hal-hal yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sangat disayangkan, mengingat buku ini adalah sebuah karya yang semestinya bisa dikemas dengan lebih baik sehingga bisa menjangkau lebih banyak pembaca.

Pembahasan yang mengiringi kisah-kisah dalam buku ini—pada kata pengantar, prolog, dan epilog—sangat lengkap dan komprehensif. Mulai dari tema, sinopsis, latar belakang, moral, dan lain sebagainya. Di satu sisi baik untuk tujuan yang dimaksudkan dari penulisan buku ini, tetapi di sisi lain, detail yang terlalu berlebihan membuat pembaca merasa cukup, bahkan sebelum membaca kisahnya sendiri.

Secara keseluruhan, buku ini cukup mencerahkan, memberi sudut pandang baru, dan mengasah empati kita pada orang-orang yang mengambil pilihan tak populer dalam hidupnya. Semoga pihak yang berwenang berkesempatan untuk mengetahui kisah-kisah mereka dan membuat regulasi yang berimbang. 3/5 bintang untuk perempuan-perempuan perkasa dan perjuangannya.

Juni : Budaya & Setting Indonesia

Juni : Budaya & Setting Indonesia