Tag Archives: kumpulan cerpen

Uncommon Type – Tom Hanks

37901431. sy475 Title : Uncommon Type: some stories
Author : Tom Hanks (2017)
Publisher : Alfred A. Knopf
Edition : First edition, third printing, November 2017
Format : Paperback, viii+405 pages

Pada awal kemunculan buku ini, keramaian otomatis muncul karena nama Tom Hanks di situ. Terlebih dalam sebuah buku fiksi. Keramaian agak mulai semakin menarik saat ada banyak pujian, baik dari pembaca, maupun sesama penulis, juga para kritikus. Dan setelah mencoba membaca sendiri, ternyata memang penulisannya mengesankan dan sangat bisa saya nikmati. Yang baru saya ketahui dari bagian about author di belakang, dan mungkin juga tak banyak yang mengetahui, tulisan Tom Hanks pernah beberapa kali dimuat di The New York Times, Vanity Fair,dan The New Yorker.

Membaca buku ini, saya merasa dilempar-lempar dalam lompatan berbagai realitas dan masa. Terkadang batasnya sangat jelas, tetapi tak jarang juga saya kehilangan orientasi tempat dan waktu, sampai disebutkan penanda-penandanya, seperti landmarks tertentu, jenis gawai dan media sosial yang digunakan pada masa itu, atau kejadian sejarah. Namun, di antara hal-hal yang terlihat acak, ada beberapa benang merah yang dijahit dengan manis di antaranya.

Salah satu hal yang cukup menonjol adalah penggunaan mesin tik, yang konon menjadi media penulis untuk membuat buku ini. Selain dengan foto-foto berbagai jenis mesin tik koleksi Hanks di setiap awal cerita, yang diambil dengan berbagai pose yang cantik, mesin tik juga mendapatkan porsi dalam beberapa cerita. Ada saat mesin tik menjadi cameo, yang tidak sekadar ditempelkan, tetapi juga memberi kesan kuat. Dalam kisah These Are the Meditation of My Heart, mesin tik menjadi bagian utama, yang digambarkan dengan romantisme tersendiri. Dimulai dari seorang manusia modern yang tertarik dengan mesin tik murahan yang hampir tidak berfungsi, kemudian membawanya berkenalan dengan mesin-mesin tik lain, dengan berbagai jenis dan merek dari berbagai masa, yang digambarkan sebagai mahakarya dengan kelebihannya masing-masing. Your Evangelista, Esperanza yang ditulis dengan format surat kabar (Our Town Today with Hank Fiset) menceritakan seseorang yang melepaskan diri dari teknologi, dan hidup bahagia dengan mesin tik saja. Sebuah peranti klasik yang memberinya pengalaman yang tak kalah kaya dari gawai-gawai modern.

Empat orang sahabat yang membuka buku dengan kisah Three Exhausting Weeks, secara tak terduga muncul kembali di tengah dan akhir buku, dalam Alan Bean plus Four dan Steve Wong is Perfect. Kisah pertama tampak seperti romansa kontemporer biasa, tanpa ada hal yang menonjol mengenai settingnya. Hingga di kisah kedua, pembaca diajak ke dalam setting futuristik yang sangat kental, yang membuat kita jadi mempertanyakan di tahun berapa keempat sahabat tersebut hidup. Fiksi sains dengan imajinasi liar yang dibumbui dengan humor agak mengingatkan saya pada Hitchhiker’s Guide karya Douglas Adams yang belum lama saya baca. Kemudian di cerita ketiga, kita dikembalikan pada suasana Amerika yang tampaknya normal-normal saja, kali ini dengan karakter yang memiliki kemampuan menakjubkan.

Suasana historis yang mengharukan dari seorang veteran perang dihadirkan dalam Christmas Eve 1953, yang settingnya sudah terlihat dari judulnya. Dengan fokus pada hubungan keluarga, pertemanan, dan trauma. Kisah keluarga muncul juga di Welcome to Mars, A Month on Greene Street, dan A Special Weekend dengan berbagai dinamikanya, perceraian, hubungan orang tua-anak, anak dengan lingkungan, perselingkuhan, dan membuka hati kembali. Suasana masa lalu yang dilatarbelakangi time travel ada di The Past is Important to Us. Lalu latar belakang dunia hiburan, yang tentunya sangat dekat dengan penulis, tak luput diangkat dalam A Junket in the City of Light dan Who’s Who?.

Selain menceritakan orang-orang kulit putih, penulis juga memunculkan karakter-karakter imigran dan etnis lain di Amerika Serikat. Yang paling menonjol tentunya adalah empat orang sahabat yang saya sebut sebelumnya, di mana salah dua di antaranya adalah keturunan Asia dan Afrika. Go See Costas memberikan sudut pandang imigran ilegal dari masa yang lebih lampau (saat Amerika tak seketat sekarang), dari sisi manusiawinya. Beberapa kisah dengan napas ini (termasuk Who’s Who) menunjukkan bahwa Amerika pada umumnya, dan New York pada khususnya, pernah (dan mungkin masih) menjadi simbol pengharapan dan kehidupan yang lebih baik.

Ada sebuah cerita yang disampaikan dalam format drama, tentang industri, pembangunan, dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi bisnis lama yang penuh kisah dan romantika. Stay With Us pada akhirnya memberikan sebuah kesan yang menyejukkan, meski di awal kita diajak dalam perjalanan bersama dua orang yang sangat eksentrik. Our Town Today With Hank Fiset muncul beberapa kali, setelah tiga cerita. Terkadang ada kesan bahwa berita itu berhubungan dengan cerita sebelumnya, tetapi dengan karakter dan detail yang agak berbeda.

Sejujurnya, meski secara keseluruhan saya sangat suka dengan buku ini, beberapa bagian terasa agak berat untuk dibaca, entah karena terlalu banyak detail, alurnya lambat, atau untuk alasan yang saya tidak sadari. Namun, saya tak meragukan bahwa buku debut Tom Hanks cukup berhasil membuat saya memasukkan buku berikutnya (semoga ada) ke dalam daftar bacaan suatu hari nanti.

If I ever run into Al Bean again, I’ll ask him what life has been like for him since he twice crossed the equigravisphere. Does he suffer melancholia on a quiet afternoon, as the world spins on automatic? (p.153)

Empat Aku – Yudhi Herwibowo

46001914. sy475 Judul : Empat Aku: Sekumpulan Kisah
Penulis : Yudhi Herwibowo (2019)
Penerbit : Marjin Kiri
Edisi : Cetakan pertama, Mei 2019
Format : Paperback, vi+165 halaman

Waktu memang telah dipenuhi zat-zat untuk melupakan. Yang baik akan tergerus. Yang buruk akan menggerus. (Empat Aku, hal.31)

Sebuah kumpulan cerita pendek, 14 dari 15 kisah di buku ini pernah dipublikasikan di berbagai media, terutama sekitar tahun 2010-2017. Kebanyakan kisahnya bernuansa realisme magis yang cukup kuat, tetapi hampir kesemuanya adalah cermin dari kehidupan keseharian kita. Secara tema, cerita-cerita dalam buku ini rasanya tak jauh dari kumcer yang pernah kubaca sebelumnya, Mata Air Air Mata Kumari. Namun, sepertinya penulis tak kehabisan ide-ide yang lebih segar.

Dibuka dengan cerpen Kampung Rampok, yang, sebagaimana judulnya, menceritakan sebuah kampung yang dipenuhi dengan orang-orang dengan latar belakang ‘gelap’, sehingga kampung tersebut ditakuti orang-orang luar. Hingga suatu ketika, ada ketakutan lain yang lebih besar muncul. Kisah kedua, Jendela, merupakan salah satu yang paling berkesan. Tentang seorang pelukis di Belanda, yang kurang lebih bernasib sama dengan Vincent Van Gogh—dan mungkin saja penulis terinspirasi darinya. Empat Aku, cerpen yang menjadi judul kumcer ini ditempatkan dalam urutan ketiga. Setelah dimuat di media massa dan sebelum diterbitkan dalam buku ini, kisah ini pernah diceritakan ulang dalam bentuk drama dan diterbitkan dalam kumpulan Laki-Laki Bersayap Patah.

Kisah mengesankan yang lain adalah Malam Mengenang Sang Penyair. Cerita ini merupakan salah satu yang tidak memiliki unsur magis di dalamnya, kisah biasa tentang seluk-beluk kehidupan dan bisnis kepenyairan. Namun, dari kisah yang biasa ini penulis mampu menggambarkan dinamika hubungan dan perasaan manusia yang mungkin pada suatu saat pernah kita alami juga. Tema-tema yang diusung dalam buku ini kebanyakan berhubungan dengan kaum marjinal, dengan konflik yang dekat, sekaligus kerap diabaikan. Michelle, ma belle mengangkat tema kekerasan pada perempuan, Kota yang Ditinggalkan mengisahkan perubahan sosial masyarakat di generasi yang berbeda. Selain masalah sosial, beberapa kisah juga mengangkat isu lingkungan, di antaranya Kisah Kera-kera Besar yang Pergi Menuju Langit dan Jalan Air.

Sayangnya meski buku ini tak terlalu tebal, masih ada beberapa kesalahan ketik yang agak mengganggu. Saya juga menyadari penulis kerap menggunakan kata ‘tetapi’ atau ‘namun’ di tempat yang sebenarnya bisa saja dihapus. Secara keseluruhan, buku ini bisa dinikmati sesuap demi sesuap, atau jika sudah cukup tenggelam di dalamnya, tak menutup kemungkinan dihabiskan dalam sekali duduk. Kita akan dibawa ke berbagai dunia imajiner, sambil sesekali melirik ke dunia kita, mengikuti berbagai kejadian dan peristiwa ajaib maupun yang tak ajaib, lalu memikirkan kembali apa yang telah terjadi.

Tapi sudah menjadi naluri, berita kematian selalu memurukkan kita kepada perasaan sedih. Seakan itu tanda untuk menghapus segala kebencian. (Malam Mengenang Sang Penyair, hal.135)

The Jungle Book – Rudyard Kipling

jungle bookTitle : The Jungle Book
Author : Rudyard Kipling (1894)
Translator : Anggun Prameswari
Editor : Jia Effendi & Fenty Nadia
Publisher : Penerbit Atria
Edition : Cetakan I, September 2011
Format : Paperback, 240 pages

Salah satu indahnya Hukum Rimba adalah hukuman adil untuk semua pihak. Tidak ada yang menggerutu kesal setelahnya. (p.87)

The Jungle Book adalah kumpulan kisah tentang hewan, terutama hewan liar. Kebanyakan berupa fabel, tetapi ada juga yang bukan seperti kisah Toomai Sang Penakluk Gajah. Tak hanya cerita pendek, buku ini juga dihiasi puisi/syair bertema sama, dan seringkali berhubungan dengan kisah yang akan atau telah diceritakan.

Menyebutkan The Jungle Book mau tak mau mengingatkan kita pada Mowgli, karakter dan kisah yang sering diangkat dalam berbagai adaptasi buku ini. Kenyataannya memang kisah Mowgli cukup dominan dalam buku ini. Dalam terjemahan yang saya baca ini, ada tiga kisah Mowgli, mulai dari masa kecil saat dia mulai masuk dalam kawanan serigala, saat belajar bersama Baloo sang beruang dan Bagheera sang macan kumbang, kenakalan-kenakalannya, sampai pada menghadapi musuh bebuyutannya, Shere Khan sang harimau. Dalam kisah-kisah Mowgli, suasana hutan serta hukum rimba yang berlaku di dalamnya digambarkan dengan mendetail, terutama karena nasib bocah itu bergantung pada pemahaman hewan-hewan tersebut terhadap hukum rimba serta kecerdikan pelaksanaannya.

Cerita-cerita lain pada pokoknya hampir serupa, yaitu kisah tentang keberanian, kecerdikan, serta kegigihan. Seperti anjing laut dalam kisah Anjing Laut Putih yang berani meninggalkan kebiasaan demi keamanan, Rikki-Tikki-Tavi si mongoose yang dengan penuh keberanian dan kecerdikan melindungi manusia penolongnya dari ular kobra, serta Toomai yang pada awalnya diremehkan tetapi ternyata sanggup melakukan sesuatu yang di luar dugaan. Sebagaimana fabel pada umumnya, hewan-hewan yang diceritakan sedikit banyak memiliki sifat manusiawi, yang bisa jadi menyindir manusia, atau sekadar menunjukkan hakikat naluri manusia. Di luar itu, ada juga bagian saat penulis secara terang-terangan menyampaikan hal itu.

Darzee adalah sahabat kecil dengan otak yang sama ringannya yang tidak bisa mencerna lebih dari satu ide bersamaan di dalam kepalanya. Dan karena ia tahu anak-anak Nagaina akan segera menetas seperti anak-anaknya, awalnya ia berpikir tidak adil kalau anak-anak Nag harus dihabisi. Tapi, istrinya adalah burung yang cerdas dan ia tahu telur-telur kobra nantinya akan menjadi kobra-kobra muda. Jadi, ia terbang meninggalkan sarang dan membiarkan Darzee untuk menjaga agar anak-anaknya tetap hangat dan melanjutkan nyanyiannya tentang kematian Nag. Darzee mirip seperti manusia dalam beberapa hal. (p.188)

Sebagian besar kisah dalam terjemahan The First Jungle Book ini berlatar di India, dan kemungkinan besar memang penulis terinspirasi dari masa hidupnya di negeri tersebut. India yang sangat berbeda karakteristiknya dengan negara asal penulis memberikan ide-ide tersendiri mengenai hidup dan manusia.

Saya suka sekali terjemahan ini. Selain berhasil mempertahankan suasana dan aliran kisah, beberapa pilihan katanya juga indah, yang saya sadari sejak saya menemukan kata Ranah Bengkalai, termasuk bagaimana penerjemah dapat mempertahankan rima dalam sajak-sajak di dalam buku ini. 4/5 bintang untuk alam liar yang memukau.

Tenanglah sayang, malam sudah larut,
Dan gelapnya samudra berkilauan serupa biru.
Sang bulan menatap para penghuni batas laut
Di tengah ceruk riak ombak berderu.
Saat ombak berdebur, terbentuklah alasmu tidur,
Hai, si sirip kecil yang jemu, meringkuklah
dengan tenang!
Badai pun takkan buat kau tegang,
pun hiu tak akan menyerang,
Tidurlah di tengah tenangnya debur laut
bergelombang!
(p.128)

Review #33 of Classics Club Project

Review #40 of Children’s Literature Reading Project

Dijual: Keajaiban (+GIVEAWAY)

dijual keajaibanTitle : Dijual: Keajaiban
Author : Gao Xingjian, Khairiyah Ibrahim as-Saqqaf, Naguib Mahfouz, Orhan Pamuk, R.K.Narayan, Salman Rushdie, Taufiq el-Hakim, Yukio Mishima, Yusuf Idris
Translator : Tia Setiadi
Editor : Ainini
Publisher : DIVA Press
Edition : Cetakan Pertama, Desember 2015
Format : Paperback, 228 pages

Saya mesti mengatakan bahwa justru dalam periode ini manakala sastra menjadi muskil sama sekali saya mengerti mengapa sastra begitu berharga: ia membiarkan seorang manusia melindungi kesadarannya. (Xingjian, Perihal Sastra, p.205)

Contents:

  1. Di Sebuah Taman / In the Park (Gao Xingjian, 2007)
  2. Pembunuhan Cahaya di Alir Sungai / The Assasination of Light at the River’s Flow (Khayriyah Ibrahim as-Saqqaf, 1998)
  3. Qismati dan Nasibi / Qismati and Nasibi (Naguib Mahfouz, 2008)
  4. Memandang ke Luar Jendela / To Look Out the Window (Orhan Pamuk, 2007)
  5. Anjing Buta / The Blind Dog (R.K. Narayan, 1947)
  6. Di Selatan Dua Lelaki Tua India / In the South (Salman Rushdie, 2009)
  7. Dijual: Keajaiban / Miracles for Sale (Taufiq el-Hakim, 1998)
  8. Tujuh Jembatan / The Seven Bridges (Yukio Mishima, 1966)
  9. Nampan dari Surga / A Tray from Heaven (Yusuf Idris, 2008)
  10. Perihal Sastra / In Case of Literature (Pidato Nobel Gao Xingjian, 2000)

Buku ini terdiri atas sembilan cerita pendek dari penulis besar Asia, ditambah naskah pidato penerimaan Nobel Sastra Gao Xingjian. Sebagian besar kisah telah dibahas di sini, sana, dan situ, sehingga di sini saya akan lebih membahas mengenai kesan saya terhadap gaya penulisan para penulis tersebut. Keuntungan dari sebuah antologi adalah kita bisa mengenal gaya penulisan beberapa penulis dari sebuah buku saja, dalam hal ini khususnya cerita pendek, karena seringkali tulisan-tulisan yang lebih panjang memiliki kesan yang berbeda.

Di Sebuah Taman menunjukkan kepiawaian Xingjian dalam menyusun dialog menjadi sebuah cerita yang utuh. Gaya yang jarang sekali saya jumpai, tetapi mungkin menarik jika saya bisa membacanya bersamaan dengan kisah-kisah penulis yang lainnya sehingga akan lebih mudah untuk saya pahami. As-Saqqaf dalam cerpennya menyuguhkan narasi cantik yang dipenuhi dengan metafora dan simbol.

Namun, sesuatu yang misterius berbisik dalam diriku, degup jantung waktu yang akrab dan mengganggu, degup ketakutan, peringatan, harapan, kesedihan, kebahagiaan, tawa, kecemasan, dan kepuasan, semua datang seketika. Hari berhenti, jam menggelisahkan, menit mengingatkan…—tentang apa? (as-Saqqaf, Pembunuhan Cahaya di Alir Sungai, p.32)

Judulnya saja sudah mengandung sesuatu, pembunuhan cahaya yang mungkin menghasilkan kegelapan; sebuah kritik sosial yang disampaikan dengan cukup lugas melalui diksi yang puitis. Tulisan Mahfouz, meski memiliki konflik yang tidak lazim, merupakan kisah ‘biasa’ yang menghadirkan cerita mengenai dua buah jiwa. Dari segi kisah, yang paling berkesan bagi saya adalah karya Pamuk dan Rushdie. Pamuk dengan kisah keluarga, tetapi mengandung keaktualan yang sangat universal, seolah menggambarkan dunia yang luas ini dengan perantaraan dua orang bocah dan permainan kartunya. Sedangkan Rushdie mengajak kita merenung mengenai kehidupan kita.

Akan tetapi cinta telah mulai mengganggunya, seperti yang lain-lainnya. Dia adalah keluarga nyamuk, demikian pikir Senior, kerumunan yang berdengung, dan cinta adalah gigitan mereka yang bikin gatal. (Rushdie, Di Selatan Dua Lelaki Tua India, p.124)

Di usia yang semakin tua, maka cara pandang kita terhadap hidup akan berubah. Begitu pula kedua lelaki tua yang disebut Senior dan Junior di sini, yang sebenarnya hanya berselisih usia 17 hari. Mereka berbagi nama yang sama, tetapi kehidupan mereka jauh berbeda. Akan tetapi perbedaan-perbedaan yang jauh tersebut tak dapat memisahkan mereka di hari tua yang semakin sepi. Pada akhirnya, konsep dan kenyataan mengenai kematian lah yang menghantui hari-hari tua, dan menghantui kita sebagai pembaca.

Kematian dan kehidupan hanyalah dua beranda yang berbatasan. Senior berdiri di salah satu sisi dari beranda itu sebagaimana yang biasa dia lakukan, dan di beranda lainnya, melanjutkan kebiasaan mereka selama bertahun-tahun, berdiri Junior, bayangannya, nama panggilannya, siap berdebat dengannya. (Rushdie, Di Selatan Dua Lelaki Tua India, p.142)

Dari segi narasi, setidaknya dalam edisi terjemahan yang saya baca ini, kisah yang paling mengalir dan enak dibaca adalah milik Narayan dan Mishima. Sedangkan el-Hakim dan Idris lebih kuat dalam membuat konflik yang membuat kita penasaran mengenai kelanjutannya, masing-masing memberi hal tak terduga dan sentuhan humor dalam kisahnya. Secara keseluruhan, saya lebih merasa ‘dekat’ dengan tulisan Rushdie dan Mishima, mungkin karena saya lebih familiar dengan sastra Asia Timur dan Selatan ketimbang Asia Barat yang jarang saya ‘kunjungi’.

Seorang penulis adalah orang biasa, mungkin dia lebih peka tapi seorang yang terlalu peka acap kali juga lebih rapuh. Penulis tak berbicara sebagai juru bicara masyarakat atau sebagai penjelmaan kebenaran. Suaranya mungkin lemah, tapi justru suara individual inilah yang lebih autentik.
Apa yang ingin saya kemukakan di sini adalah bahwa sastra hanya bisa menjadi suara individual dan selalu begitu. Sekali sastra dibuat sebagai himne sebuah bangsa, bendera ras, corong partai politik, atau suara kelas atau kelompok, ia berlaku hanya sekadar sebagai alat propaganda. Sastra semacam itu kehilangan apa yang melekat dalam sastra, berhenti sebagai sastra, dan menjadi pengganti bagi kekuasaan dan keuntungan.
(Xingjian, Perihal Sastra, p.202-203)

Sebagai penutup, saya suka sekali dengan pidato Xingjian mengenai sastra ini. Menurutnya, sastra (seharusnya) tidak berbicara untuk siapa-siapa, tidak perlu memiliki pesan apa-apa, karena ia adalah kebutuhan penulis untuk melampiaskan apa-apa yang ingin ditulisnya. Sastra sejati lahir dari hati terdalam, yang tidak menuntut apa-apa kecuali bahwa dia dituliskan untuk menjaga sang penulis tetap ‘waras’, tanpa peduli apakah dia akan dibaca atau tidak.

Estetika yang berpijak dari emosi-emosi manusia tak akan aus bahkan jikalau terjadi perubahan terus-menerus dalam sastra dan seni. Namun evaluasi-evaluasi literer yang berubah-ubah seperti mode bersandar pada mode terakhir: yakni apa pun yang baru itu bagus. Ini adalah mekanisme dalam pergerakan-pergerakan pasar umumnya dan pasar buku tak terbebas darinya, tapi bilamana penilaian estetis penulis mengikuti pergerakan-pergerakan pasar ini akan berarti bunuh diri sastra. Terutama dalam apa yang disebut masyarakat konsumer dewasa ini, saya kira seorang mesti bernaung dalam sastra sejati. (Xingjian, Perihal Sastra, p.209)

Pidatonya ini menjelaskan banyak hal mengenai sastra; menjelaskan mengapa sastra tidak selalu mudah dipahami, karena dia tak selalu perlu dipahami; menjawab tantangan bahwa sastra pasti memiliki nilai moral tertentu, yaitu dengan menjadi jujur, meski ia harus menabrak nilai moral tersebut; dan menegaskan bahwa sastra tidak akan menjadi sesuatu yang populer, karena dia adalah pekerjaan sepi.

“Kenyataannya, hubungan pengarang dan pembaca selalu merupakan hubungan komunikasi spiritual dan tak perlu mereka bersua atau berinteraksi secara sosial, itu adalah komunikasi yang semata melalui karya. Sastra masih menjadi bentuk yang sangat diperlukan dari aktivitas manusia yang di dalamnya baik pembaca maupun penulis terlibat atas kemauan mereka sendiri. Dengan demikian, sastra tak punya tugas terhadap massa.” (Xingjian, Perihal Sastra, p.210)

received_10208040676604997.jpeg

Buku yang sangat ‘kaya’ ini bisa kalian miliki, PLUS sebuah buku terbaru terbitan DIVA Press, simak syarat dan ketentuannya ya:

  1. Peserta memiliki alamat kirim di Indonesia
  2. Follow blog ini dan twitter @divapress01
  3. Bagikan info giveaway ini di media sosial
  4. Jawab pertanyaan ini di kolom komentar, dengan menyertakan nama, alamat email, dan link share di media sosial

Ceritakan pengalaman membaca yang membawa keajaiban bagi kalian. Tidak harus sastra, mungkin ada buku yang membuat hidup kalian berubah, atau mengubah cara pandang kalian, atau apapun definisi ‘keajaiban’ menurut kalian.

  1. Batas giveaway ini adalah 25-31 Januari 2016, dan akan dipilih satu orang pemenang

Semoga beruntung mendapatkan kumpulan sepuluh ‘keajaiban’ ini.

Kitchen – Jo Joo-Hee

25200133Title : Kitchen (vol. 1-3)
Author & Illustrator : Jo Joo-Hee (2009-2010)
Translator : Mayang Ratu Negara
Publisher : Penerbit Noura Books
Edition : Cetakan I, Februari 2015

“Komik pun pada akhirnya adalah sebuah cerita.”

Kitchen adalah komik yang berisi cerita-cerita pendek mengenai masakan, makanan, dan yang berhubungan dengannya. Tampaknya ini adalah proyek ‘cinta’ penulis pada makanan. Segala hal yang dituangkannya dalam buku ini adalah hal-hal yang memiliki makna pribadi untuknya. Hampir di setiap akhir cerita, penulis menggambarkan epilog berupa pengalaman masa lalunya, yang entah sebenarnya, atau diberi sentuhan hiperbola, karena hampir semuanya terlampau kocak dan ‘ajaib’.

Hal-hal yang kupilih dengan bebas dan nyaman, cerita-cerita pendek yang telah lama tertidur dalam hati kini kuracik dan kusajikan agar dapat dicicipi.

25200154Dalam ketiga buku ini ada sejumlah 37 episode, yang masing-masing buku terdiri atas 16, 11, dan 10 cerita. Suasana dan tema spesifik ke-37 cerita ini cukup bervariasi. Ada kisah tentang keluarga, kekasih, ambisi, kesetiaan, kekecewaan, dan lain sebagainya. Beberapa cerita memberikan rasa haru, beberapa menonjolkan kelucuannya, ada yang mengandung filosofi yang dalam, ada pula yang menularkan rasa hangat dalam hati. Benang merahnya adalah makanan dan masakan.

Saya kagum dengan cara penulis menyampaikan kisahnya melalui makanan. Siapa yang menyangka bahwa dari sekaleng jus jeju bisa disusun sebuah kisah pertemuan yang mengharukan, atau bibimbap (nasi campur) yang bisa menjadi katalis pertemanan, atau penganan ringan bisa menyimpan kenangan tentang bunga azalea dan rok mini. Walaupun tak semua makanan dalam kisah ini menjadi fokus utama, tetapi makanan memegang peranan penting yang mungkin tak kita lihat sebelumnya. Misalnya dalam Episode 11 – Pengobatannya, digambarkan bahwa sebuah ramuan obat mungkin lebih berkhasiat bagi si pemberi ketimbang si sakit, karena di dalam ramuan itu tersimpan harapan.

kitchen 1 episode 11 pengobatannya p.114Selalu akulah orang yang mendapat pengobatan.

Hal sesederhana benih semangka pun bisa menjadi penawar Hati yang Rindu (Episode 29)

kitchen 3 episode 29 hati yang rindu p.24

Pun Ikan Sarden (Episode 32) yang bergerombol ternyata punya filosofi yang dalam di mata seorang yang sudah terpisah dari kumpulannya.

kitchen 3 episode 32 ikan sarden p.69

Seperti yang saya katakan bahwa penulis banyak menggunakan pengalaman pribadinya sebagai rujukan, maka aroma masakan dan sentuhan budaya Korea cukup kental tersaji dalam buku-buku ini. Walaupun asing dengan hal-hal berbau Korea, setelah membaca buku ini saya jadi tahu bahwa orang Korea sangat teradiksi dengan cabai dan kimchi, juga makanan-makanan tertentu yang harus tersaji dalam upacara adat yang melambangkan sesuatu, cukup mirip dengan budaya Indonesia, meski jenis makanannya berbeda.

Selain masakan Korea, penulis juga menulis beberapa kisah tentang orang Korea yang merantau ke luar negeri, dan bagaimana masakan yang berbeda berefek kepadanya. Ada juga kisah spesial mengenai makanan terbaik yang pernah disantap penulis saat berkeliling dunia, dan makanan terburuk, yang masing-masing ada di buku kedua dan ketiga. Melihat banyaknya negara yang sudah dikunjungi penulis, dan variasi situasi kisah yang disampaikannya, saya jadi berpikir bahwa penulis memang seorang pengamat yang hebat. Mungkin adalah naluri seorang komikus untuk menangkap visualisasi sesuatu dengan berbagai sudut pandang, dan naluri seorang penulis yang memperkaya makna sesuatu dengan lebih mendalam. Pengalaman-pengalaman penulis yang banyak tercermin dari karya yang dihasilkannya.

25200159Yang menyenangkan dari buku ini adalah karena ilustrasinya full colour, sehingga selain gambarnya yang bercerita, warna-warninya menambah suasana kisah juga. Meski arsiran di tempat-tempat tertentu (misal di wajah) terlalu ‘ramai’ untuk selera saya, banyak gambar yang proporsinya sangat pas dengan emosi yang ditimbulkannya. Kualitas kertas dalam edisi terjemahan ini cukup bagus, dengan HVS yang cukup tebal sehingga warna juga tampak tebal. Sayangnya, mungkin proporsinya agak diperkecil sehingga cukup membuat mata lelah, bahkan tak jarang saya harus mendekatkan buku lebih dari jarak baca normal karena tulisannya jadi terlalu kecil untuk dibaca pada jarak biasa.

4/5 bintang untuk kisah lezat dan proses memasaknya.