Tag Archives: Nonfiction RC 2015

60 Tahun Konferensi Asia-Afrika – Tim Buku TEMPO

25692456Judul : 60 Tahun Konferensi Asia-Afrika
Penyusun : Tim Buku TEMPO
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Edisi : Cetakan Pertama, Juni 2015
Format : Paperback, viii+147 halaman

Sebuah kejadian langka terjadi saat saya mengambil buku ini dari toko buku dan membayarnya di kasir. Selain buku sejarah, kejadian ini juga termasuk bersejarah. Yang membuat saya tergerak untuk membeli dan membaca buku ini sebenarnya hal yang sederhana saja, pertama karena bukunya tidak terlalu tebal, yang kedua karena peristiwa bersejarah bagi dunia (atau minimal negara-negara Asia Afrika) ini terjadi pada masa saya. Jadi rasanya saya wajib memiliki rekam kejadian ini di antara koleksi-koleksi buku saya.

Buku ini ternyata memang sejarah dalam versi yang cukup ‘ringan’ bagi pembaca sejarah pemula seperti saya. Buku ini semacam napak tilas sejarah Konferensi Asia-Afrika (KAA) pertama 60 tahun silam, yang dikolaborasikan dengan persiapan KAA tahun 2015 ini. Dilengkapi dengan cukup banyak foto, baik dari 60 tahun lalu, maupun dari masa sekarang. Meski hitam-putih, kualitas cetak foto-foto ini cukup baik dan cukup jelas terlihat.

Konferensi Asia-Afrika merupakan tonggak bangkitnya negara-negara eks-kolonial untuk maju dan saling bekerja sama agar tidak kalah dari bangsa-bangsa Barat. Pergerakan yang dimotori oleh Indonesia, yang saat itu baru berusia sepuluh tahun, ternyata membuat negara kita disegani oleh bangsa-bangsa lain. Indonesia, khususnya Presiden Sukarno, dinilai berjasa dalam mempersatukan negara-negara ‘kulit berwarna’, dan memperjuangkan hak-hak mereka. Salah satu yang berhasil diperjuangkan dalam konferensi tersebut adalah kemerdekaan beberapa negara Afrika seperti Aljazair dan Sudan. Sama seperti saat ini—dan juga setiap KAA—isu kemerdekaan yang masih diperjuangkan adalah Palestina.

Terlaksananya KAA pertama bukan tanpa tantangan. Berkali-kali pihak Kementrian Indonesia harus meyakinkan negara-negara tetangga guna terwujudnya perhelatan besar ini. Berbagai ancaman tak luput didapatkan, termasuk bom di dalam pesawat delegasi Cina. Pun kini, di saat semangat KAA pertama mulai luntur, rasanya momen 60 tahun ini tepat untuk menyegarkan ingatan kembali. Karena hubungan negara-negara Asia-Afrika masih bisa dikembangkan dan dimaksimalkan lagi, guna terwujudnya kemajuan negara-negara berkembang.

Di luar itu semua, buku ini diwarnai juga dengan trivia-trivia menarik, seputar hotel tempat para delegasi menginap, rumah makan yang dikunjungi, suvenir yang dibagikan, pernyataan dari orang-orang yang terlibat dalam penyambutan, dan lain sebagainya. Termasuk persiapan KAA 2015 yang seolah hendak mengulangi sejarah, mengunjungi kembali tempat-tempat yang dulu pernah disinggahi.

Buku ini mungkin lebih tepat disebut sebagai kumpulan artikel. Konten dan gaya penulisannya pun khas media massa yang padat dan menarik. Bagi sejarah KAA sendiri, buku ini mungkin sekadar pengantar. Untuk mengenal dan memahami peristiwa-peristiwa tersebut lebih dalam, diperlukan referensi lain yang membahasnya secara lebih mendetail.

logo reading challenge-jpg

Advertisements

Night – Elie Wiesel

nightTitle : Night (La Nuit)
Author : Elie Wiesel (1958)
Translator : Stella Rodway
Publisher : Bantam Books
Edition : 88th printing, 1982
Format : Paperback, xi + 111 pages

Night adalah sebuah memoar Eliezer saat dirinya baru hendak beranjak remaja dan diseret ke kamp konsentrasi. Lahir dan besar di Sighet, Transylvania, Elie adalah anak yahudi yang memiliki pemahaman yang unik mengenai kitab sucinya, serta tingkat keyakinan yang lebih daripada anak-anak seusianya, hingga menimbulkan kehausan untuk belajar lebih dan lebih lagi. Namun, segalanya berubah saat Gestapo memasuki kotanya dan mengungsikan para penghuninya entah ke mana.

Keluar dari Sighet adalah awal penderitaan. Mereka dipaksa meninggalkan rumah dan harta mereka, makan seadanya, kehausan, kepanasan, berjalan kaki jauh, berdiri berdesak-desakan dalam sebuah gerbong, dan dibawa entah ke mana. Setibanya di Birkenau, mereka dihadapkan pada bayangan kematian, bayangan akan dijadikan bahan bakar, dibakar hidup-hidup. Mereka yang lolos seleksi sebagian dibawa ke kamp konsentrasi Auschwitz, tempat mereka dipaksa bekerja demi sekadar menunjukkan bahwa hidup mereka masih bermanfaat. Di sinilah Elie dan ayahnya dibawa, terpisah dari ibu dan saudarinya.

Hari-hari penderitaan dan ketakutan dimulai, dan yang menjadi fokus Elie pada saat itu hanyalah bagaimana caranya bertahan hidup tanpa harus terpisah dari ayahnya. Makian, pukulan, siksaan, kelaparan, kurang tidur, adalah hal yang lumrah mereka hadapi. Untuk bertahan hidup, mereka harus mematikan segala rasa, demi mempertahankan kekuatan untuk sekadar tetap bernapas dan tetap bekerja, sebab berhenti bekerja berarti mati.

Bread, soup—these were my whole life. I was a body. Perhaps less than that even: a starved stomach. The stomach alone was aware of the passage of time. (p.50)

Seberapa lama manusia dapat bertahan dengan kondisi semacam itu? Belum lagi tambahan siksaan bekunya musim dingin, kelelahan fisik dan mental, membuat satu per satu dari mereka tumbang dengan sendirinya, atau ditumbangkan karena sudah terlalu lemah. Buku ini menggambarkan betapa buruknya seorang manusia dapat bertindak terhadap manusia lain, dengan berbagai macam alasan. Apakah bangsa yang berbudaya akan memperlakukan manusia lain seperti binatang, meski mereka berbeda? Apakah seorang manusia yang memiliki hati nurani, tega menyiksa manusia lain secara perlahan-lahan dan melihatnya mati perlahan-lahan?

All round me death was moving in, silently, without violence. It would seize upon some sleeping being, enter into him, and consume him bit by bit. (p.85)

Buku ini dituliskan dengan emosi yang sangat terasa. Masih terlihat bagaimana kemarahan, kesedihan, ketakutan, kepasrahan, keputusasaan, mewarnai paragraf demi paragraf pengalaman hidup penulis. Membaca buku ini, saya mendapatkan kesan perjuangan seorang Elie yang (berusaha untuk) kuat, Elie yang penuh kemarahan, dan kemudian diakhiri dengan sebuah kejujuran yang menyakitkan, tentang seberapa jauh seseorang—seorang remaja—mencapai batasnya, batas egonya, ego bertahan hidup.

Banyak kontroversi yang ditimbulkan dari tragedi holocaust ini. Sebagian menganggap ini hanyalah isu dan kisah fiktif yang disebarkan untuk meraih simpati dunia. Namun, ada sebuah pernyataan yang menurut saya patut direnungkan.

Having confronted the story, we would much prefer to disbelieve, treating it as the product of a diseased mind, perhaps. And there are those today who—feeding on that wish, and on the anti-Semitism that lurks near the surface of the lives of even cultured people—are trying to persuade the world that the story is not true, urging us to treat it as the product of diseased minds, indeed. They are committing the greatest indignity human beings can inflict on one another: telling people who have suffered excruciating pain and loss that their painand lost were illusions. (Robert McAfee Brown, Preface for the Twenty-fifth Anniversary Edition, p.v-vi)

Jadi, terlepas dari benar atau salahnya bagian sejarah yang ini, pembantaian terhadap rakyat sipil, terhadap orang-orang tak bersalah, terhadap wanita dan anak-anak, adalah hal yang tidak bisa dibenarkan, apapun alasannya. Hal ini termasuk pula pembantaian era modern yang masih terjadi saat ini; Israel terhadap Palestina, ISIS, Suriah, sampai yang terhangat, pembantaian Muslim Rohingya. Dalam Islam—agama yang saya pahami—pembunuhan hanya dibenarkan dalam rangka pembelaan diri. Tidak ada kebenaran dalam pembunuhan atas dasar perbedaan, invasi, ataupun hasrat duniawi lainnya. Tidak ada manusia yang lebih tinggi derajatnya daripada manusia lain berdasarkan suku bangsa, warna kulit, sejarah keturunan, kekayaan, ataupun kekuasaan, hingga dia berhak untuk melakukan teror dan pembunuhan.

Pada akhirnya, Eliezer menunjukkan dampak dari agresi dan ego manusia-manusia yang merasa paling tinggi derajatnya, terhadap seorang bocah yang belum mengerti dunia. Anak-anak seperti Eliezer belum mengerti bahwa kebencian bisa timbul tanpa alasan yang masuk akal, dengan cara-cara di luar keadilan yang mereka pahami. Seorang anak, seharusnya menikmati masa kecilnya, bukan menanggung penderitaan akibat keserakahan orang dewasa, bukan terpaksa menanggung beban kehidupan lebih awal, yang pada akhirnya memakan hati nurani mereka, mencabik-cabik perasaan dan kehidupan mereka sejak dini. 3/5 bintang untuk malam yang panjang bagi Elie.

Here or elsewhere—what difference did it make? To die today or tomorrow, or later? The night was long and never ending. (p.93)

Mei : Hak Asasi Manusia

Mei : Hak Asasi Manusia dan Kritik Sosial

Review #20 for Lucky No.15 Reading Challenge category One Word Only!

Bilang Begini, Maksudnya Begitu – Sapardi Djoko Damono

BBMB SDDJudul : Bilang Begini, Maksudnya Begitu
Penulis : Sapardi Djoko Damono
Penyelia naskah : Mirna Yulistianti
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Format : Paperback, vi + 138 halaman

Konon puisi adalah mahkota bahasa. Maksudnya, cara pemanfaatan bahasa yang setinggi-tingginya dicapai dalam puisi. Rasanya saya lebih suka mengatakan dengan lebih lugas bahwa puisi adalah hasil yang dicapai jika seseorang mampu bermain-main dengan bahasanya. (hal.133)

Puisi seringkali menjadi momok dalam apresiasi karya sastra bagi mereka yang belum memahaminya. Saya termasuk salah satu orang yang terintimidasi jika harus mengapresiasi puisi. Bagi saya, puisi adalah pelampiasan yang sangat pribadi, sebuah tingkatan yang lebih tinggi daripada prosa karena penggunaan bahasanya yang lebih efisien dan sarat akan ungkapan dan majas. Beberapa tahun belakangan, saya agak berani dalam mengapresiasi puisi, sebatas pengetahuan saya. Namun, setelah membaca buku ini, saya menjadi lebih berani karena buku ini dengan ringkas mengenalkan secara mendalam hakikat dari puisi yang sesungguhnya.

Penulis, melalui contoh-contoh puisi—baik karya asli maupun terjemahan, menunjukkan jenis-jenis alat kebahasaan yang dipergunakan oleh puisi untuk mencapai tujuannya. Apakah puisi sebagai sastra tulis yang bermain-main dengan visual, yaitu bagaimana cara penulisannya menjadikannya khas, ataukah puisi sebagai bunyi, karena bermula dari tradisi lisan, yang memanfaatkan aliterasi (rentetan bunyi huruf mati) dan asonansi (rentetan bunyi huruf hidup) sehingga mudah diingat. Bagaimana seseorang memaknai puisi sesuai dengan latar belakang dan pengetahuannya, yang diakibatkan karena pemilihan kata sang penyair yang ‘bilang begini, maksudnya begitu’. Puisi juga bisa berwujud transparan, yang hanya memiliki satu makna, bisa juga bersifat prismatik, yang bisa menguraikan ‘warna’ sehingga bisa ditafsirkan bermacam-macam.

Melalui pemahaman yang dibangun oleh penulis ini, apresiasi puisi menjadi lebih mudah karena kita tak harus terlampau kaku dalam mencari maknanya. Pemahaman yang berbeda tidaklah salah, tetapi justru memperkaya puisi itu sendiri. Hal lain yang seringkali menjebak pembaca puisi adalah amanat. Beberapa penyair memang menjadikan puisi sebagai alat edukasi dan dakwah. Penyair bisa berbicara ‘langsung’, atau menyembunyikan maknanya guna memberi kesempatan bagi pembaca untuk merenungkannya, sehingga tidak merasa seperti diceramahi. Akan tetapi, tak semua puisi harus kita cari-cari amanatnya.

Jadi, karena tanpa amanat, apakah dengan demikian pantun-pantun itu tidak berharga? Tentu saja berharga, sebab sebenarnya membaca puisi itu tidak selalu harus berburu amanat. (hal.88)

Dan sebenarnya, yang menarik dalam sajak itu adalah tontonan tersebut, bukan sekadar amanatnya. Dari tontonan itulah kita, pembaca, bisa mencarikan amanat yang disiratkannya. Pada umumnya demikianlah proses membaca puisi. Jika kita membaca puisi semata-mata karena amanatnya, atau dengan kata lain kita menjadi pemburu amanat, sebagian besar sajak yang pernah ditulis jelas akan mengecilkan hati kita karena tidak kunjung mendapatkan amanat yang jelas. (hal.90)

Puisi dapat saja hanya berupa tontonan—sebagaimana istilah penulis, tentang realitas kehidupan, tentang perasaan, maupun tentang pandangan hidup penyair atau masyarakat pada umumnya. Karenanya, puisi dapat menjadi cerminan kehidupan sang penyair. Meski begitu, dalam apresiasi puisi, latar belakang penyair bukan sesuatu yang mutlak untuk diketahui. Dengan membebaskan diri dari pengetahuan, bisa saja kita menemukan makna ‘prismatik’ dari sebuah puisi.

Kalau kebetulan kita mengetahui bahwa nama-nama itu ada kaitannya dengan kehidupan yang sebenarnya, tafsir kita bisa saja menjadi lebih mendekati ‘kenyataan’, tetapi bisa juga malah membatasi tafsir kita sebab puisi pada hakikatnya tidak berbicara tentang ‘kenyataan’ karena merupakan ciptaan yang lahir dari imajinasi penyair. Jika mampu melepaskan diri dari pengetahuan tentang nama yang kebetulan tercantum dalam puisi, kita tentu bisa lebih membebaskan imajinasi dan mencapai tafsir yang lebih dalam. (hal.115)

Buku ini juga menyinggung penggunaan dongeng yang dimodernkan sebagai salah satu cara memperkaya puisi itu sendiri, maupun sarana melestarikan tradisi.

Kalau kita katakan sekarang bahwa si penyair telah memanfaatkan wayang sedemikian rupa agar sesuai dengan situasi komunikasi modern yang telah menuntutnya untuk di sana-sini mengubahnya, dongeng yang diubahnya itu sebenarnya juga merupakan usaha pujangga-pujangga sebelumnya untuk melakukan hal serupa. Demikianlah maka dongeng, dalam masyarakat mana pun, menjadi tradisi karena senantiasa mengalami proses serupa itu. Tradisi adalah proses, bukan sesuatu yang berhenti dan menjadi fosil. (hal.124-125)

Kesemua itu tak lepas dari ciri karya sastra sebagai sesuatu yang ‘indah’. Maka seorang penyair harus tahu bagaimana mengolah bahasanya sendiri supaya menjadi sebuah karya puisi yang indah, terlepas dari sifatnya yang lugas atau prismatik, beramanat atau tidak. Dan sebagai pembaca, tentunya kita tidak perlu terintimidasi oleh puisi yang berbunga-bunga dan sulit dipahami, karena kita selalu bisa menilai dan menghargai sebuah puisi dari sisi mana pun yang kita mengerti.

Puisi sedapat mungkin menghindari klise, menjauh dari bahasa yang sudah lecek karena sudah begitu sering dipakai. Itulah hakikat puisi. (hal.135)

Buku ringkas ini sangat berguna bagi siapa pun yang ingin atau perlu mengapresiasi puisi. Pembahasannya relatif mudah dipahami, meski awam terhadap ilmu sastra. Buku ini dapat juga menjadi semacam panduan bagi para penyair pemula yang ingin mengembangkan teknik penulisan puisinya. 4/5 bintang untuk pengayaan ilmu sastra.

Review #15 for Lucky No.15 Reading Challenge category Something New

Buku Ajar Koas Racun – Andreas Kurniawan

16101609Judul : Buku Ajar Koas Racun
Penulis : Andreas Kurniawan
Penyunting : Agus Wahadyo
Penerbit : MediaKita
Edisi : Cetakan kedua, 2012
Format : Paperback, xii + 256 halaman

Mana istilah yang benar: ‘koas’, ‘koass’, ‘coass’, atau ‘k0-@s5’?
Tidak ada yang benar, karena yang namanya koas pasti akan salah.

(hal.iv)

😀

Membaca buku ini menjadi semacam nostalgia dan pengingat masa-masa beberapa tahun lalu, saat masih menjadi koas, alias ‘pembantunya pembantu’. Tapi meski posisi koas waktu itu tak lebih dari keset (meminjam istilah dosen saya), akan selalu ada kisah-kisah indah pada masa itu. Di antara ritme gila-gilaan yang melibatkan malam-malam tanpa tidur, tugas yang seolah-olah tidak akan pernah selesai (eh, bohong ding, biasanya selesai dalam beberapa jam, sesaat sebelum deadline), berkejar-kejaran dengan konsulen, dimarahi, dicaci, dicurangi, dimanfaatkan, dan lain sebagainya, pada akhirnya semuanya berlalu untuk kita tertawakan saja. Melalui buku ini, penulis yang juga adalah mantan koas alias dokter, mengajak kita tertawa dengan kisahnya pada masa itu.

Buku ini memberi sedikit gambaran tentang sebuah makhluk yang dinamakan koas. Kenapa saya bilang sedikit? Karena saya rasa banyak yang masih belum disebutkan, mungkin itu sebabnya selalu ada buku 2, 3, dan seterusnya. Mulai dari ritual jaga malam sampai ujian stase, suka duka menjadi (calon) dokter, macam-macam pasien, mitos yang beredar di masyarakat, karakteristik konsulen, sampai dinamika bersama rekan sejawat. Saya menikmati cara penulisan buku ini yang mengalir saja, tidak perlu dibuat-buat untuk tampak lebih lucu. Buku ini tidak menyebutkan almamater penulis (walaupun saya rasa saya tahu), dan saya tidak yakin bagaimana metode pembelajaran di sana. Yang saya rasakan agak kurang pas adalah penulis mencampurkan cerita masa preklinik dengan masa koas, yang sebenarnya periode waktunya berbeda, dan menjadi kurang konsisten dengan judulnya. Tapi tetap saja saya suka karena cerita-cerita di preklinik tidak kalah menarik dengan masa koas, terutama kini saat saya mengingatnya kembali.

Kami memang dibiasakan untuk bertindak cepat termasuk dalam hal menulis catatan atau status pasien. Akibatnya bisa diduga: tulisan tidak perlu bagus, yang penting bisa terbaca.
Terbaca?!  Lu bercanda???
(hal.98-99)

Penulis awalnya menulis catatan-catatan masa koasnya di note Facebook sebelum akhirnya dibukukan. Selain cerita, ada juga meme-meme khas yang melengkapi buku ini. Sebenarnya saya jadi ingin menceritakan semua isi buku ini, tapi buat apa? Lebih baik baca sendiri jika tertarik 🙂

April : Buku yang Diterbitkan dari Online

April : Buku yang Diterbitkan dari Online

Review #14 for Lucky No.15 Reading Challenge category It’s Been There Forever (Thanks to kak Dewi buat bukunya, maaf ketimbun lama XD)

Sherlock: The Casebook – Guy Adams

Casebook 1Title : Sherlock: The Casebook
Author : Guy Adams (2012)
Publisher : BBC Books (imprint of Ebury Publishing)
Format : Hardcover, 160 pages

Sebagai penggemar serial Sherlock BBC yang dimulai pada tahun 2010, buku ini adalah buku wajib untuk dimiliki. Terbit di tahun 2012, buku ini menjadi pelengkap dari serial yang baru mencapai season kedua pada saat itu. Meski merupakan adaptasi lepas dari buku-buku Sir Arthur Conan Doyle, serial ini masih setia pada pakem dan prinsip sang detektif yang sudah melekat di hati para penggemarnya. Buku ini diawali dengan ide, bagaimana awal dari serial Sherlock dilahirkan, oleh Steven Moffat dan Mark Gatiss.

Was there really a place for a modern-day Sherlock Holmes? Where would he fit in a TV landscape already littered with cop shows?
‘Exactly,’ says Steven. ‘Doyle effectively created the CSI, forensic procedural format with the character of Holmes. So what would make him stand out, now that his methods are more commonplace? In the end, it came down to a simple fact: he would still be the cleverest man in the room. He would still be a genius.’
(p.3)

Dengan memutuskan membawa kembali Sherlock Holmes ke setting modern, artinya ada beberapa unsur dalam buku yang tak bisa dimasukkan karena sudah lewat masanya. Namun, bukan berarti tidak bisa sama sekali. Dalam The Five Orange Pips, latar mengenai KKK tidak bisa lagi digunakan, tetapi menafsirkan ‘pips’ sebagai dering telepon di The Study in Pink, dan—yang belum disebutkan dalam buku ini—dalam Sherlock Special Season 3 Prequel, referensi cerita biji jeruk ini juga masih dipakai dalam bentuk yang berbeda.

‘We just love it so much,’ admits Steven, as if we could be in any doubt. ‘And sometimes those references are there as a joke, just for fun, or sometimes they’re there because the ideas are simply good and untouched, waiting for someone to use them. …’ (p.4)

Menurut Mark, pemilihan karakter Sherlock tidak terlalu rumit karena mereka hanya memiliki satu sosok yang dirasa cocok untuk memerankannya, yaitu Benedict Cumberbatch. Sedangkan untuk pemilihan karakter John Watson, diperlukan banyak pertimbangan, hingga akhirnya Martin Freeman tiba-tiba muncul dan mendapatkan ‘chemistry’ yang pas dengan Benedict.

‘To be a man that an incredibly perceptive genius chooses to trust, you must be pretty exceptional.’ (p.50)

Selebihnya, buku ini merupakan catatan John Watson mengenai kasus-kasus yang ditangani keduanya pada enam episode dalam dua season serial. Bagi yang sudah menonton, mungkin bagian ini biasa saja. Namun, tentu saja buku ini tidak berhenti di situ. Catatan-catatan John, yang dilengkapi foto dan ilustrasi yang berhubungan dengan episode tersebut diperkaya juga dengan komentar-komentar Sherlock (dan jawaban John) pada post-it. Komentar-komentar yang seringkali menimbulkan tawa, dalam gaya yang sangat Sherlock.

p.128-129: start small with Memory Bungalow :D

p.128-129: start small with Memory Bungalow 😀

Di antara pergantian episode, penulis memasukkan tambahan-tambahan informasi dan latar belakang yang dirasanya menjadi faktor pembangun serial ini. Mulai dari karakter-karakter penting, Moriarty dan Adler—yang masing-masing sudah memiliki citra sendiri dalam benak pembaca Sherlock Holmes, perbandingannya dengan karya asli, kisah di balik layar (behind the scene), biografi singkat Doyle, sampai pada sejarah berbagai adaptasi Sherlock Holmes dari masa ke masa—Basil Rathbone dalam film yang juga merupakan adaptasi lepas, Jeremy Brett yang sangat terobsesi pada Holmes, termasuk referensi Mycroft yang berbeda dengan yang dicitrakan oleh Doyle dalam buku. Sayangnya, pada bab episode terakhir, The Reichenbach Fall, tidak ada bab yang membahas mengenai perbandingan dengan buku. Mungkin penulis ingin memberikan efek akhir yang dramatis, atau ada sesuatu yang masih ingin disimpan, sehingga kesan ‘nanggung’nya tetap terasa.

p.108-109: fokus pada flat di 221B Baker Street. Detail tentang penyimpanan surat tidak tampak di TV, tapi ada dalam buku.

p.108-109: fokus pada flat di 221B Baker Street. Detail tentang penyimpanan surat tidak tampak di TV, tapi ada dalam buku.

Back Cover

Back Cover

Porsi tambahan yang menarik, terutama cerita di balik layar—di luar cerita yang bisa ditonton dan sejarah yang bisa didapatkan di sumber lain—menurut saya sangat kecil, padahal justru itu yang diharapkan dari buku ini. Tetapi dengan adanya foto-foto official yang sangat berlimpah, yang terkadang tidak ditampakkan atau tidak menjadi fokus dalam serialnya, membuat buku ini jauh lebih baik. 4/5 bintang untuk dokumentasi detektif modern kita.

Don’t make people into heroes, John. Heroes don’t exist, and if they did I wouldn’t be one of them. (p.62)

Review #13 for Lucky No.15 Reading Challenge category Cover Lust